Author : Park Hyena
Tittle : I Miss You, Dad..
Length : Oneshoot
Genre : Friendship, Family, Brothership
Cast : Super Junior Leeteuk, Heechul, Yesung, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Siwon, Donghae, Ryeowook, Kyuhyun

I Miss You, Dad

*Dorm Super Junior Lantai 12*

Minggu pertama di bulan keenam tahun 2011 kegiatan Super Junior M telah selesai dan kini saatnya perusaahaan SM Entertainment memberikan istirahat hanya dua hari, dan keenam member Super Junior M memanfaatkan waktu untuk berhibernasi di dorm kesayangan mereka di Seoul, sedangkan Zhoumi dan Henry harus kembali bekerja di China.

“Bagaimana keadaan kalian ?” Leeteuk menyambut keenam adik kesayangannya yang baru saja tiba di dorm. Kali ini mereka berkumpul di lantai 12 melepas rindu satu sama lain.

Sebenarnya Leeteuk sudah memberi nasihat agar mereka istirahat dulu di dorm masing-masing dan acara kangen-kangenan biar nanti saja setelah rasa lelah mereka hilang, tapi bukan member Super Junior kalau tidak ngotot dan tidak memaksa mereka ingin langsung ke dorm lantai 12 untuk menemui keempat kakak tetua mereka.

“Seperti yang kau lihat, hyung, kami lelah” Kyuhyun merebahkan tubuhnya di sofa empuk sambil tetap mendengarkan lagu dari ipadnya.

“Kan tadi Teuki sudah bilang kalian istirahat dulu baru kemari kalau lelahnya sudah hilang! Eh kalian malah memaksa mau langsung kesini” Heechul berkomentar.

“Kami rindu kalian hyungdeul.. aahh tak romantis sama sekali kalian ini!” Eunhyuk menanggapi sambil memakan cemilan yang ada di meja makan.

“Sudahlah.. minum dulu teh hangatnya untuk menghangatkan tubuh kalian. Donghae-ah kau kenapa masih berdiri ? tidak duduk ? kemari kita nikmati tehnya” Leeteuk membawa satu nampan yang berisi lima cangkir teh hangat khas korea diikuti Yesung yang juga membawa satu nampan.

“Boleh aku tidur di kamar, hyung ? aku ngantuk” Donghae meminta ijin pada Leeteuk.

“Tentu, kau istirahatlah dulu” Leeteuk menjawab namun hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi dengan adik kesayangannya itu? Tak biasanya ia terlihat murung.

Donghae berjalan menuju kamarnya yang juga kamar Leeteuk dan mengunci pintu dengan sangat pelan sehingga tak menghasilkan bunyi yang dapat membuat curiga member lain – tumben sekali Donghae mengunci kamarnya jika ia tidur sendirian . Moodnya sedang turun tak ingin ada yang mengganggu siapapun itu. Pikirannya melayang entah kemana, hatinya ingin berteriak, matanya ingin mengeluarkan air mata hingga habis dan mengeluarkan rasa rindu yang membuncah terhadap mendiang ayahnya. Entah kenapa hari ini ia rindu sekali pada ayahnya yang telah meninggal lima tahun lalu, ia sangat ingin mengunjungi makam ayahnya di Mokpo juga menjenguk ibu dan saudara kandung satu-satunya. Lee Donghwa. Tapi itu tak mungkin karena perusaahaannya hanya memberi waktu libur dua hari tapi tidak untuk Donghae dan Siwon yang besok masih memiliki satu kegiatan lagi yaitu pemotretan majalah edisi drama Taiwan terbarunya dan Siwon “Skip Beat” dan majalah Elle masih dengan Siwon, kemudian esoknya mereka akan terbang ke Perancis bersama para artis SM Entertainment untuk melakukan konser perusahaan mereka ,SM Town Concert in Paris, dan kemudian mempersiapkan album kelimanya yang akan rilis Agustus mendatang. Belum lagi ia dan Siwon harus kembali ke Taiwan untuk menyelesaikan syuting drama terbaru mereka. Ia tahu bahwa Super Junior tak akan pernah menyia-nyiakan waktu sedetikpun.

Betapa perihnya menahan rasa rindu yang begitu dalam untuk mendiang ayahnya yang sangat ia banggakan selama ini, betapa terlukanya ia karena belum bisa memberi yang terbaik ketika ayahnya masih hidup, betapa menyesalnya ia kenapa dulu saat ayahnya dalam keadaan sekarat ia tak ada di sisinya. Buliran bening mengalir di pipi mulusnya, dengan sekuat tenaga ia menahan tangisnya dan ternyata tak dapat terbendung lagi.

“Appa, aku rindu sekali padamu.. tak bisakah kau hadir dalam mimpiku hari ini? Aku sangat ingin melihat wajahmu, appa.. wajah yang dapat menguatkan aku selama aku hidup” Donghae masih menangis namun tak mengeluarkan suara takut kalau-kalau member lain mendengarnya dan menadi khawatir.

“Appa, apa yang sedang kau lakukan di surga ? kau bahagia tidak di sana ? sudah lama sekali aku tak mengunjungi makammu. Maaf appa jadwalku sedang padat belakangan ini, tapi percayalah dalam setiap doaku aku selalu memohon agar Tuhan membahagiakanmu” Donghae mengambil pas foto yang terpajang di atas meja riasnya, ia usap foto itu seakan-akan mengusap wajah orang terkasihnya.

“Appa, kau bisa lihat aku kan dari surga ?? betapa menyenangkannya hidupku sekarang appa. Aku sudah menjadi member Super Junior yang terkenal di seluruh penjuru dunia, aku sudah menjadi penyanyi seperti yang appa inginkan, aku juga sudah menjadi aktor loh, appa. Yaaah walaupun kemampuanku tak sebagus Siwon yang sudah berulang kali tampil di berbagai drama, tapi aku akan terus berusaha untuk meningkatkan bakat aktingku” masih menangis Donghae berbicara dengan foto di tangannya.

“Appa, bangga tidak memiliki anak sepertiku ?? maafkan aku appa aku belum sempat membanggakanmu waktu itu. Aku belum sempat meminta appa untuk melihat kemampuan danceku yang bagus menurut member lain dan perusahaanku, appa belum sempat mendengarku bernyanyi juga kan ?? sekarang vokalku sudah berkembang loh, appa..bahkan waktu itu aku mengisi soundtrack dramaku sendiri. Appa pasti senang kan melihatku seperti sekarang?” Donghae memaksakkan bibirnya untuk tersenyum.

***

“Apa terjadi sesuatu dengan Donghae?” Leeteuk berbisik pada Eunhyuk yang duduk di sebelahnya.

“Eh ? tidak hyung.. dia tadi baik-baik saja. Mungkin dia terlalu lelah” Eunhyuk menghentikkan kegiatan memakan cemilannya.

“Siwonnie, apa syuting dramanya begitu melelahkan?? Tak ada waktu istirahat yang memadai??” Leeteuk bertanya pada Siwon yang sedang asyik menyesap black coffeenya yang baru saja ia buat sendiri di dapur.

“Biasa saja hyung, masih dalam tingkat kewajaran kok..ada apa hyung?” Siwon meletakkan cangkir kopinya dan menatap Leeteuk penasaran.

“Donghae. Dia kenapa ? tak biasanya ia seperti ini. Apa ada masalah?” semua pandangan tertuju pada Leeteuk dan Siwon. Kyuhyun yang sedang asyik dengan PSP nya langsung mem-pause dan meletakkan PSPnya, ia terkejut dengan pertanyaan leadernya.

“Aniyoo.. tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Tadi dia baik-baik saja dan di pesawatpun ia tidur begitu juga dengan yang lain” Siwon menjelaskan.

“Teuki-ah jangan berprasangka macam-macam ! Donghae hanya lelah. Kau ini terlalu paranoid” Heechul mengusap punggung Leeteuk.

“Heenim, bukan begitu.. kau tidak perhatikan dia apa ? wajahnya terlihat berbeda, langkahnya pun berat seperti ada beban yang begitu berat yang ia pikul. Aku mengenal semua memberku sudah enam tahun lebih, aku sudah tahu bagaimana tingkah memberku selama ini” Leeteuk menatap Heechul. Heechul mengerutkan keningnya.

“Teuki-ah.. aku tahu kau sangat sayang padanya dan kami semua, aku tahu bagaimana kau memperhatikan kami, tapi please Teuki kali ini buang dulu pikiran burukmu itu. Percayalah padaku, Donghae dalam keadaan baik” lagi-lagi Heechul menenangkan hyungnya yang terbilang memang selalu bersikap seperti ini. Sebenarnya ia juga agak sependapat dengan Leeteuk, tapi ia meyakinkan hatinya bahwa Donghae baik-baik saja.

“Feeling Teuki hyung tidak pernah meleset, Heechul hyung” Kyuhyun buka suara. Semua member menoleh padanya.

“Maksudmu?” Ryeowook tak mengerti.

“Sesuatu yang Teuki hyung rasakan pasti selalu benar, ikatan batinnya sungguh sangat luar biasa” Kyuhyun berbicara lagi.

“Jadi maksudmu, Hae ada apa-apa ? tapi kenapa ia tak cerita padaku??” Eunhyuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Kyuhyun mengangguk cepat, dilihatnya Leeteuk yang diam tak bergeming.

“Aku akan ke kamar sebentar memastikan keadaannya” Leeteuk bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya. Kedelapan member masih tak mengerti kenapa leader mereka sangat sensitif jika ada member yang bersikap aneh dan kenapa instingnya selalu kuat dan benar jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa membernya.

“Teuk hyung selalu begitu, sangat memperhatikan adik-adiknya sedangkan ia selalu menyepelekan kesehatannya sendiri” Yesung bergumam sendiri dan mendapat anggukan dari semua member.

***

Donghae masih menangis, sekarang ia berada di balkon kamarnya menikmati dinginnya malam di kota perantauannya. Angin malam ini begitu menusuk tulang, tapi tak sedikitpun ia hiraukan, pandangan matanya tertuju pada langit yang mendung sama seperti hatinya, bintang dan bulanpun enggan menampakkan dirinya karena langit begitu mendung. Semilir angin menerpa tubuhnya. Dingin. Dingin sekali. Ia hanya menggunakan kaos lengan pendek berwarna coklat muda dan celana jeans panjang. Ia duduk bersimpuh di bawah langit nan megah ini, air matanya belum kering, tangannya pun tak bisa menyingkirkan barang yang sedang didekapnya erat. Sebuah foto ayahnya, orang yang amat sangat ia cintai.

“Maaf appa aku menangis lagi hari ini. Ini kali pertamanya aku menangis setelah kau meninggalkanku, appa. Dan setelah ini aku berjanji tak akan menangis lagi, aku memang cengeng yah, appa. Hehe” Donghae terkekeh namun terasa hambar, airmatanya tak bisa berhenti mengalir.

“Appa, tunggu aku di surga yah.. aku akan menemuimu jika sudah tiba waktunya. Appa aku ingin tidur di sini saja, aku ingin melihatmu di langit dan aku akan bisa bertemu kau dalam mimpiku malam ini” Donghae merebahkan tubuhnya di lantai balkon dan memejamkan matanya sambil tetap mendekap foto di tangannya, ia tak peduli bahwa malam ini sangat dingin, yang ia inginkan hanyalah bertemu ayahnya dalam mimpinya kali ini dengan menatap langit kelabu yang mendung.

***

“Donghae-ah.. Donghae ini aku Teuki hyung” Teuki mengetuk pintu kamarnya berulang kali namun tak ada jawaban.

“Lee Donghae jangan bercanda! Buka pintunya Donghae!” Leeteuk makin tak sabar, perasaannya kalut dan cemas.

“Donghae-ah, ini aku Hyuk, kau sedang apa di dalam ? boleh aku masuk ?” Eunhyuk membantu Leeteuk mencoba membuka pintunya.

“Hyung pintunya dikunci” Eunhyuk terkejut.

“Hyung punya kunci cadangannya tidak?” Shindong yang dari tadi bungkam akhirnya angkat bicara gerah juga ia dengan situasi ini.

Leeteuk mengangguk mengiyakan.

“Aiiisssshh anak itu kenapa sih? Tak biasanya ia mengunci pintunya” terdengar nada cemas dari Heenim.

“Yesung-ah tolong ambil kunci cadangan di laci meja TV” Leeteuk menyuruh Yesung, dengan cekatan ia mencari kunci itu.

“Ini hyung kuncinya” Yesung datang dengan kunci di tangannya.

Leeteuk dengan cepat meraih kuncinya, lalu membuka pintunya. Leeteuk masuk terlebih dahulu kemudian diikuti oleh member yang lain. Kosong. Tempat tidur Donghae kosong. Leeteuk langsung mengarahkan pandangan pada balkon, ia tahu bahwa di balkonlah tempat nyaman Donghae untuk melepas semua penat yang dirasakannya. Leeteuk melangkahkan kakinya menuju balkon yang pintunya terbuka ia yakin Donghae ada disitu

“Donghae di balkon, hyung?” tanya Sungmin dan hanya mendapat anggukan dari Leeteuk sebagai jawaban mengiyakan.

“Kalian tunggu di sini saja, biar aku yang ke balkon” Leeteuk menginterupsi, dan kedelapan membernya mematuhi.

Leeteuk menghampiri balkon dengan langkah hati-hati, betapa terkejutnya ia ketika melihat Donghae tergeletak di lantai sambil memeluk bingkai foto mendiang ayah tercintanya. Dihampirinya adik tersayangnya itu.

“Astagaaaa~ Donghae-ya ! Lee Donghae, ireona ! kenapa tidur di sini ? ada apa?” Leeteuk mengguncang-guncangkan tubuh Donghae pelan. Donghae mengggeliat dan menyipitkan kedua matanya untuk melihat siapa yang membangunkannya.

“Hyung.. kau kenapa di sini?” Donghae tersadar dari tidurnya. Leeteuk menatapnya iba.

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau disini? Apa kasur empuk di kamar kita sudah mulai mengeras hah ?” Leeteuk berusaha bercanda, ia tahu bahwa Donghae sedang merasakan rindu pada ayahnya. Terlihat jelas bahwa Donghae sedang memeluk bingkai foto mendiang ayahnya.

“Hehehe.. aku ketiduran hyung di sini, ayo kita masuk hyung udaranya dingin nanti kau sakit” Donghae berbohong, segera ia bangkit dari tempatnya digandengnya Leeteuk

menuju kamarnya. Namun Donghae membelalakkan matanya ketika melihat delapan member sedang berkumpul di kamarnya.

“Eh ? kalian ? kenapa di sini?” Donghae gugup melihat teman segrupnya berkumpul di kamarnya.

“Harusnya kami yang bertanya padamu, kenapa kau mengunci pintu kamarmu?? Kenapa kau tidur di lantai balkon ?? dan kenapa hari ini sikapmu membuat kami bingung hah?? Ya ! Lee Donghae jangan membuat kami bingung dan cemas seperti ini!” Heechul mengeluarkan emosinya. Jujur saja sebenarnya ia sangat cemas dengan keadaan Donghae hari ini, ditambah ketika ia melihat Donghae, ia sedang memegang foto mendiang ayahnya. Pasti Donghae sedang merasa rindu dengan ayah kesayangannya.

Donghae menunduk merasa bersalah.

“Heenim, tenangkan emosimu.. ayo kita bicara di luar, biar Donghae istirahat malam ini” Leeteuk berkata halus dan segera menggamit tangan heechul untuk diajaknya keluar kamar, namun Donghae mencegahnya dengan memegang tangan Leeteuk. Leeteuk membalikkan tubuhnya. Dan dengan otomatis Heechul menoleh pada Donghae juga.

“Mianhae hyung, aku tak bermaksud untuk membuat kalian cemas. Mianhae, mianhae jeongmal mianhae” Donghae mulai terisak.

Dengan cepat Heechul menyambar Donghae dan meraihnya ke dalam pelukannya membuat Leeteuk dan tujuh member lainnya tercengang hebat.

“Tidak.. aku yang salah aku yang membentakmu. Jangan minta maaf lagi. Donghae-ah menangislah sepuasmu di sini, di dadaku, luapkan semua perasaanmu” Heechul membelai kepala Donghae dengan penuh kelembutan, Donghae makin terisak, terdengar sekali bahwa tangisnya sangat terdengar memilukan.

“Kau rindu ayahmu?” Heechul kembali bertanya. Donghae mengangguk pelan.

“Kenapa menyimpannya sendiri ? kau punya kami yang selalu ada di sampingmu. Berceritalah pada kami, itu akan mengurangi bebanmu” Leeteuk menambahi.

“Hanya merasa rindu saja, lagian aku tidak mau membuat kalian cemas, aku tak enak, hyung” Donghae berkata sepelan mungkin disela-sela tangisnya.

“Babo! Kau pikir kami ini siapa?? Selama kurang lebih tujuh tahun kita bersama dan kau masih merasa tidak enak pada kami?” Heechul menaikkan sedikit nada bicaranya. Leeteuk mengalihkan pandangannya pada adiknya yang hanya beda sembilan hari itu. Heechul yang membalas pandangan Leeteuk langsung meredam emosinya, Heechul paham sangat paham arti pandangan yang Leeteuk berikan.

“Mianhaeyo, hyung. Aku hanya tidak ingin merepotkan” Donghae masih menunduk.

“Tidak ada yang merepotkan selama kau masih mau berbagi dengan kami” Leeteuk menjawab.

“Donghae-ya, kau tahu tidak? Setiap kau pergi ke gereja denganku selama di Taiwan aku selalu mendengar kau berdoa untuk ayahmu, bahkan setiap hari kau selalu menyebut nama ayahmu di dalam setiap doamu. Tak tahukah kau bahwa Tuhan dan ayahmu mendengar setiap doamu itu. Dan aku yakin Tuhan menyampaikan setiap doamu pada ayahmu di surga” Siwon berkata dan mendapat anggukan dari semua member.

“Aku tahu hyung bagaimana perasaanmu kehilangan orang yang kita sayangi, sama seperti ketika nenekku meninggal tahun lalu, rasanya seperti kehilangan setengah nyawa. Tapi kehilangan membuat kita sadar baahwa mereka yang pergi adalah mereka yang sangat berarti dalam hidup kita dan akan berjanji akan melakakukan yang terbaik untuk mereka yang masih hidup di dunia ini” nada Ryeowook bergetar, Yesung yang tepat berada di sebelahnya langsung merangkul bahunya.

“Donghae-ya, kau tentunya tidak mau melihat ayahmu yang sudah bahagia di surga tiba-tiba sedih melihatmu menangis lagi seperti ini. Hapus air matamu, berdoa jika kau merindukannya, andai saja 2 hari ke depan kau libur mungkin aku bisa mengantarmu mengunjungi makam ayahmu” Leeteuk membelai kepala Donghae.

“Gwaenchana hyung, appa pasti sangat bahagia karena sampai saat ini kau masih bersikap layaknya kau adalah appaku, gomawo hyung dan lagi aku punya keluarga keduaku di Super Junior” Donghae sudah kembali tersenyum.

“Satu hal yang pasti Donghae-ya.. aku akan selalu menjagamu sesuai dengan pesan mendiang ayahmu. Oh tidak bukan hanya aku tapi semua member di sini” Leeteuk kembali tersenyum, senyuman khas seorang leader Super Junior.

“Ne, kami akan selalu bersamamu, Lee Donghae” Eunhyuk yang angkat bicara, wajahnya sudah basah dengan air mata. Kemudian ia memeluk erat sahabat seperjuangannya selama di Super Junior.

“Gomawo, jeongmal gomawoyo” Donghae kembali meneteskan buliran bening dari mata sembabnya kali ini bukan air mata kesedihan tetapi air mata kebahagiaan.

“Terima kasih Tuhan karena kau menghadirkan keluarga kedua yang sangat baik untukku sepeninggal ayahku, jaga dan selalu lindungi mereka untukku Tuhan, aku mohon” ujar Donghae dalam hati kecilnya.

END