Poster by : YeonNiaART

Me and My Brother (Part 1)

Author             : Anastasia Hannas P (cherryesung)
Main Casts      : Park Jiyeon, Lee Chunji
Other Casts     : Akan menyusul nanti
Genre              : Romance
Rating              : Teen
Length             : On going
Disclaimer       : FF IS MINE!! Ide cerita dan plot milik saya!! Chunji dan Jiyeon milik mereka sendiri dan Tuhan Jangan jadi siders dan plagiator karena itu DOSA!! INGAT ITU!^^

Baca : PROLOG

FF ini pernah di publish di bunnycutie04.wordpress.com

Maaf kalau agak membosankan
>>PART 1<<

“Park Jiyeon!!” suara itu terdengar indah bagi gadis-gadis di kelasnya, namun tidak begitu bagi Jiyeon. Baginya, suara kakaknya itu begitu memekakkan telinga. Dan Jiyeon benci suara itu.

Jiyeon sedikit mendongakkan kepalanya, dan ia mendapati kakaknya alias Lee Chunji tengah berdiri di ambang pintu seraya mengulas senyum ‘sok’ cool nya. “Waeyo!?” tanya Jiyeon setengah berteriak. “Bekal!!” seru Chunji seraya menengadahkan tangannya. Jiyeon mendengus kesal. Hanya karena Chunji lupa membawa bekalnya, terpaksa Jiyeon harus merelakan bekalnya untuk diberikan pada Chunji.

Jiyeon mengambil kotak bekalnya, lalu menghampiri Chunji yang tengah berdiri di ambang pintu sambil memasang pose ‘sok’ cool nya. “Ini,” kata Jiyeon ketus seraya menyerahkan kotak bekalnya. “Gomawo,” kata Chunji datar, lalu segera melangkah menjauh dari kelas Jiyeon. “Tch, dasar menyebalkan! Lee Chunji menyebalkan! Lee Chunji seperti anak culun, dia masih suka memakan bekal buatan ibuuu!” seru Jiyeon. Mata Chunji langsung melebar, ia menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Mworago!?” tanya Chunji kesal. “Ya, sekali lagi kau meledekku, kau tidak akan selamat, Lee Jiyeon!” ancam Chunji. “Oh ya? Lee Chunji PABO!” seru Jiyeon kesal. Semakin lama ia semakin kesal dengan sifat Chunji yang begitu menyebalkan. “Tch, lihat saja kau Lee Jiyeon. Kau tidak akan selamat,” kata Chunji dengan nada dingin, lalu ia kembali melangkah menjauh.

Jiyeon mengumpat kesal, merutuki nasibnya yang  begitu malang karena memiliki kakak yang begitu menyebalkan. Bukan hanya menyebalkan, tapi SANGAT!

♥♥♥

“Jiyeon, kau dimana!?” tanya Chunji setengah berteriak, membuat Jiyeon sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. “Aku tidak langsung pulang, aku mau ke rumah Jieun dulu! Habis itu aku akan bersepeda dengan Jieun dan Wooyoung,” jelas Jiyeon. “YA! Bersepeda dimana!?” tanya Chunji. “Di sepanjang trotoar gedung sekolah! Wae?” tanya Jiyeon. “Ya, kalau kau sudah sampai kau hubungi aku! Nanti aku menyusul,” kata Chunji. “Mwo? Untuk apa kau ikut?” tanya Chunji. “Tch, pokoknya aku ikut!!”

TUUT

Chunji sudah memutus sambungannya ketika Jiyeon hendak protes lagi. Dan langsung saja Jiyeon mengumpat kesal. “Wae?” tanya Jieun heran melihat Jiyeon yang terlihat begitu kesal. “Dasar oppa menyebalkan! Katanya nanti dia ikut. Cih, dasar menyebalkan,” sungut Jiyeon.

“Aish, kalau begitu lihatlah sisi positifnya. Aku berpasangan dengan Jieun, dan kau berpasangan dengan Chunji,” kata Wooyoung seraya merangkul Jieun. “Mwo? Cih, shireo! Asal kalian tahu, dia tidak bisa naik sepeda,” kata Jiyeon. “Kalau begitu bonceng dia, kekeke,” kata Wooyoung seraya terkekeh. “Dimana-mana namja itu memboncengi yeoja! Eh salah, maksudk dimana-mana itu oppa memboncengi dongsaengnya,” ralat Jiyeon. Lagipula, sejak kapan ia menganggap Chunji itu namja?

♪♥♪

“Yak! Lee Chunji! Kami sudah sampai, kau dimana?” tanya Jiyeon. “Aku? Di belakangmu,” suara itu berasal dari ponsel Jiyeon sekaligus dari belakang Jiyeon. Jiyeon langsung terlonjak kaget. “Ya! Kau mengagetkan!” kesal Jiyeon seraya menjitak kepala Chunji keras. “Aish, apheo!” ringis Chunji.

”Yak, kalian! Jangan bertengkar terus! Kami duluan ya, annyeong!” seru Wooyoung. Ia sudah menaiki sepedanya, dan di sebelahnya ada Jieun yang juga sudah menaiki sepeda pink nya. “Annyeong,” pamit Jieun. Tak lama sepasang kekasih itu sudah mengayuh sepedanya masing-masing dan menghilang dari pandangan Jiyeon dan Chunji.

“Chunji-aa, memangnya kau bisa naik sepeda?” tanya Jiyeon seraya menatap Chunji tak yakin. “A-aku? T-tentu saja bisa! Haha haha,” kata Chunji, lalu segera menaiki sepeda putihnya. “Jiyeon-aa.. Kaja!” seru Chunji. Jiyeon menatap Chunji tak yakin. Namun akhirnya ia menaiki sepeda birunya. “Kaja,” ucap Jiyeon lalu segera mengayuh sepedanya. Namun baru beberapa meter ia mengayuh sepedanya, ia langsung menyadari sesuatu. Jiyeon lalu menoleh ke belakang. Dan Chunji masih berada di posisi semula, seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan ketika menyadari Jiyeon tengah menatapnya, Chunji langsung mengulas senyum tiga jarinya.

“Hhh, oppa pabo!” seru Jiyeon. “OMONAA! Akhirnya adikku memanggilku oppa! Tapi jangan ada akhiran ‘pabo’!” balas Chunji sambil cengengesan.

“Jaga keseimbanganmu!” seru Jiyeon. Dan beginilah jadinya sekarang. Jiyeon terpaksa harus mengajari Chunji naik sepeda. Ya, tidak terpaksa juga sih. Hanya saja, karena mengajari Chunji naik sepeda, Jiyeon dan Chunji menjadi pusat perhatian orang-orang. ‘Memangnya aneh ya kalau adik mengajari kakaknya?’ batin Jiyeon.

“Aigoo… Mana ada seorang yeoja mengajari namjachingu nya main sepeda?” komentar seorang halmeoni yang sedang duduk di kursi taman. Mendengar kata ‘yeoja’ dan ‘namja chingu’, Jiyeon langsung tertawa terbahak-bahak. Namun tidak dengan Chunji, ia langsung memasang tampang kesalnya. “YA! Ppali, naik di belakangku! Aku akan memboncengmu,” kata Chunji dengan nada sedikit kesal. Jiyeon langsung membulatkan matanya. “Mwo? Mworago? Kau? Memboncengku? Hahaha, nanti yang ada kita langsung masuk rumah sakit!” kata Jiyeon dengan nada mengejek. “Aish, jinjja.. Jangan cerewet, ppali! Naiklah!” seru Chunji bertambah kesal. “Shireo! Aku tidak mau habis ini aku masuk rumah sakit!” seru Jiyeon.

“Aish, cerewet sekali… ppali! Atau aku tidak akan membuatkanmu ramyeon lagi! Eomma kan sedang ke Jepang, dan artinya kau tidak akan makan ramyeon selama dua minggu,” ancam Chunji. Jiyeon memang jago dalam hal memasak, namun satu-satunya makanan yang tidak pernah bisa Jiyeon masak dengan benar adalah ramen. Selalu saja ada yang tidak benar. Misalnya lupa memasukan flakes nya, atau kuahnya kebanyakan, atau mie nya terlalu lembek atau terlalu keras. Dan ramen adalah makanan kesukaan Jiyeon. Ah, ani. Makanan yang ‘paling’ Jiyeon sukai.

“Aish, kau kejam!” seru Hye Ri sebelum akhirnya ia duduk di jok belakang sepeda milik Chunji. Chunji tersenyum kecut, dan tak lama ia telah mengayuh sepedanya dengan sangat lancar, dan membuat Jiyeon sedikit terperangah. “Sejak kapan kau bisa main sepeda?” tanya Jiyeon dengan nada kagetnya. “Sejak tadi kau mengajarkanku,” jawab Chunji santai. Jiyeon lalu tersenyum lebar, tak menyangka Chunji sudah bisa main sepeda dalam waktu yang begitu singkat. Dan Chunji tampaknya sudah lancar main sepeda, padahal Jiyeon baru mengajarkannya selama lima belas menit. Ya, saking lancarnya sampai…

BRAAK!
SREEK!
JEDUG!

“Chunji yaa!!!”

♥★♥

“Ya, Chunji oppa! Ireona! Ppali! Jangan mati! Yaa! Kalau kau bangun, aku akan memanggilmu oppa! Chunji yaa! Ireonaa!” seru Jiyeon seraya menahan tangis dan mengguncang tubuh Chunji yang sedang terbaring pelan. Di kepalanya terbalut perban. Tadi Jiyeon dan Chunji jatuh dari sepeda. Kepala Chunji terantuk batu, setelah itu Chunji tak sadarkan diri dan langsung di bawa ke rumah sakit.

Walaupun dokter bilang Chunji tidak memiliki luka serius, tetap saja Jiyeon khawatir karena sudah tiga jam Chunji belum bangun juga. Sejak tadi air mata Jiyeon sudah mengalir, melihat Chunji yang terbaring tak sadarkan diri. Ya, Jiyeon memang sangat menyayangi kakaknya. Dan melihat kakak kesayangannya terluka… Entahlah, Jiyeon merasa ikut terluka..

“Lee Chunji! Pabo! Cepat bangun! Kalau tidak aku akan terus memanggilmu pabo!” seru Jiyeon seraya menyeka air matanya kasar. “Oppa pabo!” seru Jiyeon lagi seraya bangkit berdiri. Kalau ia terus-terusan menunggu Chunji sadar, yang ada air matanya malah terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Namun baru saja selangkah Jiyeon berjalan, tiba-tiba ada yang menggenggam tangannya dengan erat.

“YAK! PARK JIYEON! Sudah kubilang panggil oppa saja, tanpa akhiran pabo!”

Seketika Jiyeon menoleh, menatap ke arah Chunji dengan tatapan tak percaya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Dan benar, Chunji sudah sadar. Dan kini ia tengah tersenyum. “YA! Neo! Aish, kau sudah bangun dari tadi ya!?” tanya Jiyeon seraya menahan isakannya. Chunji tertawa kecil. “Kenapa kau sampai menangis begitu? Tadi aku habis di perban karena kepalaku ada yang terluka, dan setelah itu aku tertidur,” jawab Chunji dengan santainya.

“Aish, pabo! Neo ara!? Aku mengkhawatirkanmu, pabo!” seru Jiyeon kesal. Dan lagi-lagi Chunji tertawa kecil. “Gomawo, telah mengkhawatirkan aku,” ucap Chunji lembut. Dan seketika itu Jiyeon langsung terperangah kaget, mendengar suara Chunji yang begitu lembut. “Kau bilang kau mau memanggilku oppa?” Chunji menagih janjinya seraya tersenyum. Dan lagi-lagi Jiyeon terkesiap melihat perlakuan Chunji yang begitu lembut. ‘Apa otaknya rusak ya karena terbentur batu?’ pikir Jiyeon.

“N.. ne, haha haha. Ne, Chunji oppa,” kata Jiyeon seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Melihat tingkah aneh Jiyeon, Chunji hanya tersenyum lembut. ‘Otaknya benar-benar rusak! Aish, eottokhae? Otak oppa ku rusak! Andwaee!’ batin Jiyeon seraya tersenyum garing.

✩✩✩

>>Next Day<<

“Oppaaa… Ireonaa,” ucap Jiyeon seraya menguncang tubuh Chunji pelan. “Ne, arasseo,” kata Chunji pelan lalu segera beranjak dari tempat tidurnya. ‘Ada apa dengan Chunji? Dia kerasukan ya? Aneh sekali, apa otaknya rusak?’ tanya Jiyeon dalam hati. “Ya, Lee Chunji! Kau sakit ya?” tanya Jiyeon keras. “Sakit? Ani, kepalaku juga sudah tidak sakit. Wae? Kau khawatir?” tanya Chunji dengan wajah mengantuknya. Jiyeon mengangguk cepat. “Sangat! Aku sangat khawatir padamu!” kata Jiyeon. “Haha, jangan khawatir,” kata Chunji pelan seraya tersenyum manis. “Otaknya rusak… Mana mungkin seorang Lee Chunji jadi baik begitu?” gumam Jiyeon.

***

Jiyeon mengambil tasnya yang berada di sofa ruang tamu, lalu memakaikannya di punggungnya. Begitu juga dengan Chunji. “Eomma pulang kapan?” tanya Jiyeon. “Entahlah, dua minggu lagi, mungkin? Atau lebih? Yang jelas dalam waktu yang cukup lama kita hanya berdua disini,” kata Chunji.

DEG!

Entah kenapa, mendengar kata ‘berdua’ tiba-tiba jantung Jiyeon berdetak sangat keras. Jiyeon lalu langsung menampar pipinya sendiri. ‘Jangan gila, Jiyeon. Kenapa jantungku jadi begini? Atau aku ketularan gila dari Chunji?’ pikir Chunji. “Kenapa kau menampar pipimu sendiri?” tanya Chunji heran. “Aku? Eh, kenapa ya? Tidak tahu,” jawab Jiyeon polos.

“Mau aku tambahkan? Aku sedang ingin menampar orang, hahaha,” kata Chunji seraya tertawa evil. “Sebelum kau menamparku, aku akan menamparmu duluan,” kata Jiyeon lalu menampar Chunji pelan. “Yak! Awas kau, Jiyeon!” seru Chunji. Jiyeon langsung berlari keluar apartment, dan Chunji langsung mengejarnya.

***

“Lee Chunji… Kau tampan ya?” tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jiyeon. Sejak tadi, Jiyeon memandangi Chunji tanpa berkedip. Tampaknya ia baru sadar kalau kakaknya yang satu itu benar-benar tampan. “Aku tampan? Baru tahu ya? Hahaha, kau cantik, Jiyeon,” kata Chunji lembut. Jiyeon langsung membelalakkan matanya lalu menyentuh kening Chunji. “Kau sakit?” tanya Jiyeon. “Astaga, sudah kubilang aku tidak apa-apa. Jiyeon yaa, singkirkan dulu tanganmu. Kau ingin mobil kita tabrakan? Aku tak bisa melihat dengan jelas kalau ada tanganmu. Jangan khawatir, ne?” kata Chunji seraya terus berkonsentrasi pada jalanan. Jiyeon mengangguk pelan, lalu memalingkan wajah ke luar jendela. Dan lagi-lagi degupan jantung yang begitu cepat itu kembali terasa. Entah sejak kapan, Jiyeon jadi lebih sensitif tentang hal-hal yang berbau ‘Chunji’.

***

“Jiyeon yaa, sudah sampai. Kenapa kau melamun?” tanya Chunji. “Kau sakit? Sejak tadi kau hanya diam,” kata Chunji lagi. “Aniya… Kau tidak turun duluan?” tanya Jiyeon pelan. “Aku? Aku akan masuk ke dalam bersamamu,” kata Chunji lalu keluar dari mobil. Ia lalu membukakan pintu untuk Jiyeon. Dan Jiyeon langsung menatapnya aneh. “Chunji-yaa, otakmu tidak apa-apa kan? Terjatuh dari sepeda tidak membuat otakmu rusak kan?” tanya Jiyeon terus terang. “Haish, otakku tidak rusak! Kaja!” seru Chunji seraya menarik tangan Jiyeon. ‘Aah, selamatkan aku! Kenapa jantungku? Jantungku! Omo! Ada apa denganku? Aah, aku gila!’ teriak Jiyeon dalam hati.

“Lee Chunji!” seru seseorang dari kejauhan.

Jiyeon dan Chunji langsung menoleh ke sumber suara, dan mereka mendapati dua orang teman Chunji sedang berlari ke arah mereka. “Chunji ya, keu yeoja nuguya? Pacarmu? Kau punya pacar? Aigoo, neomu yeppeo!” seru seorang teman Chunji yang bernama Gongchan. “Pabo! Dia adikku!” seru Chunji dingin seraya menoyor kepala Chunji. “Kau punya adik? Oh iya ya, aku lupa. Kenapa aku baru sadar ya? Adikmu cantik,” kata Gongchan. Dan lagi-lagi Chunji menoyor kepala Gongchan. “Yak! Jangan jadikan adikku korban ke-playboy-an mu! Dia milikku, pabo!” seru Chunji seraya memeluk Jiyeon. “Omo omo omo! Chunji, akhirnya kau mengakui adikmu juga! Tadinya Jiyeon kan jadi adik yang terbuang, iya kan?” tanya Baro. “Tch, dia adikku! Dia bukan adik yang terbuang, pabo! Kalau ada yang berani mendekati dia, maka orang itu tidak akan selamat,” kata Chunji dingin. “Aigoo, menyeramkan sekali chingu kita yang satu ini. Tch, kau kan hanya kakaknya. Jadi tidak apa-apa kan kalau aku mendekati Jiyeon? Hahaha,” kata Gongchan seraya tertawa.

“Diam kau, Gong Chan Shik! Pokoknya jangan coba-coba mendekati Jiyeon!” seru Chunji. “Waeyo? Aah, atau jangan-jangan kau menyukai Jiyeon ya?” tanya Gong Chan jahil. “Berisik!” seru Chunji lalu segera menarik pelan tangan Jiyeon menjauh dari kedua teman Chunji yang sangat jahil itu. “Hyaa, Jiyeon yaa.. Kau bawa bekal?” tanya Chunji. “B… bekal? Ah ya, aku lupa! Jangan-jangan kau juga tidak bawa ya? Aish, aku juga tidak bawa!” kata Jiyeon seraya menepuk jidatnya. “Aku bawa. Untukmu saja,” kata Chunji seraya menyerahkan kotak bekal berwarna birunya. “Hah? Untukku?” tanya Jiyeon tak yakin. Chunji mengangguk yakin. “Hmm, untukmu. Aku duluan ya,” kata Chunji seraya tersenyum. Ia mengacak rambut Jiyeon pelan sebelum akhirnya melangkah ke arah koridor kelasnya. ‘Dia… benar-benar Chunji?’ pikir Jiyeon.

***

“Chunji-yaa.. Jebaal, dekatkan aku dengan adikmu… Ne?” mohon Gongchan pada sahabatnya yang satu itu. “Aish, sudah kubilang, shireo!” jawab Chunji. “Aish, Chunji-yaa.. Jahat sekali kau,” kata Gongchan seraya menekuk wajahnya. “Aku memang jahat. Pokoknya tidak,” kata Chunji tegas. “Chunji-yaa.. Aku akan menjaganya.. Jebaaal,” mohon Gongchan lagi. “Haish, yang akan menjaganya itu aku, bukan kau,” kata Chunji santai.

“Kau yang menjaganya? Tch, tapi kan tidak bisa selamanya. Suatu saat kau akan punya pacar, dan Jiyeon juga akan punya pacar. Kau tak bisa terus menerus menjaganya…”

Chunji terdiam. ‘Tidak bisa selamanya ya… Suatu saat, dia akan punya pacar? Kenapa aku tidak rela ya?’

***

“Ya, Lee Chunji! Kau kenapa sih!? Kenapa tiba-tiba kau jadi baik begitu? Tadi pagi, kau memberikan bekal padaku. Lalu, pulang sekolah, kau menjemputku ke kelasku. Otakmu rusak karena jatuh dari sepeda ya?” tanya Jiyeon terus terang. Chunji yang sedang menyetir langsung menghentikan mobilnya. “Tch, kau tidak suka ya kalau aku bersikap baik padamu?” tanya Chunji kesal. Melihat ekspresi Chunji, Jiyeon sedikit takut.

“B-bukan begitu… Maksudku, hanya saja kau jadi terlihat aneh,” jawab Jiyeon jujur.

“Kemarin… Saat aku tak sadarkan diri, kemarin kau menangis.. Padahal aku hanya terjatuh dari sepeda. Aku hanya merasa.. aku bukan kakak yang baik bukan? Yang selalu memerintahmu seenaknya, bersikap semauku, bertingkah menyebalkan.. Sedangkan kau? Kau menangis ketika aku terjatuh dari sepeda. Kau bahkan selalu mengerti sikapku, kau bisa menghadapi sikapku yang begitu kekanak-kanakan dan menyebalkan. Aku tahu kau kesal, tapi kau tak pernah marah padaku. Sedangkan aku? Aku kakak yang buruk, benar kan?” tanya Chunji seraya tersenyum tipis. Jiyeon tertegun mendengar penuturan kakaknya. “Kau bahkan tak mau memanggilku oppa, itu karena kau kesal padaku kan? Karena itu aku ingin berubah, aku ingin kau memanggilku oppa,” kata Chunji lagi.

“Ya, oppa! Bukan begitu.. hanya saja memanggil dengan sebutan ‘oppa’ itu.. Aneh. Kita kan seumuran…” jawab Jiyeon. “Tapi aku kan kakakmu!” kata Chunji. “Ya, kau kakakku bukan berarti aku harus memanggilmu oppa, kan? Aku ingin kau bersikap biasa saja, hahaha. Rasanya aneh melihat sikap baikmu yang berlebihan itu, hahaha,” kata Jiyeon seraya tertawa kecil. “Hhh, aku bukan kakak yang baik kan?” tanya Chunji. “Tentu saja kau kakak yang baik. Kau kakak terbaik yang aku punya. Ya, kau memang menyebalkan, Lee Chan Hee! Tapi disamping itu, kau baik padaku,” kata Jiyeon. “Jinjja? Hh, kalau aku kakak yang baik, kau harus memanggilku oppa! Jangan memanggilku Lee Chunji, apalagi Lee Chan Hee! Arasseo?” tanya Chunji seraya menatap Jiyeon tajam.

“Arasseo… Aku tahu kau membenci nama ‘Chan Hee’, oppa..”

Chunji tersenyum kecil. ‘Lee Chan Hee’, mendengarnya membuat Chunji tersenyum miris. “Aku benci orang yang telah membuat nama itu.”

***

Chunji berbaring di sofa kamarnya, seraya memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Kata-kata Gongchan tadi terus terngiang-ngiang di telinganya.

‘Kau yang menjaganya? Tch, tapi kan tidak bisa selamanya. Suatu saat kau akan punya pacar, dan Jiyeon juga akan punya pacar. Kau tak bisa terus menerus menjaganya…’

Lee Chunji dan Park Jiyeon, atau mungkin Chunji lebih suka memanggilnya Lee Jiyeon karena sekarang ia adalah bagian dari keluarga Lee. Dua kakak beradik yang sejak dulu saling menyayangi. Jarang akur satu sama lain, namun walau begitu keduanya saling menyayangi. Tidak terlihat seperti kakak adik karena mereka berdua jarang bersama. Tapi entah kenapa, mengetahui kenyataan itu rasanya hati Chunji sangat sakit… Kenyataan bahwa suatu saat Jiyeon akan memiliki seorang pacar. Terselip perasaan ‘sangat tidak rela’ di hati Chunji.

“Oppaaaaa!!!”

Suara teriakan Jiyeon menyadarkan Chunji dari lamunannya. Ia langsung beranjak dari sofa lalu membuka pintu kamarnya.

“Waeyo?” tanya Chunji. “Ada temanmu! Ppali, pabo!” seru Jiyeon. “Hhh.. Sudah kusuruh panggil oppa, malah memanggilku pabo,” gumam Chunji kesal. “Ppali! Kenapa kau malah menggumam tidak jelas?” tanya Jiyeon seraya geleng-geleng kepala. “Hhh, adik menyebalkan!” seru Chunji kesal. “Kenapa kau bilang aku menyebalkan?” tanya Jiyeon lagi. “Karena kau memanggil aku pabo!” seru Chunji. “Kau kan memang pabo!” balas Jiyeon. “Tapi bisa tidak sih berhenti memanggilku pabo?” tanya Chunji kesal. “Kau memang menyebalkan, Lee Chunji!” seru Jiyeon. “Ya! Aku memang menyebalkan! Aku memang oppa yang buruk, puas kau? Hhh, aku benci kau, Park Jiyeon. Sulit bersikap baik padamu,” kata Chunji ketus lalu segera keluar dari kamar. Sedangkan Jiyeon, ia masih mematung di depan kamar Chunji. Sampai akhirnya Chunji beserta teman-temannya keluar dari apartment, Jiyeon lalu beranjak menuju sofa ruang tamu dan duduk disana.

“Aku… menyebalkan ya?” gumam Jiyeon. Ia lalu teringat dengan pembicaraannya dengan Min Young tadi pagi…

*FLASHBACK*

“Jiyeon yaa, oppa mu sangat tampan! Dekatkan aku dengan oppa mu ya? Jebaal,” mohon Min Young pada Jiyeon. Jiyeon langsung menggeleng cepat. “Shireo!” seru Jiyeon. “Waeyo? Ayolahh, kau tidak kasihan pada oppa mu yang belum punya pacar juga? Padahal di kan tampan…” kata Min Young. Dan lagi-lagi Jiyeon menggeleng. “Shireo!” serunya lagi. “Wae? Kenapa kau tidak mengizinkan kakakmu punya pacar? Memangnya kau tidak kasihan pada kakakmu yang tak punya gadis?” tanya Min Young. “Dia punya aku, aku kan adiknya,” kata Jiyeon. “Kau hanya adiknya. Ayolah, Park Jiyeon… Rasa cinta pada adik itu berbeda dengan rasa cinta pada pacar..”

Jiyeon terdiam. ‘Artinya… Suatu saat Chunji akan mencintai orang lain? Aku… tidak rela. Apa aku egois?’

*END OF FLASHBACK*

‘Benar kata Min Young… Mungkin aku akan mendekatkan Min Young dengan Chunji. Dia punya aku, itu sama sekali tak berguna. Yang ia butuhkan itu pacar, bukan aku,’ batin Jiyeon.

***

“Yak, Lee Chunji! Kenapa kau tidak bersemangat begitu?” tanya Gongchan di sela-sela minumnya. Mereka berenam –Chunji, Kevin, Gongchan, Baro, Tae Min, dan Min Ho sedang berkumpul bersama di rumah Kevin. Disaat teman-temannya sedang meminum soju, Chunji malah hanya terdiam dan belum menyentuh soju sedikitpun.

“Aku… sedang malas,” jawab Chunji. Ia memandang lurus dengan tatapan kosong. Lantunan lagu Why I Like You terdengar jelas di telinga Chunji. Namun kalah dengan kata-kata Gongchan yang terus terngiang-ngiang dibenaknya.

‘Aku… kakak yang buruk, bukan? Dia tak membutuhkanku, yang ia butuhkan itu Gongchan. Mungkin saja Gongchan dapat menjaganya dengan baik… Bukan aku, nan nappeun oppa,’ batin Chunji, sebelum akhirnya ia meneguk beberapa gelas soju.

“Gong Chan Shik… Kau suka pada adikku kan?”

***

Jiyeon berbaring di tempat tidurnya, memandang kosong ke arah langit-langit kamar tidurnya. ‘Aku… adik yang buruk ya? Pantas saja Chunji benci padaku…’ batin Jiyeon. Ia lalu mengambil ponselnya dan mulai mengetik sesuatu untuk Min Young… Namun belum sempat ia menekan tombol ‘send’, tiba-tiba bel apartmentnya berbunyi.

*TING*TONG*

“Nuguseyo?” seru Jiyeon seraya melangkah menuju pintu masuk. Tidak ada jawaban.

“Nuguseyo?” tanya Jiyeon lagi. Namun tetap tak ada jawaban. Akhirnya Jiyeon memutuskan untuk membuka pintunya…

“C… Chunji? YA! Lee Chunji!”

*TBC*

Mianhae kalau cerita di part ini jelek banget 😥 *nangis

Kasih kritik dan saran ya, supaya part selanjutnya bisa aku perbaiki baik cara penulisan, cerita, dll. Gomawo ^^

-By : Cherry Anastasia-

 

Iklan