Tittle: Another Confession

Author: Mirrellia aka Lia

Length: Oneshot

Genre: Romance

Cast:Shim Chanmgin TVXQ – Shin Mirrelle

Note : Annnyeong… Lia imnia 19 y.o author baru di sini dan ini postan pertama aku sebagai author tetap. Dan sebelumnya FF ini udah pernah di post di >>sini<< happy reading guys..

Ketika cinta mengubah cara pandang hidup seorang insan, membuat mata yang terbuka menjadi tertutup dan membuat hati yang gelap menjadi terang.

Gemerisik air yang mengalir dari keran tak membuat seorang gadis lepas menatap deretan foto yang terekspos di TV. Memandang sosok yang ada di foto tersebut sambil menghembuskan nafas secara perlahan. Seolah ada sesuatu yang ingin meledak, gadis itu jatuh terduduk. Menatap tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Air matanya mengalir, persis seperti anak sungai yang menghiasi tangisannya yang pilu.

Gadis itu sadar, itu tidak seberapa dan seharusnya ia tak perlu menangis ataupun merengek hanya karena sesuatu yang tidak terlalu besar. Hanya terluka. Hanya itu yang terjadi pada sosok yang tengah di lihatnya di TV. Namun perasaan tak mampu membohonginya. Ada rasa pilu yang menjalar di sekitar dadanya saat melihat itu semua. Tidak berada di sampingnya, tidak bisa menyemangatinya ataupun sekedar menanyakan bagaimana keadaannya.

Ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Menghirup nafas dalam-dalam seolah mencuri tenaga dari udara di sekitarnya lalu menghembuskannya lagi. Mencari ketenangan yang beberapa menit lalu masih hinggap di benaknya. Gadis itu beranjak berdiri, meraih Iphonenya yang terletak di meja sebelah sofa. Mengetik sebuah pesan singkat di sana, lalu mengirimkannya pada seseorang—pria yang tengah ia tatap dari balik layar TV.

Shim Changmin.

***

Aku menatap pantulan diriku di depan cermin. Mengusap-ngusap kedua pipiku yang tampak seperti buah tomat karena bersemu merah. Ku hembuskan nafasku di depan kaca. Membentuk gumpalan uap di sekitarnya—membuat pantulan diriku sendiri kabur karena uap yang menempel di kaca. Aku benci mengetahui bahwa faktanya aku menangis dan sukses membuat kedua mataku seperti panda hanya karena dia. Terlebih lagi dengan kehebohannya di sore seperti ini yang muncul secara tiba-tiba.

Aku tidak mengerti mengapa dia dengan mudahnya pergi ke sana kemari padahal ia bukan pria biasa. Maksudku sudah jelas dia seorang idola dan seharusnya dia menyadari posisinya dan tidak berada di apartemenku sekarang ini. Terlebih lagi dengan tangannya yang terbalut gips—yang suksesnya membuatku menangis selama berhari-hari. Astaga, sekali lagi ku katakan aku benci mengetahui fakta bahwa aku mencintai dia.

“Lama sekali.” Gumamnya saat aku keluar dari kamarku menggunakan kaus berwarna putih serta celana jeans selutut.

Ku lirik sekilas pergelangan tangannya dan gips kain itu masih merekat dengan manis.

“Sudah ku bilang aku mandi. Salahmu sendiri datang di jam seperti ini.” Elakku malas. Aku rindu sekali padanya. Tidak ku pungkiri memiliki hubungan dengannya menguras emosiku jauh lebih banyak.

“Kau punya perban? Aku belum mengganti gips kain ini dengan yang lebih steril.” Tanyanya dan aku mengangguk, tapi merasa bodoh dan ingin mengutuknya sekarang juga.

Aku kembali ke ruang tengah apartemenku dan langsung duduk di sebelahnya. Ku buka kotak P3K yang ku bawa dan mengambil perban putih tipis.

“Apa tidak apa aku yang menggantinya? Maksudku, aku tak berpengalaman dalam mengobati orang lain sebelumnya.” Kataku ragu dan menatap wajahnya yang tampan. Baik, baik. Dia pacarku dan aku mencintainya kenapa sih susah sekali bagiku untuk bersikap normal di depannya?

“Tergantung niatmu. Jika kau memiliki dendam padaku—ehm karena jarang menghubungimu—ku yakinkan perban itu nantinya pasti akan melukaiku.”

Dahiku mengernyit, sepintas terlintas di otakku untuk memukul kepalanya namun segera ku urungkan. Rasanya tidak adil mengajaknya berperang di saat tangan kanannya seperti gagang sapu yang sedang patah.

“Kau ingin menggantinya tidak?” tanyanya menuntut.

Aku mengerucutkan bibirku namun tetap mematuhi apa yang dia minta. Ku buka ikatan gips kainnya secara hati-hati dan mendengar rintihan kecil keluar dari mulutnya karena menahan sakit.

“Kenapa bisa seperti ini?” tanyaku. Memutar gulungan gips kain itu berlawanan arah. “Ku pikir kau masih punya akal sehat untuk tidak menyakiti dirimu sendiri. Atau jangan-jangan karna merindukanku kau menjadi seperti ini?” tanyaku meledek namun sedetik kemudian aku menyesali perkataanku sendiri. Habislah aku kali ini.

“Apa aku tidak salah dengar?” tanyanya menantang—nada suaranya penuh dengan ejekkan. “Siapa yang menangis hingga matanya seperti panda dan siapa yang mengirimiku sms tengah malam tidak lama setelah aku tiba di Gimpo airport?”

Aku kalah telak. Pasti, dan selalu begitu. Membuatku nyaris ingin memukul diriku sendiri karena ejekkannya selalu benar dan aku selalu terlihat bodoh.

Aku hanya bisa terdiam, pasrah dengan ejekkan yang terus muncul dari mulutnya yang sangat suka sekali makan itu. Aku sendiri agak heran, sebesar apa lambung miliknya sampai-sampai ia bisa makan delapan kali dalam sehari. Benar-benar mengagumkan.

“Sudah.” Kataku pendek setelah melilitkan perban putih di tangan kanannya. Cukup rapi sekalipun ini pertama kali aku melakukannya.

“Tidak di beri kecupan?” tanyanya konyol dan kali ini aku tak segan-segan memukul kepalanya dengan kencang.

Yak, Shin Mirrelle! Aku hanya bercanda.” Katanya sengit namun aku tidak peduli. Ku rapikan kotak P3K milikku dan menaruhnya lagi di tempatnya semula.

“Untuk apa kau kemari?” tanyaku pelan dan menjatuhkan tubuhku di sofa tepat di sebelahnya.

“Tidak ada alasan. Memangnya harus ada keperluan hanya untuk menemui pacarku sendiri?”

Aku menggeleng, memutar bola mataku dan menahan untuk tidak kesal padanya. “Dengar,” aku mengambil nafas—menahan emosi. “Kau terluka, cedera, apapun itu dan tidak seharusnya kau ada di sini. Kau harus beristirahat di dorm[1] mu.”

“Aku sedang mendapat cuti. Dan aku harus memanfaatkannya dengan baik jadi—“

“Kau tidak memanfaatkannya dengan baik.” Potongku cepat. “Pergunakanlah waktu liburmu sebaik mungkin Changmin-ah[2].”

Kali ini Changmin yang menggeleng, meraih tanganku menggunakan tangan kirinya yang tidak cedera. “Kau satu-satunya yang membuatku terlihat sehat. Benar-benar sehat. Kau tahu, tidak berbicara denganmu selama berminggu-minggu berpotensi membuatku gila.”

Aku tersenyum getir, memutar kembali memoriku beberapa minggu lalu. Kami bertengkar hanya sesuatu yang sangat sepele—hanya sebuah ejekkan yang ia lontarkan dan di saat yang tidak tepat. Membuatku uring-uringan dan melakukan aksi mogok bicara padanya.

“Baiklah, kali ini ku terima alasan konyolmu yang terdengar menjijikkan itu.” Kataku mengalah, dia tersenyum senang dan kali ini mengacak rambutku yang tertata rapi.

“Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyesal memilihmu menjadi pacarku.” Katanya sambil membenamkan wajahnya di rambutku, menimbulkan sensasi menggelitik saat nafasnya berhembus di sekitar tengkukku.

“Di antara penggemar yang lain, maksudmu?”

Dia mengangguk, kali ini merangkulkan tangan kirinya di pinggangku. Astaga, akan kuhabisi dia jika berani berpikiran aneh-aneh dalam posisi seperti ini.

“Aku hanya gadis biasa. Tidak terlalu istimewa dan itu sukses membuatku gila memikirkan alasan mengapa kau memilihku. Bahkan mendekatiku terlebih dulu saat itu.” Kataku, mengenang kembali saat di mana Changmin mengajaknya berkencan dan mengutarakan isi hatinya melalui sebuah lagu yang ia nyanyikan di depanku.

Umurku terpaut empat tahun dengannya, saat itu aku masih gadis sekolah menengah yang mengaguminya dari jauh. Mencari tahu segala tentang dirinya melalui internet dan akan melompat gembira ketika melihatnya secara langsung. Hari itu ada fanmeeting di daerah Dong-gu[3], aku merelakan semua pelajaran yang ku suka dan membolos hanya untuk melihatnya dari dekat. Mengagumi sosoknya yang rupawan dan suara tingginya yang sangat ku suka. Faktanya, aku tergila-gila padanya saat itu.

            “Kau gadis yang selalu datang memakai seragam sekolah itu kan?” tanyanya suatu hari saat aku menjejakkan kakiku di Kyunghee University sebagai mahasiswi baru di hari kedua. Aku mengangkat wajahku dan sontak terkaget melihatnya. Maha karya Tuhan yang begitu indah berdiri jelas di depanku.

            “Senang rasanya bisa bertemu dengan gadis aneh sepertimu. Lagi.” Katanya lagi. Aku sampai lupa bagaimana menarik nafas dengan benar saat ia mengulurkan tangannya di depanku lalu menyelipkan sebuah kertas kecil di tanganku.

            “Aku menunggu.” Aku tak mampu berkata-kata tentu saja. Terlalu shock dan tak pernah terpikir dibenakku bahwa seorang Shim Changmin akan menyapaku lebih dulu. Dan disitulah awal diriku mengenalnya lebih jauh, lebih dekat hingga aku sekarang nyaris menjadi calon istrinya.

“Terlalu banyak alasan untuk di ungkapkan. Aku mencintaimu dan kau tergila-gila padaku. Itu sudah lebih dari cukup.” Jawabnya dan membuyarkan lamunananku. Aku terkekeh, menepuk pundaknya perlahan karena beranggapan dia terlalu percaya diri.

“Dulu. Memang aku tergila-gila padamu. Bahkan seperti orang bodoh saat pertama kali kau mengajakku berkencan. Tapi sekarang ku rasa hal itu terjadi padamu.” Tukasku sambil memasang wajah mengejek.

“Yah ku akui itu.” Katanya pasrah. Masih sibuk membenamkan wajahnya di sekitar rambut dekat tengkukku. Dia pandai sekali membuat seorang gadis terlena. Sungguh.

“Tapi aku masih penasaran. Bagaimana kau mengenaliku? Maksudku di antara ribuan orang yang hadir di fanmeeting hari itu kenapa kau memutuskan untuk memilihku?”

Changmin beranjak bangun, menegakkan kembali duduknya dan mendesah. “Kau tahu yang namanya feeling bukan?” aku mengangguk. “Aku merasa saat itu kau berteriak hanya untukku. Di saat diriku kalah bersinar di bandingkan dengan hyung[4]ku yang lain, kau seolah bersorak paling gembira. Seolah hanya melihatku di matamu. Dan satu hal yang paling ku percayai adalah ketika kau menutup mata di saat aku menyanyi lagu soloku. Hal yang paling menarik yang ada dalam dirimu.” Jelasnya dan ada rasa lega yang menyeruak di dalam dadaku. Perasaan yang selama ini ku ragukan karena aku sendiri di hantui rasa takut jika suatu hari nanti ia merasa menyesal telah memilih gadis yang salah.

“Terima kasih.” Kataku pendek dan menundukkan kepalaku dalam-dalam. Menyembunyikan tangisku yang sebentar lagi akan pecah. Changmin mengangkat daguku menggunakan jari-jarinya, memaksaku memandang kedua mata coklatnya yang terlihat cerah.

“Jadi, jangan pernah meragukan diriku lagi. Arraseo[5]?” tanyanya. Aku mengangguk semangat dan detik itu juga ia menyapukan bibirnya tepat di bibirku. Hangat dan dalam. Berbeda dengan ciuman-ciuman kami yang sebelumnya.

“Would you marry me?”

Cinta itu seperti sebilah pedang, mampu membuat seseorang bertahan namun juga mampu membuat seseorang tersakiti. Terluka dan mati.


[1] Asrama, biasa di gunakan oleh idola korea

[2] Akhiran yang biasa di gunakan ketika memanggil seseorang (non formal)

[3] Salah satu kota di Korea Selatan

[4] Kakak laki-laki, di gunakan oleh laki-laki

[5] Mengerti?

 

 

Note : Annnyeong… Lia imnia 19 y.o author baru di sini dan ini postan pertama aku sebagai author tetap. Dan sebelumnya FF ini udah pernah di post di >>sini<< happy reading guys..