Absolute Music and Art –Inst. 4

 

Hwang Dain Story…

 

“Aish, apneun namja itu lagi?! Kenapa sih semua orang berurusan dengannya??” ujarku bingung. “Kemarin ia membuatku menabrak tong sampah, sekarang ia memaksamu untuk jadi yeoja chingunya. Maunya dia apa sih?!”

Hyori dan Byunghee oppa menepuk nepuk pundakku bersamaan, “Tenang Dain, aku juga tidak tahu kenapa Joon oppa melakukan hal seperti itu. Lagipula aku juga babo, kenapa waktu itu aku harus bilang kalau aku akan selamanya menyukai dia?? Aish jinjja~~~”

“Ya sudah, terus kau berdua mau bagaimana?” tanya Byunghee oppa. “Tidak mungkin aku ikut campur atas masalah kalian bertiga. Dain juga tidak mungkin ikut andil dalam masalah ini karena ini tidak menyangkut tentang dia kan?”

Hyori menghela napas dan menundukkan wajahnya, “Aku tahu oppa, tapi bagaimana ini? Aku tidak mungkin dan tidak mau meninggalkan Sanghyun oppa hanya karena kesalahan ucapanku waktu itu. Andwae, aku tidak akan mau punya namja chingu seperti Joon oppa~ nanti yeoja di kampusku akan membunuhku pelan-pelan kalau begitu.”

“Kita pikirkan saja nanti, yang penting sekarang kau harus percaya kalau Cheondung bisa memainkan violinnya dengan tempo cepat.” Ucap oppa kepada Hyori. “Nah, pertunjukkannya sudah dimulai tuh.”

Pandangan kami tertuju pada panggung utama dan jantungku mulai berdebar debar saat melihat Seungho oppa masuk panggung, memberi hormat, lalu duduk di kursi piano, lalu orchestra dimulai, lalu dia mulai memainkan pianonya dengan indah, lalu…… *lalu nabrak deh*

“Ayolah jagi, kamu pasti bisa.” Bisik Hyori sambil komat kamit membaca doa dan menatapi Cheondung oppa tanpa berkedip sedikitpun. “Dain-sshi, lihat lihat~!! Di bagian ini katanya ia akan memainkan violinnya dengan tempo cepat.”

Aku mengangguk dan memperhatikan Cheondung oppa untuk sementara waktu, dilihat dari wajahnya kelihatan kalau ia sedang mengalami kesulitan. Ia tetap memaikan violinnya, kami menunggu tempo cepat dari violin itu dan….

Loh, kok tidak keluar tempo cepatnya? Kenapa masih seperti tempo awal?

“Matilah aku.” Hyori menepuk dahinya lumayan keras. “Omaigat Sanghyun jagiya~~~ apa yang kamu lakukan? Merelakan aku dengan Joon oppa? Oh jinjjaeyo, andwae~~~~ huhuhuhu.”

Byunghee oppa menepuk nepuk pundak Hyori penuh simpati, “Ya… mau bagaimana lagi? Mungkin itu sudah takdir….”

“Tidak ada takdir yang berubah kalau tidak ada usaha!” aku menggeplak kepala Byunghee oppa yang daritadi pengucapannya terdengar pasrah. “Aku yang akan menghadapi Joon sunbaenim, aku tidak takut dengannya.”

“Jinjja? Oh jeongmal gomawo Dain-sshi~~!!” ucap Hyori yang matanya berkaca-kaca sambil memelukku. “Oh jakkaman, ada satu pesan dari….. aish jinjja, Dain-sshi lihatlah pesan ini.”

Hyori meminjamkan HPnya kepadaku. Dan begitu aku melihat pesannya… sumpah, aku mau muntah.

 

From: Lee Joon

 

Hyori-ku yang manis, kau lihat kan tadi? Cheondung tidak berhasil memainkan tempo cepatnya, keke kemarilah sayang, aku akan menunggumu di ruang ganti pria~

 

 

~~~~~

 

Cho Hyori Story….

 

“Jadi…. Kita ke ruang ganti sekarang nih?” tanyaku ragu-ragu, “Tapi…. Yang benar-benar ingin kutanyakan adalah, apa akan kau lakukan terhadap Joon oppa?”

“Yah nanti bisa kau lihat sendiri.” Jawab Dain sambil menarik tanganku ke ruang ganti pria, “Oppa, kau ikut tidak?”

Byunghee oppa menggeleng “Aku mau ke ruangan Seungho saja. Tidak apa-apa kan? Kalau sudah selesai urusannya, telepon aku saja oke?”

Dain mengacungkan jempolnya dan memandang kearah Byunghee oppa pergi. “Oh, jadi disitu ruangan Seungho oppa? Arraseo. Kaja, Hyori-sshi… kita sudah ditunggu.”

“Mwo? Jadi kau berkata bahwa aku ditunggu Joon oppa? Aish mengganggu sekali pernyataan itu.” Ujarku kesal. “Lalu, apa yang harus kulakukan kalau aku sudah bertemu mereka berdua?  Aku tidak mungkin mau-mau saja direbut oleh Joon oppa.”

“Ya kau ungkapkan dong kalau kau tidak mau menjadi pacarnya, jangan hanya diam saja.” Ucap Dain sambil terengah engah. Gaun merah pastel nya menjadi kusut dan rambutnya berantakan.

Kami berhenti di depan pintu kamar ganti pria, lalu kami menguping bersama. Sepertinya seluruh peserta orchestra sudah pulang sehingga hanya terdengar suara mereka berdua saja.

“Yak Cheondung-sshi… kau tidak keberatan kan memberikan pacarmu untukku?” tanya Joon oppa yang sukses membuatku ingin menendangnya. Suasana menjadi hening, aku tahu Sanghyun oppa tidak akan menjawab ‘ya’ karena aku yakin ia tak akan melepaskanku begitu saja.

Namun tiba-tiba terdengar suara Sanghyun oppa yang berkata, “Nee hyungnim. Akan segera kupanggilkan Hyori kesini.” Omona, apa yang ia katakan?!@##$@!@$

HPku bergetar cukup lama.. kurasa itu Sanghyun oppa yang menelponku. Dengan lemas aku mengangguk kea rah Dain dan segera masuk ke ruang ganti pria yang ternyata hanya ada mereka berdua saja.

“A…. anyeonghaseo para hyung.” Ucapku gugup. “Oppa, ada apa tadi kau menelponku?”

Sanghyun oppa menghela napas dan berkata, “Aku tidak mampu melakukan apa yang disuruh oleh hyung… jadi mau tidak mau aku harus menepati janjiku. Mianhamnida Hyori.”

Rasanya mataku berkaca-kaca mendengar ucapannya yang seperti itu. Kuharap Sanghyun oppa tetap akan mempertahankanku, tapi ia dengan pasrah tunduk kepada Joon oppa.

“Nah, kau dengar kan kata-katanya… Hoobae ku yang cantik?” ucap Joon oppa senang. Ia berusaha menggapai tanganku, “Nah… sekarang mendekatlah pada namja chingumu yang baru.”

“ANDWAE!!” Aku menghentakkan tangan Joon oppa yang sudah menggenggamku dan langsung berlari ke belakang punggung Sanghyun oppa, “Aku mencintai Cheondung sunbaenim dan tidak akan pernah menyukaimu lagi, itu hanya masa lalu.. kini aku tidak menyukaimu lagi. Arraseo?!”

“Mwo? Kau berteriak kepadaku dan menggunakan bahasa informal padaku?!” wajah Joon oppa berubah menjadi seram. Ia berusaha menggapai gapaiku yang ada di belakang Sanghyun, “Yak, kemarilah kau yeoja tidak tahu aturan!!”

Tepat saat Joon oppa berhasil menarikku dan aku tak sengaja berteriak ketakutan, Dain datang dan membebaskan tangan kami berdua.

“Yak Lee Changsun sunbaenim!! Hentikan kelakuanmu! Kau tidak punya hak untuk mengganggu hubungan mereka berdua! Sekarang biarkan mereka pergi dan jangan ganggu hubungan mereka lagi!”

Mata Joon oppa semakin hitam dan semakin menakutkan, aku dan Sanghyun oppa tertegun karena aura diantara mereka sangat menakutkan…..

 

 

~~~~~

 

Hwang Dain Story…

 

Mata Joon sunbaenim memandangku semakin lekat dan lekat, matanya terlihat sangat hitam dan ia mengeluarkan aura yang menakutkan. Tapi aku tidak akan pernah gencar karena aku membela yang benar *wesss kyk power ranger*

“Yak, dari mana kau tahu nama asliku?!” ucapnya terkejut. “Ah…. Kau Hwang Dain yang kuminta melukis diriku tapi kau menolaknya kan?!”

Aku berpikir sebentar, memangnya ia pernah menyuruhku melukisnya lagi sejak ujian praktek itu? “Aku tidak ingat kalau sunbaenim menyuruhku melukismu lagi, tapi Nee… aku Hwang Dain.”

Joon sunbaenim mulai bertolak pinggang, memandang kea rah yang tidak jelas dan mulai tertawa dengan nada mengejek, “Hah, buat apa kau kesini? Kau hanya ikut campur urusan kami! Pergi sana.”

“Siraeyo…” jawabku tenang tapi agak tegang *yang mana nih yang bener?* “Hyori adalah chinguku. Kini ia terlibat masalah denganmu, dan aku akan membantunya meskipun orang lain melarangku.”

Joon sunbaenim mulai memandangiku remeh lagi, “Hah, apa sih arti chingu? Mereka kan hanya chingu, bukan saudaramu. Lagipula, apakah yeoja itu membantumu saat kau dalam kesulitan?!”

“Nee. Ia membantuku mencari buku sketsaku yang terselip waktu itu.” Jawabku mantap. “Memang kenapa?”

“Oh? Ohohohohohoho~ saat kau berusaha mendorongku dan tiba-tiba kau menabrak tong sampah itu ya?! ahahahaha.” Joon sunbaenim tertawa puas. “Dasar yeoja polos dan…..”

PLAK!! Aku menampar pipi Joon sunbaenim sekeras kerasnya sehingga ia tertegun beberapa saat, “Dengar, yang boleh mengataiku babo hanya Byunghee oppa, orang tuaku, chinguku, dan pacar-pacar chinguku. Kau hanya sunbaenimku dan kau tidak berhak mengataiku babo. Arrajie?!”

Semua yang ada di ruangan itu terdiam, begitu juga Joon sunbaenim. Ia tertegun cukup lama sambil menahan malu sekaligus marah.

Namun tiba-tiba terdengar suara namja di depan pintu ruang ganti, dan saat kulihat…..

“Wow Byunghee-sshi, dongsaengmu ini keren juga ya?”

“Ya… begitulah, dia sejak kecil memang sudah begitu. Selalu menjadi yang berbeda diantara para yeoja.”

Omona…. Itu kan Byunghee oppa dan…. Seungho oppa?!?!?!?!

 

…..

 

“Em…. Apa yang terjadi antara kau, Changsun, Cheondung dan yeoja chingu nya barusan?” tanya Seungho sunbaenim *aku terlalu grogi untuk memanggilnya oppa*

“Ah…. Joon sunbae menginginkan Hyori untuk menjadi yeoja chingu nya. Cheondung oppa tidak mungkin melawan Joon sunbae karena mereka sudah berteman sejak SD.” Jelasku, “Em… ngomong-ngomong….. apa sunbae melihat Byunghee oppa?”

Seungho sunbaenim tertawa sebentar lalu berkata, “Oh aku lupa memberitahumu kalau ia pulang duluan, katanya sakit perut.”

Wajahku yang dari tadi berusaha menahan senyum rasanya ingin meledak karena perkataan sunbaenim barusan. Byunghee oppa pasti bohong masalah sakit perut itu, IA SENGAJA MENINGGALKANKU AGAR AKU BERDUAAN DENGAN SEUNGHO SUNBAENIM!!!

“Tidak apa-apa kan?” tanya Seungho sunbae sambil menatapku dengan mata berkantungnya yang hitam, “Nanti aku akan mengantarmu. Kudengar-dengar rumah kalian berdua cukup dekat ya?”

Aku mengangguk grogi, “Emm… nee, rumah oppa hanya berjarak 2 meter dari rumahku. Makanya ia sering sekali main ke rumah, ia dan aku tidak punya saudara. Kami anak tunggal, makanya kami selalu melakukan sesuatu bersama. Beliau sudah kuanggap oppa kandungku.”

Ia tertawa sambil memencet grand piano yang masih berada di atas panggung, “Dain-ah.. mau aku mainkan satu lagu untukmu?”

Jung Byunghee story..

 

“Seungho-sshi, entah kenapa aku merasa sakit perut luar biasa.” Aku memeras perutku untuk meyakinkan namja itu, “Urusan Dain belum selesai nih, bisakah kau antar dia pulang nanti? Tapi kau jangan bilang kepadanya kalau aku pulang duluan ya.”

“Oh Byunghee-sshi, tumben sekali kondisimu tidak fit seperti ini.” Komentar Seungho “Baiklah, dimana letak rumahnya? Bisa kau beritahu aku lewat pesan?”

“No need to do that.” Jawabku singkat, “Rumahnya dekat dengan rumahku. Biarkan ia menunjukkan rumahnya, kalau perlu biarkan ia menunjukkan kamarnya.”

Seungho menunjukkan ekspresi terkejutnya, “Mwo? Ada apa di dalam kamarnya?”

“Aniimnida, hanya sekumpulan sketsa saja. Tapi mungkin ia tidak akan membiarkanmu masuk, karena kau belum terlalu dikenal oleh orang tua nya.” Jawabku sambil tersenyum dengan sebelah bibir. “Oke, aku pulang duluan. Oh iya, ini tas Dain. Jangan ada satu barangpun yang jatuh atau hilang ya.”

 

…..

 

“Jeongmal mianhae Cheondung-sshi. Aku seharusnya tidak melakukan hal bodoh seperti itu.” Ucap Joon kepada Cheondung yang berhasil merebut yeoja chingu nya kembali. Aku menatapi mereka di balik property bekas sesaat setelah memarkir mobilku jauh2 dari gedung pertunjukkan, lalu aku mengintip ke tempat dimana Seungho dan dongsaengku sedang  bercengkrama. Sudah kuduga, Dain terlihat sangat gugup.

“Whoa sunbaenim…. Permainan pianomu membuatku terpukau.” Terdengar suara Dain yang terdengar begitu senang setelah Seungho memainkan satu lagu dengan piano yang ada disana, “Oh… jesonghabnida, aku terlalu berlebihan ya? mungkin karena aku jarang melihat namja bermain piano seperti sunbaenim.”

“Anniyo…. Kau tidak berlebihan.” Jawab Seungho kalem. “Semua yeoja memang selalu terpesona dengan permainan piano seperti ini. Gamsahabnida.”

Aish…. Apa maksud Seungho kali ini? Pikirannya tidak bisa ditebak dan perkataan yang meluncur di mulutnya selalu berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Aku mengeryitkan dahiku, apa kali ini Seungho berbicara jujur terhadap dongsaengku?

“Sunbaenim…. Kenapa kau tidak mengambil jurusan piano saja? Kenapa kamu malah mengambil instrument gitar? Padahal permainan pianomu bagus.” Ujar Dain ragu-ragu.

“Aku tertarik untuk belajar gitar lebih jauh, Dain-ah.” Jawab Seungho. “Mungkin aku akan terdengar sombong kalau aku bilang… aku sudah mahir bermain piano sejak umur 3 tahun. Dan kini aku ingin mendalami instrument gitar, kemahiran piano sudah mengalir di dalam tubuhku. Lagipula, aku hanya ingin memainkan piano di sekitar wilayah rumahku saja.”

“Mungkin suatu saat, sunbae bisa ber trio dengan orang tuaku?” ujar Dain. “Mereka mahir sekali bermain violin, biola dan beberapa instrument musik. Namun tidak ada satupun yang diturunkan untukku, aku mendapatkan bakat menggambar ini dari kakek buyutku. Jauh sekali bukan?”

Suasana menjadi hening sebentar, lalu Seungho mulai bicara lagi. “Merupakan suatu kehormatan, kalau suatu kali aku bisa ber trio dengan orangtua mu, Dain-ah.”

Hem, syukurlah kalau mereka sudah terdengar akrab. Mungkin aku akan segera pulang dan memercayakan Seungho untuk mengantarkan Dain sampai ke rumah, batinku.  “Oke sudah saatnya pulang, biarkan saja lah mereka mengobrol sampai gedung ini tutup. Hehe.”

Saat aku mengeluarkan kunci mobilku, tiba-tiba aku teringat sesuatu… sesuatu yang membuatku kesal…

“Tadi aku parkir dimana ya? aish…… Byunghee babo, ottokke?? Aku lupa sama sekali~~ dimana tadi aku memarkir mobilku?! Akh jinjja….. aku babo sekaliiii~~~~~~”