Absolute Music and Art –Inst. 5

New Cast: Shin Hyoni

Hwang Dain story…

“Gyeseo Dain-ah….. mimpi yang indah ya….”

Ah…. Bagaimana aku bisa tidur kalau terbayang wajahmu terus, Seungho sunbaenim??

Aku mengukir ukir bayangan mata Seungho sunabe yang kugambar, menghapusnya lagi…. Mencoba menggambarnya lagi… menghapusnya lagi…

“Haaaaaish ottoke?? Kenapa aku jadi tidak bisa tidur seperti ini sih?!” aku menjambak jambak pelan rambutku, “Padahal besok aku ada urusan ke kampus, dan jam segini masih belum tidur. Matilah aku.”

Aku memencet mencet nomor Byunghee oppa, berharap ia belum tidur dan bisa menemaniku sementara waktu, “Yeoboseo oppa, Dain imnida…. Nee, aku tidak bisa tidur. Oppa dimana?”

“Em…. Em… anu…” jawab Byunghee oppa gugup, “Aku masih dalam perjalanan kerumah. Ada apa? Kenapa kamu tidak bisa tidur?”

Aku mengangguk sambil memanyunkan mulutku bimbang, “Nee… karena Seungho sunbaenim mengantarku tadi, aku rasa…”

“Oh… kau tadi diantar olehnya?” tanya Byunghee oppa terkejut, “Kemajuan sekali ya untuk hubungan kalian berdua.”

Iiiiiiih oppa ku itu apa-apaan sih?? Kenapa dia bilangnya ‘hubungan’?? *shy* “Jangan bilang begitu oppa, sunbae belum tentu menyukaiku juga. Lagipula, sampai saat ini dia hanya…. Sumber inspirasiku.”

“Sumber inspirasi? Maksudmu kau menyukai Seungho karena ia…. Bagus untuk dijadikan objek menggambarmu??” suara Byunghee oppa meninggi diluar dugaanku sehingga membuatku agak terkejut sekaligus takut.

“Mian… mianhanda oppa, aku tak bermaksud untuk berkata seperti itu.” Ucapku lemah, “Tapi tolong jangan bilang sama dia ya, aku tidak mau ia menjauhiku.”

“Oh… tidak kok,” jawab Byunghee oppa yang suaranya berubah lagi menjadi santai, “Aku merasa tertandingi. Secara aku yang sering menjadi sumber inspirasimu.”

GUBRAK~!! What the…. “Aish oppa, kau membuatku takut~!!” jawabku kesal, “Lagipula, oppa kan yang minta dilukis olehku? Oppa bukan sumber inspirasiku tau. Sumberku adalah kedua orangtuaku.”

“Ya… terserah kau mau bilang apa.” Jawab Byunghee oppa sambil tertawa tawa menggoda, “Yang jelas kamu jangan terlihat seperti mendekatinya. Seungho adalah namja yang terkadang suka jual mahal, jadi… dekati dia sekali-sekali saja.”

Aku merebahkan diri di tempat tidur dengan kepala yang pusing, “Ahhh bagaimana bisa sih oppa menyuruhku seperti itu? Apa oppa belum pernah mengagumi seseorang hah??” ujarku kesal, “Nanti kalau tiba-tiba ada yang mendekati oppa dan menyukai oppa, tidak usah minta bantuanku ya.”

“Hahahahahaha tidak mungkin ada yeoja yang seperti itu, kalau ada pun rasanya sedikit sekali.” Jawab Byunghee oppa mengejek.

“Kalau ada… oppa belikan aku pizza ya? yang ukuran 2-3 orang saja.” Jawabku santai. “Aku yakin kok ada satu yeoja yang menyukai oppa tapi ia tidak menunjukkannya. Kalau suatu saat nanti ia menyatakan sesuatu pada oppa…. Ingat pesananku tadi ya? hehehehe.”

“Arraseo arraseo, ckck” jawab Byunghee oppa yang kalah debat denganku, “Tidur sana, besok ka nada tugas melukis lagi di kampus. Aku tidak mau menunggumu lama-lama, oke?”

Byunghee oppa menutup pembicaraan dan aku mulai menarik selimutku tinggi-tinggi… ah~ lupakan euphoria ini, Hwang Dain~~~

~~~~~

Cho Hyori story…

“Hyori-sshi… mianhae, aku sangat bodoh sehingga hampir menuruti kemauan Joon hyung. Aku tidak akan mau kehilangan kamu lagi.”

Cheondung oppa memelukku erat-erat hingga tak terasa airmataku jatuh karena bahagia. Kami berpelukan cukup lama dalam rangka merayakan hari jadi kami yang sudah 28 bulan. Seperti biasa, kami meryakannya di jembatan sungai Han yang sepi pada pukul 6 pagi; tempat dimana kami pertama kali bertemu.

“Nee oppa, aku tidak akan pernah jauh darimu.” Aku mengangguk pasti sambil tersenyum senyum, “Ahahahaha… oppa, kamu begitu lucu~!!”

Cheondung oppa tersenyum memamerkan gigi-gigi kecilnya sambil masih memelukku, “Entahlah, aku bisa jadi begini kalau terlalu serius.”

“Yasudahlah, lupakan saja deh kejadian yang hampir membuat kita…” aku menyilangkan tangan di leherku sambil menjulurkan lidah, “Lalu… Joon oppa bilang apa?”

“Dia minta maaf karena telah melakukan hal itu padaku, dia sebenarnya tidak ambil serius tentang masalah ini. Tapi ia merasa sangat bersalah pada kita,” jawab oppa, “Oh iya, bagaimana Dain tahu nama aslinya Lee Joon hyung?”

Aku menggeleng, “Mollaeyo. Aku tidak memberitahunya, bahkan aku tidak pernah tahu nama asli Joon oppa.” Jawabku. “Memangnya kenapa? Apa nama itu sangat menyeramkan sampai-sampai tidak boleh disebutkan?”

“Bukan seperti itu juga sih,” jawab Cheondung oppa sambil menggaruk garuk kepalanya, “Joon hyung sangat tidak suka kalau ada yang tahu nama aslinya selain keluarga, dosen, guru, dan teman dekatnya.”

Aku  termenung dengan perkataan oppa barusan, “Apa….. akan terjadi sesuatu dengan Dain-sshi?”

“Mollaeyo jagiya.” Jawab Cheondung oppa sambil mengelus elus rambutku, “Biasanya Joon hyung akan memukul seseorang yang memanggilnya dengan nama aslinya, lalu memperingatkannya.”

Aku terkejut mendengar perkataan oppa barusan, “Memukulnya?? Yak, kita tidak isa membiarkan Dain dipukul kan oleh Joon oppa?! Memang sih Dain agak tomboy dan dia sudah sering ‘dipukuli’ oleh Byunghee sunbaenim. Tapi kan……”

“Tenang tenang…. Tidak mungkin kan Joon hyung memukul seorang yeoja? Dia tidak segila itu, aku mengenalnya dari kecil.” Kata Cheondung oppa menenangkanku, “Oh iya, sekarang kita mau kemana nih?”

Aku menggeleng geleng tidak tahu. Hari ini hari minggu, jadi aku bebas kemana saja. Lagipula keluargaku sudah tahu kalau setiap tanggal ini, aku pasti ke jembatan sungai Han bersama Cheondung oppa. Jadi mereka tidak akan mencariku lagi.

“Emmmmmm bagaimana kalau ikut denganku ke studio saja? Aku latihan hari ini,” jawab Cheondung oppa bersemangat, “Kami baru saja bikin lagu baru untuk manggung bulan depan. Ada Nana-sshi kok, ikut ya?”

“Nee, baiklah kalau begitu.” Jawabku gembira, “Tapi…. Kenapa kita tidak makan-makan saja dulu? Ini kan hari jadi kita yang ke 28 bulan. Ayo dong, aku lapar nih~~”

“Aku tidak bawa dompet jagiya, maaf ya. hehehehehe.” Jawab Cheondung oppa sambil terkekeh kekeh sehingga membuatku ingin menggebuknya.

“Ya kalau begitu ke rumahmu lah, ambil dompet.” Jawabku gusar, “Aku lapar nih~~ atau minta tolong buatkan makanan sama Sandara unnie saja. Dia sedang tidak pergi kan?”

“Yah, intinya kita kembali ke rumahku dulu kan?” tanya Cheondung oppa memberantaki poniku, “Kaja…. Kalau tidak, noona keburu pergi.”

Aku segera naik ke atas motor oppa dan melaju ke rumahnya….

~~~~~

Jung Byunghee story…

‘Aku yakin kok ada satu yeoja yang menyukai oppa tapi ia tidak menunjukkannya’

 

Hem? Kenapa aku jadi memikirkan perkataan Dain tadi malam ya?

“Byunghee-sshi, kenapa kau diam saja? Kau tidak mau mencoba untuk menyanyikannya?” tanya Seungho yang sedang memainkan senar senar gitarnya.

“Istirahat sebentar,” jawabku sambil memegangi dahi, “Hidungku bisa mimisan kalau bernyanyi terus-terusan. Tidak apa-apa kan?”

Seungho mengangguk, “Tapi kuakui suaramu bagus kok, Byunghee-sshi. improvisasimu di bagian-bagian yang falset sangat sempurna, mungkin sesudah ujian akhir ini.. kita bisa bekerja sama untuk memeriahkan acara kampus.”

“Gamsahabnida.” Jawabku sambil setengah tertawa, “Aku harap saat ujian akhir, kau bisa membantuku seperti tadi.”

“Sayangnya aku tidak bisa.” Tiba-tiba Seungho mengatakan sesuatu yang sukses membuatku patah hati, “Aku belum bilang ya? jesonghabnida, aku juga ada ujian tertulis. Membuat sebuah akord dari lirik-lirik yang diciptakan oleh anak-anak jurusan vokal.” Jawab Seungho santai.

Kepalaku rasanya ingin meledak, sudah 2 bulan aku berlatih dengannya dan kini ia hendak membatalkannya?! “Yak!! Apa maksudmu dengan semua…”

“Wohoooo tenang dulu Byunghee-sshi.” jawab Seungho yang kerah bajunya sudah ada di dalam genggaman tanganku, “Aku membawa seseorang yang bisa menggantikanku. Kemampuan gitarnya bahkan lebih bagus dariku. Hyoni-sshi, masuklah..”

Seseorang membuka pintu ruangan pelan-pelan, dan terlihatlah kini sesosok yeoja berdiri di depanku. Yeoja itu memiliki rambut yang ikal dengan poni yang rata dan menggantung di dahinya, terlihat acak-acakan sih….. tapi itulah ciri-ciri seniman *elus elus dagu*

Ia membungkuk dalam dan mengeluarkan suaranya yang seperti pengisi dubbing anime, “Annyeonghaseo Seungho oppa, jadi…. Em….. ada yang bisa aku bantu?”

“Kemarilah Hyoni-sshi.. jangan gugup begitu,” jawab Seungho dengan wajah yang sepertinya agak jahil, “Berjabat tanganlah dengan chinguku, dia yang bernama Jung Byunghee…”

Entah kenapa, wajah yeoja yang namanya Hyoni itu jadi agak gusar setelah Seungho mengatakan hal seperti itu, “Aish aku sudah tahu kalau beliau um…… Byunghee sunbaenim. Annyeonghaseo.”

Tangannya terlihat gemetar saat diulurkan ke arahku. Aku langsung saja mengambil tangannya sehingga kami resmi berjabat tangan, ia begitu terkejut melihat sikapku barusan. Ada apa sih dengannya? Kenapa ia begitu gugup sampai-sampai tangannya dingin dan gemetaran seperti itu?

“Maafkan Hyoni ya, dia yeoja yang agak pemalu.” Jawab Seungho sambil tersenyum senyum lagi, “Tapi kalau kau melihat ia bernyanyi dengan gitar, kau seperti menonton konser IU. Pegang sumpahku,”

“Oppa~!!” jawabnya dengan wajah yang tidak berhenti merona. Sepertinya Seungho menggodainya ya? “A…. aku tidak sehebat IU kok, tapi…. Paling tidak… aku bisa sedikit mempelajari lagu yang akan sunbae nyanyikan mulai hari ini.”

“Kureyo…” jawabku mantap, “Jadi…. Kau ada waktu sampai jam 3 sore hari ini? Aku ingin kita melatih lagu ini sampai kau terbiasa.”

Hyoni mengangguk dengan wajah yang gembira tanpa menghilangkan rona wajahnya. Melihat mukanya, tiba-tiba aku teringat perkataan Dain lagi..

‘Aku yakin kok ada satu yeoja yang menyukai oppa tapi ia tidak menunjukkannya’

 

Jangan jangan…. Aish, lupakan~~ saatnya berlatih kembali~!!

~~~~~

Hwang Dain story…

“Oke…. Tinggal 5 menit lagi ya.” ucap dosenku dari meja depan, “Karya yang terbagus akan dipajang di pameran seni bulan depan. Mungkin saja ada yang bersedia untuk membayar lukisan buatan kalian hari ini, jadi… gambarlah semaksimal mungkin.”

Aku menggores cat minyak berwarna merah yang kucampurkan warna pink dalam kanvasku. Entah kenapa, hari ini aku sangat menyukai warna merah, pink, bentuk hati…. Dan… sedikit warna hitam untuk efek bayangan.

Mungkin temanya abstrak, tapi aku tidak peduli kalau dosenku marah-marah karena kanvasku penuh dengan bentuk hati. Aku menyukainya, entah sejak kapan. Padahal biasanya aku membenci warna pink, dan bentuk hati yang menurutku sangat feminim dan lembek.

“Oke.. sudah selesai,” gumamku dalam hati. “Sepertinya aku bakal jadi yang pertama mengumpulkan… aish~~!!”

Dari balik kanvas, aku melihat sesosok namja terseksi di seluruh kampus, yaitu Lee Joon sunbaenim. Masih tetap berjaya meskipun pipinya agak sedikit merah karena bekas tamparanku kemarin malam.

“Eng.. seosangnim… apa ada yang bisa aku bantu?” tanyanya dengan wajah seramah mungkin. Namun kali ini dosennya berbeda dari biasanya, beliau lebih tertutup dengan mahasiswa kampus lain. Jadi ia hanya menggeleng saja untuk merespon namja itu.

Kulihat beberapa mahasiswi sibuk melirik lirik di balik kanvasnya. Astaga, apa maksud napneun namja itu kemari?? Mencari perhatian dari yeoja kah??

Aku maju dan meninggalkan kanvasku, “Seosangnim… aku sudah selesai, bolehkah aku pergi?”

“Nee tentu saja Hwang Dain,” jawab beliau dengan suara yang amat formal, “Jangan lupa cantumkan namamu di daftar hadir.”

Aku menganggu dan segera menulis daftar hadir tanpa menghiraukan Lee Joon sunbae yang wajahnya berubah menjadi sedikit gusar dan segera meninggalkan ruangan.

“Yak~!! Hwang Dain!!” terdengar suara namja yang memanggilku setelah aku keluar dari ruang lukis. Astaga, kenapa Joon sunbae memanggilku??

“N… nee?” jawabku berusaha sesantai mungkin. Ia mendekatiku dengan wajah yang penuh emosi dan dengan tangan yang mengepal. Ia mengatur nafasnya dan mulai bicara padaku.

“Da… darimana kau tahu nama asliku, hah??” tanyanya gusar.

“Hem? Di pinggirian bajumu. Tertulis ‘Changsun’ disana. Memang kenapa?” jawabku berusaha santai, meskipun sebenarnya aku agak emosi juga.

“Itu kan…. Kecil sekali.” Jawabnya dengan muka yang memerah, “Kau tahu apa yang aku lakukan terhadap namja yang memanggilku dengan nama asliku? Aku memukulnya hingga masuk rumah sakit~!!”

Aku mengerutkan alisku dengan heran, “Jadi… sunbae mau memukulku? Silahkan saja. Aku tidak takut, nih…” aku menunjukkan pipiku kea rah wajahnya, aku sudah terbiasa ‘dipukuli’ oleh Byunghee oppa, jadi aku tidak takut…

“Si…. Siraeyo,…. Meskipun kau tidak takut.” Jawabnya sambil menelan ludah berkali kali, “Yeoja macam apa kau? Tidak pernah tertarik olehku, tidak takut denganku, bahkan menamparku.”

“Apa-apaan sih? Sudah ya… aku mau ke gedung music.” Jawabku sambil membalikkan badan dan hendak meninggalkannya. Namun tak kusangka ia menahan pergelangan tanganku, lalu berkata…

“Jadilah yeoja chinguku~!!”