Title: My Own Thing Part 1
Author : kangsoohwa
Length : Continue
Genre : Family, Romance
Cast : AJ U-Kiss

PS : FF ini sebelumnya udah pernah aku publish di http://fanfictionschools.wordpress.com

Las Vegas

Seorang pria setengah baya menyuruh beberapa pengawalnya untuk mencari anak gadisnya yang belum pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Ia ingin tahu kemana anaknya pergi. Selama ini, karena kesibukannya ia tidak pernah mengurusi apa saja yang dilakukan anak gadisnya tersebut.

Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka. “Lepaskan aku!!”

“Lepaskan dia,” pinta pria itu pada pengawal-pengawalnya. “Kau habis darimana saja?” tanya pria tersebut.

“Ah, daddy seperti tidak tahu saja, clubbing of course. Tumben kau menanyakan keadaanku. Biasanya kau hanya mengurusi bisnis casino mu itu,” jawab gadis itu sambil terduduk di sofa dan memandang ayahnya dengan tatapan sinis.

Pria itu duduk di hadapan anak gadisnya dan menatap mata gadis itu dalam-dalam. “Hentikan kebiasaan burukmu itu mulai dari sekarang!” pintanya tegas.

Gadis itu memutar bola matanya. “Sejak kapan kau jadi cerewet begini, dad?”

“Kau akan segera menikah. Suamimu orang baik-baik. Ia tidak akan suka melihat istrinya pulang dalam keadaan bau alcohol begini!”

Gadis itu terlonjak mendengarnya. “Apa maksudmu, dad? Menikah? Siapa yang akan menikah?”

Pria itu menelan ludah. “Kau harus menikah dengan anak rekan bisnisku. Usahaku hampir bangkrut. Satu-satunya cara untuk memperbaikinya hanyalah dengan menjodohkanmu dengan anaknya”. Pria itu lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke luar ruangan tersebut meninggalkan gadis itu.

“Seenaknya saja kau menjodohkanku begitu! Aku tidak mau!”

“Kau harus mau,” kata pria tersebut tegas.

Gadis itu menyunggingkan seulas senyum sinis. “Aku harus mau? Kalau aku tidak mau bagaimana? Apa yang bisa kau perbuat?”

Pria itu menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh menghadap gadis tersebut. “Kau sudah kuurus sejak 3 tahun lalu. Mana terimakasihmu? Yang kau bisa hanyalah menghamburkan uangku, Leila!”

Gadis tersebut berjalan menghampiri ayahnya. “Lilo, dad. Aku benci nama itu. Siapa juga yang mau ikut denganmu? Kaulah yang memaksaku ikut denganmu ke sini! Dan mengurusku? Kau hanya memberiku uang. Akulah yang mengurus diriku sendiri. Good night, dad!”

Gadis itu memberi pelukan singkat dan mengecup kedua pipi ayahnya.

Pria itu melepas pelukan Lilo dengan paksa. “Kau akan menyetujui perjodohan ini kan?” tanyanya.

“Dad, sekali lagi aku tanya. Kenapa aku harus mau menyetujui perjodohan bodoh ini? Orang yang mau dijodohkan denganku saja aku tidak tahu, bagaimana aku bisa menyetujuinya?” Lilo berkacak pinggang dan menunggu jawaban ayahnya. Gadis itu lalu mengerjapkan matanya dan mengangguk. “Daddy tidak bisa menjawab kan? Kau tidak bisa mengatur hidupku seenaknya saja, ingat itu!”

“Kau akan menyesal kalau menolaknya, Lilo!”

**********

Lilo merasa seakan ayahnya telah berubah menjadi malaikat pencabut nyawa. Bagaimana tidak, seluruh credit card nya diblokir. Ia tidak bisa hidup tanpa credit cardnya. Ia terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan kembali haknya tanpa menyetujui perjodohan bodoh tersebut. Sampai akhirnya sebuah ide yang menurutnya cemerlang muncul di kepalanya.

**********

Setelah mengatakan pada ayahnya kalau akhirnya ia menyetujui perjodohan yang ditawarkan ayahnya kemarin, Lilo langsung memesan tiket pesawat ke San Fransisco. Sambil berjalan ke lobby hotel, sesekali ia tersenyum pada karyawan-karyawan ayahnya agar tidak ada satupun dari mereka yang curiga.

Begitu mendapatkan sebuah taksi, ia langsung melompat masuk dan mengatakan tujuannya pada supir taksi. “Hmm, aku bukan anak kecil yang bisa seenaknya ia suruh menjalankan perjodohan bodoh seperti itu,” gumam Lilo.

**********

“Apa? San Fransisco? Segera kejar anak itu dan bawa dia padaku malam ini juga!” perintah ayah Lilo pada pengawal-pengawalnya. “Dasar anak bodoh! Mencoba kabur ke rumah ibumu, huh?” gumam pria tersebut.

Ia tidak tahu apa yang direncanakan putrinya sekarang. Ia tahu betul kalau Leila mewarisi hampir semua sifatnya, termasuk sifat liciknya. Hanya kabur ke rumah ibunya bukanlah sifat seorang Leila. Ia pasti merencanakan sesuatu.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

“LEILA! WHAT ARE YOU DOING? KEMBALI KE SINI SEKARANG JUGA!” bentak pria itu pada orang yang ada di seberang sana.

“Calm down dad, aku tidak mencoba kabur kok. Aku hanya ingin mengunjungi mom dan Kara. Apa itu salah?” jawab Lilo.

“Apa hanya itu tujuanmu? Kalau kau merencanakan sesuatu sebaiknya kau cepat kembali ke sini karena aku yakin rencanamu itu akan gagal. Aku sudah tahu segala macam pikiran licikmu!”

“Astaga, daddy. Kau bisa menyuruh Kara untuk selalu memberikan laporan tentang kelakuanku di sini padamu. Aku tidak sampai menginap kok. Nanti malam juga aku pulang, dad. Bye!!!”

Sambungan telepon terputus dan pria itu masih belum menemukan rencana yang mungkin akan dimainkan Lilo. Kabur jelas bukanlah jawaban meskipun itu adalah satu hal yang amat mungkin Lilo lakukan. Ia benar-benar tidak tahu apa rencana putrinya kini.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Kara….Karoline…Kembaran Leila….Apa itu rencananya?” Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Lilo.

“Kalau kau bisa membawa kembaranmu ke sini. Tentu saja itu artinya kau terbebas dari perjodohan,”

**********

San Fransisco

“Mom, Kara, aku pulang!!!” seru Lilo begitu memasuki rumah ibunya.

“Lilo?” tanya ibunya heran.

“Jadi, mana pelukan untukku?”

“Kenapa tidak bilang dulu kalau kau mau ke sini? Aku kan jadi bisa menyiapkan kamarmu dulu,” kata Kara yang tiba-tiba saja muncul dibalik tubuh ibunya.

Lilo memandang kembarannya lekat-lekat. “Tidak ada yang berubah. Pasti mudah untuk membujuknya menggantikanku,” pikir Lilo.

“Duduklah dulu di ruang makan, biar aku masakkan sesuatu untukmu. Aku yakin kau pasti rindu dengan spaghetti buatanku,” kata Ibu Lilo sambil masuk ke dapur dan mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkannya.

Lilo mengangguk dan mengikuti kembarannya ke ruang makan.

Sementara menunggu ibunya selesai memasak, ia melirik Kara yang sedang duduk di sampingnya sambil membaca buku pelajaran. “Khas Kara,” cibirnya. “Kau tidak berubah sama sekali, sis,”

Kara hanya melirik Lilo dan tersenyum kecil.

“Ngomong-ngomong, aku cuma mau bilang kalau kau yang akan ke Vegas nanti malam,”

Gadis itu mengalihkan pandangannya dari buku pelajaran yang ada di tangannya dan menatap kembarannya dalam-dalam. “Apa katamu?”

Kembarannya duduk santai di sampingnya dan menyulut sebatang rokok. “Masih kurang jelas? Aku bilang kau yang akan terbang ke Vegas nanti malam. Aku akan tinggal di sini bersama Mom,”

Kara menelan ludah. “Apa maksudmu? Aku masih tidak mengerti. Kalau aku ke Vegas nanti malam, bagaimana dengan sekolahku?”

Lilo memutar tubuhnya hingga ia benar-benar berhadapan dengan saudara kembarnya itu. “Aku yang akan menggantikanmu. Lagipula sekolah formal tinggal seminggu kan? Minggu depan libur musim panas dimulai. Tugasmu lebih gampang lagi, aku homeschooling di Vegas jadi kau tidak usah berpura-pura menjadi aku, paling dad hanya akan meminta beberapa bantuan darimu,”

“Kalian sedang membicarakan apa sih? Kelihatannya serius sekali,” kata ibu mereka yang baru saja masuk sambil membawa tiga piring spaghetti carbonara kesukaan mereka berdua.

“Tidak penting, mom,” kata Lilo sambil tertawa kecil.

**********

“Sekarang jelaskan padaku apa maksud dari semua perkataanmu tadi, Lilo!” seru Kara tepat di depan wajah Lilo begitu Lilo menyeretnya masuk ke kamar.

Lilo memandang wajah saudara kembarnya dengan tatapan aneh. “Kenapa kau tidak paham juga? Kau masih pintar kan? Sekarang dengarkan aku baik-baik. Kau akan terbang ke Vegas malam ini, dengan identitasku. Kau harus mengaku sebagai aku selama di Vegas nanti dan tidak boleh ada seorangpun yang mengetahuinya termasuk dad. Aku di sini, akan melakukan hal yang sama. Bagaimana? Kalau kau takut aku mengacau aku janji tidak akan mengacau selama di sekolahmu. Memakai pakaian sopan, mengerjakan PR, memperhatikan guru, tidak merokok, dan sebagainya. Jadi, kau setuju tidak?”

Kara mengangguk-angguk mendengar penjelasan Lilo. “Oke, aku paham. Hanya satu hal yang tidak aku mengerti di sini. Kenapa kau meminta kita bertukar tempat?”

“Pertanyaan bagus! Sayangnya aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bosan mendekam di kamar hotel daddy. Setidaknya kalau di sini aku bisa sedikit bergaul di sekolahmu,”

**********

Lilo mengambil t-shirt putih milik dan cardigan beige milik Kara, tidak lupa ia menyambar scarf hitam dan black buckle boot saudara kembarnya itu juga. Mungkin inilah yang disebut efek global warming, suhu malam ini bisa dibilang cukup dingin untuk malam musim semi yang malah akan berakhir dan berganti menjadi musim panas. Ia lalu melemparkan mini dress hitam dari dalam ranselnya untuk Kara. “Pakai ini!”

“Dengan suhu sedingin ini?” tanya Kara sambil memandang mini dress yang ia yakin bisa membuat tubuhnya beku dalam sekejap kalau ia memakainya sekarang.

Lilo tidak mendengarkan ucapan Kara dan segera memakai semua benda yang telah ia ambil tadi. “Kau pakai saja agar rencana kita berjalan lancar. Oh iya, aku bawa mantel bulu kok di ransel, kau bisa memakai itu juga,” Setelah selesai mematut dirinya di cermin, ia berbalik dan melihat Kara yang masih terdiam memandanginya. “Bagaimana? Aku terlihat persis sepertimu kan?”

Kara mengangguk. Ia lalu mengenakan mini dress dan mantel bulu milik Lilo. “Aku tidak menyangka kalau aku bisa benar-benar terlihat sepertimu,” katanya takjub. “Penyamaranku sudah bagus kan?” tanyanya pada Lilo. “Emmm, mungkin yang aku butuh sekarang adalah latihan merokok sepertimu,”

Lilo berjalan mendekati Kara dan menyerahkan tiket pesawatnya. “Selamat jalan, sis,”

Belum sempat Kara mengatakan apa-apa, Lilo sudah menaruh tiket pesawatnya di genggaman Kara dan memeluknya. “Thanks, sis. Semoga kau bersenang-senang disana, sekarang, ayo kita berangkat ke bandara,”. Senyum licik tiba-tiba timbul di wajahnya.

“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian berpelukan begitu lama dan mengabaikanku yang baru datang?”

“AJ!!” seru si kembar bersamaan.

Kedua gadis itu melepaskan pelukan mereka dan mendatangi AJ yang sedang berdiri di depan pintu kamar Kara. Pria yang 3 tahun lebih tua dari mereka itu memandang Kara dengan tatapan aneh. “Apa yang kau lakukan di sini, Lilo?”

Kara dan Lilo saling bertatapan. Bahkan AJ, kakak mereka yang biasanya tidak bisa dikelabui tidak bisa membedakan mereka berdua. “Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lilo.

AJ mengerutkan keningnya. “Sejak kapan kau bisa bicara kasar pada kakakmu huh? Universitasku sudah libur sejak kemarin, jadi aku memutuskan untuk berlibur ke sini,”

“Mom bilang kau baru datang tadi pagi kan? Kau sudah mau ke Vegas lagi?” tanya AJ.

Lilo tidak mengabaikan perkataan AJ, ia menarik Kara keluar kamar dan mendorongnya masuk ke mobil. “Kau mau ikut mengantar Lilo ke bandara atau tidak?” tanya Lilo.

“Tapi, aku baru saja datang dan belum sempat makan malam,” kata AJ sambil mengikuti kedua adik kembarnya.

“Kau bisa langsung makan malam begitu kita pulang dari bandara nanti. Sekarang, cepat masuk ke mobil,”

“Ini pertama kalinya seumur hidupku mendapat perintah darimu, Kara,”

“Daddy sudah meneleponku daritadi menyuruhku segera pulang, AJ. Aku tidak mau ketinggalan pesawat. Jadi sebaiknya kau cepat masuk ke mobil,” kata Kara mencoba mengubah nada suaranya menjadi nada suara Lilo.

“Okay okay, aku naik. Jalankan mobilnya sekarang, mom,” kata AJ sambil mengambil posisi di samping ibunya.

Lilo kembali tersenyum licik. Sepertinya rencananya akan berjalan mulus tanpa hambatan sedikitpun.

**********

“Kau mau menemaniku makan malam?” tanya AJ begitu mereka pulang dari bandara.

Lilo mengabaikan ucapan AJ dan masuk ke kamar Kara lalu merebahkan tubuhnya. “I’m sorry sis, but I have to,” gumamnya sebelum memejamkan mata.

**********

Las Vegas

“Jadi, bagaimana perjalananmu, princess? Melelahkan?” tanya ayah Kara pada anaknya tersebut.

“I’m okay, dad. Memang melelahkan, tapi menyenangkan juga akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Kara dan Mom,” kata Kara sambil menatap ayahnya dan tersenyum.

Ayahnya membalas tatapan Kara dan ikut tersenyum. “Baguslah kalau begitu, kau harus beristirahat malam ini, besok adalah pertemuan paling penting dalam hidupmu.”

Kara tampak berpikir sebentar dan mengangguk. Ia tidak ingat kalau Lilo pernah mengungkit-ungkit sesuatu soal pertemuan besok. “Apa ia lupa? Aku harus menghubunginya saat sampai di kamar nanti,” pikir Kara.

“Besok jangan coba-coba kabur lagi, ya,” kata ayahnya lagi.

Kara mengerutkan kening. Kabur? Kenapa ia harus kabur? Memangnya pertemuan apa sampai-sampai Lilo harus kabur.

Begitu sampai di depan hotel sekaligus casino milik ayahnya, ayahnya langsung mengambil semua barang bawaannya dan mengantarnya sampai kamar. “Good night, princess! Sleep well. Ingat! Pertemuan besok sangat penting untuk kita.”

**********

“Lilo!! Cepat kebawah! Kita sudah terlambat sepuluh menit!”

Kara segera bangun begitu mendengar seruan ayahnya di telepon. Ia terlalu lelah sampai-sampai lupa untuk menelepon Lilo untuk menanyakan pertemuan apa yang akan ia hadiri siang ini. Dengan asal ia menyambar mini dress hitam dengan motif bunga-bunga pink milik Lilo yang tergantung di atas sandaran ranjangnya dan mengenakan flat shoes putih yang juga tergeletak begitu saja di bawah ranjang. Saat melewati kamar mandi ia masuk lalu cuci muka dan menggosok giginya, tidak lupa ia mengenakan bedak tipis dan lipgloss, bukan Lilo namanya kalau tidak mengenakan make up.

Begitu sampai di Lobby, ayahnya telah menunggu dengan tampang kesal. “Kita sudah terlambat setengah jam. Ayo berangkat!”

Kara mengangguk dan segera mengikuti ayahnya. “Ehm, dad! Dad, tunggu sebentar!” seru Kara sambil menarik lengan ayahnya.

Ayahnya mengerang dan melotot ke arah Kara. “Apalagi?”

Kara terdiam sejenak. “Sebenarnya, kita mau kemana, dad?”

“Lilo,jangan bilang kalau kau melupakannya! Kita mau ke acara perjodohanmu tentu saja! Ayo cepat kita sudah terlambat!!!”

Kara tertegun dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau,”

“Tidak mau? Ayolah, jangan berkata bodoh. Kau mau menghancurkan bisnisku, huh?”

Kara melebarkan matanya dan berbalik hendak berlari kembali ke kamarnya. Okay, sepertinya sekali lagi ia telah termakan akal bulus saudara kembarnya. Ia mempercepat langkahnya dan menekan tombol lift mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya. “Lilo! Kembali ke sini!!” seru ayahnya. Ia menoleh dan menyadari kalau ayahnya sekarang sudah tidak jauh dari tempat ia berdiri sekarang. “Aku tidak mau dijodohkan, dad,” mohonnya.

Ayahnya mengajak ia ke ruangan kerjanya. Kara menyingkirkan bantalan sofa yang tergeletak manis dan duduk di atasnya dengan wajah kusut. Ia tidak menyangka kalau saudara kembarnya bisa melakukan hal seperti ini kepadanya. Ia harus segera berbicara dengan saudara kembarnya tersebut. “Dad, aku mohon biarkan aku menelepon Lilo. Lima menit saja. Sebelum kau bertanya, aku mau bilang dulu kalau sebenarnya aku bukan Lilo. I am Kara. Aku bertukar tempat dengannya karena ia memintaku. Aku tidak menyangka kalau ia mengajakku bertukar tempat karena ia mau menghindari perjodohan ini.” Setelah meneriakkan hal tersebut Kara menunduk dan menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya.

“Kenapa kau bisa sebodoh itu? Itu salahmu sendiri. Kau tidak bisa menyalahkan Lilo!”

Setelah mengatakan hal itu, ayahnya segera menyuruh dua orang pengawalnya untuk menyeret Kara masuk ke mobil. “Aku sangat menghargai kalau kau mau membantuku, Kara. Bisnisku benar-benar diambang kehancuran,”

“Tapi aku….aku menyukai orang lain, dad,”

“Menyukai…belum mencintai,”

“Aku mencintainya!” kata Kara penuh penekanan.

“Apa orang itu mencintaimu juga?”

Kara terdiam.

“Kalau kau tidak bisa menjawab, kau harus menuruti perjodohan ini,”