Absolute Music and Art – Inst. 1
Main cast:
MBLAQ member
Support cast:
– Hwang Dain
– Cho Hyori
– Park Nana
Rate: T
Length: Sequel
Genre: music, romantic

“Nanti…. Kalau sudah dewasa, Dain mau punya suami seperti apa?”

“Aku mau punya seorang suami yang bisa bermain piano, karena mereka terlihat berkelas Umma”

“Ah jinjja? Kau tidak mau punya namja chingu yang bisa bermain violin atau biola seperti Appamu?”

“Anii, aku hanya ingin namja dengan tangan-tangan yang gemulai di atas tuts piano….”

“Hwang Dain!! Apa yang kau lukis? Kenapa kau malah bengong seperti itu?!” teriak seosangnim dari meja depan, sepotong kapur melejit diatas kepalaku dan rasanya perih sekali.

“Jesonghabnida, saya sedang memikirkan sesuatu.” Ungkapku penuh penyesalan.

“Memikirkan sesuatunya nanti saja, ingat! Objek yang ada di depan kita ini harus selesai digambar dalam waktu 1 jam.” Ujar seosangnim. “Apa pekerjaanmu sudah mencapai setengahnya?”

Aku menatap kanvasku yang baru digurati seberkas garis-garis tipis membentuk tubuh seorang pria dengan otot perut yang indah –objek lukis kelasku saat ini- sementara yang lain sudah menebalkan dan memberi gradasi pada pekerjaannya masing-masing.

“Tuh kan, bahkan kau masih corat coret kanvasmu!! Model kita juga harus istirahat, dia tidak bisa menunggumu bersantai santai seperti ini!!” seru seosangnim lagi “Ah maafkan anak kelasku Lee Joon, dia terkadang melamun tidak ada hentinya.”

Si model yang bernama Lee Joon itu mengeluarkan senyum maut yang membuat seluruh yeoja di kelasku wajahnya memerah semua. Aku mendengus kesal, kenapa sih anak jurusan musik itu ikut serta dalam tes ku kali ini? Kenapa tidak yeoja jurusan lukis yang cantik dan langsing? Kalau modelnya seperti itu kan aku bisa menyelesaikannya dengan cepat.

“Oke waktunya tinggal sepuluh menit lagi ya.” ujar seosangnim sambil duduk di singgasananya. Beberapa murid sudah keluar meninggalkan kanvas dengan guratan-guratan sempurna diatasnya, sementara aku? Masih harus terburu-buru menggambar namja topless itu.

Kini garis penjelasnya sudah diguratkan. Kuambil palet dan kulukis tubuh berotot yang kugambar di kanvas, kulirik Lee Joon berkali-kali. Sepertinya ia sedang memperhatikanku, yah secara tinggal aku sendiri yang ada di ruang ujian ini.

“Oke, waktunya habis!! Dain, tolong tinggalkan ruangan ini.” Perintah seosangnim tegas. Aku segera meninggalkan ruangan yang sesaat menjengkelkan sekali seperti tadi. Untung saja aku berhasil melukiskan warnanya dengan cepat dan akurat, kalau tidak.. mungkin aku akan mengulang semester depan.

“Uwah seosangnim~~ lukisan yeoja yang terakhir tadi keren sekali! Aku menyukainya, daebak~~!!” terdengar suara Lee Joon dari ruang ujian lukis.

…..

Universitas M adalah universitas seni yang terbesar di Seoul, mempunyai 3 fakultas. Yaitu fakultas music, fakultas seni, dan fakultas tari. Di fakultas seni terdapat jurusan seni lukis, seni pahat, seni ukir dan seni membuat tembikar. Aku mendalami jurusan seni lukis…

Namaku Hwang Dain, kedua orangtua ku adalah seniman. Ummaku seorang penyanyi dan appaku seorang pemain violin, maka tidak heran kalau akupun juga berkecimpung di dalam seni. Namun aku memilih jalur yang berbeda dari mereka karena aku kurang mahir dalam permainan music.

Namja yang bernama Lee Joon tadi sebenarnya adalah mahasiswa fakultas musik. Berhubung ia dikategorikan sebagai mahasiswa dengan otot perut terindah, maka seosangnimku merekrutnya sebagai model ujian lukis. Banyak para yeoja yang menyukainya, tapi aku tidak. Karena aku masih berpendirian teguh pada keinginanku.

Ya, aku hanya ingin menyukai namja yang bisa bermain piano. Entah kenapa, aku tidak mengerti kenapa aku punya tipe namja yang lumayan susah dicari, tapi yaaaaa menurutku namja yang bisa bermain piano itu langka sekali. Hal itu bisa dibuktikan dengan sedikitnya namja yang memasuki jurusan piano, mayoritas namja memasuki jurusan gitar, vokal, dan alat music klasik lainnya.

“Yo Dain~!!” panggil teman ku, Cho Hyori. “Bagaimana tadi ujiannya? Didengar dengar model kali ini Lee Joon sunbaenim dari jurusan vokal ya? lalu bagaimana reaksi yeoja2 di kelasmu?”

“Kau tidak perlu menanyakannya lagi Hyori. Membayangkannya saja sudah muak, namja itu sungguh sangat menggelikan.” Komentarku pedas. “Ngomong-ngomong, mana Nana?”

“Dia masih bersama Cheolyong-sshi.” Jawab Hyori. “Kau mau pulang denganku tidak? Nanti aku minta tolong antarkan kerumahmu dulu sama Cheondung oppa.”

Ah, kedua temanku sibuk semua dengan pacarnya, batinku. “Tidak usah deh, aku masih mau magang disini saja.”

“Kau yakin? Apa ada masalah dirumahmu?” tanya Hyori khawatir. “Kalau kau mau pulang nanti juga tidak apa-apa, Cheondung oppa bisa menunggu.”

“Tidak usah repot2 Hyori-sshi, aku baik2 saja kalau kau tinggal pulang.” Jawabku sambil tersenyum. “Nanti aku bisa panggil Nana-sshi dan Cheolyong-sshi untuk menemaniku.”

“Oh, arraseo….” Ucap Hyori masih dengan wajah yang khawatir, “Nanti kalau perlu sesuatu, telpon aku saja ya. aku mau ke gedung music dulu.”

Aku mengangguk diiringi kepergian Hyori. Hari ini begitu melelahkan, kenapa tiba2 seosangnim menyuruh kelasku untuk mengadakan tes gambar? Aku kan belum membeli cat dan bahan lukis lain yang sudah mau habis.

“Aish, kapan aku ganti palet ini? Sudah butut sekali.” Ucapku sambil mengeluarkan palet kecil yang warnanya sudah tidak jelas karena tabrakan-tabrakan warna yang kubuat. Kukeluarkan semua peralatan lukis bututku dan memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam.

“Apa aku harus ke toko alat lukis ya untuk membeli kanvas dan peralatan baru?” kurogoh kantong celanaku, kosong. Lalu kulihat isi dompetku, kosong juga. Ah.. ottokke?

“Ah aku lupa minta uang saku sama umma,” gumamku sendiri. “Tapi aku malas pulang, bagaimana kalau ke halaman utama saja ya? disana banyak anak-anak jurusan music, akan sangat menyenangkan menggambar mereka.”

Aku melenggang pergi sambil bernyanyi nyanyi, memang inilah kebiasaanku kalau sendiri. Menggumam, bernyanyi, atau melakukan hal yang tidak penting. Aku tidak mampu bergaul dengan yeoja-yeoja cantik yang mayoritas orang kaya disini, karena mereka aneh dan terlalu sombong untuk kuajak bicara.

Aku sudah sampai di halaman universitas yang ditumbuhi rumput hijau yang luas. Anak-anak bisa bermain bola, main biola, terompet dan melakukan hal lain yang menyangkut seni. Aku duduk dan mengeluarkan pensil, penghapus, dan drawing pen sambil melihat ke sekeliling..

Hmmm siapa hari ini yang akan ku gambar?

~~~~~

“Annyeonghaseo Dain-ah.” Sapa seseorang, “Kenapa kau sendirian disini? Kemana Hyori dan Nana?”

Aku mendongak melihat wajah namja yang menyapaku itu, ternyata dia adalah Jung Byunghee oppa. Sunbaenimku di SMA sekaligus teman mainku sejak kecil.

“Annyeonghaseo Byunghee oppa.” Sapaku balik, “Mereka sedang ada urusan dengan Cheondung dan Cheolyong sunbaenim. Oppa sendiri belum pulang?”

“Aku masih berlatih vokal satu jam lagi dan harus menyelesaikan tugas membuat aransemen lagu. Aku sudah mengerjakannya, lalu aku melihat kau kesini.. jadi aku ikuti saja.” Jawab Byunghee oppa, “Mau kutemani?”

“Nee gamsahabnida.” Aku menunduk kecil, berterima kasih karena oppa sudah meluangkan waktunya untukku. “Boleh aku lihat aransemenmu oppa?”

“Oh, kertasnya aku tinggal di loker, mianhae…” jawab Byunghee oppa sambil meneguk air minum yang ia bawa. “Akh tenggorokanku perih sekali. Hem….. sepertinya tangan magis mu sudah mau bekerja kembali ya?”

“Hahahaha, aku saja tidak tahu mau menggambar siapa hari ini,” jawabku. Byunghee oppa selalu menjulukiku ‘tangan magis’ karena beliau bilang gambar yang kubuat terlihat seperti nyata, padahal menurutku biasa saja.

“Bagaimana kalau menggambar wajahku yang tampan saja?” ujar oppa, ucapannya membuatku menarik dagunya yang agak gondrong.

“Kalau menggambarmu kan sudah sering, apalagi kalau kau sedang main ke rumahku.” Jawabku sambil mencibirkan bibir.

“Kau gambar Joonie saja, tuh tuh disebelah situ…” oppa menunjuk Lee Joon, namja yang menjadi model dalam tes melukisku beberapa jam yang lalu.

“Anii.. anii…” sergahku geli, “Beberapa jam yang lalu, aku sudah menggambar lekuk-lekuk tubuh yang membuat semua yeoja disini menjerit. Aku tidak mau melukisnya lagi.”

“Jinjjaeyo? Dia jadi model tes melukismu?” tanya oppa tidak percaya, “Yah, namanya juga Lee Joon. Namja terseksi di universitas M, namja yang membuat semua yeoja pingsan.”

“Aish, gross…. Aku tak mau membicarakan namja ‘nakal’ itu lagi.” Aku menelusur semua mahasiswa dan mahasiswi yang sedang melakukan kegiatannya masing-masing. Namun tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang namja yang berjarak satu meter dengan posisiku duduk.

“Oppa, siapa dia?” aku menunjuk namja yang sedang sibuk bermain gitar dengan temannya itu. Aku segera menyiapkan buku sketsa dan pensil untuk menggambar namja itu.

“Oh, dia Yang Seungho si Dark cloud.” Jawab oppa sambil merebahkan kepalanya di pahaku, “Memang kenapa?”

“Anii…. Sepertinya… ah tidak lupakan saja.” Jawabku sambil menggeleng gelengkan kepala dan mulai membuat rangka wajah. “Oh iya, kok dia dipanggil Dark cloud?”

“Kau lihat matanya?” tanya oppa lagi? “Lingkaran hitam di matanya terlihat jelas, pertanda ia jarang tidur. Wajahnya yang sedang tidak melakukan sesuatu pun terlihat menyeramkan, dia anak jurusan instrumen. Dia mendalami permainan gitar, dan yang kutahu permainan gitarnya sangat luar biasa dibandingkan dengan mahasiswa lain. Ia setingkat denganku.”

Aku manggut-manggut sambil terus mengguratkan garis di buku sketsa ku. Entah kenapa, aku tertarik sekali untuk menggambarnya. Kulihat tangannya, kok jarinya panjang-panjang?

“Mwo, kok jari namja itu panjang-panjang?” tanyaku pada oppa. “Apa dia hanya mendalami alat music petik saja?”

“Setahuku sih begitu. Memang kenapa? Ada yang terlihat aneh dengannya?” Oppa balik bertanya padaku

Aku menggeleng sambil melanjutkan gambarku. Aku masih merasa penasaran dengan namja itu, ia memetik gitar dengan indahnya. Aku melihatnya tersenyum sehingga lingkaran hitam dimatanya semakin jelas, lalu kulihat lagi tangan putihnya yang sedang sibuk itu..

Itu bukan tangan seorang pemain gitar….

Itu tangan seorang pianist…

…..

“Astaga, sudah jam berapa ini? Aku malah ketiduran di pangkuanmu hoobae.” Ujar Byunghee oppa, aku tak memperhatikan wajahnya. Yang kulihat hanya namja yang dipanggil dark cloud itu. Aku masih melukis dirinya yang sedang bermain gitar.

“Sepertinya nyaris satu jam oppa, bukannya kau harus latihan vokal ya?” tanyaku sambil sibuk menggambar Dark cloud oppa.

“Nee, sebaiknya aku pergi ke kampusku sekarang juga, annyeong Dain…” ucap oppa, namun kulihat si dark cloud oppa tiba2 bangkit dari duduknya dan pergi membawa gitarnya, otomatis aku ikut bangkit dan mengikutinya.

“Yak, mau kemana kau Dain-ah?!” tanya oppa yang ada dibelakangku.

“Aku mau mengejar oppa itu~~!! Pekerjaanku belum selesai. Sampai jumpa nanti Byunghee oppa.” Jawabku terburu-buru. Jalannya cepat sekali!! Kemana ia pergi??

Aku mencari cari jejak sang dark cloud kemana-mana, gedung musik sudah sepi karena banyak mahasiswa yang sudah pulang. Bagaimana ini? Karyaku belum selesai~~!!

Gluduk~~ terdengar suara gitar ditaruh di lantai, cukup nyaring bunyinya. Karena penasaran aku berjalan- mengendap-endap kea rah suara itu.

“Mwo..? ini… ruang praktek?” tanyaku pada diri sendiri. Kuintip ruangan itu, Thanks god…. Sang dark cloud oppa ternyata ada disana

Ia duduk dengan elegan di depan grand piano. ia menatapi tuts-tutsnya, dan….. astaga, ia memainkan sebuah lagu dengan piano itu!!

“Omo.. bagaimana ini? Aku deg-degan sekali.” Aku menelan ludah menahan detak jantungku yang ketar-ketir ini, pensilku masih menggores gradasi bayangan yang terbentuk di wajahnya. Tanganku rasanya gemetaran saat menggambar, dia terlihat keren sekali!!!!

Kulihat sketsa yang kubuat, tinggal kutambahkan garis-garis samar hitam di bawah kedua matanya, dan gradasi bayangan dibawah bibirnya yang terlihat seperti bengkak. Sempur…..

Klotak, tanpa sengaja aku menjatuhkan serutanku. Aku segera bersembunyi di balik tembok melihat sang oppa yang sepertinya menyadari kalau aku sudah membuntutinya.

“Yeoboseo? Siapa disana??” tanyanya. “Masuk saja kalau mau~~”

Tap.. tap…. Tap….. terdengar suara langkah sepatunya yang keras, aku takut sekali. Ottokke?!

Tanpa berpikir panjang, aku langsung segera kabur dan berlari sekencang-kencangnya hingga sampai ke halaman gedung musik. Fiuhhhh untung tidak ketahuan~~

“Baiklah…. Pasti gambarnya akan terlihat bagus kalau dipajang di kamar… loh? Buku sketsaku mana?” aku mengacak dan mengeluarkan seluruh isi tasku. Kemana buku sketsa ku?!?!?!

Aku mengingat ingat lagi apa yang barusan kulakukan. Dan astaga…

Aku meninggalkannya di depan ruang musiiiiiiiik!!!!! Ottokke?!?!?!

Bersambung…