Title             : Switch Love

Author        : Mirrellia

Genre           : Romance

Length         : Two Shot

Casts             : Shim Changmin (TVXQ), Cho Kyuhyun (Super Junior), Shin Mirrelle (OC), Lee Mya Na ( OC)

Note : Visit my new blog about sorciere in >>>here<<<

Aku mencintaimu dengan hati

Mengagumimu dengan perasaan

Menyukaimu karena ada sebuah alasan

Tapi jangan menyuruhku untuk berhenti

Karena langkah ini terlampau jauh untuk mengejarmu

Jangan menyuruhku untuk menyerah

Karena hati ini hanya terpaku pada Satu

Luka dan  kerasnya dirimu…

               

Mirrelle POV

Aku mengunyah permen karetku  dengan santai dan memandang layar computer di depanku dengan tatapan malas. Ck, besok harus ada jadwal lagi untuk kunjungan tourist mancanegara. Aigoo… kapan aku akan mulai berlibur untuk diriku sendiri? Musim panas kali ini pun harus mengurusi liburan orang lain. Ah, menyebalkan.

Aku bekerja di salah satu agent travel terkenal di Seoul, lebih tepatnya aku menjadi tour guide. Alasannya sederhana, karena aku sangat suka travelling dan lagipula aku bisa jalan-jalan dengan gratis. Sangat menyenangkan bukan? Tapi sayangnya aku mulai malas dengan ini semua, aku mulai malas mengurusi liburan orang lain. Bahkan perusahaan pun tidak mengizinkan aku untuk mengambil cuti. Hahh… alasannya hanya karna kerjaku sangat baik dan bahasa asingku jauh lebih bagus dari yang lain. Bagaimana tidak? Aku ini lahir di Eropa dan Mom asli dari Paris, sedangkan Appa adalah warga Korea. Dan beginilah, aku sedang belajar untuk hidup mandiri dan jauh dari kedua orang tuaku. Lagipula, siapa suruh mereka berdua sibuk mengurusi perusahaannya. Jauh dari mereka ku rasa lebih baik.

                “Ha Kyo-ah kau jangan sampai lupa untuk menjemput turis dari Singapore itu besok.” Seru Kim sajangnim padaku. Ish, enak sekali dia memerintahku.

“Tuan Kim bisakah kau memanggilku Mirrelle? Aku tidak suka di panggil Ha Kyo.” Sahutku tanpa menatap ke arahnya. Dia pun hanya mendengus dan berlalu dari meja kantorku. Ck, masa bodoh jika aku tidak sopan padanya. Lagipula dia juga tidak berani memecatku. Aku ini satu-satunya tour guide yang sangat hebat di sini. Kebanyakan turis lebih senang diriku yang memimpin perjalanan mereka. Bahkan ada satu keluarga yang tiap tahunnya berlibur ke sini dan mereka hanya ingin aku sebagai pemandu. Konyol? Sedikit.

“Hei, kau itu tidak sopan sekali sih dengan Tuan Kim?” tukas Mya Na padaku. Dia temanku, bedanya dia hanya mengurus ticketing dan jadwal kunjungan turis. Kerjanya hanya menatap computer saja. Aku heran kenapa dia betah sekali berkutat di belakang meja kantornya.

“Biar saja. Kau juga kan, lagipula pria tua itu juga menyebalkan! Dia sama sekali tidak mengizinkanku mengambil cuti tahun ini.”

“Tapi dia menaikkan gajimu kan? Dan kau siapa suruh tergiur dengan tawarannya. Ck, kau itu yang gila.”

Memang sih, dia menawarkan sesuatu yang menggiurkan. Bayangkan saja dia menjanjikan gajiku akan naik dua kali lipat dan akomodasi untukku akan di tambah. Haha, aku ini terkadang memang suka dengan hadiah. Meskipun itu adalah hal yang kecil sekalipun.

“Mya Na..” panggilku dan ia hanya berdehem pelan. “Kau tahu kan besok itu paket travel kemana?” bisikku.

“Ne, kau akan mengantar turis-turis sialan itu untuk berkunjung ke stasiun televise dan beberapa tempat syuting kan? Waeyo?”

“Turis sialan? Haha, kau punya panggilan baru untuk mereka ya?” kataku terkekeh geli mendengar kata-katanya.

“Ck, sudah apa yang mau kau katakan, aku banyak pekerjaan!” serunya dan aku hanya bisa mencibir.

“Kau tahu kan stasiun tv yang akan aku datangi adalah KBS, dan kau tahu tidak besok itu ada jadwal syuting apa di sana?” tanyaku menggodanya. Dia berbalik dan menatapku tajam. Aigo, matanya mirip sekali dengan mata iblis.

“Kau pikir aku bekerja di KBS apa? Mana ku tahu?!” jawabnya sewot. Gadis ini, tidak bisa di ajak bermain sedikit apa?

“Ish, kau ini! Besok itu ada acara Music Bank! Dan kau tahu, super junior akan ada di sana bodoh! Kau tidak ingin melihat pujaan hatimu yang bernama Cho Kyuhyun itu?” ledekku dan spontan ia berdiri. Memegang bahuku dengan mata yang membulat senang. Sudah ku bilang belum kalau dia itu Sparkyu?

“Jinja?!! Mirrelle-ah kau tidak berbohong kan? Jika tidak, bolehkah aku ikut denganmu… Jeball…”

 Aku menatapnya tidak percaya. Tadi saja dia bilang ada pekerjaan, sekarang malah ingin ikut denganku. Dia ini gila atau tidak waras sih?

“Shireo! Kau pasti tidak di izinkan oleh Tuan Kim.” Kataku mengejek dan menjulurkan lidahku ke arahnya. Kena kau  Lee Mya Na!

“Jeballl… kau ini lebih muda dariku tapi suka sekali meledekku!” sahutnya lagi dan aku hanya terkekeh. Lha, lagipula kami Cuma beda setahun.

“Lihat saja nanti onnieku sayang…” kataku pelan dan sebuah jitakan keras mendarat di kepalaku. Sial!!

***

Hari ini aku sukses terlambat menjemput turis di bandara. Sialnya lagi aku sampai lupa membawa card keanggotaanku.  Mau tak mau aku menyuruh si ratu iblis itu untuk mengantarkannya. Ck, padahal aku ingin dia tidak ikut agar aku bisa menggodanya karna tidak bisa melihat Cho Kyuhyun. Argh!!!! Hari ini benar-benar sial untukku!

“Keberuntungan untukku lagi nona Shin.” Ejek Mya Na dan menyikut lenganku. Kami berdua serta rombongan turis dari Singapore itu kini telah berada di sebuah mini bus dan melaju ke gedung KBS. Sebagai gantinya aku ingin Mya Na yang memandu mereka dan gadis itu mau-mau saja. Lagipula bahasa asingnya juga bagus, kenapa dia tidak menjadi tour guide yang sama juga denganku. Gadis aneh.

Aku duduk di kursi paling belakang dan menatap Mya Na yang tengah menjelaskan panjang lebar tentang Seoul. Lumayanlah, aku jadi bisa beristirahat dengan santai hari ini. Anggap saja aku juga turis di sini, lagipula wajahku kan campuran tidak terlihat seperti warga korea asli.

Aku menyenderkan kepalaku dan memejamkan mataku. Semalaman aku hampir saja tidak tidur dan maka dari itu aku bangun terlambat. Rasanya, ada hal-hal aneh yang akan terjadi dengan hidupku. Intuisiku kan peka sekali, apalagi menyangkut kehidupanku.

“Kau mau tidur di dalam bus?” aku membuka mataku dan Mya Na berdiri sambil berkacak pinggang. Aish, aku baru saja mau memejamkan mata.

“Kita sudah sampai.” Katanya lagi dan aku menoleh ke luar jendela. Ah, benar. Kenapa waktu cepat sekali?

“Kau hari ini yang memandu mereka ya? Aku lelah sekali.” Kataku memohon dan herannya dia setuju saja dengan permintaanku. Pasti karena ia senang akan melihat iblis tengil itu.

 Aku turun dari bus paling terakhir, ku lihat Mya Na sudah mulai berceloteh lagi dengan turis-turis itu. Aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka dari belakang. Hua… musim panas kali ini mengapa panas sekali ya? Ku kibas-kibaskan tanganku dan mendesah pelan ketika sudah memasuki gedung. Untung saja gedung ini di beri penyejuk ruangan. Jika tidak, aku bisa meleleh seperti es krim.

Aku mengedarkan pandanganku menatap seisi gedung ini. Besar dan luas. Ada beberapa studio di setiap lantai. Seperti jadwal, tempat yang pertama kali akan kami kunjungi adalah studio A. tempat di mana syuting Musik Bank akan segera di langsungkan. Aku sempat melihat beberapa group idola yang akan tampil sedang berseliweran ke sana kemari. Mereka itu mau menyanyi atau mau fashion show sih?

“Jangan melamun saja bodoh! Kau juga harus ikut memantau turis ini!” seru Mya Na dan aku hanya mengangguk-angguk. Aku kan ingin bersantai hari ini.

“Arraseo.” Jawabku malas dan masuk ke dalam studio A. Di dalam studio sudah banyak sekali fans masing-masing group. He? Mereka itu mau menonton atau mau tawuran? Kenapa bising sekali sih?

“Annyeong… Kami dari Briva Travel dan kami sudah di izinkan untuk menonton acara Mubank hari ini.” Kata Mya Na pada salah satu staff yang ada. aku sendiri hanya menyenderkan tubuhku di salah satu dinding. Jujur saja aku tidak suka keramaian dan menonton acara seperti ini aku pun malas.

Aku melirik Mya Na yang masih berbicara dengan salah satu staff dan akhirnya para turis itu di persilahkan untuk duduk di tempat yang di sediakan. Aku pun dengan sialnya tidak mendapatkan jatah duduk karena seharusnya tempat duduk yang di duduki Mya Na adalah tempatku. Bagus sekali! Lalu sekarang bagaimana ha?

“Kau di luar saja ya Mirrelle-ah. Kau tahu kan hari ini aku yang bertugas. Jadi kau harus mengalah.” Bisik Mya Na dan aku mendengus pelan. Untung saja aku tidak suka menonton acara ini. Jika tidak, sudah pasti ku hancurkan gadis ini.

“Ya sudah. Pastikan mereka senang dan bahagia.” Kataku mencibir dan melenggang keluar dari studio. Ku langkahkan kakiku di sepanjang koridor sambil bersenandung pelan. Ya, aku suka menyanyi tapi lebih baik jika ku simpan hal itu sendiri.

“Hahaha, sial kau! Dasar gila!” seru sebuah suara dan aku mendongak. Dua makhluk tampan berdiri tak jauh dari tempatku. Itu Cho Kyuhyun kan? Astaga… Mya Na bodoh sekali. Gadis itu di dalam tapi pujaan hatinya berada di hadapanku sekarang.

Sepintas sebuah ide muncul di otakku. Ku langkahkan kakiku ke arah mereka berdua dan bersikap semanis mungkin. Tapi tunggu dulu, pria yang di sebelahnya siapa ya? Ah masa bodoh!

“Annyeong Cho Kyuhyun.” Sapaku dan spontan kedua namja itu menoleh. Dari wajah mereka ku pastikan salah satunya terpesona karena kecantikanku.

“Annyeong… nuguseyo?” Tanya Kyuhyun padaku. Aku pun menunjukkan ID card ku ke arahnya.

“Aku dari Briva travel dan kebetulan sekali kalian berdua ada di sini. Mirrelle imnida.” Kataku dan membungkuk hormat ke mereka. Jika bukan karena ide gila ini aku tidak mau memberi hormat ke mereka.

“Ada perlu apa dengan kami?” Tanya pria yang satunya. Aish jinja, namanya siapa ya?

“Mmm, mianhae. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku.

“Kau, kau tidak tahu namaku?” Tanyanya shock dan ku lirik Kyuhyun yang tertawa lebar. Dia bahkan nyaris tidak bisa menahan tawanya.

“Agashii.. kau benar-benar tidak tahu namanya? Dia bahkan lebih dulu debut di bandingkan aku.” Kata Kyuhyun di sela tawanya.

“Kau tahu TVXQ kan?” Tanya pria itu lagi dan aku pun mengangguk dengan cepat. Aku kan penggemar berat Yunho.

“Jadi seharunya kau tahu siapa namaku!” serunya kasar.

“Ya! Kau pikir memangya kau siapa hah? Kenapa aku harus tahu namamu?!” balasku sengit.

“Shim Changmin! Choikang Changmin! Max!” dia menyebutkan beberapa nama dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Apa-apaan ini?

 “Tidak kenal?” desisnya tajam. Tunggu, kenapa tiba-tiba dadaku ikut bergemuruh?

 “Tidak.” Jawabku pendek. Dia mendesah pelan dan menjatuhkan kepalanya di bahuku. Lho? Lho? Apa-apaan pria ini hah?!!! Tapi tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan perlakuan ini.

***

Changmin POV

Aku menatap gadis yang berada di depanku dengan tidak percaya. Dia bisa-bisanya tidak mengenalku? Dia itu hidup di dunia bawah tanah ya?

“Shim Changmin! Choikang Changmin! Max!” seruku menyebutkan semua namaku yang di kenal oleh fans.

“Tidak kenal?” tanyaku.

“Tidak.” Jawabnya polos dan wajah imutnya itu benar-benar mempesona. Ku jatuhkan kepalaku di pundaknya. Entah apa yang ku lakukan tapi mendengar kata-katanya cukup membuatku shock.

“Ya, Mirrelle-ssi tadi ada keperluan apa dengan kami?” Tanya Kyu dan menarik kepalaku dari pundak gadis itu. Ku tatap wajahnya sekilas dan dia tersipu malu. Aigoo… cantik sekali.

“Ah mmm. Haha aku lupa.” Jawabnya bingung. Ku tatap dia dan tersenyum ke arahnya. Dia memikat hatiku sepertinya.

“Lalu?” tanyaku dan dia mengangkat bahunya. Apakah perlakuanku tadi membuatnya shock? Sepertinya.

“Kalau kau sudah ingat kau bisa menghubungiku lagi. Haha, oke.” Kata Kyu dan dia menarikku untuk menjauhi gadis itu.

“Chankaman!” serunya lagi dan meraih tanganku.

“Aku ingat siapa kau sekarang. Kau Changmin yang sering membolos itu kan?” tanyanya dan mataku membulat.

“Membolos? Maksudmu?” tanyaku dan aku benar-benar tidak mengerti.

“Kau Shim Changmin yang sering membolos dengan alasan ada pemakaman keluargamu kan? Kau lupa siapa aku?” kini giliran dia yang menyuruhku untuk mengingatnya.

“Mirrelle, ah tidak Shin Ha Kyo. Kyoungie?” katanya lagi dan matanya berbinar-binar.

Shin Ha Kyo? Kyoungie, Kyoungie, Kyoungie. Astaga!!! Dia?

“Kyoungie? Kau si pendiam itu?” tanyaku tidak percaya. Aku memegang kedua bahunya dan ia mengangguk dengan cepat. Aigo…

“Hahahahaha kenapa kau jadi cantik sekali sekarang?” kataku memujinya dan ia tertawa renyah. Dia Shin Ha Kyo. Umurnya tiga tahun lebih muda dariku. Dia, temanku semasa sekolah. Meskipun dia lebih muda tapi dia teman sekelasku. Ya, karena ketika di Paris ia mendapat akselerasi dan pada akhirnya pindah ke Seoul. Dia itu pendiam yang aneh. Bayangkan saja, dia mampu menghafal semua Negara di benua Amerika beserta ibukotanya dengan sempurna. Dan parahnya dia mampu membaca situasi orang lain dengan baik. Ketika semua guru dan teman-temanku bersimpati saat aku berbohong tentang pemakaman keluarga, dia malah dengan mudahnya mengejekku. Yang tidak di ketahui orang lain, bisa dia ketahui dengan baik.

“Kau ternyata member TVXQ?” tanyanya dan terkekeh geli. Ku pastikan itu tawa yang paling mempesona yang pernah ku lihat sepanjang hidupku.

“Tentu saja, kau tiba-tiba menghilang dari Korea. Benar-benar gadis yang menyebalkan.”

“Hahahahaha. Sudah kubilang kan jika aku kembali ke Paris.”

“Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan.” Sela Kyuhyun dan mau tak mau aku mengalihkan pandanganku ke arahnya.

“Ini gadis pendiam yang sering ku katakan Kyuhyun-ah.” Jawabku.

“Ha? Jadi kau yang membuat Changmin ini tergila-gila? Kau gadis pendiam yang mampu membaca pikiran orang lain?” seru Kyu dan mau tak mau aku menutup mulutnya yang di luar kontrol itu.

“Kapan sih dia tidak tergila-gila padaku? Membaca sih tidak, hanya saja intuisiku peka.” Jawabnya angkuh.

“Kau sekarang bekerja di agent travel? Bagaimana bisa? Apa kau tidak kuliah?” tanyaku lagi dan aku memandang dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Kuliah tentu saja! Memangnya kau!” serunya kasar.

“Lalu kenapa kau kembali lagi ke sini?” tanyaku lagi dan ia tersenyum licik sekarang.

“Hmm… mencari seseorang yang mengambil hatiku mungkin. Dan sialnya aku baru saja menemukannya.” Jawabnya singkat lalu melambai pergi meninggalkanku. Sial!

***

Aku mengikuti bus yang ia tumpangi bersama rombongan turis yang di bawanya. Entah setan darimana setelah perform tadi aku malah langsung buru-buru untuk mengejar gadis itu. Aku pun terpaksa meminjam mobil pribadi Yunho hyung. Aigoo… aku benar-benar gila!

Bus tersebut berbelok masuk ke salah satu hotel mewah di bilangan Incheon. Lumayan melelahkan sebenarnya tapi menemui dia jauh lebih penting. Dia, harus menjelaskan semuanya! Gadis sial!

“Ha Kyo-ah!” Seruku saat ia turun dari bus yang ia naiki. Ia menoleh dan menyipitkan matanya ke arahku lalu berjalan ke tempat mobilku di parkirkan.

“Kau! Bagaimana bisa berada di sini?” pekiknya kaget dan aku hanya tersenyum menyeringai.

“Mengikutimu tentu saja bodoh!” jawabku tak sabar dan langsung menariknya untuk masuk ke mobil yang ku bawa. Ia sempat memberontak tapi tak ku pedulikan teriakannya yang seperti terompet itu.

“Yak! Kau ingin membawaku kemana hah?” tanyanya emosi dan aku tak menjawab. Ku dekatkan tubuhku ke arahnya dan memasangkan seatbelt ke tubuhnya.

“Temani aku sebentar.” Pintaku lalu ku hidupkan mesin mobil dan melajukannya secara perlahan.

“Aku ini masih harus mengurus turis-turis itu Changmin-ah.” Katanya tanpa menatapku. Aku tahu wajahnya tadi memerah karna jarak tubuhku dan tubuhnya sangat dekat.

“Ku lihat tadi ada temanmu. Jadi berikanlah waktumu sebentar saja untukku.” Balasku dan dia merengut kecil. Ku lirik dia yang tengah duduk dan mulai mengotak-atik iphonenya. Dia cantik sekarang, ah maksudku bertambah cantik. Dia teman sekaligus musuhku. Ia selalu saja berusaha untuk menggagalkan aksi bolosku ketika di sekolah dulu. Dia murid yang pandai ku akui itu dan sialnya dia juga pandai memikat hati pria.

Aku mencintainya. Sangat jelas bahkan sebelum aku menjadi penyanyi. Sekalipun saat itu aku hanya bocah ingusan yang baru menemukan cinta, namun aku yakin ialah tulang rusukku yang hilang. Kepergiannya yang tiba-tiba membuatku sedikit shock dan hampir seperti mayat hidup. Dia meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa. Tanpa menunjukkan suatu hal yang indah sebelum kepergiannya. Jujur saja aku rindu dengan semua hal yang ada pada dirinya. Wajah dinginnya, teriakan kencangnya bahkan aku merindukan sebuah senyuman yang jarang sekali ia tunjukkan ke orang lain. Dan nyatanya kini ia berada di hadapanku sekarang. Membuat semua hidupku kembali terasa normal. Lengkap dan seimbang.

“Jadi apa maksudmu dengan mencari seseorang yang mencuri hatimu?” tanyaku langsung. Sejujurnya aku mengejarnya seperti ini karena penasaran dengan perkataannya tersebut. Kecemburuanku begitu sempurna sepertinya.

“He, yang tadi?” tanyanya balik, mengangkat wajahnya dan memandangku.

“Memangnya kapan lagi kau berbicara seperti itu he?” kataku tak sabar dan ku dengar dia terkikik kecil.

“Ara.. ara.. yang ku maksud tentu saja orang yang kucintai.” Jawabnya dan ku rasakan sedikit perih mengoyak hatiku. Ini memuakkan.

“Sudah menemukannya?” tanyaku parau dan dia mengangguk. Perih itu kembali menyayat. Astaga, dia kembali sekarang dan juga meninggalkan luka untukku. Bagus sekali.

“Nugu?” dia tak menjawab dan matanya mengerling aneh ke arahku.

“Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi?” katanya enteng dan seketika itu juga aku mengerem mendadak. Membuat kepalanya terantuk ke dashboard mobil dan ia pun mengeluh kesakitan.

“YAK! KAU INGIN MEMBUNUHKU YA?!” teriaknya kencang dan memukul kepalaku. Aku tak membalas dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Dia mencintaiku?

“Changmin-ah jika kau memang tidak suka aku menyukaimu tidak masalah. Tapi jangan langsung membunuhku seperti ini.” Tambahnya dan mengusap-usap dahinya yang sedikit memerah. Aku berusaha mengontrol perasaan senangku yang meluap-luap. Ku tegakkan lagi dudukku dan menatap setir mobilku sendiri, hingga sebuah ide terlintas di benakku.

“Jadi menurutmu aku tidak suka padamu, begitu?” tanyaku dengan suara sinis yang ku buat-buat.

“Yah, mungkin saja. Kau kan seorang idola, banyak yeoja bodoh yang mengejarmu dan sialnya aku juga termasuk sekumpulan yeoja bodoh itu mungkin.” Jawabnya tanpa menatapku. Aku tahu ia memang sangat jujur tapi aku tak menyangka ia begitu berani mengungkapkan perasaannya.

“Bagaimana kau bisa mencintaiku tapi kau sendiri tidak mengenaliku tadi.” Tanyaku sangsi dan cukup mengagetkan juga karna kami sama sekali tidak menyadari saat bertemu tadi.

“Entahlah, awalnya aku memang tidak menyadari bahwa kau itu changmin si bocah mesum.” Jawabnya dan aku mensentil dahinya pelan lalu ia melanjutkan. “Tapi setelah melihat sikapmu yang tiba-tiba menaruh kepalamu di pundakku, aku langsung menyadari bahwa itu kau.”

“Sesederhana itu?”

“Ya, sesederhana itu.  Hal-hal kecil yang kau lakukan terkadang masih terekam jelas di memoriku. Cinta itu terkadang membuat suatu yang kecil terlihat sangat berarti.” Jawabnya dan aku benar-benar merasa di angkasa sekarang. Ayolah, Changmin-ah dia bahkan lebih baik dalam menunjukkan perasaannya.

“Jika ku katakan aku tidak mencintaimu bagaimana?” tanyaku lagi dan semburat sendu menghiasi wajahnya. Jujur saja aku ingin tertawa sekarang, sepertinya pembalasanku karena kepergiannya yang tiba-tiba akan di mulai sekarang.

“Hahh…” ia mendesah panjang dan mendongakkan kepalanya ke langit-langit mobil. “Jauh-jauh kembali dari Paris aku malah mendengar penolakanmu. Kenapa sih kau harus jadi idola?” tanyanya gusar dan dia menarik nafas panjang seolah-olah menahan sesuatu yang hendak keluar. Aku tahu ia sedang menahan diri untuk tidak menangis. Sedikit merasa bersalah memang, tapi aku ingin memberikan pelajaran pada gadis kurang ajar ini.

“Takdir mungkin.” Jawabku singkat dan dia mengangguk kecil, menutup matanya dan setitik air mata sebening Kristal mengalir dari sudut matanya. Dia menangis? Astaga Changmin-ah, apa yang kau lakukan?

“Gwaenchana?” tanyaku takut-takut dan dia menggeleng.

“Bodoh saja jika aku mengatakan aku tidak apa-apa. Di tolak oleh orang yang ku cintai. Menyedihkan.” Jawabnya dan sekarang aku benar-benar merasa bersalah. Ku raih tubuhnya ke dalam pelukanku dan dia semakin terisak.

“Aku hanya bercanda. Kenapa kau jadi sebodoh ini sih?” kataku dan mencoba menenangkannya. Ku belai rambut panjangnya yang kecoklatan dan dapat ku rasakan ia mempererat pelukannya.

“Yak, Kyoungie-ah mianhae…. Aku mencintaimu. Aish, intinya aku memiliki perasaan yang sama denganmu.” Aku ku pada akhirnya. Ku tegakkan tubuhnya agar menatapku namun aku langsung syok ketika melihat wajahnya yang menyeringai aneh ke arahku dan sedetik kemudian ia tertawa lebar.

“Huahahahaha, yak Changmin-ah kau lucu sekali!!!” serunya dan masih tertawa terpingkal-pingkal. Dia menghapus sisa air mata di pipinya dan ku sadari ia sedang mengerjaiku sekarang. Astaga, kenapa malah terbalik seperti ini.

“Ck, sial kau! Gadis kurang ajar!” umpatku dan tawanya semakin melebar.

“Jadi kau mencintaiku, begitu?” tanyanya mengulang pertanyaanku tadi. Sial, gadis ini menjebakku sepertinya.

“Ku jawab tidak pun percuma nona Shin.” Desisku dan memilih memandang ke luar jendela. Sepi, karena hari sudah larut dan mobilku tepat berhenti di pinggir taman.

“Hahahaha, ck kau marah? Aigo… uri Changmin tertipu.” Ledeknya dan aku mendengus kasar. Namun aku tersentak kaget saat ku rasakan jari-jari halus meraih tanganku dan mengenggamnya.

“Setidaknya aku tidak tertipu oleh perasaanku sendiri.” Ujarnya pelan dan sontak aku menoleh. Tangannnya mengalung lembut di lenganku dan ia menyenderkan kepalanya di pundakku.

“Antarkan aku ke hotel yang tadi. Besok aku harus mengantar turis-turis sial itu lagi.” Tambahnya dan aku tertawa kecil lalu mengacak rambutnya pelan. Ku daratkan ciuman kecil di puncak kepalanya.

“Aku mencintaimu.” Bisikku dan dia mengangguk.

“Kalau begitu nikahi aku.” Balasnya dan aku mendelik kaget. Gadis ini, benar-benar di luar dugaan. Benar-benar salju yang turun di musim panas. Dingin namun mampu menghangatkan. Dan itu ada pada dirinya Shin Mirrelle.

Shin Mirrelle POV

Jika orang lain mengatakan aku bodoh mungkin benar. Bagaimana tidak, aku yang notabene adalah gadis biasa dengan beraninya mencintai seorang Changmin yang merupakan idola di Korea ini. Aku memang cantik, namun aku terkadang merasa tidak pantas bersanding dengannya. Aku kembali ke Korea dan benar untuk mencarinya. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku bisa segamblang itu mengatakan perasaanku padanya. Hari kami bertemu kembali hari itu pula kami resmi berpacaran. Terlalu cepat? Tidak juga. Aku sudah menyukainya sejak kecil, kepindahanku yang tiba-tiba pun bukanlah kemauanku. Tapi masalah kedua orang tuaku dan tanpa penjelasan apa-apa aku meninggalkan bocah mesum itu.

Aku tahu ini klise, seperti roman picisan lainnya saat kau bertemu dengan teman masa kecilmu kau pasti akan jatuh cinta kepadanya. Tapi ku rasa itu hal benar, dan sialnya itu juga terjadi padaku. Dia mengagumkan sekarang. Tampan, tinggi dan suaranya begitu indah ketika di dengar. Aku mencintai seluruh hal yang ada pada dirinya tanpa terkecuali. Banyak hal-hal hebat yang ku sukai dari dirinya dan salah satunya perhatiannya yang ia tunjukkan kepadaku.

Aku memang hanya tour guide dan aku sibuk jika hanya ada turis dari mancanegara yang ingin berwisata ke Korea. Tapi  Changmin di tengah kesibukannya yang padat masih sempat untuk menghubungiku. Sekedar menelepon ataupun mengirimiku pesan singkat yang tentunya bukan kata-kata manis. Dia jarang sekali memujiku namun hal yang aku suka dari setiap pesan singkatnya ia selalu menulis ‘Ha Kyo is mine’. Sederhana memang namun cukup membuat hatiku berdesir hebat.

Aku memandang cincin berwarna perak yang menghiasi jari manis tangan kananku. Aku sudah menikah, dengan siapa? Dengan Shim Changmin tentunya. Sudah ku katakan aku ini bodoh dan sepertinya kebodohanku ini semakin merajalela saat tiga bulan lalu ia melamarku. Tidak ada yang istimewa namun kalimat sederhana yang keluar dari mulutnya sukses membuatku merasa terbang ke langit luas. Pernikahan kami di rahasiakan dan kami menikah secara sederhana. Hanya beberapa teman dekatku dan orang tua kami, termasuk hyung-hyungnya di TVXQ. Aku sempat terharu saat ia menyanyikan lagu Yurisangja di pernikahan kami. Lagu itu mempunyai makna yang dalam dan aku sampai menangis di buatnya. Astaga, Shin Mirrelle menjadi gadis cengeng dan itu hanya karena dia!

“Onnie sampai kapan kau ada di sini?’ aku menoleh dan Shim Ji Yeon, adik kedua Changmin menyenggol bahuku pelan. Dan kau tahu, kedua adiknya itu tidak berbeda jauh dengan kakaknya.

“Kau mengusirku?” tanyaku balik. Aku memang sedang berada di rumah keluarga Changmin untuk berlibur dan Changmin sendiri mengatakan ia akan tiba sore nanti. Jadwalnya akhir-akhir ini benar-benar padat.

“Ani… maksudku jika kau sudah kembali ke apartement kalian bolehkan aku menginap?”

“He? Ikut ke Seoul begitu? Aigo.. untuk apa? Kau ingin menjadi stalker lagi ya?” tebakku dan dia terkekeh geli. Sebenarnya Ji Yeon itu menyukai salah satu personil Super Junior namun ia tak pernah memberitahuku siapa yang ia maksud. Lagipula umurnya itu baru limabelas tahun. Ck, pendewasaan dini ku rasa.

“Ya, ya, ya jika aku menginap di apartement kalian eomma pasti mengizinkan.” Rajuknya lagi dan aku tak mampu menolak. Terlalu sulit menolak permintaan gadis satu ini.

“Ne, baiklah. Lagipula aku juga sering sendirian.” Putusku dan dia terlonjak senang.

“Gomawo eonni…” serunya dan memelukku.

“Ya!Ya! Lepaskan!” seruku karena aku hampir kehabisan nafas karena pelukannya.

“Hehehe, oh ya jadi kapan eonni akan memberikanku keponakan?” tanyanya enteng dan aku langsung menjitak kepalanya pelan. Pertanyaan gadis ini terkadang selalu di luar nalar.

“Kenapa kau tanyakan itu hah?! Ish, kau ini benar-benar!”

“Ji Yeon benar Kyoungi-ah. Kapan kau akan memberiku cucu?” aku menoleh dan ternyata eomma sudah berada di belakangku. Ia berjalan dan langsung duduk di sebelahku. Oh bagus sekali, sekarang aku duduk di apit oleh dua iblis senior.

“Ya, omonim… jangan menanyakan hal itu padaku.” Sungutku dan dia tertawa renyah. Tawanya mirip sekali dengan Changmin. Ah, kapan dia datang? Aku merindukannya.

“Kau kan sudah menikah hampir enam bulan, masa kalian belum juga memberiku hadiah.” Tambahnya lagi dan aku menghela nafas berat. Bagaimana mungkin bisa memberikannya? Aku dan Changmin saja hanya satu kali melakukannya dan itu pun sukses membuatku hampir gila. Aigo… Changmin-ah tolong aku dari dua iblis ini!

***

Aku melirik ke arah jam dinding yang tergantung rapi di kamar Changmin. Aku sedang menunggunya sekarang dan dia tadi meneleponku dan akan tiba agak malam. Sudah hampir pukul sepuluh dan jujur saja aku sudah agak mengantuk. Pembicaraanku tadi dengan eomma membuatku berpikir yang aneh-aneh. Aku ingin sekali anak perempuan tapi Changmin sama sekali tidak menginginkannya. Ia mengatakan bahwa ia takut merasakan hal sedih ketika anak perempuannya nanti menikah dan meninggalkannya. Aigo… kenapa otaknya itu bodoh sekali.

“Kau belum tidur?” aku tersentak dan langsung terduduk di ranjangku. Ku lihat Changmin berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar. Wajah kelelahan terlihat jelas pada dirinya.

“Menunggumu.” Jawabku singkat dan ia menghampiriku. Mencium keningku sekilas dan meletakkan tas yang di bawanya.

“Jadwalku semakin padat Kyoungie-ah.” Ujarnya dan menghempasakan tubuhnya di atas kasur.

“Ck, seharusnya kau senang kan bisa dekat dengan banyak wanita cantik.” Kataku sinis dan dia malah tertawa.

“Kau cemburu?” tanyanya mengejek dan aku hanya mengerucutkan bibirku.

“Hah… aku merindukan istriku.” Ucapnya dan berguling ke arahku. Aku berusaha menghindar tapi ia malah menarikku dan membuat tubuhku jatuh di tepat  di atas tubuhnya.

“Changmin-ah jangan seperti ini.” Kataku pelan dan mengatur degup jantungku sendiri. Ya Tuhan, aku memang istrinya tapi aku dan dia jarang sekali memiliki kesempatan seperti ini. Apa yang harus ku lakukan? Sial! Kenapa kata-kata eomma terus-terusan terngiang di otakku?

“Kenapa wajahmu gusar seperti itu?” tanyanya dan aku melengos, menghindari tatapan matanya.

“Hei, jawab aku Miss Shim.” Tambahnya dan dia menangkupkan tangannya di wajahku membuatku mau tak mau menatap wajahnya yang selalu terlihat manis.

“Gwaenchana. Hanya saja err.. sudahlah.” Jawabku dan hendak bangkit berdiri namun Changmin menahan tubuhku dan menukar posisi kami. Dia tepat di atasku sekarang. Astaga bocah mesum ini!

“Kau jelek jika berbohong.” Ejeknya dan aku mencibir.

“Jika aku jelek lalu..mmph.” aku tak melanjutkan kalimatku karena sebuah sentuhan halus mendarat lembut di bibirku. Bibirnya yang lembut menekan halus bibirku. Aku sendiri hanya bisa diam dan tak membalasnya, menikmati setiap sentuhan yang ia berikan untukku.

“Selalu tiba-tiba.” Kataku pendek saat ia melepaskan ciumannya. Changmin tersenyum geli saat melihat wajahku yang mungkin sudah merah seperti kepiting rebus. Ia mendekatkan wajahnya kembali dan mencium keningku. Aku memejamkan mataku dan aku merasa seluruh rasa cinta dan kebahagiaannya di serahkan padaku. Aku selalu suka cara ia menciumku, lembut dan intens. Tidak terkesan memaksa sama seperti ia mencintaiku.

Ia kembali menatapku sebentar lalu mencium lagi bibirku dengan lembut. Awalnya aku tak membalas namun rasanya tak adil jika hanya dia yang mengekspresikan rasa cintanya yang begitu besar. Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Menariknya lebih dalam dan mulai membalas ciuman dari dirinya. Dia terus menciumku dengan intens, dan aku hampir kewalahan menanggapinya. Ku rasakan tangannya mulai meraba bagian sensitifku namun intensitas ciumannya tidak berkurang sedikitpun. Aigo, kenapa nafasnya kuat sekali.

“Mmmph.. aku..Chang.. tung..” kataku terbata dan mendorong tubuhnya agar ia melepas ciumannya.

“Yak! Kau apa-apaan hah?!” tanyanya marah dan menatapku gusar. Aku meringis kecil dan agak merasa bersalah. Aku tahu dia menginginkannya tapi bukan berarti aku menolak, hanya saja aku butuh oksigen untuk bernafas! Dia membuatku hampir mati karena perlakuannya.

“Mianhae….” Ucapku pelan dan Changmin menjatuhkan kepalanya di dekat pundakku. Aku masih bisa dengan jelas mendengar nafasnya yang menderu. Oke, aku istri yang kurang ajar memang tapi kenapa situasinya harus seperti ini?

“Changmin-ah…” panggilku dan ia hanya berdehem lalu mengangkat kepalanya dan menatap wajahku.

“Err.. mianhae.” Kataku lagi dan ia tersenyum. Aku menghela nafas lega dan sebuah ide kecil terlintas di benakku.

Aku menarik kerah mejanya dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Menciumnya dengan dalam namun segera saja ia mengambil alih semuanya. Ku kalungkan lagi lenganku di lehernya, membuatnya bebas melakukan apapun pada diriku. Tubuh kami berdua memang masih berbalut pakaian, namun aku bisa merasakan tubuhnya yang bersentuhan dengan tubuhku. Aku terus membalas ciumannya yang lembut dan membuka bibirku agar lidahnya bisa masuk dan menjelajahi rongga mulutku. Jujur saja ini membuatku merasakan sesuatu sensasi yang lain daripada biasanya. Kami memang pernah melakukannya namun kali ini ia memanjakan tubuhku dengan sangat baik.

***

Aku dan Changmin kembali ke Seoul dua hari kemudian. Ia tidak bisa berlama-lama di rumah eomma karena kesibukannya. Awalnya aku ingin tetap berada di sana, hanya saja Changmin tidak mengizinkannya. Dia over protektif ku rasa, karena sikapnya itu terkadang membuatku sedikit mual sekalipun aku suka semua dengan perhatiannya. Ji Yeon juga tidak jadi ikut denganku ke Seoul, eomma tidak mengizinkan karena ia akan menghadapi ujian Negara satu minggu lagi. Lagipula gadis satu itu pasti akan melakukan hal-hal aneh setibanya di Seoul. Dia itu ELF sejati ku rasa.

“Aku akan langsung sibuk lagi dengan kegiatanku lagi setibanya di Seoul.” Ujar Changmin ketika kami berdua sedang berada di dalam mobil menuju Seoul.

“Ah, ne. Aku juga akan mulai sibuk lagi dengan pekerjaanku.” Kataku, menatap ke arah jendela. Menikmati pemandangan yang di suguhkan di sepanjang perjalanan kami. Jujur saja aku agak muak dengan ini semua. Semua skandalnya dengan artis-artis cantik dan pelarian kami dari media. Aku… ingin dia mengakuiku sebagai istrinya. Agak konyol memang mengingat aku sudah setuju dengan resiko yang harus ku terima pada pernikahan kami. Tapi sekali lagi aku ini hanya gadis biasa dan ada kalanya aku ingin di akui sebagai bagian dari hidupnya.

“Changmin-ah…” panggilku pelan dan dia berdehem, masih tetap focus menyetir mobilnya.

“Kau sudah melaporkan pernikahan kita ke catatan sipil?” tanyaku ragu.

“Mianhae… ku rasa belum saatnya Kyoungie-ah.” Jawabnya mantab dan aku menghela nafas berat. Ia menyadari perubahan sikapku dan mengacak rambutku pelan.

“Kau tetap milikku sekalipun hukum tak mengakuinya” tambahnya berusaha menenangkanku. Aku mengangguk namun tidak dengan hatiku. Aku ragu dengan dirinya, aku takut suatu hari nanti dia akan meninggalkanku karena sadar bahwa aku tak cukup pantas untuknya. Aku bukan gadis yang sabar, bukan gadis yang mampu berkata lembut. Tapi aku mencintainya itu benar dan sekali lagi karena cinta itu aku di buat takut kehilangan dirinya.

***