The Flash Disk Part 1

Title                : The Flash Disk – Part 1

Main Cast      : Yang Seung Ho (MBLAQ), Park Hye Ni (OC), Choi Min Ho (SHINee)

Other Cast     : G.O a.k.a Jung Byung Hee (MBLAQ)

Genre             : Romance , Drama

Rating             : PG 16+

Author            : Annisa a.k.a @Joonisa

Sudah sekitar 2 jam ruang santai yang cukup luas ini sunyi senyap. Bukan karena tidak ada orang sama sekali di sana. Ada 2 orang yang duduk di sofa, yang satu namja, dan yang satunya yeoja. 2 orang itu duduk berjauhan, masing-masing menghadap ke arah yang berbeda. Si namja menghadap ke arah timur, dan si yeoja menghadap ke arah barat.

Dan yang membuat ruangan ini sepi sekali, layaknya kuburan, adalah…

Karena mereka berdua tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak 2 jam yang lalu. Jangankan berbicara, bergerak dari tempat duduk pun tidak. Padahal 2 orang ini adalah pasangan yang baru saja menikah tadi pagi. Dan sebenarnya mereka kompak dalam beberapa hal…

Pertama, mereka berdua sejak 2 jam yang lalu tidak berbicara sama sekali.

Kedua, mereka berdua kompak untuk tidak bergerak sama sekali.

Ketiga, mereka juga kompak untuk sama-sama menunggu siapa yang akan membuka pembicaraan terlebih dahulu.

Keempat, mereka kompak untuk tidak saling melihat satu sama lain.

Bagaimana? Mereka kompak bukan? (-______-“)

===============

Yang Seung Ho. Umur 25 tahun. Pekerjaannya adalah sebagai seorang CFO (Chief Financial Officer) di salah satu perusahaan manufaktur terbesar di Seoul. Untuk jabatan yang setinggi dan se-strategis itu, ia terbilang cukup muda. Selain ayahnya, Yang Ji Hoo, adalah CEO di perusahaan itu, ia memang kompeten dalam hal  manajemen keuangan. Lulusan Seoul University. Tinggi, tampan, dan bertubuh tegap. Mirip ayahnya.

Park Hye Ni. Umur 21 tahun. Yang sekarang sudah resmi menjadi istri Yang Seung Ho. Pekerjaannya adalah seorang sekretaris. Lebih jelasnya, ia baru saja diterima sebagai seorang sekretaris di perusahaan milik mertuanya. Oke, sekretaris untuk suaminya sendiri. Untuk sekolah, ia hanya tamatan SMA. Secara fisik, tergolong ideal. Meskipun ia bukan golongan “S-Line” atau “I-Line”. Untuk wajah, Appanya mengatakan kalau ia sangat manis. Dan memang, ia tergolong manis dan cukup imut.

Dan 2 orang inilah yang sedang berada di ruang tengah dengan segala ‘kekompakan’, yang telah sukses membuat ruang tengah itu seperti kuburan.

Mereka sebenarnya sudah melangsungkan pernikahan tadi pagi, dilanjutkan dengan resepsi di siang harinya. Mereka terlihat sangat bahagia. Raut wajah mereka berdua benar-benar menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang akan menempuh hidup berdua, dalam suka dan duka akan selalu bersama.

Tapi entah kenapa, setelah pulang dari acara makan malam pertama bersama keluarga besar Seung Ho, keduanya mendadak membisu di tuang tengah.

“ Aku tidak percaya kalau aku sekarang sudah menikah.” Seung Ho membuka suara, meskipun lebih terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Ia pun akhirnya merubah posisi dengan menyandarkan kepalanya di sofa itu, setelah 2 jam ia bertopang dengan tangannya di lengan sofa.

“ Dan dengan cara yang seperti ini!” tambahnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih keras. Ia menoleh ke arah Hye Ni yang masih ngotot dengan posisinya semula. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar Hye Ni memberikan reaksi. Tapi Hye Ni tidak bergeming.

“ Dan dengan orang SEPERTIMU.” Seung Ho begitu sinis dan menekankan nadanya pada kata terakhir untuk memancing reaksi Hye Ni. Matanya menatap tajam ke arah Hye Ni yang masih memunggunginya.

“ Memangnya aku kenapa?” Hye Ni akhirnya balik badan menghadap ke arah Seung Ho. Ia menatap Seung Ho dengan bingung. “ Kenapa kau menatapku tajam seperti itu? Apakah ada yang salah?”

“ Mworago? Kau bertanya ‘apakah ada yang salah’? Tentu saja semua ini salah!” Jawab Seung Ho berapi-api.

“ Salah? Di bagian mananya yang salah?” tanya Hye Ni semakin bingung.

“ Ya salah! Kenapa aku mau menikah dengan orang sepertimu!”

“ Memangnya aku ini orang yang seperti apa? Kau kan belum mengenalku!” Jawab Hye Ni tanpa bisa menyembunyikan kekesalannya lagi. Nada bicaranya juga ikut meninggi.

“ Justru itu, aku menikah dengan gadis yang tidak kukenal, yang aku tidak tahu asal-usulnya!”

Hye Ni merengut. “ Kalau kau tau keputusanmu menikahiku itu salah, kenapa kau mengatakan YA saat Omma dan Appamu menanyakan padamu tentang kesiapanmu untuk menikah denganku?” Hye Ni balik bertanya dengan nada sinis.

Seung Ho terdiam kemudian menelan ludah. Ia berniat ingin mendebat Hye Ni lagi, namun urung karena melihat wajah Hye Ni yang sinis setengah mati. Seung Ho kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri.

“ Kalau begitu ini semua salahmu. Kalau kau tidak mau, kau bisa mengatakannya dengan terus terang pada kedua orang tuamu kan?” kali ini giliran Hye Ni yang membalas intimidasi Seung Ho.

“ Seandainya semudah itu aku berterus terang, tidak akan pernah ada ucapan janji sehidup semati kita tadi pagi!” Seung Ho kembali berapi-api.

“ Kalau begitu jangan menyalahkan aku!”

“ Tentu saja kau juga salah! Kenapa kau mau menikahiku begitu saja? Kau tidak tau kan aku ini siapa? Aku ini bagaimana? Aku ini tipemu atau bukan? Kesukaanku apa? Apa yang kubenci?” Seung Ho kembali mencecar Hye Ni dengan pertanyaan yang membuat Hye Ni ternganga.

“ Aku..” Hye Ni menarik nafas sejenak, kemudian kembali melanjutkan kata-katanya. “Hanya ingin memenuhi pesan terakhir ayahku. Aku tidak ingin mengkhianatinya karena ia adalah satu-satunya yang paling berharga yang kumiliki di dunia ini.” Jawab Hye Ni terbata-bata. Pandangannya mulai kabur karena banyak air di pelupuk matanya yang sudah bersiap akan tumpah.

“ Ooh.” Seung Ho agak panik melihat ekspresi Hye Ni. Ia tiba-tiba diliputi perasaan bersalah. “ Memangnya… apa pesan ayahmu? Apa ayahmu menyuruhmu untuk menikah denganku?”

Hye Ni mengangguk. “ Ayahku menyuruhku untuk menikah denganmu. Bukan dengan Min Ho.”

“ Min Ho?” Seung Ho mengerutkan alis, “ Pacarmu?”

Hye Ni mengangguk lemah.

“ Jadi kau sudah mengkhianati pacarmu demi menikah denganku?”

“ Lebih baik aku mengkhianati Min Ho daripada mengkhianati ayahku, kan?”

Seung Ho menepuk jidatnya. “ Bagaimana kalau nanti Min Ho datang menghampiriku, lalu ia mencekikku sampai mati karena merebutmu darinya?”

Hye Ni mengendikkan bahunya. “ Mollayo.”

“ Kau yang harus bertanggung jawab! Pokoknya KAU!” Seung Ho kembali berapi-api mengomeli Hye Ni.

“ YA! Kau sendiri kenapa mengiyakan?” Hye Ni balas mengomeli Seung Ho dan kembali mengulang topik intimidasinya.

“ Karena aku tidak pernah melihat Omma dan Appa membujukku begitu keras seperti itu. Melihat wajah mereka ketika memohon-mohon seperti itu padaku, mana mungkin aku tega.”

Hye Ni terdiam. Begitu pula dengan Seung Ho yang tertunduk.

“ Ya sudah, kalau begitu kita damai saja. Tidak usah menyalahkan siapa-siapa. Percuma.” Kata Hye Ni pelan.

Seung Ho mengangguk.“ Aku juga sudah capek diajak perang mulut olehmu. ”

“ Ya! Bukannya tadi kau yang mulai?” Hye Ni tidak terima dengan pernyataan Seung Ho yang seolah-oleh menganggapnya sebagai pemicu keributan 15 menit yang lalu.

“ Kau mau ribut lagi denganku?” Seung Ho melotot.

“ Aniyo!” Hye Ni balas melotot.

Seung Ho menghela nafas. Ia kemudian beranjak dari sofa.

“ Mau ke mana kau?” tanya Hye Ni bingung.

“ Tidur!” jawab Seung Ho ketus. Baru beberapa langkah ia berjalan, Seung Ho membalikkan badan.

“ Kau juga harus tidur!” Bentak Seung Ho.

“ Aku belum ngantuk.” Jawab Hye Ni malas, semalas tatapannya pada Sueng Ho.

“ YA! Besok adalah hari pertamamu menjadi sekretarisku! Kalau besok kau terlambat, mau ditaruh di mana mukaku? Cepat tidur sana!”

Hye Ni merengut. Wajahnya ditekuk 8 (?).

“ Ya! Cepat sana masuk kamar! Kenapa kau memasang tampang seperti itu?”

Hye Ni bangkit dari sofanya, lalu berjalan ogah-ogahan ke arah kamar yang ada di seberang kamar Seung Ho. Sebelum masuk kamar, Hye Ni membalikkan badan. Ia menduga Seung Ho belum masuk ke kamar.

Dan benar. Seung Ho menunggu Hye Ni masuk ke kamar dengan melipat kedua tangannya di dada.

“ Kenapa kau belum masuk ke kamar?” tanya Hye Ni.

“ Aku ingin memastikan kau benar-benar masuk ke kamar dan TIDUR.” Jawab Seung Ho dingin.

Hye Ni ikut melipat tangannya di dada, “ Kalau begitu kita tidur bersama saja. Jadi kau tidak sulit lagi untuk mengontrol apakah sekretarismu ini akan tidur terlambat atau tidak, akan tidur nyenyak atau tidak, dan akan bangun terlambat atau tidak.”

“ Mwoo?” Seung Ho melotot. Hye Ni tersenyum jahil.

“ Bagaimana, BOS?” tanya Hye Ni. Menekankan pada kata BOS.

Seung Ho kali ini benar-benar kehabisan akal dan kata-kata. Wajahnya panas dan memerah ketika mendengar kata-kata ‘tidur bersama’.

“ Tidak usah! Tidur sana di kamarmu! Pokoknya kau besok tidak boleh terlambat! Arasseo?”

BLAM!

Seung Ho membanting pintu kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Hye Ni. Hye Ni yang masih berada di luar kamar tidak dapat menahan senyumnya karena berhasil membuat Seung Ho mati kutu.

===============

@ Kamar Seung Ho

Seung Ho menatap langit-langit kamarnya. Sesekali ia menoleh ke arah jam dinding yang ada di tembok di hadapannya. Jarum jam telah menunjuk ke angka 2 tepat, tapi ia belum juga tidur. Bukan tanpa alasan Seung Ho belum tidur. Di benaknya masih terbayang-bayang wajah Omma dan Appanya.

Seung Ho memejamkan matanya, mencoba untuk rileks agar mudah tertidur, tetapi otaknya masih saja memutar kejadian 3 bulan yang lalu.

= = = Flashback = = =

“ Appa, tolong jangan memaksaku. Aku tidak bisa. Aku tidak kenal dengannya.”

“ Seung Ho, Appa mohon kepadamu.” Yang Ji Hoo, ayah Seung Ho, memegang tangan anak sulungnya itu dengan wajah memelas, bahkan pria paruh baya itu ingin menangis. Matanya memerah dan berkaca-kaca.

“ Iya, Seung Ho. Omma juga memohon dengan sangat kepadamu. Tolong, nikahilah dia.” Song Hye Soo, ibu Seung Ho, juga ikut memegang tangan Seung Ho. Bahkan air matanya sudah mengalir dari sudut matanya.

“ Omma?” Seung Ho semakin bingung.

“ Kami mohon, Seung Ho. Kami akan mengabulkan seluruh permintaanmu kalau kau mau menikahi gadis itu.” kata ayah Seung Ho dengan nada sangat membujuk.

“ Appa, aku tidak menginginkan sogokan. Yang aku inginkan hanya pengertian kalian kalau aku sekarang belum ingin menikah dan aku ingin menikah dengan gadis yang kukenal dan kucintai.” Jawab Seung Ho lembut.

“ Seung Ho, apa yang harus kami lakukan agar kau mau menikahi gadis itu?” kali ini ibunya Seung Ho yang angkat bicara.

“ Omma, Appa, kalian tidak perlu melakukan apa-apa. Kalian tidak usah repot membujukku. Percuma.”

“ Seung Ho..” Ji Hoo menepuk bahu Seung Ho. “ Apakah kami perlu berlutut di hadapanmu?”

Seung Ho membelalakkan matanya. “ Appa, apa-apaan ini?”

“ Kalau kau menginginkan kami berlutut, kami akan melakukannya. Bahkan kami bersedia mencium kakimu, Seung Ho.” Ayah Seung Ho menegaskan kata-katanya, diikuti oleh anggukan dari ibunya Seung Ho.

“ Jangan! Tolong jangan lakukan itu Omma, Appa!”

Ayah dan ibu Seung Ho tidak memerdulikan kata-kata anaknya dan mulai meletakkan lututnya di lantai untuk berlutut kepada Seung Ho. Seung Ho sekarang benar-benar panik dan berusaha menahan agar lutut ayah dan ibunya tidak menyentuh lantai. Seung Ho menangkap tangan ayah dan ibunya.

“ Baiklah Omma, Appa, aku akan menikahinya! Tapi kumohon, jangan seperti ini!”

= = = Flashback End = = =

Seung Ho membalikkan badannya ke kiri, lalu ke kanan. Ia mengambil bantal lalu meletakkan bantal itu ke kepalanya. Mencoba untuk meringankan sakit yang tidak kunjung reda di kepalanya. Sakit yang bersumber dari hatinya, kemudian menjalar ke kepalanya. Rasa sakit mengingat kenangan 3 bulan yang lalu ketika orang tuanya memperlakukan dia melebihi seorang raja. Ketika orang tuanya, orang yang paling ia hormati seumur hidupnya, bersedia mencium kakinya demi sebuah permintaan yang masih samar-samar akan tujuan dan manfaatnya.

===============

@ Kamar Hye Ni

Hye Ni masih terjaga ketika jarum jam dinding tepat menunjuk ke angka 1. Ia duduk di tepi ranjang sambil memegangi foto seorang pria paruh baya yang dibingkai dengan apik menggunakan figura berwarna putih.

Pria itu tersenyum lebar. Menunjukkan gigi-giginya yang putih. Ketampanannya pun masih terlihat meskipun usianya sudah tidak muda lagi dan rambutnya memutih di segala penjuru kepalanya (?).

Di otak Hye Ni sekarang yang terlintas adalah saat-saat terakhir ketika  ayahnya meregang nyawa di rumah mungilnya yang ia tempati bersama ayahnya.

Hye Ni menangkupkan kedua tangannya. Masih bisa ia rasakan dinginnya genggaman erat tangan ayahnya saat itu. Masih ada sisa-sisa rasa sedih dan keperihan ketika genggaman ayahnya mengejang, begitu kuat, hingga beberapa detik kemudian lemas tak berdaya. Tak berdarah. Tak bernyawa.

= = = Flashback = = =

“ Hye Ni….menikahlah… dengan… Seung Ho..” Kata Jung Won, ayah Hye Ni, dengan terbata-bata. Ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya yang masih ada di dalam tubuhnya, meskipun harus tertatih-tatih.

“ Appa… Appa tidak salah menyebutkan nama kan? Pacarku itu bernama Min Ho, bukan Seung Ho, Appa.” Hye Ni berusaha memberikan pengertian dengan lembut. Digenggamnya tangan kiri ayahnya yang gemetar menahan rasa sakit.

“ Seung Ho… Seung Ho… Yang.. Seung Ho…”

Air mata Hye Ni jatuh perlahan dari sudut matanya. Ia sudah mendengar nama pria yang disebutkan oleh ayahnya itu berulang-ulang. Dan sekarang ia tidak salah dengar. Memang bukan nama Min Ho, kekasihnya, yang disebut oleh ayahnya. Melainkan nama Seung Ho. Yang Seung Ho.

Hye Ni mengenal Seung Ho. Tapi hanya sebatas mengenal Seung Ho sebagai anak dari sahabat karib ayahnya, tidak lebih. Bertemu pun mereka hanya pernah 2 kali. Saat Hye Ni bertamu ke rumah Seung Ho 3 tahun yang lalu di acara tahun baru, dan terakhir mereka bertemu di depan kafe tempat Hye Ni bekerja paruh waktu.

Dan saat itupun mereka tidak bertegur sapa.

“ Aku… hanya akan merestui pernihakanmu… dengan.. S..s..seung Ho.”

“ Appa, sudahlah… Jangan berbicara lagi. Nanti Appa kelelahan. Lebih baik Appa istirahat.” Hye Ni berusaha menahan tangisnya yang sebenarnya sudah mau pecah.

“ Aku akan ber…istira..hat. Aku….ingin.. menyelesaikan… pesanku..”

Hye Ni tertunduk. Ia tidak ingin menatap ayahnya karena itu akan semakin membuatnya ingin menangis.

“ Tinggalkan Min Ho… Ku mohon… anakku….Hye.. Ni… Akkkhhh…” tubuh Jung Won mengejang menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi di tubuhnya. Tangannya masih menggenggam erat tangan anak semata wayangnya, Hye Ni.

“ Appa? Appa?” Hye Ni mulai panik. “ Appa, sudahlah. Kita bisa bicarakan ini besok.”

“ Berjanjilah.. pada… Appa…”

“ Appa…..”

“ Seung Ho…. Sseeung.. Ho…”

Suasana mendadak hening. Tubuh Jung Won sudah tidak mengejang lagi. Matanya tertutup rapat, dan tangannya yang semula erat menggenggam tangan Hye Ni, kini juga ikut melonggar.

“ Appa? Appaa?” Hye Ni memanggil-manggil ayahnya pelan. Dirinya mulai diliputi rasa panik.

“ Appa?” Hye Ni mengguncang tubuh ayahnya pelan.

“ Andawe! Appa!! Bangunlah!!”

Tidak ada jawaban. Tidak ada reaksi. Jung Won masih dalam posisi semula.

“ Appa!!!!!” Hye Ni menangis sekeras yang ia bisa. Kini kedua tangannya menggenggam erat tangan ayahnya yang sudah dingin. “ Appaaaaa!!! Jangan tinggalkan aku!!!.”

Sekeras apapun Hye Ni menangis dan berteriak, ayahnya tetap tidak bereaksi. Ayahnya, Park Jung Won, sekarang sudah beristirahat.

Istirahat untuk selama-lamanya.

= = = Flashback End = = =

Hye Ni menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ia memeluk erat guling yang tersedia di tempat tidur itu.

10 detik kemudian…

Hye Ni sudah tertidur pulas. Menyisakan air mata yang belum kering di pipinya.

Menyisakan kesedihan karena kepergian ayahnya.

Menyisakan kebingungan kenapa ia harus menikahi Seung Ho.

Menyisakan perih akibat luka yang menganga karena harus meninggalkan Min Ho, kekasih yang sangat ia cintai, yang sudah 3 tahun bersamanya.

Dan menyisakan sedikit keberanian untuk menghadapi hari esok, hari pertamanya menjadi sekretaris suaminya sendiri:

CHIEF FINANCIAL OFFICER OF STARLIGHT COMPANY

YANG SEUNG HO

TBC…….

.

Iklan