Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Halo! Ini pertama kalinya aku buat FF dan mempublishnya, jadi maaf ya kalo masih banyak banget kekurangannya 🙂

Semua karakter di FF ini murni karanganku kok, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan hahaha 😀

Gumawo buat semuanya yang udah nyempetin baca, dan yang ngasih comment juga jeongmal gumawo! 😀

Kritik dan saran sangat ditunggu, ya..

Happy reading! 😀

Part 8

“Wooow…” Sooyun berdecak kagum saat ia menginjakkan kaki di depan pintu hall yang dipakai untuk acara Winter Ball tahun ini. Di depannya terbentang pintu kayu tinggi yang terbuka lebar, dan di dalamnya ada sebuah ruangan lebar dengan langit-langit tinggi, dinding-dinding coklat mudanya penuh ukiran dan relief bernuansa Roma, sebuah lampu kristal raksasa tergantung indah persis di tengah ruangan.

Vampir-vampir di seluruh penjuru Korea malam ini mengenakan pakaian pesta terbaiknya, lengkap dengan aksesoris dan topeng berbagai macam model yang menyamarkan wajah mereka. Terdengar obrolan mereka memenuhi hall pesta yang terasa mewah dengan lampu-lampu terang dan iringan orkestra di salah satu sisi ruangan.


“Itu keluarga Jung Jihoon,” terdengar beberapa orang berbisik-bisik saat Jihoon dan keenam anaknya memasuki ruangan pesta. Banyak pasang mata tertuju ke arahnya, membuat Sooyun canggung dan menundukkan kepala, tidak biasa diperhatikan begitu banyak pasang mata.

“Sooyun-ah, angkat kepalamu. Mereka memperhatikanmu karena kau sangat cantik malam hari ini.” Cheondoong tersenyum simpul ke adik bungsunya.

“Aku tidak pernah tau Jung Jihoon punya anak perempuan…”

“Sepertinya ini pertama kalinya aku melihat gadis itu.”

“Mungkin itu bukan adiknya, tapi pacar salah satu dari kelima laki-laki itu.”

“Pasti itu anaknya, ia mirip seperti Chaeyoon, almarhumah istri Jung Jihoon.”

“Cantik sekali dia!”

Sooyun hanya berjalan lurus mengikuti ayah dan kelima saudaranya, lalu duduk di salah satu kursi yang melingkari sebuah meja bundar. Berbagai menu makanan dihidangkan, dan disantap dengan lezat. Pelayan tak henti-hentinya berkeliling membawa nampan berisi makanan, atau berbotol-botol darah terbaik, disuguhkan bersamaan dengan champagne.

Di sisi lain ruangan, keluarga Park Jinyoung sudah tiba duluan di ruang pesta dan sedang mengobrol dengan keluarga vampir lainnya. Junho hanya diam dan tiba-tiba ada wangi yang menarik minat indera penciumannya.

Bau darah ini…

“Kau mau kemana?” Min mencegat Junho yang beranjak dari kursinya. “mencari vampir itu?”

Junho menaikkan alisnya, “darimana… kau tau?”

Min tergelak, “Junho-yah, kau ini bodoh atau apa sih, kenapa kau selalu lupa dengan kekuatanku?” Ia menggelengkan kepala heran.

“Ah,” Junho mengangguk tanda mengerti. Ia mengurungkan niatannya untuk berdiri, dan duduk kembali.

“Kok nggak jadi?”

“Ia akan ketakutan jika ia melihatku disini. Kau kan tau apa yang terjadi saat terakhir kali aku bertemu dengannya.” Junho menghela nafas berat.

“Nggak ada yang menyuruhmu menggigitnya, kan?”

“Emang nggak ada, tapi aku nggak bisa menahan diriku. Aku juga nggak mengerti kenapa aku begitu nggak terkendali.”

“Karena kau sudah terikat dengannya, jawaban itu kurang jelas, eh?” Min tersenyum simpul lalu mengobrol dengan Chansung yang duduk di sebelahnya.

“Cheers!” Seluruh isi ruangan mengangkat gelas mereka lalu mengenggak darah segar di dalam gelas bersamaan. Junho hanya menenggak darah yang terasa hambar di lidahnya, lalu beranjak dari kursinya. Lampu ruangan sedikit meredup bersamaan dengan beberapa pasang vampir berjalan ke tengah ruangan yang dibiarkan kosong untuk mulai berdansa.

“Ayo, Sooyun-ah, kita bersenang-senang, kau tidak akan menghabiskan pesta ini dengan duduk saja, kan?” Joon menggandeng tangan Sooyun dan menariknya ke kerumunan vampir-vampir yang seusia dengan mereka.

Tapi hanya sepersekian detik dan Joon sudah menghilang diantara kerumunan, Sooyun berjinjit dan melihat kakak nomor tiganya itu mengajak seorang gadis dengan rambut pirang panjang untuk berdansa.

“Ya! Kenapa kau hanya diam saja, Sooyun-ah?” Mir merangkul adiknya yang tampak linglung di antara kerumunan vampir.

“Memangnya apa yang harus aku lakukan?”

Mir menunjuk ke tengah lantai dansa, “berdansa, tentunya.”

Sooyun menaikkan satu alisnya, “kau bercanda. Aku tidak bisa berdansa, Mir Hyung.” Ia mundur dan berdiri di tepi ruangan.

Mir menghela nafas, “aku ajari, ayo ikuti aku.” Ia menggenggam pergelangan tangan adiknya dan menariknya pelan.

Sooyun hanya menurut saat Mir menariknya ke lantai dansa, orkestra memainkan musik yang bersemangat, diikuti pasangan-pasangan yang bersenda gurau sambil berdansa dengan tempo sedang. Awalnya Sooyun hanya berdiri kaku, namun lama kelamaan ia menikmati suasana itu.

Mir menghilang di tengah kerumunan saat Sooyun tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Bukan, ini bukan karena sepatu 9cm nya, ia mengingat beberapa saat yang lalu, saat semua orang menenggak darah, ia tidak meminumnya, hanya menaruhnya di meja dan beranjak pergi. Sekarang pasti ia kekurangan darah.

Sooyun menghirup nafas dalam-dalam, dan tiba-tiba bau darah yang sangat harum menggelitik indera penciumannya. Bau darah ini… ia memejamkan mata, bola matanya berubah warna menjadi biru berkilauan. Kepala Sooyun terasa berputar. Aku pasti pingsan sebentar lagi…

*

                Junho memandangi lampu kristal diatas kepalanya, ia berdiri dengan diam di tengah kerumunan vampir yang sedang berdansa. Mereka semua mengenakan topeng dan membuat semua orang tampak asing di matanya. Ia sendiri mengenakan topeng hitam yang menyamarkan bagian atas wajahnya.

Bau darah ini… semakin kuat. Apa dia ada di sekitarku? Junho memicingkan mata, ia menebarkan pandangan ke sekelilingnya, pasti dia ada disini.

Bruk! Tiba-tiba punggungnya ditabrak. Junho buru-buru berbalik dan mendapati gadis dengan gaun hitam, topeng hitam, dan bola mata kebiruan yang familiar buat Junho. Nggak perlu waktu lama untuk Junho tau siapa gadis di hadapannya, bau darahnya tidak bisa disembunyikan.

Sooyun membungkuk pelan, “mianhamnida,” ia memicingkan mata untuk fokus pada sosok di depannya. Seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya dengan topeng hitam, rambut pendek kecoklatan. Dan bau darah itu kembali tercium, bahkan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.

Nafasnya memburu. Sooyun mengepalkan tangannya, menahan diri agar nggak menyerang vampir di hadapannya ini. Tahan dirimu, Sooyun-ah. Kau tidak boleh menggigitnya… tubuhnya bergetar, mengingat Junho yang menggigit lehernya dan menghisap darahnya, ia ketakutan.

“Gwaenchana?” Junho memegang kedua lengan Sooyun, “wajahmu pucat sekali. Bola matamu membiru, apa kau kekurangan darah…?” Sooyun hanya diam, ia menghardik tangan Junho dan melangkah mundur.

“Tunggu!” Junho berusaha meraih tangan Sooyun namun ia terlambat. Sooyun berlari sambil tertatih dengan sepatu hak tingginya, keluar dari pintu samping ruangan menuju balkon. Ia bersenger pada pembatas setinggi pinggangnya yang terbuat dari batu. Kepalanya terasa sangat berat dan sakit.

“Jangan mendekat,” Desis Sooyun saat ia mencium bau darah Junho di dekatnya. Junho menghentikan langkahnya, beberapa inci di belakang Sooyun. Namun ia tetap mendekat dan berdiri di samping Sooyun.

“Kubilang… jangan… mendekat…” Suara Sooyun tercekat, rasa haus darah memenuhi seluruh pikirannya dan rasanya ia sangat ingin menggigit vampir di sebelahnya ini. Belum lagi bau darahnya yang begitu manis serasa amat menggodanya.

“Kenapa?”

“Aku… sangat… ingin… menghisap… darahmu…” Sooyun mengaku dengan jujur, ia mengepalkan tangannya, sekuat tenaga menahan diri. Ia memilih menatap pemandangan malam di balkon daripada harus menatap muka laki-laki di sampingnya.

“Kalau begitu,” Junho spontan mengendurkan dasi dan melepas kancing kerahnya, “kau boleh menggigitku.”

“Ha?” Sooyun melirik ke sampingnya, apa ia gila?

“Kau boleh menggigitku,” Ulang Junho, “aku pernah menggigitmu dua kali, dan rasanya kalau kau menggigitku sekarang, itu akan adil bukan?”

“Aku tidak mau,” Tolaknya cepat, “aku tidak jahat sepertimu.” Sindir Sooyun.

Junho terdiam, jadi ia menganggapku jahat? Melihat Sooyun yang semakin lemah dan pucat, Junho meraih leher Sooyun dan mendekatkan lehernya ke wajah Sooyun. “cepat minum darahku, bodoh. Kau mau terkena blood coma?”

*

                “Sudah,” Wooyoung melepaskan tangannya dari leher Junho dan bekas gigitan penuh darah yang tadi ada di lehernya sudah menghilang. “Tunggu di sini.” Wooyoung beranjak dari duduknya di bangku panjang berbahan dasar kayu dan masuk ke dalam ruangan pesta, meninggalkan Junho yang terkulai lemas bersender pada bangku.

Nggak begitu lama, Wooyoung kembali dengan dua gelas darah segar, menyodorkan salah satunya ke Junho lalu menenggak gelas satunya, “Nekat sekali gadis itu menggigitmu di sini, di tempat seramai ini.”

Junho menenggak darah yang ia rasa hambar dari gelasnya, “aku yang menyuruhnya menggigitku.” Bola matanya perlahan kembali berwarna hitam setelah sebelumnya berubah warna menjadi merah.

“Apa?”

“Dia kekurangan darah, dan ia menginginkan darahku.” Jawab Junho singkat. “Aku pernah kehilangan kendali atas diriku dan menggigitnya, jadi, kalau sekarang ia menggigitku, itu adil kan?”

Wooyoung menatap adiknya heran, “Aku baru tau ada vampir yang menawarkan darahnya untk dihisap seperti kau.” Lalu bibirnya melengkung membuat senyuman, “kau… nggak jatuh cinta padanya, kan?”

Junho diam, ia mendongak untuk menatap langit malam, “entahlah. Aku nggak tau. Yang kutau, Sooyun cantik sekali hari ini.” Ia tersenyum lama.

“Lalu, kemana sekarang gadis cantikmu itu pergi? Dia menghisap darahmu dan setelah selesai, dia pergi begitu saja…” Wooyoung berdecak heran.

“Dia ketakutan, tau.” Junho menjawab kalem, “bukan nggak mungkin kau salah paham dan menganggap gadis itu menyerangku. Lalu kau akan menghajarnya dan ia jadi terluka. Maka dari itu tiba-tiba ia pergi saat melihatmu.”

Wooyoung mengangguk-angguk pelan tanda mengerti. “Ya! Kau mau kemana?” Panggilnya saat Junho beranjak pergi. Junho hanya melirik sekilas, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Mencari sosok Sooyun diantara kerumunan.

Lampu ruangan perlahan berubah menggelap, menjadikan suasana romantis terbentuk di dalamnya, dan grup orkestra mulai memainkan musik yang lembut. Beberapa pasangan mulai melangkah ke tengah-tengah lantai dansa, berdansa seolah lantai dansa ini milik mereka berdua.

“Junho-yah,” Junsu menemukan adiknya diantara kerumunan dan merangkulnya hangat, “kenapa kau berdiri disini saja? Kau ini, carilah vampir perempuan untuk kau ajak berdansa. Aku jadi khawatir karena kau tidak pernah berminat untuk berdansa dengan perempuan.”

“Hyung,” Junho melirik ke kakak tertuanya, “ini juga aku sedang mencarinya.” Ia menebarkan pandangan ke sekitarnya, “ah itu dia. Sampai nanti, Hyung.” Ia berjalan cepat menerobos kerumunan dan mendapati Sooyun bersender di salah satu tiang ruangan.

“Kau mau apa?” Ia melangkah mundur, takut Junho akan membalasnya karena gigitannya yang tadi.

“Tunggu,” ia meraih pergelangan tangan Sooyun, “aku… mau… mengajakmu berdansa.”

“Eh?” Sooyun mengerutkan kening, berdansa?

“Aku tidak bisa berdansa.” Sooyun menolak dengan halus.

“Akan kuajari,” Junho menarik tangan Sooyun, menuntunnya ke tengah lantai dansa. Ia berdiri di depan Sooyun dan menaruh kedua tangannya di pinggang Sooyun.

“Sudahlah, ini bukan ide yang bagus,” Sooyun melangkah menjauh namun Junho menarik pinggangnya hingga jarak diantara mereka berdua semakin dekat. Perlahan Junho meletakkan kedua tangan Sooyun melingkari lehernya. Sooyun hanya diam dan menurut, dengan kedua matanya menatap ke dalam mata Junho, harus kuakui matanya bagus sekali…

Aku harap, aku bisa menghentikan waktu sekarang, Junho memandang Sooyun sambil badannya bergerak dan kakinya melangkah mengikuti alunan musik orkestra. Sooyun hanya mengikuti dengan canggung menghasilkan langkah yang kaku dan membuat Junho tertawa kecil.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?” Sooyun merengut, “sudah kubilang, aku tidak bisa berdansa. Dan mengajariku juga bukan ide yang bagus. Kau bisa mencari vampir lain yang lebih pintar berdansa dariku.” Ia melepaskan kedua tangannya dari leher Junho.

“Tapi aku ingin berdansa denganmu.” Bisik Junho di telinga Sooyun dengan kedua tangannya menahan badan Sooyun agar tidak menjauh darinya seperti hal berharga yang tidak akan dilepaskan.

“Eh?” Sooyun menunduk, ia merasakan perasaan aneh yang menghantarkan panas ke seluruh tubuhnya, terutama wajahnya. Ia bisa merasakan wajahnya memerah. Ia pun melingkarkan kedua tangannya di leher Junho dan mulai berdansa lagi.

“Errr… lampunya bagus sekali, ya?” Sooyun mendongak keatas dan terkagum dengan lampu kristal raksasa yang tergantung persis di atas kepalanya, untuk mengalihkan wajahnya saat ia merasa wajah cowok di depannya ini terlampau dekat dengannya.

Junho tersenyum kecil, gadis di depannya ini polos sekali. Mereka masih berdansa, bertatapan sangat lama, hingga Junho mengambil inisiatif mendekatkan wajahnya dan mencium Sooyun tepat di bibir. Ciuman pertamanya…

*

                “Kau lihat Sooyun?” G.O menarik Mir yang sedang mengambil segelas champagne di meja. Mir hanya menggeleng.

“Kenapa memangnya?”

“Nggak, aku hanya khawatir. Ini kan Winter Ball pertama Sooyun, mungkin dia tidak biasa dan belum beradaptasi dengan keadaan seramai ini.”

“Sepertinya, dia sudah beradaptasi, Hyung.” Mir menyeringai, ia menemukan sosok Sooyun di tengah lantai dansa, berdansa dengan vampir laki-laki bertopeng hitam. G.O ikut memandang ke tengah lantai dansa.

“Siapa itu?” Tanya G.O curiga.

“Entahlah, tapi sepertinya dongsaeng kita suka dengannya. Aku bisa melihat senyuman di bibirnya, Hyung.”

Keduanya memperhatikan Sooyun dalam diam, senang melihat fakta bahwa Sooyun bisa menikmati Winter Ball ini.

“Ya! Laki-laki itu benar-benar—” G.O terbelalak saat melihat Junho perlahan mendekatkan wajahnya dan mencium Sooyun di bibir. Namun Mir mencegahnya mendekati mereka, “Biarkan mereka, Hyung.”

“Biarkan, katamu?! Tapi laki-laki itu sembarangan mencium Sooyun!”

“Hyung,” Mir melirik ke G.O, “kau ini seperti nggak pernah muda dan melakukan hal itu saja di Winter Ball. Lagipula, sepertinya Sooyun menyukai laki-laki itu.”

“Aish, kenapa mereka harus berciuman lama sekali sih?!” G.O bertolak pinggang dan gusar melihat adegan di tengah lantai dansa itu.

“Sudahlah, Hyung. Kenapa kau harus begitu frustrasi, sih?”

“Aku kan… hanya ingin melindungi Sooyun, bagaimana kalo laki-laki itu brengsek dan mempermainkan Sooyun? Atau dia tidak serius dengannya?”

“Hyung, kau hanya tidak menerima fakta kalau adik kita sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Sudahlah, jangan begitu khawatir.” Mir menyikut G.O yang masih gusar.

“Hei, kalian berdua membicarakan apa, sih?” Joon merangkul kedua saudaranya dari belakang secara tiba-tiba.

“Adik bungsu kita tampaknya sedang bahagia.” Mir menunjuk ke tengah lantai dansa, dimana Sooyun dan Junho masih berdansa bersama pasangan-pasangan lain.

“Kau tau siapa cowok itu?” tanya G.O.

Joon memicingkan mata, sepertinya aku mengenal rambut merah itu… JUNHO?! Ia tersentak, “kita harus memisahkan mereka.” Ia melangkah dengan pasti ke tengah lantai dansa, dan menarik lengan Sooyun dengan kasar.

“Sooyun-ah, ikuti aku.”

“Ta-tapi—”

“Tidak ada tapi!” Joon menatap Sooyun tajam, lalu menarik lengannya dengan kasar.

“Sooyun-ah!”

“Dan kau,” Joon berbalik dan menunjuk Junho, “jangan pernah dekati Sooyun.”

*

                Sooyun duduk di sofa lebar yang terletak di sudut sepi ruangan, ia menopangkan dagunya dan memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi. Wajahnya memerah waktu mengingat ciumannya tadi, itu ciuman pertamanya… ciuman yang lembut dan hangat, dan rasanya ada perasaan aneh yang berdesir di dada Sooyun.

“Seungho Hyung!” Lamunannya buyar saat kakak tertuanya datang dan duduk di sampingnya, namun Seungho memandangnya dan ekspresi yang tidak biasa.

“Apa benar tadi kau berdansa dengan Junho?” Tanyanya langsung, Sooyun hanya menganggukan kepalanya.

“Kau—” Seungho kehilangan kata-katanya, “Kau kan tau, dia dan saudara-saudaranya itu musuh kita. Kok Kamu bisa sih berdansa dengannya?!”

Sooyun tertunduk, ia menggigit bibir bawahnya, “Tapi, Hyung. Kurasa… dia vampir yang baik.” Belanya, mengingat bagaimana Junho menawarkan darahnya untuk dihisap saat Sooyun kekurangan darah.

“Ya! Kau ini masih terlalu polos, Sooyun-ah. Kau begitu gampang percaya padanya. Vampir yang baik katamu? Kau lupa, ia menggigitmu hingga kau kekurangan darah dan terkena blood coma.”

Ingatan Sooyun tiba-tiba tertuju ke masa lalu, saat ia masih disandera oleh mereka dan Junho tiba-tiba masuk ke kamarnya dan menggigitnya, menghisap darahnya tanpa ampun. Mata Sooyun terasa panas dan berair.

“Tapi, Hyung—”

“Jangan melawan perkataanku!” Nada bicara Seungho meninggi, “kau tau kenapa keluarga kita tidak bisa berdamai dengan keluarga mereka? Karena mereka itu orang-orang jahat.”

Sooyun terdiam, ia menunduk, tidak berani menatap Seungho.

“Jangan bilang… kau jatuh cinta padanya, nggak kan?”

Sooyun tidak menjawab, ia sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan. Ia tidak mengerti seperti apa jatuh cinta itu. Namun ia tidak bisa menyangkal, ada perasaan aneh yang ia rasakan saat ia bertemu dengan vampir itu. Seungho hanya bisa menghela nafas berat dan beranjak pergi.

“G.O,” Seungho menatap serius adiknya yang punya kekuatan mempengaruhi pikiran orang ini, “buat Sooyun melupakan Junho, selamanya.”

*

Iklan