(Prolog) (Part 1) (Part 2) (Part 3) (Part 4) (Part 5) (Part 6) (Part 7) (Part 8)

Annyeong!!

Akhirnya saya bikin juga after story nya Great Confession ini. Sebenernya mau ga bikin, tapi terlalu banyak desakan lahir maupun batin. *apa deh*-____-“

Terus nih yaa, karena OSPEK semakin dekat, dan saya semakin sibuk ngurusin maba-maba… jadi kemungkinan saya akan agak lama nge-post lagi. Yaaa… walau tetep berusaha cepet sih. Hhe…

Semoga sabar menunggu. ^^

Oke dehh… happy reading!!

___________________________________________________

 

Title : [After Story] Great Confession – A Girl I Need

Cast : Dong Young Bae (Taeyang BigBang), Jeremy Green (OC), Sandara Park (Dara 2ne1)

Support Cast : (Cuma pasang nama) Yoona, Seo Hyun (SNSD), Son Ga-In (BEG), Luna (f(x)), Hyukjae (SuJu), Nicole (Kara)

Genre : Comedy, Romantic

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED

ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! NO OTHER AUTHORS ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING! NO PLAGIARISM!

KEEP COMMENT! NO SILENT READERS HERE, PLEASE!

Great Confession

 

“Youngbae!”

Seseorang berlari mendekat ke arah seorang lelaki yang berambut mohawk, namun lelaki itu tak menghiraukannya dan tetap berjalan tanpa henti. Tentu saja, karena ada sepasang handsfree yang menulikan telinganya dari lingkungan sekitarnya.

“Youngbae!”

Tetap tak ada jawaban.

PLUUKK!

Kemudian orang tersebut menepuk bahu Youngbae pelan, menyadarkan lelaki itu dari musiknya sendiri. Tangannya kemudian terangkat melepaskan salah satu handsfree yang menempel di telinganya dan mengalihkan pandangannya kea rah orang tersebut. “Jeremy?”

Lelaki yag dipanggil Jeremy itu menyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Youngbae, kuliahmu sudah selesai?”

“Sudah. Baru saja keluar kelas. Pourquoi?”

Rien. Ayo ke kantin.” Jeremy merangkul bahu Youngbae dan menariknya ke arah kantin. Sesaat kemudian, Jeremy memperhatikan temannya itu dari atas ke bawah, hingga terlintas satu pertanyaan di pikirannya, “Youngbae, kamu sudah setahun di sini, tapi aku tidak pernah melihatmu bersama seorang gadis.”

Sebuah lengkungan tipis muncul dari dua sudut bibir Youngbae, membentuk sepasang bulan sabit di kedua matanya. Bentuk senyuman yang selalu bisa meluruhkan hati wanita jika kebetulan menatapnya. “Kalau tidak ada yang menarik minatku, kenapa harus memaksakan?”

Dahi Jeremy mengernyit bingung. Memang benar apa kata teman di sampingnya. Tapi bukankah disini ada seribu wanita yang tiap hari berkeliaran di sekitar kampus ini. Apa tidak ada satu pun yang mampu mencuri perhatiannya?

“Sebenarnya kamu mencari yang seperti apa sih?”

“Seperti apa ya…” Youngbae menatap langit-langit gedung, memikirkan sosok seseorang yang diinginkannya. Dan seketika sesosok wanita dapat dengan mudah keluar dari setiap celah ingatannya, beserta kenangan yang mampu membuat sebuah kisah unik hidupnya. “The one that speaks without thinking. Aku suka wanita yang blak-blakan.”

……

 

Noona? Ada apa?” Tanya Youngbae pada serang wanita yang berlari tergesa mendekat ke arahnya.

Youngbae-ah!” Dia menatapnya lekat-lekat dengan mata yang biasanya selalu terlihat bercanda, Kini mata itu menatapnya serius, membuat lelaki itu sedikit jengah dan kebingungan.  “Saranghaeyo!”

Tiba-tiba suasana menghening. Youngbae bisa merasakan puluhan mata di ruangan itu menatapnya seketika. Dia hanya bisa tercengang. “Noona…”

Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, aku hanya ingin mengatakannya sekarang.”

……

 

“Blak-blakan?” Jeremy menganggukkan kepala sejenak dan menatap sekeliling, mencari seseorang yang mungkin seperti yang diinginkan temannya. Saat itulah Luna muncul melintasi mereka, dan sebuah senyum pun tersungging dari bibir Jeremy. “Seperti Luna?”

Youngbae tertawa kecil ketika dia pun melihat gadis itu tersenyum ceria pada mereka. Luna memang gadis yang sering berbicara tanpa berpikir. Tapi ada satu hal yang mengganjal pada diri gadis itu. Youngbae terus memperhatikan tiap langkah gadis itu, dan kemudian ada seseorang yang menghampirinya. Sebuah kecupan manis pun mendarat di dahi gadis itu disertai dengan senyum senang Luna. Setelahnya, sepasang manusia itu pergi meninggalkan mereka.

Ketika itulah, hati Youngbae tergelitik untuk bertanya iseng, “Jeremy, bukankah beberapa hari yang lalu dia baru saja bersama Scott? Mengapa sekarang bersama Hyukjae?”

Jeremy hanya mengedikkan bahunya tak peduli. “Mungkin baru putus?”

Bibir Youngbae akhirnya hanya berdecak pelan disertai dengan gelengan kepala tak habis pikir. Dia pun melanjutkan, “I don’t wanna a girl that plays around sometimes when she’s bored, but one that will only love me. Even guys hand her their phone, she will proudly take out and show my picture.”

……

 

Kamu tahu, aku sudah mencintaimu dari dulu. Dari awal aku melihatmu ketika bersama Seungri di tempat kursus. Ketika aku melihatmu hanyut dalam permainanmu sendiri. Aku sudah jatuh dalam pesonamu. Tanpa kusadari, aku sudah terdampar dalam perasaan cintaku terhadapmu,” ucap seorang wanita sambil mencoba menelisik reaksi Youngbae. Apakah lelaki itu terlihat marah pada apa yang baru saja keluar dari mulutnya?

Sepertinya tidak. Hanya terdiam dan terbelalak. Menanti kata demi kata yang akan terucap dari bibir tipisnya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan, “Tapi aku tahu, kamu mencintai orang lain. Kamu sangat mencintai yeoja itu. Waktu itu, aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku marah pada diriku sendiri. Karena telah mencintaimu yang sudah mencintai orang lain. Karena dengan segala upaya yang coba kulakukan, aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu. Karena aku tak pernah berani mengatakan semuanya padamu.”

Dia ingin mengatakan semuanya, bahwa dia hanya mencintai Youngbae. because it’s that simple. Dia mencintainya dan dia tidak ingin berpura-pura seolah dia tidak mencintainya.

……

 

Jeremy tertawa kecil. “So, she must proud of you, right? Tapi kamu kan memang bisa dibanggakan. Orang Korea pertama yang datang ke sini langsung karena rekomendasi seorang Mr. Switzeeman. Jarang sekali beliau tertarik pada anak muda. Sampai di sini pun kamu sudah mencuri perhatian banyak lecturer. Kalau aku jadi seorang gadis, aku pun mau jadi milikmu.”

Youngbae menatap Jeremy dengan tatapan aneh, lalu dia mengangkat salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian diiringi dengan lenguhan pelan ketika mendengar pernyataannya. “Yang pasti, aku yang tidak mau memilkimu.”

Mereka kemudian memasuki ruangan besar penuh meja dan kursi yang tertata rapi, dengan satu bar panjang berisi rak-rak makanan. Perlahan, mereka mendekati rak tersebut dan memilih-milh makanan tanpa menghentikan pembicaraan mereka.

“Lalu? Lalu? Seperti apa lagi kriteria yang kamu inginkan?”

Youngbae berpikir sejenak, terbayang di benaknya tentang seorang wanita yang menurutnya mendekati sempurna. Terlalu sempurna, bahkan ketika matanya sembab dan berkantung karena kurang tidur untuk menjaganya ketika dia mengalami koma. Ketika dia melakukan segalanya untuk menjaganya ketika dia di rumah sakit.

Sesaat kemudian, satu senyuman kembali tersungging darinya, “Seseorang yang cantik ketika melakukan apapun. Tentu saja dengan tubuh yang cantik pula…”

……

 

Kamu harus berterima kasih padaku karena aku sudah menjagamu selama kamu koma. Kamu berhutang sangaaaaaattt banyak padaku!” Wanita itu berbicara tanpa henti dengan nada yang berapi-api. Seolah kata-katanya selalu dia simpan selama ini hanya untuk hari ini.

memangnya aku memintamu menjagaku, noona?”

Heii! Apa maksudmu??!” Dia menatapnya tajam dengan pandangan marah, tentu saja semuanya pura-pura.

Youngbae menatap wajahnya yang masih bersemangat bercerita. Gurat-gurat kelelahan sangat terlihat di bagian pelipis, dan dahinya. Kantung mata yang menghitam menghiasi bagian bawah matanya. Kedua kelopak matanya memerah sembab, mungkin karena air mata yang dia keluarkan terlalu berlebihan. Apakah dia menangis untuknya?

Ketika itu, perlahan ada yg berubah. Cinta yang muncul dalam diam dan tumbuh dalam keheningan. Yang datang bahkan tanpa dia sadari.

……

 

“Waaahh… kalau yang itu… tentu saja semua orang mau. Aku pun mau bila ada yang seperti itu.” Jeremy kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin, dan tampak olehnya seorang gadis yang sedang menulis sesuatu sambil mengenakan headset di sepasang telinganya. Seolah gadis itu telah masuk dalam dunianya sendiri. “Seperti Yoona?”

“Humm… dia selalu memakai rok…”

Pikirannya melayang lagi menembus batas negara, dimana dia selalu melihat seseorang yang tak pernah mengenakan rok. Ketika bertemu di jalan menuju rumah sakit, ketika dia memimpin orkestranya, ketika dia mendapati orang tersebut asyik memainkan berbagai tangga nada dalam alunan biolanya seorang diri setelah latihan selesai.

Dimanapun ketika matanya menangkap sosok mungil tersebut.

Dan orang tersebut selalu terlihat sangat cantik dalam balutan jeans sederhananya.

“Aku suka gadis yang terlihat lebih menarik ketika memakai jeans daripada memakai rok, Jeremy…”

……

 

Noona?”

Youngbae-ah…”

Mengapa kembali?” dahi lelaki itu mengernyit ketika melihat wanita tersebut mendekati hall dengan wajah yang memerah karena kikuk.

Wanita itu hanya mengenakan blouse merah muda berenda di bagian dadanya dan skinny jeans kesayangannya. Rasanya Youngbae sering sekali melihat wanita itu menggunakan jeans,hingga dia tak tahu berapa jeans yang dia punya karena wanita itu selalu terlihat mengenakan celana jeans yang berwarna senada. Atau memang karena jeans itu selalu berwarna seperti itu?

Aku… ingin mengambil long coat ku yang tertinggal…” ucapnya, kemudian mendekat ke arah kursi penonton yang dibentuk bertingkat seperti bioskop dan mengambil long coatnya yang terselempang di salah satu kursi. Wanita tersebut memakai long coatnya dengan perasaan kikuk. Setelahnya, dia melanjutkan dengan canggung, “Euhm… aku pulang dulu…”

Noona, chakkaman!”

Langkah wanita itu seketika terhenti dan berbalik pada Youngbae sekali lagi. “Humm?Wae, Bae-ah?”

Ini sudah malam. Tidak baik seorang yeoja pulang sendirian malam-malam. Aku akan mengantarmu pulang, noona.”

Eh?”

……

 

“Jeans?” Untuk kesekian kalinya, kriteria teman yang sama-sama mengejar impian menjadi konduktor ini membuatnya tak habis pikir. Bukankah biasanya lelaki lebih suka melihat gadis yang memakai rok? Apalagi bila roknya ini berukuran mini dan menyingkap sedikit bagian kaki atasnya. Pasti begitu menyegarkan mata.

Atau lebih baik daripada kandungan vitamin A dalam wortel di salad sayurnya?

Mata Jeremy mengedar ke sekeliling kantin sekali lagi. “Seperti… Seo Hyun?” tanyanya ketika melihat seorang junior berambut panjang dengan skinny jeans dan high heels tujuh centi melewati mereka dengan sepiring steak di tangan kanannya.

“I don’t know. I have no interest to her..”

“So?”

Youngbae terdiam. Apapun yang dipikirkan lelaki itu, tak sedikitpun Jeremy dapat menduganya. Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu meja di sudut kantin dan meletakkan baki makanan mereka.

Dan kepingan-kepingan memori kembali berkumpul membentuk sebuah slide kenangan akan seseorang. Seseorang yang dia pikir lebih muda darinya ketika berkenalan. Mungkin wajahnya memang tidak bisa tua, karena sejak lelaki itu mengenalnya, hingga kini dia berada di Perancis setelah lima tahun berlalu, raut wajahnya tetap sama. Flawless.

“I wanna a girl who looks young even though she’s older than me,” ungkapnya kemudian.

……

 

Euhmm… kamu terlihat muda sekali. Memangnya berapa umurmu?” Youngbae bertanya pada gadis di depannya. Gadis itu terlihat begitu manis dan sangat muda, terlebih karena wajah dan tubuhnya yang mungil.

Muda? Aku bahkan tiga tahun lebih tua darimu, Youngbae. Aku sudah 21 tahun.”

Mwoa?!” Youngbae yang baru saja menginjak umur 18 tahun hanya bisa terbelalak tak percaya. Bagaimana mungkin gadis ini bisa terlihat lima tahun lebih muda dari umurnya?

Dan selalu begitu walau sudah lima tahun berlalu.

……

 

“Hah? Older?” Jeremy lagi-lagi dibuat tercengang oleh penyataan teman di hadapannya.

“Oui. But still like younger than me.”

“Seleramu aneh sekali. Apakah kamu suka dengan wanita seperti Miss Son Ga-In pengajar privatku begitu?” Jeremy memikirkan Son Ga-In seorang lecturer nya yang berasal dari Korea dengan paras cantik dan tubuh yang seksi. Cukup sesuai dengan criteria yang sejak tadi dipaparkan Youngbae. Miss Ga-In terlihat sempurna ketika memakai jeans dan masih terlihat muda walau umurnya sudah akan menginjak 26 tahun. Dia bahkan sempat terkecoh oleh penampilan wanita tersebut adalah teman sebayanya.

“Ya Tuhan, Jeremy… She is your lecturer!” Youngbae menatap Jeremy tak percaya. Bagaimana mungkin lelaki itu mengumpankan pengajarnya sendiri padanya. Apakah nantinya dia akan mengenalkan Miss Ga-In padanya dan mengatakan, ‘Miss, ini Youngbae yang menyukaimu’? Begitukah?

Youngbae hanya bisa menahan tawa ketika memikirkannya. Jika Jeremy benar-benar akan membuktikannya, akan dia pastikan bahwa umur Jeremy tidak lebih dari lima menit setelah lelaki itu melakukannya.

Tiba-tiba pikiran Youngbae teringat sesuatu. Semuanya seolah kembali mengacu pada satu orang yang tak pernah hilang dari tiap lobus otaknya. Seseorang yang pertama kali memasuki apartemennya di Paris setelah tiba-tiba muncul di depan gedung kuliahnya. Seseorang yang pertama kali mencoba masakannya selain keluarga besarnya.

“Humm… she must a girl that will eat the kimchi fried rice that I make.”

……

 

Sedang membuat apa, Bae-ah?”

Youngbae berbalik menatap wanita yang duduk di sofa dan memandangnya penasaran. Kemudian sebuah senyum yang indah terkembang. Sejenis senyum yang hanya diberikan pada wanita yang dia cintai. Lelaki itu berjalan mendekati wanita itu dan duduk tepat di sampingnya. “Nasi goreng Kimchi. Makanlah, noona. Aku tahu kamu belum makan. Kamu kan baru saja datang.”

Kedua sudut bibir wanita itu tertarik lebar ke atas dan mengambil sepiring makanan yang disodorkan lelaki itu. “Jeongmal gomawo, Bae-ah…”

Perlahan tangannya bergerak mengangkat sendok berisi nasi goreng itu ke arah bibirnya. Sesaat kemudian setelah nasi goreng itu masuk ke dalam kerongkongannya, senyumnya tersungging. “Enak sekali, Bae-ah… Gomawoyo…”

Dalam sepersekian detik, semburat merah menyelimuti pipi Youngbae seiring dengan tawa menyeringai, seakan bangga dengan hasil karyanya. “Cheonma, noona…”

……

 

“Kimchi fried rice? Mengapa harus masakan itu?”

Youngbae menjawab dengan tatapan sepolos-polosnya dan nada sedater mungkin, “Karena aku tidak bisa memasak yang lain. Hanya itu masakan yang menurutku enak yang aku bisa.”

“Huahahahahaha…!!!!!”

Mendengar tawa yang meledak keras itu, Youngbae langsung mengantukkan sendoknya di kepala Jeremy dengan kesal. “Jangan tertawa! Memangnya kamu bisa memasak?”

“Tidak.” Jeremy menjawab dengan sangat yakin dan percaya diri. “Ada pesanan lain, Mr. Dong Youngbae?”

“Humm…” Youngbae memutar kembali setiap ingatannya tentang seseorang. Seseorang yang selalu terlihat tenang, tapi mengejutkan. Seolah dia memiliki dua sisi yang berbeda dalam dirinya. “Aku ingin gadis yang terlihat pemalu, tapi juga berani. Selalu terlihat tenang bila berbicara dengan orang lain, tapi ketika aku bersamanya… Hmm, you know what I’m talking about…”

……

 

Lelahkah, noona?” tanya Youngbae pada wanita yang baru saja menghabiskan makanan yang disodorkan kepadanya.

Menurutmu?” wanita itu balik bertanya dengan tatapan menantang, tapi menggoda. Senyumnya terkulum seolah menyuruh Youngbae menebak sendiri apa yang dipikirkannya.

Entahlah.” Youngbae tersenyum kecil membentuk sebuah lengkungan bulan sabit dan mendekatkan wajahnya ke arah wanita itu. Nafas mereka bertaut, hingga wanita itu bisa merasakan setiap desah nafasnya. Perlahan bibir Youngbae telah mengecup dahi wanita itu dengan lembut, membuat wanita itu sedikit terhenyak.

Tangan wanita itu akhirnya terangkat dan menyentuh wajah Youngbae yang telah menjauh dari wajahnya. Pertama dia menjelajahi mata tipis lelaki itu, kemudian beralih ke hidungnya dan turun ke bibirnya. Dia melakukannya dengan perlahan, seolah ingin menikmati setiap tekstur wajah Youngbae yang mendekati sempurna. Atau mungkin memang sudah sempurna menurutnya. “Untukmu, aku sudah kehilangan rasa lelahku.”

Youngbae hanya terdiam ketika wanita itu menyentuh setiap bagian wajahnya. Ketika di luar, dia hanya akan menemukan sosoknya dalam sifat yang perasa, mudah menangis dan pemalu. Atau mungkin sedikit atraktif ketika dia dulu mencoba menarik perhatiannya. Ya, selain ketika wanita itu melakukan hal gila dengan menyatakan cintanya di depan puluhan orang dan membawakannya makan siang, rasanya tak ada lagi hal ‘berani’ yang pernah dia lakukan di depan orang banyak.

Mengapa ketika mereka hanya berdua, wanita ini menjadi sedikit berbeda? Seperti… lebih pandai mengekspresikan perasaannya.

Benarkah?” Youngbae mempertanyakan pernyataan wanita itu. Tangannya perlahan menyentuh tangan wanita itu dan menjauhkannya dari wajahnya. Sebagai gantinya, dia mendekatkan wajahnya kembali ke arah wanita itu, membuat nafas mereka kembali menyatu. Dalam jarak sedekat ini, lelaki itu bisa melihat betapa sempurnanya tekstur wajah mungil wanita itu. Dan perlahan bibir mereka telah bersentuhan dengan lembut. Sebagai bahasa kerinduan tanpa suara.

Sometime you’ll kiss someone and know that’s the person you’re supposed to kiss for the rest of your life. Dan seperti itulah Youngbae maupun wanita itu rasakan ketika momen itu berlangsung…

……

 

Jeremy lagi-lagi tak habis pikir dengan jalan pikiran Youngbae. “Maksudmu dua kepribadian, seperti itu?”

“Tidak seperti itu.” Youngbae memutar bola matanya ke arah sekeliling, seakan mencari kata-lata yang lebih mudah dipahami temannya, dan melanjutkan, “Mungkin lebih seperti… bisa menempatkan diri? Like in front of people, she plays with faithfulness. In front of me, she’s like ‘A’ing, I don’t know~’…”

“Ooohh… I see. Bila aku yang berkata seperti itu, apa kamu tergoda olehku?”

“Tidak sama sekali,” jawabnya datar.

Hening sejenak diantara mereka. Keduanya berkonsentrasi dengan makanan masing-masing, sampai Youngbae kemudian teringat sesuatu setelahnya dan berkata, “Bagaimanapun penampilannya sih aku tidak terlalu bermasalah. But I wanna a cute girl who knows style.”

“Cute?”

“Yepp!”

……

 

Noona, tunggu sebentar ya. Aku harus menyelesaikan tugas kuliahku. Tida apa-apa kan?”

Wanita itu mengangguk maklum. “Kerjakanlah dulu. Aku akan menunggumu.”

Youngbae menunjuk satu meja di dekat mereka. “Mianhae, noona. Aku akan duduk di sana.” Youngbae menatap wanita itu sejenak dengan pandangan bersalah, dan mengusap surai-surai rambutnya pelan. Kemudian dia berjalan mendekati meja itu.

Merasa sendiri, wanita itu mengambil sepasang handsfree dari tasnya dan memasangkannya di kedua telinganya. Dalam waktu singkat setelah dia mengutak-atik iPod Nano-nya, sebuah lagu Korea telah bersenandung indah dari handsfree-nya.

Sesaat kemudian, keduanya telah larut dalam dunianya masing-masing. Youngbae telah tenggelam dalam partitur-partitur musiknya, dan wanita itu telah masuk dalam setiap melodi yang berdendang dari sepasang handsfree-nya.

Hanya sesaat saja semuanya dapat berlangsung, dan kemudian Youngbae telah kehilangan konsentrasinya. Wanita itu telah mengacau segalanya, termasuk keinginan belajarnya. Bagaimana tidak, bila wanita di depannya itu terlalu cantik untuk dilewatkan. Dengan gayanya yang unik namun manis, dia telah berhasil membuat jeans, dan blouse yang dia tahu cukup trend musim ini, tampak jauh lebih manis di badannya.

……

 

“Hei, sepertinya style-ku cukup oke.” Jeremy memandangi dirinya sendiri dengan yakin. Matanya berkeliling dari baju, celana, hingga sepatunya.

“Sudah, jangan berharap aku akan memilihmu walau kamu sudah berdandan ala Lady Gaga! Kenapa sih kamu berharap aku memilihmu? Kamu kan sudah punya Nicole.”

Jeremy tertawa kecil. “Habis, kriteriamu banyak sekali. Aku sampai bingung mengurutkannya. Apa masih ada lagi?

Otaknya kembali bekerja, mengingat rangkaian kenangan tanpa henti tentang seseorang. Seseorang yang tak pernah berganti. Yang selalu memikirkan musik yang sama, seolah ada semacam telepati diantara mereka, “Walaupun hobi yang aku miliki berbeda dengannya, tapi aku ingin gadis yang memiliki selera yang sama denganku. Jadi, akan lebih mudah bagiku untuk membicarakan film ataupun musik.”

.……

 

Noona, mendengarkan apa?” Youngbae mendekati wanita yang asyik menatap langit malam Paris dan melepaskan salah satu handsfree yang dikenakan di telinganya dan mengenakannya di telinganya sendiri.

Wanita itu tersadar dari lamunannya dan berbalik menatap Youngbae. “Eh? Itu—“

Belum sempat dia menjawab, Youngbae sudah menyadari alunan nada yang keluar dari handsfree itu dan bergumam kepadanya, “Rhapsody in Blue?”

Kedua sudut bibir wanita itu terangkat dan dia pun menganggukkan kepalanya girang. “Aku suka karya ini. Ini juga kesukaanmu kan, Bae-ah? Kamu sering menyuruh anak orkestra untuk memainkannya ketika di Korea. Aku sampai hafal di luar kepala setiap not-not nadanya.”

Hahaha… aku memang menyukainya. Nadanya menyenangkan.” Youngbae akhirnya ikut duduk di samping wanita itu dan menikmati bersamanya. Tak ayal akhirnya wanita itu menyenderkan pundaknya di bahu bidang Youngbae.

Anyone can make she happy by doing something special. But only someone can make she happy without doing anything. Yes, he is.

……

 

“Kamu menyukai karya-karya klasik yang lambat kan?” Jeremy mengacungkan sendoknya ke arah Youngbae, memastikan pertanyaannya. Dia sudah mengenal temannya ini dalam jangka waktu setahun. Setidaknya dia sudah mengerti apa yang disukai lelaki itu.

Youngbae berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Memang. Tapi aku juga suka yang bernada mars. Pokoknya semua karya yang punya nada yang naik turunnya bervariasi.”

“Harusnya mudah sekali yang menemukan yang seperti itu.”

“Benarkah?” tak ayal Youngbae sedikit terkejut dengan pernyataan itu, karena kebanyakan teman wanitanya lebih suka karya-karya dengan nada music yang konstan, seolah ada suatu pengulangan berlebihan dalam setiap part musiknya.

“Entahlah. Tapi aku juga suka karya Beethoven sepertimu lho. Apa kamu benar-benar tidak tertarik padaku?” Jeremy mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda Youngbae.

Tawa Youngbae mengembang lebar, geli sendiri melihat tingkah teman di hadapannya itu dan menatap sekeliling kantin.

Tidak ada yang serupa dengannya. Dengan wanita itu.

Tiba-tiba matanya menangkap seorang wanita yang sedang menelepon seseorang dengan suara yang lembut. Semuanya kembali memutar balik setiap memori di benaknya. Kini tak hanya wajah wanita itu yang berkeliaran di otaknya, namun juga suara lembutnya yang menggoda. Tanpa sadar dia bergumam, “Maybe she must have a voice and morning kiss that wakes me up in the morning and make me want to start the day.”

“Hah?” dahi Jeremy mengernyit. Mengapa tiba-tiba Youngbae berkata seperti itu? Apakah itu juga termasuk kriteria?

Pandangan Youngbae akhirnya kembali menatap Jeremy dengan serius dan melanjutkan, “And at night, I look forward to lay on her knees, and listen to a lullaby while I dream of her.”

……

 

I don’t wanna be without you, girl~~

Suara ponselnya bordering semakin nyaring, membuat Youngbae terusik dari alam mimpinya. Perlahan tangannya meraba-raba ranjangnya untuk menemukan ponselnya yang semakin keras berbunyi. Masih dengan matanya yang tertutup, dia membuka flip ponselnya dan menekan tombol berwarna hijau di sana.

Yoboseyo…?” ucapnya dalam suara parau khas bangun tidur.

“Ya Tuhan, Bae-ah… kamu baru bangun? Cepat banguuun…” suara seorang wanita langsung menyerbu telinganya dalam kecepatan yang melebihi kereta api super cepat, shinkanshen.

Secepat itulah kesadaran Youngbae mengumpul ke dalam raganya. “Noona?” Tangannya bergerak untuk mengusap matanya yang masih enggan untuk terbuka dan bertanya, “Sekarang memang jam berapa?”

“Harusnya di Perancis sudah jam tujuh pagi, Bae-ah…”

Tujuh?”

“Cepat bangun, Bae… Nanti kamu terlambat masuk kelas pagimu.”

Kiss me, noona. I can’t wake up without your kiss…” rajuknya manja sambil berguling di atas ranjang.

“Kiss? Haruskah?” Wanita itu bertanya balik dengan nada polos, seolah Youngbae baru pertama kali memintanya menciumnya melalui telepon. Padahal dia tak pernah absen melakukannya di setiap Youngbae baru saja membuka mata ketika mentari baru saja menyinari langit Paris.

Tentu saja. Kamu baru saja membangunkanku dari mimpiku tentangmu. Jadi, kamu harus membayarnya dengan sebuah morning kiss.” Youngbae membalasnya dengan seduktif.

Dia menginginkannya seperti dia menginginkan udara untuk bernafas. Bukan suatu pilihan, melainkan sebah kebutuhan.

Bagaimana tidak, lelaki itu tidak bisa berhenti memikirkan wanita di seberang telepon itu setiap malam. Bahkan ketika mereka tak bisa saling berhubungan karena perbedaan waktu di antara mereka, Youngbae hanya bisa tidur sambil membayangkan dirinya memejamkan mata berada di pangkuan wanita itu dengan mendengarkan sebuah lullaby darinya. Lagu pengantar tidur terindah sedunia, karena suara lembut wanita itulah lagu itu berasal.

“Haha… Ciumanku sangat mahal, jadi kamu harus berbangga hati karena aku memberikannya untukmu. This is special for you. Chu~~”

……

 

“Voice and morning kiss? Manja sekali kamu, Youngbae.”

“Bukan manja. Hanya saja… bukankah terasa romantic bila ada seseorang yang melakukan hal seperti itu untuk kita? Apalagi dengan suaranya yang bagaikan lullaby.” Youngbae mengerling pada temannya, mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakannya adalah hal yang memang diinginkan setiap orang.

“Benar juga…” Jeremy menganggukkan kepalanya menyetujui.

Sekelebat memorinya kembali pergi membawanya ke dalam apartemen, membuatnya mengingat kembali berapa banyak kertas partitur yang berserakan di meja apartemennya. Bukan karya Mozart ataupun Beethoven yang berdendang di kertas itu. Dan bukan karya sekelam Sergei Rachmaninoff ataupun Heyden.

Kertas berisi not-not tinggi rendah semanis karya Beautiful Waltz milik Chopin itu adalah buah pikirannya. Setiap nada yang terukir di kertas itu sama seperti perasaannya ketika memikirkan seseorang. Seseorang yang selalu berhasil membuat jantungnya berpacu bak kereta kuda. Seseorang yang selalu sama setiap nafasnya.

Dan selalu dia.

“And the important point is the one that make my heart run again. Make me able to create sweet songs again.” Youngbae mengakhiri persyaratannya dengan sebuah senyuman lebar, seolah menantang Jeremy untuk mencari seseorang seperti itu di seluruh penjuru Perancis.

“Huwaaa… kriteriamu banyak sekali, Youngbae! Aku menyerah!! Mana ada wanita seperti itu. Woman like this I think just exists in wonderland.”

Youngbae mengedikkan bahunya dan mengulum senyum penuh rahasia. Menurut kalian, apa yang dia pikirkan?

Tiba-tiba seseorang menutup matanya dari belakang dengan kedua tangan mungilnya yang lembut dan tertawa kecil. Youngbae tak perlu berpikir lama untuk mengenali setiap jemari yang menempel halus di pori-pori kulitnya. Kedua sudut bibirnya lagi-lagi membentuk lengkungan indah, namun kali ini dibarengi dengan perasaan bahagia yang membuncah. Tangannya terangkat menyentuh buku-buku jari yang terus menghalagi pandangannya dan menurunkannya perlahan. “Noona?”

“Aaah~~ Kenapa kamu menyadarinyaaa?” wanita itu tergelak manja dan mengambil tempat duduk tepat di sebelah Youngbae.

“Kapan kamu sampai di Paris?”

“Baru saja. Aku langsung ke sini. Bogoshippeo~”

Jeremy terdiam. Dia mengamati wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya dan berpikir. Mengumpulkan setiap petunjuk yang diberikan Youngbae padanya.

Youngbae tertawa kecil melihat ekspresi yang ditampilkan Jeremy ketika menatap wanita itu. “Jeremy, I’ll introduce her. She is Park Sandara.”

Dara tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. “I am Park Sandara.”

“Jeremy Green.” Jeremy hanya menganggukkan kepalanya, namun otakya masih bekerja keras mengenali wanita itu. Sesaat kemudian, dia menyadari segalanya. “Aahh! I know! Wearing jeans and stylist, calm and little bit shy but brave. Is she your girl, Youngbae?”

Youngbae tak bisa menyembunyikan seringai senangnya. Tangannya kemudian merangkul pundak Dara untuk mendekat ke sampingnya. “Yeah, she is. Is she so pretty?”

Lelaki keturunan Jerman Inggris itu mengacungkan kedua ibu jarinya. “Perfect. Really like your wish, rite?”

Tak ayal Youngbae tergelak mendengar pernyataan Jeremy. Ya, dialah wanita yang selalu mengisi malam-malamnya, membangunkan setiap paginya. Terlihat kuat di luar namun rapuh di dalam, membuatnya ingin memeluk wanita itu. Wanita yang sangat dicintainya.

“Kalian membicarakan apa sih? Aku?”

“Siapa yang membicarakanmu, noona? Percaya diri sekali.”

Bibir dara seketika mengerut ketika mendengarnya. Bukankah sudah jelas mereka baru saja membicarakannya? Tapi membicarakan apa? Membuatnya penasaran saja!

Seringai Youngbae makin lebar melihat raut muka cemberut dari yeoja-chingunya yang lebih tua empat tahun darinya. Kemudian lelaki itu berbisik tepat di cuping telinga Dara. “You know, you don’t need to know no more. Just please you know, you’re the person I want to give my heart to.”

Siapa yang tak akan mengeluarkan semburat merah bila lelaki yang dicintainya mengatakan hal seperti itu?

Seorang Sandara Park pun tidak akan bisa.

_________________________________________________________

Fin.

 

Bagaimana? Bagaimana? Karena idenya tiba-tiba terlintas, dan ngebut bikinnya, kemungkinan besar feelnya ga kerasa. Mianhae…😀

hehe…😀

Sudah ah, pokoknya jangan lupa komen!😀

 

Gomawoyoooooooooo…….!!!!!!!!! ^^/