Author: Lee Hyungseo
Title: If I was A Demon…
Length: Chapter 3 of 7 (abt 1930 words)
Genre: Action, Angst, Drama, Romance
Summary: Rahasia yang bocor. Penyerangan. Sebuah invasi besar-besaran yang meluluhlantakkan markas pusat milik Siwon. Melukai semua orang, dan menghilangkan nyawa banyak orang tak bersalah.
Author’s Notes: Fic ini udah pernah di-publish di Faebook dan di Fanfiction.net  (http://www.fanfiction.net/u/2862160/Lee_Hyungseo)

LEE Hyungseo menghabiskan sisa vanilla latte di cangkirnya dengan sekali teguk. Vanilla latte tak pernah terasa seperti vanila, Hyungseo membatin. Setelah tiga puluh menit yang panjang dalam ruang interogasi yang dingin, perempuan itu akhirnya bisa merasa lega karena bisa menghirup udara yang normal lagi. Untungnya, biar sekaku apapun markas utama itu, tempat itu masih memiliki kantin yang bagi Hyungseo sangat manusiawi. Setidaknya, dua cangkir vanilla latte hangat bisa mengurangi stresnya.
“Hyungseo-sshi?”
Hyungseo langsung terlepas dari lamunannya begitu menyadari ada yang berbicara dihadapannya. “Eh? Ryeowook-sshi? Sejak kapan duduk disitu?”
“Sejak sepuluh menit yang lalu. Tapi kau melamun terus.”
“Oh, itu… aku tidak mau membahasnya,” ujar Hyungseo enggan.
“Siwon-hyung tidak memberitahu kami kalau ia menghubungimu.”
“Aha.” Hyungseo mendengus kesal. “Tidak biasanya dia menyebalkan begitu.”
“Mungkin karena kau memang masih dibutuhkan disini, Hyungseo.”
“Tidak, terima kasih.”
“Tapi, kau cukup hebat—”
“Terakhir kali aku bekerja disini,” potong Hyungseo. “Sekelompok mafia mengebom rumahku sampai hancur, Ryeowook-sshi!”
“Itu karena—”
“Adik-adikku dirawat di rumah sakit, semua kucing peliharaanku mati, koleksi venus flytrap-ku hancur lebur!”
Ryeowook menggaruk-garuk kepalanya. “Baik, baik, aku tahu. Hanya saja…”
“Memangnya mereka pikir berapa biaya yang kuhabiskan untuk membangun rumah itu?”
“Hyungseo…”
“Semua kucingku mati, padahal makanan mereka masih satu dus!”
“Err… Hyungseo?”
“Aku sampai harus kerja part-time siang malam untuk biaya rumah sakit!”
Sekarang Ryeowook benar-benar merasa kebingungan. “Aku mengerti…”
“Mengerti apanya? Koleksi venus flytrap-ku ada lima belas pot, Ryeowook-sshi!”
Entah kenapa, Ryeowook merasa seperti sedang dihujami bom atom. “Lalu, respon Siwon-hyung?”
Hyungseo menggebrak mejanya. “Enteng sekali dia menyuruhku tinggal di rumah Youngna!”
“Mau komplain?”
“Ya!” jawab Hyungseo lantang. Sedetik kemudian ia baru menyadari yang tadi itu bukan suara Ryeowook. Ia dan Ryeowook sama-sama menoleh. Dan di ambang pintu, terlihatlah seorang Choi Siwon yang tampak menyeramkan.
“Eee… Siwon-ah? Sejak kapan disitu?”

xxXxx

SALAH satu tempat yang paling sepi dalam gedung markas utama adalah basement, tempat paling dasar yang tak pernah terkena cahaya matahari. Puluhan mobil terparkir rapi, mulai dari mobil-mobil yang biasa melaju di jalan-jalan pada umumnya, sampai kendaraan-kendaraan yang hanya bisa dilihat di waktu perang.
Seorang karyawan memarkir Hyundai-nya di deretan paling pojok sebelah barat basement. Setelah memastikan mobilnya terkunci dengan aman, ia berjalan dengan yakin sembari menggenggam gulungan dokumen yang ia sendiri tidak tahu apa isinya. Karyawan itu mengeluh, meratapi nasibnya yang miris—sekalipun ia sudah bekerja di instansi pemberantas terorisme, setahun belakangan ini kehidupannya hanya terasa layaknya seorang kurir. Pekerjaannya menjadi terlalu sederhana—mengantar dokumen yang ia sendiri tak pernah tahu isinya.
Karyawan itu menghentikan langkahnya sesaat setelah ia merasa seperti habis mendengar suara seseorang. Ia berbalik, namun tak ada siapapun disana. Karyawan itu mengangkat bahunya, lalu berjalan lagi. Ia kembali mengecek dokumen yang dibawanya. Mulutnya pun mengumpat pelan ketika ia menyadari ada beberapa dokumen yang tertinggal di mobil. Karyawan itu pun memutuskan untuk kembali lagi ke tempat ia memarkir mobilnya tadi. Tapi naas, baru saja ia ingin membuka kunci pintu mobilnya, sebuah mobil yang diparkir tepat disamping Hyundai-nya meledak, melontarkan benda-benda di sekelilingnya dan mengepulkan api yang besar. Beberapa detik kemudian, mobil-mobil yang lain ikut meledak satu-persatu, hingga akhirnya basement itu luluh lantak seketika.
Dari balik asap yang mengepul, beberapa orang berpakaian hitam dan bertopeng berjalan dengan yakin menuju lantai atas.
Lee Donghae, sang pemimpin, menggenggam senapan mesinnya dengan perasaan berkecamuk. Ia menghabisi siapapun yang mereka temui di gedung itu. Karyawan, agen teknisi, siapapun. Orang-orang itu tewas begitu saja, bahkan sebelum mereka sempat melihat sosok Donghae secara tak pernah sebrutal ini sebelumnya. Hanya saja, sekali lagi, ia merasa tak punya pilihan lain selain menghabisi orang-orang yang menghalangi jalannya, sekalipun itu semua bukan keinginan dari dirinya sendiri.
“Bunuh siapapun yang kalian temui,” ucap Donghae dingin. “Habisi! Aku tidak ingin ada yang tersisa!”
Kyuhyun yang masih mempersiapkan fireflamer-nya tertawa. “Berarti tidak salah aku menyiapkan yang satu ini.”
“Heh… kau mau membakar orang-orang itu satu-persatu?” tanya Sungmin.
“Lebih baik daripada hanya menembak dari jauh. Tak ada darah atau jeritan kesakitan…”
Donghae menoleh. “Kita disini bukan untuk menyiksa orang-orang di gedung ini, Kyu.”
Kyuhyun memutar bola matanya, sebal. “Aku tahu.”
Tanpa memedulikan jawaban Kyuhyun, Donghae berjalan lagi dengan cepat. Lagi-lagi beberapa orang karyawan muncul dari balik pintu, dan secepat itu pula Donghae menembaki mereka. “Eunhyuk-hyung, siapkan ledakan berikutnya.”
“Ledakan selanjutnya,” kata Eunhyuk. “Dua menit dari sekarang.”
“Aku ingin lantai ini bersih. Kalian tahu maksudku? Benar-benar bersih dari tanda-tanda kehidupan,” ujar Donghae ringan. Begitu ringannya sampai ia sendiri tak menyangka dapat bicara begitu.

xxXxx

SEMENTARA itu, di salah satu sudut lantai satu yang tak terkena ledakan, Lee Youngna merasa agak cemas mengingat bagaimana sikap Hyungseo saat menghadapi telepon dari Siwon tadi. Pada akhirnya Youngna memutuskan untuk mengikuti kata hatinya menyusul Hyungseo ke markas utama. Ia sudah hafal jalan belakang mana saja yang sering Siwon gunakan jika tidak ingin bertemu agen-agen teknisi yang agak menyebalkan. Agak jauh, memang. Tapi Youngna sudah terbiasa dengan semua itu. Ia hanya berharap Hyungseo tidak akan melakukan hal yang macam-macam yang akan merepotkan dirinya sendiri.

xxXxx

“JADI keputusannya, tetap tidak mau?”
Hyungseo menggeleng. Biar seperti apapun Siwon memintanya untuk kembali bergabung dengan timnya, keputusan Hyungseo tetap sama, tidak ada lagi baku tembak dan semacamnya. Semua itu hanya membuang-buang durasi hidup.
“Lagipula, aku tidak ingin membahayakan Youngna,” ujar Hyungseo.
Siwon menghela nafas panjang. “Yah… aku tidak bisa memaksamu juga.”
“Ya sudah, aku mau pulang.”
“Pulang? Sekarang?”
Yeah,” ucap Hyungseo singkat sembari membereskan bawaannya. Namun baru saja ia berniat untuk pergi, Shindong, salah satu agen teknisi berlari panik kearah mereka. Pemuda tambun itu nampak kelelahan, terlihat jelas dari caranya bernafas dan keringat yang mengucur di dahinya.
“Siwon-ah… kita… kita mendapat kode merah,” ujar Shindong terengah-engah.
“Ada apa lagi kali ini? Kukira sistem keamanan sudah dirubah ke level B.”
“Bom… ledakan di basement, bagian timur lantai satu, dan bagian utara lantai dua…. Kurasa ini tindakan teroris-teroris itu!”
Hyungseo meletakkan lagi tasnya. “Sudah kuduga. Mereka pasti akan datang menyelamatkan anggota mereka itu.”
“Siapkan semua personil!” perintah Siwon. Pemuda tangguh itu menarik nafas, lalu menurunkan nada bicaranya. “Dan Hyungseo, kau ikut serta untuk keadaan darurat ini.”
“Aku?” Hyungseo nampak tak terima.
“Pegang ini,” ucap Siwon sembari menyerahkan sebuah revolver ke tangan Hyungseo. “Hanya untuk berjaga-jaga.”
Hyungseo tak mengangguk. Ia hanya dapat melihat secepat itu Siwon berlalu bersama Shindong entah kemana.
Egois, Hyungseo berucap dalam hatinya. Namun pada akhirnya ia tetap melangkah pergi dari sana menuju ruang markas utama di lantai lima. Ia membelok di pertengahan lorong menuju lobi yang panjang, merasakan sunyi yang menyelubungi tempat itu.
Hyungseo akhirnya tiba di belokan akhir menuju lift. Ia menekan tombol lift yang menuju keatas. Beberapa detik kemudian lift itu berhenti dihadapannya. Begitu pintu lift terbuka, ia menyadari ada yang salah; beberapa orang berpakaian hitam memegang senapan berdiri didepannya. Secara refleks, Hyungseo menghindar. Namun salah satu dari orang-orang itu melempar sebuah granat kearahnya. Sejenak kemudian, Hyungseo tak bisa mendengar apa-apa kecuali suara ledakan dan perasaan sakit di sekujur tubuhnya. Rasanya beberapa potongan puing menghujam tubuhnya yang berlumuran darah.

xxXxx

SETELAH selama beberapa detik mereka berada dalam lift yang sempit, rombongan berbaju hitam itu sampai di lantai lima. Sekitar semenit yang lalu bagian selatan lantai itu meledak, memberi jalan bagi Donghae dan para anak buahnya untuk menerobos masuk lebih dalam menuju ruang markas utama. Setelah berjalan di lobi yang panjang, nampak oleh mereka sebuah pintu besar kelabu. Mereka yakin disanalah Kibum disekap. Donghae pun memberi komando pada Kangin untuk meledakkan pintu itu. Hingga akhirnya setelah dua ledakan yang cukup besar, pintu kelabu itu terbuka, memampangkan sebuah ruangan putih yang menyilaukan. Donghae, Kyuhyun, Eunhyuk, Sungmin, dan Kangin menerobos masuk, menghancurkan segala apapun yang ada disana. Sementara itu dari ujung ruangan, Siwon muncul dari balik meja, menembakkan peluru-peluru Glock 17-nya dengan lantang. Bukan hanya Siwon, Ryeowook dan Shindong pun ikut mengerahkan kemampuan mereka untuk menghentikan kelompok teroris itu. Tapi Siwon tidak yakin mereka akan selamat; Yesung dan Hangeng masih ada di luar sana. Jelas kalau Siwon kalah jumlah, apalagi mengingat Heechul yang sama sekali tidak mahir menggunakan senjata api.

DI lantai empat yang hancur lebur, Lee Youngna benar-benar panik mendapati sepupunya terkapar diantara reruntuhan puing gedung. Pelipis dan keseluruhan tangan kanan Hyungseo basah oleh darah yang mengucur. Matanya terkatup, entah sudah berapa lama Hyungseo pingsan. Akhirnya Youngna berinisiatif untuk memanggil ambulans. Disaat seperti ini, mungkin hanya Rumah Sakit Internasional Busan yang bisa ia percayai.

xxXxx

SEMENTARA itu, satu lantai diatas Youngna, Siwon tengah menghadapi baku tembak yang hebat antara dirinya dan Kyuhyun. Sedangkan beberapa meter di sampingnya, Sungmin juga sedang beradu tembak dengan Ryeowook. Puluhan peluru terlontar dan mengenai apapun yang ada disana. Kilatan-kilatan peluru yang melesat tak henti-hentinya meramaikan suasana tegang itu. Disaat yang sama, Donghae menemukan Kibum di sebuah ruang interogasi yang sempit. Pemuda itu masih terduduk diam dengan wajah menyesal.
Hyung,” panggil Kibum lirih. “Aku… a-aku tidak membocorkan informasi apa-apa pada mereka! Percayalah!”
Donghae yang masih mengatur nafasnya awalnya tak menjawab apa-apa. Ia hanya menatap Kibum dengan tatapannya yang memojokkan.
Hyung! Kau percaya padaku, ‘kan?”
“Aku tidak bisa menjamin perkataanmu. Lagipula kau bukan tipikal orang yang akan bertahan untuk menyimpan informasi tentang keberadaan kita.”
“Itu tidak benar!” bantah Kibum. “Kyuhyun pasti memengaruhimu dengan semua itu—”
“Tutup mulutmu!”
Kibum terkesiap. Donghae tengah mengarahkan sebuah revolver kearahnya, tepat di kepala.
“Aku tahu siapa Kyuhyun!” ucap Donghae, hampir terdengar menjerit.
“Kau tidak tahu! Kyuhyun tidak pernah—”
DOR!
Kalimat Kibum terputus begitu kepalanya benar-benar tertembak. Tapi itu bukan peluru dari pistol Donghae. Ia menyadari seseorang sedang berdiri dibelakangnya. Seseorang yang namanya baru saja ia dan Kibum debatkan.
Cho Kyuhyun.
“Kau yang bilang, ‘kan, semua yang membocorkan identitas harus dihabisi?” tanya Kyuhyun dingin. “Menurutku Kibum sudah bicara terlalu jauh.”
Diluar ruang interogasi, baku tembak masih terjadi. Heechul yang terpojok hanya bisa bersembunyi dibawah meja komputer tempatnya bekerja. Ia ketakutan, disaat yang sama perasaannya terasa begitu campur aduk. Saking paniknya sampai Heechul tak menyadari beberapa orang menariknya dari belakang, membawanya secara paksa sampai Siwon sendiri tak mampu menghentikannya. Akhirnya, kelompok teroris itu pergi setelah berhasil menghancurkan markas pusat itu secara keseluruhan. Mereka hanya meninggalkan puing-puing yang berserakan dan luka-luka yang mendera tubuh Siwon, Ryeowook, dan Shindong.
Diluar sana, Donghae langsung membuka penutup wajahnya begitu merasa tidak akan ada lagi orang yang melihatnya. Ia akhirnya bernafas lega. Walau sebenarnya Donghae tak menyadari, Lee Youngna tengah melihat wajahnya dari kejauhan, ketakutan.

xxXxx

BEBERAPA jam setelah invasi itu, Kim Heechul merasa benar-benar putus asa ketika harus menerima kenyataan bahwa hidupnya ada di tangan musuh yang mengepungnya. Di hadapannya, Lee Donghae, sang pimpinan berdiri dan menatap Heechul dengan sinis. Pistol yang digenggamnya seolah nampak tak sabar ingin melesatkan anak pelurunya ke salah satu bagian tubuh Heechul.
“S-sudah kukatakan padamu,” kata Heechul akhirnya. “Aku tidak tahu banyak tentangnya!”
“Bohong,” ucap Donghae dingin. “Atau kau memang lebih memilih mati?”
“Aku tidak tahu apa-apa tentang Choi Siwon!”
“Aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”
Heechul tersentak. “B-baik! Baik! Kalau aku memberitahumu, kau akan membiarkanku hidup?”
“Tentu.”
Heechul menarik nafas panjang. “Aku… aku hanya tahu ia memiliki seorang kekasih bernama Lee Youngna yang tinggal dengan sepupunya, Lee Hyungseo. Itu saja.”
“Hanya itu?”
“Ya! Aku bersumpah hanya itu!”
“Aku tidak suka orang yang membocorkan rahasia temannya.” Donghae menyunggingkan senyum picik. “Kalau aku jadi Choi Siwon, aku pasti akan membunuhmu.”
“Apa? Tapi kau bilang—”
Donghae menarik pelatuk pistolnya. Sejenak kemudian, kata-kata Heechul terhenti begitu sebutir peluru Beretta 92 bersarang di kepalanya.
“Lee Youngna,” ucap Donghae datar. “Aku akan menemukannya sebelum Siwon bisa menemukanku.”

— To be continued