Title             : Ku Cha

Author          : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Genre           : Romance

Length           : Two Shot

Casts            :

– Wang Zi (ex. Bang Bang Tang / Lollipop-F)

– Xiao Xun (Hei Se Hui Mei Mei / Hey Girl!)

– Xiao Yu (Bang Bang Tang / Lollipop-F)

– Ao Quan (Bang Bang Tang / Lollipop-F)

– Xiao Man (ex. Hei Se Hui Mei Mei)

– Xiao Jie (ex. Bang Bang Tang / Lollipop-F) – cameo

– Wei Lian (Bang Bang Tang / Lollipop-F) – cameo

­- Ah Wei (Bang Bang Tang / Lollipop-F) – cameo

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aslinya mau buat One Shot, tapi again ’n again ga’ bisa. Susah banget buat FF One Shot, entah mengapa cerita yang aku buat tidak pernah bisa pendek.

Berhubung sekarang lagi suka banget sama Lollipop dan Hei Se Hui Mei Mei gara – gara nonton drama mereka yang keren abis (Brown Sugar Macchiato & The Legend of Brown Sugar Chivallries) makanya cast nya aku pilih dari member Lollipop dan Hei Se Hui Mei Mei. Judulnya pun terinspirasi dari lagu Ku Cha yang dinyanyikan Lollipop bareng Hei Se Hui Mei Mei.

Maaf kalau ceritanya aneh, jelek, dan tidak mudah dimengerti. Aku masih hijau di dunia tulis menulis FF, jadi mohon bimbingannya.

CHAPTER 1.

“Xiao Xun, shenme le? Kenapa menyuruhku ke sini?”

“Aku bosan sendirian di rumah. Jadi aku mengajakmu ke sini untuk menemaniku.”

Xiao Yu hanya tersenyum.

“Wei shenme?” tanya Xiao Xu.

“Bu shi a. Eh, di sini ada 2 minuman, yang satu untukku, dui bu dui?”

“Dui ya. Minumlah, aku memang sengaja memesannya untukmu.”

Xiao Yu pun segera meminum secangkir teh yang ada di depannya.

“Ai yo, teh ini kenapa rasanya pahit sekali?”

“Ku cha. Apa kau sudah lupa?”

“Xiao Xun, untuk apa lagi kau minum ku cha? Apa hari ini kau merasa sedih?”

“Bu shi a. Aku hanya merasa tidak adil sekali terhadap ku cha ini. Dulu dia adalah teman setiaku saat aku sedang merasa sedih dan kesepian. Tapi setelah aku mulai menemukan kebahagiaanku lagi, aku sudah jarang sekali meminumnya.”

“Hao wa, demi menebus kesalahanku pada ku cha ini aku akan meminumnya sampai habis.”

Xiao Xun hanya tertawa kecil.

4 years ago…………….

“Kecelakaan itu memang tidak melukainya secara fisik, tapi secara psikis, kejadian itu benar – benar mengguncang jiwanya, apalagi dia baru gadis remaja berusia 17 tahun. Keluarganya meninggal di depan matanya, hal ini memang suatu yang sulit untuk diterima.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan Dok? Saya sangat khawatir terhadap kondisi xiao jie.”

“Untuk sementara waktu, biarkan Xiao Xun menenangkan dirinya. Jangan membiarkannya teringat masalah kecelakaan itu di depannya, jiwanya masih labil. Buat dia merasanya nyaman dan aman.”

“Kalau begitu saya mohon permisi. Masih ada pasien yang harus saya tangani.” lanjut dokter.

“Baiklah dok, saya juga akan menemui xiao jie.”

Beberapa hari yang lalu, Xiao Xun sedang berlibur dengan keluarganya. Sampai waktu mereka akan pulang, tiba – tiba saja mobil mereka tertabrak oleh truk. Ayah dan ibu Xiao Xun meninggal seketika di TKP. Untung Xiao Xun masih bisa terselamatkan. Akan tetapi, melihat orang tuanya meninggal di depan matanya, hal ini tak bisa diterima Xiao Xun. Beberapa hari semenjak kematian orang tuanya, dia hanya terdiam sambil menyebut – nyebut ayah dan ibunya. Tatapan matanya kosong. Diajak bicara pun dia tidak menanggapinya.

“Xiao jie, sudah waktunya kau makan. Aku suapi ya?” ucap Fa Hong, pembantu keluarga Xiao Xun. Fa Hong sudah mengabdi di keluarga Xiao Xun bahkan ketika Xiao Xun belum lahir. Karena ayah dan ibunya sibuk bekerja, Fa Hong lah yang menemaninya. Oleh karena itu, Fa Hong sudah menganggap Xiao Xun seperti anaknya sendiri begitu juga Xiao Xun.

Tapi tak ada reaksi dari Xiao Xun. Tatapan matanya tetap kosong. Dia pun terus menyebut – nyebut ayah dan ibunya.

“Xiao jie, kenapa kau begini? Aku sedih melihatmu seperti ini.” Bibi Fa Hong tak kuasa memendam air matanya.

Sementara itu di sebelah kamar Xiao Xun ada seorang pemuda yang sedang terbaring.

“Xiao Yu, aku membawakan buah apel kesukaanmu. Kalau besok aku datang ke sini ternyata buah apel ini belum habis, kau rasakan akibatnya!”

“Xiao Man, kau memberikan sesuatu kepada orang apa harus ada ancamannya seperti itu? Kalau begitu, kau jangan memberikanku sesuatu. Kau menakutkan.”

“Ao Quan, siapa juga yang ingin memberikanmu sesuatu?”

“Hao wa, jika ingin bertengkar jangan di sini.” ucap Xiao Yu sambil tersenyum kecil melihat polah kedua sahabatnya itu.

“Eh, kau sudah bisa tersenyum? Ternyata usahaku selama ini tidak sia – sia.”

“Shenme? Usahamu? Xiao Yu sampai bisa tersenyum seperti itu karena usahaku, kau tidak membantu apa – apa.” sangkal Ao Quan.

“Kalian ini, sudahlah. Berkat kalian berdua aku bisa tersenyum kembali.”

Ao Quan dan Xiao Man pun terdiam dan memandang ke arah Xiao Yu.

“Di dunia ini, hanya kalian berdua lah yang aku punya. Terima kasih kalian telah menemaniku bahkan di saat – saat sulit seperti ini.”

“Ai Yo, sesama teman memang harus saling membantu.”

“Sepertinya kalian harus mencari drummer baru untuk band kita.” ucap Xiao Yu.

“Xiao Yu…” ucap Xiao Man.

“Dengan kakiku yang seperti ini, dokter bilang aku tidak mungkin lagi bisa memainkan drum. Ini memang sesuatu yang berat untukku. Impianku dari dulu adalah menjadi seorang drummer, dan ketika dokter memvonisku seperti itu, rasanya dunia seakan mau runtuh. Tapi aku menyadari, ada hal yang lebih berharga daripada menjadi seorang drummer. Yakni aku tetap bisa hidup dan bisa bersama kalian.”

“Xiao Yu, apapun yang terjadi padamu, percayalah, kami tidak akan meninggalkanmu.” ucap Xiao Man.

Ao Quan pun mengangguk.

………… ………….. ………

“Xiao Yu, Xiao Xun!” ucap Ao Quan.

“Ao Quan, Xiao Man, kenapa kalian bisa tahu kita ada di sini?” tanya Xiao Xun.

“Itu berkat insting tajamku.” ucap Ao Quan membanggakan diri.

“Tak salah namamu Ao Quan, kau memang mirip seekor anjing.” ucap Xiao Man.

“Hao wa, jangan bertengkar lagi.” ucap Xiao Yu.

“Ehm, kebetulan sekali kalian berkumpul di sini. Ada hal yang ingin aku katakan.” ucap Xiao Xun.

“Shenme?” tanya Xiao Yu.

“Besok aku akan pergi ke Beijing. Suami Bibi Hong baru saja meninggal. Aku ingin menghibur Bibi Hong.”

“Aku ikut.” ucap Xiao Yu.

“Bu shi a. Bukankah besok kau ada ujian? Mei guan xi, aku bisa sendiri, jangan terlalu mengkhawatirkan aku.”

…….. …….. ………

Malam semakin larut. Tapi Xiao Yu tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya selalu tertuju kepada Xiao Xun. Akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Xiao Xun, berharap Xiao Xun masih belum tidur.

“Wei!” ucap Xiao Xun.

“Kau masih belum tidur?” tanya Xiao Yu.

“Aku baru saja selesai packing. Sebentar lagi akan tidur. Kenapa meneleponku semalam ini? Kau merindukanku, dui bui dui?”

“Xiao Xun xiao jie memang benar – benar bisa membaca pikiranku. Besok berangkat jam berapa? Aku akan mengantarmu.”

“Aku berangkat jam 10. Kau tidak perlu mengantarku, ujianmu lebih penting. Apa kau sudah belajar?”

“Tentu saja. Bukankah aku berjanji padamu aku akan mendapatkan nilai bagus dalam ujian kali ini?”

Xiao Xun hanya tersenyum.

“Kau di sana harus jaga dirimu baik – baik. Jika semua urusannya sudah selesai, kau cepatlah pulang.”

“Wo zhidao.”

Keesokan harinya…………

Seusai mengikuti ujian, Xiao Yu, Xiao Man, dan Ao Quan berkumpul di kantin kampus mereka.

“Soal ujian tadi benar – benar membuatku menjadi gila. Semua yang aku pelajari tadi malam, tidak ada yang keluar dalam soal.” keluh Xiao Man.

“Itu karena instingmu kurang tinggi. Soal yang tadi keluar, tadi malam sudah aku pelajari semua. Lagipula mau belajar sekeras apa juga percuma, kemampuan otakmu menyerap sesuatu memang payah.”

“Shenme?” ucap Xiao Man kesal sambil memukul kepala Ao Quan.

“Ouch, apa hobimu adalah memukul seseorang? Wanita dengan tabiat buruk sepertimu, apa ada laki – laki yang mau?”

Sementara dua orang temannya sedang bertengkar, Xiao Yu sedang sibuk mengutak – atik komputer tabletnya. Kemudian, pandangannya tertuju pada suatu artikel.

“Tidak mungkin!” ucapnya mengagetkan Ao Quan dan Xiao Man.

“Wei shenme?” tanya Xiao Man dan Ao Quan bersamaan.

“Kita harus ke bandara sekarang.” Ucap Xiao Yu.

Di bandara………………..

“Kenapa ada begitu banyak orang berkerumun di sana? Ada apa sebenarnya?” tanya Ao Quan.

Ternyata pesawat yang terbang menuju Beijing pada pukul 10 tadi mengalami kecelakaan beberapa menit setelah lepas landas. Pesawat ditemukan jatuh di perairan yang letaknya beberapa kilo dari bandara. Pihak bandara telah mendata siapa saja penumpang yang meninggal, luka berat, ringan, dan  yang masih hilang. Xiao Yu perlahan mencari apakah nama Xiao Xun ada di daftar. Dia mendapati nama Xiao Xun ada di daftar penumpang yang hilang.

“Kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi pada Xiao Xun? Malang sekali nasibnya.” ucap Xiao Man tak kuasa menahan tangisnya.

“Kita tidak boleh menyerah, bukankah Xiao Xun masih belum meninggal? Kita percayakan saja kepada petugas untuk mencarinya.” ucap Ao Quan.

Mereka bertiga lantas pergi ke TKP. Butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke sana. Sesampainya di sana, mereka bertiga mencari – cari keberadaan Xiao Xun.

Tampak petugas sedang berusaha menolong penumpang yang terjepit di dalam pesawat. Untung saja perairan itu dangkal, jadi tidak sulit bagi petugas untuk menemukan penumpang yang terjebak di dalam perairan. Mereka bertiga berusaha mencari – cari keberadaan Xiao Xun di tengah – tengah jasad – jasad yang berserakan.

Xiao Yu menemukan sesuatu, tas Xiao Xun.

“Bukankah ini tas Xiao Xun?” ucap Xiao Man.

“Xiao Xun, sebenarnya kau ada di mana? Apa kau baik – baik saja?” ucap Xiao Yu dalam hati.

……….. ……….. ………….

Enam bulan berlalu sejak Xiao Xun dinyatakan hilang dalam kecelakaan pesawat itu……….

“Xiao Xun! Xiao Xun! Kau kira bisa bersembunyi dariku? Baiklah, dalam hitungan ke 10 aku akan bisa menemukanmu. Kau mulailah hitung.”

“I Got You! Benar ‘kan kataku?”

“Wang Zi, kenapa kau selalu bisa menemukanku?”

“Karena kau tidak berubah. Kau selalu bersembunyi di balik pohon ini. Apa tidak ada pohon lain? Kenapa kau terus saja bersembunyi di pohon ini?”

“Pohon ini memberikan kenyamanan dan rasa aman untukku.”

“Eh, kau tidak lapar?”

“Wei shenme? Kau lapar?”

Wang Zi menganggukkan kepalanya.

“Hao de, aku akan memasakkan makanan spesial untukmu. Tahan dulu rasa laparmu.” ucap Xiao Xun.

Sementara Xiao Xun sedang memasak, Wang Zi duduk – duduk di bawah pohon yang terletak di belakang rumahnya. Dia perlahan teringat kejadian ketika dia bertemu Xiao Xun enam bulan yang lalu.

Enam bulan lalu…………….

“Sial sekali hari ini. Kenapa tidak satupun umpanku dimakan oleh ikan – ikan di sini?” keluh Wang Zi.

Wang Zi, pemuda 21 tahun. Ia menghabiskan hidupnya di sebuah desa kecil jauh dari keramaian kota. Dia hidup sendiri, tidak punya keluarga –lebih tepatnya dia tidak tahu siapa sebenarnya keluarganya-. Sedari kecil, dia hidup di panti asuhan. Kemudian saat berusia 14 tahun, dia memutuskan untuk meninggalkan panti asuhan, dia bekerja membanting tulang untuk menghidupi dirinya. Alhasil, sebuah rumah pun berhasil dia dapatkan, meskipun dia masih harus mencicil.

Seminggu sekali dia selalu meluangkan waktu untuk memancing. Hari itu nasibnya tidak sebagus biasanya. Satu ikan pun tak diperolehnya. Akhirnya ia pun berniat untuk pulang sampai muncul suara yang mengurungkannya untuk pulang.

“Suara apa itu? Kenapa sepertinya meminta tolong?” Wang Zi pun menelusuri dari mana suara itu berasal.

Akhirnya Wang Zi pun menemukan asal dari suara tersebut –seorang wanita yang lemah tak berdaya tergeletak di tengah rerumputan-.

“Xiao jie, ni shenme le?” tanya Wang Zi.

“Tolong aku…” ucap wanita itu terbata – bata.

Tak jauh dari tempat wanita itu, Wang Zi melihat ada pesawat yang terjatuh di perairan. Asap yang timbul akibat sisa api begitu menyesakkan. Banyak orang terluka, ada juga yang berusaha untuk keluar dari pesawat, ada yang berusaha berenang sampai ke pinggir. Wang Zi bingung, apa yang harus dilakukannya? Ada begitu banyak orang terluka, sementara dia hanya sendiri. Tidak mungkin dia bisa menolong semua orang. Akhirnya dia pun menelepon polisi. Saat dia hendak menuju ke TKP, wanita itu mencegahnya.

“Kumohon, tolong aku”

Wang Zi menjadi bingung. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa wanita itu ke klinik kesehatan yang tak jauh dari situ.

“Bagaimana keadaan dia?” tanya Wang Zi.

“Dia sudah baikan, untung kau membawanya tepat waktu, jika tidak entah apa yang sudah terjadi padanya. Hanya saja…..”

“Hanya saja apa?”

“Dia mengalami cedera di bagian kepala. Kemungkinan besar, dia akan mengalami amnesia sementara.”

“Amnesia sementara?”

Wanita itu pun bangun.

“Xiao jie, kau sudah bangun? Kau tidak apa – apa?”

“Aku dimana?”

“Kau sekarang sedang diobati oleh dokter. Tadi kau mengalami kecelakaan pesawat.”

“Ni shi shui?”

“Ah, wo jiao Wang Zi. Ni jiao shenme ming zi?”

“Wo…. wo…. wo shi shui?”

“Kau tidak mengenali dirimu sendiri?”

Wanita itu menggelengkan kepalanya.

“Benar kata dokter itu. Ai yo, apa yang harus aku lakukan?” kemudian Wang Zi melihat gelang yang dipakai wanita itu. Gelang itu bertuliskan Xiao Xun.

Sejak saat itu, Wang Zi memanggilnya Xiao Xun. Karena dia tidak bisa ingat apapun, Wang Zi pun membawanya pulang ke rumah. Wang Zi tidur di kursi sedang wanita itu tidur di kamar Wang Zi.

……….. ………… ……….

Enam bulan berlalu semenjak peristiwa itu. Xiao Xun masih tinggal bersama Wang Zi. Saat Wang Zi bekerja, Xiao Xun membersihkan rumah, mencuci baju, dan memasak. Mereka berdua layaknya sepasang suami istri. Tak jarang Xiao Xun juga membantu Wang Zi bekerja.

“Wang Zi!” ucap Xiao Xun melihat Wang Zi sedang tertidur dengan pulasnya sambil bersandar di pohon.

“Wang Zi, bangun, makanannya sudah siap.” ucap Xiao Xun.

Karena tak juga bangun, Xiao Xun pun menggoyang – goyangkan tubuh Wang Zi. Merasa terganggu, Wang Zi pun bangun. Xiao Xun kaget melihat Wang Zi terbangun dan menatapnya begitu tajam dalam jarak sedekat itu. Ia  sempat kehilangan keseimbangan hingga ia terjatuh di pelukan Wang Zi. Buru – buru Xiao Xun bangun.

“Ni shenme le?” tanya Wang Zi.

“Ehm, itu, eh, makanannya sudah siap. Ayo makan, keburu dingin.” ucap Xiao Xun salah tingkah.

Xiao Xun memasak belut goreng dengan saus pedas kesukaan Wang Zi.

“Wa sei, kau benar – benar tahu apa yang aku mau.”

“Enak tidak?” tanya Xiao Xun.

Wang Zi menganggukkan kepalanya.

“Kau jagonya dalam urusan memasak” puji Wang Zi.

………… …………. ………….

“Sudah enam bulan kita mencari keberadaan Xiao Xun. Tapi kenapa kita belum juga bisa menemukannya?” keluh Ao Quan

“Semoga saja Xiao Xun baik – baik saja dimanapun dia berada.” ucap Xiao Man.

“Dia akan baik – baik saja.” ucap Xiao Yu.

“Xiao Yu……..”

“Aku yakin dia pasti baik – baik saja. Dia sudah berjanji padaku  dia akan menjaga dirinya baik – baik.”

“Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang? Menunggu?” tanya Ao Quan.

“Jangan menyerah. Kita harus tetap mencarinya. Aku yakin kita pasti akan bisa menemukan dia.” ucap Xiao Yu.

“Xiao Xun, aku percaya kau akan baik – baik saja. Aku akan tetap berusaha mencarimu, aku tidak akan menyerah. Aku dulu yang menyuruhmu untuk tidak menyerah, sekarang aku pun harus melakukan hal yang sama. Tunggulah aku.”

4 tahun yang lalu……………….

Untuk menghilangkan kejenuhan, Bibi Hong mengajak Xiao Xun berjalan – jalan di sekitar taman rumah sakit.

“Xiao jie, lihatlah, bunga – bunganya begitu indah ’kan?”

Reaksi Xiao Xun sama seperti sebelumnya, tetap diam dengan tatapan kosong.

“Xiao jie, dengan cara apa lagi aku bisa membuatmu tertawa seperti dulu lagi?” Bibi Hong tak kuasa membendung tangisnya.

Di saat yang bersamaan, Xiao Yu juga sedang berjalan – jalan  di sekitar taman rumah sakit dengan memakai tongkat penyangga, dikarenakan kakinya masih belum bisa berjalan normal. Melihat ada orang tua yang sedang menangis, batin Xiao Yu tersentuh. Ia tidak tega melihat hal itu. Ia pun menghampiri orang tua tersebut.

“Bibi, kenapa menangis?”

“Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membuat xiao jie kembali seperti dulu lagi. Melihatnya begini, aku sangat sedih, batinku sangat tersiksa.”

“Maksud bibi gadis yang sedang duduk di sebelah bibi?”

Orang tua yang dimaksud Xiao Yu adalah Bibi Fa Hong. Bibi Hong pun menceritakan kejadian yang menimpa Xiao Xun sehingga ia menjadi seperti ini.

“Baiklah bi, masalah ini serahkan padaku saja. Bibi istirahatlah dulu”

“Tuan, kau…..”

“Panggil saja Xiao Yu. Mei shenme.”

Setelah bibi Hong pergi, Xiao Yu mulai mencoba mendekati Xiao Xun.

“Namamu Xiao Xun ’kan? Perkenalkan, namaku Xiao Yu. Mungkin kau bertanya – tanya kenapa aku ada di sini. Aku hanya ingin membantu bibi tadi. Melihatnya menangis, aku jadi teringat ibuku dulu ketika menangis. Batinku ikut merasa sedih melihatnya. Bibi Hong sudah menceritakan semua yang telah kau alami. Jujur saja, apa yang kau rasakan aku bisa merasakannya. Aku juga mengalami hal yang sama denganmu. Saat aku masih kecil, ayah dan ibuku telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Sejak saat itu, aku hidup sendirian. Aku tidak mempunyai saudara atau kerabat. Kau bisa bayangkan bagaimana rasanya menjadi diriku. Kala itu aku ingin sekali segera menyusul orang tuaku, tapi aku ingat aku berjanji pada ayah dan ibuku jika kelak aku akan menjadi seseorang yang berguna dan berhasil. Akhirnya aku urungkan niatku untuk mengakhiri hidup dan berusaha agar aku bisa menepati janji yang aku buat. Aku pikir nasib buruk tidak akan menjumpaiku lagi. Ternyata aku salah, beberapa hari yang lalu, aku mengalami kecelakaan motor. Kakiku terluka cukup parah. Dokter bilang aku tidak bisa lagi main drum karena akan semakin memperparah kakiku. Seorang drummer tidak bisa main drum lagi. Kau tahu bagaimana rasanya? Jika dihitung – hitung, sebenarnya nasibmu jauh lebih beruntung daripada aku. Tapi kenapa kau langsung menyerah begitu saja? Kau kira dengan berbuat begitu orang tuamu akan senang? Kau salah jika berpikiran begitu. Orang tuamu di sana akan merasa sedih dan akan menyalahkan diri mereka sendiri. Itu yang kau mau? Setidaknya orang tuaku pasti akan merasa bangga terhadapku, aku sama sekali tidak menyerah meskipun banyak kesulitan menghadang.”

Xiao Yu bercerita panjang lebar. Xiao Xun bukannya tidak mendengarnya. Ia mendengar tiap kata yang dilontarkan oleh Xiao Yu hingga air matanya pun perlahan mulai berjatuhan.

“Kau terus – terusan begini, selain menyakiti dirimu sendiri juga akan menyakiti kedua orang tuamu termasuk Bibi Hong. Apa Bibi Hong hanya mengurusimu seorang? Kau sudah besar, jangan lagi bertingkah laku seperti anak kecil.”

Beberapa hari kemudian……………

“Bibi, bagaimana dengan Xiao Xun?” tanya Xiao Yu.

Bibi Hong menggelengkan kepalanya.

“Masih belum ada perubahan.”

“Bibi tenang saja, sebentar lagi dia akan kembali seperti semula.”

“Xie xie. Kau telah banyak membantu. Padahal kita belum saling kenal sebelumnya, tapi kenapa kau mau membantuku?”

“Bibi mengingatkanku pada ibuku. Selain itu, aku merasa senasib dengan Xiao Xun.”

“Kau benar – benar pemuda yang baik. Beruntung sekali ayah dan ibumu mempunyai anak sepertimu.” ucap Bibi Hong seraya memeluk Xiao Yu.

Xiao Yu tak kehilangan akal. Atas izin dari Bibi Hong, ia membawa Xiao Xun keluar. Kali ini dia mengenalkan Xiao Xun pada Xiao Man dan Ao Quan. Xiao Yu ingin menunjukkan pada Xiao Xun jika sebenarnya kita tidaklah sendiri. Masih banyak orang – orang yang mempedulikan kita. Dengan tingkah konyolnya, Ao Quan mulai menggoda Xiao Xun.

Usaha lain yang dilakukan Xiao Yu adalah mengajak Xiao Xun menemui anak – anak kecil yang kehilangan orang tuanya. Tapi mereka tetap bersemangat menjalani hidup. Xiao Yu juga selalu mengajak Xiao Xun bicara walaupun bicara dengan Xiao Xun sama halnya bicara dengan tembok. Meskipun usahanya selama ini nampak tak membuahkan hasil, tapi Xiao Yu sama sekali tidak menyerah. Suatu ketika, Xiao Yu mengajak Xiao Xun ke belakang rumah sakit. Pemandangannya sangat indah.

“Pemandangan indah seperti ini, sayang sekali jika dilewatkan.” ucap Xiao Yu.

Xiao Yu terlampau senang sampai – sampai dia tidak menyadari rumputnya begitu licin sehingga dia pun terpeleset dan tergelincir ke bawah.

“Tolong!!!!!” ucap Xiao Yu.

Xiao Xun yang sedari tadi berada di atas kursi rodanya, bukannya tidak ingin menolong. Kata hatinya menyuruhnya untuk menolong Xiao Yu. Akhirnya setelah agak lama berpikir, Xiao Xun beranjak dari kursi rodanya untuk menolong Xiao Yu.

“Xiao Yu!!!” Xiao Xun berteriak – teriak memanggil nama Xiao Yu. Tapi tak kunjung ada jawaban dari Xiao Yu.

“Xiao Yu! Kau dimana? Jangan membuatku takut!” Xiao Xun mulai menangis.

Saat Xiao Xun hampir frustasi mencari keberadaan Xiao Yu, tiba – tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang.

“Xiao jie, mencariku?”

“Xiao Yu!”

“Ternyata dengan cara seperti ini baru bisa membuatmu bicara.” ucap Xiao Yu sambil tersenyum kecil.

“Kau…… kau…. keterlaluan!”

“Kau begitu mengkhawatirkanku sampai menangis seperti itu? Ini pertama kalinya ada orang yang menangis karena aku.”

Sejak kejadian itulah, perlahan Xiao Xun mulai kembali ke dirinya yang dulu. Berkat Xiao Yu, hari – hari gelap Xiao Xun mulai berubah menjadi hari yang cerah. Xiao Xun mulai menata kembali hidupnya. Agar Xiao Xun tidak terus teringat akan kejadian buruk itu, bibi Hong membelikan sebuah rumah baru yang jauh dari rumah Xiao Xun sebelumnya. Hari – hari mereka lewati berdua dengan mengandalkan warisan dari ayah Xiao Xun yang tidak akan habis 100 turunan. Rumah baru, kehidupan baru, dan cerita yang baru. Xiao Xun juga bersekolah di tempat yang sama dengan Xiao Yu, alhasil mereka berdua pun makin hari makin lengket saja.

………. ………… ………..

“Sepagi ini kau sudah mau bekerja?” tanya Xiao Xun.

“Kemarin aku baru saja mendapatkan sebuah kerja part time di pasar. Lumayan lah untuk menambah pemasukan.” ucap Wang Zi.

Wajah Xiao Xun berubah murah.

“Wei shenme?” tanya Wang Zi.

“Dui bu qi. Aku merasa menjadi beban bagimu. Aku tidak bisa membantumu apa – apa, hanya bisa menyusahkanmu saja. Tiap hari kau banting tulang untuk menambah pemasukan, sedangkan aku malah sering menghabiskannya.”

“Ai yo, kenapa bilang dui bu qi? Seharusnya kau bilang xie xie. Aku telah banyak menolongmu tapi kau malah bilang dui bu qi. Kau jangan terlalu banyak memikirkan hal itu, berkat ada dirimu, aku bisa mendapatkan banyak uang. Aku juga tidak perlu repot – repot masak dan mencuci baju. Bukankah kita saling menguntungkan?”

“Wang Zi, xie xie. Kau begitu baik padaku.” Xiao Xun spontan memeluk Wang Zi.

Mendadak muka Wang Zi berubah menjadi merah padam.

“Wei shenme jantungku berdetak secepat ini? Aneh, tidak seperti biasanya.” batin Wang Zi.

“Kenapa jantungmu berdetak cepat sekali?” tanya Xiao Xun.

“Shenme? K…..k… kau… kau bicara apa? Jangan bicara sembarangan!” ucap Wang Zi salting.

“Eh, jika aku membantumu bekerja keyi ma?”

“Bu keyi!”

“Wei shenme?”

“Ini pekerjaan berat. Bukan pekerjaan untuk seorang wanita”

“Tapi aku ingin membantumu, aku mohon, boleh ya?”

“Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Ah, hao wa, kau boleh membantuku bekerja.”

“Shenme? Xie xie!” Xiao Xun senang bukan main.

Di sisi lain…………….

“Ao Quan, jika ingin membeli sayur – sayuran kenapa tidak membelinya di supermarket saja?” keluh Xiao Man.

“Di pasar harganya jauh lebih murah dan lebih sehat”

“Ai yo, dasar orang pelit, terhadap dirinya saja pelit seperti itu, apalagi dengan orang lain.”

“Wei, siapa yang pelit? Aku hanya irit, daripada uang kita buang sia – sia, lebih baik jika kita menabungnya untuk kebutuhan masa depan. Aku tidak sepertimu yang tidak punya pikiran jauh ke depan, yang hanya memikirkan bagaimana mempercantik diri.”

“Kecantikan adalah modal utama bagi wanita, bu zhidao ma?”

“Kau menghabiskan banyak uang untuk mempercantik dirimu, tapi kenapa sampai sekarang kau tidak ada perubahan? Tetap seperti itik buruk rupa!”

“Wei! Apa yang bisa keluar dari mulutmu hanya kata – kata pedas seperti itu? Kalau aku itik buruk rupa, lalu kau apa? Kau bahkan lebih buruk daripada aku, dasar Shrek!”

“Kau mengataiku apa?”

“Ai Yo, kau tidak mendengarnya? Aku bilang kau itu SHREK!”

“Dasar itik buruk rupa!”

Tak henti – hentinya mereka bertengkar. Sampai – sampai orang – orang yang ada di sekitar memperhatikan mereka.

Wang Zi bekerja sebagai kuli panggul part time di pasar. Xiao Xun membantu membawa barang – barang yang tidak terlalu berat. Hingga tak terasa waktu kerja mereka sudah habis.

“Wang Zi, minumlah” ucap Xiao Xun menyerahkan sebotol air mineral untuk Wang Zi.

“Kau tidak lelah?” tanya Wang Zi.

“Kau jauh lebih lelah daripada aku.”

Mereka pun berjalan pulang. Saat mereka melewati sebuah toko pakaian, Wang Zi teringat akan Xiao Xun. Ia pun berhenti sejenak  di depan toko itu.

“Selama ini aku tidak pernah membelikan baju yang pantas untuk Xiao Xun. Aku selalu memberinya baju hasil jualanku yang tidak laku, kadang juga diberi orang. Kemeja kusut, celana ¾ yang sudah robek sana sini itu yang selalu dikenakannya. Kenapa dia sama sekali tidak protes? Apa dia tidak mau tampil cantik seperti wanita – wanita lain?” batin Wang Zi.

“Wang Zi, kenapa berdiri di situ? Ayo pulang, aku akan masak enak hari ini.” ucap Xiao Xun sambil menarik tangan Wang Zi.

Xiao Man nampak menemani Ao Quan berbelanja beberapa sayuran. Rupanya mereka lelah bertengkar. Saat sedang sibuk – sibuknya memilih sayuran, sekilas dia melihat seseorang yang tidak asing.

“Xi… Xiao Xun!” ucap Ao Quan.

“Shenme?” tanya Xiao Man.

“Itu, di sana, tadi aku melihat Xiao Xun berjalan ke arah sana!” ucap Ao Quan sambil menunjuk arah yang ia maksud.

“Kau serius?”

“Untuk memastikannya, kita kejar saja.”

Xiao Xun dan Wang Zi berhenti sebentar untuk membeli beberapa sayuran.

“Wang Zi, hari ini kau mau makan apa?” tanya Xiao Xun.

“Terserah, yang penting aku bisa makan.” ucap Wang Zi.

“Bibi, aku beli kentang dan jagungnya.” ucap Xiao Xun.

Setelah membeli sayuran, mereka pun berjalan pulang. Mereka tidak tahu jika Ao Quan dan Xiao Man berusaha mengejar mereka.

“Ao Quan, apa kau yakin yang tadi kau lihat adalah Xiao Xun?” tanya Xiao Man yang nampak lelah setelah berlari cukup lama.

“Mataku ini normal dan masih sangat normal. Lagipula instingku mengatakan jika dia memang Xiao Xun.”

………… ………. ………….

Sudah satu jam lebih mereka mencari Xiao Xun tapi tak jua ketemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang dan menemui Xiao Yu.

“Shenme? Kau bilang tadi kau melihat Xiao Xun?”

“Dui ya.”

“Kenapa kalian tidak mengejarnya?”

“Kita sudah berusaha mencarinya selama 1 jam lebih, tapi kau tahu sendiri di pasar ada begitu banyak orang.” ucap Ao Quan.

“Hao wa, besok pagi kita pergi ke sana memastikan apakah yang tadi kau lihat benar Xiao Xun atau tidak.”

Di rumah Wang Zi…………..

“Makanan sudah matang!” ucap Xiao Xun.

“Ai yo, baunya harum sekali.” ucap Wang Zi.

“Setelah ini kau pergi bekerja lagi?”

“Dui ya. Aku harus menjual beberapa helai baju ini, jika tidak habis terjual, bisa dikenai marah lagi oleh bos”

“Oh ya, Xiao Xun, ada yang ingin aku berikan padamu?”

“Shenme?”

Xiao Xun memberikan sebuah baju kepada Xiao Xun. Baju terusan berwarna kuning motif bunga yang sangat cantik.

“Aku tidak tahu bagaimana seleramu, jika kau tidak suka lain kali aku belikan lagi.”

Xiao Xun hanya memandangi baju itu dengan muka berkaca – kaca.

“Wei shenme? Kenapa kau menangis? Kau tidak senang menerimanya?” tanya Wang Zi.

Xiao Xun menggelengkan kepala.

“Aku, aku hanya terlalu senang. Bukankah daripada membelikanku baju lebih baik uangnya kau simpan untuk dirimu sendiri?”

“Sudahlah, aku hanya membelikanmu baju. Kenapa kau berkata seolah – olah aku melakukan sebuah hal besar?”

“Xie xie.” ucap Xiao Xun sambil memeluk Wang Zi erat.

“Aku tahu kata terima kasih saja belum cukup untuk membalas semua jasamu kepadaku. Aku berjanji akan berbuat baik kepadamu, tidak akan mengecewakanmu.”

“Tidakkah kau merasa ini terlalu berlebihan?” ucap Wang Zi dengan sedikit gemetar.

“Aku mendengarnya lagi.” ucap Xiao Xun.

“Ting shenme?”

“Suara detak jantungmu yang begitu cepat.”

Wang Zi buru – buru melepaskan pelukan Xiao Xun karena takut Xiao Xun berpikiran yang tidak – tidak tentangnya.

“Aku pergi dulu. Kau jaga rumah baik – baik.”

………. ………. …………

Ao Quan, Xiao Man, dan Xiao Yu berada di pasar dimana Ao Quan melihat Xiao Xun kemarin.

“Di sini tempatnya?” tanya Xiao Yu.

“Dui ya. Kita tunggu saja” ucap Ao Quan.

Sementara itu, Xiao Xun sedang sibuk menyiapkan makanan.

“Makanan sudah siap!” ucap Xiao Xun.

“Hari ini apa kau mau ikut lagi denganku ke pasar?” tanya

Xiao Xun mengangguk.

“Setelah selesai makan, kita langsung berangkat.”

Wang Zi telah menghabiskan makanannya. Kemudian ia minum beberapa teguk air.

“Sssh, zhe shi ma?”

“Zhe shi ku cha. Bagaimana, rasanya enak ’kan?”

“Enak kau bilang? Ini sangat pahit, apa kau tidak menambahkan gula ke dalamnya?”

“Justru ini yang murni dan menyehatkan. Dengan minum ku cha ini semua kepahitan dalam hatimu akan hilang. Selain itu ku cha juga bisa menghangatkan tubuhmu, sehingga kau bisa merasakan ketenangan dalam dirimu.”

“Siapa yang memberitahumu tentang hal ini?”

Xiao Xun terlihat bingung, sepertinya dia memikirkan sesuatu. Dia berusaha mengingat siapa yang memberitahunya tentang ku cha tersebut. Kemudian dalam pikirannya muncul sesosok wanita tua.

“Xiao jie, jangan menangis lagi. Bibi membuatkan ku cha untukmu. Kalau kau minum ini, rasa sedihmu akan hilang.”

Begitulah apa yang dikatakan wanita tua.

“Xiao Xun, ni shi shenme?” tanya Wang Zi melihat Xiao Xun yang sedari tadi nampak sedang melamun.

“Shenme? Ah, mei shi. Mei shi a. Kita berangkat sekarang?”

Ao Quan, Xiao Yu, dan Xiao Man sudah menunggu lebih dari 2 jam tapi tak juga menjumpai Xiao Xun.

“Sudah dua jam kita di sini, tapi belum juga menemukan batang hidungnya Xiao Xun. Ao Quan, jangan – jangan kemarin kau salah lihat?” tanya Xiao Man.

“Mata elangku ini tak pernah salah dalam melihat. Jangan bandingkan mata elangku ini dengan mata siputmu itu.”

“Shenme? Kemarin kau bilang aku itik buruk rupa, sekarang kau bilang aku mata siput. Apa kau tidak punya kaca di rumah? Berkacalah dulu sebelum kau bicara. Kau tidak lebih baik daripada aku.” ucap Xiao Man.

“Sudah… sudah… Jangan bertengkar lagi. Ingat tujuan awal kita kemari.” ucap Xiao Yu menengahi.

Ao Quan dan Xiao Man terdiam.

“Begini saja, kita berpencar mencarinya.” Ucap Xiao Yu.

“Baiklah!” ucap Ao Quan dan Xiao Man bersamaan.

Mereka pun mulai berpencar mencari keberadaan Xiao Xun.

Tak mudah memang menemukan satu orang di tempat yang banyak orang seperti ini. Tapi Xiao Yu sama sekali tidak menyerah. Sepertinya semangat Xiao Yu membuahkan hasil. Di satu sudut pasar, dia melihat seseorang yang mirip sekali dengan Xiao Xun.

“Xiao Xun!” ucap Xiao Yu penuh rasa senang.

Tapi saat Xiao Yu hendak mendekat ke arah Xiao Xun, ada seorang pria yang datang menghampirinya. Mereka berdua kemudian pergi entah ke mana. Tak mau kehilangan jejak, Xiao Yu mengikuti mereka dari belakang.

Xiao Xun terlihat memasuki sebuah rumah.

“Kau tidak istirahat dulu?” tanya Xiao Xun.

“Aku sudah terlambat. Aku pergi dulu. Jaga rumah baik – baik.” ucap Wang Zi.

“Cepat pulang, aku akan memasak makanan spesial untukmu.” ucap Xiao Xun.

“Siapa pria itu sebenarnya? Kenapa ia bisa bersama Xiao Xun? Apakah mereka tinggal bersama?” pertanyaan itu terus terlontar di benak Xiao Yu.

Akhirnya Xiao Yu menguatkan tekadnya untuk menemui Xiao Xun. Perlahan, ia mengetuk rumah itu. Tak berapa lama kemudian, pintu rumah pun terbuka.

“Shui ya?” tanya Xiao Xun.

“Xiao Xun? Ternyata benar ini kau” ucap Xiao Yu sambil memegang pipi Xiao Xun seakan tak percaya ini benar terjadi.

“Ni shi shui? Kenapa bisa mengetahui namaku?” Xiao Xun sedikit ketakutan.

“Xiao Xun, jangan bergurau seperti itu.”

“Aku tidak bergurau. Aku memang tidak mengenalimu.” ucap Xiao Xun merasa asing dengan sosok yang ada di depannya.

“Shenme? Kau tidak ingat siapa aku?” tanya Xiao Yu tak percaya jika Xiao Xun tidak mengenalnya.

………….. ………….. ……….

CHAPTER 2

 

Xiao Xun tak berani mempersilakan Xiao Yu masuk. Karena Wang Zi berpesan agar tidak membiarkan orang asing masuk ke rumah. Xiao Xun pun akhirnya hanya berani berbicara dengan Xiao Yu di halaman depan rumah. Sedari tadi, dia berusaha meyakinkan Xiao Xun jika Xiao Yu adalah kekasihnya, mereka saling kenal. Namun Xiao Xun sama sekali tidak bisa mengingatnya.

“Wei!” ucap Xiao Yu saat menerima telepon dari Ao Quan.

“Kau di mana?” tanya Ao Quan.

Xiao Yu pun memberikan alamat rumah Xiao Xun.

Beberapa menit kemudian, Xiao Man dan Ao Quan telah berada di rumah Xiao Xun.

“Xiao Xun, senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Aku sudah berpikiran yang tidak – tidak selama ini.” ucap Xiao Man.

“Benar sekali. Aku sudah rindu saat – saat kita berempat seperti dulu.” ucap Ao Quan.

“Kalian mengenalku?” tanya Xiao Xun.

“Shenme? Kenapa menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu? Tentu saja kami mengenalmu. Sudah empat tahun kita saling kenal. Apa kau lupa?” ucap Ao Quan.

“Aneh, kalian bertiga mengaku mengenalku. Tapi aku sama sekali tidak mengenal kalian. Apa jangan – jangan kalian bersekongkol untuk menipuku?”

“Xiao Xun, sebenarnya ada apa denganmu? Kau sedang mengerjai  kami dengan berpura – pura tidak mengenal kami?” tanya Xiao Man.

“Aku pulang!” ucap Wang Zi.

“Cepat sekali sudah pulang.” ucap Xiao Xun menghampiri Wang Zi.

“Jualanku sudah habis semua. Eh, siapa mereka bertiga?”

“Hei, yang harusnya bertanya adalah kami, kau sebenarnya siapa? Kenapa bisa bersama dengan Xiao Xun?” tanya Xiao Man.

“Kalian mengenal Xiao Xun? Xiao Xun, kau kenal mereka” tanya Wang Zi.

Xiao Xun menggelengkan kepalanya.

“Namamu Wang Zi kan? Aku ingin bicara empat mata denganmu.” ucap Xiao Yu.

………. ……….. ………….

Xiao Yu menjelaskan kepada Wang Zi tentang siapa dirinya, Xiao Xun, dan hubungan keduanya. Ia juga memperlihatkan foto – fotonya bersama Xiao Xun.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Xiao Xun, tapi terima kasih karena kau telah merawatnya dengan baik. Percayalah, aku sama sekali tidak ada maksud buruk terhadap Xiao Xun. Sudah enam bulan aku mencarinya.” terang Xiao Yu.

Dalam hati, Wang Zi percaya apa yang dikatakan Xiao Yu. Kejadian dan waktu ia menemukan Xiao Xun, sama persis ketika Xiao Xun dinyatakan hilang.

“Sebenarnya dulu aku sempat membawa Xiao Xun ke dokter. Dokter bilang Xiao Xun mengalami amnesia sementara. Mungkin itu sebabnya dia tidak mengenali kalian.” ucap Wang Zi sambil menyerahkan surat kesehatan Xiao Xun.

“Jadi ini sebabnya dia tidak ingat lagi padaku?” ucap Xiao Yu.

“Dokter itu juga mengatakan bahwa untuk mengembalikan memorinya yang hilang, bisa dilakukan dengan mengajaknya ke tempat – tempat yang memberinya sebuah kenangan.” ucap Wang Zi.

“Baiklah, aku akan membawanya pulang hari ini. Aku akan membuat ingatannya kembali.” ucap Xiao Yu.

Wang Zi menahan langkah Xiao Yu.

“Bu dui!” ucap Wang Zi.

“Wei shenme?”

“Jika kau begini malah akan membuat dia merasa takut. Kau coba pikir baik – baik, dia masih belum mengenalmu, lalu tiba – tiba kau ingin membawanya pergi. Apa kau yakin dia mau? Kau jangan terlalu buru – buru. Biar aku yang perlahan mengatakan padanya.”

“Benar juga katamu. Baiklah, apa boleh aku minta bantuanmu?” tanya Xiao Yu.

“Tentu saja. Apa yang bisa aku bantu?”

“Apa yang sedang mereka berdua bicarakan? Kenapa lama sekali?” tanya Ao Quan.

“Pasti mereka sedang membicarakan hal yang penting” ucap Xiao Man.

“Kenapa tidak mengajakku? Aku ’kan juga pria.”

“Pasti mereka berpikir kalau mengajakmu sama saja bohong. Kau itu seperti keledai. Berpikirmu juga lama sekali. Sebenarnya otakmu itu terbuat dari apa?” ucap Xiao Man.

“Shenme? Kau menyamakanku dengan keledai?”

“Memang kenyataannya begitu.”

Xiao Yu dan Wang Zi rupanya telah selesai bicara.

“Ao Quan, Xiao Man, kita pulang.” ajak Xiao Yu.

“Shenme? Bagaimana dengan Xiao Xun?” tanya Ao Quan.

“Biar aku yang mengurusnya. Wang Zi kami pulang dulu. Xiao Xun, jaga dirimu baik – baik.” ucap Xiao Yu.

………… ……….. ………….

“Kau mau mengajakku ke mana?” tanya Xiao Xun.

“Ke suatu tempat.” jawab Wang Zi.

“Kedai minuman? Untuk apa dia mengajakku ke sini?” batin Xiao Xun.

“Kalian sudah datang.”

“Xiao Yu, aku telah memenuhi permintaanmu. Aku pergi.” ucap Wang Zi.

“Eh, kau mau ke mana?” cegah Xiao Xun.

“Kau tenang saja. Dia tidak akan menyakitimu, percayalah padaku.  Baik – baiklah padanya.” ucap Wang Zi yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua

“Kenapa hanya berdiri di situ? Duduklah.” ucap Xiao Yu.

“Ada masalah apa? Kenapa kau mengajakku ke sini?” tanya Xiao Yu.

“Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Tentang kita.” ucap Xiao Yu.

“Tentang kita? Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti.” tanya Xiao Xun dalam hati.

“Daripada bingung, minumlah dulu.”

Xiao Xun pun meneguk segelas teh yang ada di depannya.

“Ku cha?” ucap Xiao Xun usai meneguk teh itu.

“Shenme? Kau ingat tentang ku cha? Apa ada hal lain yang kau ingat?” tanya Xiao Yu penasaran.

“Bukankah minuman ini begitu familiar? Banyak orang meminumnya, kenapa kau begitu terkejut mendengar aku mengatakannya?”

“Dulu kau suka sekali mengajakku ke sini, untuk meminum ku cha. Kau bilang, dengan minum ku cha semua kepahitan dalam dirimu akan hilang.”

Tiga tahun yang lalu………………..

Setahun berselang semenjak kecelakaan itu. Xiao Xun sudah mulai menata kembali hidupnya, di rumah baru, tentu dengan suasana baru. Bibi Hong sengaja menyembunyikan segala benda yang berkaitan dengan kehidupan masa lalu Xiao Xun. Bibi Hong tidak ingin jika Xiao Xun menjadi teringat akan orang tuanya. Nampaknya usahanya ini berhasil. Meskipun ada saat dimana Xiao Xun teringat kembali dengan kedua orang tuanya –saat peringatan kematian orang tuanya-.

“Bibi, aku pergi dulu” ucap Xiao Xun.

“Pergi ke mana xiao jie?”

“Aku ada janji dengan Xiao Yu.” ucap Xiao Xun.

Bibi Hong tersenyum.

“Bibi kenapa tersenyum seperti itu?”

“Pantas saja kau berpakaian tak seperti biasanya. Rupanya karena ingin bertemu tuan Xiao Yu. Xiao jie, apa kau menyukainya?”

“Shenme keneng? Aku hanya…….”

“Ya…ya… Bibi mengerti. Sulit memang bagi seorang wanita untuk jujur terhadap perasaannya. Hati – hati di jalan. Jangan pulang terlalu malam.” ucap Bibi Hong.

Xiao Xun memutuskan untuk jalan kaki. Karena jarak antara rumah dan tempat mereka bertemu tidak terlalu jauh.

“Bibi Hong ada – ada saja. Kenapa dia bisa bicara begitu? Mana mungkin aku menyukai Xiao Yu? Dia saja sepertinya tidak menyukaiku.” gumam Xiao Xun sepanjang perjalanan.

Beberapa menit kemudian………….

“Aku membuatmu menunggu lama?” tanya Xiao Xun sesampainya di sebuah kedai minuman.

“Tidak. Aku juga baru sampai. Duduklah.” ucap Xiao Yu.

“Minuman ini?” tanya Xiao Xun melihat secangkir teh yang ada di depannya.

“Dui ya. Aku sudah memesannya untukmu. Ku cha, itu ’kan yang selalu kau pesan di sini?”

“Kenapa kau bisa tahu?”

“Ini bukan pertama kalinya aku pergi bersamamu ke sini.”

“Kau juga memesannya? Bukankah dulu kau bilang kau tidak suka rasanya?” tanya Xiao Xun.

“Aku hanya ingin membuktikan perkataanmu. Kau bilang dengan minum ku cha, kepahitan dalam diri kita akan hilang. Selain itu bisa menghangatkan tubuh kita sehingga bisa merasakan ketenangan dalam diri kita.”

“Oh, itu Bibi Hong yang mengatakannya padaku. Sewaktu aku masih kecil, aku sering sekali menangis. Bibi Hong lalu menyuruhku minum ku cha buatannya, katanya dengan minum ku cha semua kepahitan dalam diriku akan hilang selain itu dia juga mengatakan bahwa ku cha bisa menghangatkan tubuh sehingga aku bisa merasakan ketenangan dalam diriku. Waktu itu aku belum mengerti apa yang bibi Hong katakan. Aku hanya menurutinya untuk meminumnya. Setelah itu, tiba – tiba aku berhenti menangis. Aku juga heran, kenapa bisa begitu? Apa mungkin karena rasa pahit yang dihasilkannya? Setelah itu, saat aku sedang sedih, ku cha selalu menjadi teman setiaku”

“Lantas apa kau sekarang masih merasa sedih?”

“Hmm? Kenapa bertanya seperti itu?”

“Kau masih saja minum ku cha. Bukankah itu pertanda kau sedang sedih?”

“Mungkin ini sudah menjadi kebiasaan.” ucap Xiao Xun.

“Eh, bukankah ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Apa yang ingin kau katakan?” lanjut Xiao Xun.

Pandangan Xiao Yu berubah serius.

“Xiao Xun, jika aku mengatakan padamu agar kau tidak lagi minum ku cha demi diriku, apa kau mau?” ucap Xiao Yu sambil memegang tangan Xiao Xun erat.

“Shenme? Apa maksudmu sebenarnya? Aku tidak mengerti.”

“Aku ingin jika kau sedih, bukan ku cha yang menjadi teman setiamu. Tapi aku. Aku ingin kau bisa berbagi kesedihan dan kebahagiaan padaku.”

“Xiao Yu………”

“Terus terang aku merasa cemburu pada ku cha karena dia bisa ada di dekatku ketika kau sedang sedih. Dia bisa mendengar segala keluh kesahmu.”

“Xiao Xun, wo xihuan ni. Aku ingin saat kau sedih, aku lah yang pertama kali kau ingat. Aku lah yang ada di sampingmu. Aku lah yang menghiburmu.”

Xiao Xun tak kuasa membendung air matanya.

“Xiao Yu, apakah benar yang kau katakan itu? Ni xihuan wo?” tanya Xiao Xun seakan tak percaya.

Xiao Yu menganggukkan kepalanya.

“Ni ne?” tanya Xiao Yu.

“Wo ye xihuan ni.” ucap Xiao Xun.

Mendengar itu Xiao Yu sangat senang.

“Xiao Xun, bisakah kau berdiri sekarang?” tanya Xiao Yu.

Meskipun merasa aneh, Xiao Xun menurut. Sejurus kemudian, Xiao Yu segera menghampiri Xiao Xun dan memeluknya erat.

“Xie xie. Aku senang sekali.” ucap Xiao Yu.

“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kau datang di saat aku benar – benar membutuhkan seberkas cahaya untuk menerangkan kehidupanku yang gelap”

“Aku berjanji, aku akan selalu menerangi kehidupanmu.” ucap Xiao Yu sambil mengecup kening Xiao Xun.

…………. ………….. ………….

“Apa kau sudah ingat sekarang tentang apa yang barusan aku ceritakan?” tanya Xiao Yu.

Xiao Xun menggelengkan kepalanya.

“Xiao Xun, apa sebenarnya yang harus aku lakukan agar membuatmu ingat semuanya? Kau begini membuatku merasa sangat sedih dan membuatmu merasa tidak berguna.” Xiao Yu perlahan meneteskan air matanya.

“Hei.. k.. kau jangan menangis….. Kau tenangkanlah dirimu. Wo de tian na! Apa yang harus aku lakukan?” Xiao Xun nampak kebingungan.

“Dui bu qi. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku.” ucap Xiao Yu segera menyeka air matanya.

“Maaf, tapi apa ada lagi yang ingin kau katakan padaku? Aku harus pulang. Sebentar lagi Wang Zi pulang bekerja. Aku harus memasakkan makanan untuknya.” ucap Xiao Xun.

“Shenme? Memasak untuknya? Kau saja belum pernah memasakkan sesuatu untukku.” ucap Xiao Yu.

“Kalau begitu aku permisi.”

“Eh, biar aku antar.”

“Mei guan xi. Aku bisa jalan kaki.”

“Lebih cepat jika naik mobil.”

Sesampainya di rumah………….

Xiao Xun segera menuju dapur. Sedangkan Xiao Yu menunggu di ruang tamu.

“Pria itu sebenarnya siapa? Kenapa dia bisa tahu namaku? Jika benar dia mengenalku, kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya? Melihat dia menangis tadi, sepertinya dia memang sangat mencintai kekasihnya itu.” gumam Xiao Xun.

Sementara itu, Xiao Yu sibuk melihat – lihat kondisi rumah yang ditempati Xiao Xun.

“Seperti inikah kau hidup selama 6 bulan ini? Apa kau bisa hidup dalam rumah kecil seperti ini? Kau memasak, membersihkan rumah, mencuci. Semua kau lakukan sendiri. Kau pasti sangat lelah. Selama ini kau belum pernah melakukan hal – hal semacam ini” ucap Xiao Yu.

Tiba – tiba ponselnya berdering.

“Ao Quan.” ucap Xiao Yu.

Ia pun pergi ke halaman depan, untuk mendapatkan lebih banyak sinyal.

Sesaat kemudian, Wang Zi pulang.

“Xiao Xun! Xiao Xun!” ucap Wang Zi.

“Wei shenme?” tanya Xiao Xun.

“Aku punya kabar bagus untukmu.”

“Benarkah? Apa kabar bagusnya?” tanya Xiao Xun.

“Hari ini aku mendapat bonus dari bos. Uangnya cukup untuk melunasi cicilan rumah ini!”

“Shenme? Jadi sebentar lagi rumah ini akan sepenuhnya menjadi milikmu? Aku senang sekali mendengarnya. Akhirnya kau tidak harus bekerja keras untuk mencicil rumah ini”

Mereka berdua spontan berpelukan merayakan kebahagiaan yang baru saja didapat. Beberapa detik kemudian, mereka baru menyadari jika mereka sedang berpelukan. Segera mereka berdua melepaskan pelukan. Tampak pipi mereka merah padam menahan malu.

“Dui bu qi. Aku hanya terlalu senang tadi.” ucap Wang Zi.

“Aku juga. Ehm, aku harus melanjutkan memasak.” ucap Xiao Xun.

“Aku juga harus ganti baju.”

Saking saltingnya, mereka berdua tak tahu harus berjalan ke arah mana. Hingga tak sengaja mereka saling bertabrakan.

“Dui bu qi. Ah, aku pasti terlalu lelah sampai lupa di mana arah menuju kamar” ucap Wang Zi.

Xiao Xun hanya bisa menahan malu dan berlari menuju dapur.

“Xiao Xun, apa yang baru saja kau pikirkan? Bu shi, kau tidak boleh berpikiran semacam itu lagi.” ucap Xiao Xun

“Dasar bodoh. Kau begitu malah akan membuatnya semakin berpikiran macam – macam terhadapmu.” ucap Wang Zi.

Rupanya kejadian tadi disaksikan oleh Xiao Yu. Muncul perasaan cemburu yang begitu besar dalam dirinya.

“Wang Zi” ucap Xiao Yu.

“Xiao Yu. Sejak kapan kau datang?” tanya Wang Zi yang masih kalut dengan pikirannya sendiri.

“Aku sudah dari tadi di sini. Aku hanya memastikan padamu, apa kau sudah bicara pada Xiao Xun untuk menyuruhnya kembali pulang?” tanya Xiao Yu.

“Itu…. itu…. Aku akan mengatakan padanya, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Dia masih perlu waktu untuk bisa menerima semua ini.”

“Sampai kapan aku harus menunggu? Kenapa aku merasa kau sengaja menahannya agar tidak pulang?”

“Shenme? Bagaimana mungkin?”

“Besok aku akan datang lagi. Aku pulang.” ucap Xiao Yu.

………… ………… …………

Makan siang kali ini sungguh berbeda dari biasanya. Mereka terlihat canggung satu sama lain. Akhirnya Xiao Xun memberanikan diri untuk mengajak Wang Zi bicara dulu.

“Laki – laki itu sudah pulang?”

“Shui ya? Xiao Yu maksudmu?”

“Duai ya.”

“Dia tadi berpamitan padaku. Katanya besok dia akan ke sini lagi.”

“Shenme? Ke sini lagi? Untuk apa lagi?”

“Wei shenme? Kau tidak suka di ke sini?”

“Aku hanya merasa tidak nyaman di dekatnya.”

“Apa kau sama sekali tidak mengenalnya? Sedikitpun tidak ada bayangan tentang dia?”

“Kenapa kau menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang dia katakan? Sebenarnya kenapa aku harus mengingatnya? Apa itu sesuatu hal yang sangat penting?”

“Bukannya begitu. Hanya saja………..”

“Sudahlah. Jangan bicarakan dia lagi.”

…………. ………….. …………

Malam menjelang. Bulan mulai menampakkan sinarnya yang terang. Semilir angin semakin terasa. Xiao Xun dan Wang Zi nampak gelisah memikirkan sesuatu.

Xiao Xun teringat kejadian tadi siang saat mereka berpelukan. Dia juga teringat kejadian – kejadian lain saat dia bersama Wang Zi.

“Ah, apa yang sedang aku pikirkan? Aku pasti sudah gila. Ai yo, Xiao Xun, sadarlah..” ucap Xiao Xun.

Hal yang sama juga terjadi pada Wang Zi. Dia juga tidak bisa tidur karena teringat saat – saat bersama Xiao Xun. Ditambah lagi udara hari ini sangat dingin, alhasil ia jadi semakin tidak bisa tidur.

Tak bisa tidur, Xiao Xun pun pergi ke dapur untuk mengambil sebotol air minum. Langkahnya terhenti saat ia melihat ke arah Wang Zi yang tampak kedinginan.

“Dia sudah banyak menderita karena aku.” ucap Xiao Xun.

Keesokan harinya……………

Ao Quan dan Xiao Man nampak sedang bersantai – santai di rumah Xiao Yu.

“Eh Xiao Man, menurutmu band kita apa masih ada harapan?” tanya Ao Quan.

“Eh? Wei shenme tiba – tiba menanyakan itu?”

“Aku hanya berpikir, bukankah tidak lucu jika band kita hanya akan bubar seperti ini?”

“Wo bu zhidao. Semenjak Xiao Yu mengalami cedera kaki, dia jadi tidak bisa main drum. Vokalis kita juga pergi ke luar negeri. Aku rasa sudah tidak ada harapan lagi.”

“Eh tapi bukankah Xiao Yu selama ini melakukan terapi untuk penyembuhan kakinya?”

“Dui ya, aku berharap kakinya bisa kembali normal seperti dulu. Jadi kita tinggal mencari vokalis baru.”

Ponsel Ao Quan berdering.

“Wei! Ah, Xiao Long. Wei shenme? Sekarang? Di mana? Oh… baiklah, aku akan ke sana.” ucap Ao Quan.

“Siapa lagi sekarang gadis bodoh yang ingin bertemu denganmu?” tanya Xiao Man ketus.

“Hei, kenapa kau mengatakan seperti itu? Mereka bukanlah gadis bodoh. Justru mereka sangat pintar dalam mengenal pria tampan nan karismatik seperti aku.”

“Percaya diri sekali kau ini.”

“Tentu saja aku sangat percaya diri. Dengan wajah tampanku ini, banyak gadis yang akan tergila – gila padaku. Memang ini nasib yang harus aku jalani. Tuhan telah menakdirkan aku menjadi pria tampan yang dipuja banyak gadis.”

“Telingaku rasanya mau pecah mendengarkan omong kosongmu itu.”

“Kau tidak menyukaiku?” tanya Ao Quan.

“S…s… shenme????? Shen ching bing!”

“Hao wa. Aku pergi.” ucap Ao Quan.

…………. ………… …………….

“Kenapa dia harus datang lagi?” keluh Xiao Xun.

“Shenme? Kau tidak menghendaki kedatanganku?” tanya Xiao Yu.

“Syukurlah kalau kau sadar.” batin Xiao Xun.

“Aku kemari ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Xiao Yu menyerahkan beberapa album foto pada Xiao Xun.

Karena penasaran, Xiao Xun pun membuka satu demi satu isi album foto tersebut. Di dalamnya terdapat banyak foto yang mirip dengan dirinya bersama dengan Xiao Yu.

“Aku tidak bohong ’kan? Kita memang saling mengenal, bahkan sangat dekat.”

“Mirip sekali denganku. Apa benar yang di foto ini adalah aku?” tanya Xiao Xun tak percaya.

“Kalau bukan kau memangnya siapa lagi? Apa kau punya kembaran?” tanya Xiao Yu.

“Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingatnya.”

“Aku tahu. Kau mengalami amnesia sementara. Jadi wajar jika kau tidak mengingat apa – apa. Aku akan menunggu sampai ingatanmu pulih. Sekarang biarkan aku perlahan membuatmu ingat semuanya.”

Xiao Yu lalu menceritakan apa yang dialami mereka berdua berdasarkan foto tersebut. Mulai mereka sering berangkat sekolah bersama, pulang bersama, kuliah bersama, bermain di taman hiburan, di laut, di taman bunga, dan masih banyak lagi.

Lama Xiao Yu menceritakan segala sesuatu tentang Xiao Xun. Satu pun tak ada yang bisa diingatnya.

“Xiao Yu, bisakah aku tinggal sebentar? Aku masih harus membersihkan rumah dan mencuci baju.” ucap Xiao Xun.

“Shenme? Kau membersihkan rumah dan mencuci baju? Ini yang selama ini kau lakukan? Apa Wang Zi yang menyuruhmu melakukan semua ini?”

“Tentu saja tidak. Ia sebenarnya menyuruhku untuk tidak melakukan itu. Tapi aku sungguh tidak berguna jika aku hanya menumpang di rumahnya tanpa melakukan apapun.”

Seharian Xiao Yu menemani Xiao Xun membersihkan rumah. Xiao Yu tentu ingin membantu, tapi Xiao Xun melarangnya.

“Aku pulang!” ucap Wang Zi.

“Kau sudah pulang. Mari makan, aku telah selesai membuat makanan untukmu.”

“Xiao Yu, sudah lama?” tanya Wang Zi.

“Lumayan.” jawab Xiao Yu.

Mereka bertiga kini makan dalam satu meja yang sama.

“Wang Zi, bagaimana kalau mulai sekarang kita bertukar tempat tidur? Kau di kamar sedangkan aku di kursi.” ucap Xiao Xun.

“Shenme? Wo bu yao.”

“Wei shenme? Bukankah ini adil? Kau  lebih banyak letihnya daripada aku. Kalau kau terus – terusan tidur di kursi, akan mengganggu kesehatanmu.”

“Wo tong a! Keushi wo hen hao ya. So yi, kau tidak usah mengkhawatirkan aku.”

Selama mereka makan, Xiao Xun dan Wang Zi membicarakan hal – hal yang sama sekali tidak dimengerti oleh Xiao Yu. Seakan Xiao Yu tidak ada di antara mereka. Bahkan setelah selesai makan. Xiao Xun melakukan banyak kejahilan pada Wang Zi, dan lagi – lagi Xiao Yu seperti tidak dianggap.

“Wang Zi, bisakah kita bicara sebentar?” tanya Xiao Yu.

“Hao de.”

“Seharian ini aku telah melihat apa saja yang dilakukan Xiao Xun di rumah ini. Kau telah membuatnya begitu menderita. Kau tahu, Xiao Xun sama sekali tidak pernah melakukan hal – hal semacam itu sebelumnya. Apa kau tidak tahu betapa lelahnya dia? Aku sudah bilang padamu untuk menjaganya baik – baik.”

“Dui buqi. Aku sama sekali tidak ada maksud sepert itu.”

“Aku tidak akan membiarkan Xiao Xin menderita lagi. Lusa aku akan membawanya kembali ke rumah. Aku tidak peduli dia mau atau tidak. Aku merasa kau sama sekali tidak ingin jika dia kembali ke rumahnya sebenarnya. Apa karena kau menyukainya?” tanya Wang Zi.

“Shenme? Bu dui ya. Wo……”

“Terserah apa yang ingin kau katakan, aku tidak peduli. Aku hanya berharap kau mengatakan padanya agar  dia pulang ke rumah dia yang sebenarnya.

…………. …………. …………….

“Kau dari mana?” tanya Wang Zi.

“Aku habis dari toko membeli beberapa kebutuhan.” ucap Xiao Xun.

Xiao Xun segera masuk ke kamarnya. Dia membuka isi belanjaannya. Beberapa helai benang dan alat untuk merajut. Dia berniat membuatkan baju hangat untuk Wang Zu agar dia tidak kedinginan tiap malam. Lama Xiao Xun mengerjakannya. Bahkan sampai tengah malam ia tak kunjung bisa menyelesaikannya.

Sementara itu, di ruang tamu, Wang Zi tampak gelisah. Dia teringat kata – kata yang dilontarkan Xiao Yu tadi.

“Aku memang membuatnya menderita selama ini. Ai Yo, apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan membiarkannya kembali ke kehidupan aslinya? Tentu saja aku harus melakukan itu. Bagaimanapun Xiao Xun punya keluarga, teman, dan kekasih yang sangat mencintainya. Mereka pasti sudah sangat khawatir terhadap Xiao Xun. Selain itu, Xiao Xun tak perlu lagi repot – repot memasak dan membersihkan rumah. Keushi…. jika dia benar – benar akan pergi, bagaimana dengan aku?” gumam Wang Zi.

Wang Zi terus – terusan berpikir. Apa akan membiarkan Xiao Xun pergi ataukah membiarkan Xiao Xun tetap di sini.

“Apa kau menyukai Xiao Xun?” kata – kata Xiao Yu tadi tiba – tiba terbayang dalam benak Wang Zi.

“Ah…. bu keyi. Aku tidak bisa menyukai dia. Xiao Xun sudah mempunyai kekasih. Ai yo….. apa yang harus aku lakukan?”

Keesokan paginya…………..

“Matamu kenapa? Apa kau tidak tidur semalam?” tanya Wang Zi melihat ada lingkaran hitam tebal di mata Xiao Xun.

“Ah, mei shi a.” ucap Xiao Xun.

“Besok kemasi barang – barangmu”

“Shenme? Kenapa aku harus mengemasi barang – barangku?”

“Kau harus kembali ke rumahmu yang sebenarnya. Xiao Yu akan menjemputmu.”

“Bu keyi!”

“Kau harus mau.”

“Aku sama sekali tidak bisa mengingat Xiao Yu. Aku juga tidak tahu apa dia bisa dipercaya atau tidak.”

“Itu karena ingatanmu masih belum pulih.”

“Tapi…………”

“Aku berangkat kerja! Jaga rumah baik – baik.”

Di sisi lain…………

“Shenme? Besok kau akan membawa Xiao Xun kembali? Ah, senang sekali, akhirnya aku bisa bermain kembali bersama Xiao Xun. Dia sama sekali tidak menyebalkan seperti…….” ucap Xiao Man sambil mengarahkan pandangannya ke arah Ao Quan.

“Kenapa memandangku dengan tatapan seperti itu? Maksudmu aku menyebalkan?” tanya Ao Quan.

“Oops… kau menyadarinya.”

“Aku juga sangat senang bisa bermain bersama Xiao Xun lagi. Setidaknya dia gadis yang berpikiran modern, tidak kolotan seperti…………” Ao Quan giliran membalas Xiao Man.

“Shenme? Kau bilang aku gadis kolotan?”

“Oops…. kau menyadarinya.”

“Ni…..” ucap Xiao Man.

“Hao wa hao wa…. Apa kalian tidak lelah setiap saat bertengkar seperti itu?” ucap Xiao Yu.

“Bukan aku yang memulainya. Dia dulu.” ucap Ao Quan.

“Shenme? Menyalahkan aku?” Xiao Man tidak terima.

……….. ………….. ………….

Sikap Wang Zi hari ini tidak seperti biasanya. Ia bersikap sangat dingin kepada Xiao Xun. Jika biasanya ia sering menyapa Xiao Xun, menanyakan apa saja yang dilakukan Xiao Xun hari ini, kali ini sama sekali tak ada satu kata pun terucap dari mulut Wang Zi.

“Wang Zi, ni shi shenme? Aku merasa hari ini kau sangat aneh, tidak seperti biasanya.”

“Bukan urusanmu. Lebih baik jika kau sudah mulai packing.

“Kenapa kau mengatakan hal itu terus? Aku sudah bilang padamu wo ke yi. Aku akan tetap di sini.”

“Shenme? Kau ingin tetap di sini? Atas dasar apa kau berkata seperti itu? Apa ini rumahmu?”

“Wang Zi………”

“Ting wo shuo. Jujur saja aku sangat lelah. Kau hanya membantu memasak dan membersihkan rumah. Kau pikir itu cukup?”

“Aku akan kerja. Aku bisa kerja.”

“Bukan masalah itu. Tapi semenjak kemunculanmu, hidupku menjadi kacau. Aku tidak bisa mengajak gadis yang aku suka ke rumah. Aku juga tidak bisa menikmati kebebasanku lagi. Kau tahu, aku sangat terganggu dengan kehadiranmu di sini. Tau begini, aku tidak akan menolongmu dulu!”

“Jadi itukah yang kau pikirkan selama ini tentang aku? Jika memang kau terganggu kenapa tidak mengatakannya dari dulu? Benar juga, tidak seharusnya kau menolongku. Biar saja aku mati!” ucap Xiao Xun sambil menangis dan berlari pergi ke kamarnya.

“Ini. Dua hari ini aku bekerja keras membuatkan baju itu untukmu. Agar kau tidak kedinginan lagi tiap malam. Aku pikir selama ini kau tulus membantuku. Aku pikir kau adalah pria yang baik. Tapi, ternyata aku salah mengenalmu!” Xiao Xun lalu masuk ke kamar.

Wang Zi terus saja memegangi baju hasil rajutan Xiao Xun.

“Dui bu qi. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa agar kau mau kembali ke tempat asalmu. Aku tidak ingin membuatmu menderita lagi.” batin Wang Zi.

Keesokan harinya………….

Xiao Xun masih mengurung dirinya di kamar. Dia tidak memasak seperti yang biasa ia lakukan.

Tok tok tok…….. Terdengar bunyi pintu diketuk.

“Xiao Yu!”

“Bagaimana? Apa kau sudah memberitahunya?”

Wang Zi menunduk.

“Di mana dia sekarang?”

“Di dalam kamar.”

Xiao Yu lalu mengetuk kamar Xiao Xun.

“Xiao Xun, ini aku Xiao Yu. Aku datang menjemputmu. Kau keluarlah!”

Beberapa saat kemudian Xiao Xun keluar sambil membawa tas berukuran sedang.

“Kau sudah siap?” tanya Xiao Yu.

Xiao Xun menganggukkan kepala.

“Wang Zi, terima kasih selama ini telah menjaga Xiao Xun.” ucap Xiao Yu.

Xiao Xun hanya memandang ke arah Wang Zi dengan tatapan penuh rasa kekecewaan.

“Kami pergi.”

“Selamat tinggal Xiao Xun. Ini adalah hal terbaik untuk kita. Kau bisa kembali ke kehidupan asalmu. Aku juga akan menjalani kehidupanku seperti biasanya sebelum bertemu denganmu.”

…………. ……….. …………

Xiao Yu dan Xiao Xun telah sampai di rumah Xiao Xun. Pertama kali menginjakkan kaki di rumah tersebut, ada rasa tidak percaya di benak Xiao Xun.

“Ini rumahku?” tanya Xiao Xun tidak percaya.

“Tentu saja. Masa rumahku?” jawab Xiao Yu.

“Ayo masuk!” ajak Xiao Yu.

“Rumah ini besar sekali. Malah tidak seperti sebuah rumah. Begitu banyak pelayan, perabotannya juga lengkap, ada kolam renangnya juga. Ah, apakah sekarang aku sedang bermimpi?” batin Xiao Xun.

“Xiao Xun? Kenapa berdiri saja di situ? Tidak ingin masuk ke kamarmu?” tanya Xiao Yu.

Xiao Xun pun mengikuti Xiao Yu.

“Ini kamarmu. Tidak ada perubahan selama 6 bulan ini. Biasanya bibi Hong yang akan membangunkanmu tiap pagi, tapi berhubung dia sedang di Cina, pembantu yang lain akan membangunkanmu.”

“Apa dulu aku harus dibangunkan dulu?”

“Dui. Kalau tidak kau pasti akan terlambat berangkat kuliah”

“Xiao Yu, siapa dia?” tanya Xiao Xun menunjukkan sebuah foto.

“Itu Bibi Hong. Dia yang mengurusmu sejak kecil. Kalian lebih mirip seperti anak dan ibu.”

“Apa aku anak tunggal? Kenapa aku tidak melihat foto saudaraku, ayah, atau ibuku? Apa aku tidak punya orang tua?”

“Ah….. ah aku sampai lupa, Xiao Man dan Ao Quan telah menunggumu. Ayo kita ke sana!” ajak Xiao Yu.

“Xiao Xun, selamat datang kembali di rumahmu!” ucap Ao Quan dan Xiao Man.

Xiao Xun nampak kebingungan.

“Aku dan Ao Quan sengaja membuat pesta penyambutan kepulanganmu. Aku sangat merindukanmu.” ucap Xiao Man sambil memeluk Xiao Xun.

“Ni shi wo de pengyou?” tanya Xiao Xun.

“Shenme? Tentu saja, aku temanmu. Kau masih belum ingat? Aku Xiao Man, dia Ao Quan.” ucap Xiao Man.

“Wo tong a. Ingatanmu masih belum sembuh, wajar jika kau tidak mengenali kami” ucap Ao Quan.

“Hao… karena kalian sudah mempersiapkan semua ini, mari kita berpesta!” ucap Xiao Yu.

Malam harinya, Xiao Xun tidak bisa tidur. Ia tidak terbiasa dengan kasur yang empuk dan besar. Ditambah lagi, pengaruh AC yang membuat dia begitu kedinginan.

“Rumah ini begitu besar, tapi kenapa aku merasa kesepian? Kenapa tidak ada ayah atau ibu? Apa sebenarnya aku anak yatim piatu? Beda sekali dengan di rumah Wang Zi. Meskipun kecil, tapi aku merasa tidak kesepian, aku juga merasa tenang karena Wang Zi pasti akan menjagagu. Hmm…. kira – kira apa yang sedang dilakukan Wang Zi sekarang? Apa dia sudah tidur?” ucap Xiao Xun.

Sementara itu, orang yang sedang dibicarakan Xiao Xun nampak sedang memandangi baju hangat hasil rajutan Xiao Xun. Ia kemudian mendekapnya dalam – dalam.

…………. ………… ………….

“Xiao Xun masak apa kau hari ini?” tanya Wang Zi.

Kemudian dia teringat sesuatu.

“Ah, Xiao Xun sudah tidak ada di sini lagi. Kenapa aku masih mengingatnya?” ucap Wang Zi.

Semenjak Xiao Xun tidak lagi tinggal bersamanya, kehidupan Wang Zi kembali seperti dulu. Menaruh barang seenaknya, rumah dibiarkan berantakan, makan kalau dia ingat. Begitulah…..

Sementara itu Xiao Xun sedikit mulai terbiasa dengan kehidupan mewahnya. Tapi terkadang ia masih mengira ia tinggal di rumahnya Wang Zi. Ia selalu bangun pagi dan memasak beberapa makanan. Meskpun pelayan telah memberitahunya untuk tidak melakukan hal tersebut.

Xiao Xun pun juga pergi kuliah. Meskipun ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan dosen pembimbingnya. Xiao Xun mulai mencoba mengakrabkan diri dengan Xiao Yu, Ao Quan, dan Xiao Man. Mereka sangat baik terhadap dirinya, selalu siap sedia membantu, dan lagi mereka memberi rasa nyaman pada Xiao Xun.

Hari ini dia sedang berjalan – jalan bersama Xiao Yu, Xiao Man, dan Ao Quan.

“Kita mau pergi ke mana? Sepertinya aku tidak asing dengan jalan ini.” tanya Xiao Xun.

“Kita akan pergi ke rumah Wang Zi.” ucap Xiao Yu.

“Shenme? Kenapa mendadak ingin pergi ke rumahnya?”

“Selama ini dia telah menolongmu. Tapi aku dan Ao Quan tidak sempat berterima kasih padanya.” ucap Xiao Man.

“Jika kalian ingin berterima kasih saja, untuk apa mengajakku segala?’

“Ai yo, jujur saja, bisa bertemu dengan Wang Zi lagi, ni hen gaoxing. Dui bu dui?” ucap Ao Quan.

Xiao Xun hanya diam dan memandang ke arah Xiao Yu yang sedang fokus menyetir mobil.

“Wei? Semua ini ideku. Kau jangan memandangku dengan pandangan aneh seperti itu.” ucap Xiao Yu.

Sesampainya di rumah Wang Zi………..

“Dia tidak ada di rumah. Aku dari tadi mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban.” ucap Ao Quan.

“Dia pasti masih bekerja. Tapi kita tetap bisa masuk ke dalam.” ucap Xiao Xun.

“Shenme? Bagaimana caranya?” tanya Xiao Man.

“Wang Zi selalu menaruh kunci rumahnya di pot bunga ini. Dui ya?” Xiao Xun berhasil menemukan kuncinya.

Saat membuka pintu, betapa terkejutnya mereka melihat kondisi rumah yang sudah seperti kapal pecah.

“Baru beberapa minggu aku pergi, kondisi rumah seperti ini. Inilah yang aku takutkan. Apa dia sudah makan? Jika tidak ada orang yang mengingatkannya untuk makan, pasti dia tidak akan makan.” batin Xiao Xun.

“Ai Yo, kenapa bisa ada laki – laki seperti dia? Jorok sekali. Sebagai laki – laki kebersihan adalah hal yang juga penting. Lihatlah aku, selain tampan, cerdas, disukai banyak gadis, aku juga selalu menjaga kebersihan. Makanya aku selalu wangi dan tampak lebih muda.” ucap Ao Quan memuji dirinya sendiri.

“Can you just stop it? It’s so disturbing me!” ucap Xiao Man.

“Shenme? Apa yang kau katakan tadi? Kau mengejekku?” tanya Ao Quan tidak mengerti apa yang dikatakan Xiao Man.

“Ni bu tong ma? Ah… jadi definisi ’cerdas’ mu seperti ini. Ckckck…… kalau begitu aku jenius, dui bu dui?” ucap Xiao Man menertawakan Ao Quan.

“Wo tong a. Aku memang tidak pintar berbahasa Inggris. Tapi apa gunanya pintar bahasa Inggris jika tidak ada lawan jenis yang tertarik pada kita?” ucap Ao Quan.

“Nimen, apa sudah cukup berdebatnya? Tidak bisakah kalian berhenti sebentar dan membantu membersihkan rumah ini?” tanya Xiao Xun.

Beberapa jam kemudian…………..

Rumah Wang Zi berubah menjadi lebih bersih, rapi, dan wangi. Selain itu, mereka berempat menghiasinya dengan balon – balon. Ada juga beberapa makanan ringan, makanan berat, dan softdrink.

Wang Zi yang merasa aneh karena pintu rumahnya terbuka lebih merasa terkejut lagi ketika tahu siapa yang datang ke rumahnya.

“Wang Zi, selamat datang di rumahmu!” ucap Xiao Man.

“Zhe shi shenme? Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Wang Zi.

“Kami membuat sebuah pesta kecil – kecilan untuk mengucapkan terima kasih padamu karena kau telah banyak membantu Xiao Xun.” ucap Xiao Man.

“Ah….. keushi, kalian tidak harus berbuat begitu.”

“Mei guan xi…. kami senang melakukannya.” ucap Ao Quan.

“Kau tunggu apa lagi? Cepatlah ke sini, kita mulai pestanya!” ucap Xiao Man.

Sejenak Wang Zi mencari keberadaan Xiao Xun.

“Xiao Xun, kau dari mana?” tanya Xiao Yu.

“Aku baru saja dari toilet.” ucap Xiao Xun.

Wang Zi akhirnya menemukan sosok yang dicarinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Xiao Xun. Hari ini Xiao Xun nampak begitu cantik. Dia memakai make up, rambutnya pun tidak lagi dikuncir belakang seperti dulu. Rambutnya kini sudah jauh lebih bagus. Yang membuat Wang Zi terkejut adalah Xiao Xun mengenakan pakaian yang dibelikannya dulu. Wang Zi berpikir setelah Xiao Xun kembali ke kehidupan asalnya, dia akan melupakan Wang Zi dan membuang barang – barang pemberiannya.

Xiao Xun tak kalah terkejutnya dengan Wang Zi. Tapi kebalikan dari Wang Zi, Xiao Xun justru miris dengan apa yang terjadi dengan Wang Zi. Dia seakan seperti laki – laki yang tak terurus. Rambutnya acak – acakan. Dulu Xiao Xun selalu rajin mengingatkan Wang Zi untuk keramas dan merawat rambutnya. Tapi kini, tidak ada yang mengingatkan Wang Zi. Satu hal yang membuat Xiao Xun senang adalah Wang Zi mengenakan baju hasil rajutannya.

Sepanjang acara tersebut, tampak Wang Zi dan Xiao Xun saling canggung satu sama lain, seperti mereka tidak saling kenal sebelumnya.

Pada satu kesempatan, Wang Zi dan Xiao Xun bisa berdua. Kesempatan itu dimanfaatkan Wang Zi untuk berbincang dengan Xiao Xun.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Wang Zi.

Xiao Xun tentu senang bisa berbincang dengan Wang Zi. Namun ia teringat bagaimana sikap dan perkataan Wang Zi sebelum Xiao Xun meninggalkan rumah Wang Zi. Mengingat itu membuat Xiao Xun kesal dengan Wang Zi.

“Kau bisa melihatnya sendiri.”

“Kau masih marah padaku?”

“Menurutmu bagaimana?”

“Xiao Xun, lebih baik kita pulang sekarang.” ucap Xiao Yu.

“Baiklah.”

“Wang Zi, kami pulang dulu.”

Sesaat sebelum pulang, Xiao Xun menyampaikan beberapa hal pada Xiao Xun.

“Seperti inikah kehidupan yang kau jalani saat aku tidak ada? Kau sama sekali tidak menghargai kerja kerasku membersihkan rumahmu selama ini. Jangan lupa mandi, tidur jangan malam – malam, dan terpenting kau jangan sampai lupa makan.” ucap Xiao Xun lalu pergi meninggalkan rumah Wang Zi.

Saat hendak tidur, Wang Zi teringat perkataan Xiao Xun barusan.

“Ternyata kau tidak berubah. Masih sama seperti dulu, tidak pernah bisa tidak peduli terhadap orang lain.” Wang Zi jadi senyum – senyum sendiri memikirkan saat – saat ia bersama Xiao Xun.

………. …………. ………….

Xiao Xun dan Xiao Man sedang berada di sebuah cafe.

“Eh, bukankah itu Ao Quan?” tanya Xiao Xun sambil menunjuk ke arah samping kirinya.

“Dui ya. Sedang bersama siapa dia?” tanya Xiao Man.

“Ah, pasti itu gadis bodoh yang termakan rayuan gombalnya.” lanjut Xiao Man kesal.

“Gadis bodoh itu, apa dia tidak bisa membuka matanya? Apa yang sebenarnya dia sukai dari Ao Quan? Dia tidak bisa bahasa Inggris, begitu narsis, dan sok tahu.”

Xiao Xun hanya tersenyum melihat tingkah Xiao Man.

“Ni shi shenme?” tanya Xiao Man.

“Kenapa kau jadi kesal seperti itu? Itu hak Ao Quan untuk bertemu dengan siapapun. Dui bu dui?”

Xiao Man tak bisa menjawabnya.

“Kau cemburu?”

“Shenme? Kenapa aku harus cemburu padanya?”

“Karena kau menyukainya.”

“Xiao Xun, ni shuo shenme?”

“Aku bisa melihat itu dari tatapan matamu. Kau tidak bisa berbohong padaku. Hao, aku harus pergi. Xiao Yu sudah menungguku.”

Ao Quan bukannya tidak tahu Xiao Man sedang memperhatikannya. Ia sangat tahu Xiao Man sedang memperhatikannya makanya ia semakin membuat Xiao Man kesal dengan semakin bermesraan dengan gadis yang baru saja dikenalnya. Entah mengapa Ao Quan melakukan itu.

Di sisi lain…………

“Kau sudah datang?” ucap Xiao Yu.

Xiao Xun menganggukkan kepalanya.

“Duduklah. Aku sudah memesankan minuman untukmu.” ucap Xiao Yu.

“Xiao Xun, apa ada perkembangan tentang ingatanmu?”

Xiao Xun menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa mengingat apapun.”

“Sudahlah tidak usah dipaksakan. Aku melihat sekarang kau dekat dengan Xiao Man dan Ao Quan.”

“Mereka teman yang baik, selalu membantuku. Aku senang di dekat mereka.”

“Kalau di dekatku?”

Pertanyaan itu tiba – tiba mengagetkan Xiao Xun.

“Shenme? Wo……….”

“Entah mengapa aku seperti orang asing bagimu. Terhadap Xiao Man dan Ao Quan kau sangat hangat, tapi terhadapku kenapa kau sangat dingin?”

“Wo…….”

“Kau tidak bisa menjawabnya?”

Xiao Man mulai jengah melihat pemandangan yang ada di depannya. Ia memutuskan untuk pulang, tapi tiba – tiba ada seoarang laki – laki yang mendekatinya.

“Hai, apa boleh aku duduk di sini? Aku sedang butuh teman ngobrol. Kau keberatan?”

Xiao Man merasa ini adalah momen yang pas untuknya balas dendam pada Ao Quan. Dia akan membuktikan pada Ao Quan bahwa ada juga laki – laki yang tertarik padanya.

“Oh, tentu saja aku tidak keberatan. Aku juga senang bisa mendapatkan teman ngobrol.”

Di sudut lain, Ao Quan melihat Xiao Man sedang berbicara dengan seorang pria.

“Siapa pria itu? Kenapa dia sembarangan saja menerima seorang laki – laki? Bagaimana jika lelaki itu berniat jelek terhadapnya?” ucap Ao Quan.

Xiao Xun memutuskan untuk pulang naik taksi.

“Dui bu qi Xiao Yu. Selama ini kau memang baik kepadaku, tapi aku sama sekali tidak bisa nyaman jika berada di dekatmu.” batin Xiao Xun saat dia menaiki taksi.

Sopir taksi itu mengemudi sedikit kencang karena jalanan sedang sepi. Tapi tiba – tiba dari arah berlawanan muncul truk besar. Sopir pun banting setir ke arah kiri. Xiao Xun yang berada di bangku belakang merasa ketakutan. Kemudian muncul bayangan dalam pikirannya.

“Apa kalian senang liburan kali ini?” ucap seorang laki – laki sambil menyetir mobil.

“Wo hen gaoxing.” ucap seorang gadis remaja.

“Wo ye hen gaoxing.” ucap gadis remaja lain.

“Lain kali kita akan liburan lagi, kalian setuju?” tanya seorang perempuan yang duduk di sebelah laki – laki itu.

“Setuju!” ucap gadis – gadis remaja itu bersamaan.

Tiba – tiba ada truk menghantam mobil tersebut. Mobil itu remuk. Laki – laki yang menyetir dan sang istri mengalami pendarahan cukup banyak. Sedang gadis dua itu terlempar dari mobil.

Begitulah yang muncul dalam bayangan di pikiran Xiao Xun. Tiba – tiba kepala Xiao Xun terasa sakit sekali. Ia terus memeganginya.

……….. ……….. ……………

“Xiao Yu, bagaimana kondisi Xiao Xun?” tanya Xiao Man yang baru datang bersama Ao Quan.

“Dia mengalami sedikit gegar otak karena benturan di kepalanya. Tapi kata dokter keadaannya akan membaik setelah dia istirahat.”

“Syukurlah. Sekarang dimana dia?”

“Dia masih belum sadarkan diri. Kita tunggu saja sampai dia tersadar.”

Wang Zi yang mendengar kabar Xiao Xun mengalami kecelakaan dari Ao Quan, segera pergi menuju rumah sakit. Tapi saat dia hendak menyeberangi jalan raya, sebuah mobil tak sengaja menabarknya.

Di rumah sakit………….

Xiao Xun sudah tersadar. Xiao Yu, Xiao Man, dan Ao Quan segera menghampirinya.

“Xiao Xun, kau tidak apa – apa?” tanya Xiao Yu begitu cemas.

Xiao Xun hanya melihat mereka dengan tatapan bingung.

“Nimen…. shui ya?” tanya Xiao Xun.

“Xiao Xun, kau tidak ingat kami? Bukankah jika di TV, jika seseorang mengalami amnesia akan sadar jika ia mengalami sebuah benturan. Tapi kenapa kali ini malah kebalikannya?” tanya Xiao Man.

“Kau benar – benar tidak ingat pada kami?” tanya Xiao Yu.

Xiao Xun menggelengkan kepalanya.

“Apa kalian teman Xiao Xun?”

Pertanyaan itu membuat mereka bertinga bertanya – tanya.

“Xiao Xun, apa maksudmu bicara seperti itu?” tanya Xiao Yu.

“Wo bu shi Xiao Xun.”

“Shenme? Kau bukan Xiao Xun? Jika kau bukan Xiao Xun, lantas kau siapa?” tanya Ao Quan.

“Dia Xiao Xin, saudara kembarku” ucap seseorang dari arah belakang.

Mereka bertiga nampak kaget melihat siapa yang datang.

“Xiao Xun!!!!” ucap mereka bertiga seakan tak percaya.

……….. …………. …………..

Wang Zi bergegas menuju ke rumah sakit. Ia ingin buru – buru melihat bagaimana kondisi Xiao Xun. Namun di tengah perjalanan, sebuah mobil tiba – tiba melaju dengan kencang. Wang Zi tidak bisa menghindarinya. Untung dia tidak terluka parah. Pengemudi mobil lalu keluar dari mobilnya. Alangkah terkejutnya Wang Zi mengetahui siapa yang dilihatnya.

“Xiao Xun? Kenapa kau bisa di sini? Tadi Ao Quan mengatakan padaku kau mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit.” ucap Wang Zi.

“Shenme? Aku tidak mengalami kecelakaan apapun. Tunggu sebentar, kau mengenalku?”

“Tentu saja aku mengenalmu. Selama 6 bulan terakhir bukankah kita tinggal serumah?”

“Enam bulan terakhir?” gadis itu nampak bingung.

“Tapi enam bulan terakhir aku sedang berada di Beijing.”

“Shenme keneng?”

“Jangan – jangan…….. Ah, kau bisa menunjukkan padaku di mana temanmu itu dirawat?”

Wang Zi pun masuk ke dalam mobil gadis itu.

“Xiao Xun, aku baru tahu kau bisa menyetir. Bukankah kau bilang kau tidak berani menyetir mobil?” tanya Wang Zi.

“Hei kau, kalau aku bilang aku memang Xiao Xun tapi aku bukan Xiao Xun yang kau kenal. Apa kau percaya?”

“Shenme? Apa maksud ucapanmu? Wo bu tong a.”

“Bagaimana kau bisa mengenal Xiao Xun?”

“Ha? Apa kau sedang bercanda padaku? Kenapa bertanya seperti itu?”

“Sudah, kau jawab saja.”

Wang Zi pun menceritakan awal mula bagaimana dia bisa mengenal Xiao Xun.

…………. ………… ………….

“Shenme? Jadi dia bukan Xiao Xun, tapi Xiao Xin saudara kembarmu?” tanya Xiao Man seakan tak percaya.

Xiao Xun menganggukkan kepalanya.

“Kenapa kau tidak pernah cerita jika kau punya saudara kembar?” tanya Xiao Yu.

“Kalau bukan karena bibi Hong yang menceritakannya padaku, mungkin aku juga tidak akan ingat.” jawab Xiao Xun.

“Tapi bukannya kau naik pesawat ke Beijing pada pukul 10? Bagaimana kau bisa tidak mengalami kecelakaan malah dia?” tanya Ao Quan.

“Waktu itu aku salah lihat jadwal penerbangan. Aku kira jam 10 ternyata jam 9.”

“Lalu kenapa selama 6 bulan ini kau tidak pernah memberi kabar? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya kita saat itu?” tanya Xiao Yu.

“Dui bu qi. Ceritanya begitu panjang.” ucap Xiao Xun sambil menggenggam tangan Xiao Yu pertanda ia benar – benar menyesal.

Enam bulan lalu………….

*Xiao Xun*

Waktu itu, karena aku kurang teliti melihat jadwal penerbangan, aku pun sempat salah mengira jadwal penerbanganku. Setibanya aku di bandara, aku memutuskan untuk duduk – duduk sebentar. Saat aku duduk itulah aku mengecek tiket pesawatku dan ternyata jadwal penerbanganku jam 9, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 8.45. Segera aku menuju pesawat sebelum pesawat tinggal landas.Saking terburu – burunya, aku tidak menyadari jika tasku ketinggalan. Hanya koper yang aku tenteng kemana – mana. Bodohnya aku, aku baru menyadari jika tasku tidak ada saat aku sudah sampai Beijing. Padahal uang, kartu atm, kartu kredit, ponsel seluruhnya berada di tasku. Untung di saku masih ada cukup uang untuk naik taksi ke rumahnya Bibi Hong. Sesampainya aku di rumahnya Bibi Hong, tampak dia masih sangat shock atas kematian suaminya. Anak satu – satunya Bibi Hong juga baru meninggal beberapa bulan lalu, alhasil, ia hanya sendirian di rumah itu. Kondisi bibi Hong perlahan mulai menurun, ia mulai sakit – sakitan. Aku pun memutuskan untuk merawatnya sambil aku bekerja untuk mendapatkan uang agar aku bisa kembali pulang. Rumah bibi Hong jauh sekali dari keramaian kota. Hanya sebuah desa kecil tanpa satupun fasilitas umum yang tersedia. Perhatianku kala itu hanya tertuju pada bagaimana caranya medapatkan uang untuk membiayai perawatan bibi Hong dan untuk biayanya pulang juga merawat bibi Hong agar dia cepat sembuh. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak memberikan kabar kepada kalian. Kemudian suatu saat, bibi Hong telah sembuh sehingga dia bisa kembali ke rumahnya.Aku juga sudah mempunyai cukup uang untuk biaya pulang bersama bibi Hong. Saat aku membantu bibi Hong mempacking barangnya, aku menemukan sebuah kotak kecil. Karena penasaran apa isinya, aku pun membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah gelang dan sebuah foto.

“Bibi, gelang siapa ini? Cantik sekali. Ada ukirannya juga. Xiao Xin, siapa dia?” tanya Xiao Xun.

“Xiao jie, itu….”

“Eh, kenapa ada fotoku? Tapi siapa yang ada di sebelahku? Kenapa dia begitu mirip denganku?” tanya Xiao Xun.

“Xiao jie, sudahlah. Lebih baik kau membantu bibi lagi mengemasi barang – barang.”

Tiba – tiba pikiranku kembali ke kejadian yang menimpaku empat tahun lalu. Dimana aku melihat ayah dan ibuku meninggal di depan mataku sendiri. Aku mendapatkan sebuah bayangan masa lalu, sebelum kejadian itu terjadi, aku nampak sedang asyik bercengkeramah dengan seseorang yang mirip sekali denganku.

“Xiao Xun, tebak hari ini aku membeli apa?”

“Apa yang kau beli?”

“Ta….da… lihatlah aku membeli gelang dari batu giok. Di dalamnya ada ukiran nama kita. Yang hijau ini punyamu yang kuning ini punyaku.”

“Wah, kau benar – benar pintar membeli barang. Hao piaoliang a. Bolehkah aku melihat punyamu dulu?”

“Tentu saja. Ini.”

Kemudian, terjadilah kecelakaan itu.

“Bibi, sepertinya aku teringat sesuatu.”

“Shenme? Xiao jie, kau ingat apa?”

“Gelang ini adalah gelang yang dibelikan Xiao Xin. Aku juga mempunyainya. Tapi saat itu dibawa Xiao Xin. Foto ini juga foto Xiao Xin bersamaku, dui bu dui?”

“Xiao jie, kau ingat sekarang?”

“Bibi, kenapa aku bisa lupa dengan saudara kembarku sendiri? Bagaimana ini bisa terjadi? Dan kenapa bibi tidak menceritakannya padaku?’

“Dui bu qi Xiao jie, bukan maksud bibi untuk menutupinya darimu. Kondisimu saat itu benar – benar sangat labil. Kau mengalami trauma mendalam tentang kecelakaan itu, akhirnya dokter melakukan terapi agar kau tidak lagi mengingat kejadian itu. Saat kau mulai ceria lagi, kau tidak lagi teringat kejadian itu. Aku memutuskan untuk membuatmu tidak lagi teringat masa lalu. Akhirnya aku menyimpan segala macam benda dari masa lalumu. Tujuanku supaya kau bisa hidup normal kembali.”

“Shenme keneng? Lalu, di mana dia sekarang?”

“Bu zhidao. Tidak ada yang tahu keberadaannya dia. Penyelidik mengatakan Xiao Xin terjatuh ke jurang dan kemungkinan besar ia telah meninggal. Karena aku terlalu sibuk untuk mengurusmu, aku sampai lupa terhadap Xiao Xin xiao jie. Aku sebenarnya ingin mengatakan hal ini pada xiao jie, tapi aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya.”

………. ………… …………

“Jadi begitu ceritanya. Kau telah banyak menderita.” ucap Xiao Man sambil memeluk Xiao Xun.

“Aku sangat merindukan kalian. Aku juga bertanya – tanya kenapa Xiao Xin saat itu juga naik pesawat ke Beijing. Kau bilang kau menemukan tas ku di tempat kejadian kecelakaan pesawat tersebut. Tapi aku tahu satu hal, kenapa kalian mengira dia adalah aku. Pemuda itu melihat gelang yang dipakai Xiao Xin. Sebenarnya itu adalah gelang yang diberikan Xiao Xin padaku bertuliskan namaku. Mungkin karena melihat tulisan yang ada di gelang itu, pemuda itu akhirnya memanggil Xiao Xin dengan namaku. Xiao Xin saat itu mengalami amnesia, jadi dia hanya bisa menurut.”

“Eh, apa Xiao Xin masih tidur?” tanya Xiao Xun.

“Sepertinya begitu. Ada Wang Zi yang menjaganya.”

Di kamar pasien…………

“Jadi kau bukanlah Xiao Xun tapi Xiao Xin? Tak peduli siapa namamu tapi bagiku kau adalah orang yang sama. Kau yang menyuruhku menjaga diri, tapi kenapa kau tidak menjaga dirimu?” ucap Wang Zi sembari memegang tangan Xiao Xin erat. Air matanya tak kuasa ia bendung.

Xiao Xin terbangun.

“Kau sudah bangu?” ucap Wang Zi.

“Ni…. ni shi shui?” tanya Xiao Xin.

“Shenme? Kau tidak mengenaliku?”

“Xiao Xin, sudah bangun?”

“Jie!!!” Xiao Xin begitu senang bisa bertemu kembali dengan saudara kembarnya.

“Aku sangat merindukanmu. Selama ini aku berusaha mencarimu, tapi…..” ucap Xiao Xin.

“Dui bu qi. Semua ini memang salahku. Jika aku tidak terlalu bersedih atas kecelakaan itu, aku tidak akan melupakanmu.” Xiao Xun tak kuasa membendung air matanya.

Mereka berdua saling berpelukan.

“Mulai sekarang kita tidak akan terpisahkan lagi. Sebagai kakakmu aku akan menjagamu.” ucap Xiao Xun.

“Xiao Xin, kau sudah baikan? Kami mengira selama ini kau adalah Xiao Xun, karena kalian benar – benar mirip.” ucap Xiao Man.

“Jie, ta shi shui?” tanya Xiao Xin.

“Dia Xiao Man, yang itu Xiao Yu, yang itu Ao Quan, sedang yang satu itu adalah yang menyelamatkanmu saat kau mengalami kecelakaan pesawat, namanya Wang Zi.”

“Kau adalah saudara kembarnya Xiao Xun, dan kami adalah temannya Xiao Xun, berarti kau juga teman kami. Xiao Xin, salam kenal.” ucap Ao Quan.

“Adik ipar, senang berjumpa denganmu.” ucap Xiao Yu.

“Xiao Yu……..” ucap Xiao Xun.

“Wei shenme? Apa yang aku katakan salah?”

Xiao Xin hanya tertawa kecil.

“Eh, tapi bagaimana cerita yang sebenarnya sampai kalian bisa terpisah? Kenapa saat terjadi kecelakaan pesawat itu kau bisa membawa tas milik Xiao Xun?” tanya Xiao Yu.

Empat tahun lalu………….

 *Xiao Xin*

Saat kecelakaan itu, aku terpental keluar mobil dan terjatuh ke jurang. Aku sudah tidak mempunyai daya, aku pikir hidupku akan berakhir saat itu juga. Kemudian ada seorang pria datang menolongku. Dia adalah seorang dokter. Dia tinggal bersama istrinya yang depresi semenjak putri tunggal mereka meninggal dunia beberapa bulan lalu. Pria itu lalu merawatku dengan sabarnya. Karena lukaku cukup parah, butuh waktu satu tahun agar kondisiku bisa seperti sedia kala. Wanita itu selalu mengira aku adalah anaknya. Ia memberikan perhatian yang begitu besar bagiku. Aku ingin sekali keluar dari rumah tersebut dan kembali pulang. Tapi pria itu memohon dengan sangat kepadaku untuk tidak pulang dulu. Karena istrinya akan lebih sangat menderita jika aku perg, pria itu juga berjanji akan membantuku untuk pulang. Mengingat kebaikan yang telah diberikan oleh kedua orang tersebut, aku mengurungkan niatku untuk pergi. Aku memutuskan untuk tinggal sementara waktu di sana. Hampir dua tahun aku tinggal di rumah kedua pasangan suami istri tersebut. Aku lalu memutuskan untuk kembali pulang. Sesuai janjinya, pria itu membantuku. Saat aku pergi ke rumah, tidak ada satu orang pun di sana. Tetangga di sekitar rumah mengatakan bahwa penghuni rumah itu sudah pindah sejak beberapa tahun lalu. Namun pria itu rupanya benar – benar menepati janjinya. Dengan mengumpulkan banyak info dari beberapa sumber, dia mendapatkan informasi tentang keberadaan Xiao Xun. Saat itu aku juga mengetahui satu fakta bahwa ayah dan ibu telah tiada. Kemudian tiba – tiba saja pria itu jatuh sakit. Istrinya tak bisa sendirian mengurusnya. Mau tidak mau, aku pun merawatnya. Aku menunda lagi kepergianku. Sepertinya aku memang tidak diperkenankan untuk meninggalkan mereka berdua. Hingga tak terasa empat tahun sudah aku tinggal di sana. Rasa ingin bertemu Xiao Xun yang sangat tinggi membuatku tak bisa lagi menahan rasa ingin pulang. Pria itu membelikanku tiket pesawat dan menunjukkan alamat baru Xiao Xun.

 

Setibanya aku di bandara, aku duduk – duduk sebentar di kursi yang tersedia. Aku melihat ada sebuah tas yang terletak di sampingku. Ada sesuatu yang membuatku penasaran dengan tas itu. Karena ada sebuah gantungan bertuliskan XX yang terkait di tas itu. Gantungan itu sangat familiar bagiku, lalu aku teringat. Gantungan itu sama persis dengan yang diberikan Xiao Xun padaku. Perasaanku mengatakan jika itu adalah tas Xiao Xun. Kemudian aku membuka tas tersebut untuk memastikan apakah itu benar tas Xiao Xun. Aku lalu membuka dompet. Alangkah terkejutnya aku saat tahu jika ada foto Xiao Xun di dalamnya. Ya, benar ini adalah milik Xiao Xun. Tapi dia dimana? Kenapa membiarkan tasnya tregeletak di sembarang tempat? Kemudian ponsel Xiao Xun berbunyi. Rupanya sebuah pengingat. Goes to Beijing!” Aku lalu bepikir, apa jangan – jangan Xiao Xun pergi ke Beijing. Saat aku melihat jadwal penerbangan, ternyata pesawat menuju Beijing telah berangkat jam 9 tadi. Pesawat selanjutnya akan berangkat jam 10. Tak mau kehilangan jejak Xiao Xun, aku pun segera memesan tiket pesawat. Tapi tak disangka, kecelakaan itu terjadi. Sejak saat itu aku tidak bisa mengingat apapun. Rasanya seperti mimpi dan aku kini telah terbangun dari mimpi tersebut.

……… ……….. ……….

 

Mendengar cerita Xiao Xin, Xiao Xun semakin tidak bisa membendung air matanya.

“Selama ini kau begitu banyak menderita.”

“Penderitaanku tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang aku dapat sekarang.” ucap Xiao Xin.

“Eh Xiao Xin, jadi setelah kejadian kecelakaan pesawat itu, kau tidak ingat apa yang kau alami?” tanya Xiao Man.

“Dui.”

“Lalu, bahkan Wang Zi pun kau tidak ingat?” tanya Ao Quan.

“Wang Zi? Shui? Aku tidak mengenalnya.” ucap Xiao Xin.

Mendengar perkataan Xiao Xin barusan, Wang Zi merasa sangat sedih. Ia pun keluar dari ruangan tersebut.

“Wang Zi…” ucap Ao Quan.

“Biar aku yang bicara dengannya.” ucap Xiao Xun.

“Kau Wang Zi ’kan? Orang yang menyelamatkan Xiao Xin saat peristiwa kecelakaan itu?” tanya Xiao Xun.

Wang Zi menganggukkan kepalanya.

“Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawa wo de mei mei. Aku tahu ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikan yang telah kau lakukan untuk adikku. Kau juga tahu ingatan Xiao Xin telah pulih, dia sepertinya tak bisa mengingat kejadian selama 6 bulan ini. Apa kau tidak merasa ini tidak adil bagimu?”

“Sejujurnya aku merasa begitu. Aku tidak berharap Xiao Xin mengingat apa yang aku lakukan padanya. Hanya saja aku berharap dia bisa mengingat namaku. Itu saja sudah cukup. Tapi aku tahu itu mungkin hal yang mustahil. Kalau dipikir – pikir bukankah ini yang terbaik? Sejak awal memang kita tidak saling mengenal. Jika berakhir seperti ini, bukankah tidak ada bedanya?”

“Kau menyukai Xiao Xin?”

“Shenme?”

“Aku melihat dari sorot matamu ketika membicarakan dia. Benar kau menyukainya?”

“Itu……..”

“Aku senang ada laki – laki sebaik dirimu yang menyukai Xiao Xin. Dengan begitu, aku tidak akan khawatir menyerahkannya padamu.”

“Tapi meskipun aku menyukainya, apa itu merubah keadaan? Ia tetap tidak akan ingat padaku.”

“Jika kau menyukainya, kau harus berusaha mendapatkan hatinya kembali. Tak peduli apa reaksinya, setidaknya kau sudah berusaha. Apa sebelum Xiao Xin sembuh dari amnesianya, dia tahu kau menyukainya?”

Wang Zi menggelengkan kepalanya.

“Inilah saatnya kau berjuang mendapatkan cintanya. Aku akan mendukungmu.”

………. ……………. ………….

Semnetara itu di kamar, Xiao Xin ditemani oleh Ao Quan dan Xiao Man. Sedari tadi Xiao Xin sangat terhibur dengan kedua orang ini. Apalagi saat mereka mulai bertengkar.

“Wei! Ah, Hu Chong. Wo hen hao. Shenme? Bu hui, aku sedang menemani seorang teman di rumah sakit. Kapan? Lusa? Baiklah.” Ucap Xiao Man selama telepon.

“Siapa dia? Pacar barumu?” tanya Ao Quan jengkel.

“Siapa dia itu bukan urusanmu. Aku juga tidak pernah mencampuri urusanmu.”

“Heh, apa laki – laki waktu di cafe itu? Kau belum tahu ’kan dia baik atau tidak? Bagaimana jika dia playboy?”

“Jangan samakan dia dengan dirimu. Hu Chong begitu baik, sabar, dan pengertian. Dia benar – benar idaman wanita.”

Ao Quan merasa kesal mendengar Xiao Man selalu membela Hu Chong. Ia pun memutuskan untuk menelepon seorang gadis untuk memanas manasi Xiao Man.

“Apa yang kau bicarakan dengan Wang Zi?” tanya Xiao Yu.

“Bukan apa – apa. Hanya sebuah anjuran.”

“Kau tahu, aku sempat merasa cemburu karena kau dekat sekali dengan Wang Zi, bahkan aku seperti orang lain saja.”

“Tapi itu ’kan bukan aku. Jika aku, apa kau percaya aku akan melakukan hal itu?”

“Tentu saja tidak. Pantas selama ini aku tidak merasakan perasaan yang aku rasakan saat bertemu denganmu.”

“Perasaan apa?”

“Perasaan yang tidak bisa dikatakan dengan kata – kata.”

“Kau bisa saja. Aku rindu sekali denganmu. Kau tahu saat aku di Beijing, hal yang membuatku begitu ingin pulang adalah agar aku bisa bertemu denganmu kembali.”

“Kejadian kali ini benar – benar membuatku menyadari sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku tidak akan lagi membiarkanmu pergi sendiri.”

“Aku ’kan bukan anak kecil lagi. Lagipula apa kata orang nanti jika melihat kita selalu bersama? Kita ’kan belum ada ikatan”

“Kalau begitu kita menikah saja.”

“Kau ini……”

“Sini, kemarilah. Udara hari ini sangat dingin. Pelukan ini akan membuatmu merasa hangat.”

………. ………. ………

Beberapa hari kemudian, Xiao Xin diperbolehkan pulang.

“Xiao jie…… senang sekali bertemu kembali denganmu. Maafkan bibi………”

“Mei guan xi. Yang penting sekarang aku bisa berkumpul lagi bersama bibi dan Xiao Xun.”

“Xiao Xin, ini kamarmu. Seseorang yang membuatnya menjadi cantik seperti ini.” ucap Xiao Xun.

“Shui ya?”

“Wang Zi.”

“Aah, dia lagi? Kenapa selalu saja dia.”

“Wei shenme? Kau tidak menyukai Wang Zi?”

“Jie….. selama aku terbaring di rumah sakit dia melakukan hal – hal aneh. Mulai dari memberiku baju yang katanya dia beli di pasar. Membuatkan ku cha untukku. Menceritakan sebuah dongeng untukku, dan masih banyak hal aneh yang dilakukannya. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu? Bagaimana dia bisa tahu aku suka ku cha? Bagaimana dia bisa tahu apa makanan kesukaanku, bagaimana dia bisa tahu aku suka warna kuning? Sebenarnya siapa dia?”

“Dia adalah seseorang yang dihadiahkan Tuhan untukmu. Ingatlah dia yang telah menyelamatkan nyawamu dari kecelakaan pesawat itu. Kau tidak bisa begitu saja mengabaikannya.”

Sementara itu Xiao Yu, Ao Quan, Xiao Man, dan Wang Zi sedang berkumpul di rumah Xiao Yu.

“Apa Xiao Xim masih belum mengingatmu?” tanya Xiao Yu.

Wang Zi menggelengkan kepala.

“Terhadap kalian dia sangat hangat, tapi terhadapku dia begitu dingin.”

“Kau jangan patah semangat seperti itu. Semua pasti ada jalan keluarnya.” ucap Xiao Man.

Wang Zi menyendiri di sebuah ruangan di rumah Xiao Yu. Dia melihat ada sebuah gitar. Ia pun mengambilnya dan memainkannya. Saat memainkan gitar itu, pikiran Wang Zi justru tertuju kepada Xiao Xin. Sambil menyanyikan lagu dan memetik gitarnya, ia terus memikirkan Xiao Xin

Wei wei xiao de kan ni,

yue shi ren zhen

jiu yue rang ren xin teng

jie tou na zhan lu deng fang bu zai xiao wo yu ben

Mei shen me neng zuo,

 dan wo bi shui dou zhen cheng

 pao yi bei ku cha, pei ban ni dao ye shen*

Itulah kalimat yang dinyanyikan Wang Zi.

“Wa sei, Wang Zi suaramu bagus sekali.” puji Xiao Man.

“Kami semua mencarimu kau malah di sini. Eh, keushi lagu siapa yang baru saja kau nyanyikan tadi?” tanya Ao Quan.

“Bu zhi dao. Aku spontan menyanyikannya.”

“Maksudmu itu lagu ciptaanmu sendiri? Wa sei, aku saja selama ini tidak pernah bisa menciptakan lagu” ucap Ao Quan.

“Jangan samakan dirimu dengan Wang Zi. Keushi, lagu yang dinyanyikan Wang Zi tadi lumayan bagus, shi bu shi?” tanya Xiao Man.

“Shi a. Lirik dan melodinya sangat padu.” ucap Xiao Yu.

“Eh, bagaimana jika Wang Zi kita rekrut menjadi vokalis kita? Lagipula kondisi kaki Xiao Yu sudah membaik, kita bisa membangun band kita kembali.” ucap Xiao Man.

“Ide bagus!” ucap Ao Quan.

“Wo juede, itu keputusan yang bagus.” Ucap Xiao Yu.

“Shenme? Aku menjadi vokalis? Keushi……”

“Mei you…. Vokalmu bagus. Kau hanya kurang rasa percaya diri. Masalah itu, serahkan saja padaku.” ucap Xiao Man.

………. ………. ………

“Xiao Man? Kenapa menangis?” tanya Xiao Xun melihat Xiao Man yang tiba – tiba menangis.

“Hu Cong senpai, dia, ternyata dia hanya menjadikanku bahan taruannya. Aku baru tahu saat memergokinya menerima uang dari temannya. Aku merasa aku seperti gadis murahan yang bisa dibodohi oleh orang seperti dia.”

“Minumlah dulu.” ucap Xiao Xun.

“Euhh,, zhi shi shenme? Rasanya pahit sekali” ucap Xiao Man.

“Zhe shi ku cha. Saat aku sedang sedih atau kesal, aku pasti minum ini agar sedih atau kesalku hilang.”

“Ah?”

“Sudah aku bilang jangan sembarangan mempercayai laki – laki. Lagipula mana ada laki – laki yang mau denganmu?” ledek Ao Quan tiba – tiba.

“Ao Quan, jangan bicara seperti itu.” ucap Xiao Xun.

“Kau benar, aku telah dibodohi oleh laki – laki seperti dia. Apa kau puas sekarang melihatku sedih? Ini ’kan yang kau mau?” ucap Xiao Man kesal lalu pergi meninggalkan Xiao Xun dan Ao Quan.

“Wa sei, begitu saja marah.” ucap Ao Quan.

“Pantas saja Xiao Man marah. Kata – katamu tadi sungguh tidak berperasaan.”

“Aku hanya ingin menggodanya, membuatnya marah, agar dia tidak bersedih lagi.”

“Tapi cara yang kau lakukan salah. Apa kau tidak bisa berkata manis kepada Xiao Man?”

Xiao Xin sedang berada di halaman belakang rumahnya. Dia sedang merajut.

“Xiao Xin, kau sedang apa?” tanya Wang Zi.

“Apa kau buta, tidak bisa melihat apa yang sedang aku lakukan?”

“Kau sedang merajut apa?”

“Apa aku harus menjawabnya?”

“Hei, setidaknya jika aku mengajakmu bicara, menghadaplah ke arahku. Kau begitu seperti tidak menghargaiku saja.”

“Memang” ucap Xiao Xin singkat.

“Ni shi shenme? Apa kesalahan yang aku lakukan sampai kau selalu menampakkan wajah masammu itu di depanku?”

“Kesalahanmu adalah karena kau selalu membuatku kesal.”

“Shenme?”

“Kenapa kau masih di sini? Bukankah ini waktumu untuk bekerja? Tidak takut dimarahi bosmu?”

“Kenapa dia bisa tahu sekarang adalah waktuku bekerja? Yang lainnya saja tidak tahu, kenapa dia bisa tahu?” batin Wang Zi.

“Aku sudah keluar”

“Keluar? Jadi sekarang kau hanya mengandalkan pekerjaan part time mu di pasar? Apa kau pikir itu cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari – harimu?”

“Heh?” ucap Wang Zi.

……… ………. …………

“Sudah beberapa hari ini dia tidak mau keluar kamar. Aku takut terjadi apa – apa dengan Xiao Man.” ucap Xiao Xun.

“Jie, tenanglah. Kita pikirkan bagaimana cara membujuk Xiao Man keluar.” ucap Xiao Xin.

“Ini semua gara – gara kau. Jika kau tidak mengatakan hal – hal yang membuat Xiao Man marah, dia tidak akan berbuat begini.” ucap Xiao Xun menyalahkan Ao Quan.

“Wei? Kenapa aku yang salah?”

“Ini bukan saatnya kita menyalahkan siapa. Tapi bagaimana kita membujuk Xiao Man agar mau keluar. Ao Quan, mau kah kau membujuk Xiao Man?”

“Aku? Mana mungkin aku bisa membujuknya?”

“Sebenarnya kau lah yang paling perhatian kepada Xiao Man di antara kita semua. Meskipun aku baru mengenal kalian, tapi aku bisa melihat dan merasakannya. Kau sangat peduli dan perhatian kepada Xiao Man, hanya saja kau tidak tahu bagaimana melakukannya. Ditambah lagi, ni xihuan ta, dui bu dui?” ucap Xiao Xin.

“Ah, shenme keneng?”

“Terserah bila kau mengingkari perasaanmu. Tapi sekarang  tolong kau bujuklah dia. Dengan caramu.” pinta Xiao Xin.

Xiao Yu, Xiao Xun, Wang Zi, dan Xiao Xin menunggu di depan kamar Xiao Man. Menunggu apakah Ao Quan berhasil membujuk Xiao Man.

“Kau seperti anak kecil saja mengurung diri di dalam kamar.” ucap Ao Quan.

“Kau….. bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?”

Ao Quan melirik ke arah jendela.

“Dari dulu aku sudah memberitahumu untuk memperbaiki jendela itu. Rupanya kau belum juga memperbaikinya.”

“Lalu, kenapa kau ke sini?”

“Karena kau mengurung diri selama beberapa hari, semua orang menyalahkan aku dan memintaku membujukmu untuk keluar kamar.”

“Oh, jadi kau melakukan ini karena terpaksa? Wo bu yao!”

“Kau jangan menyulitkanku seperti ini.”

“Siapa yang menyulitkanmu? Aku mau begini aku mau begitu, apa pedulimu?”

“Tentu aku peduli.”

Xiao Man sempat terdiam.

“Pasti karena kau tidak ingin disalahkan mereka lagi.”

“Bu shi.”

“Bu shi?”

“Sebenarnya aku…..” Ao Quan nampak ragu mengatakannya.

“Sebenarnya apa?”

“Aku tidak mau melihatmu mengurung diri seperti ini, aku peduli padamu, semata – mata bukan karena aku tidak ingin disalahkan”

“Lalu? Karena kau menganggapku sebagai teman?”

“Bu shi.”

“Lalu apa?”

“Karena aku…… karena aku…..”

“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan? Cepat katakan!”

“Karena aku menyukaimu.” ucap Ao Quan.

Xiao Man sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Ao Quan barusan.

“Kau jangan berbohong. Kau pasti sengaja mengatakan itu agar aku mau keluar ’kan?”

“Untuk apa aku berbohong masalah ini? Aku memang serius.”

“Keushi, bukankah selama ini kau selalu mengejekku, tidak pernah membuatku senang.”

“Itu karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menunjukkan perhatianku padamu. Lalu kau, ni ye de ai wo ma?” tanya Ao Quan.

Beberapa saat kemudian…………

“Apakah Ao Quan akan berhasil?” ucap Xiao Xun cemas.

“Dia pasti akan berhasil.” ucap Xiao Xin.

Rupanya perkataan Xiao Xin benar adanya. Perlahan pintu kamar Xiao Man terbuka. Nampak Ao Quan dan Xiao Man sedang bergandengan tangan.

“Xiao Man!! Kalian, kenapa bergandengan tangan?” ucap Xiao Xun.

“Ah, bu shi!” Xiao Man hendak melepaskan genggamannya tapi dicegah oleh Ao Quan.

“Ai yo, apa lagi yang harus kau tutupi? Semua orang sudah mengetahuinya. Xiao Xin, xie xie. Berkat kau aku jadi sadar untuk mengungkapkan perasaanku.” ucap Ao Quan.

“So yi, nimen…..” ucap Xiao Yu.

“Dui, kami resmi berpacaran sekarang.” ucap Ao Quan.

……… …….. ……….

“Kau benar – benar luar biasa.” ucap Wang Zi.

“Wei shenme?” tanya Xiao Xin.

“Kau berhasil membuat Ao Quan mengungkapkan perasaannya.”

“Aku hanya meyakinkan dia. Lagipula jika kita mempunyai perasaan terhadap orang, kita harus mengatakannya. Entah itu bagaimana tanggapan orang tersebut, setidaknya kita harus mengungkapkannya.”

“Apa kau juga begitu?”

“Wo……… Itu bukan urusanmu!” ucap Xiao Xin lantas pergi meninggalkan Wang Zi.

“Ni shenme le?” tanya Xiao Xun pada Xiao Xin.

“Mei shenme.”

“Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Apa?”

“Apakah benar kau tidak ingat sama sekali terhadap Wang Zi?” tanya Xiao Xun.

“Kenapa tiba – tiba bertanya seperti itu? Kau juga sudah tahu aku sama sekali tidak mengingat dia.”

“Aku hanya ingin memastikan. Eh, baju ini bagus sekali, aku pinjam ya?” tanya Xiao Xun sembari mengambil sebuah baju yang tersimpan di almari Xiao Xin.
Malam harinya…………

“Kenapa senyum – senyum sendiri?” tanya Xiao Yu.

“Aku senang, kita semua bisa bahagia seperti ini. Berharap ini bukanlah mimpi semata.”

Xiao Yu mencubit pipi Xiao Xun.

“Aoo, sakit.” keluh Xiao Xun.

“Berarti bukan mimpi ’kan?” tanya Xiao Yu.

Sementara Ao Quan dan Xiao Man menikmati bagaimana rasanya menjadi seorang pasangan kekasih baru.

“Ni gaoxing ma?” tanya Ao Quan.

“Shi a. Selama mengenalmu, baru kali ini aku merasa benar – benar bahagia.”

“Kau pasti lelah seharian ini berjalan – jalan bersamaku. Sini, sandarkanlah kepalamu.”

Xiao Man lalu menyandarkan kepalanya di pundak Ao Quan.

Sedangkan Xiao Xin sedang duduk – duduk di halaman belakang rumahnya. Menikmati indahnya malam.

“Jie, sudah malam. Jangan di luar terus, nanti kau bisa terserang flu.” ucap Bibi Hong.

“Bibi tenang saja. Aku bisa menjaga diri.” ucap Xiao Xin.

Kemudian muncullah Wang Zi.

“Kau datang lagi.” ucap Xiao Xin.

“Kau tenang saja. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal.”

“Selamat tinggal?”

“Aku tahu bagaimana kerasnya usahaku untuk membuatmu ingat kepadaku, kau tidak akan bisa ingat kepadaku. Aku malah membuatmu semakin merasa tidak nyaman. Dui bu qi”

Xiao Xin sama sekali tidak memberikan reaksinya.

*Xiao Xun dan Xiao Yu*

“Eh, bagaimana dengan Xiao Xin? Apa dia masih belum bisa mengingat Wang Zi?”

Xiao Xun tersenyum.

“Kenapa tersenyum?”

*Xiao Xin dan Wang Zi*

“Kau tenang saja. Mulai saat ini aku akan melupakanmu, tidak akan mengganggumu lagi.” Wang Zi lalu mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya. Benda itu tak lain adalah baju hangat pemberian Xiao Xin.

“Aku akan membuang ini. Menyimpan ini hanya semakin membuatku teringat padamu.”

Wang Zi akan membuang bajunya tersebut, tapi…

“Kenapa kau membuangnya begitu saja? Aku susah payah membuatkan untukmu sampai aku tidak tidur. Kau tidak menghargai hasil kerja kerasku!” ucap Xiao Xin spontan.

“Shenme?” ucap Wang Zi sambil menatap Xiao Xin tajam.

“Mei you.” ucap Xiao Xin hendak meninggalkan Wang Zi, tapi Wang Zi mencegahnya.

“Bagaimana kau bisa tahu? Bukankah kau bilang kau tidak bisa mengingatku?”

Xiao Xin terdiam.

*Xiao Xun dan Xiao Yu*

“Mereka berdua akan menemukan jalan terbaik.”

“Kau bicara seolah – olah mereka akan bersama” ucap Xiao Yu.

Beberapa jam lalu………….

“Aku hanya ingin memastikan. Eh, baju ini bagus sekali, aku pinjam ya?” tanya Xiao Xun sembari mengambil sebuah baju yang tersimpan di almari Xiao Xin.

“Bu shi a! Kau boleh memakai semua bajuku tapi jangan yang itu.” ucap Xiao Xin.

“Wei shenme? Apa bedanya baju ini dengan baju – bajumu yang lain?”

“Itu baju pemberian Wang Zi. Susah payah ia mengumpulkan uang baru bisa membelikanku baju itu.” Ucap Xiao Xin spontan.

“Shenme? Baju pemberian Wang Zi?”

Xiao Xin nampak gugup.

“Kenapa kau harus berpura – pura seperti ini?” tanya Xiao Xun.

“Xiao Xun, bagaimana kau bisa tahu?”

“Itulah mengapa darah lebih kental daripada air. Aku sudah mengenalmu puluhan tahun, aku bisa merasakan apa yang kau rasakan. Aku bisa mengetahui apa yang kau pikirkan. Dengan orang lain kau bisa berbohong, tapi tidak denganku.”

“Jadi dari awal kau sudah tahu jika sebenarnya meskipun ingatanku telah sembuh, aku tetap mengingat Wang Zi?”

“Tidak juga. Aku akui aktingmu kali ini benar – benar bagus, sampai – sampai kau hampir mengelabuhiku. Tapi suatu ketika aku melihatmu memegang erat baju ini. Aku pun lantas berpikir dan akhirnya tiba pada satu kesimpulan tersebut. Xiao Xin, kenapa kau melakukannya?”

“Karena aku ingin  balas dendam padanya. Ia membiarkanku begitu saja kembali ke rumah tanpa mencoba mencegahku. Kenapa dia tidak mengatakan apapun? Terakhir kali dia juga bersikap buruk kepadaku. Aku sangat sebal dengannya. Memang dia pikir siapa dia bisa membuatku seperti ini?”

“Jadi begitu rupanya.”

“Eh, tapi kau jangan ceritakan ini ke siapapun. Aku mohon.”

“Dui ya. Aku tahu kau sedang menguji cinta Wang Zi kepadamu. Aku ingin lihat bagaimana akhir dari ceritamu.”

*Xiao Xin dan Wang Zi*

“Xiao Xin, jadi sejak awal kau tidak benar – benar lupa kepadaku?” tanya Wang Zi.

“Apa maksudmu bicara seperti itu?”

“Kau jangan mencoba menyangkal lagi. Semua bukti sudah jelas. Saat itu, bagaimana kau bisa tahu aku harus bekerja. Sekarang bagaimana kau bisa tahu kau yang merajut baju itu. Kau bisa menjelaskan semua ini?”

Xiao Xin tidak bisa menjawabnya.

“Xiao Xin, kenapa kau berbuat seperti ini padaku? Kau tahu, kau membuatku menderita dengan tingkah lakumu itu. Apa aku menyakitimu sampai – sampai kau berbuat seperti ini?”

“Dui ya. Aku memang marah kepadamu. Saat Xiao Yu mengajakku pulang, kenapa kau sama sekali tidak menahanku? Apa kau tidak menginginkan kehadiranku lagi? Kau juga bersikap kasar kepadaku. Kenapa kau lakukan semua itu? Wei shenme?”

“Karena saat itu aku merasa aku tidak berhak menahanmu pergi. Xiao Yu mengatakan kau adalah kekasihnya. Kau adalah putri dari keluarga kaya. Lalu tiba – tiba kau harus hidup menderita bersamaku. Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan? Jika aku bisa, aku akan memintamu untuk tinggal bersamaku.”

“Lalu kenapa kau tidak memintaku untuk tinggal?”

“Karena aku tidak bisa membuatmu lebih menderita lagi.”

“Jadi kau pikir selama ini aku menderita tinggal bersamamu? Atas dasar apa kau berkata seperti itu? Kau berbuat seenakmu sendiri tanpa menanyakan kepadaku. Kau benar – benar keterlaluan!”

Wang Zi lalu memeluk Xiao Xin erat.

“Wo zhidao. Aku tahu aku telah keterlaluan padamu. Aku berbuat salah kepadamu. Aku hanya memikirkan diriku. Dui bu qi. Tapi aku melakukan semua ini karena aku sangat menyukaimu, aku tidak bisa melihatmu terus – terusan menderita. Sekarang aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku akan melindungimu, aku tidak akan lagi membiarkan orang lain merebutmu.”

“Wang Zi, xie xie. Kata – kata inilah yang ingin aku dengar darimu. Jangan lagi biarkan orang lain merebutku darimu.”

Tiga tahun kemudian………………..

“Hao sang hao! Wan an! Hari ini adalah peresmian cafe baruku. Terima kasih kalian semua sudah datang. Ada tamu spesial yang akan hadir sesaat lagi, pasti kalian sudah mengenalnya. Sedikit bocoran, dulu aku juga salah satu anggotanya. Tapi karena aku lebih tertarik mengembangkan cafe, aku akhirnya keluar. Tanpa basa basi lagi kita sambut band pendatang baru yang paling hebat di negeri ini, Lollipop-F!” ucap Xiao Man.

Tepuk tangan pun membahana dari para tamu yang mayoritas adalah gadis – gadis muda.

“Terima kasih kepada Xiao Man telah mengundang kami ke acara peresmian cafenya. Sebenarnya jadwal kita sangat padat, tapi demi dia, kami membatalkan seluruh acara kami.” ucap Wang Zi yang membuat semua tamu tertawa.

“Hari ini kami akan membawakan sebuah lagu yang menjadi single andalan di album perdana kami. Eh, kalian sudah membeli album kami ’kan?” tanya Wang Zi.

Semua tamu sontak mengatakan ”sudah”.

“Wa sei, kalian benar – benar fans setia kami. Baiklah, tanpa berbasa – basi lagi. Sebuah lagu yang khusus aku tulis dan aku persembahkan untuk seseorang yang telah membuat hidupku ini menjadi lebih indah.”

Semua tamu bersorak.

Mereka pun mulai memainkan lagu mereka. Tiga tahun lamanya mereka berjuang untuk menembus dapur rekaman. Akhirnya berkat kerja keras mereka, band yang mereka beri nama Lollipop-F ini bisa menghasilkan sebuah album dengan single andalan mereka Ku Cha. Single ini menembus peringkat pertama beberapa chart musik. Mereka pun terpilih sebagai band pendatang baru terbaik dan penjualan album terbanyak tahun ini. Prestasi yang bisa dibilang sangat cemerlang untuk sebuah band baru. Sebelum debut, Xiao Man memutuskan untuk keluar dengan alasan dia lebih tertarik mengembangkan cafe. Akhirnya mereka merekrut anggota baru. Hingga terbentuklah formasinya. Xiao Yu sebagai drummer, Wang Zi sebagai vokalis, Ao Quan sebagai gitaris sekaligus leader (meskipun dia dari luar seperti orang bodoh dan sangat konyol, tapi dalam hal bermusik dia lah yang paling disiplin dan serius. Makanya dia terpilih sebagai leader). Tiga personil baru mereka adalah Xiao Jie sebagai gitaris, Wei Lian sebagai keyboardist, dan Ah Wei sebagai bassist. Lagu Ku Cha sendiri adalah hasil ciptaan dari Wang Zi, yang khusus ditujukannya kepada sang pujaan hati.

Wei wei xiao de kan ni,

yue shi ren zhen

jiu yue rang ren xin teng

jie tou na zhan lu deng fang bu zai xiao wo yu ben

Mei shen me neng zuo,

dan wo bi shui dou zhen cheng

pao yi bei ku cha, pei ban ni dao ye shen

Ni zhi  bu zhi dao,

Ni zong you yi zhong

Hen ke ai de du te

Rang wo chong man yong

Qi di dang dong

Tian de han leng zen

Yang zuo cai hui wan mei, xiang ge nan ren?

He yi bei ku cha wen nuan ni de ti wen*

 

Begitulah sebagian lirik yang dinyanyikan mereka. Sementara itu, di sela – sela kerumunan orang, nampak Xiao Xin sedang menikmati lagu tersebut.

Malam semakin larut, para tamu yang hadir telah pergi. Tinggal anggota Lollipop-F, Xiao Man, Xiao Xun, dan Xiao Xin yang tersisa. Mereka membuat pesta sendiri.

“Aku ucapkan selamat kepada kekasihku tercinta atas peresmian cafe barunya. Semoga cafe ini semakin banyak pengunjung tiap hari.” ucap Ao Quan.

“Ai yo, haruskah kau mengatakan itu di depan semua orang?” ucap Xiao Man.

“Eh, bagaimana jika cafe milik Xiao Man kita jadikan fanbase kita? Selain menambah keakraban antara kita dan penggemar, Xiao Man juga akan mendapatkan keuntungan?” usul Xiao Jie.

“Dui ya. Idemu bagus juga. Aku setuju!” ucap Wei Lian.

“Aku juga” ucap Ah Wei.

“Aku juga!” ucap Wang Zi dan Ah Wei bersmaan.

“Ah, benar juga. Keuntunganku akan semakin banyak. Hao, aku setuju.” ucap Xiao Man.

“Kalau begitu mari kita rayakan keberhasilan kita!” ucap Xiao Xun.

“Wang Zi, untuk apa mengajakku ke sini? Di sini sangat gelap. Kita kembali saja menemui yang lain.” ucap Xiao Xin.

“Bu shi a!” ucap Wang Zi mencegah Xiao Xin.

“Aku ingin memberikan sesuatu padamu. Tutuplah matamu.” ucap Wang Zi.

Xiao Xin menutup matanya.

“Sekarang bukalah matamu.”

Saat membuka mata, Xiao Xin melihat Wang Zi memegang sebuah kotak kecil berisi cincin.

“Bagaimana jika kita bertunangan?” tanya Wang Zi.

“Shenme?”

“Setelah aku lebih mapan lagi dari sekarang, aku akan segera melamarmu.”

“Agh, aku benar – benar terkejut. Kau baru saja debut, apa kau tidak takut penggemarmu akan marah saat tahu kau akan bertunangan denganku?”

“Sama sekali tidak, mereka pasti akan mendukungku.”

“Kau yakin sekali.”

“Bagaimana? Kau setuju kita bertunangan?” tanya Wang Zi.

“Kenapa tidak segera memakaikan cincin ini ke jariku?” tanya Xiao Xin.

“Shenme? Itu artinya kau mau bertunangan denganku?”

“Kau masih bertanya?”

Wang Zi lalu menyematkan cincin itu ke jari manis Xiao Xin.

Nampak raut muka kebahagiaan di wajah mereka.

Wang Zi lalu memeluk Xiao Xin dan mencium keningnya.

“Wa sei!!! So sweet!” ucap Xiao Man.

Wang Zi dan Xiao Xin kaget.

“Kalian, kalian kenapa di situ?” tanya Wang Zi melihat teman – temannya mengintipnya dari dalam ruangan.

“Kami hanya penasaran apa yang kalian lakukan, berduaan di tempat gelap seperti itu. Kami takut terjadi apa – apa.” Ucap Xiao Yu.

“Xiao Xin, kau beruntung sekali Wang Zi mengajakmu bertunangan.” Ucap Xiao Xun.

“Ah, Wang Zi kenapa kau mendahuluiku? Padahal aku baru saja ingin mengajak Xiao Xun bertunangan.” Ucap Xiao Yu.

“Dui ya. Aku baru saja ingin mengatakannya pada Xiao Man.”

“Shenme?” ucap Xiao Man dan Xiao Xun bersamaan.

“Ahh, aku tahu. Kita mengadakan pesta pertungan untuk kalian berenam, bagaimana?” usul Xiao Jie.

“Setuju!” ucap Wei Lian dan Ah Wei bersamaan.

“Ai yo, jangan mengada – ada.” ucap Xiao Xun.

“Aku rasa itu ide yang bagus.” ucap Ao Quan.

“Sebaiknya kita mulai menentukan kapan tanggal pastinya.” ucap Xiao Yu.

Mereka pun melanjutkan pesta mereka. Menikmati indahnya malam bersama bintang – bintang dan bulan yang terus menampakkan sinarnya.

~~~The End~~~

* Song Title ”Ku Cha” by Lollipop-F & Hei Se Hui Mei Mei – Brown Sugar Macchiato OST-

 

 

Iklan