Title : Blooded Code
Author : Fhaheezh
Length : One shot
Genre : Mystery
Cast :

– Lee Gikwang B2ST

– Fahara (Original Character)

– Kim YoungAh

– Im JinAh (Nana) After School <cameo>

1st published in my first fanfic blog:

http://fhaheezh-fanfiction.blogspot.com/ *

* but this account have been deactivated (privated)

==================================================

“Pada jam 12 lebih 10 menit 10 detik, kau akan menemukan sesuatu yang tak pernah kau lihat pada jam saku lainnya.. simpanlah” ujar seorang wanita memberikan sebuah jam saku perak pada seorang pria di hadapannya. “Kau tidak boleh melihatnya sebelum kau lulus kuliah..” lanjut gadis itu.

“Selama itu kah aku harus menunggu?” Tanya sang pria.

“Karena itu, kau harus menamatkan kuliahmu segera! Janji?” Tanya sang gadis.

“Ne…”

***


BRAK~BRUK~BRUK

Seorang gadis tampak kerepotan membawa koper besarnya. Ia terlihat berusaha keras menarik koper besarnya menuju tempat tinggal barunya, sebuah asrama di Dormitory of Yong-San University. Asrama itu terlihat sepi. Hanya 1, 2 orang saja yang terlihat berlalu lalang. Lorong-lorong asrama itu begitu sunyi-senyap hingga menimbulkan kesan mistik di setiap permukaan dindingnya.

CEKREK~

“Akhirnya sampai juga..” ucap gadis tersebut.

Dia adalah Fahara. Hara, begitu panggilannya, adalah seorang mahasiswi Cum laude Fakultas Ilmu Budaya Korea di sebuah Universitas terkemuka di Indonesia. Ia berhasil mencapai targetnya untuk melanjutkan kuliah di Korea Selatan, negara impiannya.

“Rasanya kayak pengen putus nih kaki.. huffh..” gerutu Hara sambil memijit-mijit kakinya. “Huffh.. sekarang harus beres-beres..” lanjutnya setelah merasa lebih baik setelah mendapat pijitan-pijitan halus dari jari-jemarinya yang cantik.

Dengan cekatan, ia pun mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam koper besarnya. Pakaian, kosmetik, snack, gadget, beberapa frame foto, boneka, dan masih banyak lagi. Ia pun segera meletakkan benda-benda tersebut dengan rapi pada meja yang telah disediakan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, namun Hara masih sibuk memindahkan puluhan pakaiannya ke dalam lemari.

“meong… meoong..meong..” Terdengar suara kucing yang mengeong kelaparan. Hara yang seorang cat-lover mengikuti instingnya, menelusuri suara kucing yang berasal dari balik pintu dormnya.

CKREK~

“Astaga!!” ucap Hara begitu kaget melihat sosok pria tinggi sambil menggendong kucing di depan pintu kamarnya. Wajahnya hampir tak terlihat karena gelapnya ruangan malam hari tanpa cahaya.

“YA! Wae guraeyo?!” ucap pria tersebut dengan bahasa Korea.

“Nuguseyo?” Tanya Hara yang memang fasih berbahasa Korea.

“Kau orang Indonesia? Ku kira siapa..” ucap pria itu memperlihatkan wajahnya.

“Eh? Kau bisa berbicara bahasa Indonesia?” Tanya Hara keheranan.

“Neo paboya? Ini kan asrama khusus pelajar-pelajar dari Indonesia, dan pelajar-pelajar Korea yang mempelajari kebudayaan Indonesia.. aissh..”

“Oh iya,.. hehehe.. tapi kau sedang apa di sini? Ini kan asrama khusus perempuan?” Tanya Hara lagi.

“Banyak tanya sekali! Aku sedang mencari kucingku!” jawab pria itu agak ketus.

“Oh,…mm.. namamu siapa?”

“Lee Gi Kwang-iyeyo..”

“Oh..mm, kalau begitu aku masuk dulu, ada 3 mata kuliah besok jadi aku harus tidur cepat dan jangan menggangguku, arasseo!” ujar Hara. Gi Kwang pun pergi bersama kucing anggora miliknya. Dan Hara pun tak ingin berlama-lama melihat lorong asrama yang sunyi-gelap. Cepat-cepat ia menutup pintunya. Namun ada yang salah. Sesuatu menghalangi pintu tersebut.

“Jam saku?” tanyanya heran. “Gi Kwang-ssi! kau…panggil Hara. Namun terputus karena Gi Kwang sudah tak sedikitpun terlihat batang hidungnya. “Cepat sekali perginya orang itu?” batin Hara.

***

Pagi di akhir musim gugur yang cerah telah datang. Matahari merangkak menyinari dunia. Cahaya perlahan merambat masuk ke asrama Hara melalui celah-celah jendela yang terbuka. Sebuah lingkaran hitam membekas di bawah matanya yang sipit.

“Aissh.. seharusnya aku tidur lebih awal.. mataku jadi seperti ini..” gerutunya sambil bercermin. Setelah merapikan buku-buku dan mempersiapkan pakaiannya, Hara segera menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Ia tidak mandi karena udara di akhir musim gugur mulai terasa begitu dingin. Setelah rapi, ia pun segera berangkat.

***

Seusai kuliah, Hara pun berkeliling fakultasnya untuk beradaptasi dengan keadaan lingkungan di sana. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pria yang tengah terduduk di sebuah kursi taman sambil menggambar sesuatu.

“Itu bukannya Gi Kwang?” benak Hara.

“Hara-ssi!” panggil seseorang dari belakang. Hara pun menoleh dan seorang gadis berambut panjang datang menghampirinya. Hara nampak heran karena ia belum pernah mengenal gadis itu sebelumnya.

“Apa kabar? Namaku Kim Young-Ah.. senang bertemu dengan anda!” ujar gadis itu begitu semangatnya.

Hara hanya melongo keheranan. “Mmm.. maaf tapi kau siapa?”

“Aku junior mu, mohon bantuanmu! Aku mahasiswi semester 3 di Fakultas Sastra Indonesia.. kebetulan kita juga di asrama yang sama..” jelasnya.

“Oh begitu… kau sudah semester 3, berarti kau cukup mengenal Universitas ini bukan?”

“Tentu.. wae guraeseumnikka?”

“Mau membantuku untuk mengenal unviersitas ini lebih dekat? Aku rasa aku harus beradaptasi terlebih dahulu..”

“Oh kalau begitu, ayo kita berkeliling..” ajak Young-Ah.

***

“Senang bisa membantumu Hara sonbaenim!” ujar Young-Ah seusai berkeliling kampus.

“Ne,.. mm.. Young-Ah-ssi, boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Tentu, tanyakan saja..”

“Apa kau mengenal pria yang bernama Lee Gi Kwang?” tanya Hara mengecilkan suaranya.

“Gi Kwang….?”

“Ya, Lee Gi Kwang, kau mengenalnya?”

“Ada apa kau menanyakannya? Apa ia melakukan suatu hal yang buruk padamu?” tanya Young-Ah hati-hati.

“Ah, aniyo! Aku hanya ingin tahu.. kemarin malam-malam sekali dia ke asramaku mencari kucingnya.. aku agak heran karena asramaku kan asrama putri dan untuk apa dia mencari kucingnya malam hari? Aku hanya aneh saja..”

“Sonbaenim, jika Gi Kwang melakukan suatu hal yang aneh kau biarkan saja.. dia memang seperti itu”

“Memangnya.. ada apa?” tanya Hara penasaran.

“Dia….”

“Ehem…!” Tiba-tiba sebuah suara memutuskan pembicaraan Young-Ah.

“Astaga..” ucap Young-Ah kaget.

“Gi Kwang?” ucap Hara begitu Gi Kwang berdiri di ujung lorong memperhatikan mereka berdua yang sedari tadi membicarakan dirinya.

“Sonbaenim, aku harus pergi.. besok kita bicara lagi.. annyeonghigyeseyo..” ucap Young-Ah terburu-buru meninggalkan Hara dan Gi Kwang.

“Hey, tunggu! Ada apa?!” tanya Hara namun Young-Ah tak mempedulikannya. Gi Kwang melangkah mendekat dengan satu tangannya di saku.

“Apa yang kau bicarakan dengan Young-Ah?” tanya Gi Kwang agak sinis.

“Aniya.. eobseoyo..”

“Chongmal?”

“Emm.. ada apa kau ke sini? Mengapa kau sering ke sini? Ini kan asrama putri?” tanya Hara mengalihkan pembicaraan.

“Tidak ada peraturan yang melarang pria masuk ke daerah ini.. yang ada hanya peraturan bahwa pria dilarang masuk ke dalam kamar wanita..” jelas Gi Kwang dengan ketusnya.

Hara mengkerutkan keningnya mendengar jawaban Gi Kwang yang menyebalkan. Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kalung di leher Gi Kwang. Sebuah kalung dengan sebuah jam saku kecil sebagai bandulnya.

“Jam saku ini.. sepertinya aku kenal.. Gi Kwang-ssi, apa kau kehilangan jam saku besar berwarna perak? Aku menemukannya tadi malam.. aku pikir punyamu, karena sebelum kau datang, tidak ada benda apapun di depan kamarku..” ujar Hara panjang lebar. Namun Gi Kwang hanya menatapnya serius. Ia asyik mengemut permen lollipop di mulutnya dan tak sepatah katapun ia ucapkan.

“Hei, kau mengerti apa yang ku ucapkan tidak? Mengapa diam saja?” tanya Hara heran. Keheranannya semakin menjadi-jadi ketika Gi Kwang malah pergi tanpa mengatakan apapun. “Geu sarami,.. aissh~ jinjja!” gerutunya.

***

Malam pun datang dan kembali memberikan kesan mistik di setiap sudut ruangan asrama. Namun Hara tak menghiraukannya karena ia hanya menetap di dalam kamarnya mengerjakan beberapa tugas kuliahnya sambil mendengarkan music dengan headphone mixstyle-nya.

“Meooong~.. meooong…”

Kembali lagi terdengar suara kucing di kamarnya. Namun kali ini bukan dari pintu asramanya, melainkan dari jendela kamarnya.

“Banyak sekali kucing di sini..” gerutu Hara dan kemudian kembali fokus mengerjakan tugasnya.

“Meooong~…” Terdengar kembali suara kucing tersebut dan kali ini membuatnya gerah. Ia jadi tak fokus dengan tugas kuliahnya.

“Kayaknya kucing di Indonesia gak segini rese-nya deh!”

Hara pun menghampiri jendela kamarnya. Ia hanya mendapatkan seekor kucing yang terduduk manis sambil menatap lurus sisi kanan luar kamarnya. Ia pun menelusuri pandangan si Kucing, dan..

“Gi Kwang lagi?” batinnya. “YA! Apa yang kau lakukan di sana!” tanya Hara sedikit berteriak.

Gi Kwang menoleh. “Kau? Memangnya salah jika aku mengajak kucingku bermain di sini? Apa tempat ini juga bagian dari kamarmu?” tanya Gi Kwang nyolot.

Hara menoleh pada jam dindingnya. “Jam sepuluh malam?” benaknya. “YA! Kau pikir aku bodoh? Kau bilang mengajak kucingmu main? Jam sepuluh malam? Apa kau gila?” tanya Hara juga tak kalah nyolot.

“Satu hal yang harus kau tahu, bahwa kucingku sangat sensitif terhadap wanita yang pernah menyayanginya..” ucap Gi Kwang dingin. Pandangannya seolah mengatakan maksud lain.

“Wanita yang pernah menyayanginya? Kau kira kucing-mu itu peliharaanku? Aku juga masih punya si Item di rumah! Dasar aneh..”

Hara pun kembali pada tugas kuliahnya. Namun apa yang Gi Kwang ucapkan semakin membuatnya penasaran. Ia tahu ada maksud lain yang ingin Gi Kwang katakan. Namun ia tak tahu apa itu. Hal itu benar-benar membuatnya bingung hingga tak mampu melanjutkan tugasnya dan memilih mematikan laptopnya dan tidur.

***

Hari-hari telah berlalu. Hara sudah bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Bahkan ia sudah mengenal beberapa teman baru selain Young-Ah, juniornya, dan si misterius Gi Kwang. Namun meski sudah hampir 1 bulan tinggal di asrama, setiap hari ia harus menahan rasa takutnya terhadap kelakuan Gi Kwang yang begitu misterius. Setiap hari, Gi Kwang dan kucing anggora hitamnya selalu ‘mampir’ di belakang kamarnya ataupun di depan pintu kamarnya. Kucingnya selalu mengeong setiap malam. Entah apakah karena kelaparan atau memang ada maksud tertentu.

Malam semakin sunyi senyap. Lampu kamarpun telah dimatikan, dan Hara telah terlelap di ranjangnya.

GUBRAK~ BRUK~

Hara terbangun. “Ehm?”

Terdengar suara berisik di meja belajarnya. Lantas ia segera menyalakan lampu meja di samping ranjangnya.

“Astaga!” Hara sangat kaget. Si Anggora Hitam milik Gi Kwang sudah duduk manis di depan ranjangnya. GLEK~ Hara menelan dalam-dalam air liurnya. Ia benar-benar merasa aneh. Bagaimana bisa kucing itu masuk ke kamarnya?

“Puss.. kok kamu bisa di sini?” tanya Hara yang mencoba untuk mengangkat kucing itu dalam pelukkannya. Tiba-tiba ia menemukan jam saku perak yang pernah ia temukan di depan pintu kamarnya tergeletak di depan ranjangnya.

“Ini… bukannya aku simpan di laci meja? Kenapa bisa di sini?” tanyanya heran. Dalam sekejap bulu-kuduknya sudah berdiri. Ia merasakan sesuatu yang aneh.

Ia meletakkan kucing itu dan mencoba mengambil jam saku itu. Namun kucing anggora itu malah mengeong.

“Meeoong…”

Hara menoleh pada Anggora hitam tersebut. Ia seperti mengatakan sesuatu. Namun Hara semakin tidak mengerti. Cepat-cepat ia menyimpan jam saku itu ke dalam lacinya dan mengeluarkan kucing itu dari kamarnya.

***

Selain itu di kamar Young-Ah, gadis putih cantik itu terlihat gelisah dalam tidurnya. Berkali-kali peluh mengalir deras di pelipisnya.

“Aku tidak tahu apa-apa Gi Kwang! Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak mengerti maksudmu, tolong hentikan! Aku mohon berhenti.. GI KWANG BERHENTI!” teriak Young-Ah yang terbangun dari tidurnya.

KREET~ Terdengar suara pintu kamar Young-Ah berderit pelan. Ia menoleh. Sekelibat bayangan hitam tertangkap pandangannya. Young-Ah hanya menghela nafas dan menutup telinganya.

“Sungguh aku tak tahu apa-apa.. aku mohon jangan ganggu aku, Lee Gi Kwang..” ucap Young-Ah yang semakin takut.

***

Esok paginya, cepat-cepat Hara melangkah ke kamar Young-Ah yang tak jauh dari kamarnya. Udara begitu dingin bahkan nyaris menuju pada titik beku. Namun dengan cepat Hara melangkah sambil terus menggenggam jam saku perak yang telah mengganggu tidurnya tadi malam.

“Young-Ah, bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?” tanya Hara memelas.

Young-Ah terdiam memandangi Hara yang penuh rasa ketakutan. Lingkaran hitam di matanya semakin jelas sejak datang ke asrama itu.

“Mothae..” ucap Young-Ah memalingkan wajahnya dengan tatapan kosong.

“Tapi kenapa? Aku tahu, kau sebenarnya sangat mengerti apa yang terjadi padaku..” ujar Hara semakin histeris. “Siapa Gi Kwang? Kau pasti sudah kenal baik dengannya bukan? Dia terus menggangguku Young-Ah..”

“Kakak..” panggil Young-Ah.

“Apa? katakanlah…”

“………………”

“Apa?”

“Hari ini aku sangat lelah… sebaiknya bicarakan masalah ini lain kali saja..” ucap Young-Ah sambil berusaha menarik keluar Hara dari kamarnya.

Hara terdiam. Tangannya bergetar sambil terus memegang jam saku perak tersebut. Keringatnya mulai mengucur deras meski udara sangat dingin.

***

Malam pun kembali datang. Hara sudah menyiapkan semuanya. Jaket, sarung tangan, semua pakaian penghangat dan senter. Ia bersembunyi di balik tembok tak jauh di belakang kamarnya, menunggu seseorang datang.

“Jeonggam~ah, ke sini..” ucap seorang pria yang baru saja datang ke bagian belakang kamar Hara pada si anggora hitam. Ia tak lain adalah Gi Kwang. Hara terus mengamatinya dari jauh. Gi Kwang terlihat menatapi jendela kamarnya yang sengaja sudah dinyalakan lampunya. Hara pun tak lupa menyalakan Music Player-nya keras-keras agar Gi Kwang tak curiga bahwa sebenarnya ia telah keluar kamar.

Hara terus memperhatikan Gi Kwang yang terus menatap jendela kamarnya. Tiba-tiba Gi Kwang mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya.

“Itu.. seperti kalung jam saku yang pernah ia pakai..” benak Hara. Dan kali ini ia pun yakin bahwa jam saku perak di kamarnya, Gi Kwang, Jeonggam si Anggora hitam saling berhubungan. Ada sesuatu yang telah terjadi di antara 3 hal tersebut.

***

Siang hari yang dingin di bulan Desember. Hara semakin penasaran pada misteri jam saku perak di kamarnya. Seperti biasa ia berangkat ke kampusnya. Sebenarnya Hara tidak ada jadwal kuliah karena sedang libur musim dingin dan akan dimulai lagi bulan maret tahun depan. Namun misteri Jam sakunya harus segera dipecahkan.

Sesampainya di kampus, Hara segera melangkah cepat menuju taman. Ia harus bertemu dengan Gi Kwang. Ia tahu, Gi Kwang sering menghabiskan waktunya untuk menggambar di taman ini. Namun apa yang ia temukan di taman nihil. Tak ada Gi Kwang di sana. Yang ada hanya tumpukkan-tumpukkan tebal salju-salju musim dingin.

“Tidak mungkin, harusnya dia ada di sini…” ucap Hara keheranan.

“Kau mencariku?” tanya seorang pria dari belakang. Hara dengan cepat menoleh.

“Gi Kwang-ssi!” ucap Hara yang kaget melihat sosok Gi Kwang tiba-tiba muncul di belakangnya. Gi Kwang mendekat perlahan.

“Ada apa kau mencariku?”

“Gi Kwang, kau harus menjelaskan apa maksud dari semua ini..”

“Maksud? Memangnya aku melakukan apa?”

“Geotjimariya!! Aku tahu kau yang melakukan semua ini! Katakan padaku sekarang juga, berhenti menerorku seperti ini!”

“Meneror?”

“Berhentilah datang ke kamarku! Berhenti membawa kucing Anggoramu ke kamarku! Berhentilah, aku mohon!! Apa kesalahanku hingga membuatmu seperti ini? Apa aku pernah menyakitimu? Aku mohon hentikan, kau bisa membuatku gila.. kau mengerti?” pinta Hara dengan penuh emosinya.

Matanya berkaca-kaca. Ia tak kuat menahan emosinya karena terror yang ia terima. Tapi tak sedikit pun raut wajah Gi Kwang berubah. Pandangannya kosong namun mengandung maksud tertentu.

“Kau lelah?”

“Gi Kwang, aku mohon….”

“Kau ingin menangis?”

“Gi Kwang, kau…”

“Bukan kau yang seharusnya menangis… tapi aku.. mengapa kau melakukannya padaku?”

“Apa maksudmu?”

“Kau yang berjanji, harusnya kau yang menepati…”

“Gi Kwang, apa maksudmu? Aku sungguh tidak mengerti… aku pernah melakukan apa padamu? Kita baru saja saling kenal, Gi Kwang aku sungguh tidak mengerti…”

Suasananya menjadi begitu aneh. Mata Gi Kwang terlihat berkaca-kaca. Wajah putih pucatnya terlihat begitu sedih. Ia menarik tangan Hara dan memberikan secarik kertas padanya.

“Datanglah nanti malam ke kamarku jika kau ingin tahu apa yang terjadi..” ucapnya lalu meninggalkan Hara yang dihujam dengan ribuan tanda tanya.

***

Sesuai ucapan Gi Kwang, Hara datang pada malam harinya. Gi Kwang memberikan sebuah alamat pada secarik kertas yang ia berikan.

“Dormitory of Yong-San University, asrama pria no. 303.. 12-10-10”

Begitulah tulisan yang tertulis pada alamat tersebut. Meski tak mengerti apa maksud dari ’12-10-10’, dengan penuh rasa penasaran, Hara pun datang ke asrama Gi Kwang.

Gelap. Dingin. Tak ada kata yang dapat mendeskripsikan betapa mengerikannya Gedung asrama pria Yong-San. Sangat sepi. Hara pun tak tahu harus bertanya pada siapa. Namun tiba-tiba datang seorang pria tegap, dan Hara pun menghampirinya.

“Maaf,.. apa kau tahu dimana asrama ini?” tanya Hara menunjukkan alamat yang Gi Kwang berikan. Pria itu tertegun melihat alamat yang Hara berikan.

“Kau lurus saja, setelah itu ada tangga dan kau belok ke kanan.. kamarnya ketiga dari tangga kalau tidak salah..” ucap pria itu. Dan Hara pun mengikuti petunjuk pria tersebut.

Hara benar-benar shock melihat keadaan asrama pria lantai 3 tersebut. Jauh lebih mengerikan dari asrama pria di lantai 1 maupun lantai 2. Bahkan mungkin, tak ada satupun mahasiswa yang tinggal di asrama ini.

“303… apa benar di sini?” ucap Hara sesampainya di kamar 303. Pintunya nyaris tak berfungsi. Bahkan sudah termasuk rusak. Perlahan, Hara membuka pintu tersebut. Dan pintu tersebut mulai berderit pelan.

KREEET~

Sangat gelap. Keadaan kamar itu sangat gelap. Hara tidak yakin jika Gi Kwang benar-benar tinggal di asrama ini. Berdebu, berantakan, ruangan ini lebih tepat di sebut sebagai gudang di bandingkan sebuah kamar. Hara berusaha menyalakan lampunya, namun apa daya lampu tersebut hanya bisa berkedap-kedip layaknya lampu disko. Berbekal senter yang ia bawa, Hara mulai menjelajah ruangan 3×4 meter tersebut.

Tepat di depan pintu kamar sebuah lemari kayu besar menyambut kedatangan Hara dengan daun pintu lemari yang menganga lebar. Sarang laba-laba terlihat sesak memenuhi lemari pakaian kosong tersebut. Sementara itu di samping lemari tersebut, sebuah meja belajar yang cukup lebar juga tak kalah sesaknya dengan sarang laba-laba. Jendela kamarnya pun mengaga lebar. Dari sini, terlihat jelas pandangan taman gedung fakultas tempat Gi Kwang biasa menggambar. Beberapa kotak pensil, buku, sebuah jam tangan, lembaran-lembaran hasil lukisan, bahkan sebotol minyak wangi pria kosong berserakan di atas meja belajar tersebut. Berlanjut ke samping meja belajar, ada sebuah ranjang berdebu dengan seprai yang berantakan seperti baru saja digunakan pemiliknya. Hara duduk di atas ranjang tersebut, dan ranjang tersebut berderit pelan. Sebuah koper kecil terbuka. Dengan hati-hati ia mengeluarkan isi koper tersebut.

“Racun…?”

Hara begitu kaget melihat isi kotak tersebut. Cepat-cepat ia mengembalikan botol racun yang hampir habis isinya itu ke dalam koper. Ia beranjak dari kasur dan melangkah menuju sisi kamar yang lain. Beberapa frame foto, gitar dan 2 pasang sepatu sneakers masih berjejal berantakan di samping pintu kamar. DEG! Betapa kagetnya ia melihat Gi Kwang ada di dalam frame foto tersebut. Dan Hara menyadari bahwa ruangan tersebut benar-benar kamar Gi Kwang.

Foto Gi Kwang dengan berbagai ekspresi ada di dalam frame-frame foto tersebut. Gi Kwang di sana berbeda dengan Gi Kwang yang Hara kenal. Misterius, menyebalkan, tetapi dalam foto itu Gi Kwang tampak ramah, manis, bahkan ia terlihat sangat tampan. Dalam beberapa foto, Jeonggam si angora hitam pun hadir dalam bingkai-bingkai foto tersebut.

Namun Hara kembali shock melihat salah satu frame foto Gi Kwang bersama seorang wanita yang mirip dengannya.

“Aku?” benak Hara melihat Gi Kwang tampak mencium pipi seorang wanita yang mirip dengannya.

“Ah~ bukan,… ini bukan aku!” benak Hara. Cepat-cepat Hara mengembalikan frame foto tersebut. Selain itu, Hara juga menemukan sebuah gambar artikel koran.

“Seorang mahasiwi tewas bunuh diri”

Begitulah tulisan yang tertera pada artikel gambar tersebut. Dan lagi-lagi wajah wanita itu serupa dengannya. Sedikit demi sedikit ia mulai mengerti apa yang terjadi.

“Kau di sini?” tanya Gi Kwang yang datang dengan Jeonggam. Wajahnya sangat dingin seperti biasanya.

“Gi Kwang, apa kau yakin ini kamarmu? aku tidak yakin jika kau mengatakan bahwa ruangan ini adalah sebuah kamar…lebih mirip dengan gudang” ujar Hara yang mulai takut.

“Ini memang bukan kamarku lagi…” ucap Gi Kwang hanya tersenyum kecil.

“Pantas saja…”

“Jin-Ah… aku senang, akhirnya kau akhirnya datang… sekarang aku boleh membuka jam sakunya kan? Aku sangat penasaran, aku tidak akan berhenti jika aku belum tahu isinya…” ucap Gi Kwang. Pandangannya berubah menjadi begitu lembut.

“Jin-Ah? Gi Kwang, aku… aku bukan Jin-Ah, aku Hara…”

“Aku sudah tahu kode-nya, 12-10-10… benarkan?” tanya Gi Kwang yang mulai mendekat pada Hara. Dan Hara perlahan melangkah mundur.

“Jin-Ah,… jangan tinggalkan aku lagi…” ucap Gi Kwang. Matanya kembali mulai berkaca-kaca. Meski takut, Hara begitu iba melihat Gi Kwang yang terlihat begitu sedih. Lantas ia mengusap air mata Gi Kwang.

“Jangan menangis… mungkin aku bukan Jin-Ah, tapi aku mohon berhentilah bersedih seperti ini Lee Gi Kwang…” ucap hara penuh kelembutan. Hara pun memeluknya penuh kasih sayang. “Jadi selama ini kau menganggapku sebagai Jin-Ah…” benak Hara.

***

Hari telah berganti. Meski musim dingin masih berlanjut namun kali ini Hara merasa lebih nyaman karena ia mengerti keadaan Gi Kwang.

“Jadi kakak telah bertemu dengan Gi Kwang?” tanya Young-Ah.

“Ya, kini aku tahu mengapa Gi Kwang seperti ini… ia ditinggal mati kekasihnya yang wajahnya mirip denganku, benarkan?”

“Bagaimana kakak tahu?” tanya Young-Ah penasaran.

“Aku datang ke kamar lamanya di lantai 3, sebetulnya aku tidak yakin kalau itu sebuah kamar.. lebih mirip sebuah gudang…” jelasnya. “Ya sudah, Young-Ah aku mau kembali ke kamar…daah~”

“Tunggu! ada sesuatu yang kakak harus ketahui tentang Gi Kwang…”

“Apa…?”

“Sebetulnya Gi Kwang,… dia… dia sudah meninggal setahun yang lalu…”

“Apa katamu?” tanya Hara yang tak percaya mendengarnya.

“Maaf aku merahasiakannya, tapi sudah beberapa mahasiswi menjadi korbannya, bahkan sampai saat ini arwahnya masih sering menggangguku. Ia selalu memintaku untuk menjelaskan kematian Jin-Ah, kekasihnya, tapi aku sendiri tidak tahu. Sebetulnya aku adalah sahabat Jin-Ah. Jin-Ah tewas bunuh diri, dan tak ada yang tahu apa alasannya… bahkan Gi Kwang pun tak tahu. Sepeninggal Jin-Ah, Gi Kwang begitu depresi. Ia selalu membawa Jeonggam kemanapun, dan selalu mengatakan ‘kodenya 12-10-10 Jin-Ah’, beberapa orang mengatakan ada pesan yang belum Jin-Ah sampaikan pada Gi Kwang melalui angka 12-10-10, hingga Gi Kwang akhirnya depresi berat. Kematian Jin-Ah berlangsung semalam sebelum Gi Kwang di wisuda, dan Gi Kwang bunuh diri seminggu setelah kejadian itu. Ia menenggak racun yang dia ambil dari laboratorium kampus. Ini…bacalah di kamarmu…” ujar Young-Ah memberikan sebuah koran lama.

“Kau serius?” tanya Hara yang mematung kaget. “Kalau begitu akan ku baca nanti…” lanjutnya.

Hara pun meninggalkan Young-Ah dan melangkah menuju kamarnya dengan cepat. Ia mengambil minum dan duduk manis di atas kasurnya, dan mulai membaca artikel koran terbitan 1 tahun yang lalu.

“SEORANG MAHASISWA DITEMUKAN TEWAS MENENGGAK RACUN DI KAMARNYA”

DEG! Bagai disambar petir. Hara benar-benar shock melihat foto mahasiswa pria yang tewas tersebut adalah Lee Gi Kwang. Dalam headline koran tersebut, Gi Kwang tampak terkapar tak berdaya di kasurnya sambil memegang botol racun yang ia lihat di kamar Gi Kwang. Mulutnya berbusa sambil menggenggam kalung berbandul jam saku di tangannya yang lain. Kalung yang sering ia pakai.

Hara benar-benar tak percaya. Ia bangkit dari kasur sambil terus memegang cangkirnya dengan tangannya yang bergetar hebat. Matanya masih menatap gambar headline koran yang ia pegang. Lee Gi Kwang, Pria yang selalu bersikap dingin padanya, pria yang selalu membawa kucing anggora hitam kemana-mana dan pria yang baru saja ia peluk tadi malam sudah tewas 1 tahun yang lalu.

“Tidak mungkin…” ucap Hara tak percaya. Ia juga melihat foto Jeonggam yang juga mati di samping tubuh kaku Gi Kwang.

“Meong~….”

Jeonggam datang. Dalam sekejap saja bulu kuduk Hara berdiri dengan cepat. GLEK~ lagi-lagi Hara menelan air liurnya tak percaya.

PRAANG~ Cangkir yang ia pegang jatuh dan pecah. Jeonggam, Kucing anggora hitam itu seharusnya sudah tidak di sina, seharusnya ia sudah mati.

“Gi Kwang?” panggil Hara. Terlihat sesosok bayangan hitam terlihat lewat di depan pintu kamarnya yang terbuka. Lantas Hara segera mengikuti bayangan tersebut. Namun Gi Kwang tak ada dimana-mana. Hara kembali ke kamarnya dan kini hanya Jeonggam yang datang. Namun Hara menyadari sesuatu. Jeonggam memakai kalung jam saku yang dimiliki Gi Kwang.

“Jam saku? 12-10-10? Apa mungkin Gi Kwang ingin aku membukanya?”

Hara mengingat sesuatu. Jam saku perak yang ia temukan di depan kamarnya. Cepat-cepat ia mengeluarkan Jam saku tersebut.

“12-10-10…? Mungkin jarumnya…”

Dengan pintarnya, Hara memutar jarum jam Jam saku tersebut, dan “KREK~” Jam saku tersebut terbuka. Terdapat sebuah surat di dalamnya.

“Untuk Gi Kwang, pria yang sangat aku cintai…

Ketika kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Terlalu sulit untuk mengatakan hal ini padamu, tapi ketahuilah, kita tak bisa melanjutkan hubungan ini. Seorang pria telah merenggut kehormatanku, aku tak ingin mengatakan ini padamu, karena ini akan mengganggu pikiranmu, hidupmu dan kuliahmu. Kau sudah selangkah menuju akhir masa kuliahmu, jadi aku tak mau membebanimu. Aku tahu kau sangat mencitaiku…jadi tolong maafkan aku, aku harap kau mau mengerti…

p.s: jagalah jeonggam seperti kau menyayangiku…

Kekasihmu, Im Jin-Ah”

Selesai sudah terror yang menghantui Hara selama ini. Hara mengerti, Gi Kwang hanya berusaha memberi tahu Hara untuk membantunya membuka jam saku yang belum sempat ia buka karena kematian Jin-Ah.

***

Musim semi telah datang. Hara sibuk merapikan kamar Gi Kwang dari debu-debu tebal dan berang-barang yang berserakan. Sejak terungkapnya terror yang menghantuinya, Jeonggam apalagi ‘Gi Kwang’ tak pernah mengganggunya. Tak ada lagi suara Jeonggam di malam hari. Semua sudah kembali normal.

“Tenanglah di sana Gi Kwang… aku sudah membantu membuka Jam sakumu dengan kode 12-10-10 mu,… jika sejak awal kau memintanya dengan baik aku akan segera membantumu… seharusnya kau tidak perlu menerorku. Kau tahu? agak sedikit aneh karena kau sudah tidak ada lagi Gi Kwang, sepertinya aku merindukanmu, haha… tapi sudahlah… semua sudah berakhir, berbahagialah dengan Jin-Ah di sana,…” ujar Hara pada sebuah frame foto Gi Kwang dengan Jin-Ah dan Jeonggam.

Setelah merapikan kamar Gi Kwang, Hara kembali ke kamarnya. Dan,.. CKREEK~ Tanpa diketahui, pintu kamar Gi Kwang tertutup dan terkunci.

***

Hara kembali untuk merapikan kamarnya. Ia memilih untuk mencari asrama yang lain agar ia bisa hidup lebih tenang.

“Aku pergi ya Young-Ah,… aku akan memberi tahumu alamat asramaku yang baru jika sudah ku dapatkan asramanya..” ucap Hara yang sudah siap dengan koper besarnya.

“Ya, kak… jaga dirimu baik-baik…”

“Tentu, kau juga jaga diri ya,… annyeonghigyeseyo…” ujar Hara sebagai kata-kata terakhirnya. Dan ia pun meninggalkan Dormitory of Yong-San University yang penuh dengan tragedi kisah cinta yang tragis.

TAMAT