Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Suju member, Shinee

Rating : AAbK

Genre : Romance

PS :  ff ini fiksi. Segala teori yang dikemukakan dalam part ini TIDAK dilandaskan pada pengetahuan yang benar, jadi kalau ada pembelokan teori, jangan dianggap sebagai ilmu berguna yah…

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-5E

^^^

“Eunchanie~ eodieeee?” Miho merengek di telepon genggamnya.

“Tunggu sebentar ya, aku sedang menuju ke situ. Sabar ya, apa nama ruangannya tadi?” di seberang telepon Euncha bertanya gugup. Terdengar langkah kakinya betelapakan dengan lantai.

“Aku di ruang Shinee,” kata Miho. “Palliwa,” pintanya pada Euncha dengan nada anak kecil minta dijemput.

Euncha yang mendengarnya jadi khawatir. Cepat-cepat dia mengiyakan, lalu menutup teleponnya agar bisa berkonsentrasi mencari ruangan. Ciss, kenapa dia tadi harus menyanggupi permintaan Prof. Lee, sih? Jadinya sekarang telat, kan?!

Di depan ruangan Shinee, Miho menutup teleponnya penuh harap. Dia sungguh-sungguh berharap Euncha segera sampai. Sebab dia butuh seseorang yang familiar di dekatnya sekarang. Di sebelahnya tiba-tiba pintu ruang itu terbuka. Salah satu stylist Shinee keluar. Begitu gadis itu melihat Miho di sana, mata stylist itu langsung menunjukkan ketidaksukaan. Sengaja gadis itu berjalan sambil menabrak Miho dan dengan sinis berucap, “Oops, maaf.”

Miho balik menatap stylist itu tajam, membuat gadis itu tak urung mengkeret juga. Miho bukan wanita lemah. Saat seseorang menyerangnya, dia akan membalasnya. Kepercayaan dirinya cukup tinggi untuk menunjukkan pada orang-orang bahwa dia tidak bisa diperlakukan sembarangan. Meski demikian, saat melakukan kesalahan seperti kemarin ketika dia dengan tidak sengaja menampar Minho, dia akan bertanggung jawab dengan berani. Dia tidak akan mengelak.

Itulah alasannya dia berada di sini sekarang. Di gedung SME, menanti waktu klarifikasi datang. Tadi pagi ponselnya dihubungi nomor telepon tak dikenal. Begitu diangkat, itu ternyata adalah manajer Shinee. Pria itu mengatakan bahwa perusahaan ingin mendiskusikan kejadian kemarin, jadi dia mengundang Miho untuk datang ke gedung SME untuk membicarakan masalah itu secara pribadi. Miho langsung bertanya saat itu, bolehkah dia ditemani orang lain. Manajer itu memperbolehkan, jadi dia mengajak Euncha.

Adik sepupunya tersayang yang ternyata terlambat karena harus membantu Jihoon Oppa, Miho mencebik.

Pintu di sebelah Miho terbuka lagi dan kali ini muncullah Onew. Anak itu tampak terkejut melihat Miho berdiri di pinggir pintu. “Kupikir kau sedang ke toilet,” katanya.

Miho tersenyum. “Tidak, aku sedang—“

“Mihonnie!” terdengar suara Euncha. Miho menoleh dan melihat adiknya itu berjalan kelelahan. “Hah~ susah sekali mencari ruangan ini… Ommona! Lee Jinki!” Euncha langsung terkejut melihat Onew berdiri di sebelah Miho.

Onew tersenyum profesional. “Anyeonghaseyo, Noona.”

“Kau lama sekali, sih?!” Miho merajuk. Kakinya agak dihentakkan.

“Mian.. Prof. Lee memintaku menemaninya ke salah satu acara kampus.”

“Ngapain kau mau menurutinya?” Miho tidak terima, Jihoon Oppa sudah mulai merebut Eunchanya.

“Aku kan nyari kesempatan, Onnieeee…” Euncha mencubit pipi Miho gemas.

“Onnie?” suara Onew yang keheranan memutus percakapan antara Miho dan Euncha.

Belum sempat Euncha menjawab, terdengar suara ribut di belakang mereka berdua. Miho dan Euncha menoleh dan melihat rombongan Super Junior sedang berjalan di koridor.

Melihat rombongan seniornya, Onew membungkukkan badannya sedikit, “Annyeong, Hyung.”

“O! Jinki-ya!” seseorang yang Miho dan Euncha kenali bernama Eunhyuk maju dan merangkul Jinki dengan hangat. Donghae menyusul merangkul Onew dari sisi satunya. Kedua orang itu sepertinya sedang sangat senang. Mereka langsung bercanda menggoda Onew dengan mencubiti pinggang anak itu sambil menanyakan kabarnya, bagaimana penjualan album terakhirnya, dan pertanyaan-pertanyaan asal-asalan lain termasuk apa yang sedang anak itu lakukan di sana. Mereka tidak memperhatikan dua gadis yang sedang menatap mereka dengan mata berbinar-binar.

“O! Ige nuguya?” terdengar suara Heechul. Dia merasa pernah melihat satu dari kedua gadis itu, tapi lupa dimana.

Miho dan Euncha langsung membungkuk sopan dan begitu mengangkat wajah, keduanya langsung menatap Leeteuk yang berdiri tepat di depan Miho. “Annyeonghaseyo,” sapa mereka ramah.

Leeteuk tampak terkejut melihat Miho. “O! Min.. Minho.. Yang kemarin kan?” Leeteuk kehilangan kemampuannya merangkai kata-kata. Dia mengenali Foxiemiho, dan dia juga ingin mengatakan ‘ini wanita yang menampar Minho’.

Onew yang mengira Leeteuk mengenali Miho karena insiden Minho, menyahut sambil tertawa. “Ne, Hyung. Kami ada sedikit urusan, jadi Manajer-nim mengundangnya kemari.”

Miho terus menatap Leeteuk. Di sampingnya Euncha melakukan hal yang sama meskipun sekali-sekali juga melihat ke member yang lain. Miho ingin sekali mengatakan banyak hal terhadap Leeteuk. Bertemu pria itu di sini tiba-tiba membuatnya panas dingin. Dia jauh lebih tampan dilihat secara langsung. Senyumnya sangat menarik. Sesuatu berkembang dalam hatinya menyadari dia sempat bertukar pesan-pesan pribadi dengan pria istimewa ini.

Leeteuk juga merasakan tatapan Miho. Perasaannya agak aneh saat menyadari hal itu, tapi dia mengesampingkannya. Dia berusaha menutupinya dengan bersikap seramah mungkin, “Ah, apa kau seorang ELF?” tanyanya berbasa-basi.

Eunhyuk memaki Leeteuk dalam hati. Tentu saja dia ELF, apa hyungnya tidak ingat? Kan dia sudah menyebutkannya di dalam pesan-pesan itu! Eunhyuk merasakan badannya panas-dingin menyadari bahwa si Rubah saat ini berdiri tepat di sebelahnya. Bagaimana dia bisa tidak menyadarinya tadi?

“Ne, saya ELF,” Miho menjawab, lalu wanita itu nyengir, “Tapi sebenarnya itu dulu sih. Hehe, maaf,” katanya melanjutkan sambil menunduk. Dia sudah berhasil menguasai keinginannya. Sekarang bukan saat yang tepat untuk bertanya macam-macam pada Leeteuk. Terlalu banyak orang.

Mendengar suara Miho, Eunhyuk bertanya-tanya apakah sudah ada teknologi untuk mengoperasi suara juga? Sebab suara Miho terdengar sangat halus di telinga Eunhyuk, tidak terdengar sama sekali jejak suara pria di dalamnya. Dan ternyata bukan dia saja yang berpikiran begitu. Kyuhyun menyeletuk dari tempatnya, “Wah, suaramu halus sekali…”

Kyuhyun tampak benar-benar heran menyadari hal itu, begitu pula dengan member Suju yang lain. Mereka mengangguk-angguk setuju dengan keheranan Kyuhyun. Hanya Onew yang bingung. Hyung-hyungnya seperti tidak pernah mendengar suara gadis saja. Tentu saja suara Miho ssi halus, hal yang wajar untuk seorang cewek, kan?

Pintu ruang tunggu Shinee tiba-tiba membuka, lalu muncullah Minho. “Waa, Hyung! Sedang apa kalian di sini?” tanyanya terkejut melihat tempat itu sangat ramai.

Miho dan Euncha menoleh ke arah sumber suara, dan Euncha langsung memekik tertahan, “Minho!”

Minho yang merasa dipanggil menoleh dan menemukan wajah Euncha yang berseri-seri. Refleks mulutnya membentuk senyum membalas antusiasme Euncha, membuat wanita itu kelimpungan sehingga harus berpegangan pada Miho. Miho memutar bola matanya karena reaksi Euncha. Dia hendak menegur adiknya itu tapi kalah cepat oleh perkataan Minho.

“Miho ssi,” panggil Minho tersenyum pada Miho. “Tadi manajer memberi tahu lewat telepon bahwa dia akan segera datang, jadi kupikir sebaiknya kita menunggunya di dalam,” lanjut anak itu.

Miho membalas senyuman Minho dan menjawab, “O, geurae? Baiklah. Ayo Eunchanie, kita masuk,” Miho menggamit pergelangan tangan Euncha dan berusaha melangkah. Tapi di depannya Eunhyuk tidak bergerak sehingga menghalangi gerakan Miho.

Eunhyuk benar-benar terpesona pada Miho. Lalu kalut. Bagaimana mungkin dia terpesona pada seorang wanita jadi-jadian? Tapi kemudian hatinya mendominasi perasaannya. Dia tidak suka cara Minho memanggil Rubahnya. Miho ssi.

Mwo?!!! Rubahnya?!!! Dia harus segera membuat janji temu dengan psikiater!

Onew melepaskan diri dari rangkulan Eunhyuk dan Donghae, lalu berpamitan pada semua seniornya. Leeteuk juga menyadari bahwa mereka sudah tertahan terlalu lama di situ. Mereka harus bergegas menemui manajer mereka juga, jadi dia berkata pada member Suju yang lain, “Ya, kita juga harus pergi, gaja. Sampai ketemu lagi, Jinki-ya, Minho-ya.” Kepada Miho dia hanya melemparkan senyum.

Miho yang melihat itu menekan kekecewaannya. Dia masih ingin berada di dekat Leeteuk, tapi tidak mampu berbuat apa-apa untuk mewujudkan keinginannya itu. Dia hanya mampu memandangi punggung Leeteuk yang menjauh sampai Minho memanggilnya lagi.

Eunhyuk sekarang berjalan paling akhir. Dia menangkap pandangan Miho pada Leeteuk dan menyadari artinya. Miho benar-benar mengira selama ini dia berkirim pesan dengan Leeteuk. Sekilas rasa panik menyerangnya, lalu rasa tidak terima, lalu berubah menjadi rasa pasrah. Eunhyuk tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap. Perasaannya terlalu campur aduk. Ketertarikannya pada Miho, kondisi gender-ganda  makhluk itu, kecemburuannya pada Minho, ketidakrelaannya terhadap Leeteuk, semua menggerogotinya seperti koloni rayap raksasa. Mati sajalah kau, Lee Hyukjae!

^^^

Di dalam ruangan, Euncha langsung merubah jati dirinya menjadi Shawol. Entah kemana hilangnya identitas dia sebagai A+. “Ommona, Taemin-a neomu gyeopta!” pujiannya untuk Taemin melayang-layang di ruangan itu, diikuti oleh pujian untuk Key dan Jonghyun. “Bolehkah aku minta tanda tangan kalian?” tanyanya dengan raut memohon.

Miho sebenarnya ingin sekali mengikuti tingkah laku Euncha. Tapi dia punya tanggungan rasa malu di hatinya akibat insiden kemarin, jadi dia berusaha sangat keras untuk menahan dirinya.

Anggota Shinee tertawa melihat tingkah Euncha yang lucu. “Tentu saja, dimana kami harus tanda tangan?” Key bertanya mewakili semuanya.

Euncha tertegun. Dimana ya? Dia tidak membawa apa-apa untuk ditandatangani. Aduh, bagaimana ini? Dia kemudian menatap Miho bingung. Campur memelas. Campur memohon bantuan.

Miho memandang adiknya sebal, “Ya, neo pabbo ya? Bagaimana mungkin kau tidak menyiapkan apa-apa waktu tahu mau datang ke sini?”

“Tapi kan ini mendadak! Aku kan langsung dari kampus!” Euncha menolak disalahkan.

“Salahmu sendiri selalu menuruti kata-kata Profesor autis itu. Sana, minta tanda tangan aja sama kuda!” Miho berbalik memunggungi adiknya.

Euncha sebal sekali melihat tingkah kakaknya yang bukannya membantu malah mempermalukannya. Dia kemudian ikut memunggungi Miho. Key yang sudah mengulurkan tangan jadi canggung sendiri karena diacuhkan. “Jogiyo, Noona. Tanda tangannya ga jadi, nih?”

Euncha kembali panik menyadari itu. Akhirnya dia merogoh-rogoh tasnya mencari sesuatu. Ketika melihat dompet, timbul idenya. Dibukanya dompet itu dan dikeluarkannya foto yang selalu dibawanya kemana-mana. Itu fotonya ketika baru memasuki masa kuliah. Dia tidak sendiri dalam foto itu, tapi dia berpose bersama Miho. Itu foto favoritnya karena berisi kenangan yang sangat menyenangkan. Mereka berfoto dengan bahagia ketika itu. “Tolong tanda tangan di foto ini saja,” ujarnya mengulurkan foto itu pada Key.

“Wah, kalian manis sekali,” ujar Key mengamati foto itu sebentar kemudian membubuhkan tanda tangannya di sana. Dia mengulurkan foto itu pada yang lain agar mereka juga menandatanganinya, lalu berpaling lagi pada kedua gadis di hadapannya. “Itu foto kapan? Sepertinya gaya rambut kalian berbeda dengan yang ada di foto itu,” Key mengamati.

Mendengar pujian Key, Miho dan Euncha melupakan perselisihan mereka lalu saling mempertemukan tangan kegirangan. Miho yang memang haus pujian bertanya, “Benarkah kami manis?”

“Hahaha, ya. Kalian manis sekali,” Key tertawa.

“Itu waktu kami baru masuk kuliah,” Euncha ikut nyengir senang menjawab pertanyaan Key sebelumnya. “Berarti sekitar 3 tahun lalu,” Euncha melanjutkan sambil tampak berpikir.

“Mwo? Tiga tahun lalu?” Minho tampak terkejut sambil mengembalikan foto yang sekarang sudah dipenuhi tanda tangan kelima anggota Shinee. Miho menerimanya sambil kegirangan.

“Ne,” Euncha merebut foto itu dari tangan Miho.

Miho manyun karena kesenangannya terganggu. Dia mengulurkan tangan hendak mengambil foto itu kembali, tapi Euncha mengelak. “Eunchanie…” Miho mulai merengek sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil.

“Boleh lihat, tapi ga boleh pegang,” Euncha akhirnya memberi batasan pada Miho. Miho segera membalasnya dengan anggukan cepat.

Euncha menunjukkan foto itu di depan mata Miho dan Miho membelalakkan matanya sambil tersenyum. Kelima anggota Shinee terpesona dengan senyumnya yang imut itu. Sementara Euncha tampak angkuh memegangi foto itu. Key yang melihatnya tersenyum geli.

Tangan Miho terulur hendak mengambil foto itu, lupa dengan janjinya tadi. Untung Euncha waspada. Cepat ditariknya lagi foto itu dan dimasukkannya ke dalam dompet. “Sudah cukup,” katanya dengan nada penuh kemenangan.

Miho kecewa sekali, tapi tidak berani protes, sebab dia ingat bahwa mereka sedang di depan Shinee.

“Ahahaha, apa kalian selalu begini?” Jonghyun bertanya dengan kegelian yang tidak ditutup-tutupi.

Mendengar itu Miho dan Euncha jadi malu sendiri dengan kelakuan mereka. Kompak mereka berusaha membantah untuk memperbaiki image. “Ah, ini hanya karena kami sedang bertemu idola,” Euncha berusaha memberi alasan.

“Tapi kalian sibuk bertengkar sendiri dari tadi, kami jadi tidak merasa kami ini idola. Malah terasa seperti peran figuran,” Key tidak mau kehilangan kesempatan menggoda dua fans cantik itu.

Wajah Euncha memerah mendengarnya. “Joisonghamnida, kami tidak bermaksud seperti itu. Hehe, kami memang biasa bertengkar, ya—“ apapun alasan yang hendak diucapkan Euncha hilang dalam sekejap ketika melihat Miho sedang diam-diam mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. “EONNIE!” Euncha berteriak kesal pada Miho, mengundang keterkejutan anggota Shinee.

Mereka semua terkejut mendengar panggilan Euncha untuk Miho. Mereka dari tadi mengira bahwa Eunchalah yang lebih tua. Penampilan, sikap dan tingkah laku keduanya yang membuat mereka berpikiran begitu. Onew yang paling cepat pulih dari kekagetannya karena tadi dia sudah sempat mendengar panggilan Euncha pada Miho. Cuma, karena kemudian perhatiannya teralihkan oleh kedatangan Suju, dia jadi melupakan hal itu. “Eonnie?” tanya Onew.

Euncha yang sedang kesal, tidak mendengar pertanyaan itu dan melanjutkan memarahi Miho. Diambilnya dompet dari tangan Miho, memasukkannya ke dalam tas, lalu menyingkirkan tasnya dari jangkauan Miho. “Sampai kapan Eonnie mau terus mencuri koleksiku? Kalau mau tanda tangan mereka, Eonnie minta sendiri sana! Atau minta aja sama kuda!” dia kesal sekali. Lalu melanjutkan, “Kalau Eonnie melakukannya lagi, aku akan mendatangi kamar Eonnie dan mengambil semua poster Mblaq yang Eonnie ambil dariku!” gadis itu mengancam Miho.

Sontak Miho ketakutan, “Andwae!”

“Makanya Eonnie jangan macam-macam kali ini…” omelan Euncha terpotong oleh suara Minho yang kali ini bertanya dengan suara lebih keras.

“Jogiyo,” panggil Minho pada Euncha. Setelah Euncha melihatnya, dia menunjuk Miho tapi matanya tetap pada Euncha, “Eonnie?” kepalanya miring dengan heran.

Euncha mengangguk dengan polos. “Ne,” katanya tegas. “Dia ini kakak sepupuku,” Euncha menjelaskan lebih jauh.

Semua anggota Shinee melongo mendengar penjelasan itu. Dari tadi mereka memanggil Euncha dengan sebutan Noona, sedangkan terhadap Miho mereka hanya memanggil kamu-kamu saja. Kalau benar Miho kakak sepupu Euncha, artinya mereka seharusnya memanggil Miho dengan sebutan Noona juga kah? Pertanyaan Taemin memutus keheranan semua orang, “Memang umur Noona berapa?” itu pertanyaan untuk Euncha.

Euncha menjawab tegas. “Aku 24.”

Kelima cowok idola tersebut mengangkat alis mengetahui bahwa bahkan Onew masih lebih muda dari Euncha.

“Geureom Miho…Noona?” Key berhati-hati menambahkan ‘noona’ dalam pertanyaannya.

“Dia 27.” Euncha menunjuk Miho.

“Tidak mungkin!” Onew berseru paling keras. Dari tadi dia beranggapan bahwa Miho paling tua seumuran dengannya, tapi kenapa sekarang malah jadi gadis itu jauh lebih tua darinya?!

Minho mulai tertawa. Jonghyun tersenyum keki, begitu pula Key. Taemin hanya mengangguk-angguk penuh pengertian. Dia juga yang kemudian bergumam, “Noona neomu yeppo…”

Mendengar itu tawa Minho makin keras. Pandangannya terhadap Miho berubah. Dia semakin suka pada gadis itu. Key mundur beberapa langkah ke belakang, merasa tertipu mentah-mentah. Euncha dan Miho hanya memandangi mereka dengan aneh. Tidak mengerti apa yang begitu salah dengan umur mereka.

Memang mereka biasa menghadapi orang yang salah menebak usia mereka, tapi baru kali ini mereka bertemu dengan reaksi yang seaneh ini. Para idola kecuali Minho sekarang memandangi mereka dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan. Sementara Minho, tertawa untuk alasan yang juga tak bisa dijelaskan. Tiba-tiba saja untuk pertama kali dalam hidup mereka, Miho dan Euncha bertanya-tanya apakah mereka salah memilih idola.

^^^

“Menurut kalian Shinee tahu?” terdengar suara Shindong.

“Kayaknya sih ga,” sahut Heechul.

“Minho kayaknya terpesona sama si… siapa namanya?” Kyuhyun bertanya.

“Miho,” Leeteuk yang menjawab.

Ya, Miho. “Wah, kau hapal namanya, Hyung?” Eunhyuk berkata sambil menyiratkan nada mengejek menutupi hatinya yang panas.

Saat ini member Suju sedang berada di ruangan mereka karena sedang menunggu manajer mereka. Katanya tadi ada pengumuman penting, tapi sampai sekarang manajer mereka belum datang-datang juga. Mereka masih meributkan tentang Miho. Setelah mereka bertemu gadis itu secara langsung, mereka terus diliputi rasa takjub melihat hasil operasi Miho.

“Memangnya kau tidak hapal?” Leeteuk justru bertanya heran pada Eunhyuk. Bukankah anak itu yang selama ini berinteraksi dekat dengan si jadi-jadian itu?

“Kurasa sebenarnya dia memang dilahirkan dengan jiwa wanita,” Siwon menyeletuk. “Kalian dengar suaranya tadi? Halus banget kan? Ga mungkin suara bisa dioperasi, kan?”

“Aku denger sih udah ada operasi plastik untuk suara,” Sungmin menimpali.

“Jeongmal?” kali ini Yesung dan Ryeowook bertanya bersamaan. Keduanya memegangi leher masing-masing. Tidak terbayang dalam benak mereka jika suara bisa dioperasi plastik. Bagi penyanyi sejati seperti mereka, mendengar hal itu terasa menyakitkan.

“Katanya sih,” Sungmin menambahkan tidak yakin.

“Tetep aja,” Siwon nampak ga mau didebat, “suara sehalus itu, ga mungkin diraih lewat operasi.”

“Hey, hey,” Donghae tiba-tiba mencoba menarik perhatian semua orang. “Bagaimana kalau…” dia memutus perkataannya demi menimbulkan efek dramatis. “Bagaimana kalau sebenarnya dia bukan merubah jenis kelaminnya? Tapi berkelamin ganda?”

What?!” Heechul sok-sok terkejut dalam Bahasa Inggris mendengar ide Donghae.

Sungmin tampak memikirkan hal itu karena kemudian dia berkata, “Ya, itu bisa menjelaskan kenapa suaranya halus. Mungkin dia mengoperasi kelaminnya dan memilih sebagai wanita.”

“Kalian gila ya?” Eunhyuk suntuk mendengar diskusi teman-temannya.

“Kenapa? Itu masuk akal kok,” Yesung kali ini angkat bicara.

“Ya, tapi kayaknya ga begitu deh,” Eunhyuk jadi ragu karena pendapatnya dipertanyakan.

“Kalau begitu, dia bisa datang bulan, ga ya?” suara itu datangnya dari Leeteuk.

“Waaa! Hyung! Kenapa kau berpikir jauh sekali?!” Donghae heboh mendengar pemikiran Leeteuk.

“Ani~” Leeteuk mencoba menjelaskan pemikirannya. “Kalau datang bulan kan berarti dia sebenarnya wanita, kelamin satunya cuman tambahan. Tapi kalau tidak datang bulan, artinya dia laki-laki. Begitu, ga?”

“Tapi ada juga kok cewek yang ga datang bulan…” Shindong menyatakan keraguannya.

“Jeongmal?” Ryeowook tampak tertarik.

“Ne,” Shindong mengangguk yakin. “Kalau ga salah itu artinya mereka ga bisa punya anak.”

“Lah, menurutmu Miho bagaimana, Hyung? Datang bulan atau ga?” Kyuhyun terlihat semangat menanyakan pertanyaan itu, sudah menganggap Shindong bagai seorang guru tentang keperempuanan.

“Hmm,” Shindong terlihat berpikir.

“Ya! Kalian makin melantur!” Eunhyuk merasa tidak senang dengan arah pembicaraan yang semakin kacau itu.

“Wae? Bukankah kau biasanya justru paling bersemangat kalau sudah membahas pelajaran biologi bagian reproduksi begini, Hyung?” Kyuhyun menggoda Eunhyuk.

“Iya, tapi bukan bagian yang berdarah-darah begitu!” bibir Eunhyuk mengerucut sebal. “Sudahlah, berhenti membicarakan Rubah ga jelas itu. Sekarang manajer kita kemana?” dia memaksa mengalihkan pembicaraan meski kesimpulannya belum jelas.

Leeteuk melihat ke arah jam dinding. Manajer telah lewat 20 menit dari waktu yang dijanjikan. “Iya, Manajer kemana ya? Biar kucari dia,” katanya berinisiatif sambil bangkit.

Di pintu, Leeteuk mendengar suara Eunhyuk, “Biar kutemani, Hyung.”

Sebenarnya Leeteuk heran. Biasanya Eunhyuk tidak pernah menawarkan bantuan semacam itu, tapi melihat wajah Eunhyuk yang tampak menyembunyikan kegelisahan, Leeteuk mengira Eunhyuk sebenarnya sedang kebelet, jadi dia mendiamkan saja. Mungkin nanti di luar anak itu akan memisahkan diri darinya dan pergi ke toilet.

Dugaan Leeteuk terbukti beberapa saat setelah mereka berjalan di koridor. “Hyung, aku ke sana dulu ya,” Eunhyuk berkata sambil menunjuk jalan yang memiliki tanda toilet di atasnya.

Tanpa berekspresi Leeteuk menjawab, “O,” lalu melanjutkan pencariannya.

Begitu Leeteuk pergi, Eunhyuk melangkah ke arah yang tadi ditunjuknya. Tapi, ternyata dia melewatkan pintu toilet dan berjalan lurus. Di persimpangan, dia mencoba mengingat dimana ruangan Shinee berada. Setelah mengingatnya, dia kemudian berbelok ke kanan.

Otak Eunhyuk sibuk berpikir sambil berjalan. Kalau nanti bertemu anak-anak Shinee dia mau beralasan apa ya? Tidak mungkin kan dia mengatakan yang sebenarnya? Bahwa dia ingin bertemu Miho. Rubah itu juga—kalau masih ada di sana—akan bingung karena merasa tidak mengenalnya. Aduh, kenapa sih dia menuruti keinginannya melihat Rubah itu? Seharusnya dia menunggu di ruangannya saja, Eunhyuk mulai menyesali keputusannya mencari Miho.

^^^

Leeteuk terus berjalan menyusuri koridor dan melihat-lihat ruangan dimana kemungkinan ada Manajernya. Orang itu aneh. Dia mengatakan agar mereka menunggunya, tapi tak datang-datang juga. Barusan Leeteuk meneleponnya hendak menanyakan dia ada dimana, tapi tak diangkat. Akhirnya sekarang dia tak tahu harus mencari kemana.

“Hyung!” tiba-tiba terdengar suara dari balik punggung Leeteuk. Dia pun menoleh. Dilihatnya Minho sedang berjalan bersama si banci yang tadi jadi topik hangat di ruangan Suju.

“O, Minho-ya…” Leeteuk balas menyapa.

“Sedang apa di sini?” Minho bertanya begitu mereka dekat. Miho tampak membungkuk sedikit.

“Aku sedang mencari Manajer Hyung. Tadi kami disuruh ke ruangan katanya mau memberi tahu berita penting, tapi sampai sekarang belum datang juga.” Leeteuk menjawab sapaan Miho dengan senyuman sekilas.

“Wah, sama dong. Manajer kami juga gitu. Mungkin ga mereka rapat bersama?” Minho mengemukakan pikirannya.

Leeteuk mengangguk-angguk, “Mungkin juga sih. Lah terus, kenapa kamu keluar ruangan? Nyariin manajer juga?”

“Ga sih, mau nemenin Miho Noona nyari toilet, soalnya dia ga tau gedung ini dan kakinya masih sakit,” jawab cowok yang lebih muda itu sambil senyum-senyum.

Leeteuk mengangkat alisnya. “Noona?” dia agak terkejut dengan panggilan itu. Sebab dilihat dari segi manapun gadis itu tidak jauh berbeda umur dari Minho. Makanya Eunhyuk waktu itu menyuruhnya memanggil Oppa, kan? Pikir Leeteuk.

“O, noona.” Minho menjawab. “Terkejut kan Hyung?” cowok itu mengajukan pertanyaan pada Leeteuk.

Saat ini mereka kembali melangkah menyusuri koridor. Leeteuk mengangguk menjawab pertanyaan Minho. “Aku pikir dia ini seumuran denganmu,” kata Leeteuk mengamati Miho yang berjalan tertatih-tatih sambil berpegangan pada lengan Minho.

Miho dan Minho tertawa bersamaan. Jujur saja Leeteuk agak berdesir melihat tawa Miho. Dia sampai harus mengingatkan dirinya bahwa Miho adalah sosok hasil oplas. “Kami tadi juga mikirnya gitu. Kami semua, kecuali Taemin, manggil dia pakai kamu-kamu aja sejak pertama ketemu. Begitu tahu dia ternyata seorang Noona…” Minho menggeleng-geleng kepalanya mengingat kejadian tadi. Di sebelahnya tawa Miho sudah berubah menjadi senyuman.

“Hyung harus liat ekspresi Kibum tadi. Hahaha, kocak banget!” Minho tergelak-gelak.

Leeteuk yang tidak bisa menduga selucu apa hanya bisa ikut tertawa karena sepertinya memang lucu sekali. “Memang sebenarnya umurmu berapa, Miho ssi?” Leeteuk langsung bertanya pada Miho.

Minho yang menjawabnya, “Coba Hyung tebak!” sinar mata cowok berkarisma itu bersinar-sinar mengerjai.

Leeteuk berpikir. Kalau lebih tua dari Minho, mungkin, “22?” kata Leeteuk menebak.

Minho menggeleng penuh kemenangan. “Salah!”

Leeteuk mengangkat alisnya. Dia kemudian memperhatikan Miho lebih seksama. Wajah, kulit, hmm, agak susah menilainya karena itu hasil oplas. Sikap tubuh… Leeteuk memandang Miho dan melihat gadis itu memandangnya sekilas lalu menghindar malu-malu. Dia mengangguk mantap, “24. Ga mungkin lebih dari itu,” ujarnya yakin.

Senyuman Miho melebar. Dari mulutnya terdengar kata, “Terima kasih,” yang diucapkan dengan bangga.

Leeteuk mengira tebakannya benar, tapi kemudian Minho menghancurkan kesenangannya. “Saaalah lagi! Miho Noona ini, 27 tahun!”

Leeteuk membelalak lebar mendengar itu. Tidak mungkin! Hanya 1 tahun lebih muda darinya? “Geotjimal!” serunya.

Minho tiba-tiba berhenti sambil bicara pada Miho, “Noona, ini toiletnya.” Pada Leeteuk, dia menggelengkan kepalanya. “Sulit dipercaya kan, Hyung? Kami—“ ucapan Minho terputus oleh dering teleponnya. “Sebentar ya?” anak itu menyingkir sebentar dan menyerahkan tangan Miho pada Leeteuk untuk dipegangi sementara dia menerima teleponnya.

Leeteuk masih menatap Miho lebar-lebar. “Kau benar-benar sudah 27 tahun?” tanyanya tak percaya. Di tangannya dia bisa merasakan kulit telapak tangan Miho yang halus. Sesuatu bergerak dalam dirinya dan langsung membuatnya merinding karena merasa berdesir oleh sentuhan seorang transgender.

“Ne, Hyung.” Miho tertawa menikmati keterkejutan Leeteuk. Dia suka sekali melihat ekspresinya yang kebingungan.

“Aaa, iya ya, Hyung.” Leeteuk menggumam pelan. Lalu dia melanjutkan sambil berbisik, “Apa, anggota Shinee ada yang tahu kalau kau laki-laki?”

Sesaat Miho terkejut hingga mulutnya terbuka. Tadi dia sengaja memanggil Hyung hanya untuk mengingatkan Leeteuk akan pesan-pesan mereka. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa bahkan setelah bertemu langsung, Leeteuk masih mempercayai candaannya. Miho sama sekali tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Leeteuk melihat ekspresi Miho dan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada orang lain yang tahu. Tentu saja. Kenapa dia harus mengumbar-umbar hal itu? Itu kan hampir bisa dibilang sebagai ‘masa lalu yang kelam’. “Ah, joisonghamnida. Tentu saja tidak ya. Itu kan rahasia.”

Miho tiba-tiba tertawa. Dia benar-benar merasa lucu. Kepalanya mengangguk-angguk senang karena berhasil mengerjai seorang Leeteuk sampai sejauh ini. Badannya sampai terguncang-guncang karena tawanya yang lepas. Sampai akhirnya dia harus berhenti tertawa karena kakinya terasa sakit.

^^^

Beberapa meter dari situ, Eunhyuk menyaksikan semuanya. Rubah itu tertawa senang sekali sambil berpegangan tangan dengan Leeteuk. Entah apa alasannya, hatinya panas sekali melihat itu. Selama ini dia yang bertukar pesan dengan Miho. Memang Leeteuk yang pertama menunjukkan foto Miho padanya, tapi kalau bukan dia yang mengikuti akun twitter Miho, Leeteuk tidak akan pernah tahu apa-apa tentang Miho. Dia juga yang dari awal berbagi cerita dengan Miho. Lalu kenapa Leeteuk yang sekarang cengengesan dengan Rubah itu?!

Eunhyuk meremas celananya dengan geram. Dia tidak ingat sama sekali bahwa dari tadi dia merasa ragu mencari Miho karena status transgender yang melekat di diri Rubah itu. Sekarang ini dia hanya merasakan panas dan tidak terima karena makhluk cantik itu begitu dekat dengan Leeteuk. Dia bergegas menghampiri mereka.

^^^

Leeteuk melihat raut Miho yang kesakitan, dan itu membuatnya makin mendekati wanita itu, “Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan kedua tangan memegangi lengan Miho. Ah, lengan dan pundaknya kecil sekali… pikir Leeteuk.

“Ahaha, kakiku agak sakit. Sebaiknya aku segera ke toilet,” jawab Miho.

“Ayo, aku bantu.” Leeteuk merangkulkan lengan Miho di bahunya lalu membantunya mendekati pintu toilet. Sesampainya di sana Miho mengatakan dia akan melakukannya sendiri. Bisa gawat kalau Leeteuk sampai memasuki toilet cewek, kata wanita itu sambil tersenyum manis. Oke, Leeteuk menerima kenyataan dengan pasrah, apapun bentuk aslinya, si Foxiemiho ini memang makhluk yang manis.

Baru Leeteuk berbalik dari pintu toilet, dia melihat Eunhyuk mendatanginya dengan tergesa-gesa. Wajah dongsaengnya itu diliputi sesuatu yang tidak mengenakkan. Kenapa lagi anak ini? Pikir Leeteuk heran. Akhir-akhir ini Hyukjae memang sering bertingkah aneh. Emosinya berubah-ubah tak jelas. “Kau darimana? Ke toilet aja lama banget,” Leeteuk menegurnya.

Aku mencari orang yang kau peluk-peluk tadi, Bodoh! Dasar pengambil kesempatan! “Aku tidak ke toilet, aku mencari Manajer Hyung,” Eunhyuk menjawab renyah menutupi isi hatinya.

Leeteuk memperhatikan wajah Eunhyuk. Ada yang mengganjal dari jawabannya. Apa ada yang tidak beres dengan anak ini? Apa dia sakit? Mungkinkah emosinya yang tidak baik akhir-akhir ini disebabkan masalah kesehatan? Pikiran Leeteuk mulai menebak-nebak dengan khawatir.

“Manajer Hyung sudah ketemu?” Eunhyuk bertanya ringkas.

Leeteuk menggeleng. “Ditelepon juga ga diangkat. Katanya Manajer Shinee juga begitu.”

Saat itulah Minho muncul. “Aku baru ditelepon Kibum. Katanya Manajer kami sudah datang. Mana Miho Noona?” tanya anak itu tidak memperhatikan Eunhyuk.

“Oh, dia di dalam. Mungkin Manajer kami juga sudah kembali,” Leeteuk menjawab Minho sambil menunjuk toilet wanita di belakangnya.

“Eh, Hyung. Kau juga di sini?” Minho akhirnya melihat Eunhyuk.

Eunhyuk hanya menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga kemudian terdiam karena tak tahu apa yang hendak dibicarakan. Akhirnya Leeteuklah yang berbicara duluan, “Kalau begitu sebaiknya kita kembali, Hyuk. Minho-ya, kau akan membantu Miho, kan?”

Minho menjawab tegas, “Ne.”

Eunhyuk sebenarnya tidak rela. Dia masih ingin di sana, menanti Miho keluar dari toilet. Berkenalan secara resmi dengannya. Tapi dia tidak bisa menemukan alasan yang cukup bagus agar keinginannya itu tidak terlalu kentara terlihat di depan Leeteuk.

“Hyuk! Ayo pergi!” selama dia berpikir ternyata Leeteuk sudah beranjak duluan. Sekarang leadernya itu sedang memberinya tatapan menunggu.

“Oh! O, geurae…” Eunhyuk menjawab dengan bingung. Ketika dia melangkah menjajari Leeteuk, dia menemukan satu ide, “Hyung, telepon yang lain saja dulu, tanya apakah manajer sudah datang atau belum. Jadi kalau orang itu belum datang kita bisa melanjutkan mencari dan ga perlu bolak-balik.” Eunhyuk nyengir sampai gusinya terlihat. Dalam hati dia bangga dengan alasan terlogis yang ditemukannya.

Leeteuk tampak memikirkan itu, lalu memutuskan bahwa itu bukan ide yang buruk. Tanpa berkata apa-apa lagi dia memencet nomor salah seorang member dan bertanya. Saat itulah terdengar pintu toilet dibuka. Eunhyuk langsung berbalik dan perasaannya melonjak melewati atap gedung SME melihat siapa yang keluar dari sana. Itu si Rubah!

Minho langsung sigap membantu Miho. Setengah alasannya adalah karena dia merasa bersalah melihat Miho, karena kemarin pengawal Shinee yang menyebabkan wanita ini terkilir. Tapi setengahnya lagi adalah karena dia ingin mengambil hati Miho. Noona ini benar-benar tipenya.

“Annyeonghaseyo,” Eunhyuk langsung menyapa Miho.

Miho terkejut melihat Eunhyuk dan merasa agak aneh melihat senyumnya yang sangat lebar. Tapi lucu, pikir Miho. “Annyeonghaseyo,” katanya malu-malu. Apapun itu, Eunhyuk tetap berstatus idola, jadi Miho senang-senang saja bertemu cowok itu.

“O, kakimu sepertinya terluka parah,” Eunhyuk mencoba melakukan pendekatan sok akrab dengan Miho.

Sayang sebelum Miho menjawab, Leeteuk mengatakan dari belakangnya, “Manajer sudah datang,” katanya pada Eunhyuk.

Eunhyuk menoleh kesal, tapi lalu berusaha menguasai dirinya. Dia harus berpikir agar bisa menciptakan alasan logis. “Oh, oke. Kita… pergi bersama?” Eunhyuk mengajak semuanya berjalan bersama. Paling tidak dengan begitu ada kesempatan baginya bercakap-cakap sepanjang perjalanan.

Minho menjawab, “Ya. Kami juga harus segera sampai di ruangan secepatnya.”

Miho bersender pada Minho. Sial, sakit di kakinya semakin hebat. “Oh, Manajer sudah datang?” tanyanya pada Minho.

“Ne, Noona. Mereka semua sedang menunggu kita sekarang.” Minho merasa senang karena Miho bergerak makin dekat ke arahnya.

Kali ini Eunhyuk tidak meluputkan panggilan itu. Jadi Miho lebih tua dari Minho. Sial, berapa umur Rubah ini sebenarnya? Untuk satu alasan yang tak bisa dijelaskan, Eunhyuk merasa sangat penasaran.

Mereka berempat akhirnya melangkah bersama. Miho dan Minho terpaksa berjalan di belakang karena Miho tidak bisa bergerak cepat. Wanita itu sekarang sedang sangat tersiksa. Kakinya luar biasa sakit. Tapi dia menahannya karena tak ingin para namja ini tahu. Kalau mereka sampai tahu, itu akan sangat memalukan. Muka orang kesakitan itu tidak pernah nampak bagus. Miho harus menjaga imagenya di depan Leeteuk.

Di depan mereka, Eunhyuk merasa tidak tenang. Bolak-balik dia menoleh ke belakang, membiarkan Leeteuk sendirian berjalan cepat. Akhirnya Leeteuk menyadari bahwa Eunhyuk tertinggal. Pikirannya kini sudah dipenuhi oleh pengumuman dari manajer, jadi dia berseru pada Eunhyuk, “Ya, Lee Hyukjae! Cepat!”

Eunhyuk ingin mengerang kecewa karena harus meninggalkan Minho dan Miho berduaan di belakang, tapi tidak bisa berkelit, akhirnya dia hanya berkata, “O,” sambil berlari menghampiri Leeteuk.

Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika terdengar seruan feminin dari belakang mereka, “Ah!” Itu suara Miho. Keduanya menoleh dan melebarkan mata.

Minho sedang menahan tubuh Miho yang sekarang sudah ada di punggungnya. “Sudah, Noona menurut saja. Dengan begini kita bisa berjalan lebih cepat dan kaki Noona juga bisa diistirahatkan.”

Miho malu sekali. Masa dia sampai harus digendong begini?! “Tapi Minho-ya, aku bisa jalan sendiri kok.”

Minho mendesah. “Memangnya Noona pikir aku ga bisa lihat? Itu muka Noona udah sampai pucat begitu, pasti nahan sakit, kan?”

Miho menunduk karena tertangkap basah. Minho memanfaatkan itu untuk berjalan lebih cepat. Dalam sekejap mereka sudah menyamai langkah Leeteuk dan Eunhyuk yang sedang menatap mereka dengan perasaan yang berbeda. Leeteuk memperhatikan dengan khawatir karena muka Miho yang memang lebih pucat dari tadi saat mereka pertama bertemu, sementara Eunhyuk merasa ingin menonjok Minho. Member Suju yang paling pintar menari itu tiba-tiba teringat bahwa selera Minho memang noona, wanita yang lebih tua. Dan siapa yang akan menolak kalau noonanya secantik Miho?

Akhirnya mereka berjalan berjejeran. Hilang sudah niat Eunhyuk memperkenalkan diri. Ketiga pria itu sekarang berjalan dengan pikiran masing-masing. Minho dengan kegirangannya, Eunhyuk dengan kemarahannya, dan Leeteuk dengan ketergesaannya. Miho sendiri sekarang sedang teraduk-aduk antara rasa malu karena digendong dan kecewa karena tidak memiliki kesempatan berbicara lebih lama dengan Leeteuk.

^^^

Manajer baru saja menjelaskan kekhawatirannya mengenai insiden kemarin kepada Miho. Melihat reaksi netizen dan beberapa fandom, manajer itu khawatir akan terjadi pemberitaan yang berlebihan. Tadi dia baru saja merapatkan hal ini dengan pihak manajemen dan mereka menolak usulnya untuk mengadakan konferensi pers, sama seperti pendapat Miho dan Shinee sendiri. Mereka pikir konpers terlalu berlebihan.

Jadi, hasil akhirnya adalah mereka ingin berunding dengan Miho agar kalau ada yang bertanya, jawabannya disamakan dengan pihak manajemen. Manajer atas nama manajemen sangat mengharapkan pengertian Miho agar tidak mengungkit masalah ‘menyentuh dada’ yang langsung disepakati oleh Miho. Dia tentu saja tidak mau masalah itu terekspos. Tak sudi dia terkenal hanya gara-gara dadanya pernah terpegang oleh Minho Shinee.

Lalu kemudian manajer juga ingin Miho menutupi masalah kakinya yang terluka akibat pengawal Shinee. Untuk yang satu itu Miho sebenarnya malah sudah lupa sama sekali. Waktu itu benar-benar dirasanya sebagai kecelakaan. Memangnya salah pengawal itu waktu sepatunya menyangkut di trotoar? Bukan kan?

“Saya sebenarnya sudah lupa tentang itu, hehe,” Miho nyengir ke arah Manajer. “Tapi mengingat saya juga seorang fans, saya tahu, hal sekecil apapun tetap bisa mencuat ke permukaan apalagi hal yang jelas terlihat seperti itu. Saya pikir itu hanyalah kewajiban pengawal tersebut, benar kan?”

Manajer mendengarkan Miho dengan seksama. Wanita itu benar. Walaupun mereka tidak ingin mengungkitnya, tapi pengamatan orang sangat beragam, dan mereka tidak bisa mencegah pemikiran seseorang. “Lalu apa rencana Anda?” Manajer itu bertanya.

“Saya rasa saya hanya akan mengatakan yang sebenarnya. Bahwa itu hanyalah kesalahpahaman dan sudah tugas seorang pengawal melindungi artisnya,” ujar Miho mantap.

Manajer tampak puas mendengar jawaban itu. Akhirnya mereka bisa mencapai kesepakatan. Dia kemudian mengucapkan terima kasih atas kedatangan Miho. Pria itu juga mengatakan dia berharap tidak akan menemui kehebohan ke depannya nanti. Miho menyetujuinya, lalu karena melihat gelagat Manajer yang ingin menyudahi pertemuan, Miho pun berpamitan.

Dia dan Euncha bangkit dari tempat duduk lalu Minho tiba-tiba berujar dia akan menemani mereka, karena dia ingin membantu Miho yang kesulitan berjalan. Manajer tidak keberatan sehingga akhirnya mereka berjalan bertiga menuju tempat parkir dimana Euncha memarkir mobilnya.

Di parkiran, Minho menemani Miho menunggu kedatangan mobil Euncha. Mereka bercakap-cakap dengan ringan. Minho senang mengobrol dengan Miho sebab meskipun usianya jauh lebih tua, sikap imutnya masih selevel dengan cewek-cewek seusianya. Minho bisa melihat perpaduan yang unik antara pola pikir yang lebih dewasa dan sikap kekanak-kanakan yang melekat di diri Miho. Baru sekali ini, sifat manja seseorang bisa begitu menarik di mata Minho.

Mereka mengobrolkan banyak hal termasuk kehidupan Miho. Cowok itu terkejut mengetahui Miho ternyata menggeluti bidang pendidikan yang jauh sekali dari dunia gemerlap. Tadinya dia berpikir, latar belakang Miho dengan minat dan penampilannya yang bergaya ini pasti tidak jauh dari dunia seni. Ternyata dia salah besar. Kedokteran hewan bukanlah dunia yang Minho pikir akan dikuasai oleh wanita itu. Dan dia mengutarakan pikirannya itu keras-keras dengan nada penuh kekaguman, membuat Miho tersenyum meski hanya basa-basi. Dia tidak begitu nyaman membicarakan hal itu.

Kemudian mobil Euncha datang dan Minho menuntun Miho dengan penuh perhatian masuk ke dalam mobil. Setelah mengiyakan pesan Minho agar pulang dengan hati-hati, Euncha menancap gasnya meninggalkan tempat itu. Minho memandangi sampai mobil mereka hilang pandangan.

^^^

Di tempat lain, begitu mereka berpisah di persimpangan dari Minho dan Miho, Leeteuk dan Eunhyuk melanjutkan dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sampai Eunhyuk terkejut ketika Leeteuk mengatakan sesuatu, “Sama sekali ga keliatan.”

“Hah? Apanya, Hyung?” Eunhyuk berusaha mengingat apakah dia sudah terlalu larut memikirkan Miho sehingga tidak mendengar ucapan Leeteuk sebelumnya. Sepertinya tidak juga karena Leeteuk menggeleng seperti baru menyadari bahwa dia menggumamkan pikirannya keras-keras.

“Apa kau bisa menebak umur Miho?” Leeteuk bertanya pada Eunhyuk.

“Aku sih tadi denger Minho manggil dia Noona. Tapi paling setahun atau dua tahun di atasnya, kan? Emangnya Hyung tau?” Eunhyuk berusaha menahan prasangkanya demi mendengar nada bicara Leeteuk yang sepertinya sudah tahu.

“Kau juga mesti memanggilnya Noona, tau.” Leeteuk berujar mengagetkan Eunhyuk. Miho lebih tua darinya?

Tapi bukan itu yang lebih menguasai pemikiran Eunhyuk. Kenapa Leeteuk sampai sudah tahu umur Miho?! Apa mereka langsung dekat? Eunhyuk terasa makin tertinggal memikirkan itu.

“Atau Hyung. Dia itu sudah 27 tahun.” Leeteuk tiba-tiba melanjutkan.

Eunhyuk menelan ludah. “Eish, jangan bohong, Hyung. Mana mungkin. Dia masih seperti anak kecil begitu,” Eunhyuk menjawab. Tapi hatinya berkata, “Sial, jadi Hyung benar-benar sudah tahu.”

“Jinjjaro,” Leeteuk memberi tatapan meyakinkan pada Eunhyuk. “Aku juga tadi kaget banget. Ga keliatan banget. Apa kau yakin dia laki-laki, Hyuk?” pria itu bertanya lagi pada dongsaengnya.

Eunhyuk menoleh ke arah lain, “Kan kau sudah baca sendiri pesan-pesannya…” dia mencoba menekan perasaannya yang mengharapkan andai saja tidak begitu. Tapi pesan-pesan itu nyata, kan?

Mereka sudah sampai di ruangan mereka sehingga Leeteuk terpaksa menelan lagi kalimat yang hendak diucapkannya. Mereka segera disambut oleh manajer dan sisa member, lalu manajer mulai membicarakan sesuatu yang dibilang ‘penting’ olehnya.

Ternyata SME merencanakan konser SM Town ke Eropa. Perencanaannya sudah matang dan hanya tinggal menyiapkan artisnya saja. Negara yang dituju adalah Perancis. Rencananya artis yang akan berpartisipasi adalah mereka, Suju, Shinee, SNSD dan f(x).

Semua member menyambut berita ini dengan gembira. “Waah, kita akan konser di Eropa?! Aku tidak percaya!” seru Siwon, diikuti ungkapan kegembiraan oleh yang lain, bahkan Eunhyuk langsung melupakan kegalauannya.

^^^

Malamnya di rumah Miho.

Special1004  :  “Jadi kau sudah 27 tahun?”

Foxiemiho    :  “Kau masih belum yakin?

Special1004  :  “Habisnya ga keliatan.”

Foxiemiho    :  “Wah, aku benar-benar tersanjung sekarang.”

Special1004  :  “Apa rahasianya bisa awet muda begitu?”

Foxiemiho    :  “Entahlah. Ini sudah takdir.”

Special1004  :  “Apanya yang takdir?! Hah, kau mau main rahasia-rahasiaan? Baiklah.”

Foxiemiho    :  “Kkkkk, bukan rahasia. Aku memang ga punya rahasia apa-apa.”

Special1004  :  “Baiklah, baiklah. Dasar kau pelit. Bagaimana kakimu?”

Foxiemiho    :  “Kakiku bengkak L. Dan aku ga pelit!”

Special1004  :  “Apa kau suka pada Minho?”

Foxiemiho    :  “Kenapa kau menanyakannya? Tentu saja aku menyukainya.”

Special1004  :  “Eish, ayolah, kau tahu maksudku. Kau ada perasaan khusus padanya?”

Foxiemiho    :  “Ah, siapa yang tidak? Semua gadis pasti jatuh pada pesonanya yang emang penuh karisma.”

Special1004  :  “Memang kau gadis?”

Foxiemiho    :  “Maksudmu?”

Special1004  :  “Lupakan saja. Tidurlah. Kau harus mengistirahatkan kakimu. Senang akhirnya bertemu denganmu.”

Foxiemiho    :  “Aku memang seorang gadis!”

Special1004  :  “Ya, ya, terserah kau saja. Aku ngantuk. Selamat malam, Hyung!”

Foxiemiho    :  “Aku lebih muda darimu, bodoh.”

Special1004  :  “Kkkkk. Geunyang~ J. Selamat tidur.”

Foxiemiho    :  “Selamat tidur.”

-cut-

Iklan