Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Suju KRY

Rating : AAbK

Genre : Romance

PS :  Jangan pada muntah saking lebainya cerita ini ya… ^^v

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-5R

 

^^^

 

Miho terbelalak melihat twitternya. 40k pengikut?! Timelinenya juga lama tidak terbuka-buka. Dia membuka laman yang menyebutkan dirinya, dan begitu terpampang, dia makin tidak percaya apa yang dilihatnya. Banyak sekali orang-orang yang menyebutkan dirinya! Isinya masih beragam seperti sebelumnya. Banyak yang memaki, tidak sedikit yang memuji. Tapi ada satu hal lagi yang disebutkan di sana, dan membuatnya bingung, takut, dan bangga sekaligus.

“@special1004 mengikuti @foxiemiho??? Who the hell is this girl?!”

Matilah dia. Dia mengklik kembali laman utama twitternya. Ommo! Apa itu? Fotonya dan Minho di tempat parkir kemarin. Terlihat seperti dia sedang bersandar pada cowok itu dan mereka berdua tertawa mesra. Keterangan yang menyertai foto itu bernada tidak enak. Menyudutkannya sekaligus menghakiminya.

Dia sangat terpana dengan tweet-tweet yang bermunculan seputar dirinya, Minho dan Leeteuk, hingga tak menyadari bahwa ponselnya berbunyi. Ketika sadar dia buru-buru mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Eonni! Eodi?” Euncha bertanya langsung begitu Miho mengangkat panggilannya.

“O? O…”

“Eonnie!” Euncha berseru mencoba menyadarkan Miho. Dia mengira Miho masih tidur sehingga belum sepenuhnya sadar. “Eodi?” tanyanya lagi.

“Jib,” hanya itu yang dikatakan Miho.

“Aku ke situ,” adiknya langsung memutus sebelum Miho berpikir.

Baru saja Miho menutup teleponnya, barang itu berdering lagi. Kali ini Miho melihat nomornya. Tak ada namanya, tapi Miho masih ingat itu nomor Manajer Shinee. “Yoboseyo?”

“Go Miho ssi?”

“Ne?”

“Bisa anda datang lagi ke kantor hari ini?”

Dia benar-benar mati. “Baiklah,” jawabnya pasrah.

Manajer itu terdiam sesaat, “Jadi anda juga sudah melihatnya?”

“Ne,” dia menjawab pelan.

“Kita perlu merundingkan beberapa hal.”

“Jam berapa saya harus ke kantor?”

“Karena pagi ini Shinee ada jadwal, mungkin sore saja, setelah pukul 3. Bagaimana?”

“Ya, saya akan di sana.”

“Bagus.” Lalu klik. Sambungan terputus.

Miho menunduk pasrah. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. “Miho-ya, cepat turun,” ibunya ada di sana dengan tampang panik.

Miho yang melihatnya jadi khawatir. “Ada apa, Eomma?”

“Cepatlah,” kata ibunya.

Tersendat-sendat dia mengikuti ibunya ke ruang keluarga. Ayahnya sudah berangkat ke kantor, jadi Miho tidak melihatnya. “Lihat itu,” ibunya berkata padanya sambil menunjuk tv.

Di sana sedang ditayangkan acara infotainment. Dan video amatir Miho berdiri bersama Minho menunggu Euncha, interaksi mereka, kemudian ketika Minho menunduk di sebelah jendela penumpang memberi kata-kata untuk mengantar kepergian mereka sedang ditayangkan berulang-ulang. Kemudian gambar berubah menjadi potongan adegan di Myeongdong ketika Miho menampar Minho kemudian juga ketika cowok itu tampak mengkhawatirkan Miho di tepi trotoar.

Terdengar suara narator:

Apakah memang telah masanya? Para idol kini terang-terangan menunjukkan aktivitas percintaan mereka. Setelah Jonghyun, kini rekan segrupnya, Choi Minho dari Shinee, terlihat bermesraan dengan seorang wanita yang kemarin dulu sempat menamparnya. Menurut beberapa saksi mata pada waktu itu, wanita yang diketahui memiliki akun twitter bernama Foxiemiho ini memang sudah berada di Myeongdong sejak pagi seperti menunggu kedatangan grup Shinee.

Gambar berganti menyoroti wajah seorang gadis berusia pertengahan 20-an.

“Ya, saya sempat melihatnya berjalan menjauhi kerumunan. Dia gadis yang sangat cantik, jadi cukup menarik perhatian. Beberapa kali dia mencoba mendekati rombongan Shinee tapi selalu gagal. Awalnya saya pikir dia seorang fans, tapi melihatnya berani menampar Minho, saya jadi punya pikiran yang tidak-tidak.”

Sempat beredar rumor bahwa wanita itu sebenarnya adalah kekasih Minho. Apakah benar demikian?

Kabar terakhir menyebutkan bahwa Leeteuk, leader grup Super Junior, juga mengikuti akun twitter gadis ini, Foxiemiho. Mengingat kedua grup bernaung di bawah label agensi yang sama, bukan tidak mungkin mereka memang mengenal satu sama lain. Tapi mengapa anggota Super Junior yang lain tidak tampak mengikutinya? Apakah hubungan antara Foxiemiho dengan Leeteuk? Apakah ada kaitannya dengan penamparan gadis itu kemarin dulu terhadap Choi Minho? Hingga sekarang belum ada pengumuman resmi dari SME sebagai agensi yang menaungi kedua bintang idola tersebut.

Miho melepaskan nafas yang sedari tadi ditahannya dengan tidak sadar. Lalu tiba-tiba kepalanya dipukul dari belakang oleh ibunya. “Apa lagi yang kau lakukan?!”

“Eomma!”

“Kau tidak bosan ya membuat orang tuamu repot? Sekarang ini ayahmu pasti sedang menanggung malu di kantornya!” Kantor ayah Miho adalah kantor pelayanan masyarakat yang banyak dikunjungi orang. Untuk menemani orang-orang yang datang, televisi selalu dinyalakan, dan selayaknya orang yang bekerja di kantor pelayanan masyarakat, rekan-rekan ayah Miho di kantor adalah orang bersuara keras dan selalu bicara blak-blakan bahkan di depan tamu. Miho mengakui kata-kata ibunya ada benarnya, tapi dia juga tidak terima dipukul sepagi ini.

Paling tidak, pagi menurut standarnya. “Aku kan tidak melakukan apapun, Eomma!”

“Kalau kau tidak melakukan apapun kenapa ada berita begitu? Ngapain kau bersama bocah itu kemarin? Benar kau pacaran dengannya?”

“Eomma!” Miho meneriaki ibunya. Masa ibunya sendiri terpengaruh oleh berita abal-abal begitu sih?! “Aku ke sana karena mereka yang mengundangku! Kami membicarakan insiden dua hari yang lalu.”

“Terus kenapa jadi hanya kalian berdua yang terlihat bersamaan?! Kemana teman-temannya?” ibu Miho masih menyikapi putrinya dengan skeptis.

“Teman-temannya menunggu di dalam. Saat itu kami berdua karena dia sedang membantuku. Kakiku kan sedang sakit. Eomma tidak lihat kakiku bengkak begini?!”

“Imo? Eonnie?” terdengar suara dari pintu depan menandakan datangnya Euncha. Perhatian ibu Miho teralihkan sesaat tapi lalu balik memandang putrinya lagi dengan kejam sementara mulutnya berkata keras, “Kami di sini, Euncha.”

Miho berusaha meyakinkan ibunya, “Aiy, Eomma! Jinjja! Waktu itu Euncha juga ada di sana! Tanya padanya kalau tidak percaya!”

Euncha yang melihat situasi tidak begitu baik di ruang tengah dan mendengar namanya disebut-sebut, mengangkat alisnya. “Aku kenapa?” tanyanya begitu memasuki ruang itu.

“Eunchanie!” Miho setengah merengek melihat Euncha. “Kau bersamaku kan, kemarin? Ke kantor SME?”

“Ne?” Euncha masih tidak mengerti apa yang terjadi, tapi lalu segera sadar begitu melihat tayangan infotainment di televisi. “Ah! Ne!” serunya pasti.

Pagi ini dia melihat telivisi untuk mendengarkan berita, tapi malah yang tertangkap olehnya adalah berita tentang Miho dan Minho serta video amatir yang beredar. Dia cepat-cepat menelusuri internet dan mendapatkan fakta mengejutkan tentang pemberitaan salah yang tiba-tiba menjadi besar itu. Dia langsung merasa bersalah kenapa kemarin mengambil parkir di tempat parkir utama, bukan di basement. Segera saja dia memutuskan menemui Miho, sekedar ingin melihat kondisi kakaknya. Ternyata sampai di rumah Miho, kakaknya sedang berada dalam posisi dimarahi.

Selalu begitu. Kalau sedang dimarahi orang tuanya, Miho selalu duduk di lantai menghadap meja dengan tangan diletakkan di meja seperti anak anjing yang mengangkat kedua kaki depannya ke atas meja. Tayangan infotainment yang ditayangkan di tv menjadi petunjuk Euncha mengenai penyebab kemarahan Imo-nya.

“Apa saja yang kalian lakukan di sana?” ibu Miho bertanya tegas pada Euncha. Dengan Euncha, nada bicaranya bisa lebih terkontrol sebab anak itu memang lebih bisa mengendalikan diri dan tidak terlalu memusingkan seperti Miho.

“Kami membicarakan insiden dua hari lalu,” Euncha langsung menjawab.

“Benar kan?” potong Miho dengan sikap membangkang pada ibunya.

Ibu Miho mendesiskan mulutnya memperingatkan Miho untuk diam lalu memandang Euncha, menyuruhnya melanjutkan cerita.

“Ya, itu saja. Pihak manajemen Shinee takut ada pemberitaan yang buruk seputar penamparan itu, jadi mereka mengajak Miho bersepakat dengan mereka. Semuanya sudah beres kok.” Euncha melanjutkan penjelasannya.

“Lalu kenapa ada video itu?” ibu Miho masih saja tidak senang.

“Kami tidak tahu,” Euncha menjawab lagi. “Itu pasti waktu aku sedang mengambil mobil. Aku sengaja meminta Eonnie menunggu bersama Minho ssi supaya kakinya tidak banyak gerak.”

“Kenapa Eomma mendengarkan Euncha tapi tidak mau percaya padaku?” Miho merengek. “Aku anakmu bukan sih?”

“Kau diam! Lihat saja penampilanmu! Jam segini baru bangun tidur, sementara Euncha sudah rapi! Tentu saja Eomma lebih percaya pada Euncha!”

Euncha menggigit bibirnya. Antara mau tersenyum karena bangga dan menahan diri karena takut merusak suasana kemarahan Imo-nya.

“Lalu siapa lagi itu, satunya?” ibu Miho meneruskan interogasinya.

Euncha tidak tahu yang dimaksud. Dia memang tidak sempat menyelesaikan tontonannya dan kalang kabut segera menelepon Miho, sehingga melewatkan pemberitaan mengenai Leeteuk.

“Dia temanku, Eomma.” Miho menjawab menggantikan Euncha.

“Sudah kubilang kau diam saja!” ibu Miho memukul lagi kepala anaknya.

Miho berseru kesal. Pukulan ibunya tidak pernah menyakitkan, tapi selalu mengesalkan.

“Maksud Imo?” Euncha mencoba menebak.

“Leeteuk!” Miho berseru memberi petunjuk sambil menghindar menjauhi jangakauan tangan ibunya.

Euncha mengangkat alis mendengar itu sekaligus heran mengapa Leeteuk disebut-sebut. “Kenapa dengan Leeteuk?”

Miho sekarang sudah bergeser ke sebelah Euncha, menggunakan badan adiknya itu untuk berlindung dari pukulan ibunya. Tapi dia masih duduk di lantai sementara ibunya dan Euncha duduk dengan pantas di atas sofa. “Mereka tahu Leeteuk mengikuti akunku di twitter,” Miho menjelaskan pada Euncha sambil menunjuk tv.

“Mereka tahu?! Kok bisa?!” Euncha benar-benar terkejut sekarang.

Miho manyun. Ya bisa lah. Emang ada yang bisa diumpetin di twitter?! Sungutnya dalam hati.

“Maksudku, kok mereka ngungkit-ngungkit itu? Emang apa hubungannya?” Euncha kini terfokus pada Miho, berusaha mendapatkan penjelasan lebih.

“Nado molla! Tahu-tahu mereka udah bikin berita yang aneh-aneh tentang aku sama Minho. Terus tentang aku sama Leeteuk!” Miho kesal karena bukannya membantu, Euncha malah ikut bertanya-tanya padanya.

Euncha mengerucutkan bibirnya. Di satu sisi dia heran dengan apa yang bisa terbentuk dari interaksi sesaat, tapi di sisi lain dia mengakui kehebatan kakaknya yang bisa menjadi bahan gosip. Malah rasanya agak bangga juga.

“Pertanyaan Imo belum dijawab, tadi! Siapa itu Leeteuk?!” ibu Miho merasa kesal karena diabaikan.

Euncha kaget lalu langsung menjawab, “Leeteuk itu teman Eonnie.”

“Ya, Eomma. Teman,” kali ini Miho menambahkan dengan nada menang karena Euncha mendukungnya sekaligus suara yang lebih sopan.

Tetap saja di pikiran ibu Miho, ini tidak masuk akal. Kalau hanya berteman, lantas mengapa muncul pemberitaan yang heboh begini?

“Eomma pasti tidak percaya, kan?” Miho mengenal ibunya. Wanita itu masih berwajah seperti itu, yang artinya dia belum puas dengan jawaban Miho dan Euncha. “Itu hanya media yang membesar-besarkan masalah, Eomma. Kenapa Eomma tidak percaya saja padaku?” Miho mencoba membujuk ibunya.

Ibu Miho memandangi putri satu-satunya. Rasa khawatir menyelusup di dadanya. Dulu juga begini. Anaknya menjadi sorotan banyak orang, meski tidak seheboh sekarang. Tapi saat itu, dengan kepopuleran anaknya yang tidak seberapa saja, Miho harus mengalami kepahitan yang teramat sangat. Bagaimana dengan kali ini?

“Kau mandi sana!” ibu Miho menghardik anak gadisnya menutupi kekhawatirannya.

Miho menggoyang-goyangkan badannya dengan sikap merajuk. “Eomma… kenapa sih Eomma tidak mau percaya padaku???”

“Eomma tidak bisa mempercayai gadis pemalas seperti kau. Kau mau pergi mandi sekarang atau kau mau Eomma yang menarikmu ke kamar mandi?” ancam ibu Miho.

Gadis itu akhirnya menurut sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal ke arah kamar mandi, lalu meringis karena kakinya jadi semakin sakit. Dia sama sekali tidak menyadari pandangan ibunya yang penuh kekhawatiran.

“Imo…” Euncha menangkap pandangan imo-nya dan mengerti apa yang dirasakannya. Hampir sama dengan kekhawatirannya tadi pagi ketika melihat wajah Miho muncul di tv, tapi mungkin kadarnya jauh lebih besar. Bagaimanapun wanita itu adalah seorang ibu.

Ibu Miho menoleh ke arah Euncha sambil memaksakan senyum. “Kau sudah sarapan, Euncha?”

Euncha membalas senyum imo-nya lalu mengangguk. “Sudah, Imo.” Dia tidak akan mengungkit apapun sekarang. Mereka seperti memiliki kesepakatan. Tidak akan mendiskusikan hal-hal yang baru ditakutkan akan terjadi. Orang tua Miho, juga dia dan keluarganya, sudah sepakat bahwa mereka akan menerima kondisi statis ini. Selama Miho tidak kembali ke gejala depresinya, mereka akan tetap bertingkah seperti biasa. Meski itu bukan hal yang mudah kadang-kadang. Mengingat karakter Miho yang suka tampil dan diperhatikan.

 

^^^

 

“Hati-hati,” ibu Miho berpesan pada kedua putrinya. Keduanya hendak pergi lagi ke gedung SME.

Tadi begitu selesai mandi, Miho ditelepon lagi oleh nomor tak dikenal. Kali itu ternyata adalah manajer Super Junior. Pria itu memintanya bertemu di gedung SME untuk makan siang bersama, tapi Miho mengatakan sebaiknya sehabis makan siang saja sebab dia ada janji makan siang.

Begitulah alasannya. Janji makan siangnya sebenarnya adalah dengan Euncha—dan ibunya, tentu saja—karena dia harus menunjukkan pada Euncha apa yang terjadi pada twitternya. Sebelum makan siang, dia menunjukkan pada Euncha apa yang terjadi dan lagi-lagi terkejut. Dalam waktu hanya beberapa jam, pengikutnya sudah melonjak sampai hampir 10k.

Mereka lalu berdiskusi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Miho dan Euncha sudah punya gambaran apa yang akan dibicarakan oleh kedua manajer itu, jadi mereka sibuk mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan yang mungkin akan diajukan oleh kedua manajer tersebut.

Diskusi mereka terhenti sebentar karena makan siang, lalu berlanjut lagi sambil Miho bersiap diri. Kali ini, Euncha menyarankan agar Miho menggunakan sesuatu dengan hoodie untuk menyamarkan wajahnya. Akhirnya Miho memilih mengenakan skinny jeans dengan t-shirt longgar berlapis rompi tipis ber­hoodie. Keduanya tanpa lengan. Tak lupa dia melengkapi penampilannya dengan kacamata besar yang menutupi tulang pipi. Poninya disisir rapat menutupi keningnya. Jika hoodienya dipasang, yang terlihat dari wajahnya hanya tinggal dagunya yang berbentuk ujung hati dan bibirnya yang berbalut lipgloss berwarna peach.

Mereka melanjutkan diskusi mereka di dalam mobil. Euncha sedang menerka-nerka apakah akhirnya pihak SME setuju mengadakan konpers atau tidak. Miho berkata dia berharap jawabannya adalah tidak. Mereka berhenti di lampu merah dan Euncha membesarkan kekuatan AC-nya. Musim panas kali ini luar biasa. Bahkan dengan celana pendek dan kaus tipis berpundak tali, Euncha masih merasa kepanasan, padahal AC-nya sudah dinyalakan dari tadi. Akhirnya gadis itu menggulung rambutnya ke atas. Gerakannya itu mengundang tatapan pengendara mobil di sebelah mereka yang terpana melihat dua gadis cantik dan menarik di tengah jalan di siang bolong.

Mobil Euncha terparkir di parkiran SME setengah jam kemudian dan dia langsung memasuki gedung utama bersama Miho. Di resepsionis mereka mengatakan bahwa mereka ada janji dengan Manajer Suju. Setelah resepsionis itu menelepon, mereka diberitahu bahwa Manajer Suju akan segera mendatangi mereka.

Tidak lama mereka sudah duduk di ruangan berpapan nama Super Junior. Di dalamnya ternyata sudah ada Leeteuk, Eunhyuk, dan Suju KRY. Miho dan Euncha mengucap salam kepada mereka dengan sopan, lalu mereka semua duduk di kursi yang letaknya tak beraturan.

Manajer memanggil Leeteuk agar mendekat padanya, lalu mulai menanyai Leeteuk tanpa basa-basi perihal hubungannya dengan Miho. Pertanyaan yang membuat si leader tertawa. “Aku tak mempunyai hubungan apa-apa dengannya. Ya kan, Miho ssi?”

Miho membuka kacamata dan hoodienya, lalu mengangguk sambil menatap pasti pada manajer. “Kami hanya berteman di twitter, itu saja.”

Di belakang manajer, Miho memperhatikan Eunhyuk membentuk gerakan-gerakan aneh.

Manajer Suju menghela nafas, “Kan sudah kubilang, kalian jangan sembarangan membentuk jaringan sosial di internet,” katanya.

Eunhyuk sekarang menelengkan kepalanya dengan kecewa, seperti Miho mengatakan sesuatu yang salah. Apakah dia tidak boleh mengatakan twitter di depan manajer ini?

“Ne, maaf.” Leeteuk memberi jawaban. Miho dan Euncha saling berpandangan, tidak boleh berkomunikasi dengan twitter?! Mengejutkan.

Manajer Suju mendesah. Dia tidak akan memarahi Leeteuk di depan gadis ini. Nanti saja saat mereka hanya bicara secara internal. Sekarang dia harus fokus pada Miho. Diamatinya Miho sesaat. Secara pribadi dia mengakui kalau wanita ini memang memiliki modal untuk diidolakan banyak pria. Temannya juga sih, pikir sang manajer sambil melirik ke arah Euncha. Itulah sebabnya dia akan menangani masalah ini berbeda dengan cara menangani masalah Shinee kemarin.

“Kalau masalah ini menjadi besar, apa yang akan anda katakan pada media, Miho ssi?” tanya sang manajer pada Miho. Meski tadi dia memuji modal wanita itu, tapi dia sudah terlalu sering bertemu orang cantik yang ingin menjadi artis dan tidak punya malu, jadi dia tidak akan kaget kalau tiba-tiba wanita ini memberinya jawaban kontroversial hanya agar lebih diperhatikan. Malah dia sudah mengantisipasi hal itu.

“Sama seperti yang kemarin saya rundingkan dengan manajer Shinee, yaitu saya akan mengatakan saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Leeteuk ssi,” Miho menjawab tenang.

Oke, jadi attitudenya juga bagus, pikir Manajer Suju. “Kau tahu, Miho ssi, media cenderung bekerja seperti angin topan. Memporakporandakan apapun yang mereka lewati. Jadi saya takut jawaban anda tidak akan memuaskan media nantinya dan malah memancing mereka mengorek-ngorek lebih dalam. Anda dan uri Leeteuk akan terus dikejar-kejar, dan Minho ssi juga, tentunya, begitu mengetahui bahwa kalian berteman,” dia mulai mencoba mempersuasi Miho.

Miho menyilangkan kakinya. Gadis itu sekarang penasaran akan apa yang selanjutnya hendak dikatakan oleh Manajer Suju. Sikap tubuhnya saat ini membuatnya tidak lagi terlalu nampak seperti gadis remaja.

Eunhyuk terpesona melihatnya.

Manajer juga bisa membacanya sikapnya itu, maka dia melanjutkan “Kalau boleh jujur, anda bukan tipe wanita yang bisa bersama lelaki lalu dianggap ‘hanya berteman’ dengan lelaki itu. Intinya, tidak akan ada yang percaya bahwa kalian hanya berteman tanpa alasan yang kuat.” Pria itu menarik nafas sejenak lalu, “Saya punya usul. Saya harap anda akan menerimanya, sebab ini akan membantu kita semua, termasuk Minho Shinee, tapi semua keputusan ada di tangan anda.”

Manajer itu menyimpan senyum-hampir-menang-nya. Dia merasa yakin 100% usul ini tidak akan ditolak oleh gadis itu. Pria itu bisa merasakan bahwa Miho punya minat di dunia entertainment, sesuatu yang tidak dimiliki teman di sebelahnya, sayang sekali.

“Apa usul anda?” Miho bertanya.

“Ini agak sedikit berbeda dengan Shinee, tapi saya hendak mengajak anda untuk…” pria itu berhenti sebentar untuk mengamati Miho. Lalu setelah merasa yakin bahwa dia akan mendapatkan jawaban positif, dia melanjutkan, “Bergabung dengan manajemen kami, menjadi salah satu artis kami.”

Sesaat ruangan hening. Seluruh perhatian sekarang terpusat pada Manajer Suju.

Euncha membuka mulutnya, namun tak ada yang mampu dikatakannya. Apakah ini berita gembira? Apakah akhirnya Miho memperoleh apa yang diinginkannya? Gadis itu menoleh ke arah Miho dan tidak menduga akan menemukan kerutan muncul di antara kedua alisnya sementara wajahnya tetap datar. Ekspresi itu tanda bahwa Miho sedang berpikir sesuatu dengan serius. Jelas, itu bukan hal yang biasa dilakukan kakaknya, tapi kalau itu terjadi, seringnya bermakna negatif.

Manajer Suju menikmati keterkejutan Miho. Kilatan apakah yang dilihatnya di mata Miho? Ah, masih haruskah dia bertanya? Tentu saja itu kilatan senang. Kini pria itu tidak lagi bisa menahan senyumnya.

Leeteuk dan Suju KRY tidak percaya dengan pendengarannya. Seseorang yang lolos tanpa audisi? Bahkan ditawari begitu saja? Apa manajernya sudah gila? Apa ini perintah manajemen?

Eunhyuk tak tahu harus bagaimana melukiskan perasaannya. Paling sedikit dia hanya bisa mengatakan girang. Itu ide terhebat yang pernah didengarnya. Kalau begitu, dia tidak akan perlu akun Leeteuk lagi untuk ngobrol dengan Miho. Hanya perlu ke gedung SME untuk bertemu Rubah di hadapannya ini. Rubah… tiba-tiba dia menyadari pemikirannya sendiri dan merasa kacau lagi. Orang ini rubah. Luar dan dalam—maksud Eunhyuk wujud aslinya—tidak sama. Kenapa dia harus girang begini membayangkan bisa jadi seniornya?!

Miho menundukkan kepalanya. Dari sekian banyak alternatif jalan keluar, ini yang paling tidak pernah terpikirkan olehnya. Kalaupun terpikirkan, dia tidak berani membayangkan nasibnya. Tidak, tidak, dia tidak bisa menerima ini. “Maaf, apakah tidak ada alternatif lain? Rasanya terlalu berlebihan kalau saya sampai harus bergabung dengan SME,” Miho berkata.

Manajer Suju terpana mendengar jawaban yang sama sekali tidak diduganya itu.

Leeteuk dan Suju KRY menatap Miho terpana. Lolos tanpa audisi, bahkan ditawari, tapi menolak? Apa Miho ini gila? Bagaimana manajemen akan menyikapi hal ini nantinya?

Eunhyuk hampir merosot dari kursinya. Kenapa Miho menolak? Bukankah dia bilang ingin jadi artis? Kenapa menolak SME? Kenapa dia tidak bilang iya saja sehingga Eunhyuk bisa bertemu dengannya di banyak kesempatan? Kenapa? Kenapa dia ingin Rubah menerima tawaran itu? Kenapa dia ingin bertemu dengan makhluk itu sering-sering? Wae?!

“Maaf, bagaimana tadi?” Manajer meminta Miho mengulangi kata-katanya, berharap dia salah menangkap maksud Miho.

Miho menghela nafas. “Menurut saya tindakan itu tidak perlu. Lagi pula, apa maksudnya?”

Ah, jadi wanita ini belum menangkap maksudnya. Memang, tadi dia tidak menjelaskannya dengan gamblang. Baiklah, kalau dia ingin tahu alasan penawarannya, “Itu sangat perlu,” manajer kembali mendapatkan kepercayaan dirinya. “Begini, Miho ssi, kalau anda bergabung dengan kami, anda akan memiliki peluang emas di masa depan. Apa anda tahu bahwa anda wanita yang sangat menarik? Anda sangat berbakat menjadi artis.”

Dengusan Miho mengejutkan manajer. Tentu saja dia tahu. Selain wajahnya yang memang menjadi modal utama, Miho memastikan tubuhnya cukup berharga untuk dijadikan aset. Menjadi artis itu impiannya sejak masih kanak-kanak. Tapi dia tidak lagi bermimpi untuk berangkat dari label SME, atau label lain yang sama besarnya. Tidak sama sekali.

Manajer bingung dengan sikap Miho. Dengusan terakhirnya membuat pria itu berpikir kembali. Jangan-jangan dia salah membaca tanda-tandanya? Jangan-jangan Miho tidak berminat menjadi artis? Tidak mungkin, instingnya sudah sangat terlatih setelah berkecimpung di dunia ini selama lebih dari lima belas tahun. Dia harus mencoba lagi, kalau tidak pihak manajemen akan merendahkan kredibilitasnya karena dia yang pertama mencetuskan ide ini. “Anda juga akan membantu kami, Miho ssi. Kalau anda bergabung dengan kami dan memiliki status sebagai trainee—“

“Akan menjadi alasan yang masuk akal di mata siapapun, kan? Ya, ya, saya sudah tahu apa maksud anda. Tapi,” Miho memotong ucapan sang manajer. “Saya tidak ingin menjadi trainee di sini,” akhirnya Miho mengatakan dengan jelas sekali.

“Kenapa?” pertanyaan itu terlontar bersamaan dari mulut manajer dan member Suju yang hadir, serta hampir saja keluar dari mulut Euncha. Untung tidak jadi, pikir Euncha, sudah cukup banyak orang bodohnya jadi dia tidak perlu ikut-ikutan.

Wajah Miho datar. Suaranya juga datar ketika menjawab, “Saya mempunyai alasan saya sendiri.”

Semua orang menunjukkan ekspresi shock kecuali Euncha. Sementara sumber shock tersebut masih berwajah tanpa ekspresi. Oke, sepertinya ini saatnya untuk khawatir, Euncha berpikir.

“Tapi,” manajer tampak tidak berniat berhenti.

“Saya harap anda menghargai keputusan kakak saya,” Euncha memotong apapun yang hendak dikatakan pria itu. Miho tampak berkeras tidak menginginkan tawaran itu, dan alasannya pasti sesuatu yang penting sampai dia tidak mau mengatakannya.

Manajer seolah baru melihat Euncha di sisi Miho. Kakak? Jadi kedua gadis ini kakak beradik?

“Katamu kau ingin jadi artis. Kenapa menolak kesempatan ini?” Eunhyuk menyeletuk tanpa ada yang menduga.

Miho menyipitkan matanya. Dia tidak pernah mengatakan impiannya pada cowok itu, bagaimana dia bisa tahu?

Eunhyuk segera menyadari kesalahannya. Dia menangkap tatapan Leeteuk yang memperingatkan. Di sampingnya sang manajer menatap Eunhyuk curiga, “Bagaimana kau bisa tahu keinginannya?”

Eunhyuk hampir gelagapan, untung dia bisa mendapatkan jawabannya dengan cepat, “Leeteuk Hyung yang menceritakannya.”

Leeteuk semakin tajam menatap Eunhyuk. Dasar tidak tahu terima kasih. Dia sudah menolongnya dari tadi—ani, dari kemarin-kemarin—tapi sekarang malah anak itu memojokkan dirinya. Pria itu segera nyengir ke arah manajer yang sekarang menatapnya menegur.

Di kursinya Miho menatap Leeteuk dan Eunhyuk bergantian. Apakah Leeteuk menunjukkan pesan-pesannya pada Eunhyuk? Kalau begitu, mungkinkah dia juga melakukannya dengan member lain? Miho melontarkan tatapan pada Suju KRY yang duduk paling jauh darinya dan ketika matanya hendak bertemu mata dengan setiap salah satu dari mereka, mereka langsung pura-pura tak melihatnya. Sial, jadi selama ini dia tidak hanya bercerita pada Leeteuk, tapi juga member Suju lainnya. Sebagai laki-laki, mereka bocor juga. Untung dia tidak mengatakan hal-hal yang memalukan.

Sekarang ini Manajer Suju kembali menatap Miho. Tatapannya sudah berubah. Jadi gadis ini memang sudah berusaha menjalin koneksi dengan membernya, dia merasa kesal karena sempat terkecoh dengan tingkah Miho yang ‘sok’ menolak. Rupanya gadis ini ingin main tarik ulur dengannya. “Anda yakin anda ingin melewatkan kesempatan ini, Miho ssi?” manajer tersebut memutuskan mengikuti permainan Miho. Ingin melihat kemampuannya bersandiwara.

Cepat Miho mengangguk, mengejutkan manajer yang mengira gadis itu akan mulai berakting ragu. “Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, lho,” cobanya lagi. Dasar gadis besar kepala.

“Dengar, Manajer-nim, tidak adakah solusi lainnya? Atau setidaknya beri saya waktu, nanti saya akan berusaha memikirkan jalan keluarnya. Saya ada janji dengan Manajer Shinee,” Miho melirik jam tangannya, “Sekitar satu jam lagi. Setelah itu mungkin saya bisa memberikan alternatif solusi lain pada anda. Mungkin malah—“

Ucapan Miho terganggu oleh dering telepon seseorang. Manajer Suju merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, “Maaf, ini penting sekali. Saya harus menerimanya,” kata pria itu sambil berlalu tanpa mempedulikan ucapan Miho.

Miho mendongak menatap kepergian pria itu dengan kesal. Begitu lelaki itu menutup pintu di belakang punggungnya, Miho melemparkan tangannya dengan kesal ke udara. Dia menatap Euncha, “Apa-apaan dia?!” serunya kepada adik sepupunya itu.

Euncha berusaha menenangkan Miho. “Sabarlah, Eonnie. Mungkin memang penting sekali.” Euncha memilih diam kali ini. Dia memang sering memarahi Miho, tetapi sekali Miho marah serius, dia tak berani mengusiknya. Sepertinya Miho benar-benar tersinggung dengan sikap Manajer Suju kali ini.

Yah, kalau dipikir lagi, Miho memang tampak berpikir serius setelah mendengar tawaran si Manajer. Kalau ada hal yang jarang dilakukan Miho, itu adalah berpikir dengan serius. Biasanya kakaknya yang jenius itu hanya perlu menggunakan separo kemampuan berpikirnya untuk hidup. Sedikit sekali momen-momen dimana Miho berpikir serius. Penuh emosi dan spontan, iya. Serius? Tidak.

Eunhyuk terpana melihat wajah Miho yang tampak marah. Wajah itu bersemu merah dan entah bagaimana Eunhyuk jadi memperhatikan bibirnya. Gadis itu berulang kali menjilat bibirnya dengan tidak sabar, sehingga bibirnya selalu tampak basah. Bibirnya menggoda sekali.

Eunhyuk menggigit pipi bagian dalamnya keras-keras. Dengan sengaja. Dia menahan rasa sakit yang menderanya dan berkonsentrasi pada rasa sakit itu. Apa yang ada dalam otaknya sebenarnya? Miho itu laki-laki! Bibir yang menggoda itu bibir laki-laki! Demi Tuhan, Lee Hyukjae! Kendalikan dirimu!

Suasana dalam ruangan itu jadi terasa tidak enak. Selain Eunhyuk yang sibuk mengendalikan dirinya sendiri, member Suju yang lain merasa tidak ingin berbicara apapun. Mereka tidak suka situasi ini. Harus diakui bahwa manajer mereka memang mengesalkan. Memutus pembicaraan orang, kemudian meninggalkannya begitu saja. Padahal Hyung-nim mereka itu baru saja menawari hal yang penting pada Miho.

Sebagai yang paling tua di ruangan, Leeteuk mencoba mencairkan suasana, “Maaf, Miho ssi. biasanya manajer kami tak pernah begitu.”

Miho menoleh kepada Leeteuk dan rasa tersinggungnya sedikit mereda melihat wajah cowok itu. “Kenapa kau yang minta maaf, Oppa?”

Oppa. Rasanya wajar sekali diucapkan Miho, pikir Leeteuk. “Oppa?” Leeteuk berusaha mengambil kesempatan itu untuk mengalihkan fokus pada hal lain.

Wajah Miho segera berubah. Hahaha, iya ya, Leeteuk masih menganggapnya sebagai laki-laki. Tanpa bisa ditahan dia tertawa kecil, mengejutkan yang lain. Mereka semua takjub bagaimana makhluk ini bisa tersinggung berat di satu waktu kemudian langsung tertawa geli detik berikutnya.

“Jogiyo, Miho ssi…” Leeteuk memanggil Miho ragu. Dia sudah mengambil keputusan. Ini tidak boleh berlarut-larut. Dia akan mengaku pada Miho.

Miho merubah tawanya menjadi senyum sambil berkata, “Ne?”

“Anu, mumpung tidak ada Manajer Hyung, ada yang mau aku katakan,” Leeteuk memulai dengan gugup.

Miho diam mendengarkan.

“Anu, ah, sebelumnya, aku harap kau tidak tersinggung. Tapi kami tidak ada maksud mempermainkanmu sama sekali.”

Miho menelengkan kepalanya heran. Tidak yakin apa yang hendak dibicarakan Leeteuk. Tentang tawaran manajer mereka, atau hal lain?

“Sebenarnya—ah, susah sekali mengatakan ini… Begini, sebenarnya, yang selama ini berkirim pesan denganmu itu Eunhyuk,” Leeteuk menunjuk Eunhyuk dengan satu tangan.

Suju KRY di belakang membuang muka mendengar kata-kata Leeteuk. Sementara Miho dan Euncha merasa salah mendengar. Di sisi lain, Eunhyuk melongo memandang hyungnya. Yang dipandang menunggu reaksi Miho dengan tegang.

Karena Miho hanya diam sambil membulatkan matanya ke arah Leeteuk, lelaki itu bicara lagi. “Anu, uri Eunhyuk-a, mm, selalu meminjam akunku untuk menghubungimu. Dia juga yang membuatku mengikuti akunmu. Manajer kami tidak tahu itu. Begitulah…” Leeteuk menjelaskan dengan nada yang semakin lama semakin pelan.

Aduh, kenapa dia mengatakannya sekarang? Harusnya dia berpikir dua kali tadi sebelum mengatakannya. Leeteuk menyesali keputusannya demi melihat wajah Miho yang sekarang datar. “A, anu, juga tentang pesan-pesan itu, kami semua sudah—“

Miho memotong kata-kata Leeteuk, “Jamkanmanyeo… Leeteuk ssi ga anira, Eunhyuk ssi ga?” Miho mengulangi keterangan Leeteuk. Bukan Leeteuk? Tapi Eunhyuk?

Leeteuk yang merasa sudah terlanjur basah, mengangguk kaku.

“Geureom, kalian berdua membaca pesan-pesan itu?” Miho mencoba mengurai masalah.

“Ne, akh!” Leeteuk meringis merasakan tonjokan Eunhyuk di lengannya. Baru sekarang cowok yang lebih muda itu tersadar dari keterkejutannya. Mukanya merah sekali menahan malu. Dia tidak percaya Leeteuk mengatakannya di saat-saat seperti ini.

Kelakuannya mengundang perhatian Miho. Gadis itu menahan apapun yang hendak dikatakannya dan terus memandangi Eunhyuk. Eunhyuk yang menghubunginya? Cowok ini yang terus mengiriminya pesan? Leeteuk tidak pernah melakukannya? Mereka tidak sedang mempermainkannya kan?

“Hyung! Ke, ke, kenapa mengatakannya?!” Eunhyuk protes sambil terbata-bata karena merasakan tatapan Miho padanya.

Leeteuk membela diri, “Lebih baik sekarang selagi tidak ada Hyungnim! Kau mau dia jadi tahu kelakuanmu?” katanya sambil menunjuk pintu dimana dibaliknya terdapat manajer mereka yang sedang menelepon.

“Jadi itu sebabnya tadi harusnya Eonnie tidak menyebutkan twitter? Karena manajer kalian tidak tahu yang sebenarnya?” Euncha menghentikan interaksi Leeteuk dan Eunhyuk yang mengarah pada tindakan anarkis.

Keduanya menoleh pada Euncha. Saat mulut mereka terbuka hendak menjawab, terdengar suara Ryeowook, “Jogiyo, choisonghamnidajiman, benarkah Miho ssi Eonnie-mu?”

Euncha menoleh ke arah Ryeowook. Pertanyaan macam apa itu?! “Ya, tentu saja. Waeyo?” tanya gadis itu mulai agak defensif. Ada apa sih dengan Super Junior? Mereka membohongi Eonnienya, kemudian meragukan hubungan keluarganya dengan Mihonnie. Memangnya mentang-mentang idola mereka bisa bersikap tidak sopan seenaknya?!

“Geugo, Oppa anieyo? Bukan Oppa?” Kyuhyun yang menyambung.

Amarah Euncha membeku seketika. Oppa? Kenapa bisa Oppa? Euncha melirik Miho heran. Bagian mananya dari Mihonnie yang membuat mereka berpikir dia pantas dipanggil Oppa?

Miho terpaku mendengar itu. Jadi rupanya begitu. Sepertinya semua member Suju sudah ikut membaca pesan-pesan antara dirinya dan Leeteuk. Ah, bukan ding, Eunhyuk. Dia teringat pandangan aneh mereka ketika melihatnya di depan ruang Shinee. Jadi itukah sebabnya? Mereka berpikir dia seorang transgender? Mendadak muncul bayangan di kepalanya bagaimana cowok-cowok ini mendiskusikan status kelaminnya di suatu pojokan. Sepertinya seru. Dan yang pasti lucu sekali kalau dia melihatnya.

“Hahahahahaa…” tawa Miho tiba-tiba berderai tanpa bisa dicegah. Orang-orang ini benar idola bukan, sih? Mereka bodoh dan naif sekali. “Ahahahahaa…” Miho terpingkal-pingkal di kursinya membuat semua orang terkejut. Termasuk Manajer Suju yang baru masuk lagi.

“Ada apa ini?” tanyanya penasaran melihat Miho yang tertawa seperti orang kesurupan. Terlihat begitu karena gadis itu satu-satunya yang tertawa sementara semua orang di ruangan itu tak satupun yang tertawa. Tersenyum pun tidak.

Melihat manajer, Miho memelankan tawanya dan berusaha memperbaiki sikap duduknya. Tapi bayangan Eunhyuk yang melongo seperti tadi sambil membayangkan dirinya sebagai laki-laki kembali membuat tawanya terlontar hampir tak terkendali. Lucu sekali. Jadi selama ini dia mengira Leeteuk yang mengirim pesan padanya, padahal Eunhyuk. Sementara itu, setiap kali mereka berkirim pesan, Eunhyuk pasti memasang wajah bodohnya karena sibuk mengira-ira ‘bentuk’ lelaki Miho.

“Maaf… Hahahaha, jeongmal mianhamnida,” Miho berusaha menggigit pipi dalamnya. Bukan upaya yang mudah. Dia menggeleng berusaha mengusir image Eunhyuk dan Leeteuk yang berganti-ganti, “Maaf, saya sedang berusaha melatih otak saya agar lebih segar. Ah, siang ini panas sekali ya? Ahahaha,” kata Miho asal, gagal mengendalikan tawanya.

“Bagaimana kalau besok kita liburan ke Thailand, Eunchanie?” Miho tak tahan untuk menggoda para idola itu. Sewaktu melihat mata mereka semua membulat, tawa Miho kembali meledak. Mereka benar-benar polos! Pikir Miho tidak mempedulikan Euncha yang makin kebingungan dengan tingkahnya. Memangnya Mihonnie punya uang untuk ke Thailand?!

Ketika akhirnya Miho bisa menenangkan diri, semua orang kecuali Euncha sedang menatapnya heran—dan mungkin panik—karena mengira Miho sebenarnya orang gila. Banci gila, pikir Yesung mengoreksi dugaan awalnya.

Manajer berdeham. Dia berusaha bicara lagi, “Miho ssi?” tanyanya ragu-ragu.

Miho mengangkat dagunya dan menyentuh poninya sekilas, “Ne, Manajer-nim?” tanyanya dengan raut penuh senyum dan sikap tubuh dibuat-buat. Duduknya tegak, tidak lagi menyandar di kursinya. Kakinya yang tadi sempat terlepas, kembali disilangkan. Dia mengedarkan pandangan genitnya ke Suju KRY di pojokan dan hampir tidak bisa menahan tawanya lagi. Hanya hampir. Di sebelahnya Euncha memandanginya ngeri, apa-apaan eonnie-nya ini? Main mata dengan Suju KRY?!

Aura pojok tempat Suju KRY duduk tiba-tiba menjadi suram. Mereka bertiga berusaha menahan tubuh mereka agar tidak bergidik terlalu jelas. Serangan banci datang, pikir mereka.

Manajer Suju yang juga melihat itu jadi makin yakin bahwa Miho memang punya niat menggoda anak-anaknya, Super Junior. Pikiran curiganya muncul, menyangka bahwa alasan Miho menolak tawarannya tadi adalah karena ingin membuat sensasi yang lebih besar. Kalau benar begitu, gadis ini bisa jadi ancaman bagi anak-anaknya.

“Miho ssi, maaf. Sepertinya pertemuan kita hari ini harus berakhir sekarang. Suju ada jadwal recording,” kata Manajer itu bertekad menjauhkan anak-anaknya dari Miho. “Lain kali kita lanjutkan lagi, ya?” tanpa Suju member, tambahnya dalam hati. “Saya sangat berharap kita bisa bertemu lagi secepatnya.”

Miho memandang manajer itu datar. Dia merasakan aura tidak senang memancar dari tubuh pria itu. Yeah? Oh well, ini berita barunya, Miho juga tidak suka padanya. Tapi dia tetap menjawab, “Seperti yang sudah saya bilang tadi, saya masih akan bertemu manajer Shinee sore ini, jadi mungkin saya akan di sini sampai sore. Kalau ada yang perlu dibicarakan lagi, maksud saya.”

Manajer Suju mengangguk, “Baiklah, saya akan menghubungi anda. Ayo anak-anak, kita harus pergi sekarang,” katanya pada member Suju.

“Hyung, acara kami bukannya dicancel?” Leeteuk bertanya pada manajernya.

Karena merasa urusannya sudah selesai, Miho berdiri dan beranjak ke pintu, dibantu Euncha. Dari belakangnya terdengar suara manajer berkata, “Tidak jadi. Barusan telepon itu mengatakan kalau kalian jadi recording hari ini.”

Miho meraih gagang pintu dan berkata, “Kami pergi dulu, semuanya. Sampai ketemu lagi,” tambahnya genit.

Semua yang di dalam menoleh terkejut lalu membalas salam Miho. Suju KRY tampak melakukannya dengan perasaan ingin muntah.

Miho sempat melihatnya, lalu setengah mati menahan tawanya hingga di luar pintu baru terbahak-bahak, membuatnya dipukul keras-keras oleh Euncha. “Eonnie! Jaga sikapmu! Kau ini aneh sekali, sih?!”

Miho tetap tertawa sambil merangkul Euncha meninggalkan ruangan Suju, bersiap-siap menceritakan penemuannya pada Euncha.

 

^^^

 

Begitu Miho keluar, manajer pura-pura melihat ponselnya. “Ah, ada pesan. Ternyata memang kalian benar-benar tidak jadi recording. Jadi Leeteuk, Eunhyuk, kalian libur. KRY, kalian ada jadwal, ayo,” kata pria itu cepat-cepat. Dia sengaja berakting buru-buru agar tidak ada yang bertanya-tanya mengapa pengaturan jadwal mereka begitu aneh. Dia tidak ingin ada yang tahu bahwa dia sengaja mengatakan jadwal aneh itu hanya agar Miho segera pergi dan menjauh dari anak-anaknya.

Dalam sekejap, manajer dan SUju KRY sudah siap pergi keluar. Mereka berpamitan dan keluar dari ruangan menuju ke arah yang berlawanan dengan arah Miho pergi tadi. Sebenarnya kalau mereka menoleh, mereka bisa melihat Miho yang belum melangkah terlalu jauh, karena kaki gadis itu menghambat jalannya.

Setelah ditinggalkan, Eunhyuk kembali merenungi nasibnya yang menanggung malu di hadapan Miho tadi. Bagaimana ini, apakah sekarang Miho tidak mau menghubunginya lagi? Aduh, kok sedih rasanya memikirkan itu. Saking kalutnya dengan perasaan sendiri, Eunhyuk tidak sadar bahwa Leeteuk berpamitan padanya hendak ke toilet. Dia hanya mengangguk-angguk bahkan tanpa menyadari gerakannya sendiri.

Leeteuk sendiri tidak menyadari sikap Eunhyuk yang aneh. Dia bergegas keluar mencari toilet karena memang sudah agak mendesak. Dia berjalan ke arah yang sama dengan arah Miho berjalan tadi. Sebentar saja dia sudah bisa menyusul Miho karena gadis itu harus berjalan lambat sekali, berkebalikan dengannya yang terburu-buru.

Suara langkah Leeteuk mendekati Miho teredam oleh karpet yang mengalasi lantai koridor. Kedua gadis di depan Leeteuk itu sibuk bercerita-cerita sambil berjalan kepayahan. “Mwo? Jadi itu kenapa Eonnie ketawa segila itu tadi?” Euncha terkejut menerima penjelasan Miho. Sekarang gadis itu bisa membayangkan betapa lucunya hal itu. Bahkan mulutnya mulai tersenyum.

“Ne! Coba kau bayangkan, mereka ngerumpiin aku, berpikir kalau aku banci. Gyaahahaha, mereka naif sekali.” Miho terkekeh geli.

“Ahahaha, Eonnie ah, udah ga usah dibayangin, ntar ketawa mulu deh. Tambah susah kan, jalannya?” Euncha membenarkan letak tangan Miho di bahunya sambil ikut tertawa.

Leeteuk melambatkan langkahnya, mengurungkan niatnya menyapa mereka berdua demi mendengar itu. ‘Berpiki Miho banci’ ? Apa sih maksudnya?

“Heran deh. Masa mereka ga bisa ngebedain mana yang banci dan yang wanita?” Miho masih bersuara enteng.

“Iya, iya, bener banget. Ya ampun, sumpah Eonnie aku heran banget. Bagian mananya sih dari tubuhmu ini yang masuk kriteria lelaki? Masa mereka ga bisa ngeliatnya ya?”

“Makanya itu,” Miho menyetujui ucapan Euncha.

Di belakangnya Leeteuk terkejut dengan apa yang didengarnya. Miho itu wanita tulen? Benarkah? Ada kesenangan yang muncul dalam dada Leeteuk mengetahui hal itu.

“Emangnya waktu itu Eonnie nulis kalau Eonnie itu banci ya? Kok aku ga inget?”

“Iya kan? Iya kan? Aku juga ga pernah ngakuin hal itu lho. Mereka sendiri yang menganggap begitu. Makanya aku ga mikir bahwa mereka seserius itu nanggepin ucapanku!”

“Lhah, terus sekarang gimana? Eonnie ga niat ngasih tau mereka yang sebenernya?”

Miho tersenyum, “Kapan? Kalo ngeliat gelagatnya sih manajer mereka ga pengin aku deket-deket mereka. Ya udah, lah. Toh kalau semuanya lancar, aku ga perlu berurusan dengan mereka, jadi biar aja mereka tahu sendiri nantinya,” Miho melanjutkan.

“Nanti itu, seperti sekarang?” Leeteuk tidak tahan lagi. Meski merasa keki dibohongi, tapi dia senang bahwa Miho perempuan tulen. Itu artinya insting lelakinya masih ada.

Kedua gadis itu terkejut sekali mendengar suara Leeteuk. Mereka menoleh secara serentak menyebabkan pegangan Euncha di pinggang Miho mengendur dan akibatnya Miho kehilangan keseimbangan. Dia pun merosot ke lantai karena tak sanggup menahan tubuhnya sendiri.

“Omo!” ganti Leeteuk yang terkejut. “Miho ssi, gwenchanha?” dia berjongkok, dengan cepat menolong Miho agar berdiri lagi. Tapi kaki Miho terlalu sakit. Nasihat dokter untuk mengistirahatkan kakinya tidak berhasil dilakukannya akhir-akhir ini akibat banyak pemberitaan bodoh.

Namun bukan itu yang ada di pikiran Miho. Leeteuk mendengar semuanya? “Oppa…” katanya pelan, takut Leeteuk marah.

“Kau ini. Kau harusnya beristirahat dengan kaki begitu,” Leeteuk ngeri sekali melihat kaki Miho yang tampak dua kali lebih besar dari kaki satunya. Dia melupakan keinginannya, kemudian berjongkok membelakangi Miho. “Ayo kubantu kau. Anu, adik Miho—maaf aku lupa namamu—bisa tolong bantu Miho? Aku akan mengantarkan kalian,” kata Leeteuk pada Euncha.

“Eh, ga usah!” Miho menolak. Tapi bagi Euncha, perintah Leeteuk lebih masuk akal. Kakaknya itu tampak sekali kepayahan berjalan. Maka tanpa mempedulikan penolakan Miho, dia mengangkat kakaknya agar Leeteuk bisa menggendongnya.

Dua menit kemudian, Miho sudah bertengger dengan muka merah di punggung Leeteuk. Lelaki yang menggendongnya itu berkata, “Nah, sekarang, kalian berhutang penjelasan padaku,” ujar Leeteuk sambil mulai berjalan.

 -cut-