Dont Re-Post my FF! Dont Plagiat! And please give a comment. Dont be a silent readers!

Pengertian kehidupan memiliki presepsi yang berbeda-beda di setiap benak manusia.

PROLOG

Seorang gadis membenamkan kepalanya di tumpukan jerami  yang begitu kasar. Air matanya membentuk anak sungai di kedua pipinya. Hatinya membeku, seperti sebongkah es yang di benamkan kembali ke dasar jurang. Hembusan angin di musim dingin membuat rambutnya terurai. Menyingkap gaun putihnya yang sehalus sutra. Gaun yang bernoda darah di sekitar punggung, robek dan  meninggalkan sebuah luka yang begitu dalam membentuk huruf V.

Dia terhina, terkutuk dan merasa dirinya tak lebih baik dari makhluk yang dinamakan hewan. Jika ia mampu mati, mungkin itulah yang di inginkannya. Meninggalkan dunia yang sama sekali tidak ia inginkan seperti ini. Terbuang, tak di inginkan dan para penghulu malaikat itu sukses melenyapkan kedua sayapnya. Hanya karena sebuah cinta yang timbul pada dirinya. Sebuah rasa yang tak seharusnya ia miliki untuk manusia biasa.

“Kau tak seharusnya mencintai pria itu. Kau malaikat dan dia manusia.” Kyuhyun berbisik padanya. Menimbulkan sensasi mengerikan di sekujur tubuh gadis itu. Dia seorang iblis—jari jemarinya yang panjang menelusuri bekas luka punggungnya. Mengorek segala memori yang terkuak pada luka tersebut.

“Tampan. Terkenal dan hangat.” Imbuhnya lagi, meraih helaian rambut gadis itu yang terurai berantakan. Menghirup nafas dalam-dalam di sana seolah menghisap habis semua energinya yang tersisa.

“Hentikan.” Kata gadis itu parau. Berada dalam rengkuhan iblis seperti dia membuatnya tak bisa mengendalikan emosi  dengan baik. Sekalipun ia kini terbuang, sekalipun kini ia terkutuk, gadis itu tak ingin kehidupannya hancur karena pengaruh iblis satu ini.

“Dengar…” bisiknya, menyingkap helaian rambutnya ke belakang telinga. “Kau bisa menjadi manusia jika kau mau.”

Gadis itu mengerti apa yang Kyuhyun maksud. Paham bagaimana cara agar ia bisa menjadi manusia—tidak hidup dalam keadaan terkutuk dan terhina seperti ini.

“Simpan godaanmu itu untuk manusia-manusia bodoh.” Katanya pelan. Memberanikan diri berkata seperti itu meskipun nyalinya langsung lenyap ketika jemarinya yang dingin mengusap pipinya perlahan.

“Seratus tahun lagi, seorang Nephilim akan lahir. Reinkarnasi dari pria yang sekarang kau cintai.” Katanya dingin, matanya menatap tajam ke mata gadis itu. Penuh dengan rayuan, tipu muslihat dan segala hal buruk yang ada di dunia. “Kau hanya perlu membunuhnya Miracle. Membunuhnya dan menjadi manusia. Kehidupan yang jauh lebih baik dibandingkan menjadi malaikat sekalipun.”

***

Seoul, Masa Kini

[Choi Siwon POV]

Aku menjejalkan buku-buku kuliahku ke dalam tas dengan asal. Aku sudah terlambat sekarang. Kelas pertama akan di isi oleh kelas bahasa Inggris—yang artinya adalah waktunya Mr. Trust mengoceh panjang lebar tentang struktur ketatabahasaan. Aku tak pernah suka dengannya, yah jika bisa di katakan dialah guru bahasa Inggris terbaik di Korea ini. Jika kau mengira dia benar-benar orang asing kau salah besar. Dia asli warga Negara Korea yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Tapi sayangnya dia terlalu angkuh dengan menyuruh seluruh murid memanggilnya dengan Mr. Trust, bukan Kang Se Wook—yang merupakan nama aslinya.

Jiwon berteriak kencang ketika aku dengan santainya meneguk susu yang di hidangkan untuknya. Tak ada waktu untuk menunggu ibu menghidangkan sebuah sarapan lezat di pagi hari. Aku sudah benar-benar terlambat sekarang. Ku lirik sekilas arlojiku dan mataku langsung membulat lebar ketika angka menunjukkan tujuh tiga puluh. Setengah jam lagi kelas akan di mulai tapi dengan bodohnya aku masih berada di rumah.

“Jiwon-ah aku tak bisa mengantarmu sekarang. Ingat, aku ada kelas pagi hari ini dan sialnya Mr. Trust akan menghukumku jika aku telat lagi di kelasnya.” Kataku cepat dan menyambar sepotong sandwich dari atas meja. Memasukkannya ke dalam mulut lalu berjalan ke luar menuju mobilku.

Aku masih bisa mendengar teriakan Jiwon yang memanggilku dari dalam. Namun tak ku pedulikan karena aku benar-benar tak ingin mencari masalah dengan Mr. Trust. Tidak, bukannya aku takut padanya hanya saja aku malas berurusan dengannya. Pria tua satu itu tak ada habisnya untuk mencari-cari kesalahanku.

Well, banyak orang yang mengatakan bahwa seorang Choi Siwon itu sempurna. Tapi sungguh, jika mereka tahu bagaimana diriku yang sebenarnya mereka pasti akan langsung menjauhiku saat itu juga. Aku ini aneh. Yah bisa di bilang tidak normal. Semenjak sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawaku saat umurku delapan tahun, aku memiliki sesuatu yang lebih. Sesuatu yang melindungiku dari bahaya apapun dan di manapun. Sesuatu yang bersayap putih dan bersinar. Seorang malaikat pelindung.

“Terlambat lagi hari ini sepertinya.” Suara dingin itu membuat sekujur tubuhku bergetar hebat. Aku menoleh ke samping dan mendapati sesosok gadis duduk dengan santainya  sambil mengunyah permen karet. Celana jeans panjang serta kemeja putih longgar menutupi tubuhnya yang kurus.

“Apa kau tidak bisa bersikap seolah kau manusia normal dan meminta tumpangan padaku secara wajar?” kataku sengit. Cukup kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba sekalipun aku selalu merasakannya selama bertahun-tahun.

“Untuk apa? Membuang-buang waktu saja.” Jawabnya tak peduli. Memajukan bibirnya dan sebuah balon permen karet menggelembung besar dari mulutnya.

“Aku tak pernah terbiasa dengan kemunculanmu yang tiba-tiba. Tidak akan pernah.” Kataku penuh penekanan. Ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi dan hal itu malah membuat gadis yang duduk di sampingku ini tertawa dengan keras.

“Hyun Mi dengar. Kau memiliki segala apa yang kau punya. Kau hidup berabad-abad dan berhasil mengumpulkan segala sesuatu yang manusia biasa inginkan. Kau punya mobil yang cukup mewah untuk berangkat ke kampus sendiri.” Kataku lagi dan mengontrol emosiku. Membelokkan mobilku ke pelataran universitas Inha.

“Yak, aku ini malaikat pelindungmu. Kau itu harus tetap berada dalam jangkauanku.” Katanya enteng. Keluar dari mobilku sambil bersenandung pelan. Aku mendesah, keluar dari mobil sambil mengumpat kesal dalam hati.

Siluman kuda betina. Umpatku.

“Apa? Siluman kuda betina?!” teriaknya protes. Bodoh. Tentu saja dia bisa membaca pikiranku.

“Usiaku sudah lebih dari dua puluh tahun. Dan aku bukan lagi seorang bocah berumur delapan tahun yang terkaget-kaget melihat seorang perempuan cantik dengan sayap putih berkibar di hadapannya. Jadi aku bisa melindungi diriku sendiri dengan baik, Lee Hyun Mi.” kataku dan menatap dirinya yang tersenyum mengejek ke arahku.

“Terima kasih.” Katanya dan aku mengernyit heran.

“Karena kau mengatakan aku cantik.” Tambahnya cepat sebelum aku sempat mengeluarkan pertanyaanku. Senyumnya mengembang sempurna—mempesona.

Aku menghela nafas panjang  dan menutupi wajah dengan kedua tanganku.

“Kau tahu, aku baru menyadari ternyata ada malaikat yang begitu menyebalkan sepertimu.” Kataku dan melangkah pergi menjauhinya. Meninggalkan dirinya yang masih tersenyum mengejek ke arahku. Namun sedetik kemudian, sebuah kalimat dingin terlintas di pikiranku.

Siapa suruh aku tak bisa membunuhmu?

Dia berbicara melalui pikirannya.

Sepanjang perjalanan menuju kelas, otakku terus saja memutar memori kelam yang ku alami saat aku berusia delapan tahun. Seolah melihat tayangan film yang di putar, aku menemukan sosokku yang masih kecil tenggelam dalam ketakutan. Meringkuk di sudut ruangan tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa seorang malaikat terbuang sedang mencoba membunuhku. Aku masih ingat, wajahnya yang dingin, suaranya yang pelan namun menimbulkan rasa takut yang mengerikan. Hyun Mi. Dialah malaikat terbuang itu, malaikat terkutuk yang berusaha mencoba membunuhku untuk menjadi manusia.

Tapi saat itu sebuah keajaiban datang. Yang ku ingat—saat sebuah truk besar hendak menabrakku, seorang pria paruh baya menolongku, mengorbankan jiwanya untukku. Aku tak mengenal pria itu, hanya tahu dari Hyun Mi—saat umurku sudah menginjak tujuh belas—bahwa pria itu adalah Chauncey. Sejenis malaikat yang bertugas melindungiku karena aku adalah seorang nephilim. Oleh karena itulah, Hyun Mi menggantikan posisi Chauncey sebagai malaikat pelindungku. Mendapatkan sayapnya kembali dari para penghulu malaikat. Namun meskipun sekarang ia sudah kembali di akui dan menjadi malaikat pelindung, aku paham akan satu hal tentang dirinya. Dia ingin menjadi manusia, sama sepertiku.

Aku hampir saja mendapatkan hukuman jika saja Mr. Trust tidak datang terlambat dan membawa seorang gadis cantik memasuki kelas bahasa inggrisnya. Aku memandang gadis itu sebentar, mengamatinya diam-diam dan ku akui wajahnya luar biasa cantik untuk ukuran manusia biasa. Seperti, kaum Hyun Mi pada umumnya. Memiliki tingkat kecantikan yang tak terkalahkan namun aku langsung menghilangkan jauh-jauh pikiranku. Karena aku sangat yakin dia bukan malaikat menyebalkan seperti Hyun Mi.

“Lee Mya Na imnida.” Katanya memperkenalkan diri dan ku yakini hampir seisi kelas terpaku menatap dirinya—kecuali aku dan Hyun Mi yang malah sibuk memutar-mutar ujung pulpennya tanpa sentuhan sedikitpun. Jika ada yang melihat, matilah usahanya agar terlihat seperti manusia biasa.

Mr. Trust menyuruhnya duduk di sampingku dan aku memasang senyum ‘sok’ milikku untuknya. Seolah memperlihatkan bahwa aku tak begitu tertarik dengannya. Tapi sepertinya aku salah besar, karena ketika ia mendekat wangi mint segar langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku.

Dia membuatku mabuk dalam sekejap.

***

“Jauhi gadis itu.” Kata Hyun Mi setelah sudah cukup aman berbicara empat mata denganku di sudut kantin kampus Inha. Hampir satu minggu Hyun Mi menyuruhku untuk menjauhi Mya Na padahal ku pikir tidak ada yang salah dengan gadis itu. Terlebih lagi aku mengetahui bahwa dia sempat mencoba meneror Mya Na—yah meskipun aku mengetahuinya dari gossip yang beredar.

“Kau cemburu.” Kataku asal dan dia menjitak kepalaku. Aku meringis dan menatapnya dengan sadis namun tak ada niatan untuk membalas.

“Bisa tidak kau bersikap lembut layaknya seorang malaikat? Pantas saja mereka membuangmu waktu itu. Kelakukanmu saja seperti monster.” Kataku mengejek dan ku pikir dia akan tertawa tapi aku salah besar. Matanya berubah menjadi sendu dan aku langsung merasa bersalah akan hal itu.

“Mi-ya aku—“

“Boleh aku duduk di sini?” kalimatku terhenti saat sebuah suara lembut bertanya padaku. Mya Na sambil membawa baki berisi roti dan air mineral tersenyum meminta izin padaku.

“Pergi kau.” Desis Hyun Mi tajam.

“Hyun Mi-ya…”

“Jika kau tidak pergi, aku akan melenyapkanmu sekarang juga.” Kata Hyun Mi lagi. Tajam dan penuh perintah. Ku lirik Mya Na yang memasang wajah ketakutan dan demi apapun Hyun Mi benar-benar kelewatan.

“Aku akan pergi. Maaf mengganggu.” Ku dengar Mya Na terisak. Ia meletakkan bakinya di atas meja lalu belari pergi meninggalkan kami berdua.

“Kau kelewatan.” Kataku tajam. Menenggak habis minumanku dan hendak mengejar Mya Na.

“Jangan mengejarnya Choi Siwon. Jika kau mengejarnya aku takkan menjadi malaikat pelindungmu lagi.” Ancamnya dengan nada dingin. Aku membalikkan tubuhku sekilas, menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Aku tidak tahu mengapa kau begitu tidak menyukainya, tapi jika itu yang kau inginkan, kau bukan malaikat pelindungku lagi mulai sekarang.” Kataku tegas dan berbalik memunggunginya. Merasakan hawa aneh yang tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhku. Sebuah benang merah yang terlepas diantara kami.

[Lee Hyun Mi POV]

Aku meringkuk di sudut perpustakaan dengan kepala berada di lipatan tanganku yang bertumpu di kedua lutut. Hampir satu minggu lebih aku tak berkomunikasi dengan Siwon. Bukannya aku tidak ingin, tapi karena aku tidak bisa. Siwon melepaskanku sebagai pelindungnya, menyatakan dengan tegas bahwa itu yang dia inginkan dan penghulu malaikat mendengarkan permintaannya. Aku mempunyai seribu alasan agar Siwon menjauhi Mya Na—gadis terkutuk itu. Dia hanyalah seorang malaikat terbuang dan aku mengetahui itu sejak awal karena aku tak dapat membaca auranya.

Aku juga memergokinya berbicara dengan iblis bernama Kyuhyun—yang jelas-jelas hanya bisa di lihat oleh makhluk seperti kami. Tapi aku tak mampu berbuat apapun sekarang, padahal dari percakapan Mya Na dengan Kyuhyun yang ku dengar—Mya Na akan membunuh Siwon  tepat pada hari ulang tahun Siwon—hari ini. Mya Na ingin menjadi manusia, dan Nephilim yang harus di bunuhnya adalah Siwon. Sama sepertiku saat dulu menjadi malaikat terbuang.

Tapi Siwon tak menyadari hal ini, ia terlalu terpaku pada sebuah kenyataan bahwa ia memiliki sebuah perasaan khusus pada gadis itu. Ku akui, itu memang benar. Aku mendapatkan memori itu dari masa lalu Siwon. Mereka berdua saling mencintai. Namun sayangnya Mya Na bukanlah manusia hingga ia di kutuk karena berani mencintai manusia biasa.

Aku tersenyum getir. Merasakan sakit yang sebelumnya tak pernah ku rasakan. Sebuah perasaan yang memang sudah ku miliki sejak ia lahir. Perasaan yang membuatku tak sanggup untuk membunuhnya—perasaan yang sesungguhnya membuatku menjadi malaikat pelindungnya. Aku mengerang, bingung dengan apa yang ku lakukan. Aku seharusnya pergi menjauh, menghilang dan melindungi orang-orang yang memang membutuhkanku. Bukannya menantinya yang di sekap oleh Mya Na seperti ini.

“Dia akan mati sekarang Hyun Mi-ya.” Desis Mya Na pelan. Ia berhasil menjebak Siwon. Mengikat tubuh Siwon di sebuah kursi kayu dan dengan bodohnya aku hanya bisa meringkuk, menangis karena tak mampu menolongnya.

“Ada yang ingin kau sampaikan Tuan Choi?” tanya Mya Na menempelkan sebilah pisau tajam dan menggores pipi mulus Siwon.

“Hentikan.” Gumamku pelan nyaris tak terdengar.

“Jangan menolongku. Kau akan lenyap.” Aku mendongak, menatap Siwon yang menatap lurus ke arahku. Tak ada ketakutan di sana. Dan aku bersyukur bahwa aku mencintai orang yang tepat.

“Drama yang mengagumkan.” Ejek Mya Na dan kali ini menghunuskan pisaunya tepat di perut Siwon.

“Maaf..tak mempercayaimu.” Kata Siwon di sela erangannya. Air mata mengalir di pipiku. Di iringi tawa menggema dari Mya Na.

Aku menatap memohon ke arah Mya Na tapi gadis itu tak peduli. Ia mengangkat pisau tersebut tinggi-tinggi hendak menghunuskannya tepat di jantung Siwon. Pikiranku berkecamuk bermacam hal saat itu juga. Semua kenangan yang terlintas di setiap inchi sel otakku seperti kilasan-kilasan film yang tak beraturan. Menyenangkan sekaligus menyakitkan.

Aku beranjak bangun, mengepakkan sayapku lebar-lebar dan mengucapkan sebuah mantra dalam satu tarikan nafas.

“Vilgree.”

Lalu sebuah kilatan cahaya besar melenyapkan aku dan Mya Na dengan segera. Semuanya berjalan dengan mudah.

Aku mencintaimu Choi Siwon.

EPILOG

Siwon berdiri termenung menatap sebuah rumah besar bergaya klasik di daerah Kangnam. Ia masih ingat bagaimana gadis malaikat itu akan muncul di hadapannya dengan tiba-tiba dan membuat seluruh system kerja otaknya menjadi tidak normal. Tapi sekarang itu hanya sebuah kenangan, tidak akan pernah terulang lagi karena gadis itu telah pergi. Meninggalkan sebuah goresan luka serta kenangan yang indah.

“Kau tahu Hyun Mi ya… Detik terakhir kau mengucapkan mantra itu, aku memintamu menjadi malaikat pelindungku. Lagi. Bukan karena aku membutuhkanmu. Tapi karena kau, mengambil semua bagian dari hidupku.” Siwon berbisik. Berharap bahwa angin akan menyampaikan pesannya hingga ke Surga. Ia menutup mata, membayangkan gadis itu memeluknya hingga ia menyadari ada kecupan kecil yang mendarat di pipinya.

Aku mencintaimu Choi Siwon.

Dan disanalah ia berdiri. Menyunggingkan senyuman terbaiknya. Merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya.

“Aku mungkin tak mampu melihatmu. Tapi aku bisa merasakanmu gadis bodoh. Aku mencintaimu.”

Kematian adalah satu-satunya hal yang memisahkan segala sesuatu yang ada di dunia.

RCL Please..

Iklan