Author : Lolillo

Title : Heart’s Desire

Length : Continue

Genre : fantasy, romance

Cast : Sooyun (own character), Junho (2PM)

Support cast: MBLAQ member & 2PM member (Seungho, G.O, Mir, Joon, Cheondoong, Taecyeon, Chansung, Junsu, Nichkhun, Wooyoung), Jung Jihoon (Rain), Park Jinyoung (JYP), Miss A Min.

Halo! Ini pertama kalinya aku buat FF dan mempublishnya, jadi maaf ya kalo masih banyak banget kekurangannya🙂

Semua karakter di FF ini murni karanganku kok, aslinya mereka nggak jahat dan menyeramkan hahaha😀

Gumawo buat semuanya yang udah nyempetin baca, dan yang ngasih comment juga jeongmal gumawo!😀

Kritik dan saran sangat ditunggu, ya..

Happy reading!😀


Part 9

                “Sooyun-ah!”

“Dan kau,” Junho menghentikan langkahnya saat Joon menatapnya dengan tajam, “jangan pernah dekati Sooyun.”

Junho hanya berdiri mematung di tengah lantai dansa saat Joon menarik paksa Sooyun ke sudut ruangan. Lalu tiba-tiba ada cengkeraman di lengan kirinya, ia menengok, Nichkhun mendorongnya ke sisi ruangan yang lain.

“Nichkhun Hyung,” ia berhenti, “apa yang kau lakukan?”

“Diamlah dan ikut aku.” Jawabnya datar, ia berhenti di balkon dan keempat saudara mereka sudah berkumpul disana.

“Ini… ada apaan, sih?”

“Neo pabo!” Junsu maju dan menampar Junho, meninggalkan rasa panas dan perih di pipi kiri Junho. “otakmu kemana, hah? Kau sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan?!”

“Masih nggak mengerti?” Junsu menatap intens adiknya, “kau baru saja berdansa, dan mencium, adik bungsu keluarga musuh bebuyutan kita. Mereka itu musuh, dan kamu malah mendekati adik perempuannya. Itu sama saja seperti menjatuhkan harga diri keluarga kita, bodoh!”

“Jangan pernah dekati Sooyun jika kau masih ingin berada di keluarga ini. Apa perlu Jinyoung Appa tau perbuatan bodohmu?” Nichkhun menambahkan.

“Lupakan dia.” Bisik Taecyeon tegas.

“Atau lupakan kami sebagai keluargamu.” Tambah Junsu lagi.

Junsu melangkah pergi dengan kesal, disusul Chansung, Taecyeon, dan Nichkhun kembali ke ruangan pesta yang masih riang dan gemerlap. Junho menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap kosong langit malam diatas kepalanya.

Wooyoung merangkulnya dan menepuk bahunya beberapa kali untuk menenangkannya. Junho menoleh, “Ottokhe?”

Ia hanya mengendikan bahu, “aku tidak bisa memberi jawaban. Tetapi, apapun yang akan kau lakukan, aku mendukungmu.”

Junho tersenyum simpul, lalu kembali merenungkan apa yang baru saja terjadi. Ia harus melupakan Sooyun?

*

“Pelayan!”

“Ya, Nona Sooyun, ada yang bisa kubantu?”

“Apa benar ini darah laki-laki?” Tanya Sooyun sambil menunjuk sebotol darah segar di meja makan, pelayan itu mengangguk. Darah dari korban laki-laki disiapkan khusus hanya untuk Sooyun sejak saat ia pulang kembali ke rumahnya.

Sooyun menenggaknya sedikit dan mengecapnya di lidah, “tapi kenapa rasanya hambar?” Tanyanya pada diri sendiri. Ia menenggaknya lagi, dan benar-benar nggak ada rasa yang terkecap di lidahnya. Apa ada yang salah dengan tubuhnya?

“Cheondoong Hyung!” Panggil Sooyun saat ia melihat kakak keempatnya  memasuki ruang makan. “Kesini, deh.”

“Ya! Panggil aku Cheondoong Oppa,” Cheondoong mengacak-acak rambut Sooyun, lalu berjalan ke kulkas untuk mengambil segelas air, “ada apa?”

“Tidak mau.” Sooyun menjulurkan lidah iseng, “Hyung, apa aku terlihat seperti sedang sakit?”

Cheondoong menggeleng cepat, lalu duduk di kursi meja makan yang kosong, “waeyo?”

“Sepertinya syarafku sedang error,” Jawab Sooyun dengan mata menerawang, “aku seperti tidak bisa merasakan apapun.”

“Maksudmu?”

“Aku… tidak bisa merasakan darah ini, rasanya hambar.”

“Uhuk uhuk uhuk,” Cheondoong spontan tersedak, tentu saja rasanya hambar, Sooyun kan sudah mempunyai ikatan darah dengan Junho. “Mungkin… kau meminum darah perempuan?” kilahnya. Sooyun nggak boleh ingat ia mempunyai Ikatan Darah.

“Aniyo, kata pelayan, ini darah laki-laki.”

“Ah, mungkin, darahnya saja yang kualitasnya kurang baik,” Cheondoong menjawab cepat, “kau tidak berlatih, Sooyun-ah?”

“Oh iya! Aku hampir lupa sekarang sudah jam latihan, aku ganti baju dulu, Hyung.” Sooyun menenggak darah di gelasnya hingga habis dengan tersenyum pahit, lalu berlari kecil menuju kamarnya. Meninggalkan Cheondoong yang masih duduk di kursi, termenung.

“Ya! Kenapa wajahmu begitu bingung?” Mir melintasi ruang makan dan penasaran dengan apa yang sedang kakaknya lakukan ini. Ia duduk di hadapan Cheondoong dengan santai.

“Sooyun.”

“Kenapa dia?”

“Dia mengira dia sakit karena darah yang ia minum rasanya hambar. Huhhh, aku bingung harus menjawab apa.”

“Tapi sepertinya dia benar-benar lupa kalau itu terjadi karena dia sudah terikat dengan Junho.” Mir menimpali enteng.

“Tentu saja, G.O Hyung kan sudah menghapus semua ingatannya tentang Junho dan seluruh keluarganya. Tapi, aku takut ia terus bertanya-tanya dan kemudian mengingat semuanya lagi.”

“Nggak usah takut, kemampuan G.O Hyung untuk memblokir pemikiran seseorang kan tidak perlu diragukan lagi.” Mir menepuk-nepuk pundak Cheondoong. “Hanya saja…”

“Hanya saja… apa?”

“Kurasa, agak nggak adil buat Sooyun kalau kita menghalangi mereka seperti ini. Maksudku, Sooyun sepertinya bahagia dengan… Junho.”

“Heh, kalau sampe Seungho Hyung dengar, ini bisa gawat.” Cheondoong menaruh telunjuknya di bibir, “keluarga kita dan keluarga mereka nggak akan pernah bisa berdamai, nggak akan pernah bisa bersatu. Itu artinya, Sooyun dan Junho juga nggak akan pernah bisa bersatu.”

Mir mengangguk pelan tanda mengerti.

“Lagipula, banyak vampir laki-laki yang bertebaran di Winter Ball kemarin, kenapa Sooyun harus tertarik dengan Junho, sih?”

*

                Bruk! Seungho terkapar di lantai dengan nafas tersengal-sengal setelah Sooyun melakukan serangan kecil yang mengunci gerakan Seungho dan menyengkatnya hingga ia kehilangan keseimbangan. Dan Sooyun kembali ke posisi kuda-kudanya.

Semua yang ada di ruangan latihan sore itu ternganga, Jung Jihoon tersenyum.

“Aku bisa melihat perkembanganmu, Sooyun-ah. Bagus, teruslah berlatih.” Jihoon bangkit dari duduknya, lalu meninggalkan ruangan itu.

“Hyung! Gwaenchana?” Sooyun mengulurkan tangannya untuk membantu Seungho berdiri. Seungho menyambut uluran tangannya dan berdiri dengan cepat.

“Bagus, bagus. Aku bangga melihat kemampuanmu sekarang.” Seungho mengacak-acak rambut Sooyun yang ia ikat ke belakang, “aku bahkan kali ini tidak mengalah, lho.”

“Gumawo, Hyungnim.” Sooyun tersenyum bangga.

“Kurasa, kita kembali melihat Sooyun yang dulu. Yang keras dan ambisius untuk mengalahkan musuhnya.” Bisik Joon ke G.O yang berdiri di sebelahnya sambil tersenyum.

“Bukankah itu bagus? Daripada kita harus melihatnya jatuh cinta dengan laki-laki yang salah.” Jawab G.O simpel.

Selesai berlatih, Sooyun membersihkan diri dan kemudian berlari ke dapur untuk mengambil segelas darah, ia benar-benar merasa tenaganya terkuras habis dan kelelahan. Bola matanya juga sudah berubah warna menjadi biru berkilauan.

Diraihnya sebotol darah dengan label laki-laki dan dibawanya ke meja patio. Sooyun duduk di kursi tinggi patio dan menenggak darah di botolnya. Dan seperti biasa, tidak ada rasa apa-apa yang lidahnya rasakan. Harusnya ada rasa manis yang menyenangkan di lidahnya. Tapi ini tidak ada sama sekali.

“Nona Sooyun, kau tidak apa-apa?”

“Eh?” Sooyun tersadar dari lamunannya karena kepala pelayan tiba-tiba berdiri di depannya dengan wajah cemas. “Aku… tidak apa-apa. Memangnya kenapa?”

“Wajah Nona… seperti sedang memikirkan sesuatu.” Jawab wanita yang sudah berumur ini dengan sopan.

“Aku… sedang bingung. Setiap kali aku meminum darah, kenapa rasanya hambar ya? Kukira kualitas darahnya yang memang buruk. Tapi ini sudah berlangsung berkali-kali. Dan kurasa, yang salah adalah lidahku, atau sistem syarafku.”

Sang kepala pelayan berpikir sebentar, “kurasa hal itu mungkin saja terjadi… karena hal itu adalah sebuah gejala kalau vampir…” Kata-katanya terhenti.

“Kenapa? Ada apa dengan vampir yang tidak bisa merasakan rasa darah di lidahnya?” Tanya sooyun penasaran.

“Itu hanya akan terjadi pada vampir yang… terikat.”

“Terikat?” Sooyun mengerutkan keningnya, “Maksudmu?”

“Hmmm, aku kurang yakin ini sebenarnya nyata atau hanya mitos saja. Tapi ada sebuah cerita tentang sesuatu bernama Ikatan Darah.”

“Eh?”

“Itu terjadi diantara dua vampir berbeda gender, jika kedua vampir itu pernah menghisap darah masing-masing, maka mereka secara langsung akan terikat. Mereka akan semakin dekat dan akan kehilangan selera dengan darah lain.”

“Kenapa begitu?”

“Karena darah yang nikmat di lidah mereka hanya darah vampir yang sudah pernah mereka hisap.” Ia berhenti berbicara, lalu menatap Sooyun, “mungkin… Nona mempunyai Ikatan darah dengan vampir lain?”

“Hah?” Sooyun terbelalak, ia terikat dengan vampir lain? Tapi bagaimana caranya? Sooyun tidak ingat ada vampir yang pernah menghisap darahnya.

“Atau mungkin, Nona pernah merasa… hanya ingin meminum darah seseorang? Dan keinginan itu semakin lama semakin kuat. Nona hanya ingin darah­nya.”

Sooyun mencerna semua perkataan kepala pelayan itu, berusaha memikirkannya. Memang saat ia sangat haus darah, ia menginginkan darah, bukan sembarang darah laki-laki. Tapi ia tidak ingat darah siapa yang ia inginkan.

“Arrrghhh,” Sooyun memegangi kepalanya yang terasa sakit, ia memaksakan diri untuk mengingat suatu hal yang tidak pernah ia tau.

“Nona,” kepala pelayan itu memegangi kedua telapak tangan Sooyun, “lebih baik kau istirahat. Mungkin saja kau hanya terlalu lelah.”

“Ne,” Sooyun beranjak dari duduknya, “mungkin… aku terlalu keras berlatih. Terimakasih atas informasi yang kau berikan.”

Sang kepala pelayan membungkuk, lalu mengantar Sooyun ke kamarnya. Meskipun badannya terasa lelah, namun kata-kata sang kepala pelayan terus terngiang-ngiang di kepala Sooyun sepanjang malam.

*

                “Eh?” Sooyun mengerutkan keningnya heran saat ia menengok ke bawah tempat tidurnya dan menemukan sebuah benda disana. Ia merogohnya dan menemukan sebuah kalung, kalung dengan rantai berwarna hitam dan bandul berbentuk bintang berwarna putih.

Kalung apa ini? Aku nggak ingat pernah memilikinya…

Di dalam kepala Sooyun seakan seperti potongan-potongan film diputar kembali, kalung yang digenggamnya seperti familiar. Kalung ini melingkar di lehernya, tidak bisa lepas, bahkan Sooyun pernah melukai lehernya dengan menarik kalung ini dengan paksa.

Tapi, kenapa?

                “Sekeras apapun kamu berusaha, kalung itu nggak akan lepas dari lehermu. Jadi, jangan sakiti dirimu sendiri.”

“Karena, hanya aku yang bisa melepasnya.”

                Siapa itu? Siapa yang bisa melepaskan kalung ini? Sooyun menatapi kalung di genggaman tangannya. Rantainya putus karena diputus dengan paksa. Seketika itu ia ingat, ia memutuskan dengan paksa kalung ini dengan pisau. Ia membenci pemberi kalung ini. Tapi kenapa?

Sooyun merabanya, dan menyadari sesuatu di kalung ini. Beberapa bagian di rantainya ternoda, ada bekas merah kehitaman di rantai dan bandulnya. Ini… darah yang mengering? Kenapa bisa ada darah di kalung ini?

Sekelebat Sooyun mengingat suatu malam di ruangan yang asing, ada yang maraih lehernya, dan menancapkan taringnya ke leher Sooyun. Bahkan saat otaknya menggambarkan kejadian itu, rasa sakit seakan masih menjalari seluruh tubuhnya. Namun Sooyun tidak bisa melihat wajah vampir yang menggigitnya. Semua begitu gelap.

Siapa itu? Kenapa aku nggak bisa mengingatnya sama sekali?

Aku… harus mencari tau tentang hal ini.

*

Malam yang meriah, di FlyingFish. Sooyun menyamarkan wajahnya dengan menggerai seluruh rambutnya, tidak mengikatnya seperti buntut kuda seperti biasanya. Ia menajamkan pandangan ke sekitarnya, mencari tau dimana para Hyung nya berasa sehingga ia tau harus bersembunyi dimana. Mereka berlima tidak boleh tau Sooyun mengendap-endap kesini. Sampai mereka tau, nasib Sooyun benar-benar buruk.

Clueless, Sooyun memutuskan untuk menepi ke bar, ia duduk di salah satu kursi tinggi dan mengamati keadaan di dalam ruangan.

“Sooyun!” Sapa Min si bartender dengan ceria seperti biasanya, “mau pesan apa?”

“Eh?” Sooyun menoleh heran, bartender ini mengenalku? Tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali?

“Kau… kenapa?”

“Apa kau mengenalku?” Tanya Sooyun hati-hati.

Min tertawa canggung, “tentu saja. Kau kan selalu mengobrol denganku jika kau datang ke sini. Kau… masa’ kau lupa? Tidak ingat sama sekali?”

Sooyun menggeleng lemah.

Min memusatkan pikiran dan melihat ke dalam isi pikiran Sooyun, ada sesuatu yang hilang disana. Dan itu sengaja dihilangkan.

“Kalau begitu, aku akan mengingatkanmu. Namaku Min, aku bartender disini, dan kita sering mengobrol setiap kali kau datang ke FlyingFish. Coba kau ingat-ingat.”

Sooyun berpikir keras, berusaha menjelajahi pikirannya. Namun vampir cewek di hadapannya ini benar-benar asing.

“Kita pernah membagi dua darah seorang laki-laki hispanik, dan itu darah laki-laki pertama yang kau minum. Kau harus mengingatnya, Sooyun-ah.” Lanjut Min, siapa yang berbuat seperti ini kepadanya? Memblokir pikirannya dengan sengaja.

“Mian,” Sooyun membungkuk lemah, “aku benar-benar tidak ingat.”

“Gwanchanayo,” Min mengembangkan senyumnya, “anggap saja kita baru berkenalan hari ini. Akan kubuatkan minuman tidak beralkohol untukmu, seperti yang biasa kau minum.” Dengan cekatan Min meracik sebuah minuman dan menyodorkan segelas minuman berwarna jingga.

“Gumawo,” Sooyun menenggaknya sedikit, “Aku masih penasaran dengan perkataanmu, memangnya aku sering kesini dan mengobrol denganmu?”

Min mengangguk, “Dulu, pertama kali kau kesini, kau menyamar sebagai laki-laki. Kau mengingat itu?” Sooyun menggeleng lemah.

“Hmmm… Lalu suatu hari, kau dan kakakmu terlibat perkelahian di lorong sana dengan 2 orang laki-laki. Dan, mereka membawamu pergi. Kau mengingatnya?”

Sooyun terbelalak, “Jinjja? Aku bahkan tidak ingat aku pernah mengalami kejadian itu. Sungguh aneh, apa mungkin… kau salah mengenali orang?”

“Tidak mungkin,” Min menjawab dengan yakin, “Dan kau pasti tidak ingat tentang vampir laki-laki yang menggigitmu.”

Vampir laki-laki yang menggigitku? Sooyun terperanjat, “Kau tau siapa dia?”

“Eh?” Min menaikkan alisnya heran, “kau… bisa mengingatnya?”

“Aku… tidak ingat, tapi… Aku… aku merasa pernah ada vampir yang menggigitku. Tapi aku tidak bisa mengingat seperti apa wajahnya dan siapa dia.” Tutur Sooyun terbata-bata.

Min mengingat sesuatu, “Winter Ball! Kau ingat kan kalau kau menghadiri Winter Ball?”

Sooyun mengangguk.

“Apa kau ingat dengan apa yang terjadi disana?”

“Tidak ada apa-apa, hanya makan malam mewah, lalu obrolan-obrolan kurang penting. Dan banyak orang yang nggak kukenal karena itu pertama kalinya aku datang ke pertemuan vampir seperti itu.”

Min menghela nafas berat, Siapapun yang memblokir ingatannya, sepertinya ia ingin Sooyun lupa dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Junho… “Hei, kau tidak apa-apa?”

Sooyun memegangi kepalanya dengan kedua tangan, rasanya kepalanya ingin pecah saat itu juga. Ia berusaha mengingat banyak hal yang dikatakan Min, tapi di sudut manapun di otaknya, ia seeperti tidak bisa menemukan memori itu.

“Aku… ke kamar mandi dulu.” Sooyun beranjak dari duduknya dan hilang diantara kerumunan di ruangan FlyingFish.

“Min, berikan aku tequila.”

Min menoleh, dan mengerutkan dahinya bingung, “Junho? Kau… memesan tequila? Apa aku nggak salah dengar?”

Junho memejamkan matanya dan memijat pelipisnya pelan, “aku butuh sesuatu yang menenangkan, hari-hari ini begitu gila. Dan rasanya saat ini aku mulai berhalusinasi.”

“Maksudmu?”

“Sooyun. Kau tau kan bagaimana saudara-saudaraku melarangku bersama gadis itu. Ia datang ke pikiran dan mimpiku setiap hari, itu membuatku frustrasi. Dan waktu aku datang kesini, aku bahkan berhalusinasi mencium bau darahnya. Sebentar lagi aku bisa gila.”

Min tersenyum tenang, “kau tidak berhalusinasi, Junho-yah. Dia memang ada disini.”

“Jinjja?” Junho memandang Min penuh tanya, “dimana dia?”

“toilet.” Jawab Min enteng, “Ya! Jangan temui dia.” Larang Min ketika Junho beranjak dari duduknya untuk mencari Sooyun.

“Kenapa?”

“Dia tidak mengenalmu.”

“Apa Maksudmu?”

“Seperti saudara-saudaramu, kelima kakaknya juga tidak mengizinkan dia berhubungan denganmu. Sepertinya, salah seorang dari kakaknya memblokir pikirannya dari segala hal tentangmu. Bahkan, Sooyun tidak mengenalku saat dia kesini.”

Junho menghela nafas, “aku tidak perduli. Aku akan mencarinya.” Junho melangkah pergi dan berbaur dengan kerumunan orang di lantai dansa. Sooyun-ah, dimanakah kamu?

*

                “Kau baik-baik saja?” Tanya Min saat Sooyun kembali, Sooyun mengangguk pelan kemudian kembali duduk dan menyesap minumannya.

“Hey, Min-ssi, kenapa… kau sepertinya tau banyak tentangku?” Tanya Sooyun hati-hati.

“Sudah kubilang kan, aku sudah mengenalmu lama. Dan kekuatanku itu membaca pikiran dan masa lalu seseorang.”

“Oh ya? Kalau begitu, apa yang kau lihat ada di pikiranku?” Sooyun menatap Min penasaran. “Tolong ceritakan apa yang kau tau tentangku dan hal-hal yang tidak bisa kuingat.”

Min memutar matanya, “kau memiliki Ikatan Darah dengan Junho. Maka dari itu kau tidak bisa merasakan darah lain, dan darah yang kau inginkan hanya darah Junho. Kau merasa semua darah yang kau minum hambar, bukan?”

Wow, dia benar-benar tau, Sooyun terperanjat, “lalu… soal vampir itu… Junho… siapa dia?”

“Dia saudaraku,” Jawab Min enteng, “Kau pernah diculik oleh dia dan kelima saudaranya. Dan suatu malam Junho pernah kehilangan kendali atas dirinya, menghisap darahmu dengan paksa, lalu kau menghajarnya, kabur, dan kembali ke rumahmu.”

Di kepala Sooyun seperti ada proyektor yang menayangkan kejadian di malam hari itu, ia bisa melihat dengan samar-samar, namun ia masih nggak bisa melihat wajah si penghisap darahnya. “Aneh, kenapa aku nggak bisa mengingat wajahnya?”

“Karena ada yang dengan sengaja memblokir pikiranmu.” Bisik Min. “Agar kau nggak bisa mengingatnya lagi.”

“Apa?”

“Dan kau juga pernah menghisap darah Junho, maka dari itu kalian memiliki Ikatan Darah.”

Kepala Sooyun terasa berputar hebat, setiap kali ia berusaha mengingat akan hal itu, kepalanya sakit luar biasa. “Aku… lebih baik aku pulang. Terimakasih telah memberitauku banyak hal, Min-ssi.”

Dengan bergegas Sooyun membelah kerumunan orang-orang, mencari pintu keluar dan tiba-tiba hidungnya mencium bau darah yang menggelitik indera penciumannya. Bau darah ini? Kenapa rasanya aku begitu merindukan bau darah ini? Baunya semakin dekat… Bruk, ia menabrak seseorang yang lebih tinggi darinya

“Mianhae—”

“Sooyun?”

“Eh?”

Mata Sooyun melebar saat orang yang ia tabrak spontan memeluknya. Junho tidak tau apa yang harus ia perbuat selain memeluk Sooyun. Ia mendekap tubuh Sooyun erat dan tersenyum lebar saat ia tau ia tidak berhalusinasi mencium bau darah Sooyun.

“Aku…” Junho melepaskan dekapannya, “senang bisa bertemu kau disini.”

Sooyun menatap Junho heran, ia mengerutkan keningnya, “kau… siapa?”

DEG.

*