Annyeeooongg!!!!

Akhirnya si Incubus ini selese jugaa. Setelah sempet stuck buat bikinnya, dan dibantuin galau sama anak-anak JiLo. Akhirnya fanfiction ini rampung! Yeeyy!!
Gomawoyo, JiLo…🙂

Bagi readers yang baru jadi mahasiswa, selamat menjalani OSPEK. Yang kuliah di Brawijaya, selamat bertemu saya di PK2MU. Hehe…🙂

Udah ah. Ntar ditimpuk sama yang request FF. oww oww…🙂

Happy reading and galau-ing~~!!😀

___________________________________________________

Title : Incubus From Orion (Part.2-end)

Cast :

  • Park Min Rin (OC)
  • Megrez (Hyuna 4Minute)
  • Lee Kiseop as Orion
  • Shin Soo Hyun as Arcturus
  •  Eli as Spica
  • Yae Hoon Min (Hoon) as Phoenix
  • Kim Jae Sup (AJ) as Callisto
  • Kevin Woo as Sirius
  • Shin Dongho as Eris

Genre : Romantic, Semi-Fantasy

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED

 ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE ! NO OTHER AUTHORS ! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM ME!
NO PLAGIARISM!

 

Apakah pernah dia memikirkan bahwa orang yang dia tinggalkan itu akan menggapai-gapai ilusinya sendiri?

***

 

Min Rin POV

BRAAKK!!!

“Mana Orion?!” aku menggebrak meja di ruangan klub dengan sepenuh emosiku dan berteriak para semua orang di ruangan itu. Mataku menatap mereka liar, menuntut penjelasan yang tepat untuk hilangnya sosok yang menjadikanku Polaris.

Mereka terdiam. Tak ada satupun dari mereka dapat menjawab pertanyaanku. Atau mungkin, mereka memang semua mendadak tuli dan bisu.

Aku tak mau tahu.

“HEII! Please answer my question!” suaraku meningkat beberapa oktaf, semakin menunjukkan emosiku yang sudah tak terbendung. Nafas dan detak jantungku memburu bak pacuan kuda, bola mataku mengedar ke seluruh anggota klub, dan berharap ada satu dari mereka yang bisa berbicara padaku sekarang, tapi tetap tak ada jawaban. Akhirnya pandanganku terhenti pada Arcturus, dan berbicara memelas padanya, “Arcturus oppa, please?”

Arcturus membalasku dengan tatapan bersalah, sama seperti tatapan yang lain. “Jeongmal mianhae, Rin-ah… aku tak tahu. Kita semua di sini tidak ada yang tahu. Dia menghilang begitu saja…”

Rasanya emosiku benar-benar memuncak tanpa tahu aku harus meluapkannya dengan cara apa. Semuanya sama. Sama tak tahunya denganku.

“Kalian ini kan temannya?! Bagaimana mungkin…—“

“Mianhae, Rin noona. Tapi kami benar-benar tak tahu…” Eris mencicit, mencoba menguatkan pernyataan Arcturus.

“Haiiisshh!!! Kalian ini teman macam apa?!!” aku benar-benar gusar kali ini. Akhirnya kakiku berbalik meninggalkan mereka dengan segenap emosi yang masih menumpuk dalam diriku dan berlari menuju ruang akademik. Aku harus tahu dimana Orion. Kalau memang dia tidak ada di sini, aku harus mencarinya ke rumahnya. Dimanapun dia.

“Rin-ah!!” mereka semua memanggilku, berharap aku berhenti berlari. Namun tidak. Aku tidak akan berhenti. Tidak sampai aku mendapat kepastian akan keberadaan lelaki itu. Melihatku yang terus berlari, aku bisa mendengar langkah kaki mereka yang mengejarku dengan tergesa.

Orion menghilang. Itu yang aku tahu. Tidak ada seorang pun yang tahu kemana dia pergi, tidak juga anak-anak di klub astronomi. Sudah berapa hari dia menghilang? Satu minggu. Katakan saja aku berlebihan mengkhawatirkannya. Tapi Orion tidak akan sanggup pergi jauh dari teleskopnya yang dia tinggalkan di klub. Sebenarnya ke mana dia?!!

“Jika aku pergi… apakah kamu bisa mengantarku dengan senyuman?”

Kata-kata itu kembali terngiang di kepalaku. Ucapan menyakitkan itu, adalah yang dia tanyakan ketika aku bertemu dengannya yang terakhir kalinya. Ucapan yang ditutup dengan ciuman yang menyakitkan, karena tanpa kepastian di ujungnya. Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku yang tercengang.

Oh Tuhan, Orion… dimana kamu?!

Akhirnya aku sampai di ruang akademik. Secepat aku melewati tangga dan lorong gedung fakultas, secepat itulah aku menyerbu mereka dengan kepanikanku. “Annyeong haseyo, silyehamnida, apakah saya bisa mengetahui alamat mahasiswa yang bernama Lee Kiseop?”

Petugas di depanku menatapku aneh, seolah aku adalah macan kelaparan dan dia adalah mangsanya. “Annyeong. Joseonghamnida, agasshi. Saya tidak bisa memberitahukan alamat mahasiswa, walaupun anda mahasiswi di sini.”

Tiba-tiba seorang petugas lain datang menghampiri kami. “Ada masalah apa?”

“Ada mahasiswi meminta alamat mahasiswa bernama Lee Kiseop.”

Aku beralih menatap harap petugas yang baru saja datang itu. Semoga dia bisa memberiku satu petunjuk, apapun itu. “Nee, apakah anda bisa memberitahuku alamatnya?”

“Lee Kiseop?” lelaki itu terdiam, seolah teringat sesuatu. Aku menatapnya penuh harap, semoga saja semua ini pertanda baik. Semoga lelaki itu bisa memberitahuku dimana tempatnya tinggal. Kemudian lelaki itu melanjutkan, “Sekitar seminggu lalu ada mahasiswa bernama Lee Kiseop mengajukan pengunduran diri kepadaku.”

“Pengunduran diri?” aku mencelos seketika. Aku membekap mulutku sendiri, menahan keterkejutanku sendiri. Jantungku yang sudah kupaksa berpacu sejak tadi kini rasanya sudah kehilangan kendali dan berdetak sangat jauh dari normal.

“Nde. Aku mengingatnya karena waktu itu hari masih sangat pagi dan aku baru saja datang. Aku sudah benar-benar menyayangkan keputusannya, mengingat ini sudah tahun keduanya.”

Pengunduran diri?! Tidak…

Tubuhku rasanya limbung dan kakiku terhuyung ke belakang hingga rasanya akan jatuh berdetum ke tanah, bila seseorang tidak menahanku dengan sekuat tenaga.“Rin-ah?!”

Aku berbalik, dan mencoba mengenali siapa yang menahanku. “Eli… Orion—“ setiap kata yang keluar dari mulutku rasanya begitu sulit. Namun Eli menungguku untuk bicara. Di belakangnya, aku bisa melihat anak-anak astronomi juga menatapku bingung. “Orion… mengundurkan diri…”

Air mataku jatuh. Aku tak sanggup membendungnya lagi. Rasanya tubuhku terlalu rapuh untuk sekedar mengetahui bahwa Orion telah pergi, ke tempat yang aku tak tahu di mana. Bibirku tanpa sadar mengucap namanya, berulang kali, disertai dengan isak tangis dan nafasku yang memburu. “Hhh… Orion… Orion…”

Eli hanya memelukku dari belakang, dengan erat. Makin erat ketika tangisku mulai keras dan tak terkendali.

“Jika aku pergi… apakah kamu bisa mengantarku dengan senyuman?”

Tidak, Orion… jangan pergi… aku tidak bisa mengantarmu dengan senyuman. Karena itu, jangan pergi…

Kembalilah, Orion…

aku mohon…

Orion…

Orion…

***

 

Aku harus mulai membiasakan diriku lagi dengan tempat ini. Kehidupan tanpa adanya siang karena bintang itu sendirilah yang menjadi siangku, dan antariksa yang menjadi malamku.

 

Orion POV

Benda bulat itu tampat sangat terang dan berpijar kemerahan walau aku melihatnya dari jarak yang amat jauh. Dari jarak ini pun aku sudah bisa membayangkan tanahnya yang berbatu panas. Semakin menjelajah ke dalam perutnya, rasa panas itu rasanya semakin membakar. Bintang itu terlalu tua dibandingkan yang lainnya. Cukup tua untuk mengalami hal yang sama dengan bintangku yang dulu. Tanah berpijar, begitu lebih sering kusebut, adalah Beltesguese.

Dan kini, Beltesguese, aku datang…

Begitu kapsul yang membawaku pergi dari bumi itu mendekati bintang terang di rasi Orion itu, perlahan tubuhku berubah. Mula-mula tangan-kakiku membesar dan kukuku memanjang laksana jemari elang. Rambutku berubah merah, gigi taringku memanjang seperti vampire yang sering kulihat di bumi. Tak lama kemudian, giliran baju yang kukenakan perlahan rusak menjadi serpihan, karena sayap kokohku yang besar perlahan muncul dari balik punggungku, menembus dan merusak kainnya dan membentang, seakan rindu untuk digunakan.

Beberapa saat kemudian, kapsul itu mendarat ke tanah Beltesguese dengan kecepatan yang tak bisa aku perhitungkan. Perlahan pintu membuka, dan aku mulai mengepakkan sayapku keluar kapsul. Aku mencoba menggunakan hidungku, namun aku tak mencium apapun.

Astaga! Di sini tidak ada udara. Apa yang mau kucium? Bodohnya aku… sepertinya aku telah terbiasa dengan bumi hingga lupa bahwa disini sudah hampa udara. Haha…

Sayapku mengepak dengan cepat, mencoba meregangkan kembali setelah lama tersimpan di balik punggungku. Aku meluncur cepat ke atas menjauh dari tanah pijar sambil memejamkan mata, mencoba menikmati setiap gerakannya. Heyy! Sudah berapa lama aku tidak menggerakkan sayapku? Menyenangkan sekali rasanya bisa menggunakan organ ini kembali!

Sayapku terhenti ketika jarakku dengan tanah Beltesguese sudah cukup jauh. Kemudian mataku mengedar menatap antariksa. Aku bisa melihat dengan jelas setiap detilnya. Bellatrix dengan sinar putihnya yang selalu terlihat di bahu lain sang pemburu; Alnitak, Alnilam dan Mintaka sebagai tiga bintang pembentuk sabuk Orion, serta kumpulan debu bintang dan kumpulan merah menyala dari bintang baru di Nebula Orion, tempat tinggalku dulu.

Aku harus mulai membiasakan diriku lagi dengan tempat ini, pemandangan penuh pijar namun semuanya begitu jauh. Kehidupan tanpa adanya siang karena bintang itu sendirilah yang menjadi siangku, dan antariksa yang menjadi malamku. Kehidupan tanpa mengenal waktu yang tepat, karena semuanya di sini serba abstrak. Serta kehidupan di mana aku tidak akan lagi bersama Min Rin.

Ah ya… Min Rin. Wanita itu… bagaimana kabarnya sekarang? Semoga dia baik-baik saja.

Dia pasti baik-baik saja. Ada Spica, Arcturus, Phoenix, Callisto, Sirius dan Eris di sampingnya…

“Keid?!”

Mataku mengedar mencari siapa yang memanggilku. Ya, itulah namaku sesungguhnya, nama yang diberikan ibuku ketika ku lahir. Jadi, aku punya tiga nama. Keid, Lee Kiseop dan Orion. Pandanganku akhirnya terhenti pada sesosok yang hampir mirip denganku, namun berjenis wanita dengan tubuh yang ‘menggoda’.

“Megrez?”

Succubus itu –begitu saja sebaiknya aku menyebutnya, karena aku sendiri tidak tahu disebut apa makhluk seperti kami sebenarnya- begitu mempesona dengan rambut panjang ikal yang tak terbakar tanah Beltesguese, dengan tubuh yang cukup menarik bak gitar. Sayap dengan kerangka berwarna merah menyala dan terbentang sama besarnya denganku, kuku panjang seperti ingin mencakar tanah pijar merah berbatu ini.

Tawa girangnya mengembang, seolah aku begitu dinantikannya. Dia terbang secepat kilat ke arahku dan memelukku erat. “Kamu dari mana saja, Keid? Aku merindukanmu…”

Aku membalas pelukannya, sama eratnya dengannya. Aku bisa merasakan perasaan rindunya padaku ketika pelukan itu datang, dan aku pun akan membalas sama besarnya dengannya. Karena aku pun merasakan hal yang sama. “Maafkan aku. Kamu tahu sendiri kan, bintangku hancur lebur. Aku harus pergi sejauh mungkin dari sana…”

Dia menjauhkan tubuhnya dariku. “Ya, aku tahu. Aku… turut berduka cita dengan yang terjadi pada ibumu, Keid.”

Senyumku mengembang untuknya. “Terima kasih, Megrez. Dia telah melebur dan menjadi satu bersama debu bintang di nebula itu.”

“Jadi, sekarang ada rencana mau tinggal dimana?”

“Entahlah. Mungkin mencari bintang yang tidak berpenghuni? Mungkin di rasi Eridanus ada bintang yang seperti itu? Atau aku harus ke Andromeda? Atau Aquarius?”

Megrez tersenyum tipis, “Tidak perlu, bagaimana bila tinggal di gua kecilku bersama keluargaku?”

Aku berpikir sejenak. Mungkin akan lebih baik bila seperti itu. Paling tidak aku tidak akan merasa sendiri. Lagipula Megrez dan aku sudah tumbuh bersama sejak kecil, dan dia… hampir menjadi milikku bila kejadian itu tidak ada. Mungkin saja sekarang, aku bisa menjadikannya milikku setelah semua yang terjadi. Seketika saja aku membayangkan momen-momen indah ketika aku menghabiskan tiap waktuku bersamanya. Aku sungguh merindukannya. “Baiklah.”

Kedua sudut bibir tipisnya terangkat senang dan memelukku sekali lagi, “Aku benar-benar merindukanmu, Keid… Kita tidak akan terpisah lagi kan sekarang?”

“Tidak, Megrez. Tidak akan…”

***

 

Do you know when you’re gone, I’ve got so much work inside my heart to be done?

 

Tiga tahun kemudian…

Min Rin POV

Langit begitu cerah malam ini dengan ribuan percikan sinar yang menghiasi tiap sudutnya. Semua pemandangan ini selalu sama tiap harinya, berulang dan terus berputar layaknya roda. Sama sepertiku yang selalu menunggu seseorang di tempat yang sama, atap gedung fakultas. Dengan berbekal teleskop milik orang tersebut, aku selalu menjaga harapan kecilku terhadapnya.

Semoga dia datang hari ini.

Semoga dia muncul di hadapanku hari ini.

Semoga…

Dan hari-hari datang, diam dan hilang. Lewat satu demi satu. Tanpa kusadari aku telah melakukan rutinitas yang selalu sama lebih dari delapan ratus hari. Sampai kapan aku harus menunggumu… Orion?

Waktu mengajarkanku untuk pasrah. Sebenarnya dimana kamu berada kini? Ingatkah kamu padaku, Orion? Tempatmu bercerita tentang bintang dan rasi Orion, yang pernah mencoba menahanmu dengan air mata.

Aku tidak tahu dia ada di mana sekarang. Entah mengapa dia menghilang begitu saja dari hidupku. Semuanya mengatakan, mungkin dia pergi ke luar negeri yang mereka tidak tahu itu dimana. Namun entah mengapa, aku percaya, dia ada di atas sana. Menari dengan indah menjelajahi berbagai gugus bintang hingga ke bintang-bintang terkecil.

Orion, apakah kamu pernah memikirkan bahwa orang yang kamu tinggalkan itu akan menggapai-gapai ilusinya sendiri? Ilusi-ilusi bahwa kamu akan datang dan memelukku, menciumku seperti malam itu. Hey! Kamu bahkan belum menjelaskan apa maksud ciumanmu padaku, Orion! Kamu benar-benar tidak adil!!

Orion… do you know when you’re gone, I’ve got so much work inside my heart to be done?

“Rin-ah, chukkae…”

Aku berbalik ke belakang, mencari arah suara. “Hey, Spica… Nee. Congratulations too for you.”

Ya, dua tahun telah mengubah segalanya, termasuk titel kami. Kami bukan lagi mahasiswa, karena tepat hari ini, aku telah lulus kuliah, begitu juga dengan Eli. Kamu dengar, Orion? Aku bukan lagi mahasiswi. Apakah waktu terlalu cepat berlalu? karena ingatanku tentangmu masih dapat kuputar dengan jelas, setiap nano-detiknya, setiap bit warna, setiap detil gerakannya. Semuanya. Menyenangkan sekaligus menyakitkan, mengirisku tepat di ulu hati.

Eli mengambil duduk tepat di sampingku, kemudian dia ikut menatap langit berbintang, di sudut yang sama, mengamati rasi yang sama, rasi Orion.

Senyap. Tak ada satupun diantara kami yang berusaha memecahkannya.

Kemudian dia berbicara diantara keheningan. “Apakah kamu masih menunggunya, Rin-ah?”

“Nee.”

“Wae?”

Aku terdiam sejenak, dan menjawabnya, “Karena aku percaya. Banyak hal di luar sana yang tidak terlihat mata manusia, karena pandangan kita begitu terbatas.”

“Kamu tahu, Rin-ah… Kadang kita harus membiarkan masa lalu pergi dan terus menjalani kehidupan kita.”

Aku seketika tersentak. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku padanya dan menatapnya tajam dan dingin. “Apa maksudmu?”

“Ada seseorang yang menunggumu, tapi kamu terlalu sibuk untuk menyadarinya, Rin-ah…”

“Hah? Nugu?”

“Nae. Nan Saranghae, Rin-ah. Lupakanlah Orion, dan lihatlah aku…”

***

 

Beltesguese

Normal POV

Sesosok makhluk kembali termenung di sudut Betelguese, bintang tempatnya kini tinggal yang berwarna kemerahan. Kedua sayap kerangka besar yang hanya berlapis sebuah lapisan transparan miliknya melunglai dan merapat di punggungnya. Kaki-kakinya tak menyentuh tanah berbatu panas itu, bahkan hingga kuku-kuku panjangnya, walaupun sebenarnya dia bisa. Tubuh porselennya mencoba beradaptasi kembali dengan lingkungan Beltesguese yang lebih panas dari tempatnya dulu tinggal. Dialah Orion, makhluk terakhir yang selamat dari bintang pembentuk Nebula Orion. Dia tak punya pilihan lain setelah bintang lamanya telah menjadi puing-puing di Nebulla indah paling terang dari bumi itu.

“Keid, sejak kamu kembali ke sini, kamu ini selalu murung. Ada apa? Apakah ada sesuatu terjadi di planet manusia itu sebelum kamu meninggalkannya?” satu makhluk berbentuk succubus mendatanginya dengan raut khawatir.

Orion mengalihkan pandangannya menatap succubus itu dan tersenyum tipis. “Tidak ada apa-apa, Megrez. Aku hanya masih tidak percaya aku sudah pulang sekarang.”

“Begitukah, Keid?”

“Ya.” Orion kemudian beranjak dari duduknya dan mengepakkan sayap besarnya.

“Apa aku boleh ikut?”

“Tidak usah. Aku ingin sendiri…”

Setelah itu, Orion segera pergi menjauh dari bintangnya meninggalkan Megrez yang masih menatapnya khawatir. Bahkan hingga bayangan Orion menghilang, tatapan itu belum juga teralihkan.

Keid, apa yang kamu pikirkan?

***

 

Dan aku telah masuk ke dalam lubang black hole bernama cinta tanpa aku bisa keluar dari pusarannya.

 

Orion POV

Aku melesat melintasi bintang-bintang menuju tempat tersunyi di Bimasakti, galaksi Andromeda. Galaksi tersepi, dimana aku selalu merasa tenang, karena tak ada makhluk sejenisku yang cukup berani untuk mengepakkan sayapnya di sana. apalagi kalau bukan karena dua black hole yang siap menghisap setiap makhluk yang datang kepadanya.

Kini aku sudah familiar dengan semua ini. Aku tak tahu berapa lama aku di sini sejak aku kembali. Sepertinya sudah cukup lama menurut waktu Bumi. Menurut waktu Beltesguese? Entahlah.  Namun mengapa aku tak bisa benar-benar merasa bahagia di sini? Aku tak mengerti diriku sendiri.

Megrez benar-benar bahagia aku kembali ke Beltesguese. Dia bahkan tak pernah berhenti mengajakku bermain di cincin Saturnus, melompati berbagai asteroid di objek trans-Neptunus. Bahkan dia sering mengajakku menemui teman-teman lamaku di Lepus, Canis Major dan Canis Minor. Tak cukup dengan itu, dia juga pernah mengajakku mendekati Bumi, walaupun dia sendiri tidak tahan dengan suhu Bumi yang menurutnya terlalu dingin.

Namun aku tak bisa benar-benar bahagia dengan semua itu.

Aku mencintai Megrez. Aku tak tahu bagaimana anatomi tubuhku, apakah sama dengan manusia, dengan jantung di dada kiri, dan liver di perut kanan? Aku tak tahu. Tapi aku bisa merasakan cinta. Namun semuanya menjadi tak lagi sama. Di sela pelukan, ciuman-ciuman mesra kami, aku tidak lagi hanya memikirkan Megrez.

Ada Min Rin yang terbayang.

Mengapa gadis itu melayang di pikiranku sekarang?

Aku meluncur mengitari rasi Andromeda, yang juga mengelilingi galaksi itu. Bintang-bintang tak berpenghuni yang tak terlalu panas. Tempat paling menyenangkan se-jagad raya. Bahkan ketika aku hanya sendiri di Mirach, bintang di pinggang sang Andromeda, aku merasa ada sosok yang mengikutiku. Namun itu bukan Megrez, tetapi Min Rin.

Gadis itu rasanya seperti pelangi di tengah hidupku yang terus kuhabiskan dengan warna hitam-putih. seakan Sirius di Canis Major, terang di antara kegelapan. Tanpa kusadari hari-hariku di Bumi telah kuhabiskan untuk menjadi Venus bagi dirinya, sang Matahari. Dan aku telah masuk ke dalam lubang black hole bernama cinta tanpa aku bisa keluar dari pusarannya. Senyumnya, tawanya, tingkahnya, tangisnya. No mistake. There is only one SHE in this world.

Aku beralih menuju Triangulum dan memandangi para incubus dan succubus yang tak kukenal beterbangan di sekitarku tak mempedulikanku. Semuanya memiliki penampilan yang mengalahkan semua model di Bumi. Tentu saja, hidup sebagai incubus akan membekukan semua waktu yang bekerja di tubuhmu, termasuk usia.

Min Rin, masih adakah perasaan lama itu terhadapku? Apakah kamu masih mengingatku?

Seperti aku yang tak bisa melupakanmu.

Haiish! Pikiran apa ini?! Bukankah aku sendiri yang menginginkan pergi kembali ke Beltesguese? Bahkan aku rela membayar Alchemar, incubus jenius yang juga memilih untuk melanjutkan hidup di bumi, untuk mempersiapkan semuanya untuk kepulanganku ini. Dia bahkan sempat mempertanyakan keyakinanku untuk meninggalkan planet air itu, dan aku meyakinkannya dengan begitu percaya diri. Dan kini, aku ingin kembali ke Bumi?

Tidak! Aku tidak boleh kembali. Aku sendiri yang memutuskan untuk kembali.

Tapi aku merindukannya. Aku merindukan Min Rin. Sangat rindu…

Aku harus bagaimana Megrez?

***

Aku mengeluarkan kembali kapsul yang membawaku dan mempersiapkan segalanya. Mengecek mesinnya, dan mencoba menghidupkannya. Setelah perenungan panjang ini, aku pikir aku harus kembali ke Bumi dan memastikan perasaanku, dan perasaannya. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa posisi Megrez… telah tergantikan.

“Keid! Apa yang kamu lakukan?!!” Megrez terbang secepat mungkin ke arahku dengan tatapan panik ketika melihat kapsul yang kukeluarkan.

“Aku harus kembali ke Bumi, Megrez…”

Matanya membulat, tersentak. Seketika dia menyergapku dalam pelukannya. Erat sekali hingga rasanya kuku-kuku panjangnya mulai menggores kulit porselenku. “Tidak! Kamu tidak boleh pergi, Keid!!”

Aku tak membalas pelukan, tapi tak juga menolaknya. Aku hanya terdiam, membiarkannya memelukku. “Maaf… Maafkan aku, Megrez…”

“Kenapa? Kenapa kamu kembali ke Bumi?”

“Ada seseorang yang ingin kucari di sana.”

Dia terdiam mendengar jawabanku dan memelukku kian erat. Perlahan air mata kristal mulai meluncur jatuh satu per satu dari mata bulatnya dan mengenai pundakku. “Apakah kamu mencintainya, Keid?”

“Ya.”

Megrez menjauhkan tubuhnya padaku dan menatapku dengan pandangan memelas. Sungguh, aku tak ingin melihatnya begini. “Aku mencintaimu, Keid! Tidak cukupkah kebersamaan kita? Aku harus bagaimana agar kamu tidak pergi dariku?!”

Kini giliranku yang terdiam. Kamu tidak perlu melakukan apapun, Megrez. Karena semua ini salahku. Aku yang mengkhianatimu.

***

 

Berapa lama lagi aku harus menunggu? Seberapa lama cinta bisa menunggu?

 

Dua tahun kemudian…

Min Rin POV

Semuanya sudah berubah. Semuanya sudah bergerak maju dengan kecepatan yang tidak bisa aku prediksi sebelumnya. Sudah lima tahun berlalu sejak kejadian itu. Aku bukan lagi mahasiswi yang menggapai cinta seseorang. Karena orang itu sudah pergi ke tempatnya berasal. Ke sebuah tempat yang tidak akan pernah mungkin kugapai.

Dan aku telah merelakannya.

Seperti semuanya, aku pun telah berubah. Kini aku adalah seorang pemandu di observatorium. Entahlah, aku tidak tahu apakah itu karenanya, ataukah memang aku telah mencintai langit, sama seperti tujuh orang penggila astronomi itu. Yang pasti, kini menatap langit adalah suatu kebiasaan, seperti halnya bernafas.

Tiba-tiba sebuah tangan telah mendekapku hangat dari belakang melalui pelukannya yang kokoh, membuat jantungku tak ayal sedikit tersentak dan berdebar lebih cepat. Pemiliknya memanggilku dengan nada merajuk, “Rin-ah…”

Aku mengenalnya. Sungguh, sangat amat mengenalnya. Seketika bibirku mebentuk sebuah lengkungan, dan berbalik menatapnya. “Baru datang, Eli?”

“Nee. Mianhae, apakah aku mengganggumu mengamati bintang melalui teleskop raksasamu itu?”

Kepalaku menggeleng pelan dan tersenyum, “Ani. Aku sudah melihatnya sejak tadi.”

“Hari ini Orion tidak terlihat kan?”

Tebakannya benar. Tentu saja, dia telah menghafal gambaran langit di luar kepala. Gugus bintang seterkenal Orion akan dia lihat hanya dengan sebelah mata. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum. Bisa kurasakan sedikit kepedihan masih terkandung dalam senyumanku. Entahlah, aku sendiri pun tak tahu mengapa aku harus merasakan perasaan ini. “Nee. Hanya rasi scorpio yang terlihat.”

Eli menatapku tajam, dan bertanya dengan lirih, “Mengapa kamu masih mencarinya? Bagaimana denganku, Rin-ah? Tidak bisakah aku…” ucapannya terhenti, dia berhenti menatapku dan menatap sekeliling, seakan mencari sesuatu yang entah apa.

Aku kontan tersentak ketika kata demi kata meluncur dari bibirnya. Dan semuanya seolah melemparkanku dalam memori-memori lama…

……

“Nae. Nan Saranghae, Rin-ah. Lupakanlah Orion, dan lihatlah aku…”

“Aku tidak bisa, Eli…”

“Wae? Karena Orion?”

Aku mengangguk. Ya, Orion lah yang kucintai. Selalu begitu, dan tidak akan pernah berubah.

“Untuk apa sih kamu masih berharap padanya?!” Eli menatapku gusar dan melanjutkan, “Semanis apapun yang namanya kenangan, selamanya itu hanya akan jadi kenangan!!”

Ucapannya membuat emosiku seketika memuncak. Aku benci ketika dia mengatakan bahwa semuanya hanya akan jadi kenangan. Bagaimanapun, aku menunggunya dan aku yakin semuanya tidak hanya sekedar kenangan.

“Shut up your mouth! Kamu tidak berhak bicara seperti itu tentangnya!”

“Ya Tuhan, Rin-ah! Sadarlah!! Dia tak akan kembali!”

“Cukup! Aku percaya padanya, Eli.” Aku terdiam sejenak, mengumpulkan segala keyakinanku dan melanjutkan, “Aku percaya…”

……

“Tidak bisakah aku menggantikannya, Rin-ah?” Eli menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kudeskripsikan. Ada kesedihan, namun juga permohonan dan pengharapan.

Aku hanya bisa terdiam. Tercengang.

“Jeongmal saranghae, Rin-ah. Perasaanku masih tetap sama walau waktu telah begitu jauh berputar. Aku tetap mencintaimu, Rin-ah…” lanjutnya dengan nada memelas. Matanya menatapku penuh harap, dan keputusasaan. Seolah dia telah lelah mengharapku menatapnya.

Aku harus bagaimana? Begitu sulit untuk menjaga hati untuk seseorang di tengah kehangatan lebih untuk orang lain.

Berapa lama lagi aku harus menunggu? Seberapa lama cinta bisa menunggu?

Orion, apakah ini saatnya…

Aku menarik nafas panjang, memantapkan hatiku untuk menjawabnya, kemudian, aku pun memberanikan diri membalas tatapannya dan berkata lirih, “Eli, aku…”

GRAPP!!

Sebuah lengan dengan cepat mendekapku dari belakang dan menariknya ke belakang hingga punggungku menyentih dadanya. Sontak aku terkesiap, diiringi dengan mataku yang membulat dan jantungku yang mendadak berpacu bak kuda. Dan aku pun bisa menatap Eli sama tercengangnya denganku. Sebenarnya siapa ini?!

“Mianhae, Spica. Tapi Rin-ah milikku.”

Duniaku seketika berhenti. Seolah tata surya terdiam pada tempatnya dan waktu tak lagi berputar. Semuanya seakan menungguku untuk menyadari semuanya. Jantungku berdetum jauh lebih cepat, hingga aku rasanya tak bisa  merasakan dengan jelas setiap detaknya.

Suara ini…

Suara yang sangat kurindukan…

“Orion?!” Eli menyebut namanya dengan suara teramat lirih hingga seolah desisan, saking terkejutnya.

“Yeah. It’s me. Sepertinya kita sudah tidak di klub lagi, jadi mungkin lebih tepatnya namaku adalah Lee Kiseop.”

Aku memberanikan diriku menatap ke belakang, lebih tepatnya menatap Orion yang masih mendekapku. “O… rion…”

***

 

Normal POV

Eli tercengang menatap Kiseop yang memeluk Min Rin dari belakang. Mengapa dia ada di sini? Mengapa dia datang? Mengapa harus sekarang? Setelah semua hari-hari sulit yang dirasakan Min Rin di sampingnya, mengapa dia harus datang?

Namun semuanya menjadi lebih jelas ketika Min Rin menatap Kiseop dengan lekat. Dia bisa merasakan rasa rindu yang tertahan kini membuncah da berebutan untuk muncul. Serta cinta yang masih tersimpan dan tertahan untuk lima tahun untuknya, tanpa pernah pudar.

Sudah jelas.

Dia tak punya kesempatan. Tak pernah.

Bibirnya membentuk satu senyuman getir, mencoba merelakan Min Rin. Dia berjalan ke arah mereka dan menepuk pundak Kiseop pelan. “Jika sekali lagi aku melihatmu meninggalkannya, dia bukan lagi milikmu, Kiseop…”

Dan kemudian sosoknya menjauh…

***

Cinta itu sesungguhnya masih ada dalam hatinya, mengalahkan semua rasa yang ada…

 

Min Rin membeku. Tak seinci pun dia bergerak, bahkan tatapan matanya pun begitu.

Kebingungan, Kiseop melambaikan tangannya di depan Min Rin untuk memastikan bahwa jiwa Min Rin masih melekat di raganya. “Rin-ahh? Gwenchanayo?”

“Kamu benar Orion?” Min Rin menatap Kiseop tak percaya. Tentu saja, sekian tahun dia hanya bisa melihat bayangannya ketika menutup mata, dan kini dia bahkan bisa menyentuhnya. Menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Merasakan kehangatan pelukannya.

“Tentu saja.” Kiseop tersenyum, senyum yang selalu dikagumi oleh Min Rin. Matanya kemudian mengedar ke setiap detil tempat itu, dan terhenti ketika dia melihat teleskop raksasa yang terpasang permanen di bangunan itu. Kedua bola mata itu kemudian berbinar, tangannya perlahan menjelajahi benda itu dan merasakan halusnya permukaannya. “Uwaaahh… sekarang kamu benar-benar mencintai astronomi, Rin-ah?”

Min Rin menatap setiap tingkah Kiseop dengan tatapan aneh sekaligus tak percaya. Tidakkah dia ingin menanyakan bagaimana dia bisa bertahan selama lima tahun ini tanpa dirinya? Atau minimal, tidakkah dia ingin bertanya bagaimana kabarnya hari ini?

Kali ini Kiseop berpindah dan menatap langit melalui teropong itu. Mencoba mencari rasi bintang miliknya, namun tak menemukannya. Karena yang terlihat di matanya hanya ada rasi Eridanus, dan phoenix. “Yaahh… Orion masih belum terlihat. Sepertinya aku harus menunggu menjelang pagi nanti…”

Min Rin masih tak bereaksi apapun. Hatinya berkecamuk. Air matanya tak ayal perlahan menggenang di pelupuk matanya, namun masih enggan untuk menetes jatuh membentuk anak sungai di kedua pipinya.

Jahat… Orion jahat…

“JAHAT!! Kenapa kamu pergi?!!”

Kiseop terkesiap. Dia seketika mengalihkan pandangannya menatap Min Rin. “Eh?”

Semua emosi yang terpendam itu keluar, dengan kadar yang tak terbayangkan. Semua kerinduan, kebencian, sekaligus rasa cinta dan penantian itu. Semuanya. “Tidak tahukah begitu banyak yang harus aku selesaikan di dalam hatiku setelah kamu–“

Gadis itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Orion telah merapatkan bibirnya yang basah di bibir Min Rin, membekap setiap kata yang ingin keluar dari bibir itu, serta meluluhkan semua amarah gadis itu. Bibir itu terus menciumnya dengan lembut, hingga melelehkan air mata tertahan yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Min Rin. Gadis itu pun membalas ciumannya.

“Mianhae, Rin-ah…” ucap Kiseop pelan ketika bibir mereka telah menjauh. “Aku kembali ke Orion. Namun aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Karena itu… aku kembali.” Dia menarik punggung Min Rin untuk merapat ke arahnya, dan berbisik tepat di cuping telinga gadis itu. “It should be you. The one I come to earth to.”

Jantung Min Rin bergemuruh. Perlahan kedua tangannya memeluk Kiseop. Semakin lama pelukan itu semakin erat, membuat Kiseop pun semakin menenggelamkan gadis itu di dadanya, hingga kini tak ada lagi celah di antara keduanya. Air mata gadis itu meleleh begitu deras, membuat anak sungai di pipinya.

Cinta itu sesungguhnya masih ada dalam hatinya, mengalahkan semua rasa yang ada.

“Tidak tahukah kamu, bila aku menunggumu?”

“Mianhae… Jeongmal mianhae…”

***

Sesosok succubus mengamati sepasang manusia itu dengan hati pedih, namun rela. Dia telah merelakan Keid dengan seseorang di Bumi itu.

……

“Astaga. Apa yang kupikirkan? Aku berusaha menghalangi sosok yang kucintai untuk bertemu dengan seseorang yang dicintainya. Maafkan aku, Keid. Pergilah…”

Incubus di depannya menatapnya dengan pandangan bersalah. “Maafkan aku, Megrez…”

Dia tidak ingin melihat tatapan itu, karena baginya ini semua sudah terjadi dan tak akan bisa diubah. Tangannya mendorong incubus itu menjauh darinya. “Tidak ada yang salah, Keid. Aku tahu cintaku tidak terbalas. Aku tidak bisa menyalahkanmu.”

……

Butiran Kristalnya jatuh sekali lagi dari kedua bola matanya untuk incubus itu. Dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa butir-butir itu adalah yang terakhir yang dia keluarkan untuknya. Setelahnya, dia harus melupakan semuanya.

Dia membentangkan sayap merah menyalanya dan berbalik menjauh dari Bumi, mengitari Mars dan kembali ke Beltesguese.

***

 

– Epilog-

Lelaki itu menggenggam erat tangan gadis di sampingnya sambil menatap langit dari taman observatorium. “Banggakah kamu, Rin-ah?”

“Untuk apa?”

“Kamu makhluk bumi pertama yang memiliki namja-chingu seorang alien.”

Gadis itu tertawa kecil dan memandangi bintang Sirius di rasi Scorpio. “Ani. Aku kini bingung…”

“Kenapa?”

“Aku bingung… bagaimana rupa anakku nanti…”

Dan suatu hari, kita bertemu lagi. Dalam waktu yang berbeda, dan situasi yang berbeda. Kalaupun ternyata ada yang tidak berubah… itu hanyalah perasaanku kepadamu…

 

________________________________________

Fin.

Bagaimana bagaimanaa? Mianhae kalo kurang kerasa feel-nya…🙂

Please keep comment . No silent readers here, please.. ^^

Gomawoyooooooooooo……..!!!!!! (_ _)