Tittle : Oppa, Can I Love You?
Author : violetkecil
Rating : General
Genre : Romance
Length : Oneshot
Cast : Kim Ryeowook, Moon Eunhye, Moon Hyemi

Eunhye menarik kopernya perlahan. Bandara Incheon memang tidak pernah sepi. Dia mengambil ponsel dan mengaktifkannya. Matanya mencari-cari sosok yang berjanji akan menjemputnya. Dia mulai gelisah.

“Eunhye,” sapa seorang cowok yang menggunakan topi dan kacamata hitam.

Eunhye mengernyitkan dahinya. Dia menatap cowok itu. “Apakah aku mengenalnya?” batin Eunhye.

Cowok itu melepas kacamatanya sebentar, “Ini Oppa,” katanya.

“Jinja?” teriak Eunhye. “Oppa?!”

“Ssstt… “ bisik cowok itu. “Kau tidak ingin kita dikejar-kejar orang kan? Ayolah!” ajak cowok itu sambil menarik tangan Eunhye dan membawakan kopernya.

“Oppa, kan aku sudah bilang. Oppa tidak perlu repot-repot menjemputku. Aku kan bisa minta Unnie untuk menjemputku.”

“Kau tidak senang aku jemput?”

“Aniyo Oppa. Aku senang sekali. Tapi kalau penggemar-penggemarmu tahu keberadaanmu ini bagaimana?”

“Kau tidak pernah berubah, tetap saja penuh kekhawatiran seperti itu. Ayolah!”

Eunhye mengikuti cowok itu. Dia tidak pernah bisa membantah dan menolaknya. Eunhye tersenyum senang. Dia sangat bahagia. Kalaupun saat ini ribuan penggemar menyerbu mereka, Eunhye tidak peduli. Di dunianya hanya ada cowok itu. Bertahun-tahun berlalu dan tidak pernah berubah.

***

“Eunhye!!!”

“Unnie. Ada apa berteriak di depan kamarku pagi buta seperti ini?” teriak Eunhye dari dalam kamar. Dia menggeliat di atas tempat tidur dan menyampirkan selimutnya. Matanya masih belum terbuka sepenuhnya. Dia membuka pintu kamarnya dengan malas.

“Unnie mau berangkat …”

“Sepagi ini Unnie? Kemana?” potong Eunhye.

“Iya, Unnie harus berangkat pagi ini ke Pulau Jeju. Ada pekerjaan yang harus Unnie selesaikan. Mianhae.”

“Berapa lama?” tanya Eunhye sambil mengusap matanya.

“Tiga hari.”

“Mwo?!” teriak Eunhye kaget. “Unnie, adikmu jauh-jauh datang ke Seoul malah kau tinggal. Aku kan hanya punya waktu liburan seminggu,” rengek Eunhye.

“Adikku sayang. Kan masih ada empat hari selanjutnya. Unnie benar-benar minta maaf. Unnie janji akan membuat liburanmu lebih menyenangkan.”

Eunhye cemberut mendengar penjelasan kakaknya. Dia jauh-jauh pulang ke Seoul untuk liburan tapi malah ditinggal sendirian di apartemen selama tiga hari.

“Ayolah. Jangan cemberut begitu. Manisnya nanti hilang loh. Unnie berangkat dulu ya.”

“Ne. Hati-hati Unnie,” jawab Eunhye malas.

Eunhye beranjak menuju tempat tidurnya lagi. Dia menarik selimut dan menyelimuti badannya. Eunhye merasa sangat kesal.

“Unnie, tega sekali kau. Lalu aku harus bagaimana? Mana mungkin aku jalan-jalan sendirian? Andai Oppa tidak sesibuk sekarang. Oppa kau juga tega sekali. Pasti Oppa lebih memilih berkencan dengan jadwal-jadwal yang padat itu. Mana mungkin Oppa punya waktu untuk gadis malang sepertiku,” gerutu Eunhye.

Eunhye memejamkan matanya lagi tapi tidak berapa lama kemudian bel apartemen berbunyi. “Hya!!! Siapa yang bertamu sepagi ini?” teriak Eunhye kesal.

Eunhye keluar dari kamar dan membuka pintu apartemen tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang bertamu. Sepertinya kesadarannya belum pulih sepenuhnya, sebagian lagi masih tertinggal di tempat tidur.

“Hya!!! Putri tidurku. Selamat pagi,” sapa seorang cowok.

“Oppa!!!” teriak Eunhye kaget.

“Latihan suara yang bagus. Berteriak di pagi hari. Oppa masuk ya?”

Cowok itu langsung masuk tetapi Eunhye masih berdiri terpaku di depan pintu. Pipinya mulai memerah. Eunhye merasa sangat malu. Bagaimana tidak? Dia saat ini memakai baju tidur pink dan memeluk teddy bear kesayangannya. Lengkap dengan wajah baru bangun tidur dan rambut

yang berantakan. Eunhye menutup pintu apartemen dan berjalan menuju cowok itu. Yang dihampiri justru sedang sibuk memeriksa kulkas dan tempat penyimpanan bahan makanan.

“Oppa,” panggil Eunhye.

“Ne,” sahutnya sambil menatap Eunhye tersenyum.

“Kenapa Oppa datang kesini pagi-pagi seperti ini?” tanyanya bingung.

Cowok itu menghampirinya. “Tadi Unnie-mu menelponku. Dia memintaku menjagamu selama dia pergi.”

“Tapi Oppa kan pasti sangat sibuk?”

“Aniyo, jadwalku tiga hari ini kosong,” jawabnya sambil menghampiri Eunhye. “Sudahlah. Cepat mandi. Oppa akan buatkan sarapan untukmu,” katanya lagi sambil mengacak-acak rambut Eunhye.

Eunhye mengangguk dan berlari kecil menuju kamarnya. “Apakah aku sedang bermimipi? Senangnya. Oppa, saranghae!” teriak Eunhye dalam hati.

Eunhye mandi dengan cepat dan menggunakan baju kesayangannya. Celana pendek dan t-shirt pink longgar. Dia duduk di meja makan. Hidangan sudah tersedia. Semuanya terlihat sangat lezat. Tanpa diminta Eunhye langsung memakannya. Cowok itu hanya tertawa kecil melihat tingkah Eunhye.

“Gadis kecilku yang manis,” batinnya.

Tiba-tiba ponsel cowok itu berbunyi. Eunhye mendengarkan percakapannya. Seseorang yang menelpon di seberang sana sepertinya suka sekali berteriak. Eunhye saja bisa mendengar pembicaraannya.

“Ryeowook-ssi!!! Kemana kau? Tidak ada yang membuatkanku sarapan!”

“Mianhae Hyung. Aku lagi bersama adikku. Nanti kuhubungi.”

Eunhye mengerutkan dahinya. Adik? Apakah Oppa selama ini hanya menganggapnya sebagai seorang adik? Tidak pernah melihatnya sebagai seorang wanita?

“Ada apa?” tanya Ryeowook pada Eunhye.

“Aniyo Oppa,”

“Berapa lama liburanmu?”

“Seminggu,” jawab Eunhye singkat. Entah kenapa dia merasa sedikit kecewa dengan kata-kata Ryeowook tadi.

“Hanya seminggu? Kau jauh-jauh datang dari Paris ke Seoul hanya untuk liburan seminggu?”

Eunhye mengangguk. “Apa pengaruhnya buat Oppa? Seminggu atau sebulan pun Oppa hanya menganggapku sebagai adik. Jadi lima tahun ini hanya aku yang menyukai Oppa. Apakah Oppa tahu, setiap tahun aku menyempatkan liburan ke Seoul hanya untuk menemui Oppa. Walaupun selama aku kesini, Oppa hanya membuatku kecewa. Karena Oppa selalu saja disibukkan dengan jadwal-jadwal padat Oppa. Tapi aku menerima itu. Itulah cinta Oppa. Aku mampu bertahan. Hanya karena aku menyukaimu. Aku mencintaimu,” batin Eunhye.

Dia mengaduk-aduk secangkir susu coklat di depannya dengan sendok. Pikirannya semakin kacau. Apakah liburan tahun ini akan bernasib yang sama seperti liburannya sebelumnya?

“Apakah kau sudah menemukan pengisi hatimu di Paris?” tanya Ryeowook tiba-tiba sambil mentap Eunhye dengan kedua tangannya menopang dagu.

Eunhye mendongak dan menatap Ryeowook heran. Ryeowook tersenyum dan hal ini membuat otak Eunhye bekerja tidak baik. Cinta mebuatnya memberikan respon yang berbeda. Padahal tadi dia sangat kesal pada Ryeowook.

“Aniyo. Aku sudah meninggalkan hatiku di sini,” jawab Eunhye. Tapi, upss.. Eunhye keceplosan. Pipinya langsung saja berubah warna menjadi merah.

“Moon Eunhye baboya. Semoga saja Oppa tidak berpikiran yang macam-macam,” batinnya. “Eem, aku mau ke kamar kecil dulu Oppa,” kata Eunhye serba salah.

Ryeowook tersenyum senang melihat Eunhye. Dia mulai meyakinkan perasaannya sendiri dan berharap perasaannya itu tidak sia-sia. Dia membereskan meja makan dan menuju ruang duduk. Matanya tertuju pada foto yang tergantung di ruangan itu. Foto Eunhye sekeluarga. Foto Eunhye kecil dengan es krim di tangannya. Foto liburan bersama keluarga Eunhye dan keluarga Ryeowook. Foto Eunhye dan Ryeowook tersenyum lebar ke kamera. Ada banyak cerita di foto itu. Ryeowook tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya. Tersenyum.

“Oppa, kau tidak sibuk kan? Bagaimana kalau kita ke Lotte World?” tanya Eunhye tiba-tiba membuyarkan lamunan Ryeowook.

“Baiklah.”

“Tapi Oppa harus menyamar. Aku tidak ingin dikeroyok penggemarmu.”

“Iya tentu saja Tuan Putri,” jawab Ryeowook sambil mengelus rambut Eunhye. “Ayo kita berangkat,” ajaknya sambil menggenggan tangan Eunhye.

***

Hari mulai sore. Eunhye dan Ryeowook terengah-engah duduk di sebuah kursi taman. Ryeowook kemudian meninggalkan Eunhye sendiri dan kembali dengan dua cup ice cream di tangannya.

“Untukmu,” kata Ryewook sambil memberikan ice cream untuk Eunhye.

“Gomawoyo Oppa,”

“Ne, cheonmaneyo. Apakah kau tahu?”

“Ada apa Oppa?” tanya Eunhye bingung.

“Ice cream ini meleleh.”

“Trus apa hubungannya?” tanya Eunhye bingung.

“Sama seperti kau yang membuat Oppa meleleh,” jawab Ryeowook sambil tersenyum jahil pada Eunhye.

Eunhye masih bingung tapi dia tidak mempedulikannya. Dia lebih peduli pada ice cream di tangannya. Dia memilih menghabiskan ice creamnya sebelum mencair.

***

“Hari kedua, Cinta aku akan datang!” teriak Eunhye.

Eunhye bergegas keluar dari apartemen. Tadi Ryeowook menelponnya dan bilang akan menunggu Eunhye di café. Eunhye melirik jam tangannya.

“Jam 4 sore. 10 menit lagi aku akan sampai,” batin Eunhye.

Dia sebenarnya agak kecewa karena Ryeowook tidak bisa menemaninya belanja tadi siang. Tapi mendengar permintaan maaf Ryeowook, Eunhye jadi luluh. Dan sekarang Ryeowook menuggunya di café.

“Oppa,” sapa Eunhye riang.

“Duduklah. Oppa sudah pesankan coffee latte kesukaanmu.”

“Wah, gomawoyo Oppa. Oppa-ku ini memang paling top,” sahut Eunhye sambil memegang gelas coffeenya.

“Kau tahu?”

“Apa lagi Oppa?”

“Kopi sepahit apapun akan terasa manis kalau minumnya bersama dengan dirimu,”

Eunhye tersenyum senang, “Oppa sedang merayuku?” tanya Eunhye jahil. “Sejak kapan Oppa jadi gombal seperti ini?”

“Haha… kau terlalu percaya diri. Oiya…”

“Kenapa Oppa?” potong Eunhye

“Sepertinya Oppa harus minta maaf karena besok Oppa tidak bisa menemanimu.”

Senyum Eunhye langsung berubah. Dia hanya mengangguk.

“Eunhye, malang sekali nasib mu. Setiap tahun liburan selalu berakhir seperti ini” batin Eunhye kesal. Eunhye tersenyum kecut. Dia melihat penyesalan dalam tatapan mata Ryeowook. Mau bagaimana lagi? Resiko Eunhye sudah mencintai seorang idola seperti Ryeowook. Dia menghirup kopinya dan sekarang terasa pahit di lidahnya.

***

Eunhye memainkan pensilnya sambil menatap langit dari balik jendela kamarnya. Langit gelap tapi terlihat sangat cantik dengan bintang-bintang yang bertaburan. Eunhye mengulurkan tanggannya. Seakan-akan ingin mengambil satu bintang itu.

“Bintang itu sangat jauh. Aku mencintai seorang bintang. Dia begitu dekat tapi aku bahkan tidak bisa menggapainya. Apakah dia akan melihat perasaanku?” desah Eunhye.

Dia mencoret-coret selembar kertas yang ada di depannya. “Oppa, saranghaeyo. Can I love you?” teriak Eunhye. Untung saja saat ini Eunhye sedang sendirian di apartemen. Jika tidak Unnienya pasti akan memarahinya karena berteriak tidak jelas malam-malam seperti ini.

Life couldn’t get better, nan nol pume ango nara, purun darul hyanghe nara, jamdun noui ib machul koya… Life couldn’t get better, noui mame munul yoro jwo, gude ne sonul jabayo, life couldn’t get better…

Ponsel Eunhye berbunyi dan dia mengambilnya dengan malas.

“Yoboseyo?”

“Eunhye, kau belum tidur?”

“Oppa?”

“Ne, cepatlah tidur. Ini sudah larut.”

“Tidak mau. Oppa harus menyanyikan lagu dulu untukku.”

“Baiklah.”

Close your eyes, go to sleep Know my love is all around you Dream in peace, when you wake

You will know I’m still with you I’m still with you

“Sekarang tidurlah.”

Ne, Oppa. Oppa masih ada kegiatan?”

“Tidak ada. Oppa juga akan tidur. Tapi harus tidur juga.”

“Ne Oppa. Aku tidur. Selamat malam Oppa.”

“Aku menunggumu datang dalam mimpiku. Selamat malam my love.”

Ryeowook mematikan teleponnya tapi Eunhye masih belum sadar. Eunhye masih memegang ponselnya.

“Apa? Apakah aku salah dengar? My Love?” teriak Eunhye.

Eunhye menggelengkan kepalanya. Dia menuju tempat tidur dan meyelimuti dirinya dengan selimut. Dia tersenyum senang.

“Oppa tunggu aku. Aku akan datang dalam mimpimu. Aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu dan kau juga harus mengatakan hal yang sama. Bukankah ini mimpi Oppa? Semua hal dalam mimpi harus indah,” gumam Eunhye.

***

Eunhye menyibukan dirnya dengan membuat Kimbab. Kakaknya belum pulau dari Pulau Jeju dan Ryeowook saat ini sedang sibuk latihan untuk persiapan musikal. Dia memotong Kimbab buatannya dan menatanya di kotak makanan. Dia mengambil ponselnya dan menelpon Ryeowook.

“Oppa, kau dimana?” tanya Eunhye.

“Sedang di tempat latihan. Ada apa?”

“Aku akan ke sana membawakan Kimbab buatanku untuk Oppa. Bolehkan?”

“Iya. Bagaimana kau kesini?”

“Aku akan naik taksi.”

“Jangan. Aku akan meminta manajer Kim untuk menjemputmu. Tunggu ya.”

“Ne Oppa,” jawab Eunhye.

Eunhye tersenyum senang. Dia menunggu kedatangan Manajer Kim di depan apartemen dan tidak berapa lama Manajer Kim datang. Manajer Kim sangat ramah. Ketika mereka sampai menuju gedung latihan, Eunhye berjalan riang menuju ruang latihan Ryeowook. Sepertinya sedang jam istirahat karena ruang latihan terlihat sepi. Eunhye ingin masuk kedalam tapi tiba-tiba terhenti.

“Oppa, aku menyukaimu!”

“Kau?”

“Kumohon Oppa. Aku memberanikan diri untuk mengatakan hal ini. Aku menyukaimu.”

“Mianhae. Aku bukan tidak menyukaimu tapi aku sudah menganggapmu sebagai adikku.”

“Berhenti menganggapku sebagai adikmu!!!”

“Maaf aku tidak bisa.”

Eunhye membeku mendengar percakapan itu. Dia mendengar gadis itu menangis. Eunhye memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Apakah dia akan bernasib sama dengan gadis itu? Ryeowook hanya menggapnya sebagai seorang adik. Eunhye terkejut ketika gadis itu berlari keluar sambil menangis dan hampir menabraknya. Eunhye memegang erat kotak makanan yang dia bawa. Seluruh tenaganya seperti menghilang dari dirinya. Dia hanya bisa berdiri terpaku.

“Ah, kau sudah datang. Ayo masuk.” Suara Ryeowook mengejutkan Eunhye. Dia menoleh dan mengikti Ryeowook ke dalam. Eunhye masih diam. Dia belum bisa berkata-kata.

“Maaf. Kau mendengarnya?” tanya Ryeowook khawatir.

“Tidak apa-apa Oppa. Makanlah. Aku membuatkannya untuk Oppa.” Eunhye menyuapkan sepotong Kimbab ke mulut Ryeowook. “Kenapa Oppa hanya menganggap gadis itu sebagai seorang adik saja?” tanya Eunhye hati-hati.

“Seorang gadis sudah membawa hatiku dan dia tidak pernah mengembalikannya,” sahut Ryewook sambil tersenyum pada Eunhye.

Eunhye mengernyitkan dahinya. “Ada gadis yang Oppa suka?”

Ryeowook mengangguk pelan dan melanjutkan makan siangnya.

“Beruntung sekali gadis itu,” kata Eunhye. Ada nada kecewa dalam suaranya. Eunhye merasa patah hati saat itu juga. Dia sudah menyukai Ryeowook selama ini dan nyatanya orang yang dia sukai sudah menyukai orang lain.

“Malang sekali nasibku. Oppa selama ini tidak pernah menatapku,” batin Eunhye kecewa.

***

Eunhye menatap kalender yang tergantung di kamarnya. Seharusnya hari ini dia pulang ke Paris tapi kakaknya memintanya untuk menunda kepulangannya satu hari. Eunhye menyetujuinya

karena dia masih berharap bisa bersama Ryeowook. Sejak hari itu Ryeowook sangat disibukan dengan kegiatannya dan mereka tidak dapat bertemu sama sekali.

“Kau jadi mau melanjutkan kuliahmu di Seoul?” tanya Hyemi kakak Eunhye.

“Entahlah Unnie. Aku masih bingung. Aku harus memastikan satu hal dulu,” jawabnya. Satu hal yang harus Eunhye pastikan adalah perasaannya dan perasaan Ryeowook padanya. Andai saja Ryeowook juga menyukainya, dia akan melanjutkan kuliahnya di sini.

Seharian Eunhye dan kakaknya berbelanja. Hari ini mereka menghabiskan waku di Myungdong. Ponselnya tiba-tiba berdering.

“Kau dimana? Jam berapa kau berangkat? Apakah kau sudah di bandara?” tanya Ryeowook panik.

Eunhye bingung. Belum sempat dia berkata, Ryeowook sudah memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyan itu. Eunhye menepuk dahinya, “Aku lupa memberitahu Oppa kalau kau tidak jadi pulang hari ini,” gumam Eunhye.

“Hya!!! Kau dimana? Oppa akan kesana?”

“Mianhae Oppa. Aku lupa memberitahumu kalau aku tidak jadi pulang hari ini. Sekarang aku sedang di Myeongdong bersama Unnie,” jawab Eunhye.

Eunhye mendengar Ryeowook melepaskan napas lega.

“Mianhae Oppa. Jeongmal mianhae,” kata Eunhye memelas.

“Tunggu aku di sana. Jangan kemana-mana,” pinta Ryeowook.

Ryeowook langsung mematikan teleponnya. Eunhye menatap ponselnya dengan bingung. “Kenapa aku harus menunggu? Apa yang terjadi dengan Oppa?”batinnya.

“Ayo kita pulang!” ajak Hyemi.

“Unnie pulang saja dulu. Aku harus menunggu Ryeowook Oppa. Boleh kan Unnie?”

“Ryeowook? Baiklah. Hati-hati ya,” sahut Hyemi. Da sudah bisa menebak yang akan terjadi. Dia senang akhirnya adik kesayangannya mulai menemukan cintanya.

Eunhye duduk menunggu Ryeowook dengan gelisah. Berulang kali dia melihat jam di tangannya. Sudah 30 menit dia menunggu. Eunhye khawatir bagaimana Ryeowook bisa menemukannya. Dia tadi tidak memberitahukan dimana posisinya. Bagaimana kalau ada yang mengenali Ryeowook. Eunhye menghembuskan napasnya berat.

“Akhirnya…” Ryeowook berdiri di hadapan Eunhye dengan napas terengah-engah. Sedari tadi dia berlari mencari Eunhye. Dan sekarang gadis itu ada di depannya.

“Oppa!” pekik Eunhye.

Ryeowook duduk di samping Eunhye dan menyandarkan kepalanya di bahu Eunhye. Eunhye merasakan jantungnya berdetak kencang dan pipinya mulai memanas.

“Bagaimana Oppa bisa menemukanku?” tanya Eunhye.

Ryeowook mengangkat kepalanya dan menatap Eunhye. “Mudah saja. Diriku selalu menuju padamu.”

Eunhye bingung. Ryeowook menggenggam tangan Eunhye, “Eunhye, saranghaeyo,” kata Ryeowook sambil tersenyum dan menatap mata Eunhye.

Eunhye terkejut. Rasanya dirinya ingin terbang. Satu-satunya yang bisa menahannya tetap duduk adalah genggaman tangan Ryeowook. Eunhye merasa ini mimpi tapi genggaman tangan Ryeowook sangat nyata.

“Would you be my girlfriend?” tanya Ryeowook.

Eunhye masih terdiam. Airmata bahagia hampir keluar. Seharusnya Eunhye menjawab “I do” tapi yang bisa dia lakukan hanya mengangguk. Ryeowook memeluknya.

“Oppa, saranghaeyo. Can I love you?” bisik Eunhye.

“Stop love me now because I’ll love you more,” jawab Ryeowook. Ryeowook semakin mempererat pelukannya.

“Hya!!! Bukankah itu Ryeowook Super Junior?!”

Eunhye dan Ryeowook terkejut mendengar teriakan itu. Mereka bertatapan dan tersadar apa yang akan terjadi. Ryeowook menggenggam tangan Eunhye dan berlari. Mereka tertawa senang. Eunhye tidak peduli apapun yang akan terjadi. Baginya hanya ada Ryeowook saat ini.

Setelah cukup jauh, mereka berhenti berlari dan terengah-engah kelelahan.

“Oppa, aku lelah sekali. Rasanya aku kehabisan napas.”

“Perlu Oppa beri napas?” tanya Ryeowook sambil mendekati Eunhye.

-End-

Author’s note:

FF kedua yang violetkecil mau posting disini^^ Lebih suka nulis oneshot karena yang continued FF sampai sekarang belum selesai2, hehe… jadi curcol (^_^)v FF ini udah pernah di post di blog à http://fanfictionschools.wordpress.com

Bagaimana FF ini? Ayo beri komen kalian, Jangan Jadi Silent Reader ya!! ^^ Please… Jebal…

Iklan