fic untuk cntothered yang request ThunderxKrystal. Mohon maaf bikinnya lama, dan hasilnya malah gaje.

Felicidad
All characters here belong to themselves
Felicidad © blackfreesia
Hurt/Comfort
Alternative Universe
Warning: Cerita pasaran, abstrak, dan penuh narasi

[Soleado]

Soojung selalu merasa kebahagian selalu merangkulnya dan tidak pernah pergi menjauh. Dia bukanlah putri dari seorang pengusaha kaya raya, yang setiap hari memakai barang mewah dengan harga selangit. Soojung tidak butuh mobil mewah dengan harga yang menakjubkan,  perhiasan-perhiasan mahal bertahtakan berlian dan terbuat dari emas murni, tidak juga rumah besar dan luas. Soojung tidak membutuhkan semua itu untuk merasa bahagia.

Sebab Soojung memiliki orangtua yang selalu membelainya, merangkulnya dan mencium dengan penuh kasih sayang dan kelembutan yang melimpah ruah. Sebab dia memiliki kakak perempuan bernama Sooyeon, walaupun sering terjadi perselisihan kecil di antara mereka, tapi Sooyeon selalu menyayangi Soojung dan memanjakannya. Dan bagi Soojung itu lebih dari cukup untuk membuatnya merasakan kebahagian yang meluap-luap.

Hidup dengan keluarga yang menyayanginya membuat Soojung selalu gembira setiap hari, seolah Soojung tidak mengenal kesedihan. Dunia Soojung seperti dunia yang selalu disinari sinar hangat matahari, dan dipenuhi bunga warna-warni, tidak ada badai dan hujan yang menggangu. Soojung selalu melengkungkan kedua sudut bibirnya dengan cara yang manis, di saat bersamaan matanya terlihat seperti bulan sabit. Mata Soojung selalu menunjukan sinar kebahagian.  Seolah-seolah dia selalu dirangkul oleh kebahagian.

Soojung ingin terus seperti ini, merasakan kebahagian dari keluarganya yang melimpah ruah.

Soojung selalu yakin, selamanya akan seperti ini.

Dan Soojung salah.

Malangnya kau, Soojung.

[Nublado]

Soojung tidak percaya ini. Kejadiannya begitu cepat dan begitu menyakitkan untuk diingat. Beberapa menit yang lalu, mereka baru saja pulang dari mall, di tengah perjalanan pulang tiba-tiba ada truk sinting yang menabrak mereka, dan yang Soojung lihat terakhir kali adalah kakaknya Sooyeon memeluknya untuk melindunginya dan Soojung menutup matanya. Dan ketika dia membuka matanya, yang dia lihat adalah tiga tubuh orang yang dia sayangi berlumuran darah, dan jantung mereka tak lagi berdetak.

Soojung menangis sejadi-jadinya.

Soojung menjerit sejadi-jadinya.

Soojung bertanya-tanya, kenapa Tuhan begitu kejam pada dirinya? Dosa sebesar apa yang telah dia perbuat hingga Tuhan menampar dengan cobaan. Mengambil sekaligus keluarganya dengan cara seperti ini, membuat mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan.

Tuhan…

Yang benar saja?

Bagaimana bisa Soojung mengatakan ‘tidak apa-apa’?

Soojung hanya bisa meraung-raung, meminta sesuatu yang mustahil pada Tuhan, hidupkan kembali keluargaku.

Soojung telah kehilangan keluarganya. Kini Soojung sendirian dan kesepian. Kini yang Soojung lakukan hanyalah meminta, menangis, meminta lagi, dan kemudian menangis lagi, hingga dia lelah dan tertidur. Soojung tidak ingin lagi mengingat-ingat kejadian menyedihkan itu, kecelakaan itu yang membuat dia kehilangan orangtuanya. Soojung mencoba untuk mengingat-ingat kenangan manis yang pernah terjadi, tapi segala kenangan manis bersama mereka yang direkam otaknya, hanya membuat Soojung semakin merindukan mereka, dan kembali menangis terisak-isak.

Tuhan.

Kenapa kau begitu kejam pada Soojung yang masih berumur enam belas tahun?

Kini Soojung sendirian tanpa keluarganya yang begitu menyayanginya.

Dimana kebahagiannya?

Tidak kebahagian. Hanya kesedihan, dan sepi.

Kemana pergi kebahagian?

Kebahagian telah menguap dan menghilang di udara.

Kebahagian telah patah, kemudian hancur berkeping-keping.

Sekarang Soojung bukanlah Soojung yang dulu periang. Sekarang hanya ada Soojung yang serapuh daun di musim gugur yang begitu mudah ditiup angin dan jatuh menghantam tanah.

[1# Lluvia]

Soojung tidak tahan lagi terhadap cobaan yang menamparnya, yang semakin menyurutkan semangat hidupnya  Dia tidak sanggup terkoyak. Dia sudah tidak memiliki pegangan untuk hidup. Seolah dia adalah jembatan gantung yang talinya hampir putus dan hanya menunggu waktu hingga dia akan jatuh ke jurang yang dalam dan gelap.

Dulu Soojung percaya, ibu peri akan datang padanya selama dia bersikap baik. Ibu peri akan menaburkan bubuk kebahagian dan mengabulkan apapun yang dia inginkan dan membuatnya bahagia. Dulu Soojung percaya, bahwa keajaiban akan datang dan merangkulnya.

Tapi mana ibu perinya? Mana keajaibannya?

Kenapa ibu peri tidak datang dan menaburkan bubuk kebahagian di saat begitu kesepian, dan rapuh? Kenapa dia tidak menaburkan bubuk kebahagian? Kenapa dia tidak menghidupkan keluarga Soojung?

Dan sekarang, Soojung tahu tidak ada gunanya berharap atau menunggu keajaiban datang merangkulnya dan menghapus semuanya masalahnya, seperti penghapus yang menghapus tulisan yang salah. Semua itu hanyalah omong kosong belaka, tidak berdasar!

Dia bukan Cinderella yang akan bertemu dengan ibu peri, yang akan mengubahnya dari seorang yang berdebu menjadi menjadi seorang yang berkilauan, layaknya permata mahal. Atau seperti Aladdin yang mendapatkan lampu ajaib, menggosoknya, dan muncul jin, jin yang akan mengabulkan apapun keinginanmu.

Tidak ada keajaiban

Tidak ibu peri

Tidak ada kebahagian

Betapa bodohnya dia menyangka kata ‘selamanya’ akan selalu menyertai kebahagian.

Betapa bodohnya dia melupakan takdir bisa begitu kejam, membuang kebahagian, dan memberikan kesedihan dan kesendirian.

Bodoh, Bodoh, BODOH.

Soojung hanya remaja yang baru tumbuh, dimana emosinya begitu labil, dan tidak berpikir panjang. Apa yang ada dalam pikirinnya akan segera dia lakukan.

Soojung sendirian, Soojung kesepian.

Soojung merindukan keluarganya. Soojung ingin bertemu keluarganya. Segera.

Karena itulah dia berada di puncak Menara Namsan.

Dia menutup matanya, dan melompat—namun gagal.

Soojung mencoba mengakhiri hidupnya namun gagal, sebab seorang pemuda menariknya, tepat saat dia ingin melompat.

[2# Lluvia]

Soojung mengamuk. Soojung meronta-ronta. Tapi pemuda itu malah menahan tubuh Soojung dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Soojung—untuk menahan Soojung, dia tak membiarkan Soojung melompat—tidak akan pernah. Soojung semakin mengamuk. Soojung semakin meronta-ronta. Soojung menangis, tangisannya menganak sungai di pipinya. Soojung berteriak, meminta orang itu melepaskannya dan membiarkannya melompat—agar dia bisa bertemu keluarganya., agar tidak sendirian lagi, dan tidak kesepian lagi.

“Lepaskan aku! Biarkan aku bertemu keluargaku! Kenapa kau menghalangiku? Kau tidak tahu betapa aku merindukan mereka! Aku sendiran! Aku kesepian!” raung Soojung.

Pemuda itu tahu, dia menyadari, dan mengerti, betapa rapuh dan malangnya Soojung. Gadis yang dia tahan tubuhnya agar tak melompat, serapuh kaca tipis—begitu mudah pecah.

“Kau tahu—“

Apa? Kau tahu apa?

“—aku percaya dibalik suatu cobaan, akan ada kebahagian tersembunyi dibalik semua itu.”

Soojung tidak percaya. Soojung sudah membuang semua yang berlabel kebahagian dan keajaiban.

“—aku percaya dan yakin, nona, pasti akan menemukan kebahagian yang lain. Pasti akan ada seseorang yang tidak akan membiarkan nona sendirian.”

Mustahil!

“Atas dasar apa, kau menyakini hal seperti itu?” tanya Soojung

“Aku percaya, tidak ada manusia yang diciptakan sendirian. Walaupun mereka pergi, pasti akan datang yang lain,” jawab pemuda itu.

Dan kenapa itu tak berlaku pada Soojung?

“Lalu, apa kau percaya, akan ada orang yang datang untuk menghapus kesepianku?”

“Aku percaya—”

Kenapa kau percaya?

“—ada orang yang datang menyingkirkan kesepianmu, dan menggantinya dengan kebahagian—cepat atau lembat.”

Soojung menyadarinya. Pemuda itui mengucapkannya dengan penuh keyakinan, seolah itu bukanlah sesuatu yang mustahil.

Kenapa dia menyakini, hal yang sudah Soojung buang-buang jauh?

Kenapa begitu mudahnya dia mengatakan dan percaya hal seperti itu?

Kenapa ucapannya membuat harapan Soojung membuncah?

Kenapa?

“Yang perlu kau lakukan hanyalah percaya, Soojung-ssi.”

Eh? Bagaimana dia bisa tahu nama Soojung?

Pemuda itu melepaskan tangannya dari pinggang Soojung, dan dia mundur enam langkah. Soojung berbalik, ingin mengetahui sosok pemuda itu.

Soojung tercengang. Soojung terkejut. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa sang pemuda yang mempercayai kebahagian itu adalah orang itu.

Tuhan…

Apa ini mimpi?

Sanghyun-sunbae?”

Dan pemuda bernama Sanghyun itu tersenyum.

To Be Continued

untuk cntothered, ficnya 2shot, gak apa-apa kan? Hmm… mohon maaf scene Thundalnya belum ditampiln. Tunggu chapter selanjutnya ya😀