Cast :

  1. Dewa-dewi

Galatea Cora : Shin Mirrelle – Max/Orkus : Shim Changmin – Andrew Kynee : Choi Siwon

Alena Minos : Lee Hyunmi – Shawn Sword : Jung Ji Yoon – Thanatos/Marcus : Cho Kyuhyun

Setting : Europe – London – Latona Village

A.N > Ada baiknya baca cast nya satu persatu biar gak bikin bingung. Ada perubahan sudut pandang yang aku pake di sini. Cora isn’t me. She is original character from me.

It’s  story I’ve ever publish on my personal blog www.maximumshim.wordpress.com

Chapter I #Cumae & Lisium#

Dandsire.” Seorang gadis dengan mata tertutup menggumamkan sebuah kalimat yang begitu asing di dengar. Seberkas cahaya keperakan berpencar indah di tangan kirinya, ia melirik tangannya sekilas dan tersenyum sinis namun penuh kepiluan.

“Seharusnya aku menemui Thanatos sekarang.” Gumam gadis itu masih memandang tangannya yang mengeluarkan cahaya. Ia maju selangkah dari tempatnya berdiri. Memandang indah hamparan rumput hijau yang terbentang indah di depannya. Gaunnya yang berwarna putih bernoda residu sama sekali tak menutupi kecantikannya. Wajahnya yang cantik dan kulit putihnya yang mulus menandakan bahwa gadis ini bukanlah gadis biasa.

Sekali lagi gadis itu menggumamkan rentetan kalimat aneh yang begitu asing di dengar oleh manusia. Terkadang rintihan kecil keluar dari bibirnya yang berwarna kemerahan. Dia sedang menahan rasa sakitnya untuk tetap bertahan hidup di dunia. Bertahan hidup di tempat yang seharusnya bukanlah menjadi tempatnya.

“Berhenti melawan takdirmu Cora.” Seru sebuah suara. Gadis bernama Cora itu berbalik – menatap sesosok pria tampan yang tengah menatapnya marah.

Snismrie.” Desis Cora pelan dan seberkas cahaya yang berpendar dari tangannya pun lenyap seketika.

“Jangan menganggu ritualku Kynee.” Sahut Cora dan melangkah mendekati Kyne yang masih terpaku sambil menatap Cora marah.

“Asklepios bisa menyembuhkanmu Cora. Dia mampu menghidupkan orang mati dan kau tahu itu dengan benar.” Nasehat Kynee dan meraih tangan Cora ketika gadis itu sudah berdiri tepat di depannya. Menatap bola mata Cora yang berwarna keemasan dan sekali lagi hasrat untuk memiliki gadis ini sangat besar.

“Aku masih hidup Kynee.” Kata Cora pelan dan tersenyum. Garis-garis kecantikan tergurat indah di sana.

“Kau sudah mati Cora dan itu takdir yang sedang mengejarmu.” Kynee mengucapkan kalimat itu penuh penekanan. Membuat sekujur tubuh Cora bergetar hebat setelah mendengarnya. Namun Cora tetap tak bergeming. Tetap menatap Kynee dengan lembut seolah ia tak takut dengan kenyataan yang sedang di hadapinya.

“Sihirku masih mampu membuatku tetap bertahan.” Cora berkilah, merasa dirinya masih cukup kuat untuk membuatnya terlihat hidup.

“Kau bukan murni Persefone, Cora. Veela tidak akan mengizinkanmu lagi pergi ke Asphodel jika kau terus seperti mayat hidup seperti ini. Kau, harus memilih antara mati atau hidup.” Kynee menggeram. Dia berusaha menahan amarahnya untuk gadis yang tak memiliki nyawa ini. Seorang gadis yang lebih memilih hidup terkutuk di bandingkan hidup abadi.

Cora tertawa pelan. Namun tawanya lebih terdengar seperti tangisan yang di tahan dari dalam dirinya.

“Ini pilihanku. Kau – sebagai salah satu pemimpin dewa kematian tak seharusnya menasehatiku. Dan, kau itu juga pengkhianat Kynee. Kau tidak menangkapku.” Kali ini tawa Cora berubah menjadi seringaian. Ia mengganti tatapannya ke Kynee dengan pandangan sinis. Kynee memang salah satu dewa kematian. Ia merupakan renkarnasi dari Aiakos – yang merupakan tiga hakim dunia bawah dan bekerja di bawah pimpinan Hades.

Cora dan Kynee merupakan generasi yang tersisia dari zaman kekuasaan dewa Olympus. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan terpendam. Namun karena sebuah perang besar yang terjadi dengan para keturunan Titan, Cora harus merelakan nyawanya yang di ambil oleh Thanatos. Tidak benar-benar nyawa, namun seperti bola cahaya yang menerangi jalan hidup Cora. Ketika Cora tak lagi memiliki bola cahaya yang biasa di sebut Cumae, Cora hanyalah manusia yang tak mempunyai apa-apa. Cora tak bernafas, dia tidak makan dan dia sama sekali tak memiliki organ apapun dalam tubuhnya.

Cora mampu bergerak namun ia tak mampu berlari. Cora mampu bersuara namun ia tak mampu bernyanyi layaknya Orfeus yang memiliki suara indah. Cora hanyalah satu sosok tubuh yang berisikan jiwa murni. Hanya ada hal buruk yang bernaung dalam dirinya. Karena ketika Cumae terlepas dari tubuh, maka mereka akan sama seperti sebongkah balok es yang tak berperasaan namun mematikan. Cora dapat bertahan di dunia karena ia masih memiliki sihir yang melekat pada dirinya. Sebuah sihir yang di warisi dari dewi Olympus bernama Persefone dan dia juga mewarisi sifat kuat Demeter yang tak lain adalah ibu dari Persefone. Cora merupakan manusia setengah dewi pada reinkarnasi sebelumnya.

Sedangkan Kynee? Dia hanyalah dewa kematian bodoh – setidaknya begitu bagi Cora, yang lebih memilih menyelamatkan Cora di bandingkan menyabut seluruh nyawa Cora dan membawanya ke dunia bawah. Reinkarnasi Hades – Orkus tentu saja mengusirnya dari sana. Memberi kutukan pada pria tampan tersebut dan mencabut semua sihir kematian yang melekat pada tubuh Kynee. Kutukan Kynee bertambah parah ketika ia tak mampu menggunakan sihir hanya untuk melawan satu werewolf yang berkeliaran di daerah Hutan sebelah timur. Saat itu Kynee sedang melakukan ritual nya seperti biasa – Wslugy begitulah Kynee menyebut ritual tersebut. Sebuah ritual di mana ia harus berhasil menemukan seribu bunga Edelweis di puncak gunung. Satu-satunya ritual yang mampu mengembalikan sihirnya secara perlahan dan sayangnya saat itu nasib baik sedang tidak berpihak padanya.

Kynee bertemu dengan salah satu Werewolf yang sedang bertransformasi pada malam itu. Kynee tidak menyadari bahwa saat itu sedang bulan purnama dan dengan bodohnya ia menjejakkan kakinya di hutan  yang merupakan bersarangnya para Werewolf. Eyl Vance – werewolf wanita yang memiliki kecantikan luar biasa menyerangnya malam itu. Mengoyak tubuh Kynee dan menularkan virus yang menyebabkan Kynee menjadi sama seperti mereka. Menjadi satu sosok terkutuk yang tidak akan mengenal dirinya sendiri pada saat bulan purnama datang.

Cora – saat mengetahui kejadian ini sempat syok dan tak menyangka bahwa Kynee telah bertransformasi menjadi werewolf. Untuk itulah Cora menerima Kynee sebagai Lisium atau pengawal abadi dan perjanjian Stix mengikat pada mereka berdua. Alasan lain Cora menerima Kynee sebagai Lisium karena kecepatan Kynee yang luar biasa dan itu di akibatkan pengaruh virus werewolf yang melekat pada dirinya. Kecepatan inilah yang di manfaatkan oleh Cora agar ia bisa menghindar dari Orkus sang pemilik dunia bawah dan keturunan langsung dari Hades. Orkus sendiri memiliki Veela-veela cantik yang mempunyai tugas untuk menjaga Asphodel – tempat di mana Cumae Cora tersimpan dengan baik.

Selama ini Cora berperang melawan Orkus hanya untuk mendapatkan Cumae miliknya. Karena bagi Cora kematian bukanlah hal terakhir yang harus di hadapi olehnya. Cora tidak rela jika ia akan abadi di dunia bawah bersama Orkus. Ia tak ingin nasibnya sama seperti Persefone yang di culik oleh Hades agar mereka bersatu di dunia bawah. Ia tidak ingin nasibnya di jadikan alasan bergantinya musim yang berada di dunia. Karena pada kenyataannya sekalipun Cora tidak berada di dunia bawah, musim masih terus berganti karena Cumae miliknya yang di kekang oleh Orkus. Sekalipun Cora memiliki sihir yang luar biasa, ia tetap tak mampu melawan Orkus. Terlebih lagi ia harus menghadapi Ceberus – anjing berkepala tiga yang bertugas untuk menjaga pintu dunia bawah. Sekali kau pergi ke sana, di pastikan kau tidak akan pernah kembali. Karena Cerberus akan menerkammu, mencabikmu sedikit demi sedikit.

“Aku tak ingin kau terus seperti ini. Takdirmu mungkin harus seperti Persefone.” Kata Kynee. Menyapukan dengan lembut bibirnya di punggung tangan Cora. Hanya sensasi dingin yang terasa di bibir Kynee – bahkan itu tak membuatnya lebih hangat mengingat Kynee merupakan ‘hewan’ berdarah panas saat ini.

“Jangan memperlakukanku seperti ini Kynee. Tidak ada satu pun clan ku yang mencintai Lisium nya sendiri.” Kata Cora pendek, menarik tangannya dengan cepat dan mengusap punggung tangannya dengan perlahan. Seolah jijik dengan ciuman yang di berikan oleh Kynee. Tak peduli seberapa tampannya werewolf yang berdiri di hadapannya ini.

“Aku merindukan Cora yang memiliki Cumae.” Gumam Kynee pelan. Namun Cora tak peduli ia mengibaskan tangannya dan berjalan menjauhi Kynee menuju beranda puri yang mereka tinggali. Hampir seratus tahun Cora dan Kynee berpindah-pindah dari satu puri ke puri lain.

“Sekalipun Cumae ku kembali kau tetap tak bisa memilikiku Kynee.” Cora tertawa tergelak seolah apa yang di ucapkannya adalah hal lucu yang pernah ia katakan.

“Kau werewolf dan aku setengah dewi. Tak peduli kau keturunan Aiakos – sekarang ini kau tak lebih dari sesosok binatang yang haus akan daging sejenismu.” Tambah Cora tajam dan berbalik menatap Kynee dengan tatapan jijik. Namun meskipun sudah berulang kali Cora menghina Kynee tak ada sedikitpun niat dalam diri Kynee untuk meninggalkan Cora. Karena pada sesungguhnya Kynee mencintai Cora jauh sebelum Cora kehilangan Cumae miliknya.

“Mintalah pada Asklepios cara untuk mendapatkan Cumae milikmu. Kau tahu dengan betul, bahwa laki-laki tua itu membenci semua keturunan Hades. Kau bisa memanfaatkannya Cora.” Saran Kynee dan berjalan mendekati Cora. Meraih ujung rambut Cora dan menghirup wanginya dalam-dalam. Wangi cemara, sesuatu yang sangat sering di temukan di Asphodel. Surga dunia bawah.

“Kau menyuruhku pergi ke desa, begitu? Menjadi tontonan banyak manusia karena kulitku yang nyaris putih seperti mayat hidup dan bola mataku yang berwarna keemasan? Atau, kau ingin aku membunuh mereka dengan kutukan Zarrasto?”

Kynee terdiam. Ia tahu dengan baik bagaimana kemarahan Cora dan ia tak ingin gadis cantik itu menjadi pembunuh untuk kedua kalinya. Pernah suatu hari Kynee mengajak Cora keluar dari puri seperti manusia biasa. Berjalan dengan langkah indahnya dan tubuhnya yang di baluti gaun panjang berwarna jingga. Namun kehebohan terjadi ketika mereka menapaki kaki di  Viking – salah satu desa kuno yang masyarakatnya percaya dengan semua mitos dari masa lalu. Mereka menyangka Cora adalah sejenis vampire yang akan menghancurkan mereka dan menuduh Kynee sebagai pasangan abadi Cora. Saat itu Cora tak bisa menahan amarahnya. Ia merasa terhina karena di kira sebagai predator utama manusia itu. Cora selalu beranggapan dirinya adalah sesuatu yang suci dan dia tak mau di anggap sebagai salah satu makhluk abadi namun rendah karena meminum sesuatu yang menjijikkan.

Cora mengeluarkan sihir paling mematikan yang ada di dunia. Kutukan Zarrasto. Sebuah kutukan yang akan membuat dirimu merasakan panas dan dingin secara bergantian. Membuat setiap pembuluh darahmu mengalir dengan hebat. Menimbulkan sebuah sensasi yang menyakitkan karena paru-parumu menerima banyak udara dalam satu kali waktu. Seolah-olah paru-parumu akan meledak dan menyemburkan semua darah yang berada di dalam dirimu. Dan ketika kau tak mampu menahan semuanya, tubuhmu akan hancur secara perlahan seperti air raksa yang di teteskan ke dalam luka perih yang tergores.

“Hanya itu satu-satunya jalan yang tersisa. Kau tak bisa selamanya hidup dalam pelarian. Cepat atau lambat Alena – reinkarnasi dari Minos akan menemukanmu. Kau tahu, kecepatannya sangat luar biasa dan sekalipun aku werewolf dia masih tak tertandingi.”

“Jadi kau kalah dengan gadis itu? Dia termasuk golongan Tartaros bukan? Dia mengikat roh-roh jahat ku rasa.”

Kynee mengangguk. Tartaros, pengikat roh jahat dan mereka memiliki pedang serta kuda yang di berkahi kecepatan yang luar biasa. Terlebihi lagi keturunan Minos di anugerahi occlument sama seperti Kynee, sebuah sihir untuk memasuki alam bawah sadar manusia. Seperti hipnotis.

Cora memejamkan mata, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Membuat sebagian rambutnya yang berwarna kecoklatan terurai dengan indah. Otaknya terus memikirkan bagaimana cara ia mendapatkan kembali Cumae nya dari tangan Orkus. Dari tangan seseorang yang sebenarnya merupakan takdir akan cintanya. Namun Cora tak mau mengakui hal itu. Ia tak ingin berada dalam perjanjian Stix. Perjanjian yang mengikat pada para dewa.

“Jangan mencoba memasuki pikiranku Kynee.” Desis Cora tajam saat merasakan ada sesuatu yang hendak melesak masuk ke dalam pikirannya.

“Sorry.”

“Aku tahu Asklepios memang hebat. Dia manusia namun mampu membuat ramuan abadi dan memiliki berbagai siasat untuk kaum seperti kita dalam berperang. Namun ku rasa kau juga tahu bahwa pergi ke tempatnya selain melewati desa, kita juga akan menyeberangin sungai Akheron. Dan yang ku tahu sangat sulit melewati sungai itu.”

“Jadi kau takut karena sungai itu?” kali ini Kynee mencibir. Pikirannya sudah sedikit masuk ke dalam pikiran Cora dan gadis itu tak menyadarinya. Ia tahu Cora takut dengan penjaga Akheron karena untuk melewatinya harus membawa satu mayat sebagai santapan makan  siangnya.

“Tidak. Kau tahu aku tak takut dengan apapun.” Dusta Cora dan Kynee terkekeh.

“So?”

Cora mengerucutkan bibirnya. Berpikir sejenak untuk menerima nasehat dari Kynee atau tidak.

“Baiklah. Kita menemui Asklepios.” Putus Cora dan Kynee tersenyum penuh kemenangan.

***

Chapter II #The Breaker Destiny#

Kynee menunggu Cora di depan puri yang biasa mereka tempati. Perasaannya seperti halilintar – terkesan di aduk-aduk karena sebentar lagi mereka akan keluar dari zona aman mereka. Kynee cukup bersyukur karena sebagian sihirnya sudah mulai kembali. Setidaknya dia masih memiliki kemampuan untuk melindungi Cora jika nanti di tengah jalan ia bertemu dengan Alena – sang pemutus takdir. Begitulah Kynee menyebutnya. Alena sangat cantik sebenarnya. Ia memiliki garis keturunan dari Aphrodite namun sayangnya hasrat untuk menuntun roh orang mati jauh lebih banyak dalam dirinya. Dan terkadang Kynee berpikir bahwa Alena adalah satu-satunya gadis selain Cora yang mampu membuatnya terpaku.

“Aku siap dan aku ingin berjalan terlebih dahulu.” Kynee tersentak. Cora sudah berdiri di sampingnya memakai gaun selutut berwarna peach dan rambut coklatnya di ikat ke belakang. Menampakkan lehernya yang jenjang dan kulitnya yang pucat tak mengurangi kecantikannya sedikitpun.

Perlahan Cora menuruni tiga undakkan untuk turun ke luar puri, menyeruak di antara dahan-dahan kering berwarna hitam yang menghalangi jalan setapak. Kynee menjaganya dengan hati-hati, ia bisa saja menggendong Cora dan menggunakan kecepatan berlarinya untuk segera sampai di desa. Namun ia tahu kebiasaan Cora. Cora sangat menyukai panas matahari. Membuatnya merasa hidup dan layak di katakan sebagai manusia normal.

“Kenapa kau membenci Max?” Kynee bertanya, memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.

“Aku lebih suka memanggilnya Orkus.” Cora tak menjawab malah mengeluarkan sebuah pernyataan untuk mengingatkan Kynee tentang Orkus. Cora memang tidak suka memanggil keturunan Hades itu dengan nama aslinya. Cora lebih suka memanggil Orkus, seolah menunjukkan bahwa ada perbedaan besar di antara mereka. Cora sendiri bukanlah nama aslinya. Cora merupakan nama Klan yang di sandangnya. Dia, bernama Mirrelle.

“Ok, kenapa kau membenci Orkus, yang mengambil Cumae mu adalah Thanatos dan itu atas perintah para Titan.” Kynee bertanya lagi, selama ini pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan mengenai kebencian Cora pada Max.

“Untuk satu itu kau tahu alasannya dengan jelas Andrew Kynee.” Desis Cora dan kali ini Kynee terdiam. Kynee tahu jika Cora sudah menyebut nama lengkapnya berarti Cora sudah merasa kesal dan Kynee sama sekali tidak ingin menggali lubang kuburnya sendiri.

Kynee dan Cora terus berjalan, menyusuri lereng bukit untuk menuju ke sebuah desa yang merupakan satu-satunya jalan tercepat untuk menemui Asklepios – sang penyembuh. Kicauan burung semakin lama semakin tidak terdengar ketika Kynee dan Cora mulai memasuki kawasan Verga, desa yang mereka tuju. Desa itu tampak tak terawat. Banyak rumah-rumah kayu yang lapuk dan hancur di makan usia. Sisa-sisa salju yang mencair membuat jalanan semakin licin karena sama sekali tak ada yang membersihkannya.

“Aku baru tahu jika Verga semenyeramkan ini.” Kata Kynee pendek. Sebuah plang besar menyambut mereka berdua. Banyak tulisan Latin di sana, menghiasi setiap pagar rumah yang berderet rapi di desa kecil tersebut.

“Di sini kumpulan penyihir jahat.” Gumam Cora seolah membaca pikiran Kynee.

“Aku tahu itu.” Kynee tidak mau kalah, kali ini dia merasa harus melindungi Cora dari bahaya yang sebentar lagi akan menghampiri mereka.

Cora mendengus kecil. Ia tahu bahwa Kynee tidak ingin terlihat lebih rapuh darinya sekalipun pada kenyataannya memang begitu.

Cora dan Kynee melangkah dengan hati-hati. Jalan licin yang mereka lewati membuat mereka mudah untuk tergelincir. Berkali-kali Kynee menawarkan agar ia menggendong Cora dan berlari langsung menuju sungai Akheron namun dengan tegas Cora menolak. Gadis itu berlasan ia harus membunuh salah satu manusia sebagai persembahan untuk Kharon – penjaga sungai keramat tersebut.

Kynee tiba-tiba berhenti berjalan, membuat Cora menubruk pria bertubuh kekar tersebut dan hampir saja dirinya terjungkal jika tak menahan keseimbangan tubuhnya.

“Alena ada di sini.” Kata Kynee dan seketika itu juga Cora merasa dirinya tercekik. Sekalipun ia tak bernafas namun ada sensasi luar biasa yang menggejolak di perutnya. Sesuatu yang  dingin dan seolah menekan seisi perutnya. Sebuah insting yang selalu di rasakannya ketika Kynee memberitahu bahwa Alena – sang  pemutus takdir berada di dekatnya.

Cora bukan takut pada Alena, namun Cora lebih takut pada Shawn. Pedang pelindung milik Alena yang bisa menjelma menjadi gadis cantik yang kuat  dan Shawn merupakan keturunan langsung dari Demeter. Pada nyatanya, Cora dan Shawn memiliki garis keturunan yang sama dan sialnya Cora tak mampu melawan pesona rayuan Shawn. Karena Demeter adalah ibu dari Persefone.

“Lindungi aku dari Shawn.” Ucap Cora takut-takut. Ia bisa merasakan keberadaan Shawn dan Alena semakin dekat. Sekalipun wujud Shawn masih seperti pedang, namun kapan saja dia bisa menembus setiap inchi sel tubuh Cora.

Kynee merentangkan tangan kirinya untuk melindungi Cora yang menunduk ketakutan di belakang dirinya. Sihir Occlument yang ia punya membuatnya mampu menyadari kehadiran Alena. Kynee terdiam, menunggu gadis itu muncul dan mulai berperang dengan dirinya. Awan hitam pun dengan cepat menutupi langit indah desa Verga. Angin yang tadinya berhembus pelan berubah menjadi badai yang siap menghancurkan desa ini. Kynee tahu beginilah cara langit dan bumi menyambut kedatangan Alena dan Kynee sangat tahu bahwa Alena merupakan sosok yang di segani sekalipun berada di dunia atas.

“Lama tak berjumpa Andrew Kynee.” Seru sebuah suara dan Kynee mendapati sosok gadis cantik menggunakan terusan selutut berwarna hitam tengah berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Di belt sebelah kirinya tergantung manis sebuah pedang panjang yang sangat indah dan jujur saja Kynee juga mempunyai pedang yang sama seperti itu sebelum dia di kutuk oleh Max.

“Seratus tahun waktu yang tidak panjang Alena. Kau menganggu kami.”

“Mengganggu? Kau dan gadis terkutuk itu yang merepotkan Kynee.” Balas Alena dan mengerling ke arah Cora yang masih menunduk.

“Aku tidak terkutuk.” Desis Cora dan menatap tajam ke arah Alena. Alih-alih tidak mau menatap sedikitpun pedang yang tersampir di belt Alena.

“Um, lalu apa nona Mirrelle? Melarikan diri dari Thanatos  dan berusaha mencuri Cumae yang tersimpan di padang Asphodel? Kau Ter-ku-tuk.”

Cora menggeram, perubahan emosi membuat tubuhnya sedikit kebas. Dia berdiri tegak sekarang seolah tak takut dengan Shawn yang kapan saja akan di keluarkan oleh Alena.

“Jangan mengeluarkan sihirmu sekarang!!” teriak Kynee pada Cora. Setengah membentak membuat Cora menoleh heran ke arah pria tampan tersebut.

“Ah, tenang saja Kynee. Aku sedang tak berminat untuk mengambil nyawa gadis kesayanganmu itu.” Sahut Alena dan dengan segera mencabut pedangnya yang berwarna perak berkilau.

“ARGHH!!!!!!” Cora menjerit dan kedua tangannya memegang lehernya. Dia meronta-ronta, tubuhnya jatuh ke tanah sambil setengah membungkuk. Cora terus saja berteriak seolah ada sesuatu yang menjerat lehernya namun tak terlihat. Kynee terlihat panik, dia tak menyadari sebegitu hebatnya efek yang terjadi akibat kilau dari pedang milik Alena. Cora masih berteriak dan dia tak mengatakan apapun selain erangan tertahan dari mulutnya.

Kynee menatap Alena gusar, wajahnya memerah menahan amarah. “Gladio.” Ucap Kynee dan sebuah pedang besi panjang muncul di tangan kanan Kynee. Dia berlari mendekati Alena dan mulailah terjadi pertempuran antara Kynee dan Alena. Meskipun Alena seorang perempuan namun Kynee menyadari bahwa kekuatan sang pemutus takdir ini tidak bisa di remehkan.

Kynee beberapa kali mencoba untuk menghunuskan pedangnya ke tubuh Alena namun  selalu gagal. Gadis bermata hijau itu  dengan sigap menangkis semua serangan yang di luncurkan oleh Kynee. Sekalipun pria itu tau bahwa dirinya akan kalah menghadapi pedang Shawn namun hanya ini yang bisa di lakukan oleh Kynee.

“Semakin banyak kau menyerang, semakin banyak pula kilau yang di hasilkan.” Kata Alena dan seketika itu juga Kynee lengah. Tubuhnya terhantam keras ke salah satu pagar rumah penduduk dan menghancurkan kayu-kayunya yang memang sudah lapuk. Kynee meringis kesakitan. Pelipisnya berdarah dan beberapa luka gores juga mengoyak tubuhnya. Ia melirik ke arah Cora yang masih mengerang kesakitan. Sebuah sihir garis keturunan memang mengikat pada diri Cora namun ia benar-benar tak menyangka bahwa kekuatan Shawn jauh lebih kuat dari kekuatan Cora.

Alena melangkah, mendekati Kynee yang masih terduduk dan tak mampu berdiri. Alena mengulurkan pedangnya, menaruh ujungnya di bawah dagu Kynee lalu mengangkatnya. Tersenyum sinis seolah Kynee adalah seonggok sampah yang seharusnya di buang. “Kau bodoh, kau tahu? Memilih mengkhianati Max dan menemani gadis itu. Takdirmu bukan bersamanya Kynee.”

Kynee tetap berusaha menatap mata Alena dengan tajam. Tak peduli kepalanya berdenyut hebat akibat hantaman yang terjadi dari peperangan tadi.

“Pilihan hidupku, bukanlah urusanmu.” Sahut Kynee. Ia sadar dalam ambang kematian sekarang dan Alena bisa kapan saja memanggil Thanatos untuk mencabut nyawanya.

“Ingin menjadi ksatria he? Menjadi Lisium untuk Klan Cora! Bodoh!” teriak Alena dan menghunuskan sedikit ujung pedangnya sehingga membuat luka yang cukup menyakitkan di leher Kynee.

“Hh..hh.. Kau merasa ke..hilanganku kan?” Kynee mengejek, terbata. Kerongkongannya terasa di cabik-cabik dan Kynee menyadari senyum Alena memudar.

Alena menarik pedangnya dan menatap Kynee dengan gusar. Kynee bernafas lega, rasa perih di lehernya cukup membuat sekujur tubuhnya semakin lemah daripada sebelumnya.

“Cih! Kalian berdua benar-benar terkutuk.” Desis Alena lalu memasukkan kembali pedangnya dan detik iu juga Cora berhenti berteriak.

“Cri..crysier.”

TAR!!! Tubuh Alena terpental saat itu juga ketika Cora menggumamkan mantra miliknya. Alena terjungkal ke sebuah rumah kaca yang tak terlalu besar, namun sukses membuat dirinya terluka cukup parah. Serpihan kaca menancap di sebagian tubuhnya. Kali ini Alena yang merintih kesakitan, darah pun mengalir dari beberapa bagian tubuhnya.

“Jangan membunuhnya Cora.” Seru Kynee saat mengetahui pikiran Cora dan gadis itu langsung menoleh.

“Membunuh dewi kematian maka dirimu akan lenyap.” Tambah Kynee lagi dan Cora menggeram. Dia melangkah maju mendekati Alena yang masih terkapar di antara reruntuhan rumah kaca.

“Max.. hh, hh.. Max yang akan mengambil nyawamu langsung.” Alena memaksakan diri untuk berbicara dan Cora dengan wajah penuh peluh keringat menyeringai aneh ke arah Alena.

“Aku tidak takut.”

“Argh!!!” Alena berteriak kencang ketika ia menyadari bahwa Cora menyakitinya menggunakan mantra pikiran miliknya.

“Dengarkan aku gadis cantik. Max, atau siapapun itu tidak akan pernah mampu membawaku ke dunia bawah. Aku akan mendapatkan Cumae ku sesegera mungkin. Tidak peduli jika peperangan akan muncul. Kau dengan Klanmu harus siap dengan pertempuran.” Bisik Cora tepat di telinga Alena dan sebuah mantra juga terucap dari bibir Cora. “Scntivy.”

***

Chapter III #Akheron River#

“Apa yang kau lakukan pada Alena?” Tanya Kynee ketika Cora membantunya bangun dan memapahnya untuk segera bangkit berdiri.

“Hanya kutukan batu.” Jawab Cora pendek lalu mengusap pelipis Kynee sambil menggumamkan sesuatu dan saat itu juga luka Kynee perlahan menghilang.

“Terima kasih.” Kata Kynee sopan dan dia merasa lebih baik sekarang. Sekujur tubuhnya kembali pulih dan setidaknya mantra penyembuh yang di miliki Cora berfungsi dengan baik.

“Bawa tubuh gadis itu.” Perintah Cora dan menatap tubuh Alena yang membatu karena sihirnya. Kutukan Scntivy adalah sihir terbaik yang Cora miliki selain kutukan Zarrasto. Scintvy sendiri ia pelajari dari salah satu Titan yang bertempur dengannya. Sihir ini membuat seseorang membatu untuk beberapa saat sampai efek dari sihir itu menghilang, namun jika sihir ini di tujukan untuk manusia biasa efeknya akan jauh berbeda. Manusia itu bisa membatu selamanya dan mati karena tidak berfungsinya organ tubuh dalam waktu yang lama.

“Untuk apa?” Tanya Kynee bingung dan kali ini Cora tertawa pelan.

“Persembahan untuk Kharon. Aku tidak mau mengotori tanganku untuk membunuh manusia.” Jawab Cora. Dia meremas ujung gaunnya untuk menahan setiap rasa sakit yang terjadi saat melihat pedang Alena.

“Dan jauhkan pedang itu. Tinggalkan di sini.” Tambah Cora lalu berjalan mendahului Kynee.

Kynee melenguh kecil. Ada perasaan tidak rela saat tahu bahwa tubuh Alena harus di korbankan untuk Kharon. Namun ia juga menyadari bahwa Alena bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dan gadis itu pasti akan memberontak ketika efek sihirnya sudah menghilang. Kynee menatap Alena lalu mulai mengangkat tubuh mungil itu dan membopongnya. Membuang pedang Shawn dan meninggalkan benda hebat itu di sana.

Cora dan Kynee terus berjalan, melewati beberapa penyihir yang menatap mereka dengan heran. Namun Cora tak peduli, dia yakin ada beberapa di antara mereka yang mampu membaca pikiran dan selagi ia berjalan ia terus memikirkan siapa dirinya dan apa tujuannya melewati desa Verga. Tak ada yang berani mendekat, bahkan untuk sekedar menatap pun mereka takut. Pesona Cora terlalu kuat bagi penyihir jahat di desa tersebut dan sialnya Cora menyadari bahwa dirinya mampu membunuh semua penyihir ini hanya dengan satu kutukan.

Cora bukanlah gadis yang dingin sebelumnya. Bukanlah gadis yang jahat dengan seribu sihir untuk membunuh siapa saja. Ini semua hanya karena lenyapnya Cumae miliknya – yang itu berarti jiwa kebaikan dalam diri Cora juga ikut menghilang. Cora hanyalah gadis biasa dan menyadari bahwa ia keturunan Persefone saat umurnya menginjak dua puluh tahun. Saat sebuah gelang kecil berbentuk hati mengikat dirinya dan memberinya memori-memori masa lalu tentang kehidupan Persefone.

Sejak itulah Cora membenci Max – Orkus terhebat yang merupakan keturunan langsung dari hades. Cora sendiri belum pernah bertemu dengan Max dan dia memang sering mendengar desas desus ketampanan dari pria penguasa dunia bawah tersebut. Namun bukan itu yang menjadi focus Cora sekarang, ia dengan seluruh kekuatannya ingin Cumae miliknya kembali utuh dan hidup sebagai manusia normal – setidaknya kembali bisa bernafas.

Cora bukannya tidak ingin mati atau hidup abadi. Dia bisa saja meminta Kynee untuk merubahnya menjadi werewolf jika ingin hidup lebih lama. Namun ada beberapa hal yang masih belum Cora laksanakan sebagai setengah Dewi. Ia masih harus menjaga pergantian musim yang silih berganti dan yang paling utama dia ingin merasakan jatuh cinta layaknya manusia normal. Konyol memang mengingat bahwa pada kenyataannya Cora adalah manusia setengah dewi dan itu tak terbantahkan.

“Kita hampir sampai.” Kata Kynee mengingatkan. Mereka berhenti berjalan, menatap aliran sungai yang memang sudah terlihat. Sungai Akheron sebenarnya merupakan sungai yang harus di sebrangi para roh untuk masuk ke dunia bawah. Penjaga sungai tersebut adalah Kharon – pendayung perahu yang akan meminta bayaran Obolos – koin kecil yang di simpan di mulut jenazah. Namun berbeda jika yang melewati adalah manusia ataupun klan makhluk asing. Kharon akan meminta persembahan mayat untuk di jadikan santapan siangnya. Untuk itulah tidak ada yang sedikitpun berani melewati sungai ini tanpa membawa apapun – atau memang jika kau ingin masuk ke dunia bawah dengan cepat alias kematian.

“Bagaimana Kharon akan muncul?” Tanya Kynee saat mereka berdua sudah menginjakkan kaki di tepi sungai. Aliran airnya tenang, seolah tak ada hal yang menyeramkan dari sungai tersebut.

Cora tak menjawab malah menatap jemarinya yang berwarna putih pucat. Ia mengulurkan tangannya ke depan, membentuk bayangan tangannya sendiri di pantulan air yang mengalir. Dari tangan satunya keluar sebuah pisau kecil yang sangat tajam, dan dengan sekali goresan ia melukai tangannya. Membuat setetes darah jatuh dan mengotori air sungai. Dan sedetik itu juga perubahan terjadi pada airnya yang terlihat tenang.

“Darimana kau tahu menggunakan darah?” Tanya Kynee tak percaya.

“Ku pikir, kita di wajibkan melakukan pembayaran untuk bisa mengetahuinya.”

“Pembayaran?”

“Ini agak kuno.” Kata Cora, yang kedengarannya merendahkan, bahkan kecewa seolah dunia bawah jauh di bawah standar yang di harapkan oleh Cora. “Kharon gagal memahami bahwa ada banyak hal yang lebih mengerikan daripada luka fisik.” Jelas Cora dan Kynee hanya mengernyit bingung.

Tiba-tiba saja muncul rantai tebal berwarna hijau seperti dari tembaga, menjulur dari dalam air dan berusaha mengikat kaki mereka berdua. Dengan sigap – sekalipun tengah membopong Alena – Kynee menarik tangan Cora untuk menghindar. Namun Cora malah mendekati rantai tersebut, mengetuk rantai itu dengan pisaunya, yang mulai meluncur seperti ular. Bergulung sendiri di tanah dengan bunyi dentang yang bergema keras dari dinding-dinding karang, menarik sesuatu dari kedalaman air yang gelap. Kynee tersentak kaget ketika remang-remang haluan sebuah perahu kecil membelah permukaan air, menyala hijau seperti rantainya, dan meluncur, nyaris tanpa riak, ke tepi sungai tempat Cora dan Kynee berdiri. Hingga dari balik perahu kecil tersebut muncul sesosok pria bertubuh kecil seperti kurcaci. Berjenggot panjang dan mengenakan baju compang camping serta sebuah topi kerucut yang menghiasi kepalanya. Kharon.

“Roh Persefone.” Gumam Kharon pelan menatap Cora penuh senyum ingin tahu, membuatnya terlihat menakutkan sekalipun tubuhnya sangat kecil.

“Mirrelle, aku bukan Persefone. Lebih tepatnya aku Klan Galatea Cora.” Balas Cora dan menyeringai ke arah Kharon. Memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi dan pesona yang luar biasa untuk ukuran seorang Kharon.

“Kenapa kau tahu aku akan muncul dari dalam air. Selama ini tak ada sedikitpun yang mengetahuinya.”

Cora terkekeh, memandang Kharon dengan pandangan menghina. “Sihir selalu meninggalkan jejak. Terkadang jejak yang sangat jelas.”

Kharon memandang Cora dengan tajam dan menyadari sesosok perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah gadis biasa.

“Jadi, kau dan pemuda pria tampan itu ingin melewati sungai ini? Begitu?” Tanya Kharon dan jari jemarinya yang pendek serta kotor menunjuk ke arah Kynee.

“Ya, dan seperti peraturannya aku membawa santapan manis untukmu.” Jawab Cora pelan, mengerling sekilas ke arah tubuh Alena yang tengah di bopong Kynee.

“Clan Minos?” Kharon menebak dan dia turun dari kapalnya. Bunyi krett saat ia melangkah membuat keadaan semakin mencengkam. Cora mundur selangkah dari tempatnya berdiri, menghalangi langkah Kharon yang hendak  menghampiri Kynee.

“Dia dewi kematian bukan?” kali ini Cora merasakan tubuhnya gemetar, sekalipun Kharon hanyalah makhluk kecil namun kekuatan jahatnya bisa menghancurkan segala hal.

“Kau tak memandang siapapun untuk di jadikan santapan bukan? Dan menjadi sebuah kehormatan seharusnya bisa memangsa seorang dewi.” Cora berusaha mengontrol suaranya. Berbicara dengan Kharon membuat sebagian tubuhnya kaku. Jari-jari yang pendek serta bola mata milik Kharon yang terlalu terlihat besar, membuat dirinya begitu menyeramkan.

“Cih! Memangsa dewi hanyalah sebuah kutukan. Bodoh.” Kharon mendesis seperti ular. Alih-alih tertarik pada Alena ia malah melangkah mendekat ke arah Cora. Meraih ujung gaun Cora yang tersampir indah di tanah. Mencium aromanya dalam-dalam dan mengusapkannya berulang kali di pipinya yang agak kasar. Cora berjengit, menahan gemetar tubuhnya sendiri serta berusaha menghilangkan rasa jijik atas kelakuan Kharon.

Aku harus bertahan. Teriak Cora dalam hati.

Kynee menarik tubuh Cora dengan cepat, melindungi gadis itu dengan sisa-sisa kekuatannya.

“Jadi apa yang kau inginkan?” Tanya Kynee tajam, menunduk dan mengamati makhluk yang berdiri di depannya ini.

“Roh Cora.” Jawab Kharon pendek lalu sedetik kemudian air sungai mulai berputar. Pusarannya kian lama kian besar dan sebuah corong gelap timbul di atasnya. Cora dan Kynee tersentak, mereka hampir saja terjungkal jatuh karena getaran yang terjadi di tepi sungai. Cora menatap corong gelap itu dengan kalut, entah mengapa perasaannya mengatakan bahwa Orkus akan segera muncul.

“Tuan Max, akan segera ke dunia atas.” Seru Kharon dan melangkah mundur.

Air-air sungai terus berputar, menciptakan poros yang tidak teratur. Rantai-rantai kapal yang tadi tergeletak kini kembali berputar seperti ular. Menjulur ke sana kemari seolah mengangkat sesuatu yang tidak terlihat. Tanah yang berada di tepi sungai retak, membuat celah-celah kosong sempit seolah membuka jalan masuk ke dunia bawah. Cora terjungkal jatuh saat kakinya tak sengaja menginjak sebuah retakan. Membuat dirinya meringis kesakitan karena nyaris seluruh tubuhnya terhantam ke tanah.

Sesosok pria tinggi menggunakan jubah hitam dan memegang tongkat lotus keluar dari pusaran tersebut. Matanya tajam dan membentuk bak bulan sabit. Di bahunya tersampir bulu rubah berwarna hitam dan seekor anjing berkepala tiga menggeram di sebelahnya. Memamerkan taring-taringnya yang tajam seolah mampu memangsa siapa saja dengan sekali cabikan. Anjing itu tak lain adalah Ceberus.

Cora menatap pria yang baru saja keluar dari pusaran itu dengan mata membulat lebar. Dia merasa dadanya begitu sesak. Rasanya ada sesuatu yang ingin membuncah keluar namun tak bisa ia keluarkan. Cora juga seperti merasa hidup. Jari-jarinya yang dingin serta kebas perlahan mulai hangat dan merasakan ada sebuah cairan yang mengalir dalam pembuluh darahnya. Sensasi ini  membuat kepala Cora berdenyut hebat, ia seperti bernafas saat menyadari ada deru yang terdengar dari dirinya sendiri.

“Hai, Persefone.” Max melangkah keluar dari pusaran dan menjejakkan kakinya di tanah. Ceberus masih terus menggeram di sampingnya. Menatap tajam kearah Kynee karena menyadari ada hewan sejenisnya yang berada di sana.

Max mengerling ke tubuh Alena yang tengah di bopong Kynee. Dengan sebuah gumaman yang nyaris tak terdengar, tubuh Alena terangkat ke udara. Melayang seperti kapas dan wajah Alena yang cantik terlihat semakin jelas. Max meraih tubuh Alena lalu meletakkannya di tepi sungai dan dengan sekali tarikan nafas, rantai-rantai tadi mengikat Alena lalu menenggelamkannya ke sungai. Mengembalikannya ke dunia bawah.

“Scntivy. Sihirnya yang mudah namun memalsukan kematian.” Kata Max, melangkah mendekati Cora yang masih terpaku di tanah menatap dirinya. Tak ada yang bisa di katakan lagi ketika melihat Max. Tubuhnya yang menjulang tinggi, bentuk badannya yang lumayan kekar serta senyuman dingin yang terkadang di tunjukkannya membuat Cora seakan melihat sesuatu yang paling luar biasa. Ketampanannya, tak tertandingi dari apapun.

“Takut padaku?” Tanya Max dan mengangkat dagu Cora dengan jari-jarinya. Tidak dingin, namun panas membakar yang di rasakan Cora. Kerongkongannya terasa panas seolah ada bola api yang siap keluar.

“Impe…”

Max mengulurkan tangan kirinya kea rah Kynee saat menyadari Kynee akan melancarkan kutukan kepada dirinya. Sebuah cahaya perak merambat lurus mengenai Kynee. Membuat tubuh pria tampan tersebut melayang-layang di udara dan berteriak kesakitan. Cora mengalihkan pandangannya kea rah Kynee, mencoba menahan kaget saat melihat tubuh Kynee yang terkukung erat oleh cahaya perak yang menyerupai rantai.

“Menginginkan Cumae mu?” Tanya Max lagi, namun  tetap menggunakan kutukannya ke tubuh Kynee tanpa berniat mengalihkan pandangannya dari wajah Cora. Memandang gadis cantik yang merupakan takdirnya sepanjang masa.

“Kembalikan Cumae ku.” Desis Cora berani. Ia ikut memandang mata Max yang hitam legam. Menunjukkan bahwa dia memang penguasa dunia bawah.

“Tinggalah bersamaku dan kau mendapatkan Cumae mu.” Tawar Max dan senyum simpul terukir di wajahnya.

Cora terdiam. Pikirannya berkecamuk dan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak mampu di jawabnya. Ia menyadari tubuhnya gemetar karena takut. Sekuat apapun sihir miliknya namun Max lah yang memegang peranan atas takdirnya.

“Jangan pernah menerima tawarannya, Cora.” Lirih Kynee di sela rintihannya. Max menoleh cepat dan menghentakkan tangannya yang terjulur seolah mendorong tubuh Kynee. Pria itu terhantam kea rah pohon besar, membuat tubuhnya remuk saat itu juga. Cora memekik pelan. Bagaimanapun juga Kynee adalah Lisium yang di milikinya dan selalu menjaganya.

“Jangan menyakiti Kynee!!” teriak Cora. Untuk pertama kalinya ia mengeluarkan setitik air matanya untuk Kynee.

“Dia tak mampu menjagamu Cora. Dengan bodohnya Alena bisa memasuki pikirannya dan dia menyuruhmu kemari. Membuatmu terjebak dan terperangkap. Thanatos dalam perjalanan kemari.” Kata Max dan jari jemarinya menghapus air mata di pipi Cora. Cora berjengit. Wangi khas cemara dan kayu ek begitu tercium dari tubuh Max. Membuat dirinya merasakan candu yang luar biasa.

“Kenapa kau ingin aku mati?” Tanya Cora pelan. Max menatap Cora dan sedetik kemudian tertawa lantang.

“Aku tidak ingin kau berada di dunia atas. Hanya itu.” Jawab Kynee dan Cora terdiam. Lalu tiba-tiba sebuah angin besar mulai berputar mengelilingi mereka. Pohon-pohon besar bergoyang tertiup angin, sekilas Cora melirik Kynee yang masih terkapar di sebuah akar pohon. Ia ingin sekali menolongnya namun tubuhnya masih terkunci oleh tubuh Max.

“Lama tak melihatmu Galatea Cora.” Cora mendongak dan mendapati Thanatos berdiri di belakang Max dengan ketampanannya yang luar biasa. Dia – dia sekalipun bukan penguasa kematian, tapi dirinyalah yang akan mencabut nyawa Cora. Thanatos, ah atau Marcus.

TBC