FF ini adalah FF request dari username-nya Choi Joo Young  yang pengen dibuatin FF “YeonJoon Couple” (alias Ji Yeon & Lee Joon)

Di sini Ji Soon mewakili Zen yang lagi banyak tugas sekolah (sama kyk hampir semua author, termasuk saya sendiri)… ^^

Jadi mian ya kalo hasil dari FF ini gak semaksimal yang diinginkan… L

*bow*

Melihat dari beberapa FF yang sudah dibuat oleh Zen dan senior-senior lainnya, membuat aku semakin minder (masih Junior)…

Tapi aku berharap semoga aja FF ini bisa menghibur kalian semua, so CHECK IT OUT!! ^^

 

***

Title            :           Is My Boyfriend So Bad?

Genre         :           Friendship & Romance 99,9 % (0,1 % sad-romance, maybe… ^^)

Length        :           Oneshoot

Cast                        :           Ji Yeon T-Ara as Ji Yeon

Lee Joon MBlaQ as Lee Joon

And other cast… (find by yourself)

Note: Cerita ini hanyalah fiktif belaka, maaf jika ada kesamaan dalam cerita dengan cerita lainnya atau dengan kehidupan kalian, FF ini murni berdasarkan ide dari author sendiri.

 

 

Selamat malam pemirsa…

Kita awali berita hari ini dengan berita utama yang telah kami siapkan untuk Anda semua…

Berita utama untuk hari ini adalah perkelahian maut yang terjadi antar-geng di daerah timur Seoul yang membuat resah sebagian warga yang berada di TKP. Polisi pun segera mendatangi lokasi tersebut dan alhasil sekitar 8 orang yang tidak sempat melarikan diri segera ditangkap oleh anggota polisi dan menggiring mereka semua ke kantor untuk ditindaklanjuti kemudian. Dari keterangan yang diperoleh oleh beberapa saksi dan tersangka tentang perkelahian yang sampai menimbulkan korban jiwa tersebut disimpulkan bahwa hal itu terjadi didasari oleh faktor balas dendam dan beradu kekuatan… Inilah beberapa wajah tersangka yang sempat kami shoot…

 

Ji Yeon tidak bisa berkedip, matanya menatap lekat layar TV yang ada di hadapannya. Tidak bisa berkata-kata juga, ia benar-benar merasa syok. Segera ia mengambil handphone yang disimpannya di saku bajunya, lalu menekan beberapa digit tombol. Segera setelah tersambung, sebuah suara berat terdengar menyahut dari seberang sana…

 

“Yoboseyo Ji Yeon-ah! Waeyo?”

 

“Tidak usah berpura-pura lagi, apa yang sudah kamu lakukan, huh? Neon michyeosseo?!”

 

“Ji Yeon-ah, tahan emosimu! Maksudmu apa? Jelaskan secara perlahan-lahan!”

 

“Tidak perlu diperjelas lagi, semuanya sudah sangat jelas. Apa kamu pikir dirimu sangat hebat dan kuat? Sebenarnya apa yang kamu cari dengan mengikuti tawuran semacam itu lagi? Kamu masih belum puas apa? Sudah sejak dulu kamu selalu mengikuti hal semacam ini, dan baru kali ini kamu tertangkap, iya kan? Aku kan  sudah menasihatimu beberapa kali, tapi ternyata sama sekali tidak kamu hiraukan. Huhh, aku benar-benar kecewa. Dan ini pulalah alasanmu tidak mengangkat telepon dariku dan menjawab SMS-ku selama 3 hari ini, kan? Ya sudah, tidak ada gunanya kita melanjutkan hubungan ini lagi dan hari ini adalah hari terakhir hubungan kita…”

 

Tuutt… tuuuttt… ttuuut….

 

Dilemparnya handphone miliknya ke atas kasur dan segera merebahkan dirinya. Malam ini Ji Yeon menangis sejadi-jadinya, perasaan kecewa, menyesal, dan sedih berkumpul menjadi satu. Keputusan yang sangat cepat, pikirnya, tapi mungkin inilah jalan terbaik baginya dan namjachingunya itu. Awal yang indah tetapi berakhir dengan menyedihkan.

 

Pagi harinya…

 

BRUKKK!

Ji Yeon yang baru saja keluar dari WC sekolahnya, tiba-tiba terjatuh karena tersandung kaki seseorang yang menurutnya sangat disengaja. Geng wanita jahil itu pun menertawakannya.

“Lihat ini siapa yang datang? Si “Perebut Pacar Orang” yang kedatangannya membuatku sangat muak… Halo, selamat pagi! Bagaimanakah sekarang hubunganmu dengan mantan pacarku yang sangat kamu sayangi itu?”

Ya, tidak salah lagi, mendengar suara yang serasa tidak asing lagi baginya dengan nada mengejek yang jika di hadapannya selalu begitu. Ji Yeon pun segera bangkit kembali. Lututnya yang memar karena terantuk keras dengan lantai tidak membuatnya goyah. Ia segera berdiri dan berusaha keluar dari lingkaran para setan tersebut.

“EITTS! Mau kemana? Berusaha melarikan diri ya? Berani sekali, huh?! … Guys, lawan dia!”

“YAA!!! Lepaskan aku! Yaa!!! ANDWAE!!!”

“Ayo, cepat ikut kami!”

“Eun Jung-ah, lepaskan dia!” tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka semua. Ji Yeon yang sudah menangis ketakutan sedari tadi segera ditolong oleh pria itu. Begitu juga dengan para gadis-gadis itu, mendadak ketakutan karena kedatangannya.

“Lee Joon-ah, ini tidak seperti yang kamu kira…” ketua geng para gadis tersebut, yang tak lain adalah Eun Jung, berusaha menjelaskan semuanya. Tapi segera ditepis oleh Lee Joon, nama pria tersebut.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, kamu selalu saja seperti ini. Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini sebelum aku semakin marah karena kebohongan kalian!” pinta Lee Joon kasar. Geng wanita yang terkenal di sekolahnya itu ternyata paling takut dengan gertakan dari seorang pria bernama Lee Joon. Dengan terburu-buru seperti dikejar oleh seekor anjing, mereka pun pergi. Sekarang hanya tinggallah Ji Yeon dan Lee Joon. Malas berbicara, Ji yeon pun ikut pergi meninggalkan Lee Joon tanpa berterima kasih sedikit pun kepadanya karena sudah ditolong.

“Ji Yeon-ah…” belum selangkah Ji Yeon bergerak, Lee Joon sudah menggenggam tangannya dan memanggilnya. Ji Yeon menghela nafas panjang, mencoba untuk bersabar berada di dekat orang yang sekarang dibencinya.

‘Lepaskan tanganku! … Apa kamu masih belum mengerti? Kamu dan aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi…” Lee Joon segera melepas genggaman tangannya dan memeluk Ji Yeon. Ji Yeon tersentak, jantungnya terasa berdebar-debar. Apa maksud ini semua, pikir Ji Yeon.

“YAA! Neon michyeosseo?! Beraninya memelukku tanpa izin! Dasar pria tidak tahu diri!” Ji Yeon segera melepas pelukan Lee Joon dengan paksa dan mundur menjauh dari Lee Joon.

“Ji Yeon-ah, dengarkan aku! Ini semua butuh penjelasan panjang lebar…” Lee Joon mendekati Ji Yeon yang semakin lama semakin menjauh.

“Mundur dariku! Jangan pernah berpikir sekali lagi untuk berani menyentuhku! Semuanya sudah jelas, bukti pun ada, kamu masih mau mengelaknya? Jangan bertindak bodoh atau aku akan semakin membencimu!” Ji Yeon menudingkan jari telunjuknya ke arah Lee Joon sebagai pengingat untuk dirinya, kemudian segera pergi dari tempat tersebut. Saat dalam perjalanan, Ji Yeon mendengar bisikan beberapa siswa yang tadi sempat melihat kejadian tersebut. Beberapa komentar buruk untuk dirinya yang ia dengar yaitu karena pernah berpacaran dengan seorang kriminal. Hal itu membuat Ji Yeon semakin kesal.

 

Saat istirahat sekolah di kantin

 

“Eh, kalian tahu, tidak?”

“Apaan?”

“Itu si Ji Yeon yang pernah pacaran dengan Lee Joon, sekarang mereka sudah putus, kan?! Dan katanya ternyata Ji Yeon memutuskan Lee Joon karena sudah tidak tahan dengan tindakan kriminal yang selalu dilakukannya bersama geng-geng brutalnya.”

“Ckckck… Tragis sekali nasib Lee Joon.”

“Ehh, biar saja! Biar dia tahu rasa juga, salahnya sendiri berpacaran dengan gadis pendiam dan kalem seperti Ji Yeon, coba kalau dibandingkan dengan Eun Jung, mantan kekasihnya, pasti lebih cocok, kan?  Karena mereka berdua sama-sama sifatnya brutal, haha!”

“Ssst! Pelankan suaramu, orang yang kita bicarai sedang datang mendekat, semoga saja dia tidak mendengar apa yang sudah kita katakan tadi…”

Ji Yeon berjalan perlahan melewati mereka berdua dan tidak seperti yang diharapkan mereka. Ji Yeon mendengar sedikit pembicaraan mereka, walaupun sedikit tapi terdengar jelas karena suara mereka yang terlalu nyaring. Ji Yeon masih bisa menahan emosinya, hingga akhirnya temannya, yang tak lain adalah So Yeon, datang menghampirinya seperti biasa untuk makan bersama. Sambil menghabisi makanan mereka masing-masing, Ji Yeon mencurahkan segala penat dan masalah yang dirasakannya. Ji Yeon juga tidak lupa untuk meminta nasihat dari best friend-nya ini.

“Menurutku, sikapmu itu terlalu jahat. Mianhae Ji Yeon, bukan maksudku membela Lee Joon, tapi aku hanya ingin meluruskan keadaan di antara kalian berdua. Aku tidak tahu apa-apa soal ini, tapi karena aku sahabatmu, aku menyarankan sebaiknya kamu mendengarkan semua penjelasannya lebih dahulu. Karena semua orang jahat tidak mesti harus berbuat jahat terus, kan? Sedangkan kita saja yang dibilang orang baik, masih bisa melakukan kejahatan setiap harinya. Ji Yeon, semua orang punya alasan tersendiri mengapa mereka melakukannya? Hal sekecil apapun pasti punya alasan juga kan  kenapa kita harus melakukannya. Nah, sekarang terserah kamu! Aku sudah menasihatimu baik-baik, untuk selebihnya kuserahkan semuanya padamu, kamu sekarang sudah dewasa dan kamu pasti bisa menentukan semua yang terbaik untukmu. Aku hanya bisa mendoakanmu dan menyemangatimu. … Mmm, baiklah Ji Yeon, sepertinya aku harus segera kembali ke kelas secepatnya, masih ada tugas yang harus kuselesaikan. Tidak apa-apa kan  kalau aku pergi sekarang?”

Ji Yeon yang sedari tadi terdiam mendengarkan nasihat So Yeon hanya bisa mengangguk pelan. Sedangkan So Yeon, ia sudah mengerti situasi Ji Yeon sekarang ini. Ia hanya bisa mendoakannya semoga apa yang dipilih Ji Yeon nantinya tidak membuatnya sakit lagi.

 

Ji Yeon POV

 

Benar juga apa yang dikatakan So Yeon. Tidak ada salahnya jika aku memberikannya kesempatan lagi. Lagipula aku juga masih tidak bisa melupakan sosok Lee Joon yang telah mengisi sebagian keseharian hidupku dulunya. Betapa bodohnya aku karena tidak mau mendengarkan penjelasannya.

Waktu istirahat sisa 5 menit lagi, aku pun segera kembali ke kelas. Dan sesampainya ke kelas, aku pun segera membuka handphone-ku dan mengetik sebuah SMS yang kutujukan pastinya untuk Lee Joon. Semoga saja ia tidak marah dan mau menjelaskannya kembali. Rasa menyesal sudah pasti melandaku. Bingung harus berbuat apalagi jika Lee Joon benar-benar marah padaku. Lee Joon, jika kamu punya alasan baik tentang tindakan kriminalmu kali ini, aku benar-benar akan memaafkanmu dan melupakan semua hal ini, tapi jika tidak… mungkin kesempatan terakhir bisa menjadi milikmu. Karena jujur aku masih menyayangimu juga. Debaran jantung yang kurasakan saat kau tiba-tiba memelukku merupakan bukti perasaanku yang sebenarnya. Dan di setiap waktu aku masih tidak bisa untuk melupakanmu. Aku masih ingin bersamamu…

 

==End POV of Ji Yeon===

 

Drrrttt… Drrrtttt…

 

“Yoboseyo?” Ji Yeon mengangkat teleponnya.

“Yoboseyo, benar ini Park Ji Yeon?” tanya suara dari seberang sana.

“Ne, ini siapa?”

“Ah, syukurlah! Kalau begitu lebih baik sekarang kamu pergi ke kafe yang ada di dekat sekolah, ada sesuatu yang harus kukatakan kepadamu dan ini sangat penting. Kita harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.”

“Hah? Maksudnya apa? Masalah?” ji Yeon masih kebingungan. Tapi belum sempat Ji Yeon melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba sambungan sudah terputus dan sepertinya orang yang meneleponnya tadilah yang menutup teleponnya. Orang yang tidak tahu sopan santun, pikirnya.

Sekarang Ji Yeon tidak bisa berpikir lebih lama lagi, karena ia juga penasaran maka ia pun menyetujui permintaan orang tadi. Segera ia bersiap-siap dan tanpa pamit panjang lebar kepada orang tuanya, melaju lesat menuju mobil kesayangannya dan pergi menuju kafe yang dimaksud orang tadi.

 

Sesampainya di sana…

 

“Hei, kamu! Ke sini! … Apa kamu masih mengenal aku?” Ji Yeon yang baru saja keluar dari mobilnya terkejut saat melihat ternyata di belakang tempat mobilnya terparkir ada seorang pria yang telah menungguinya dari tadi.

“Siapa kamu? Kamu yang meneleponku tadi kan..?”

“Ya, kamu benar! Jadi, kamu masih belum mengenaliku? Apa kamu tidak ingat? Aku Seung Ho, teman sejak kecilnya Lee Joon…” terangnya kepada Ji Yeon. Ji Yeon masih bingung.

“Baiklah, lupakan hal ini! Kita langsung ke topiknya saja. Jadi, apa sekarang kamu sudah tahu kalau Lee Joon diculik oleh musuh gengnya? Kita tidak tahu bagaimana jadinya keadaan Lee Joon sekarang.”

Ji Yeon tidak bisa menelan ludahnya, ia benar-benar merasa kaku. Dadanya terasa sesak sekali, sakit menusuk di hatinya. Ia tidak bisa mempercayai apa kata teman Lee Joon ini barusan. Sedangkan teman Lee Joon ini, yaitu Seung Ho, merasa jengkel karena setiap ia berbicara pada Ji Yeon selalu tidak ada ekspresi untuk menghargai informasi yang ia berikan. Segera ditariknyalah tangan Ji Yeon dan membawanya masuk lagi ke dalam mobil dan mengambil kunci yang ada di tangan Ji Yeon (yg masih belum bisa bereaksi kembali) lalu mengambil alih kemudi mobil tersebut menuju sebuah tempat, yang sepertinya belum pernah dikunjungi oleh Ji Yeon.

Ji Yeon masih belum bisa menyadarkan dirinya sendiri, ia masih syok. Tapi selama di perjalanan lama-kelamaan syoknya berkurang karena ia baru sadar bahwa tidak tahu akan dibawa ke mana sekarang ini. Hingga akhirnya, Seung Ho membawa mereka berdua ke sebuah tempat, yang bisa dibilang cukup angker dan mencekam. Tapi dari dalam gedung, tiba-tiba terdengar suara erangan kesakitan seseorang. Dan sepertinya Ji Yeon mengenal akrab suara ini. Tanpa berpikir panjang lagi, Ji Yeon langsung menerobos masuk gedung tersebut tanpa permisi dan meninggalkan Seung Ho yangmasih terdiam di situ.

“Lee Joon-ah! Lee Joon-ah!!!” Ji Yeon memanggil-manggil nama Lee Joon, seseorang yang ia yakini suara erangan tadi adalah suara Lee Joon.

Sedangkan di dalam sebuah ruangan tertutup dan remang-remang, karena hanya ada satu lampu saja yang menerangi ruangan tersebut, sesosok pria yang sudah lemah tak berdaya dan berlumuran darah-darah segar di wajahnya dan memar-memar di sekujur tubuhnya jatuh tersungkur di lantai yang kasar. Ia sudah tidak kuat lagi untuk bergerak, serasa tidak ada kesempatan untuk hidup lagi. Segerombolan pria berbadan besar dan kekar bertubi-tubi memberikan pukulan dan tendangan yang diarahkan ke badannya, yang walaupun sudah jatuh lemah tak berdaya tersebut. Tetapi sebuah suara mengejutkan mereka, suara seorang wanita yang memanggil nama korban sandera mereka. Tidak mau ketahuan dan takut kalau ternyata yang datang adalah polisi, mereka pun segera pergi bersembunyi tidak jauh dari ruangan tersebut. Dan ditinggalkannyalah korban sanderaan mereka yang tergolek lemas di lantai.

Tak lama kemudian, seorang wanita masuk ke dalam ruangan tersebut dan betapa terkejutnya saat melihat keadaan pria tersebut.

“Ji-Yeon, … ja-ngan mende-kat! Ber-ba-ha-ya! Cepat-lah per-gi dari si-ni!” pinta pria tersebut yang berusaha dengan sisa tenagan yang ada untuk memberitahukan wanita tersebut, yang tak lain adalah Ji Yeon. Ji Yeon bukannya malah pergi, ia malah menangis sejadi-jadinya di hadapan pria tersebut, Lee Joon. Lee Joon yang sudah sekarat ini hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang ini, dan tidak mau melibatkan wanita yang paling ia sayangi ini.

“Lee Joon, kenapa bisa jadi seperti ini? Kenapa kamu begitu lemah? Apa yang sedang kamu pikirkan? KENAPA TIDAK MELAWAN MEREKA?!!” Ji Yeon meluapkan segalanya. Ia begitu miris melihat keadaan Lee Joon sekarang, dan begitu menyesal juga kecewa mengapa Lee Joon mau diperlakukan seperti ini, bukankah setiap saat Lee Joon selalu melawan jika dirinya sedang dalam keadaan darurat sekali pun. Ji Yeon memeluk Lee Joon di pangkuannya, sedangkan Lee Joon mencoba untuk tetap tegar dan mengusap air mata Ji Yeon di pipinya.

Di saat momen-momen mengharukan itu terjadi, ternyata segerombolan pria yang tadi menghajar Lee Joon habis-habisan segera keluar dari persembunyian mereka dan membentuk lingkaran mengitari mereka (Ji Yeon dan Lee Joon).

Kedatangan mereka membuat Ji Yeon terkejut dan ketakutan. Ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang. Lee Joon tidak bisa membiarkan mereka semua yang berani menyentuh Ji Yeon, maka ia pun berusaha sekuat tenaganya untuk berdiri kembali, namun hanya dengan satu tinjuan di perutnya dari seseorang gerombolan tersebut, membuatnya jatuh kembali dan untuk beberapa saat tidak sadarkan diri. Ji Yeon menjerit ketakutan memanggilnya, perasaan marah dan kesal pun membangkitkan semangat dirinya untuk melawan mereka semua.

Namun, semangat terkadang tidak sebanding dengan kekuatan yang kita miliki. Dengan sekali tamparan, Ji Yeon pun jatuh tersungkur. Merasa dalam keadaan bahaya, Ji Yeon pun semakin ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Ia kembali bangkit dan duduk di samping Lee Joon yang sedang pingsan.

“Tenanglah, gadis manis! Jangan takut! Hahaha…” suara tawa salah satu pria, yang sepertinya adalah bos dari mereka semua, bergema di seluruh penjuru ruangan, membuat Ji Yeon semakin ketakutan.

“Jangan macam-macam! Apa yang sebenarnya kalian inginkan?!” Ji Yeon memberanikan diri bersuara dengan nada lebih keras.

“Kamu mau tahu apa yang sebenarnya kami inginkan? … Asal kamu tahu ya, kekasihmu itu sudah sangat merepotkan kami semua. Selain dia meminjam uang kepada kami dan sampai sekarang belum dikembalikan, ia juga berkhianat kepada kami. … Dan untung saja anak buahku yang satu ini telah bekerja dengan sebaik mungkin untuk membawamu ke sini, hahaha…” serunya sambil menunjukkan anak buah yang ia maksud.

“Se-se-Seung Ho?!” betapa terkejutnya Ji Yeon, ternyata orang yang membawa Ji Yeon kemari dan mengaku sebagai teman lamanya Lee Joon berpihak kepada mereka.

“Mianhae Ji Yeon-ah…” hanya itu yang bisa diucapkan Seung Ho kepada Ji Yeon dengan rasa menyesal. Ji Yeon sekarang benar-benar terpojok, tidak ada yang memihak kepadanya.

“Tunggu sebentar! Apa maksud kalian kalau Lee Joon telah berkhianat? Bukankah itu pilihan bagus, karena ia telah berkhianat kepada orang yang jahat seperti kalian?”

“JAGA OMONGANMU!!!” bos mereka mendadak emosi mendengar perkataan Ji Yeon tadi dan hendak menamparnya kembali, tapi segera ditahan oleh Seung Ho.

“Bos, biar aku saja yang menjelaskan kepadanya…” ucap Seung Ho bermaksud memohon kepada bosnya agar tetap tenang.

“Dengarkan aku, Ji Yeon! Aku mewakili semua anak geng di sini ingin memberitahumu bahwa semua yang kami lakukan tidak selamanya digunakan untuk hal yang buruk. Kami semua di sini pasti punya alasan tersendiri mengapa kami selalu melakukan itu semua. Sebenarnya mungkin yang kamu anggap kami buruk, tidak selamanya hal itu kamu ucapkan jika kamu sudah tahu alasannya…” jelas Seung Ho panjang lebar dan dengan kesabaran penuh yang sebenarnya juga ingin ikut marah dengan perkataan Ji Yeon tadi. Ji Yeon terdiam, rasanya seperti deja vu, apa yang dikatakan Seung Ho hampir sama seperti yang dikatakan So Yeon. Ia berpikir sejenak, mungkin benar apa yang dikatakan Seung Ho barusan dan tidak menutup kemungkinan mereka melakukan semua ini untuk alasan yang baik.

Sambil dalam keheningan tersebut, tiba-tiba saja terdengar bunyi sirine mobil polisi dan suara tembakan dari luar. Apa yang terjadi? Semua ini di luar kendali. Para gerombolan tersebut mendadak menjadi sangat ketakutan

“Bos, bagaimana ini? Kita terperangkap…” salah seorang anak buahnya berteriak ketakutan.

“Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? … Pasti ada yang memasang jebakan di sini… Kamu, kamu kan yang menyebabkan semua ini terjadi?!” seru si ketua gerombolan alias bosnya tersebut sambil menudingkan jarinya ke arah Ji Yeon. Ji Yeon spontan menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu apa-mengapa tentang semua ini, bahkan untuk berencana menelepon polisi saja tidak pernah terbesit di kepalanya sampai sekarang.

BRAKKK!!!

“Kalian semua, angkat tangan! Kalian sudah kami kepung, jangan ada yang bergerak lagi!” seru salah seorang polisi dari balik pintu yang barusan saja ia dobrak dengan keras. Kini semua orang-orang yang Ji Yeon  anggap jahat itu, hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Tiba-tiba dari balik kerumunan para polisi tersebut, muncullah seorang wanita yang nampaknya Ji Yeon sangat kenal dari ciri-ciri fisiknya. Ya, perlahan-lahan wanita itu melangkah mendekati Ji Yeon dan memang benar perkiraannya bahwa wanita itu ternyata adalah…

“So Yeon? Kenapa kamu bisa berada di sini? Apakah kamu yang…” Ji Yeon tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat So Yeon menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepadanya, menandakan bahwa semuanya benar.

“Ne, Ji Yeon-ah! Kamu tahu kan, aku mempunyai kakak sepupu seorang jaksa, maka aku pun meminta bantuannya untuk mencarimu. Karena sedari tadi orang tuamu mencemaskanmu, dan setiap kali kutelepon, tidak ada jawaban darimu. Mianhae Ji Yeon-ah, apakah aku berbuat kesalahan…?” jelas So Yeon dengan hati-hati karena sejak dari tadi wajah Ji Yeon tidak menyiratkan kegembiraan sama sekali semenjak para polisi tadi datang. Melihat semua gerombolan tadi sekarang sedang diborgol oleh polisi, Ji Yeon tidak bisa membiarkannya.

“Hentikan!!! Tunggu sebentar, aku bisa menjelaskan ini semua!” Ji Yeon langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arah para polisi tersebut. Para anggota polisi tersebut juga kebingungan, apa yang bisa dijelaskan oleh seorang wanita biasa sepertinya. Tapi si jaksa, atau lebih tepatnya kakak sepupu So Yeon, mempersilahkannya untuk berbicara, walau hanya 5 menit. Ji Yeon menghela nafas sebentar, kemudian berusaha meyakinkan mereka agar mengerti.

“Mereka semua mungkin tidak jahat seperti yang kita kira…” Ji Yeon menatap mereka semua sebentar, para polisi tersenyum sinis mendengar penjelasannya barusan dan bagaimana mungkin seorang pelaku kriminalitas bisa berbuat baik, sedangkan para gerombolan tadi masih ketakutan dan tidak tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Ji Yeon pun mengabaikannya dan kemudian melanjutkan kata-katanya lagi…

“Apa kita tidak pernah berpikir sebentar saja untuk tahu lebih mendalam apa alasan mereka melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat banyak tersebut. Atau mungkin karena hal inilah yang menyebabkan kita selalu menganggap mereka orang jahat, padahal sebenarnya hanya kita saja yang tidak tahu mereka lebih akrab. Kita semua juga tahu, setiap orang pasti punya alasan mengapa mereka melakukan sesuatu. Kalian boleh menahan mereka jika mereka tidak punya alasan untuk melakukan semua tindakan jahat yang pernah mereka lakukan…” Ji Yeon menjelaskannya dengan perasaan penuh, berharap mereka semua para anggota polisi dapat mengerti.

Suasana hening, tidak ada satu pun yang berbicara. Semuanya merenungi dirinya masing-masing. Sebelum So Yeon akhirnya membuka suara dan membantu sahabatnya itu.

“Ji Yeon benar! Tidak ada salahnya bukan kalau kita membiarkan mereka berbicara dan membuktikan sedikit saja apa alasan mereka berbuat tindakan jahat. Dan mengapa mereka juga membentuk perkumpulan atau geng ini? Pasti semua hal ada alasannya. Tinggal kita saja yang sebaiknya mau memberikan mereka penjelasan untuk membuktikan semuanya bahwa mereka ternyata juga bisa berbuat benar…”  jelas So Yeon menyambung penjelasan Ji Yeon tadi, sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ji Yeon. Ji Yeon pun tersenyum dan sangat berterima kasih kepada sahabatnya ini.

Sang jaksa akhirnya pun mencoba memberikan kesempatan kepada salah satu dari mereka untuk menjelaskan alasan mereka. Dan majulah Seung Ho untuk menjelaskan semua kekeliruan ini.

 

Seminggu kemudian…

 

Ji Yeon POV

 

Senang sekali rasanya. Sejak kejadian seminggu yang lalu, aku pun kini menjadi orang yang baru. Tidak dengan diriku yang dulu sangat egois dan mau menangnya sendiri, kini aku lebih mudah untuk mendengarkan orang lain dan mengalah jika aku bersalah.

Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. Sudah beberapa hari ini Lee Joon belum masuk sekolah karena luka yang dideritanya akibat peristiwa itu. Aku benar-benar rindu kepadanya. Dan sampai sekarang aku masih belum berani untuk menengoknya, aku tahu aku berbuat salah dan mungkin tidak sepantasnya aku mengharapkannya lagi. Mungkin benar apa yang dibilang oleh mereka semua, bahwa memang cocok jika Lee Joon berpacaran saja dengan mantan kekasihnya, Eun Jung. Aku juga tidak tahu mengapa waktu itu Lee Joon lebih memilih dia ketimbang Eun Jung yang sudah berpacaran dengannya hampir 2 tahun.

Lama termenung aku di bangku taman sekolah selam jam istirahat tersebut, aku masih tidak bisa menghilangkan pikiranku dari sosok Lee Joon. Tiba-tiba saja semua pandanganku gelap, apakah aku sedang pingsan? Tapi mengapa aku masih bisa sadar?

Terdengar suara dehaman dari arah belakang, ternyata ada yang menutup mataku dari arah belakang, siapakah dia?

“SURPRISE!!!”

“Lee Joon.., So Yeon.., kalian kenapa..?”

“Saengil chukkae hamnida, saengil chukkae hamnida, saengil chukkae uri Ji Yeon, saengil chukkae hamnida!!!”

Mereka berdua tiba-tiba saja menyanyikan lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ untukku. Apakah aku hari ini berulang tahun? Kuingat-ingat kembali tanggal berapa ini. Omo, benar saja, hari ini tanggal 7 Juni. Ya ampun, bahkan hari ulang tahunku saja aku lupa, betapa pikunnya aku…

Aku tidak dapat menahan tangis bahagia ini, aku sangat senang hari ini. Selain mereka yang ternyata sangat perhatian kepadaku, juga karena hari ini aku bisa melihat Lee Joon kembali. Kuluapkan semua tangisanku di dada Lee Joon, kupeluk dirinya erat-erat dan kurasakan kehangatan yang selama ini kurindukan. Hanya dua kata yang ingin kuucapkan kepadanya…

“Mianhae Lee Joon-ah.., saranghaeyo!”

“Na do saranghae Ji yeon-ah…”

Aku senang mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya, aku sangat gembira. Tidak lupa juga aku memeluk sahabatku tersayang, So Yeon, dan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya. Tanpanya, mungkin saja waktu itu aku gagal untuk meyakinkan para polisi tersebut.

“Ji Yeon-ah, kami punya hadiah spesial untukmu! Sehabis pulang sekolah ini, kita semua bersama-sama dengan teman-temanku yang kau sebut ‘jahat’ itu, haha…” tawa Lee Joon meledak sebelum akhirnya ditinju lengannya olehku, karena aku tahu bahwa ia bermaksud meledekku.

“Ne, ne! Mianhaeyo… Mmm, melanjutkan perkataan yang tadi… nanti kita akan pergi bersama-sama ke beberapa asrama dan panti asuhan untuk berbagi bersama, kamu tidak keberatan, kan?”

“Omo, itu benar-benar hadiah spesial! Ne, aku mau sekali!” jawabku riang dan bersemangat sekali. Kami semua akhirnya berpelukkan, melepas rindu dan rasa senang ini bersama-sama sebelum akhirnya kami kembali ke kelas masing-masing.

Selama pelajaran, aku tidak bisa berhenti memikirkan apa saja yang akan kulakukan nantinya, aku benar-benar tidak sabar untuk cepat-cepat segera pulang dan bersiap-siap melaksanakan kegiatan amal itu.

Sebenarnya kegiatan itulah yang menjadi alasan utama para gerombolan yang dulu pernah kuanggap jahat, mengapa mereka selalu melakukan tindak kejahatan. Ternyata mereka selalu mengikuti balapan liar dan street dance  di jalanan untuk mengumpulkan dana demi orang yang membutuhkannya. Tapi kalau mencuri, mereka tidak akan pernah mau sama sekali. Mereka hanya mau melakukan sesuatu yang bisa dibilang jahat, tapi tidak jika harus mencuri atau membunuh. Bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka akan menghajar siapa saja yang berani menghalangi aktivitas mereka ataupun mencuri uang mereka.  Itu jugalah yang menjadi alasan mengapa mereka berkelahi dengan geng lainnya hingga beberapa dari mereka ada yang tertangkap, tapi untung saja waktu itu mereka bisa bebas karena masih mempunyai beberapa dana yang sudah mereka kumpulkan dan meminjam dari beberapa kenalan baik mereka.

Mungkin mereka bisa dibilang anak-anak nakal, bukan anak-anak jahat. Kini aku senang bisa berada dalam komunitas mereka.

Dan tentang Lee Joon, mengapa ia ingin keluar dari geng tersebut karena demi diriku. Aku begitu bodoh membayangkan betapa sayangnya Lee Joon kepadaku, bahkan ia saja mau merelakan nyawanya demi aku. Oleh sebab itulah, mulai sekarang aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. Aku tidak mau kehilangannya, karena aku punya alasan tersendiri. Kalian semua tahu, kan?

 

===

 

Nah, selesai deh ceritanya…

Kira-kira sesuai pertanyaannya, apa kalian tahu jawabannya?

Yang tahu buruan comment deh, siapa cepat dan benar boleh request FF sama aq… ^^

Ayo, ayo! Buruan!

Kritik dan saran juga boleh kok… ^^

Gomawo!!! ^^V