Tittle: Love Diary

Author: Yurilia

Length: Oneshot

Rate: PG-13

Notes:

  • This fiction is between you and your bias. Boys or Girls🙂
  • The story line is absollutely from my imagination.
  • No plagiarism!
  • If you want to repost my fiction, make sure you put the credits as well.
  • I’ve already post this fiction in my personal wordpress account.
  • I’m really sorry if there’re so many typos😀

Seoul, 1 Februari 2011

Girl’s POV

Heuuuuuuuuuuuuuh~ rasanya hasratku untuk hidup sudah menguap semua. Tak ada gairah sama sekali untuk menjalani hidup hari ini. Apalagi ini hari senin! Ck! Hari yang menurutku paling menyebalkan. Pelajaran hari ini tidak ada yang menyenangkan. Semuanya membosankan.

Eh, dia tidak masuk sekolah ya? Dari tadi padi aku tak melihat batang hidungnya sedetikpun. Dia kenapa ya? Padahal dia sering sekali duduk di bawah pohon di halaman belakang saat istirahat makan siang begini. Tapi sekarang tidak ada. Apa dia sakit?

Aku murid kelas 2 di Namsoon High School. Sudah sejak satu tahun yang lalu aku menyukai seseorang. Dia seorang yang menurutku sangat tampan. Dia juga sangat populer sejak masih kelas 1. Tapi dengan kepopulerannya itu, dia sama sekali tidak sombong. Malahan, dia sangat baik hati kepada siapapun. Dia juga pandai olahraga, dia pemain inti tim basket sekolahku ini. Dia juga masih kelas 2 sama sepertiku. Waktu kelas 1, aku dan dia sekelas. Tapi kelas 2 sekarang tidak, walaupun kelas kami berdua bersebelahan.

Hari ini, genap satu tahun aku memendam perasaanku kepadanya. Aku sadar, dia tidak mungkin menyukaiku juga. Mungkin dia tidak kenal aku malah. Aku bukan gadis yang pandai bergaul dengan orang lain apalagi dengan seorang laki-laki. Teman-temanku adalah buku-buku yang setiap hari kubaca. Sejujurnya, bukan buku pelajaran atau buku-buku ilmu pengetahuan yang kubaca, tapi hanya komik dan novel saja. Karena aku ini sangat tidak suka membaca buku pelajaran.

Andaikan aku bisa seperti gadis-gadis lain disekolahku yang berani mendekatinya tanpa rasa gugup sedikitpun. Bahkan aku pernah melihat ada gadis yang berani mengungkapkan perasaan mereka terhadapnya. Walaupun harus menelan kekecewaan dan kembali dengan air mata yang memenuhi mata karena ditolak.  Ingin sekali aku mengungkapkan perasaanku tapi aku juga takut nasibku akan seperti gadis-gadis itu. Aku tak ingin dia menolakku. Tentu saja tidak ingin.

Tapi apa yang bisa aku lakukan? Apa buku-buku ini bisa membantuku untuk dekat dengannya. Apa rasa gugupku bisa membantuku untuk mendekatinya? Apa aku bisa bertahan didekatnya dengan jantungku yang berdetak dengan gilanya. Tapi, mungkinkah dia menyukaiku?

***

Boy’s POV

“Hatcchiiii~…”

Sialaaaaaaaaaaaaan. Flu ini mengganggu saja. Suhu tubuhku juga tidak turun-turun. Aku jadi tidak bisa sekolah deh. Sebenarnya, aku menyesal tidak sekolah bukan karena tidak bisa mengikuti pelajaran. Tapi karena aku tak bisa melihatnya. Gadis yang entah sejak kapan menyita perhatianku.

Dia bukanlah gadis yang spesial. Tapi dengan suksesnya dia menjadi sangat spesial di hatiku. Banyak sekali gadis-gadis diseklahku yang mencoba mendekatiku. Tapi aku ingin dia yang mendekatiku. Tapi sepertinya itu mustahil. Sejak kelas 1, dia tak pernah berusaha mendekatiku. Padahal kita satu kelas. Sayang kelaas 2 sekarang, dia tidak sekelas denganku. Kelasnya berada tepat disebelah kelasku. Ingin sekali aku mencoba mencoba mendekatinya. Tapi sepertinya dia tidak menyukaiku. Saat masih kelas 1, aku sering melihatnya merasa terganggu karena ulah gadis-gadis yang mendekatiku. Belum lagi dia sering melihat sinis kearah aku dan gadis-gadis itu.

Sebegitu tidak sukanyakah dia terhadapku? Orang-orang bilang kalau dia gadis kuper yang kerjaannya selalu membaca buku. Tapi aku tahu, kalau dia bukan membaca buku pelajaran, jadi menurutku dia bukan gadis yang kuper. Aku suka wajahnya yang manis. Aku suka sifat pendiamnya yang menunjukkan dia gadis yang serius. Aku juga suka sikap-sikap nakalnya yang kadang tertidur saat pelajaran atau membaca komik atau novel di tengah pelajaran. Tapi dia gadis yang pandai. Dia selalu bisa mendapatkan nilai yang sempurna. Tidak sepertiku, yang hanya bagus di permainan basket. Tapi nilai-nilai pelajaranku tidak terlalu bagus.

Aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh. Bahkan aku tidak ingin dia hanya menjadi temanku. Aku ingin memiliki dirinya seutuhnya. Aku ingin mencintainya lebih jauh lagi. Tapi, apa mungkin dia bisa menyukaiku?

***

3 Februari 2011

Akhirnya aku masuk sekolah juga hari ini! Setelah dua hari tidak masuk. Keadaanku belum pulih sih. Tapi aku sudah ketinggalan pelajaran dan selama dua hari ini, aku tidak bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya. Hari ini, aku bertekad untuk mendekatinya. Mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi perasaan takut akan ditolak terus saja melanda hatiku. Apa dia akan menerimaku dengan tangan terbuka? Atau malah menolakku mentah-mentah?

Aku berjalan memasuki gedung sekolahku. Ah! Itu dia! Dia juga sedang berjalan menuju kelasnya! Apa aku samperin dia aja, terus jalan ke kelas bareng? Kan kelas kita sebelahan. Aku pun mempercepat laju berjalanku agar bisa menyusulnya.

“Oppa! Kau sudah sembuh?” tiba-tiba ada seorang gadis yang menarik lenganku dan menahanku.

Ck! Sialan! Kenapa sih gadis ini selalu mengekoriku! Ah! Dia sudah naik tangga kan! Sialan! “Udah kok,” jawabku singkat dengan nada ketus aar gadis itu sadar kalau aku kesal diganggu olehnya setiap hari. Ini nih, gadis yang selalu setia mengekoriku kemanapun.

“Kok bete gitu mukanya? Kenapa?” tanyanya dengan nada manja yang sangat membuatku muak.

“Gapapa. Aku mau ke kelas,” kataku sambil ngeloyor pergi dan melepaskan lengan gadis itu yang sejak tadi menahan tanganku.

Hilang sudah satu kesempatanku untuk mengenalnya lebih dekat. Aku melangkahkan kakiku dengan lancar menuju kelasku yang berada di lantai dua sampai ekor mataku menangkap sesosok gadis yang sedang berada di perpustakaan. Aku melirik jam tanganku, masih ada 20 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Dia sedang melihat-lihat buku yang ada diperpustakaan. Dia mencari buku apa ya?

Tak lama, ia sudah menemukan buku yang dicarinya. Buku yang sangat tebal. Kemudian ia duduk di kursi yang disediakan perpustakaan agar murid-murid bisa membaca dengan nyaman. Ia pun tenggelam kedalam lautan kata-kata dalam buku tersebut sambil sesekali menuliskan sesuatu di salah satu bukunya yang tergeletak di atas meja. Aku pun mengambil buku dengan asal. Kemudian duduk disebelahnya. Tampaknya ia tidak sadar ada orang yang duduk disebelahnya.

Aku pun memberanikan diri untuk menyapanya, “Annyeong?”

“Eh? A…annyeong,” ia terlihat kaget, namun tetap menjawab sapaanku. Namun dalam sekejap, ia sudah tenggelam lagi kedalam lautan kata dari buku yang dibacanya.

Namun ada yang aneh. Dia terlihat gelisah. Padahal dia tadi tenang-tenang saja sebelum lihat aku. Apa dia sebegitu tidak sukanya padaku? Aku pun mencoba untuk mengobrol dengannya, walaupun aku sedikit kecewa dengan reaksinya.

“Kamu…” belum selesai aku bicara, dia sudah berdiri dan bersiap untuk pergi. Seketika aku menahan tangannya, “hei, aku belum selesai bicara,” tahanku.

“Mi….mianhae, aku harus segera ke kelas,” ucapnya lagi-lagi dengan nada gugup. Ia pun segera berjalan keluar dengan membawa buku-bukunya.

“Ssshhh~” aku mendesah panjang karena kecewa. Sepertinya dia sangat tidak menyukaiku. Aku pun berdiri dan berniat mengembalikan buku yang tadi kuambil, namun ekor mataku menangkap sebuah buku yang tergeletak dengan manisnya di meja. Sebuah buku dengan cover berwarna cokelat muda dengan motif bunga-bunga halus.

Aku pun membuka buku itu dengan harapan dapat menemukan identitas pemiliknya. Dihalaman pertama tertulis namanya! Ini buku miliknya! Ini kesempatanku untuk mengenalnya lebih jauh! Aku pun memasukkan buku itu kedalam tasku dan berjalan keluar dari perpustakaan menuju kelasku.

Saat aku melewati kelasnya, aku melirik sebentar, tapi dia tidak ada di kelasnya. Tapi tas dan buku-buku yang dibawanya tadi tergeletak di salah satu meja dikelasnya. Aku pun meneruskan berjalan menuju kelasku yang berada tepat disebelah kelasnya.

Bel berbunyi. Pelajaran pun dimulai. Saat aku mengambil buku pelajarang dari tasku, aku melihat buku miliknya menyembul. Rasa penasaranku pun tumbuh dan jadilah aku membuka buku tersebut dan membaca isinya.

10 April 2010

Kyaaaaa~ aku berpasangan dengannya untuk tugas pelajaran Kimia! Senangnyaaaa~

11 April 2010

Hari ini aku mengerjakan tugas Kimia bersamanya! Senangnyaaa~ ternyata dia pintar sekali dalam pelajaran Kimia, aku terbantu!

DEG. Benarkah ini? Apa ini benar-benar buku miliknya? Apa ini semua dia yang menulisnya? Tugas kimia saat kelas 1 yang harus dikerjakan secara berpasangan. Dan memang saat itu, pasanganku adalah dia! Tuhan, sesenang inikah dirinya? Padahal dia terlihat tidak nyaman saat itu.

Aku pun melanjutkan membaca diarinya ini.

Seperti biasanya, dia selalu dikelilingi banyak gadis cantik.

Tadi aku melihat dia sedang bersama seorang gadis di halaman belakang. Apa yang sedang mereka lakukan? TT.TT aku ta bisa mendengar percakapan mereka. Tapi gadis itu malah berlari sambil menangis meninggalkannya yang masih berdiri dengan santainya.

Aku menyukainya, Tuhan. Sangat menyukainya. Tapi aku tahu, aku bukanlah gadis yang pantas untuk bersanding disisinya. Aku dan dia sangat tidak cocok. Banyak gadis yang lebih pantas untuk bersanding disisinya. Tapi aku sangat mencintainya. Aku tidak rela jika harus ada gadis yang bersanding disisinya. Apa aku salah? Aku menginginkan hal yang mustahil untuk terpenuhi. Tidak mungkin dia tertarik pada orang seperti aku ini. Pendiam, kuper, dan tidak pandai bergaul. Pasti dia memandangku sebagai gadis yang kampungan. TT.TT

Oh Tuhaaaan, aku tidak bisa lagi membendung perasaanku padanya. Aku sangat cemburu saat dia bisa tersenyum dan tertawa dengan lepas bersama gadis lain. Bukan kepadaku.

Lagi-lagi dia duduk di bawah pohon di halaman belakang sekolas. Setelah naik ke kelas 2, aku hanya bisa memandangnya yang sedang duduk disitu karena sekarang aku tidak lagi sekelas dengannya. Kecewa deh, padahal aku sangat berharap bisa sekelas sama dia lagi. Tapi sudah begini, mau gimana lagi?

Setiap hari aku selalu melihatnya duduk bersandar di bawah pohon di halaman belakang sekolah. Kadang, ia tidak duduk sendirian. Ada seorang gadis yang sering bersamanya. Bukan hanya jika ia duduk di bawah pohon. Tapi hampir disetiap ia berada, gadis itu selalu bersamanya. Tidak jarang pula gadis itu menggandeng, memeluk, dan berjalan beriringan dengannya. Aku cemburu! Sangat cemburu saat melihat gadis itu bersamanya. Tuhan, bisakah aku bertahan?

Terkadang, ingin rasanya aku menghilangkan perasaanku terhadapmu. Tapi hati ini sudah terlalu mencintaimu. Hati ini sudah terlalu lama berharap akan hadirnya dirimu. Tak jarang aku merasa leleah. Tapi sesering itu pula kau sering menghadirkan semangat hanya dengan memperlihatkan senyummu, walaupun aku tahu senyum itu buan ditujukan untukmu. Tapi itu saja sudah cukup untukku. Melihatmu bahagia bisa membuatku bahagia juga. Selama kamu bahagia, selama itu pula aku akan bahagia.

Mungkin cinta ini tak akan terbalas. Dan aku pun sadar, cinta tak harus memiliki. Cukup jika kau menemukan kebahagiaanmu, aku akan ikut bahagia. Sanggupkah aku bertahan nantinya? Entalah. Tuhaan, cinta ini sudah menguasai hatiku. Apa aku sanggup menghapus seluruh perasaan ini dari hatiku? Ingin rasanya aku melupakannya, tapi hatiku masih tetap berharap. Salahkah?

 

Astagaaaa~ apa dia benar-benar mencintaiku hingga seperti ini? Aku yakin tulisan-tulisan ini mengenai diriku karena tak jarang ia menuliskan namaku di akhir curhatannya terhadap buku diarinya. Aku pun mengerti kenapa dia seperti tidak menyukaiku. Ya Tuhan, ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.

***

Girl’s POV

Tuhaaaan, dimana buku diariku? Di tas tidak ada, di perpustakaan juga tidak ada. Aku yakin sudah memasukkannya ke dalam tas tadi malam. Kenapa bisa hilang? Apa jatuh? Tuhaaaan, bagaimana kalau ada yang membacanya? Di buku itu kan berisi curatanku tentang dia!

Selama pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi sama sekali. Untungnya guru-guru tidak ada yang menyadari kalau hanya bengong saja melihat papan tulis sehingga aku ta mendapat teguran.

Bel istirahat makan siang berbunyi. Aku hanya duduk ditempatku dengan bosan. Tapi aku juga tak berniat beranjak sedikitpun. Aku masih saja memikirkan nasibku dan buku harianku. Dimana buku itu sekarang?

Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahuku pelan. Kutegakkan kepalaku yang sedari tadi melekat dengan manisnya dimeja. Ha? Ke…kenapa dia ada disini? Apa dia yang menepuk bahuku tadi? Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kelas, tidak ada siapapun, hanya ada aku dan dia.

“Bisa ikut aku sebentar?” tanyanya lembut.

Aku memandangnya dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Tapi focus mataku beralih lagi ke tangan kanannya yang kini membawa sebuah buku. Buku yang sedaritadi kucari. Buku harianku! Kenapa buku itu bisa ada ditangannya? Tuhaan, apa dia baca semuanya? Bagaimana ini?

“Ehem,” dia berdehem dan lamunanku pun buyar. “Kamu ga sibuk kan?” Tanyanya lagi dan aku hanya menggeleng.

Dia meraih tangan kananku dengan tangan kirinya, menarikku hingga akupun berdiri. Lalu dia berjalan sambil menggandeng tanganku. Terus berjalan hingga kami sampai di atap gedung sekolah. Ia membawaku ke pagar pembatas dan duduk bersandar disana. Otomatis, aku duduk disampingnya.

Dia menaruh buku harianku dipangkuanku dan memulai penjelasannya, “maaf kalau aku lancang membaca isi buku harianku. Aku sungguh-sungguh minta maaf atas kelancanganku. Tapi aku sama sekali tidak menyesal,” dia berhenti sejenak.

“Bukan cuma kamu yang memendam perasaan cintanya. Bukan cuma kamu yang ingin memiliki. Bukan cuma kamu yang selalu berharap. Bukan cuma kamu yang merasa lelah.”

Dia meletakkan tanganku yang sedari tadi masih digenggamnya di dadanya. “Hatiku ini juga mencintaimu. Hatiku ini juga ingin memilikimu. Hatiku ini juga berharap akan terbalasnya cinta yang tumbuh untukmu.”

Air mataku mengalir membentuk sungai kecil dipipiku. Aku terharu. Aku tidak pernah menyangka kalau dia juga mencintaiku. Sangat tidak menyangka. Dia mengusap air mata yang sudah terlanjur menetes ini dengan jari-jarinya yang lembut. Dengan penuh perasaan dia terus saja mengusap air mataku karena aku belum juga berhenti menangis.

“Hey, jangan menangis dong,” ucapnya lembut.

“Ka…kamu…beneran…suka…sama…aku?” aku memberanikan diri untuk menatap tepat dimanik matanya dan bertanya.

Seketika tubuhku berada dalam pelukannya. Dia memeluk tubuhku erat. Kemudian dia berbisik “saranghae yo” dengan lembut ditelingaku.

***

14 Februari 2011

Hari ini valentine. Aku ingin memberinya cokelat. Aku sudah membuatnya tadi malam dan sudah membungkusnya juga dengan kotak berwarna sapphire blue. Karena aku tidak suka warna merah muda.

Hubunganku dengannya berjalan sebagaimana mestinya. Sekarang aku sudah bisa mengendalikan kegugupanku jika berada didekatnya.

Hari ini, dia ada jadwal latihan basket karena sebentar lagi aka nada turnamen basket. Aku pun melangkahkan kakiku menuju lapangan basket disekolahku sambil menggendong tasku dan membawa kotak cokelat untuknya ditanganku. Tapi tiba-tiba ada yang menghadang jalanku. Tiga orang gadis. Salah satunya yang sering kulihat bersama dia dulu. Gadis itu mendorong tubuhku hingga jatuh dan membuat cokelatku untuknya berantakan. Tuhaaaan.

“Kamu! Putusin dia! Jangan deket-deket dia lagi! Kalau bisa, pergi dari hidupnya!” bentaknya padaku. “Dia itu cuma buat aku! Bukan cewek kuper dan kampungan macam kamu! Ngerti?!” lanjutnya.

“Ya! Apa yang kamu lakukan padanya! Kamu itu bukan siapa-siapa aku! Punya hak apa kamu ngelarang dia jauhin aku! Dan satu lagi, aku ga pernah suka kamu. Ga akan pernah! A-KU CU-MA CIN-TA SA-MA DI-A!! Ngerti!” aku terpana. Dia muncul saat ada orang yang menggangguku. Dan dengan lantangnya dia bilang kalau dia mencintaiku. Tak dapat kubendung, air mataku pun mengalir membentuk sungai kecil.

Dan tiga gadis tadi pun meninggalkan kami berdua dengan kesal. “Kamu ga kenapa-napa kan?” tanyanya lembut sambil membantuku berdiri dan mengusap lembut pipiku untuk menghapus air mataku.

“Ne, tapi, cokelat untukmu…” aku menunjukkan sisa cokelat yang ada di kotaknya. Hanya satu buah yang tersisa, semuanya jatuh ke tanah.

Dia mengambil cokelat itu dan memasukkannya kedalam mulutnya. Aku menunggunya. “Enak,” ucapnya sambil tersenyum disela-sela ia mengunyah cokelat di mulutnya.

“Jinjja yo?” tanyaku dengan mata berbinar.

Dia mengangguk-anggukan kepalanya. “Ternyata kau pintar membuat cokelat!” pujinya.

Tuhaaaaan, aku senang bukan main! Walaupun dia hanya bisa memakan satu batang. Aku sangat senang dia memuji cokelatku. “Gomawo,” kataku dengan senyum yang tersungging dibibirku.

***

14 Maret 2011

Boy’s POV

Malam ini, aku mengajaknya jalan-jalan. Kami duduk-duduk ditepi sungai Han yang sangat indah apalagi klau pada malam hari. Disini juga banyak pasangan-pasangan yang sedang menikmati keindahan sungai Han. Aku menggenggam erat tangannya. Dia juga balas menggenggam erat tanganku.

“I have something for you,” kataku lembut.

“What?” tanyanya heran namun tetap memperlihatkan senyumannya.

“Close your eyes,” pintaku. Dan dia langsung memejamkan matanya.

Aku memasangkan seuntai kalung dengan bandul sebuah cincin dilehernya. Kalung itu tampak cantik dipakainya. Dia membuka matanya dan memandangi kalung yang kini terpasang rapi dilehernya.

“Someday, this ring will be there,” ujarku sambil menunjuk jari manis tangan kirinya. Dia hanya tersenyum kemudian menenggelamkan dirinya kedalam pelukanku.

***

END