Author : Ayuningtyas

Length : Sequel

Genre : Romance

Cast : MBLAQ member, Hwang Dain (OC), Park Nana, Cho Hyori, Shin Hyoni

Absolute Music and Art –Inst. 3

Park Nana Story…

“Nawasseo……” aku mengetuk pintu rumah Dain. Beberapa menit kemudian terlihat umma Dain membuka pintu.

“Ah, Nana-sshi…. Eh? Ada apa dengan Dain?” umma Dain melihat anaknya duduk di teras dengan dahi yang benjol.

“Dia tadi terjatuh dan dahinya mengenai lantai yang keras, ia terlalu panik saat mencari buku sketsanya yang tertinggal di fakultas musik kemarin. Tapi untung saja ia sudah menemukannya.” Jelasku panjang lebar. Umma Dain mengangguk angguk mendengarkan penjelasanku sambil mengelus elus dahi anaknya yang masih merah dan terlihat sakit.

“Dain kau ini bagaimana sih sampai tidak sengaja meninggalkan buku sketsamu~ lihat jidatmu kini sudah seperti ilmuwan, besar dan merah.” Omel Umma Dain kepada anaknya. “Berterima kasihlah pada Nana dan Cheolyong yang sudah mengantarmu. Kenapa kau tidak minta diantar Byunghee saja sih? Rumah mereka kan jauh~”

“Anu… Byunghee hyung harus pergi ke rumah saudaranya yang cukup jauh dari sini, makanya kami mengantarnya kesini Ahjumma.” Mir masuk ke dalam rumah Dain setelah mengunci mobilnya.

“Oh Cheolyong-sshi~~ senang bertemu denganmu lagi.” Ummanya Dain ikut membungkuk saat Mir membungkuk hormat padanya, “Kalian mau minum dulu apa langsung pulang saja?”

“Kami langsung pulang saja ahjumma, perjalanan kami masih lama.” Jawab Mir sopan. “Tolong obati dahi Dain terlebih dahulu Ahjumma, jangan marahi dia. Dain hanya panik saja.” Mir mengharap pengertian dari ummanya Dain.

“Oh baiklah, gamsahabnida sudah mengantarkan Dain.” Ujar ummanya Dain “Mianhae kalau dia sudah merepotkan kalian~”

“Anii ahjumma, kami permisi dulu.” Jawab Mir minta pamit. Aku dan dia membungkuk hormat lalu kembali ke mobil Mir.

“Ah jinjja, aku tidak habis pikir dengan Dain-sshi, baru pertama kali kah ia melihat seorang namja seprti Seungho hyung? Dicium tangan oleh beliau saja bisa pingsan kembali.” Keluh Mir.

“Ia tidak melihat Seungho oppa dari penampilannya.” Jawabku membela. “Dain mengagumi Seungho karena baru pertama kalinya ia melihat seorang namja bermain piano sehebat Seungho oppa, itu yang Dain katakan.”

“Berlebihan.” Komentar Mir. “Jagiya, apa dia tidak pernah lihat namja main piano sebelumnya?”

Aku menggeleng gelengkan kepala, “Kamu tidak tahu ya? cita-cita Dain adalah mempunyai seorang namja, seorang suami yang pandai bermain piano. Makanya sikapnya berlebihan saat melihat Seungho oppa.”

“Bukannya Seungho hyung mengambil jurusan instrument gitar ya? Dain-sshi melihat beliau bermain piano dimana?” tanya Mir bingung.

“Molla, kau tanya saja sama Dain nya besok Senin, bisa kan?” jawabku. “Sekalian mengakrabkan diri dengannya, hehehehehhe.”

“Ah alasanmu bisa saja, Nana.” Komentar Mir sambil memarkir mobil di depan rumahku. “Hari Sabtu dan Minggu mau kemana?”

“Mollaeyo, nanti aku telepon atau kirim pesan saja kalau aku mau mengajakmu jalan-jalan. Tidak apa-apa kan?” tanyaku sambil melepaskan sabuk pengaman dan mengangkut tas-tas ku

Mir mengangguk lalu mencium keningku saat aku mau membuka pintu mobil, “Jaga kesehatanmu jagiya, besok sudah musim dingin. Jangan sampai kena flu ya.”

“Nee saranghaeyo Mir-sshi, gamsahabnida.” Aku mencium balik pipinya dan segera masuk ke dalam rumah

Hwang Dain story…

Musim dingin, musim yang membuat mayoritas umat manusia menjadi serba malas……

Dan kemalasannya juga berpengaruh padaku.

“Dain, kamu tidak makan siang?” tanya Umma sambil mengetuk pintu kamar, aku nyaris saja menjatuhkan pensil yang sedang kupakai untuk membuat….. ada deh, hehehehe kalian tidak boleh tahu.

“Aniiyo umma, aku sedang sibuk menggambar. Lagipula aku masih kenyang karena sudah makan pagi, mianhae~” jawabku sambil masih menggambar objek indah yang sedang kukhayalkan *hehehe*

Kalian benar-benar ingin tahu?

Aku menggambar Seungho oppa yang kemarin telah mengembalikan buku sketsaku, hehehehehe.

Sudah nyaris 5 lembar aku isi dengan wajahnya. Wajahnya yang sedang bengong, wajahnya yang sedang tersenyum, wajahnya yang sedang tertawa, wajahnya yang sedang kebingungan dan wajah wajah lainnya.

Aku tertawa tawa melihat wajah Seungho oppa yang berbeda beda dengan lingkaran hitam besar dibawah matanya, sungguh menarik. Apalagi saat ia sedang diam, bibirnya yang tebal terlihat sangat bengkak. Hahahahaha lucu sekali~~

“Hwang Dain~!!” seorang namja mengetuk pintu kamarku, “Aku masuk kamarmu ya.”

“Siapa disana? Aniiii jangan masuk dul….” Sebelum aku melarangnya, namja itu sudah masuk ke kamar. Oh, ternyata Byunghee oppa.

“Annyeonghaseo Hwang Dain, bagaimana dahimu? Masih bengkak?” tanya Byunghee oppa mendekatiku  dan melirik buku sketsaku. “Jangan bilang kau menggambar Seungho lagi.”

“Gwechana kan? Toh aku tidak menggambarnya dalam bentuk yang jelek. Nih mau lihat?” aku membuka lembaran pertama gambar wajah Seungho oppa, wajahnya yang sedang melamun.

“Tangan magismu luar biasa. Bahkan kau menggambar lingkaran hitam dibawah matanya.” Komentar Byunghee oppa, “Sebenarnya penglihatanmu juga bagus sih, buktinya kau masih bisa ingat semua ekpresi wajahnya saat di dekatmu.”

“Ahahahahaha entah kenapa wajahnya terbayang bayang terus di kepalaku, tidak bisa lupa.” Jawabku canggung, karena aku tidak pernah membicarakan namja dengan Byunghee oppa.

“Kau menyukainya kan? Karena dia bisa main piano?” tanya oppa. “Kau harus selalu menghabiskan waktu dengannya. Dia senang dengan yeoja yang benar-benar mengenal dirinya.”

Wajahku memerah. Ottokke? Kenapa Byunghee oppa bisa tahu aku menyukai namja yang bisa bermain piano? Aku malu sekali~~

“Tapi.. jangan bilang-bilang sama dia ya oppa. Aku malu~~” ucapku sambil menunduk. Oppa hanya menepuk nepuk kepalaku dengan santainya.

“Aku tidak akan bilang.” Ucapnya santai. “Asal kau mau menggambar wajahku di salah satu halaman sketsamu. Bukan hal yang susah kan?”

Aku langsung merengut mendengar permintaan Byunghee oppa, “Aigo oppa~~ aku kan sudah berjuta juta kali menggambar wajah oppa dari masih gondrong sampai sudah tampan seperti ini.”

“Kau bisa saja memujiku, tidak apa-apa lah… sebagai pelengkap buku sketsamu.” Tawar Byunghee oppa. “Lagipula aku kan yang berjasa menemukan buku sketsamu, pasti bukumu akan dengan senang hati digambar dengan wajahku ini. Well, bagaimana dongsaeng?”

“Baiklah, duduk di kursi ini oppa.” Aku menarik tangannya untuk duduk di kursi terdekat dan aku duduk dibawah oppa dan mulai menggambar rangka wajahnya sambil mendongakkan wajahku.

Hei, kalau dilihat lihat kenapa Byunghee oppa lama kelamaan seperti orang Jepang ya matanya? Bentuk mata yang bagus. Keren sekali.. *praise myself*

…..

“Aigo….. kau harus menyimpan nomor HP Seungho-ah.” Komentar Byunghee oppa tidak jelas. “Saat melihat gambarmu, rasanya aku seperti berkaca Dain-sshi.”

“Apa aku mengalami kemajuan?” tanyaku ragu-ragu “Lalu kenapa oppa membawa bawa nama Seungho oppa sih?”

“Hanya bercanda.” Jawab Byunghee sambil tertawa jahil. “Tentu saja kau mengalami kemajuan. Lama kelamaan mungkin kau bisa menghidupkan gambar-gambar yang kau buat.”

Aku menggeleng, “Rasanya tidak mungkin. Itu hanya ada di kartun-kartun saja, oppa. Kau jangan terlalu menonton kartun, nanti terpengaruh.”

Byunghee oppa mencubit pipiku keras keras sehingga menyebabkanku menjerit, “Yak, aku memujimu, bukan karena terpengaruh film kartun.”

Aku mencubit lengannya yang besar, “Lepaskan oppa~~ sakit niiiiiiiiih~~!! Ampun ampun, lepaskan.. jebaaaal~~~”

“Makanya jangan ngelantur.” Oppa melepaskan cubitannya sambil membolak balik lembaran buku sketsaku, “Yak, kau mau tidak kupertemukan lagi dengan Seungho? Kudengar dengar ia akan mengadakan mini konser di dekat rumahnya, mungkin saja kau bisa menggambarnya saat ia sedang main piano.”

“Jinjja? Aku mau, aku mauuuuuuuuuuuuuuu~~!!!” seruku penuh dengan keantusiasan. “Pasti oppa akan terlihat keren saat bermain piano. Jam berapa ia akan melakukan konsernya?”

“Jam 8 malam, nanti aku jemput saja ya. oh iya, apa harus kuberitahu kalau kau datang kesana Dain?” tanya Byunghee oppa. “Mungkin ia akan senang sekali melihat wajahnya memenuhi buku sketsamu.”

Aku menggeleng malu, “Tidak usah oppa, aku ingin melukisnya dengan hati yang tenang. Lebih baik dia tidak usah tahu.”

Byunghee oppa mengangguk, “Jangan lupa, kenakan busana yang anggun karena mungkin acara itu banyak dihadiri orang tua.”

Jam 7.30..

 

“Astaga, apa ummamu tidak pernah mengajarkanmu cara berpakaian yang anggun, Dain?” protes oppa sambil mengunci mobilnya. “Kau sudah berumur 20 tahun, tapi menggunakan sepatu tanpa hak dengan gaun diatas lutut berwarna merah pastel? Terlihat seperti umur 15 tahun Dain-ah.”

“ Oppa diam saja deh, hanya gaun dan sepatu ini yang aku punya.” Protesku sambil mengangkat tas selempangku yang menurutnya tidak cocok dengan pakaianku malam ini, ia menarik tasku cepat.

“Biar aku yang bawakan. Aku tidak ingin dianggap membawa keponakan berumur 15 tahun.” Jawabnya

Aku mengangguk angguk polos dan membiarkan oppa membawa tasku, lumayan berat sih. Hehehehehe

Mini konser diadakan di sebuah gedung serbaguna di dekat rumah Seungho oppa, dan yang melakukan pertunjukan bukan hanya beliau tapi juga seniman lain. Rumah Seungho oppa adalah wilayah yang penuh dengan seniman. Ruangannya belum begitu ramai, oppa mengajakku ke tempat yang strategis dimana aku bisa menggambar dan melihat para pemain music melakukan penampilannya.

“Kau tahu? Cheondung juga ikut membawakan acara ini, dia mengiringi Seungho bermain piano” Jelas oppa

“Oh.. berarti Hyori ada disini juga dong?” tanyaku antusias. Aku begitu senang sampai ketika seorang namja lewat di depan wajahku, “Omo…. Kenapa Joon oppa ada disini juga?! Apa yang ia lakukan?”

“Oh aku lupa memberitahumu. Ia juga mengiringi Seungho bersama Cheondung, Mir tidak bisa ikut karena ada mini konser dengan Band nya di suatu tempat.” Ucapnya santai.

Loh, kok semua namja yang kukenal jadi berkumpul dalam konser kecil-kecilan ini? Konser ini bukan dalam rangka ujian praktek mahasiswa Fakultas Musik kan?

Cho Hyori story..

“Hyung, dia yeoja chingu ku. Kau tidak bisa seenaknya saja merebutnya dariku. Kami sudah pacaran 2 tahun, tolong jangan ganggu kami.” Jawab Cheondung oppa sedikit resah.

“Jinjja? Aku tidak tahu kalian pacaran. Kau tidak bohong kan tentang semua ini, Cho Hyori yang cantik?” tanya Lee Joon oppa dengan gayanya yang sembrono.

Aku menggeleng, “Aku tidak bohong oppa. Seperti yang Sanghyun katakan, kami sudah pacaran 2 tahun.” Ucapku juga resah. Sanghyun adalah nama panggilanku untuknya.

“Tapi kau pernah bilang kalau kau menyukaiku kan? Saat baru masuk perguruan tinggi?” tanya Joon oppa membahas hal yang tidak perlu, “Ucapan itu akan selalu kupegang sampai kau mau menerimaku.”

 

“Hyori sayang, kau tidak akan memilihnya kan? Aku menyayangimu, sungguh sungguh aku menyayangimu.” Ucap Cheondung oppa sebelum ia melakukan mini konsernya. Aku mengangguk lemah meskipun aku takut Joon oppa akan melakukan sesuatu pada namja chinguku. Cheondung adalah tipe namja yang hormat pada sunbaenimnya, apalagi kepada Joon. Karena mereka sudah berteman sejak SMP

“Sekarang lakukan penampilannya dengan baik, aku akan menonton dari sini. Kalau Joon oppa melakukan sesuatu, aku akan bilang padamu. Arraseo?” jawabku menenangkan Cheondung yang gugup.

Ia mengangguk pelan lalu mencium kelopak mataku sebelum ia pergi. Aku juga tertular gugup karena Cheondung mempertaruhkan harga dirinya untukku.

Ia akan memainkan violinnya dengan tempo yang cepat, padahal selama ini ia belum mahir melakukannya. Kalau ia tidak bisa, maka Joon boleh menjadikanku yeoja chingunya. Tapi aku tidak mauu

Dari panggung, terlihat Joon oppa yang menatap dan mengedipkan matanya ke arahku. Menjijikkan, kenapa aku bisa suka dengannya ya saat masuk perguruan tinggi?

Beberapa detik setelah itu, ada satu pesan di HPku. Dari Lee Joon oppa..

From: Lee Joon

 

Aku tidak sabar menjadikanmu milikku, dongsaengku yang manis. Ternyata perasaanku sama denganmu waktu itu, berarti kita jodoh. Benar kan?

 

Air mataku menetes, pesan dari Joon oppa seperti seorang PERVEEEERT~~!! Ottokke? Seandainya ada Nana atau lebih baik Dain, mungkin aku bisa menceritakannya pada mereka. Tapi bagaimana? Aku sendiri begitu kesal dan sedih sehingga rasanya aku ingin melempar HPku karena tidak tahu harus bagaimana.

Disaat aku meremas remas HPku, tiba-tiba HPku bergetar lagi tanda satu pesan masuk. Aku pikir itu pesan dari Joon oppa yang berusaha merayuku lagi.

Ternyata pesan dari Dain, yang ternyata sedang ada di acara yang sama denganku…

From: Hwang Dain

 

Hyori-sshi, kau ada di acara mini konser ini kan? Dimana kau? Aku disini bersama Byunghee oppa.

Tunjukkan dirimu dan ayo kita menonton di kursi yang bersebelahan~~

 

Dain? omo, ternyata dia ada disini~~ aku harap ia bisa menolongku dari semua masalah dan kegalauan ini.

Aku segera pindah tempat duduk di dekat Dain dan sebelumnya mengirim satu pesan kepada Cheondung oppa.