Absolute Music and Art –Inst. 6

Hwang Dain story….
.
.
.
“Jesonghabnida, aku tidak bisa.”

 

Wajah Joon sunbaeni berubah dari tegang menjadi lemas setelah aku mengutarakan jawabnku dengan mudahnya.

 

“Wa…. Waeyo?” tanyanya dengan ekspresi yang bodoh.

 

“Karena aku tidak menyukaimu, sudah ya aku pergi dulu.” Jawabku sekali lagi, lalu melenggang pergi meninggalkannya. Kudengar Joon sunbae berlari dibelakangku dan sekali lagi menarik pergelangan tanganku.

 

“Jebal… apa kau tidak bisa memikirkannya dulu?” tanya Joon sunbae sambil menelan ludah dan mengatur nafasnya. Hei, ada apa dengan sunbaenim yang sok ganteng ini? Kenapa dia memaksakan kehendak sih?

 

Aku menggeleng, “Aku suka namja lain yang lebih baik daripadamu. Sudah ya,”

 

“Jakkaman~!!” teriak Joon sunbae yang membuat seluruh orang di sekitar kami otomatis memperhatikan kami, astaga memalukan sekali~~!!!

 

“A… ada apa lagi sih? A… aku mau ke gedung musik nih, ada urusan dengan Byunghee oppa.” Jawabku lurus, “Lagipula kenapa sunbae memaksaku sih?”

 

Sekejap wajah sunbaenim yang satu ini berubah menjadi bingung, malu, dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku tak menghiraukannya, dan meninggalkannya begitu saja. “Pikirkan saja dulu ya, aku mau pergi.”

 

aku berjalan ke gedung musik dengan perasaan yang bercampur aduk juga, kenapa si Joon sunbae itu? Kenapa ia tiba-tiba menyatakan perasannya? Lalu memaksaku menjawabnya.. dan demikian… dan demikian…

 

BRUK!! Tanpa sadar aku menabrak seseorang dari arah yang berlainan. Aku segera bangkit dan membantunya membereskan semua buku yang ia bawa.

 

“Jesonghabnida, aku tak sengaja menabrakmu. Gwenchana?” tanyaku was-was. Yeoja itu hanya mengangguk tanpa suara dan segera meninggalkanku dengan barang bawaan yang sudah pergi bersamanya.

 

“Eish… sepertinya itu tadi buku accord gitar. Apa dia jurusan instrument music juga ya?” tanyaku pada diri sendiri, “Ah… mahasiswa musik memang jarang keluar, mereka ‘berkencan’ dengan intrumen mereka masing-masing tanpa kenal waktu. Makanya aku tidak pernah melihat sosok seperti Seungho sunbaenim.”

 

“Ada apa denganku?” tiba-tiba kudengar suara yang sangat familiar dengan telingaku, dan benar saja… sosok dibelakangku adalah Seungho sunbae,

 

“Ah sunbaenim~! Aniiyo…. Tidak apa-apa, aku hanya berpikir apakah sunbae juga datang kesini bersama Byunghee oppa.” Jawabku kaku. Sementara Seungho sunbae berusaha mencerna kata-kataku yang tidak nyambung itu.

 

“Ohahahahaha begitukah? Byunghee masih ada bersamaku kok. Kenapa?” tanya Seungho sunbae. “Aku tidak bisa menemaninya praktek minggu depan. Jadi aku menyuruhnya berlatih dengan Hyoni-sshi, orang kepercayaanku.”

 

Eh, Hyoni-sshi? nugu? “Oh… seorang yeoja kah? Ahahahahaha kureyo~~” jawabku dengan perasaan sedikit kecewa. “Kalau begitu, aku tunggu diluar saja, permisi.”

 

Aku meninggalkan Seungho sunbae dengan mata yang berkaca-kaca. Astaga, Dain…. Berhentilah cengeng seperti ini~~

 

 

 

~~~~~

 

 

 

Jung Byunghee story..

 

 

 

“A~!! annyeonghaseo… sunbaenim.”

 

Aku terkejut mendengar suara lengkingan Hyoni sesaat sebelum ia masuk ruang music. Wajahnya memerah lagi, apakah ia kelelahan mengambil buku-buku milik Seungho ya?

 

“Ma…. Mau aku bantu?” tanyaku ragu-ragu sambil mendekatinya. Tapi ia malah membuatku makin terkejut karena tidak sengaja menjatuhkan buku-buku itu dengan suara yang keras.

 

“Je… jesonghabnida… jesonghabnida~!” jawabnya sambil membungkuk 90 derajat. Astaga, kenapa dengan yeoja ini? Apa ia membenciku?

 

Aku mengangguk kaku dan membantunya mengambil buku-buku itu, “Em.. berat sekali ya, sampai-sampai kau tak sengaja menjatuhkannya?”

 

“A.. anii… hanya saja, aku… merasa tanganku sedikit… berkeringat.” Jawab Hyoni dengan terbata-bata, “Oh Seungho oppa, kau sudah kembali?”

 

“Nee… aku kan mengikutimu dari belakang, takut takut kau melakukan sesuatu yang ceroboh. Hahahahaha” jawab Seungho sambil memasuki ruangan, “Oh iya, aku tadi bertemu dongsaengmu tuh.”

 

Dain-sshi? kok dia sudah selesai? “Oh ya, kau melihatnya dimana?” tanyaku sambil membuka buka buku cord gitar milik Seungho

 

“Entahlah, tadi ia langsung buru-buru keluar dari gedung musik. Mungkin ke taman,” jawab Seungho.

 

Aku mengangguk dan segera keluar dari ruang music, hendak mengatakan sesuatu kepada Dain, “Jakkamanyo, aku akan memberitahu dia kalau kita akan sedikit lama. Seungho-sshi, tolong temani Hyoni-sshi dulu ya.”

 

Aku berjalan dengan langkah yang tergesa mencari-cari Dain, “Aigo.. dimana anak itu? Kenapa HPnya tidak diangkat? Aish… kebiasaannya meng silent HP membuatku….”

 

Makianku terhenti ketika melihat Dain sedang duduk di taman, bersama Nana dan Cheolyong. Oh syukurlah kalau dia sudah ada yang menemani. Aku tidak mau membiarkannya sendirian terus.

 

“Apa aku mengirim pesan saja ya ke HPnya? Sepertinya dia sedang asik mengobrol dengan pasangan itu.” Gumamku sambil terus menatapi ketiga orang itu, meskipun yang aku lihat hanya punggung mereka.

 

 

 

To: Nan Dongsaeng

 

 

 

Dain-sshi, mianhanda. Sepertinya latihanku akan makan waktu lama, tolong tunggu aku sampai aku selesai ya. nanti kuantar pulang ^^

 

 

 

Tapi…. Kenapa aku merasakan suatu hal yang tidak enak ya? “Apa akan terjadi sesuatu dengan ujian praktikku minggu depan? Kenapa aku merasa tidak enak seperti ini ya?” tanyaku pada diri sendiri.

 

Ping~!! Terdengar satu pesan dari Seungho yang menyuruhku untuk cepat kembali ke ruang music karena Hyoni sudah mempersiapkan dirinya.

 

“Baiklah, biarkan saja Dain disana bersama Nana dan Cheolyong. Mereka kan sahabatnya,” ungkapku dalam hati, “Pasti dia akan mengirimkan pesan kalau ia merasa kesepian.”

 

Aku melangkah masuk ke gedung music, dan menghampiri Seungho dan Hyoni yang sedang berdiskusi. Yeoja itu sepertinya sedang membicarakan lagu yang kuciptakan dan menentukan cord mana yang akan ia pakai.

 

“Oh Byunghee-sshi, kau sudah siap?” tanya Seungho yang sedang menuliskan sesuatu untuk yeoja itu, “Kurasa Hyoni hanya butuh sedikit waktu untuk mempelajari cord gitarnya, jadi bagaimana kalau kita mulai secara pelan-pelan saja?”

 

 

 

~~~~~

 

 

 

Park Nana story…

 

 

 

“Jadi…. Kamu juga direkrut oleh mahasiswa yang setingkat dengan Byunghee sunbae, untuk mengiringinya ujian praktek?” tanyaku pada Cheolyong oppa yang baru saja menyelesaikan latihan ujian praktek sunbaenimnya. Padahal ia ada janji dengan Cheondung oppa untuk latihan band, sehingga mau tidak mau ia harus membatalkannya.

 

“Nee… ah, mianhae Nana-sshi.. kamu jadi menungguku selama ini.” Ungkap Cheolyong oppa penuh penyesalan, “Appamu pasti akan mencekikku karena membawamu pergi sampai sesiang ini.”

 

Aku menggeleng sambil tertawa, “Aniiyo oppa, aku sudah menelpon ke rumah kok dan mengatakan kalau aku pualng sore. Dan appa juga sudah menyetujuinya, bagaimana? Kita mau jalan-jalan kemana?”

 

“Jinjjaeyo? Tidak biasanya appamu mengijinkanmu pergi sampai sore, tapi… gwenchana. Aku senang mendengarnya~!” jawab Cheolyong oppa sambil tertawa gembira, “Jadi… kamu mau ke studio?”

 

“Terserah oppa saja,” jawabku sambil melihat ke taman kampus musik. Eh. kok sepertinya ada seseorang disana?

 

“Nana-sshi, kamu melihat sesuatu yang aneh?” tanya oppa sambil melihat kea rah yang ku lihat, “Eh? itu… yang di taman gedung music itu… orang kan?”

 

Aku mengangguk, “Nee. Sepertinya sedang berbaring….. dan rasanya familiar.” Jawabku karena melihat tas dengan buku sketsa yang menyembul di baliknya, apa itu Dain-sshi ya?

 

“Yasudah, ayo kita hampiri saja kalau kamu merasa kenal dengannya.” Ungkap Cheolyong oppa sambil mengajakku ke taman itu. Dan benar saja, ternyata orang yang berbaring itu adalah Dain-sshi.

 

“Yak Dain-sshi?! apa yang kamu lakukan disini??” teriak oppa seraya kami mendekatinya, “Yak, kenapa kau tidak jawab pertanyaanku??”

 

Aku menepuk nepuk pundak oppa menyuruhnya untuk berhenti berteriak. Kudekati sosok yang mirip dengan Dain itu, dan…. “Ia tertidur oppa, dengan mata yang sembap.”

 

“Eh? Dain-sshi menangis? Memangnya bisa?” jawab Cheolyong oppa yang lagi-lagi ingin membuat lelucon garing. Aku menyikut rusuknya agar ia diam.

 

“Dain-sshi… ppali ireona…. Dain-sshi,” aku mengguncang guncang tubuh Dain yang melebar di rumput taman yang bersih dan segar, “Kenapa kau disini sendirian? Mana Byunghee sunbae?”

 

Yeoja itu membuka matanya dan menyipit sebentar sambil menatapiku, “Nana-sshi.. apa aku bermimpi?”

 

“Anii… aku benar-benar ada disini kok,” jawabku sambil membantunya bangkit dari rumput, “Kalau dilihat dari wajahmu, sepertinya kau sedang kesal dan gundah. Apa terjadi sesuatu dengan oppa mu itu?”

 

“Ceritakan saja pada kami supaya hatimu merasa lega,” celetuk Cheolyong oppa, “Mungkin saja sehabis menangis, hatimu masih gundah dan kesal. Kami sudah lama mengenalmu, jadi jangan ragu untuk menceritakannya.”

 

Dain menggeleng, “Hanya sebuah kekesalan yang tidak jelas.” Jawabnya sambil tertawa, “Ada seorang sunbaenim yang tidak sengaja berpapasan denganku, sunbaenim yang aku suka.”

 

“Lalu? Apa kau menyatakan perasaanmu dan ia menolaknya?” tanya Cheolyong oppa tanpa basa-basi. Aduh oppa, kenapa terlalu jujur sih??~ *garuk2 kepala*

 

Dain tertawa pahit, “Aku tidak akan berani mengatakannya, aku sudah dibuat kalah telak olehnya.”

 

“Maksudmu bagaimana, Dain-sshi? siapa sih namja itu sampai sampai kau bertingkah aneh seperti ini,” jawabku bingung, “Kamu kan tidak pernah begini kalau masalah namja.”

 

“Aku juga tidak mengerti.” Jawabnya lesu, “Yang jelas… ia menyebutkan sebuah nama yeoja yang sukses membuatku jatuh seperti ini.”

 

 

 

~~~~~

 

 

 

Hwang Dain story…

 

 

 

“Mungkin kau salah paham Dain-sshi. belum tentu kan nama yeoja yang ia sebut adalah nama kekasihnya?” sergah Cheolyong oppa dibalas dengan anggukan Nana

 

Aku menggeleng gelengkan kepalaku sambil menjatuhkan di ke rumput taman, “Molla. Beginilah yang namanya baru merasakan cinta pertama, kalau ditolak rasanya luar biasa.”

 

“Yak, kau belum ditolak oke?” jawab Nana-sshi ngotot, “Memang apa yang kalian bicarakan sampai-sampai ia menyebut nama seorang yeoja?”

 

“Aku… mencari oppa dan bertemu dengan sunbae yang aku sukai itu. Lalu ia bilang, oppa sedang berlatih dengan seorang yeoja yang merupakan…. Orang kepercayaannya?”

 

Tiba-tiba wajah Cheolyong oppa berubah dari penasaran menjadi kesal, dan mencengkram kedua pipiku dengan mantapnya (?) “Astaga Dain-sshi~!! entah kau ini babo atau tidak tahu. Tapi perkataan seperti itu? Aissssssh, bahkan kau sudah mundur karena perkataan orang itu?! Aishhh jinjja, kau memalukan harga diriku.”

 

“Oppa, jangan berlebihan dong~!!” Nana mengelurkan jurus ‘tusuk rusuk’ nya (?) yang seketika membuat Cheolyong oppa terdiam seketika, “Kau harus tetap berfikir positif oke? Paling tidak kau sudah berusaha kalau kalau nanti kamu memang tidak berjodoh dengannya. Yang penting dekat dulu, oke?”

 

Aku mengangguk pelan, “Nee gamsahabnida Nana-sshi, kau memang chingu yang selalu mengerti aku.”

 

“Jangan dipikirkan. Nana terkadang bisa tidak mengerti kau juga kok, akulah yang mengerti kau Dain-sshi.”

 

Nana mengeluarkan jurusnya lagi pada Cheolyong oppa yang otomatis membuatku tertawa.

 

 

 

…..

 

 

 

To: Byunghee oppa

 

 

 

Oppa, aku pulang duluan. Teruskan saja latihannya, semoga sukses ya~ fighting^^

 

 

 

“Da… Dain-sshi, kau sendirian saja?” tiba-tiba terdengar suara besar yang ternyata suara Lee Joon sunbae. Astaga, kenapa aku harus berhadapan dengan namja ini lagi sih?!

 

Aku mengangguk cuek dan meninggalkannya dengan cuek, namun dengan cepat ia berhasil manyamai langkahnya denganku, “Mau tidak pulang bersamaku?”

 

“Eh? waeyo?” tanyaku ketus. “Rumah kita pasti berbeda arah, sunbaenim pasti berkhayal.”

 

Lagi-lagi ia berlari dan mencengkram pergelanganku, “Jebal… apa sikapku terlalu jelek di matamu, sampai-sampai kau tidak mau menggubrisku?”

 

Eh? eh? kenapa ia jadi serius begini? “Em….. tidak juga, aku memang seperti ini kepada mayoritas namja. Jadi…. Jangan merasa terbebani, sunbaenim.”

 

“Kalau begitu… boleh kan, kalau aku jadi namja pertama yang tidak akan membuatmu grogi?” tanya Joon oppa sambil tersenyum. Aku tertegun melihat senyumnya yang… sedikit keren dan matanya yang juga ikut tersenyum. “Tidak ada salahnya kan untuk mencoba?”

 

Aku mengangguk dengan ragu-ragu, semoga saja ia tidak mempermainkanku. “Well, kau naik bis apa sunbaenim?”

 

“Aku bawa motor,” jawabnya dengan gembira setelah mendengar responku, “Tapi… bagaimana kalau kau memanggilku oppa saja supaya lebih nyaman?”

 

Mwo? Mimpi apa aku kemarin malam? Tadi pagi namja ini menyatakan cinta padaku. Sekarang menyuruhku untuk memanggilnya ‘oppa’?

 

Aku sedang tidak tidur kan???

Iklan