Author: Stephanie Naomi
Title: Music, Dream and Love
Length: Continue
Genre: Romance
Cast: Taecyeon, Wooyoung, Junho (2PM), Suzy (missA), Park Jin Young (Teacher), Bae Su Jung, Lee Jung Ah, Park Yoon Hae (Imaginary Cast)

A/N: Annyonghaseyo! Salam kenal semuanya… Saya baru pertama kali post tulisan disini. Cerita ini sebenernya udah pernah saya post di blog saya sendiri [http://stephanienaomi.blogspot.com (dengan judul yang sama)], tapi dengan cast yang berbeda (cerita di blog saya semuanya menggunakan Imaginary Cast) dan juga jalan cerita yang sekarang mengalami beberapa perubahan, jadi ada sedikit perbedaan dengan jalan cerita yang ada di blog saya. Semoga cerita ini bisa dinikmatin sama semuanya ya… Don’t forget to put your comment! Happy reading, guys! ^^

[Part 1]

Suzy berjalan menyusuri koridor sekolahnya yang sudah sepi. Memang jam pulang sekolah sudah berlalu sejak 2 jam yang lalu tetapi ia baru akan pulang karena ia harus mengikuti ulangan susulan Bahasa Inggris. Walaupun banyak gosip yang beredar jika ulangan susulan akan lebih sulit dibandingkan dengan ulangan aslinya, tetapi siang itu Suzy merasa ia mampu mengerjakannya dan ia yakin akan mendapatkan nilai baik. Ia harus mendapatkan nilai baik agar ia dapat mengikuti program beasiswa yang diadakan di awal tahun depan. Suzy terus berjalan menuju gerbang sekolahnya, tetapi ia mendengar samar-samar keramaian dari arah lapangan basket. Memang hampir setiap pulang sekolah, anak-anak Seoul International School (SIS) sering mengadakan pertandingan basket three on three. Suzy pun berjalan menuju lapangan basket yang ternyata sangat ramai dengan penonton terutama dari kalangan perempuan sehingga ia tidak bisa berdiri persis di sisi lapangan dan melihat dengan jelas pertandingan itu.

“Taecyeon oppa!! Fighting!!”

“Taecyeon?” gumam Suzy dalam hati setelah mendengar salah satu dari banyak teriakan perempuan-perempuan yang dominan adik kelasnya dan juga teman seangkatannya. Tidak terlalu banyak perempuan dari kelas 3 karena mereka sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir.

Ok Taecyeon adalah salah satu siswa populer SIS dari kelas 3-1. Dengan wajah yang ganteng, postur tubuh yang pas dan juga otak yang encer, tidak heran jika banyak perempuan yang mengagumi bahkan menyukai Taecyeon. Tetapi, sayangnya Taecyeon tidak tertarik dengan satu pun dari ‘fans-fans’ nya itu. Suzy pun diam-diam mengagumi Taecyeon, tetapi dari sisi yang berbeda dengan perempuan-perempuan lain. Suzy mencoba untuk melihat pertandingan itu tetapi sia-sia. Ia hanya bisa melihat para pemain yang meloncat saat memasukkan bola kedalam ring dan ia paling sering melihat Taecyeon.

“Tidak kusangka ternyata kau memiliki bakat yang lain.” gumam Suzy lalu ia pergi meninggalkan lapangan yang masih ramai karena pertandingan belum selesai. Suzy pergi tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengikuti kemana arah ia berjalan hingga Suzy tidak terlihat lagi. Dan setelah itu, sepasang mata itu kembali menyaksikan pertandingan basket siang itu.

***

“Kau bermain hebat, sunbae! Ku harap kau bisa masuk kedalam tim basket dan memperkuat tim sekolah kita.” puji Wooyoung saat mereka sedang berada di ruang ganti. Taecyeon hanya tersenyum tipis.

“Mullon animnida. Kau sudah seperti adikku sendiri, Wooyoung. Pasti kau mengetahui apa alasannya.” balas Taecyeon seraya mengelap keringat dipelipisnya lalu membuka bajunya dan berganti dengan baju baru yang ia sudah bawa.

“Ne… Araesso.” ucap Wooyoung pelan dengan raut wajah cemberut. Taecyeon melihat Wooyoung dan ia terkekeh sendiri.

“Kenapa?” tanya Wooyoung kebingungan.

“Kau ini, kau bukan anak SMP lagi. Kau sudah kelas 2 SMA dan sebentar lagi kau akan menjadi yang paling tua disekolah ini. Hilangkanlah kebiasaan buruk memasang raut wajah seperti itu.” jawab Taecyeon lalu ia pun menepuk pundak Wooyoung dan pergi meninggalkan Wooyoung sendirian di ruang ganti. Taecyeon berjalan menuju parkiran motor dan ia bertemu dengan Junho disana.

“Apakah kira-kira dia menonton pertandinganmu barusan?” tanya Junho dengan nada jahil dari atas motor sportnya. Ia sudah mengenakan helm dan bersiap untuk meninggalkan sekolah, tetapi melihat Taecyeon datang, ia menunda kepergiannya.

“Aku tidak tahu.” jawab Taecyeon santai dan cuek. Ia menaiki motor sport hitamnya dan memakai helmnya.

“Kau tidak melihatnya? Atau mungkin merasakan keberadaannya di sana?” Junho kembali bertanya. Taecyeon terdiam sesaat.

“Tidak tahu ah! Aku fokus pada pertandingan, lagipula ia tidak seperti yang lainnya dan ia juga tidak tahu kalau aku bisa bermain basket.” jawab Taecyeon dengan alibinya sendiri.

“Tsk… Dasar kau. Kalau aku yakin sekali kalau dia ada disana.” ucap Junho.

“Kalau begitu, kenapa kau tanyakan hal ini padaku?” tanya Taecyeon dengan nada menggantung dan ia pergi meninggalkan Junho dan sekolahnya setelah sebelumnya ia menutup kaca helmnya. Junho hanya geleng-geleng kepala dengan sifat sahabatnya yang memang cuek. Junho pun juga langsung menutup kaca helmnya dan meninggalkan SIS.

***

“Aku pulang!” teriak Suzy seraya melepas sepatu nya dan menggantinya dengan sandal rumah miliknya.

“Kau kemana saja? Kenapa pulang telat?” tanya Lee Jung Ah kepada putri sulungnya sambil membereskan meja makan untuk makan siang.

“Mianhae, eomma. Aku lupa mengabarimu. Aku ulangan susulan bahasa Inggris.” jawab Suzy lalu ia melepaskan tas sekolahnya, menaruhnya di sofa depan tv lalu ia duduk di meja makan, menemani ibunya.

“Lain kali jangan lupa mengabariku, ok? Ayo sekarang kau makan, ibu buatkan sup untuk mu dan Su Jung. Ibu panggilkan Su Jung dulu.” ucap Lee Jung Ah lalu ia pergi menaiki tangga untuk memanggil Su Jung di kamarnya, sementara Suzy langsung menyantap makan siangnya.

“Noona tadi kemana? Aku menunggu mu di gerbang sekolah.” tanya Su Jung begitu ia melihat kakaknya sudah berada dirumah. Ia pun duduk disebelah Suzy dan langsung menyantap makan siangnya.

“Maafkan aku, Su Jung. Aku lupa mengabarimu. Aku tadi susulan bahasa inggris.”

“Susulan? Kau kan semalam sibuk dengan pianomu.”

“Tenang saja, aku tetap bisa mengerjakannya.” ucap Suzy santai dan percaya diri lalu mereka berdua kembali dengan makan siangnya masing-masing. Lee Jung Ah datang dan duduk berseberangan dengan kedua anaknya.

“Bagaimana sekolahmu, Su Jung?” tanya Jung Ah.

“Baik.” jawab Su Jung cepat.

“Kalau kau,” Jung Ah mengalihkan perhatiannya kepada Suzy, “bagaimana persiapan konsermu?” tanya Jung Ah. Suzy terdiam sesaat.

“Hmm.. Baik.” jawab Suzy mengikuti jawaban adiknya.

“Bagaimana dengan pasangan duetmu?” tanya Jung Ah lagi.

“Aku…” Suzy tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah ibunya yang ternyata sedang memperhatikan dirinya dan menunggu jawaban darinya.

“Aku belum latihan dengannya.” jawab Suzy jujur, lalu ia kembali menunduk dan menyuap nasi dan daging kedalam mulutnya.

“Yah! Kau ini… Konsermu hanya tinggal 3 minggu lagi dan kau belum latihan sama sekali dengan pasangan duetmu? Kalian ini bagaimana… Siapa pasanganmu? Biar ibu yang meneleponnya agar ia berlatih mau berlatih denganmu.” Jung Ah berbicara panjang lebar. Suzy langsung melotot mendengar ibunya akan menelepon pasangan duetnya.

“Tidak perlu, eomma! Kau tidak perlu meneleponnya.” balas Suzy cepat dengan suara yang cukup keras. Su Jung sedikit heran melihat sikap kakaknya barusan. “Aku akan menghubunginya setelah makan.” sambung Suzy, kali ini dengan nada ‘normal’.

“Baiklah, jangan sampai lupa. Kau harus ingat, saat konser nanti akan ada panitia beasiswa yang akan melihat penampilanmu dan mereka yang akan mempertimbangkan apakah kau layak untuk menerima beasiswa itu atau tidak. Kau mau mendapatkan beasiswa itu, kan?” ucap Jung Ah panjang lebar. Suzy hanya mengangguk sambil menyuap makanan kedalam mulutnya.

“Tentu saja kau harus memberikan penampilan yang terbaik, baik itu Solo mau pun Duet.” sambung Jung Ah menasihati anak perempuannya. “Dan kau juga, Su Jung. Kau harus bisa lulus SMP dengan nilai yang memuaskan, agar kau bisa masuk ke sekolah yang sama dengan kakakmu.” Jung Ah juga menasihati anak laki-lakinya.

“Ujianku masih tahun depan, bu…” balas Su Jung.

“Terserah, kau harus mempersiapkannya dari sekarang.” ucap Jung Ah. Su Jung dan Suzy sama-sama mengangguk-angguk mendengarkan nasihat dari ibunya. Suzy meneguk air putih dari gelasnya sampai habis lalu ia bangkit berdiri hendak meninggalkan meja makan.

“Aku masuk kedalam kamar dulu ya.” ucap Suzy pamit. Ia pun mengambil tas sekolah dari sofa yang terletak tidak jauh dari meja makan dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai 1.

“Jangan lupa telepon temanmu.” ucap Jung Ah dari meja makan, sebelum akhirnya Suzy masuk kedalam kamarnya dan tidak lagi mendengar suara-suara dari luar kamarnya.

Kamar Suzy mungkin merupakan ruangan terluas dirumahnya dan didesain seperti studio musik. Terdapat baby grand piano di sudut kamar itu khusus untuk Suzy berlatih. Dinding kamarnya sengaja dilapisi karpet agar suara piano tidak terdengar sampai keluar kamar bahkan keluar rumah sehingga ia bebas berlatih kapanpun tanpa menganggu siapapun. Suzy meletakkan tas sekolahnya diatas meja belajarnya dan ia langsung duduk dibangku piano nya, membelakangi pintu kamar dan juga kasurnya. Ia memainkan 1 lagu dengan sangat baik dan sudah hafal diluar kepala, sehingga tidak perlu melihat partitur. Setelah memainkan lagu itu sampai habis, ia mengambil ponsel dari saku seragamnya dan membuka kontak ponselnya. Ia mencari satu nama di kontak itu.

“Ok Taecyeon… Dimana namamu…”

Suzy terus memainkan trackpad ponsel flip nya itu, mencari nama Taecyeon dan akhirnya… Ia menemukannya. Nama lengkap berikut dengan foto Taecyeon saat sedang bermain piano. Suzy mengambil foto itu untuk profil anggota klub musiknya, tetapi Suzy juga menjadikannya sebagai foto profil untuk kontak Taecyeon di ponselnya tanpa ada satupun yang mengetahui hal tersebut. Dan saat ini Suzy ragu apakah ia harus menghubunginya sekarang atau langsung menemuinya besok disekolah. Ia menghela nafas. Ibu jarinya berpindah-pindah dari tombol hijau untuk melepon ke tombol “Cancel”. Ia tidak yakin akan mendapatkan respon positif dari Taecyeon, mengingat sudah 3x ia meminta Taecyeon untuk latihan 3 lagu duet tetapi Taecyeon selalu mengelak dengan alasan ada urusan yang lebih penting. Mengingat alasan Taecyeon, Suzy jadi sebal sendiri.

“Ia pikir konser ini tidak penting! Kalau bukan keinginan Park Sonsaengnim, aku juga tidak ingin berduet denganmu!”

Kalimat itulah yang terlintas dipikiran Suzy kalau mengingat alasan Taecyeon. Tapi ia mengingat apa yang dikatakan ibunya pada saat makan siang. Dan akhirnya ia membuat keputusan yang bulat.

“Awas saja sampai kau menolak ajakkan ku lagi, Taecyeon.”ucap Suzy pelan lalu ia menekan tombol hijau di ponselnya, “Kau akan mati jika menolaknya.” sambungnya setelah menempelkan ponsel ditelinga kanannya dan menunggu Taecyeon mengangkat teleponnya.

***