Poster by : YeonNiaART

Me and My Brother (Prolog)

Author             : Cherry Anastasia (cherryesung)
Main Casts      : Park Jiyeon, Lee Chunji
Other Casts     : Akan menyusul nanti
Genre              : Romance
Rating              : Teen
Length             : On going
Disclaimer       : FF IS MINE!! Ide cerita dan plot milik saya!! Chunji dan Jiyeon milik mereka sendiri dan Tuhan Jangan jadi siders dan plagiator karena itu DOSA!! INGAT ITU!^^

Maaf kalau agak membosankan

>>INTRODUCTION<<

“Hyaa, Chunji! Awas kau!” seru seorang gadis bernama Jiyeon seraya berlari-lari, mengejar seorang namja, yaitu Lee Chunji. “Mwo!? Chunji!? YA! Adik tidak sopan! Panggil aku oppa, bodoh!” seru Chunji kesal, sambil terus berlari menghindari kejaran Jiyeon. “Kita kan seumuran, bodoh! Jadi aku tidak perlu memanggilmu oppa,” balas Jiyeon sambil berusaha meraih benda yang berada di tangan Chunji.

“A-aa.. Eomma! Apheoo!” Chunji menghentikan larinya karena sekarang ibunya sedang menjewer telinganya. “Eomma! Lepaskaaan!” seru Chunji kesakitan. “Haish, bisa tidak sih berhenti mengganggu adikmu?” tanya ibunya kesal. “Eomma! Chunji mengambil PR ku!” seru Jiyeon seraya merebut bukunya dari tangan Chunji.

“Haish, pinjam sebentar! Dasar pelit,” umpat Chunji. “Siapa suruh kau tidak mengerjakan PR kemarin? Hahaha, paling nanti kau dihukum Heechul seonsaengnim,” kata Jiyeon dengan nada mengejek. “Ya, Lee Chunji! Kau itu sudah kelas 3 SMA, tapi tingkahmu seperti anak SD!” omel ibunya. “Aish, jinjja… Dasar pelit,” kata Chunji pada Jiyeon. “Kau juga tidak pernah mau meminjamkan PR padaku kalau aku lupa mengerjakan,” balas Jiyeon dengan wajah kesal. Ia lalu memasukkan bukunya ke dalam tas.

Lee Jiyeon dan Lee Chunji, dua kakak beradik di keluarga Lee. Namun sebenarnya Jiyeon bukan anak kandung keluarga Lee. Pada saat berumur 7 tahun, kedua orang tua Jiyeon meninggal karena kecelakaan pesawat. Dan setelah itu, Jiyeon diadopsi oleh Lee Eun Mi, seorang pengusaha sukses dan ibu dari Chunji. Umur Jiyeon dan Chunji pun hanya beda sehari, lebih tua Chunji.

Mereka tinggal di sebuah apartmen mewah di Seoul. Namun Eun Mi, ibu mereka, sering meninggalkan Korea untuk mengurus perusahaan di Jepang. Eun Mi kini menjadi single parent, karena ia telah bercerai dengan suaminya, jauh sebelum kedua orang tua Jiyeon meninggal. Kini suaminya tinggal di Jepang, dan suaminya juga ikut mengelola perusahaan yang dikelola Eun Mi.

Perusahaan yang dikelola Eun Mi dan suaminya pun sebenarnya perusahaan milik keluarga Lee dan keluarga Park (keluarga Jiyeon dulu), namun setelah kedua orang tua Jiyeon meninggal, Eun Mi dan suaminya lah yang menangani perusahaan itu. Eun Mi sangat menyayangi Jiyeon, sama seperti Eun Mi menyayangi Chunji.

“Chunji-aa, kajaa!” teriak Jiyeon dari ambang pintu apartment. “Panggil aku oppa, pabo!” seru Chunji kesal. “Oppa pabo, kajaa!” teriak Jiyeon lagi. Chunji mendengus kesal, mengambil tasnya lalu segera keluar apartment mendahului Jiyeon. “Eomma, annyeong!” pamit Jiyeon lalu segera berlari menyusul Chunji.

TING!

Pintu lift terbuka. Chunji dan Jiyeon masuk ke dalam lift, dan tak lama pintu lift tertutup. Dari lantai 25, mereka menuju lantai basement. Biasanya mereka pergi ke sekolah menggunakan mobil Chunji, namun terkadang juga mereka pergi naik bis. Tergantung mood mereka saja. Dan hari ini mereka akan naik mobil Chunji.

Selama di lift, Chunji memasang tampang kesalnya. Jiyeon sejak tadi memperhatikan Chunji, dengan perasaan bersalah juga. Ia juga tidak tega kalau Chunji sampai dihukum Heechul seonsaengnim membersihkan toilet sekolah karena tak mengerjakan PR. “Chunji-aa, jangan marah ya? Hehehe, aku kasih contekannya deh. Tapi mukamu jangan ditekuk terus, sudah jelek tambah jelek,” kata Jiyeon seraya menyerahkan buku PR nya pada Chunji. Melihat buku itu, Chunji langsung tersenyum lebar.

“Aigoo, tumben kau baik, Jiyeon yaa?” tanya Chunji dengan wajah berseri-seri. Ia langsung mengambil buku itu dari tangan Jiyeon. “Gomawo, Jiyeon-aa!” seru Chunji senang. Melihat wajah Chunji yang begitu berseri-seri, Jiyeon langsung mengumpat kesal. “Dasar menyebalkan,” umpat Jiyeon pelan. “Tapi awas kalau kau besok menyontek lagi! Hhh, kuhajar kau, Lee Chunji,” ancam Jiyeon kesal. “Tch, dasar tidak sopan, kenapa sih kau tidak pernah memanggilku oppa?” tanya Chunji kesal. “Karena aku seumuran denganmu,” jawab Jiyeon santai seraya menjulurkan lidahnya. Melihat ekspresi Jiyeon yang menggemaskan, Chunji langsung mencubit pipi Jiyeon. “Aish, dasar menyebalkan,” kata Chunji.

TING!

Mereka sudah sampai di lantai basement. Chunji dan Jiyeon keluar, lalu segera menuju mobil Chunji. Chunji duduk di jok kemudi, dan Jiyeon duduk di sebelah Chunji. Sepanjang perjalanan, tak ada yang bicara satupun. Chunji sibuk mengemudi, sedangkan Jiyeon sibuk menyalin PR untuk Chunji yang menyebalkan itu. Tak sampai 20 menit, mereka sudah sampai di sekolah mereka. SM High School.

Chunji dan Jiyeon keluar dari mobil. Chunji berjalan jauh di depan Jiyeon dengan gaya sok coolnya. Dan gayanya itu membuat para yeoja di sekolahnya tergila-gila pada Chunji. Dan Jiyeon sangat benci pada Chunji ketika mereka sedang di sekolah! Chunji selalu bersikap dingin pada Jiyeon, berbeda saat mereka sedang di rumah. Bahkan kalau mereka tak sengaja berpapasan, Chunji langsung membuang muka, bersikap seolah-olah mereka tak saling kenal. Dan itu membuat Jiyeon ingin sekali meninju wajah Chunji.

“Ya, pabo. Bekalku mana?” tanya Chunji dengan nada dinginnya. “Mana ku tahu! Memangnya aku  mengurusi bekalmu?” balas Jiyeon dengan nada ketus. “Lupa dibawa. Kalau begitu nanti istirahat aku minta bekalmu ya,” kata Chunji dengan nada datar, lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Jiyeon. “Tch,  dasar manusia pabo! Menyebalkan! Sudah bagus kuberi contekan PR. Harusnya tidak usah saja sekalian! Supaya dia disuruh membersihkan toilet oleh Heechul seonsaengnim!” umpat Jiyeon kesal seraya menendang-nendang batu kerikil.

“Omo, oppa mu semakin hari semakin tampan saja!” seru seseorang yang tiba-tiba muncul di sebelah Jiyeon. “Aish, jinjja… Kau mengagetkanku saja, Jieun-aa,” protes Jiyeon. “Hehe, mian,” kata Jieun. “Tch, tampan apanya? Dia menyebalkan begitu! Pagi-pagi saja sudah minta salinan PR! Kalau di rumah dia sok baik, di sekolah pura-pura tidak kenal! Menyebalkan sekali,” kata Jiyeon. “Tapi tetap saja tampan! Hehehe, tapi tidak lebih tampan dari Wooyoung oppa,” kata Jieun seraya tersenyum, membayangkan wajah Wooyoung yang menurutnya begitu tampan. “Jieun-aa, kaja! Aku malas membicarakan si Chunji yang menyebalkan itu!” seru Jiyeon. Jieun mengangguk, lalu mereka berdua menuju kelas mereka, di kelas 3-4. Sedangkan Chunji berada di kelas 3-2.

Terkadang, Jiyeon sangat membenci sifat Chunji yang begitu menyebalkan. Setiap pagi ia sering meminta contekan PR pada Jiyeon. Chunji sering bersikap seenaknya. Chunji juga sering menjahili Jiyeon, dan Chunji sangat hobi tebar pesona. Dan dua hal yang ‘paling’ membuat Jiyeon kesal pada Chunji, pertama, Chunji selalu bersikap sombong pada Jiyeon saat di sekolah. Dan kedua, Chunji benar-benar NARSIS! Namun, dibalik sifatnya yang begitu menyebalkan, Chunji memiliki beberapa sisi positif yang Jiyeon sukai. Pertama, walau terkesan cuek, sebenarnya Chunji sangat perhatian pada Jiyeon. Kedua, tidak seperti teman-teman Chunji kebanyakan, Chunji bukan laki-laki yang playboy. Ya, walaupun dia sering tebar pesona. Namun jangankan pacaran, ia tidak pernah benar-benar dekat dengan seorang gadispun, kecuali Jiyeon dan ibunya.

Walaupun terkadang Chunji dan Jiyeon mirip kucing dan anjing yang selalu bertengkar kecil, namun sejujurnya mereka berdua saling menyayangi. Ya, hanya menyayangi, sebatas rasa ‘sayang’ kakak terhadap adik dan sebaliknya. Namun perasaan yang lebih dari itu, suatu saat akan hinggap di hati mereka masing-masing…

♥NEXT PART >> 1♥

Don’t forget to comment ^^ Kamsahamnida ^^