Absolute Music and Art – Inst. 2

Park Nana story..

“Astaga Dain, kok kau menangis? Ada apa?” aku menghampiri Dain yang hari ini terlihat kelabu sekali, Mir oppa mengikutiku dari belakang dengan wajah yang khawatir juga.

“Buku sketsaku….. buku sketsaku….” Jawabnya sambil terisak-isak. “Buku sketsaku tertinggal di depan ruang instrumen di Gedung Musik. Huhuhuhuhuhuhuhu~~~”

Aku memeluk Dain, aku tahu dia pasti akan merasa sangat sedih kalau berpisah dengan buku sketsanya karena semua isi pikiran dan imajinasinya ditumpahkan disana. Buku sketsanya adalah sumber inspirasinya.

“Kira-kira masih ada tidak disana? Kenapa tidak minta dicarikan Byunghee hyung saja?” tanya Mir (Cheolyong)-sshi

“Aku tidak yang oppa bisa menemukannya. Bukunya masih banyak yang kosong~~~ ottoke?! Aku tidak mau beli yang baru, huhuhuhuhuhuhuhu~~~”

“Uljimma, uljimma…..” ucap Mir-sshi. “Apa aku harus membantu Byunghee hyung untuk menemukannya?”

“Molla, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak mau beli buku sketsa yang baru~~~” ujar Dain sambil mengusap pipinya yang basah. Mir mendengus karena ia tidak mampu menghadapi Dain yang seperti ini.

“Baiklah, nanti biar yeobo ku carikan ya sama oppamu.” Ucapku memberi solusi. “Hilangnya sejak kapan? Dari hari ini atau kemarin? Lagipula kok kau bisa ke gedung musik sendirian? Biasanya kau kan malas kalau kesana sendiri.”

“Kemarin aku mau menggambar, mencari inspirasi…” jawab Dain yang sudah mulai tenang. “Lalu aku menemukan seorang namja sunbaenim yang menarik perhatianku, lalu aku mengikutinya sambil menggambar wajahnya.”

“Lalu… karena kau ketahuan olehnya, kau lari dan meninggalkan buku sketsamu. Betul kan?” jawab Mir dengan santai.

Dain mengangguk dengan mulut yang tertekuk kebawah, “Huaaaaaaah aku tahu ini salahku, tapi tetap saja aku merasa kehilangan~~~ aku takut buku sketsaku sudah diambil orang lain.”

“Mungkin saja masih dipegang petugas kebersihan di gedung music, yeobo.” Ujarku pada namja chinguku. “Kau kesana saat gedung sudah kosong kan?”

Dain mengangguk hingga kepalanya hampir lepas. “Mianhae, aku benar-benar babo telah melakukan ini dan membuat kalian membantuku mencarinya, mianhaeeeeeee.”

“Gwechana Dain-sshi, sudah jangan menangis lagi. Nanti matamu bengkak dan jadi sipit.” Mir mencubit pipi Dain yang gembul dan basah. “Ayo kita cari sama-sama.”

Sambil menarik tangan Dain, aku bertanya. “Siapa sih namja sunbaenim yang kau gambar itu? Lalu kenapa kau tidak tanya sama dia tentang buku sketsamu itu?”

“Aku tidak kenal sama sunbaenim itu, Nana.” Ucapnya lesu. “Lagipula aku takut ia akan menganggapku penguntit karena aku telah menggambar wajah nya tanpa seizinnya.”

“Dia berbeda berapa tahun dengan kita?” tanyaku penasaran.

“Molla, sepertinya 4 tahun karena dia seangkatan dengan Byunghee oppa. Tapi beliau tidak terlalu kenal dengan sunbaenim itu.” Jelas Dain sambil memainkan jari-jarinya.

“Lalu, namanya siapa?” tanya Mir. Oh iya, kok aku lupa menanyakan nama sunbaenim itu ya? dasar Nana pelupa~~

“Aku tidak tahu, aku benar-benar takabur kemariiiiin.” Ucapnya kesal. “Yang aku tahu, nama panggilannya Dark cloud.”

~~~~~

Cho Hyori story..

“Bentuk tembikarnya harus selesai dalam waktu satu jam lagi.” Ujar seosangnimku kepada murid-murid lain, “Tidak bisakah kalian mencontoh Cho Hyori? Bahkan dia sudah memikirkan bentuk dari mangkuk yang akan ia buat sebelum saya menyuruhnya~!!”

Aduh seosangnimku cerewet sekali, dia selalu melebih lebihkan semua hasil tembikarku. Terkadang aku merasa tidak enak dengan mahasiswa yang lain, tapi entah karena mereka tidak memikirkannya atau apa… mereka tidak pernah protes kepadaku. Syukurlah…

“Baiklah Hyori-ah, kau boleh pulang.” Ujar seosangnim. “Jangan lupa buat tugas laporan tentang proyek kita kali ini. Arraseo?”

“Nee seosangnim, gamsahabnida.” Aku mengucap pamit dan segera keluar dari ruang praktek. Disana Cheondung oppa sudah menungguku.

“Sayang, kok tumben cepat sekali?” tanya oppa sambil mengangkut tas dan cardigan tipisku, lalu menyuruhku duduk.

“Proyek yang sekarang lebih mudah dari yang biasanya. Aku bahkan sudah memikirkan konsepnya dan alhasil tembikar buatanku selesai dalam waktu cepat.” Jawabku sambil merapihkan rambut, “Sudah menunggu lama ya?”

“Aniiyo, baru 5 menit. Tapi aku senang kau pulang cepat.” Oppa menarik daguku dan memberikan ciuman manis nan lembutnya di bibirku. “Tadi aku liat Dain dan pasangan Nana-Cheolyong sedang mondar mandir sekitar gedung musik.”

“Oh, apa yang mereka lakukan oppa? Kau mengetahuinya?” Aku memegangi pipiku yang merona karena ciuman oppa barusan, aku masih belum terbiasa dengan ciuman yang ia berikan padaku.

“Buku sketsa punya Dain tertinggal di dekat ruang instrument, wajahnya terlihat sayu. Mungkin ia habis menangis.” Jawab Cheondung oppa.

“Dain dan buku sketsanya adalah pasangan sehidup semati. Kalau buku sketsanya belum habis, dia tidak akan menggantinya dengan buku sketsa lain.” Jelasku. “Apa kita harus membantu mereka juga ya?”

“Kau mau membantunya? Apa ridak terlalu berlebihan? Kan mereka bertiga sudah mencari. Kalau ditambah kita, jadi berlima dong?” tanya Cheondung oppa. Benar juga ya apa yang ia katakan, tapi aku ingin sekali membantu chingu ku yang maniak menggambar itu~~

“Yasudah deh, oppa ada kelas lagi ti…. Eh, HPmu berbunyi tuh.” Aku melihat kantong baju Cheondung oppa yang berkelap kelip. Ia segera mengangkat teleponnya.

“Yeoboseo… mwo? Kita harus latihan gabungan buat dengan hoobae kita? Hhhh…. Baiklah, aku segera kesana.” Ia berbicara dengan nada kurang senang. “Sayang, aku ada latihan gabungan dengan hoobae. Mungkin Cheolyong juga ikut, kau jadi membantu Dain-ah tidak?”

Aku mengecek pesan yang dikirimkan Nana untukku, hah.. ternyata ajakan membantu Dain. “Nee, aku juga dikirimi pesan sama Nana untuk membantu Dain. Oke kita kesana bersama ya?”

Oppa mengangguk dan menggamit tanganku menuju pintu keluar gedung seni, “Sayang… minggu depan sudah musim dingin. Jaga kesehatanmu ya, jangan sampai sakit.”

“Nee oppa, tenang saja. Kalau perlu aku pakai kaus tangan saat membuat tembikar. Hehehehe” candaku

“Desember ya? kau mau kubelikan sesuatu?” tanya oppa lagi. “Kan bulan Desember kau ulang tahun.”

Ah… aku jadi malu. Kenapa oppa masih ingat saja sih? “Terserah oppa saja, dikasih cium juga tidak apa-apa hehehehehe.”

Tiba-tiba langkah oppa terhenti di gerbang gedung musik, ia mendekatkan wajahnya sambil tersenyum, “Beneran nih? Kalau cium saja sih sekarang juga bisa.”

“Mwo? Anii anii…… jangan cium-cium lagi.” Aku memegangi dahiku yang menghangat dan mulai pusing. “Aku sudah hampir pingsan karena kelakuanmu hari ini oppa.”

Cheondung oppa tertawa sambil menepuk nepuk kepalaku lembut, “Baiklah, sampai nanti ya sayang~~ kalau aku sudah selesai, aku telepon. Saranghaeyo.”

Jung Byunghee story..

“Annyeonghaseo Byunghee-sshi.” Sapa namja berkantung mata tebal itu. “Kau sedang tidak sibuk kan?”

“Anii… ada apa chingu? Tumben kau kemari. Sedang tidak ada tugas?” tanyaku sembari ia menuju kea rah kursiku. “Lihat, aku haris mengisi 5 partitur ini dalam waktu seminggu. Seosangnimku memang gila.”

Ia tertawa memperlihatkan giginya yang rapih dan putih. “Sudah lelah aku memetik gitar mengiringi hoobae-hoobae jurusan vokal yang tenggorokannya sudah tercekik saking terlalu sering menyanyi.”

Aku mengangguk angguk menanggapi perkataanya. Namun beberapa saat, kulihat buku tulis yang menyembul di tas nya. Bukannya itu punya Dain-ah ya?”

“Mian, itu…. Buku tulismu chingu?” tanyaku pada namja itu. Ia melihat kearah tanganku menunjuk dan mengeluarkan buku tulis yang ternyata buku sketsa itu.

“This is belong to….. Hwang Dain. Nee, ini punya Hwang Dain. Kau kenal dia?” tanya namja itu bingung.

“Anii… kau menemukan ini dimana?” tanyaku sambil mencomot buku itu dari tangannya. Kok bisa-bisanya dongsaengku yang satu itu meninggalkan buku sketsanya di gedung musik, apa ia lupa ya?

“Aku menemukannya di depan ruang instrument kemarin sore saat aku sedang bermain piano.” Ucap namja itu. “Hwang Dain itu namja atau yeoja ya? apa dia benar-benar anak jurusan music? Kok aku tidak pernah dengar nama itu ya di jurusan music?”

“Tentu saja dia yeoja, lihat tulisannya. Ini tulisan seorang yeoja.” Aku menunjuk ke depan buku sketsa yang Dain tulisi dengan namanya. “Kau sudah lihat isi buku ini?”

“Sudah, aku tidak akan percaya kalau dia anak jurusan music karena ia lebih cocok di jurusan seni.” Jawab namja itu sambil tersenyum. “Lukisan dan gambar yang ia buat terlihat seperti nyata, chingu.”

“Haha.. dia memang bukan anak musik meskipun kedua orangtua nya bergerak di bidang music.” Jawabku penuh kemenangan. “Hwang Dain adalah hoobaeku di jurusan seni. Dia tetanggaku.”

“Jinjja? Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Kau bilang kau tidak mengenalnya~~” jawab namja itu agak kesal.

“Aku hanya mengerjaimu. Jangan marah seperti itu dong, hahahahaha.” Aku menepuk nepuk punggungnya, “Mau kupertemukan dengannya, chingu?”

“Mwo? Buat apa? Aku bahkan tidak mengenalnya.” Kata namja itu. “Tapi aku sangat terkesan dengan gambar-gambar yang ia buat, terutama yang ini.”

Namja itu menunjuk gambar seseorang yang sedang bermain gitar dengan lingkaran hitam yang lebar di matanya, aku tersenyum. Sudah kuduga ia pasti akan terkejut dengan hasil karya si ‘tangan magis’

“Aku yakin dia sedang mencari buku sketsa ini karena dia tidak bisa pisah dengan benda ini kalau halamannya belum habis.” Aku mengangkat buku Dain dan memasukkannya di sela-sela tanganku. “Nanti kutemani kau mengembalikannya ke dia ya?”

“Mwo? Kenapa aku harus ikut? Sudah kubilang aku tidak kenal dengannya, aku tidak kenal mahasiswa jurusan seni di Universitas ini.”

Aku tertawa lagi, namja ini terlihat penuh charisma dan sempurna. Tapi sebenarnya ia hanya namja biasa sepertiku, “Dia yeoja yang baik dan tidak pernah sombong dengan bakatnya, kau yakin tidak mau mengenal yeoja seperti dia?”

Ia mendongak memandangi langit langit. “Sebenarnya…. Aku penasaran sih dengan yeoja yang mempunyai ‘tangan magis’ itu.” Katanya jujur, “Baiklah, aku ikut kau Byunghee-sshi.”

“Tapi kalau dia melakukan sesuatu yang bodoh di depanmu, dimaafkan saja ya. dia suka salah tingkah di depan namja dewasa seperti kita.” Candaku sembari mengambil partitur kosong –tugasku- dan buku sketsa milik Dain.

“Ah Byunghee-sshi, kau selalu mengatakan hal yang lucu.” Jawab namja itu sambil mengikutiku keluar dari ruang komposisi, “Kau bercanda kan?”

Aku menggeleng mantap, “Aku sunbaenim sekaligus tetangganya. Mana mungkin aku berbohong, Seungho-sshi.”

Hwang Dain story..

Dimana buku sketsa ku?????

Dimana buku sketsa warna biru ku???

Dimana??? Dimana????

Dimana?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!?!

“Ahjumma, apa kau yakin tidak melihatnya di sekitar ruang instrument?” tanyaku sekali lagi pada Ahjumma tukang bersih-bersih di gedung music.

“Sayangku…. Kau sudah menanyakan buku itu lebih dari 5 kali kepadaku.” Keluh Ahjumma itu. “Dan dengan sedih, aku akan mengatakan bahwa ‘aku tidak melihatnya, sayaaaaang’”

“Jinjja? Jesonghabnida Ahjumma, kupikir tukang bersih-bersih di gedung musik orang yang berbeda. Maafkan kami.” Hyori menunduk dalam-dalam diikuti Nana dan aku.

“Gwechana, semoga kalian cepat menemukan buku yeoja cantik ini ya.” Ahjumma menepuk nepuk pundakku. “Habis, ia seperti Kucing yang kehilangan induknya. Bagai HP kehilangan chargerannya.”

Rasanya aku mau menangis lagi karena ucapan Ahjumma barusan. Semua yang ia katakana benar-benar menggambarkan diriku yang saat ini. Sungguh, aku ingin buku itu kembali~~ aku mau buku sketsaku~~!!!

“Yak yeoja~~!! Kau anak fakultas seni yang jurusan lukis itu kan?” teriak seorang namja di belakangku. Aish, ternyata itu Lee Joon si namja eksis~~ “Lukis aku lagi dong~~!! Gambarmu bagus sekali, bagai nyata~~”

“Mian Joon sunbaenim, aku sedang kehilangan sesuatu dan aku harus menemukannya segera.” Jawabku hendak menlewati tubuhnya, tapi ia menghalangiku dengan mudahnya.

“Mau aku bantu, wahai yeoja yang cantik?” astaga… dia menggodaku di saat-saat seperti ini?!

Aku mengeryitkan alisku kesal dan mendorong badannya paksa, namun entah kenapa tiba-tiba tubuhku limbung dan menabrak sesuatu yang besar dan berisik.

“Dain-sshi~~~!!! Gwechanaeyo?!”

Aku tak mampu menjawabnya, mataku rasanya berkunang kunang.

…..

“Hwang Dain yang babo, bangunlah. Soulmate mu ada ditanganku… bangunlah.” Terdengar suara namja yang agak berat. Ternyata itu suara Byunghee oppa.

“Apa yang terjadi? Aduh.. kepalaku pusing sekali….mana Hyori dan Nana?” Keluhku sambil memegangi kepalaku yang dibalut

“Kau terlalu frustasi mencari buku sketsamu, dan pasti kau belum makan siang. kau jatuh karena menabrak tong sampah di gedung music. Ini di UKS, mereka berdua sudah pulang.” Jelas Byunghee oppa. “Nih, buku sketsamu.”

“Aigooooo kau menemukannya dimana?? Gamsahabnida oppa~~!!!” mataku berkaca-kaca, akhirnya buku sketsaku ketemu juga. Syukurlaaaaaaah *cry*

“Aku tidak tahu, yang menemukannya bukan aku. Tapi oppa yang ini.” Ia membuka tirai yang menutupi pintu keluar ruang UKS, dan….

Astaga,…. Itu kan Dark cloud oppa?!?!?!?!?!

“Annyeonghaseo. Kau kah yang bernama Hwang Dain? Aku Yang Seungho, Fakultas music jurusan instrument gitar semester 7.” Ia mendekati tempatku beristirahat. “Senang berkenalan denganmu.”

“Oh ya, sama-sama dark… eh maksudku Seungho oppa.” Jawabku terbata-bata karena terkejut.

Ia mengangguk dan mengambil tangan kananku, “Omona… inikah ‘tangan magis’ yang membuat seorang Yang Seungho di buku sketsamu terlihat nyata? Benar-benar luar biasa…”

Ia mencium punggung tanganku lembut, astaga… sepertinya aku akan pingsan lagi~~~~~

Iklan