Eunsae POV

“Eunsae Nuna!! Dia mengambil bonekaku!!”seorang anak gadis kecil menghampiriku dengan berurai airmata. Aku tersenyum dan memeluknya, menenangkannya. Seorang gadis kecil menyusul menghampiri kami”Mianhae1, aku hanya mau pinjam bonekamu saja kok”kata gadis itu dan mengembalikan boneka milik temannya. Gadis yang ada dipelukanku pun menerimanya dengan tersenyum.

“Lebih baik kalau kalian main bersama bukan?”kataku pada mereka dan memberikan gadis kecil itu boneka yang lain. Mereka tersenyum senang, dan melanjutkan permainan mereka.

“Eunsae-ya kau sudah datang?”tanya seseorang yang sangat keibuan.”De,mianhae aku datangnya telat. Ada kuliah tambahan hari ini”ia membimbingku masuk kedalam ruang kerjanya.

“Kau masih sangat muda. Pintar dengan banyak prestasi akademik. Keluargamu juga sangat berkecukupan. Tapi kenapa kau malah tertarik bekerja dipanti ini? Bahkan kami memberimu gaji yang kecil”tanya nona Park. Aku mengangkat bahuku dengan lemah.

“Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku suka bermain bersama anak – anak. Ini seperti liburan tersendiri untukku. Lagipula, aku disini hanya hari sabtu saja. Kebetulah hari ini ada kuliah tambahan”jelasku.

“Yah, kalau soal itu aku tidak bisa membantahnya! Mereka juga sangat menyukaimu. Kurasa kau harus keruang baca, karena sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk mendengarkan dongeng darimu”aku mengangguk dan langsung pergi keruang baca. Membacakan dongeng pada mereka.

Banyak hal yang terjadi hari ini. Bersama mereka waktu sangatlah tidak berarti. Padahal aku ingin lebih lama lagi bersama mereka. Canda tawa mereka adalah melodi yang indah dalam hidupku. Ketika aku pulang kerumah, yang terdengar hanyalah detak suara jam dinding yang membosankan. Orangtuaku sibuk, aku harus belajar mencari kebahagianku sendiri. Dengan cara seperti inilah aku menikmati hidupku. Berbagi bersama mereka. Tak

Mianhae1 = maaf

terasa, aku sudah harus pulang. Kembali pada rutinitasku yang membosankan. Pergi kekampus, perpustakaan, menangani auditing perusahan keluargaku yang sangat besar.

Kyuhyun menjemputku dengan tampang masamnya. Aku tahu, baginya aku tidak pantas bekerja sebagai relawan disebuah panti asuhan. Hal – hal seperti ini yang sering menjadi pertengkaran dalam hubungan kami.”Mau sampai kapan kau seperti ini?”tanyanya sambil menyetir mobilnya. Aku hanya terdiam membisu.

“Bagaimana kalau, orang – orang dikantor tahu apa yang kau lakukan? Anak tunggal Presdir Kim Group, bekerja sebagai relawan panti asuhan?”sindirnya.

“Oppa hentikan! Aku capek sekali hari ini! Bukankah harusnya kau berhenti menceramahiku? Harusnya kau yang bersamaku hari ini! Sudah berapa lama kita seperti ini Oppa?”kataku dengan malas. Ia hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaanku

Semenjak ia mendapat kenaikan jabatan di perusahaan keluargaku, ia mulai berubah. Semua waktunya tersita hanya untuk pekerjaan, meeting – meeting penting. Hanya saat – saat seperti ini kami dapat bertemu. Tak lebih dari setengah jam, bahkan kurang. Hanya ketika ia menjemputku dipanti. Kalau sempat ia akan mampir kerumahku. Bukan untuk menemaniku, tapi bertemu dengan ayahku. Membicarakan masalah perusahaan, yang tidak ada habisnya. Ia hanya perduli kalau aku berhenti bekerja dipanti. Ia malu dengan pekerjaan itu. Baginya itu adalah pekerjaan rendahan.

Padahal dia dulu sangat perhatian padaku. Selalu menemaniku, mendengarkan ceritaku, mengajariku untuk beradaptasi diperusahaan keluargaku. Dulu semua itu sangatlah indah. Hari – hari yang aku lalui bersamanya bagaikan negri dongeng bagiku. Semuanya sangat sempurna. Ia sangat cocok denganku dalam segala hal. Aku mencintainya, bahkan memujanya. Ia membuatku termotivasi agar bisa sukses seperti dirinya. Menjadikan dirinya sebagai panutan dalam hidupku. Keluarganya juga sangat menerima hubungan kami. Begitu pula keluargaku, apalagi ayahku.

Kyuhyun adalah orang kepercayaannya. Kelak sangat mungkin untuk dapat menggantikan dirinya. Bukan aku, anak kandungnya sendiri. Ironis memang, tapi aku sudah lama mampu mengatasi perasaan tidak adil ini. Aku dibesarkan menjadi anak yang penurut dan patuh. Siapa lagi yang mereka miliki selain aku, anak mereka? Tidak ada. Semua yang aku butuhkan mereka penuhi. Kecuali satu, kasih sayang sebuah keluarga. Mereka terlalu sibuk dengan urusan masing – masing.

“Oppa tidak mau mampir dulu?”tanyaku padanya.

“Anio2, besok aku harus mengerjakan pekerjaanku yang belum selesai dikantor kemarin. Sampaikan salamku pada orangtuamu”katanya beranjak pergi.

“Oppa?”aku memanggilnya kembali, setelah ia berbalik hendak menuju mobilnya. Langkahnya terhenti mendengar suaraku, berputar kembali kehadapku. Alismatanya naik, binggung. Wajah yang dulu selalu tersenyum padaku. Sekarang hilang entah kemana, digantikan dengan sosok wajah yang angkuh dan dingin. Tapi aku tetap mencintainya”Give me a hug, please?3”pintaku.

Ia berjalan mendekatiku, tersenyum dengan sangat tampannya. Akhirnya hari ini aku berhasil melihatnya tersenyum untukku. Setelah beberapa hari hanya bertegur sapa di kantor. Ia memelukku dengan lembut. Seakan lelahnya hari – hari yang membosankan sirna sudah saat aku memeluknya. Sangat ringan, dan rileks hatiku. Ingin rasanya aku memeluknya dalam keheningan seperti ini selamanya. Tapi itu tidak mungkin.”Po go sippo so, Jagi-ya4”katanya membuat senyumku semakin melebar.

“Aku pulang!!”kataku sambil membuka pintu. Aku disambut dengan seorang pelayan dikeluargaku.”Apa Omma dan Apuji sudah pulang?”tanyaku.

“De, mereka ada diruang tengah”aku menghampiri mereka.

“Kyuhyun tidak mampir hari ini?”tanya ibuku.

“Anio, Omma masih ada hal yang harus dikerjakannya”lalu hening. Orangtuaku sibuk dengan urusannya masing – masing. Ayahku membaca buku, ibuku menonton acara tv favoritenya. Sama sekali tidak menanyakan kabarku hari ini.

“Minimal kalian bisa bertanya apakah aku sudah makan?”kataku sendiri saat masuk kedalam kamarku. Aku pulang, malah Kyuhyun yang ditanyakan. Bukan aku. Hening. Selalu hening dan sunyi seperti ini. Tempat pemakaman saja, mungkin lebih ramai daripada dirumahku. Aku hanya minta sedikit perhatian dari mereka. Aku memang sudah makan dipanti tadi, dengan gembira bersama anak – anak panti. Kyuhyun juga mengajakku makan

Anio2 = tidak

Give me a hug, please?3 = peluk aku, kumohon?

Po go sippo so, Jagi-ya 4 = aku sangat merindukanmu, sayang

malam bersamanya tadi. Makan bersamanya sama saja dengan aku makan sendiri. Tak ada percakapan yang terjalin disela – sela waktu.

***

Sepulang kuliah aku pasti langsung mampir kekantor perusahaan keluargaku. Mereka mengembangkan bisnis properti. Tugasku seperti yang aku bilang mengaudit keuangan perusahaan. Aku tidak perlu masuk seperti pegaiwai lainnya, yang harus terpaku dengan waktu. Aku masuk kekantor sesukaku, hanya untuk menyocokkan data yang mereka berikan, dengan data yang ada dilapangan. Yang penting pembukuan siap pada akhir bulan untuk dievaluasi. Sekaligus agar aku bisa bertemu dengan Kyuhyun.

Baru saja aku keluar dari kelas pertamaku, kehebohan terjadi dilapangan basket. Dengan enggan aku menuju kesana, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Seorang lelaki sedang dipukul dengan beberapa orang lelaki lainnya. Aku tahu siapa dia Choi Siwon. Si pembuat masalah, dan biang keonaran dikampus. Sementara mahasiswa yang lain hanya menontonnya saja. Aku paling tidak suka melihat kekerasan. Mungkin juga karena hal itu aku bekerja dipanti. Walaupun aku tidak begitu mengenalnya, tapi ia tampak sangat kewalahan menahan serangan – serangan yang dilakukan orang – orang lain padanya.

“HENTIKAN!!”kataku berteriak. Orang – orang yang memukulinya menatapku meremehkan.”Apa? Kau mau menghentikan kami untuk memberinya pelajaran?”tanya orang yang sepertinya pemimpin dalam kelompok itu.

“Anio, silahkan saja menghajar dia sampai dia mati”aku malah menantangnya. Mereka semua menatapku dengan binggung.

“Orang – orang disini bisa menjadi saksi untuk kematian orang itu. Kalian bisa dihukum dengan berat. Tidakkah itu terpikirkan oleh kalian?”lanjutku. Salah seorang dari mereka menjatuhkan tongkat baseballnya. Sementara yang lain terdiam memikirkan ucapanku. Akhirnya satu persatu dari mereka meninggalkan orang itu sendirian. Penonton pun bubar.

Aku menghampiri Siwon yang mencoba bangkit dari tanah”Kau bisa berjalan sendiri?”tanyaku membantunya. Ia malah menghempaskan tanganku begitu saja. Menolak bantuanku.

“Aku bisa sendiri. Aku tidak butuh bantuanmu!”aku menatapnya tak percaya. Mukanya penuh dengan lebam – lebam. Sudut bibirnya berdarah. Tapi ia tidak mau ditolong olehku.

Well, aku punya harga diri! Jika ia memang tidak ingin ditolong yasudah”Kau sendiri yang bilang, kau bisa sendiri”kataku dan pergi meninggalkannya begitu saja.

Tak lama, aku kembali kepinggir lapangan. Menemukannya tengah duduk dikursi taman dan terdiam. Aku menghampirinya”Ini, cepat obati lukamu. Kalau tidak itu bisa menimbulkan infeksi. Semoga lekas sembuh”aku memberikannya obat merah dan kapas serta perban. Lalu pergi, kelasku selanjutnya. Aku melakukan hal itu hanya sebagai tindakan responku. Hal yang pasti aku lakukan jika aku melihat hal – hal seperti ini terjadi. Kyuhyun yang dulu mengajarkannya padaku. Jadi akupun mengamalkannya.

Siwon POV

“HENTIKAN!!”teriak seorang gadis pada mereka. Aku sangat bersyukur pada siapapun orang yang mengatakan itu. Tubuhku benar – benar terasa remuk, habis dipukuli oleh orang – orang bodoh itu. Kepalaku sangat pusing, semuanya terasa berputar dari pandanganku. Tiba – tiba saja gadis itu sudah berada disampingku, memberikan pertolongan. Aku tahu harusnya aku berterimakasih, bukannya menolaknya. Tapi orang yang menolongku adalah Kim Eunsae. Orang yang dulu sering aku ejek, karena kesendiriannya.

Akhirnya ia mengerti dan pergi meninggalkanku. Aku merasa sangat bodoh dan menyesal. Mengapa aku begitu keras kepala? Padahal aku memang layak mendapatkan semua pukulan dari mereka. Aku curang bermain basket tadi. Mengapa aku tidak mau menerima bantuannya? Padahal aku sangat membutuhkannya.

Dengan sisa kemampuanku, aku beranjak berdiri dan duduk dibangku taman terdekat. Sama sekali tidak ada yang menolongku. Mereka sibuk dengan urusannya masing – masing. Tiba – tiba Eunsae kembali dan memberikanku obat. Lalu pergi meninggalkanku lagi”Semoga lekas sembuh”katanya. Aku memperhatikannya berjalan menjauhiku. Hatiku terasa hampa.

“Siwon-sshi gwenchana5?”tanya tuan Jang begitu melihat penampilanku, saat aku sampai dirumah. Aku hanya mengangguk. Luka ini hanya memar – memar saja”Josohamnida6 menganggu istirahat anda. Tapi vonis terhadap kasus anda telah ditentukan. Anda diharuskan menjadi relawan disebuah panti asuhan selama dua bulan”katanya dengan takut. Pilihan apa lagi yangku punya? Setelah kejadian aku memukul

gwenchana5 = baik – baik saja

josohamnida6 = mohon maaf

seorang pria di bar beberapa bulan lalu. Ia melaporkanku dan berujung banyak masalah! Orangtuaku dan tuan Jang yang mengusahakan agar aku tidak dipenjara. Aku harus siap!

***

Eunsae POV

“Onni ada Ahjusshi jahat dihalaman! Dia memarahi teman – temanku yang lain”kata gadis cilik saat aku baru keluar dari dapur. Ia menarikku dengan tergesa – gesa.”Kalian ini bisa diam tidak!!”sahut suara bariton menakutkan, mebuat anak – anak yang lain menangis. Terkejutlah aku saat menyadari bahwa Siwon lah yang membuat anak – anak ini menangis. Aku menenangkan mereka dan mengajak mereka masuk kedalam panti. Akhirnya mereka tenang juga saat diumumkan makanan sudah siap disantap.

Aku menemui Siwon yang tengah duduk sendiri di teras”Jangan kasar seperti itu pada anak – anak! Mereka masih kecil”kataku menegurnya.

“Mianhae, aku hanya belum terbiasa dengan mereka. Aku akan berusaha lebih baik lagi nanti”

“Apa yang kau lakukan disini?”tanyaku penasaran.

“Menjalani hukuman vonisku. Kau sendiri?”

“Aku? Aku relawan disini. Lukamu sudah sembuh?”tanyaku ketika melihat plester di kening kirinya. Iya hanya mengangguk.

Aku sedang menyirami tanaman, ketika serbuan air menimpaku! Ada seseorang yang menyemprotkanku dengan air!! Tubuhku basah kuyup! Aku berbalik dan mendapati Siwon tengah tersenyum sambil mengarahkan kembali selang airnya, agar mengenaiku!”Serang Nuna, anak – anak!!”serunya pada anak – anak yang lain.

“Ya! Hentikan!! Aku tidak bawa baju ganti!”pintaku pada mereka.

“Onni kita sedang perang air!! Ayo kalahkan mereka Onni!”gadis cilik yang lain mengambil selang dan mulai melawan Siwon dan anak lelaki yang lain.

Dan terjadilah perang – perangan air yang sangat seru! Bahkan Nyonya Park turut andil dalam permainan ini! Siwon telah membuktikan bahwa ia akan menjalankan vonisnya dengan lebih baik. Berteman dengan anak – anak yang lain! Walaupun aku tidak suka

caranya! Bagaimana mungkin ia membuatku basah kuyup seperti ini? Padahal nanti Kyuhyun akan menjemputku seperti biasa. Huft, dia pasti akan bertambah menyebalkan! Untungnya Siwon berbaik hati dengan meminjamkanku bajunya. Hal yang paling baik dari hal yang diperbuatnya adalah anak – anak senang dengan perang air itu. Dan semakin bertambah dekat dengannya.

Seperti dugaanku, saat Kyuhyun menjemputku ia menatapku tak suka. Aku tahu penampilanku sangat kacau dimatanya. Dengan kaos kebesaran dan celana yang kepanjangan, itu saja aku harus memakai ikat pinggang yang sangat ketat, agar celananya tidak melorot dan jatuh! Tapi itu jauh lebih baik daripada aku kedinginan memakai baju basah.”Bagaimana bisa kau pulang dengan pakaian seperti ini?”katanya dengan kesal yang tidak bisa disembunyikan.

“Mianhae, bajuku basah tadi saat main perang air dengan anak – anak tadi. Coba kau ikut permainan itu sangat seru dan menyenangkan!”kataku mencoba mengambil hatinya.

“Aku rasa kau sudah dewasa, bukanlah hal yang tepat bermain permainan seperti itu? Bagaimana kalau kau sakit?”bantahnya dengan tegas. Aku hanya menunduk, tidak mau menatap matanya yang penuh amarah. Padahal menurutku ini hanya hal sepele!

“Kita mampir ke butiq dulu untuk membeli pakaian untukmu! Tidak mungkin kau pulang dengan pakaian pria seperti itu! Apa yang akan dikatakan orangtuamu?”ia menarikku masuk kedalam mobilnya dengan kasar. Sama sekali bukan seperti Kyuhyun yang dulu. Membanting pintu dengan keras, dan mengebut seperti kesetanan. Ia tidak bisa melampiaskan kemarahannya padaku! Takut mungkin, tapi aku sudah terbiasa. Jadilah kami membisu selama perjalanan pulang.

***

Semakin hari aku semakin dekat dengan Siwon. Walaupun kami hanya akrab saat aku sedang dipanti. Dikampus, kami hanya bertukar sapa. Aku terkesan padanya, ia mampu dekat dengan anak – anak panti dalam waktu singkat. Padahal aku saja hampir sebulan baru dekat dengan mereka. Ia juga sangat bertanggung jawab dengan apa yang ia perbuat. Seperti waktu ia dipukuli dilapangan basket. Ia memilih tidak melawan orang – orang itu karena ia tahu, bahwa ia yang salah. Ia juga menerima vonis hukuman menjadi relawan dan menjalani hukumannya dengan baik.

Aku sangat bahagia saat – saat bersamanya. Ia sangat pandai mengambil hati anak – anak. Ia juga seorang pendongeng yang baik. Tapi satu hal yang akhirnya membuatku menjauhinya”Saranghe Eunsae-ya”katanya saat kami sedang duduk ditaman dekat panti, mengawasi anak – anak yang sedang bermain. Aku terkejut mendapati ia sangat serius mengatakan bahwa ia mencintaiku.

“Mianhae, tapi apa kau lupa? Aku sudah punya pacar, Cho Kyuhyun namanya? Lagipula, kita baru dekat beberapa minggu ini”kataku berharap kata – kataku tidak menyakitinya.

“Pacar yang tidak bertanggung jawab kalau begitu. Meninggalkan kekasihnya setiap malam minggu dipanti asuhan. Sama sekali tidak pernah menghubungimu, kalau bukan karena pekerjaan. Kenapa kau tahan menjalin hubungan dengan orang seperti itu? Aku menyukaimu sejak kejadian di lapangan itu kau tahu? Hanya kau yang menolongku waktu itu.”

“Kyuhyun yang mengajarkannya padaku. Ia tidak seburuk yang kau kira. Aku mencintainya. Sebegitu besar sampai aku rela melakukan apa saja agar dapat bersamanya. Melakukan apapun yang terbaik untuknya. Membantunya mengapai impiannya”jawabku pasti.

Aku tahu, aku bodoh. Sikap Kyuhyun semakin lama semakin buruk. Tapi aku tetap tidak bisa membencinya. Atau bahkan mengeluh padanya. Aku percaya padanya, bahwa ia mencintaiku! Itu sudah cukup buatku. Aku tidak tahu apa yang membuatku sangat yakin padanya. Mungkinkah ini cinta? Hanya beberapa bulan setelah kami berkenalan dan beberapa bulan sebelum kenaikan jabatannya, aku merasakan manisnya cinta. Indahnya hari – hari yang aku lalui bersamanya.

“Kau sangat bodoh kau tahu? Aku bisa membuatmu bahagia melebihi yang dilakukannya”Siwon masih tidak menerima keputusanku sepertinya.

“Apa itu cinta Siwon-sshi? Ia seperti apa? Bagaimana mencarinya? Menemukannya?”tanyaku, ia berpikir sejenak.

“Bagiku, cinta itu seperti coklat. Manis. Tapi tidak selalu, ada rasa lain selain manis, ada asin, dengan campuran seperti keju. Atau gurih jika dicampur kacang. Ada rasa pahit disetiap coklat yang kau makan. Jika terlalu banyak kau memakannya itu tidak baik untuk kesehatanmu. Coklat juga dapat membuatmu kecanduan jika terus menerus menkonsumsinya.

Namun, jika kau mengkonsumsinya tidak berlebihan, itu bisa menjadi obat yang bagus untuk kesehatanmu. Memakannya memberikan kesenangan tersendiri.

Itulah cinta, banyak rasa yang tidak kau pahami bermunculan dihatimu, tapi dengan berlalunya waktu semua itu akan indah pada waktunya. Tidak perduli coklat dengan paduan apa yang kau pilih, kau akan memakan semuanya dengan senyuman. Tidak perduli dengan rasa pahit yang akan kau terima. Aku menerima Kyuhyun dengan apa adanya ia. Jika sekarang ia sedang fokus dengan kariernya, itu hanyalah sementara. Aku hanya harus bersabar menunggunya kembali padaku. Aku yakin hal itu Siwon-sshi.

Mianhae, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku yakin, diluar sana seorang gadis tengah menunggumu. Seorang yang lebih baik daripada aku. Seseorang yang mampu menerima apa adanya dirimu”lalu aku berlalu mengajak anak – anak yang lain agar kembali kepanti. Siwon agak murung hari itu, dan sedikit menjaga jarak denganku. Aku berharap ia tetap menjadi sahabatku.

***

Hari ini, hari ulang tahun Kyuhyun! Aku sudah menyiapkan surprise untuknya! Aku datang kekantor pada jam sebelum makan siang, membawakan bekal untuknya! Jujur saja, kejutan itu sudah lama aku persiapkan. Aku khusus belajar memasak makanan kesukaannya pada Nyonya Park. Aku tahu ini sangat sederhana, tapi mengingat aku yang membuatkan makanan ini untuknya, padahal aku paling anti dengan memasak. Aku mebuatkan kimbab7 untuknya. Beberapa telur gulung, dan acar.

Aku hendak membuka pintu ruangannya, ketika terpikir olehku untuk membuatnya terkejut. Jadi aku langsung membuka pintu ruangannya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku yang ingin membuat kejutan untuknya, malah aku terkejut dengan apa yang sedang dilakukannya. Ia sedang memeluk seorang gadis sangat erat, dan mendaratkan kecupan dikening gadis itu. Hatiku kebas, aku tidak bisa berpikir, ini pasti hanya mimpi buruk!

BRUKK suara benda terjatuh mengagetkan kami. Mereka menatapku, hening sejenak. Aku menunduk dan menyadari bahwa aku tidak sadar telah menjatuhkan kotak makan siang untuk Kyuhyun. Semua isinya tumpah bertantakan, tidak akan bisa dimakan.

7 kimbab = nasi gulung khas Korea

Menggambarkan isi hatiku saat ini, yang kacau. Aku menahan tangisku agar tidak jatuh didepan mereka. Aku tidak mau tampak begitu mengenaskan, karena cintaku telah pergi.

“Aku terima semua perlakuan burukmu selama ini Kyuhyun-sshi. Semuanya! Kau yang selalu menyindirku dengan kata – kata kasar. Kau yang selalu menomerduakanku dibanding pekerjaanmu. Kau yang tidak pernah menetapi janji acara kencan kita. Tidak pernah mau berbagi cerita padaku lagi. Selalu mengacuhkanku. Tapi tidak dengan ini! Kau sudah lewat batas Kyuhyun-sshi! Kita putus! Aku gak akan pernah mau bertemu denganmu lagi!”dan aku berlari meninggalkan ruangannya. Secepat mungkin agar tidak ada yang melihatku menangis.

“Kau tidak pulang bersama Kyuhyun? Hari ini ulang tahunnya bukan?”tanya ibuku saat aku sampai dirumah. Benar – benar membuatku marah! Aku sudah muak dengan semua ini!!”Kyuhyun?! Ya, terus saja dia yang kalian perhatikan! Sebenarnya anak kalian itu siapa sih?! Aku atau Kyuhyun? Pernahkah sekali saja kalian memperhatikanku? Menanyakan kabarku, tahukah kau apa yang sedang aku pikirkan, apa yang aku rasakan? Aku ini anak kandungmu Omma!!”kataku tak kuasa menahan emosiku dan membanting pintu kamarku, persis didepan ibuku!

***

“Kau kenapa? Sepertinya sedang ada masalah? Anak – anak cemas padamu”kata Siwon saat aku sedang sendiri diruang baca. Aku hanya menggelengkan kepala.

“Biar kutebak. Kyuhyun?”tanyanya pasti. Aku hanya terdiam, berpura – pura tidak mendengarkan perkataannya, mengatur buku – buku kembali di raknya.

“Tidak perlu menjawabku. Terus saja diam seperti itu. Tapi matamu telah menjawab semua pertanyaanku. Kemana dia? Beberapa hari ini kau selalu membawa mobilmu kemana – mana. Padahal biasanya dia selalu menjemputmu dipanti”aku menatapnya tak suka. Tahu bahwa ia benar. Tapi aku tetap diam, dan keluar dari ruang baca.

***

Author POV

“Kita perlu bicara Kyuhyun-sshi. Ini masalah Eunsae”kata Siwon to the point. Sekarang saatnya ia membalas kebaikan Eunsae karena telah banyak menolongnya. Seperti

waktu dilapangan basket, atau membantunya beradaptasi dilingkungan panti. Ia tahu Eunsae sangat mencintai Kyuhyun. Itu sudah jelas dan terbilang bodoh. Tapi ia tidak suka melihat Eunsae murung seperti itu. Ia harus melakukan sesuatu. Walapun itu berarti harus menemui seorang Kyuhyun.

“Siapa kau? Bagaimana bisa kau mengenal Eunsae?”tanya Kyuhyun saat pertama kali datang.

“Aku temannya, relawan dipanti asuhan. Aku langsung pada pokok pembicaraan. Aku memang tidak ada hubungannya dengan hal ini. Tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu. Ada masalah apa diantara kalian berdua. Ia terlihat sangat aneh beberapa hari ini”

“Itu semua tidak ada hubungannya denganmu”jawab Kyuhyun ketus.

“Aku sudah tahu. Baik, hanya ini yang ingin aku beritahu padamu. Kau adalah orang paling bodoh sedunia kalau sampai melepaskan seorang Kim Eunsae. Dia sangat mencintaimu kau tahu? Padahal sikapmu sangat buruk padanya. Tahukah kau, aku bahkan sudah menyatakan perasaanku padanya. Bodohnya ia menolakku, dan memilihmu. Betapa beruntungnya dirimu. Aku ingatkan padamu, saat kau melepasnya aku tidak akan segan – segan untuk mendekatinya. Membuatnya menjadi milikku! Camkan kata – kataku Kyuhyun-sshi”lalu Siwon pergi meninggalkan Kyuhyun yang tercengang.

***

Eunsae POV

“Kim Eunsae-sshi?”panggil seorang gadis padaku. Pandangan kami bertemu, aku langsung menghindar dan berlari meninggalkan gadis itu. Dialah gadis yang aku lihat sedang berada didalam pelukan Kyuhyun waktu itu. Namun gadis itu malah mengikutiku!”Ada yang perlu aku jelaskan padamu!”ia berhasil mengejarku, menarik tanganku agar berhenti.”Ikut aku!”lalu membawaku pergi bersamanya. Aku bisa saja berontak darinya, tapi orang – orang yang menatap kami dengan rasa ingin tahu, membuatku urung.

Kami saling diam selama perjalanan menuju tempat parkir. Tempat yang dipilih gadis itu.”Aku sedang sibuk!”kataku menandakan aku tidak suka bertemu apalagi berbicara dengan nya.

“Kita perlu bicara mengenai Kyuhyun. Kau Eunsae bukan? Aku Park Heera”kata gadis itu. Membuatku semakin ingin pergi dari tempat itu.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya”kataku enggan menyebut nama Kyuhyun, kembali.

“Kau salah paham, kau tahu? Aku adalah mantan Cho Kyuhyun”katanya seolah ingin menantangku. Aku balas menatapnya dengan berani!

“Ada hal yang harus aku beritahukan kepadamu. Sebelum aku pergi meninggalkan negri ini”aku terdiam menatapnya, memastikan bahwa apa yang dikatakannya tidaklah bohong semata.

“Aku pergi kekantornya kemarin, karena aku ingin kembali padanya. Melanjutkan hubungan kami yang dulu sempat terputus. Tapi ia menolakku, ia mengatakan bahwa ia sudah mempunyai seorang kekasih yang sangat dicintainya. Keputusannyalah yang mebuatku untuk pergi meninggalkan negri ini. Ia adalah satu – satunya alasan yang dapat menahanku untuk tetap di Seoul. Tapi ia malah melepasku pergi.

Ia sangat mencintaimu, aku yakin kau tahu itu lebih daripada aku. Pelukan dan kecupan itu hanyalah perpisahan, karena kami tidak tahu kapan akan bertemu kembali. Ok, aku pamit dulu Eunsae-ya. Semoga dimasa depan nanti kita dapat bertemu dengan suasana yang berbeda”dan ia pergi meninggalkanku begitu saja. Mau tak mau hatiku merasa ringan. Ternyata ini semua hanya salah paham. Kyuhyun tetap mencintaiku dan tidak pernah menduakanku.

Kesadaran baru menghampiriku. Biarpun Kyuhyun masih mencintaiku, dan aku juga masih sangat mencintainya. Tapi hubungan kami sudah berakhir kemarin! Aku yang bodoh, langsung memutuskan jalinan cinta kami! Dan itu semua ternyata hanya salah paham belaka! Bodohnya diriku! Mana mungkin aku mintanya menjalin kembali hubungan kami duluan? Gengsi ku sangat besar! Apa katanya nanti?

Seharusnya sebagai pria, ia memintaku untuk mendengarkan penjelasannya dahulu? Mencoba meyakinkanku! Tapi sampai sekarang ia belum juga menghubungiku. Aku sangat berterimakasih padamu Heera-ya. Hanya saja, apa yang kau lakukan sama sekali tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang?

***

Aku sedang tidak bermimpikan? Pikirku dalam hati saat melihat orang yang sedang berada disamping mobilku. Sepertinya ia sedang menungguku. Ada yang lain pada dirinya.

Kemeja kerjanya yang biasanya rapih, kini berantakan, dengan bawah baju dikeluarkan, dan tidak memakai dasi. Sikapnya yang gelisah, juga bukan dirinya. Seorang Cho Kyuhyun adalah orang dengan rasa percaya diri yang amat tinggi. Bahkan bisa membuatmu minder hanya dengan tatapan mencibirnya.

Aku sedang tidak bermimpi! Itu benar Kyuhyun! Sudah berapa lama kami tidak bertemu? Aku merasa seperti sudah lama sekali tidak melihatnya. Apalagi dengan penampilannya yang aneh. Padahal kenyataannya kami hanya tidak bertemu selama seminggu. Aku menghampirinya, rasa malu menghalangiku untuk menyapanya duluan.

“Kau punya waktu? Aku ingin pergi mengajakmu kesuatu tempat”tanyanya dengan kepala menunduk, tidak menatapku. Aku menggelengkan kepalaku, dan menghela nafasku dengan berat.

“Kau tahu bukan, aku paling tidak suka berbicara dengan seseorang yang tidak menatapku! Itu tidak sopan!”kataku, membuatnya mengangkat kepalanya dengan tegak. Well, seharusnya aku membiarkannya tetap menunduk. Aku tidak sanggup menatap mata yang selalu aku rindukan. Kini menatapku dengan angkuh.”Kita mau kemana?”tanyaku akhirnya. Tanpa berbicara, ia membukakan pintu mobilku dan mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.

Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, sama seperti sebelum – sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Namun yang mebuatku terkejut adalah tempat yang dipilihnya. Ia membawaku menuju apartemennya. Aku hapal jalan menuju kesana, dan pernah beberapa kali main disana. Tapi aku tetap memandang lurus kedepan. Seolah sama sekali tidak tahu mau diajak kemana.

Benar dugaanku, kami sampai di tempat parkit apartemennya”Kau membawaku kesini?”tanyaku akhirnya. Tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku dan rasa penasaranku. Ia hanya mengangguk kaku, dan menarik tanganku agar mengikutinya. Apartemennya sangat bersih dan luas, dengan jendela yang terbuka. Melukiskan indahnya lampu kota dijalan.

“Kau sudah makan?”tanyanya. Aku menggeleng, dengan jujur terpaku sesaat dengan indahnya pemandangan malam dari apartemennya. Tiba – tiba terdengar suara berisik dari dapur. Aku menoleh, dan mendapati aku sendirian diruangan itu. Aku pun beranjak kedapur. Terkejut dengan pemandangan yang aku dapatkan disana. Kyuhyun sedang memakain

celemek, dan kelihatan binggung mencari suatu benda. Ia terlihat sangat janggal berada disana.

“Apa yang kau lakukan?”tanyaku dengan kening berkerut. Kyuhyun? Kedapur? Sejak kapan? Ia sangat anti dengan dapur, sama sepertiku. Ada orang yang ia pekerjakan untuk mengurus apartemen dan memasak untuknya. Ia sangat sibuk sehingga sering lupa makan.

“Aku sedang memasak”tantangnya.

“Kau tidak bisa memasak!”bantahku.

“Well, kalau hanya mie instan saja aku bisa. Aku ingih memasak untukmu. Kimbab buatanmu enak. Aku sudah mencobanya”katanya membuatku terkejut.

“Tapi makanan itukan kotor. Sudah jatuh, tidak boleh kau makan!”aku sama sekali tidak mengerti pikirannya.

“Ya, aku memakannya. Aku tahu beratnya dirimu membuatkan kimbab itu untukku. Aku tahu kita sama. Seumur hidup jarang sekali berada didapur. Tapi demi orang yang kita cintai, kita rela melakukan apapun. Mianhae, atas semua sikap burukku selama ini. Gomawo karena telah menyadarkan kembali diriku. Kemarin hanyalah salah paham Eunsae-ya”ia menatapku penuh harap. Aku tersenyum untuknya

“Heera sudah menceritakan semuanya Oppa. Mianhae, aku seharunya menuggu penjelasan darimu dulu, sebelum melakukan hal yang bodoh. Jadi, kapan kau akan mulai memasak? Karena sekarang aku sudah sangat lapar!”ia tersenyum sangat tampan. Aku pun langsung membantunya memasak. Aku akui, aku sangat tersanjung dengan apa yang ia lakukan. Mungkin, itu juga yang ia rasakan saat aku membuatkan makanan untuknya.

Makan malam yang sangat sederhana dengan mie instans. Tapi bagiku itu sangatlah indah, melebihi jika aku makan malam di hotel bintang lima. Banyak yang kami bicarakan. Seolah ingin mengisi waktu yang dulu terbuang percuma dengan berdiam diri. Kini, kami menceritakan semua hal yang terjadi selama ini. Berbagi lelucon, tertawa bersama. Saatku tatap matanya, aku tahu akan banyak hal yang menanti kami dimasa depan. Berbagai hambatan dan rintangan nantinya yang menghalangi kami. Tapi aku juga tahu, aku akan bisa melalui semua itu, karena aku tidak sendirian. Masih ada ia disampingku. Saranghe Oppa!

the end…