Author: Lee Hyungseo
Title: If I was A Demon…
Length: Chapter 2 of 7 (abt 1722 words)
Genre: Action, Angst, Drama, Romance
Summary: Misi penyelamatan Kibum? Tapi bukan. Donghae dan Kyuhyun sama sekali tak pernah berpikir untuk menyelamatkan atau mengambil kembali Kibum jika ia sudah terlebih dahulu membocorkan informasi tentang kelompok teroris mereka.
Author’s Notes: Fic ini udah pernah di-publish di Faebook dan di Fanfiction.net  (http://www.fanfiction.net/u/2862160/Lee_Hyungseo)

PEMUDA bertubuh tegap itu masih menatap Donghae dengan tatapan yang sama, sekalipun ponselnya terus berdering. Donghae sendiri tak mengerjap sedikitpun. Perasaannya berkecamuk. Mungkinkah orang itu mengetahui identitas seorang Lee Donghae yang sebenarnya? Jika ya, Donghae tidak akan punya pilihan lain selain membunuhnya. Tapi, membunuh seseorang di tempat seperti ini? Itu hanya akan menambah masalah. Lagipula, masih teringat jelas dalam benak Donghae saat Choi Siwon menembakinya di atap bandara Incheon.
Selain itu… Minri. Apapun yang terjadi Donghae tidak akan membiarkan Minri mengetahui identitasnya yang sebenarnya—seorang pimpinan kelompok teroris—yang jelas-jelas akan membahayakan Minri juga.
Terdiam dalam kebingungan, tiba-tiba terdengar langkah seseorang yang datang.
“Siwon-sshi!”
Siwon akhirnya tersadar dan menoleh. “Yesung-hyung?”
“Ah, kebetulan sekali! Hangeng-hyung memberitahuku kalau kau—”
“Aaah… tunggu sebentar, Hyung!” Siwon tiba-tiba mengibas-ngibaskan tangannya, baru tersadar akan ponselnya yang terus berdering. Sementara Yesung malah jadi merasa diacuhkan. Yah, habisnya mau bagaimana lagi? Sebagai seorang pimpinan, Siwon memang termasuk seorang pimpinan yang sering grasa-grusu.
Pada akhirnya Yesung lebih memilih untuk memasuki kamar pasien terlebih dulu. Didalam sana nampak Leeteuk yang masih berbaring. Disisinya ada Heo Minri, teman SMU-nya dulu yang kini telah bekerja sebagai seorang perawat.
Sementara itu di luar kamar 132, Donghae kembali ke tempat duduknya sembari memperhatikan Siwon yang membelakanginya. Donghae baru hendak berdiri saat tiba-tiba suara Siwon terdengar memekik.
“Tertangkap? Bukannya kau bilang dia berhasil lolos?”
Lalu Siwon diam beberapa saat, nampak sedang mencerna perkataan orang dibalik telepon.
“Maksudku… teroris dua hari yang lalu,” katanya lagi. Dan kata-kata Siwon kali ini sukses membuat mata Donghae terbelalak.
Donghae menoleh pada Siwon, pria itu masih nampak sangat serius. Sejenak kemudian ponsel Donghae ikut berdering. Ia merogoh saku celana jeansnya, lalu diambilnya ponsel yang berdering itu. Dari balik telepon terdengar suara seseorang yang panik.
“Ada apa, Eunhyuk-hyung?”
Kabar buruk.” Suara pria bernama Eunhyuk itu bergetar. “Kibum tertangkap semalam.”
“Itu… mustahil!” pekik Donghae yang terkejut. Sejenak kemudian ia memelankan suaranya lagi, takut kalau-kalau Siwon mencurigai gerak-geriknya.
Aku juga tidak mengerti. Aku… ah! Sudahlah! Kami butuh kau disini, sekarang!
Untuk sesaat, Donghae berusaha menimbang-nimbang. Beberapa saat kemudian ia sudah kembali berbicara dengan orang dibalik telepon. Setelah sedikit konflik ringan, Donghae menutup teleponnya, lalu segera memasuki kamar pasien tempat Minri berada.
“Minri,” panggil Donghae.
Minri menoleh. “Ya?”
“Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku… ah…”
“Telepon mendadak dari kantor?” tanya Minri. Suaranya terdengar lembut, namun kentara sekali kalau Minri menyayangkan Donghae harus pergi secepat itu.
“Begitulah. Maaf, ya?”
“Tidak apa-apa.” Minri menggeleng sembari tersenyum. Jemari rampingnya masih terlihat lihai mengganti perban pasiennya.
“Nanti kutelpon lagi. Aku pergi dulu.”
Minri mengangguk. Sedetik kemudian Donghae sudah berlalu dengan cepat meninggalkan kamar itu. Melewati lorong-lorong yang panjang, dengan bau pekat yang membuat Donghae tak pernah menyukai rumah sakit.
Sementara itu di belakangnya, Choi Siwon masih sama terburu-burunya seperti Donghae. Setelah baru beberapa menit menutup teleponnya, Siwon mengambil ponsel itu lagi. Kali ini ia menekan beberapa digit angka, sembari berharap orang yang ditujunya masih mau berbaik hati membantunya.

xxXxx

SEOUL, S. Korea.

“Baiiik! Hari ini kalian hebat sekali! Sampai jumpa besok lagi!”
Sekitar dua puluh orang siswa playgroup berlarian dengan riangnya setelah menyanyikan lagu sebelum pulang sekolah. Seperti biasa, Lee Youngna mendapat pelukan dari mereka satu-persatu. Anak laki-laki, anak perempuan, semuanya berebut ingin memeluk pembina mereka itu. Melihat semua muridnya bertingkah begitu membuat Youngna merasa seperti anak kecil lagi. Ia memang tidak pernah menyesal memilih menjadi seorang pembina playgroup. Lagipula menurut Youngna, anak-anak seperti mereka sangat menyenangkan.
“Mukamu ceria sekali, Nuna.”
Youngna menoleh. “Ah, aku memang suka anak-anak,” katanya riang.
Pemuda itu, Kang Minhyuk, salah satu pembina yang sama seperti Youngna. Hanya saja bedanya, Minhyuk masih kurang percaya diri. Ia kadang merasa terlalu junior jika dibandingkan dengan nuna-nya.
“Kau memang cocok dengan anak-anak,” kata Minhyuk merendah. “Mau kuantar pulang?”
Youngna masih nampak mempertimbangkannya sejenak.
“Tenang saja! Tidak akan ketahuan Siwon-hyung,” kata Minhyuk geli.
“Heeeh!”
Minhyuk malah tertawa puas. “Bagaimana, Nuna?”
“Baiklah kalau kau memaksa,” jawab Youngna akhirnya.

xxXxx

JALAN utama Seoul di siang hari selalu tampak terang benderang. Ada banyak toko di sepanjang jalan yang buka sampai malam. Selain toko, ada banyak kedai makanan yang sering Minhyuk singgahi setiap kali ia mengantar Youngna pulang. Tapi sayangnya kali ini Youngna sedang tidak bernafsu makan, jadi Minhyuk mengantar Youngna pulang langsung ke rumah.
Rumah Youngna sendiri tak berbeda dari rumah pada umumnya. Terdiri dari dua lantai dengan dua kamar utama dan satu kamar tamu, dapur, dua kamar mandi, halaman depan, dan teras mini. Sudah sejak dua tahun terakhir ini Youngna menempati rumah itu berdua dengan sepupunya, Lee Hyungseo, yang umurnya hanya berbeda beberapa bulan darinya. Tapi yang lucu dari mereka adalah… Youngna yang lembut dan Hyungseo yang sama kacaunya dengan Siwon. Mungkin itu yang membuat Hyungseo dan Siwon saling akrab—mereka punya banyak hobi liar yang sama.
Setelah mengucap terimakasih pada Minhyuk, Youngna bergegas berjalan menuju pintu depannya. Begitu ia membukanya, Youngna mendengar suara gaduh yang sudah biasa ia dengar belakangan ini—video game baru yang dibawa Siwon saat terakhir kali ia mengunjungi rumah itu. Hyungseo hampir tak pernah lepas dari layar TV-nya sejak Siwon membawakan video game itu.
“Seonnie! Tolong kecilkan suara TV-nya!” gerutu Youngna begitu ia selesai membereskan sepatunya.
“Eh? Kau sudah pulang?” tanya Hyungseo dari balik ruang tengah. “Bagaimana Haejun?”
“Seperti biasa, anak itu cuma menurut pada Minhyuk,” jawab Youngna singkat. Sebenarnya ia agak sebal juga eonnie-nya tidak menggubris perkataannya tadi.
Tak lama kemudian, telepon di samping Youngna berdering. Youngna cepat-cepat melepas kaus kakinya, lalu mengangkat telepon itu. Beberapa menit kemudian, raut wajahnya langsung berubah begitu mendengar suara orang yang berbicara di telepon.
“Seonnie,” panggilnya.
“Apa?”
“Untukmu nih, dari Siwon-oppa.”
Hyungseo langsung menghentikan permainannya. “Ada apa?”
“Entahlah, katanya Seonnie dibutuhkan di markas.”
Raut wajah Hyungseo berubah. “Aku tidak punya urusan dengan mereka.”

xxXxx

MARKAS pusat penyidik kasus terorisme Seoul berjarak sekitar dua kilometer dari tempat Youngna dan Hyungseo tinggal. Tempat itu sebenarnya hanya sebuah gedung lima belas lantai yang sederhana, dengan jumlah karyawan sekitar tujuh puluh orang, dilengkapi dengan 37 orang agen teknisi dan empat belas agen lapangan, termasuk Siwon dan agen-agennya—Leeteuk, Yesung, Ryeowook, dan Hangeng. Sementara untuk agen teknisinya, ia memiliki Heechul dan Shindong, dua orang dengan kepribadian yang—menurut Siwon—aneh.
Seisi lobi menatap canggung saat Lee Hyungseo berjalan di sepanjang koridor panjang itu menuju ruang utama milik Siwon. Begitu ia memasuki ruangan bernuansa putih itu, berbagai macam tatapan menghujamnya. Termasuk tatapan ketidaksukaan dari Kim Heechul.
Hyungseo tak ambil pusing. Ia justru merasa kesal. “Aku bukan agen yang bisa kau panggil seenaknya—”
“Hyungseo!”
Suara itu membuat kemarahan Hyungseo tertahan. Siwon tengah berdiri di belakangnya, menatapnya tegas.
“Kau sendiri yang bilang kan, Siwon-ah?”
“Kami butuh bantuanmu sebagai seorang negosiator, Hyungseo.”
Hyungseo terdiam. Rasanya kepalanya seperti akan meledak.

RUANG interogasi yang dikatakan Siwon terasa lebih dingin dari biasanya. Didalam ruangan yang sempit itu, Hyungseo duduk menghadap seorang anggota teroris yang sudah lama menjadi buruan tim yang diketuai Siwon.
Kim Kibum, setidaknya itulah nama pemuda itu. Ia terbilang cukup tinggi untuk orang seumurannya. Wajahnya angkuh. Hyungseo sendiri tak yakin bisa menginterogasi orang dihadapannya itu.
Sementara itu, Heechul dan Siwon mengawasi mereka dari luar. Tatapan ketidaksukaan Heechul masih sangat jelas terasa.
“Biar kuperjelas,” kata Kibum akhirnya. “Kau tidak akan mendapat informasi apa-apa dariku.”
Hyungseo menyembulkan senyum picik di wajahnya. “Aku bisa meringankan vonismu nanti. Kalau kau divonis hukuman mati, aku bisa saja menjadikannya lima tahun penjara.”
Heechul yang mendengarnya dibalik kaca langsung geram. “Apa-apaan itu? Kau bilang dia negosiator yang hebat?”
“Sudahlah,” ucap Siwon singkat.
“Dia tidak lebih dari seorang negosiator biasa! Amatir!”
“Kau hanya cemburu karena dia bisa menjadi seorang agen lapangan dan kau tidak. Benar, kan?”
Heechul mendengus. “Itu tidak benar!”
“Sudah jadi rahasia umum kalau Kim Heechul merasa kalah dari Lee Hyungseo.”
Sialnya, Siwon benar, batin Heechul. Kenapa perempuan itu bisa dan dia tidak? Tapi sayangnya Heechul tidak bisa membantah lagi saat melihat Hyungseo berhasil membuka mulut Kibum. Entah apa yang dikatakan Hyungseo padanya, tapi perkataan Siwon kalau Hyungseo adalah seorang negosiator sekaligus agen lapangan yang hebat terbukti benar.
Dari balik kaca, Heechul dapat melihat Kibum membeberkan beberapa rahasia kecil kelompok terorisnya.

xxXxx

BEBERAPA puluh kilometer dari markas utama penyidik kasus terorisme di Seoul, ‘markas utama’ kelompok yang dipimpin Lee Donghae di Busan pun tak kalah menariknya. Kim Minhyun, satu-satunya wanita dan teknisi dalam kelompok mereka masih berkutat dengan komputer besarnya, mencoba mencari posisi alat pelacak yang sudah lama ia pasangkan di baju Kibum. Setelah dua puluh menit yang panjang, sebuah titik kecil merah berkedip di salah satu wilayah yang mereka amati. Donghae langsung antusias begitu melihat titik merah itu berkedip dengan yakinnya.
“Seoul,” ucapnya.
Kyuhyun yang sedari tadi hanya diam akhirnya beranjak dari tempat duduknya. “Semoga saja teman kita Kibum tidak bicara yang macam-macam.”
Tanpa membuang waktu lagi, Donghae segera beranjak menuju tempat penyimpanan semua senjata. Dengan cekatan ia mengambil satu-persatu senapan, rifle, dan pistol milik masing-masing anggota, termasuk Beretta 92 kesayangannya. Diberikannya senjata-senjata itu secara berurutan—sniper rifle untuk Sungmin, senapan jarak dekat untuk Kyuhyun, dual pistol untuk Eunhyuk, dan beberapa senjata api berat untuk Kangin.
“Kau yakin dengan ini, Donghae-sshi?” tanya Minhyun tanpa menoleh sedikitpun dari layar komputernya.
“Tentu saja. Aku tidak ingin dia sampai membeberkan terlalu banyak hal tentang kita.”
“Jadi maksudmu…” kata Eunhyuk. “Kita ke sana bukan untuk menyelamatkan Kibum?”
“Menyelamatkan?” Tiba-tiba Kyuhyun tertawa. “Kita bukan sedang berada dalam film melawan alien, Hyung.”
“Tunggu dulu, ini tidak benar!” Sekarang Kangin yang ikut bicara. “Kupikir kita kesana untuk mengambil Kibum kembali!”
Donghae tak menoleh sama sekali. Ia tetap sibuk mengisi amunisinya. “Itu tergantung sejauh apa informasi yang sudah ia beberkan.”
Semua diam. Minhyun yang sedari tadi hanya berkutat dengan komputernya pun akhirnya menoleh juga. Semua orang disana—terkecuali Kyuhyun yang tak ambil pusing—menatap Donghae dengan tatapan ragu.
“Terserah kalian,” ucap Donghae mencairkan suasana. “Ikutlah kalau kalian masih punya prinsip yang sama denganku dan Kyuhyun.”

— To Be Continued