Author : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Title : Strawberry Lovellipop

Length : Continue

Genre : Romance

Cast :

* Casts :

– Kim Hyun Joong  (SS501) as Kim Hyun Joong

– Park Hye Joong as Park Hye Joong

– Kim Hyung Joon (SS501) as Kim Hyung Joon

– Song Hye Ra as Song Hye Ra

– Heo Young Saeng (SS501) as Heo Young Saeng

– Kim Hyun Ra as Kim Hyun Ra

– Kim Kyu Jong (SS501) as Kim Kyu Jong

– Song Hyu Rin as Song Hyu Rin

– Park Jung Min (SS501)  as Park Jung Min

– Han Sang Mi as Han Sang Mi

Extended Casts :

– Kim Min Joo as Hyun Joong’s mother

– Park Min Ho as Hye Joong’s father

– Byun Jang Moon (A’st1)  as Jang Moon

– Sung In Kyu as (A’st1) In Kyu

– Kang Hye Neul as Hye Neul

– Park Jung Jin (A’st1)  as Jung Jin

 

CHAPTER 4

 

PABO…!!!!!!

***

Hari ini Kim Hyun Joong bermain basket bersama tiga orang sahabatnya, Park Jung Min, Kim Kyu Jong, dan Heo Young Saeng.

“Kyu Jong ah, mainmu payah sekali hari ini!” ucap Hyun Joong.

“Mianhaeyo.” ucap Kyu Jong singkat.

“Young Saeng ah….. ada apa dengannya hari ini? Kenapa dia murung sekali?” Tanya Hyun Joong.

“Jadi kau belum tahu?” Tanya Jung Min.

Jung Min dan Young Saeng lantas mengajak Hyun Joong untuk duduk guna menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Hyun Joong.

“Kemarin, Hye Neul dilamar oleh seorang pria dan dia menerima lamaran pria itu”. ucap Jung Min.

“Lantas apa masalahnya?” Tanya Hyun Joong.

“Hyun Joong ah, kau ini sungguh terlalu. Masalah temanmu sendiri saja kau tak tahu, ini akibatnya jika kau hanya mengurusi masalah kakakmu.” ucap Young Saeng.

“Aku masih tidak mengerti.” ucap Hyun Joong bingung.

“Baiklah, aku jelaskan. Jadi Hye Neul itu adalah wanita yang selama ini Kyu Jong cintai. Kau masih ingat, dulu waktu kecil ia sering sekali menceritakan tentang ‘putri cantik’? ‘putri cantik’ yang dimaksudnya adalah Hye Neul. Tapi Kyu Jong tak pernah berani untuk mengatakan jika ia mencintai Hye Neul” ucap Young Saeng.

“Itulah sebabnya Kyu Jong murung terus hari ini. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri, kenapa selama ini ia tak pernah berani untuk mengatakan jika ia sangat mencintai Hye Neul” ucap Jung Min.

“Itu salahnya sendiri, kenapa selama ini dia tidak pernah mengutarakan perasaannya. Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Seharusnya jika ia mencintai seseorang, langsung saja diutarakan”. ucap Hyun Joong dengan santainya.

“Kau bisa bicara begitu karena kau tidak pernah mengalaminya. Kau tidak pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang dengan sepenuh hati kita. Hye Neul dari dulu menganggap Kyu Jong seperti adiknya sendiri. Jika kau jadi Kyu Jong, apakah kau berani untuk mengutarakan perasaanmu?” Tanya Jung Min.

Hyun Joong lantas menghampiri Kyu Jong yang duduk sendirian tak jauh dari tempatnya duduk.

“Kyu Jong ah, maafkan aku. Aku benar – benar tak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi.” Ucap Hyun Joong.

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak mau kalian semua ikut merasakan kesedihan yang aku alami.” Ucap Kyu Jong.

“Pabonika!” ucap Hyun Joong sembari memukul kepala Kyu Jong.

“Kau pikir apa gunanya mempunyai sahabat? Kau hanya ingin membagi kebahagiaanmu tapi kau tidak pernah ingin membagi kesedihanmu kepada kita. Apa itu yang dinamakan persahabatan? Kenapa kau selalu ingin menyusahkan dirimu sendiri? Kau pikir kita akan senang jika kau menyimpan kesedihanmu sendiri?” ucap Hyun Joong menggebu – gebu.

“Hyun Joong ah, aku hanya…………………….”

“Hanya apa?” Tanya Jung Min menyambung pembicaraan.

“Aku hanya tidak ingin kalian ikut – ikutan sedih” ucap Kyu Jong.

“Justru kita akan sedih jika kau hanya menyimpan kesedihanmu sendiri.” Ucap Young Saeng.

“Maafkan aku teman – teman. Aku seharusnya tidak sedih hanya karena masalah ini, karena aku mempunyai sahabat – sahabat yang sangat baik seperti kalian!” ucap Kyu Jong.

“Hmm, bagaimana jika kita pergi jalan – jalan? Tapi ke mana?” tanya Jung Min.

“Hyun Joong ah, kau punya ide?” Tanya Jung Min.

“Ide? Oh……. Bagaimana jika sepulang sekolah kita pergi ke tempat biasanya kita berkumpul?” Tanya Hyun Joong.

“Aku setuju!” ucap Young Saeng.

“Aku juga setuju!” ucap Jung Min.

“Baiklah, aku juga setuju” ucap Kyu Jong.

Di sisi lain ………………………………..

 

Hye Ra dan Hye Joong sedang berjalan menelusuri lorong sekolah.

 

“Jadi kemarin kau pergi bersama Hyun Joong ke Taman Hiburan?” Tanya Hye Ra.

 

Hye Joong hanya menganggukkan kepalanya.

 

“Hye Joong ah, berapa kali harus ku bilang, kau jangan terlalu dekat dengan adik tirimu itu. Kalau tidak……………….”

Belum sempat Hye Ra melanjutkan perkataannya, tiba – tiba ada suara memanggil Hye Joong.

 

“Hye Joong ah!” ucap seseorang.

 

“Hyung Joon ah!” ucap Hye Joong.

 

“Anyeong!! Mworagoyo?” Tanya Hye Ra.

 

“Hye Joong ah, nanti sore kau ada acara?” Tanya Hye Joong.

 

“A…ku…” belum sempat Hye Joong melanjutkan perkataannya, tiba – tiba saja Hye Ra menyerobot perkataan Hye Joong.

 

“Hari ini Hye Joong tak ada acara!” ucap Hye Ra.

 

“Benarkah itu?” tanya Hyung Joon pada Hye Joong untuk memastikan.

 

Hye Joong tak juga menjawab. Akhirnya Hye Ra menginjak kaki Hye Joong sebagai pertanda agar dia berkata ‘ya’.

 

“I….i..ya….. Aku tidak ada acara hari ini” jawab Hye Joong.

 

“Aku ingin mengajakmu jalan – jalan, apa kau bisa?” Tanya Hyung Joon.

 

“Tentu saja. Bukankah begitu Hye Joong?” ucap Hye Ra.

 

Hye Joong hanya meganggukkan kepalanya.

 

“Nanti sore jam 5 aku akan menjemputmu di rumah. Sampai bertemu nanti sore!” ucap Hyung Joon yang lantas meninggalkan mereka berdua.

 

“Hye Ra!!!!” ucap Hye Joong.

 

“Waeyo? Bukankah ini kesempatan emas untukmu? Kau bisa dekat dengan Hyung Joon. Pasti kalian berdua akan sangat romantis hari ini. Aku akan membantumu berdandan” ucap Hye Ra.

 

“Ini kan kencan pertamamu bersama dengan seorang pria, jadi kau harus tampil semaksimal mungkin!” ucap Hye Ra penuh antusias.

 

………………… ………. ……………

Sepulang sekolah, Hyun Joong langsung pergi bersama ketiga sahabatnya. Ia telah memberi tahu ibu dan Hye Joong jika ia akan pulang terlambat. Sementara Hye Joong pulang bersama Hye Ra.

Sesampainya di rumah ……………………

Hye Joong mengajak Hye Ra makan siang kemudian mereka masuk ke kamar Hye Joong.

Hye Ra melihat kamar Hye Joong penuh dengan foto – foto Hye Joong bersama ayah, ibu, teman – temannya, dan yang paling banyak adalah foto – foto Hye Joong bersama Hyun Joong. Tak hanya itu, barang – barang pemberian Hyun Joong pun masih tertata rapi dalam sebuah lemari kaca.

“Bagus kan, boneka itu?” Tanya Hye Joong yang sadar jika dari tadi Hye Ra memperhatikan boneka yang terbuat dari daun – daunan itu.

“Itu pemberian dari Hyun Joong ketika ulang tahunku ke 14. Dia yang membuatnya sendiri.” Ucap Hye Joong.

“Hye Joong……………………” ucap Hye Ra.

“Mworago? Wajahmu serius sekali…….” Ucap Hye Joong.

“Jujurlah padaku, apa kau menyukai Hyun Joong?” Tanya Hye Ra.

“K…..k….kau ini…… apa yang kau bicarakan? Itu sungguh tak masuk akal. Aku tidak mungkin menyukai adikku sendiri!” ucap Hye Joong.

“Hye Joong ah, aku mengenalmu dari kecil. Selama ini kau tidak pernah segembira itu ketika membicarakan seseorang, apalagi membicarakan seorang pria. Kau selalu tersenyum setiap kali di dekat Hyun Joong. Lagipula, Hyun Joong bukan adik kandungmu, jadi itu mungkin saja terjadi.” Ucap Hye Ra.

“Hye Joong, menurutmu aku nanti memakai pakaian seperti apa?” ucap Hye Joong sembari membuka – buka lemarinya.

“Setiap kali aku membicarakan masalah ini, kau selalu saja mengalihkan pembicaraan” ucap Hye Ra.

Di tempat lain ……………………

 

Hyun Joong, Young Saeng, Kyu Jong, dan Jung Min asyik bermain ice skating. Jika ada waktu senggang, pasti mereka menghabiskan waktu di tempat ice skating ini. Di antara semua, yang paling mahir bermain ice skating adalah Kyu Jong, dan yang paling payah adalah Hyun Joong. Oleh karena itu, Hyun Joong sangat tidak suka jika bermain ice skating ia ada di sebelah Kyu Jong. Saat sedang asyik – asyiknya bermain, Hyun Joong terjatuh dan tak sengaja mengenai seorang laki – laki.

 

“Kalau kau tidak bisa main ice skating, jangan datang ke sini!” ucap pria itu dengan marah – marah.

 

“Apa kau bilang?” ucap Hyun Joong dengan sedikit emosi.

 

“Sudah………….. sudah……………….. Hyun Joong kendalikan dirimu” ucap Kyu Jong menengahi.

 

“Maafkan temanku” ucap Kyu Jong pada pria itu.

 

“Kenapa kau harus minta maaf kepadanya?” ucap Hyun Joong tak terima.

 

“Jadi kau yang bernama Hyun Joong?” ucap pria itu.

 

“Waeyo?” Tanya Hyun Joong.

 

“Perkenalkan, namaku In Kyu, aku adalah sahabat dari Hyung Joon.” ucap pria yang ternyata bernama In Kyu itu.

 

Kemudian In Kyu melanjutkan ucapannya.

 

“Dasar anak kecil.” Ucap In Kyu sinis.

 

“Apa kau bilang tadi?” ucap Hyun Joong sembari mengepalkan tangannya.

 

“Kau tidak dengar? Aku bilang kau anak kecil!” ucap In Kyu.

 

“K…..kau…………………” Hyun Joong hendak memukul wajah In Kyu sebelum aksinya itu dicegah oleh Jung Min.

 

“Kau terus saja berlindung di bawah ketiak kakakmu. Kau tahu, kau itu menjadi beban bagi kakakmu. Kakakmu tidak bisa menjalankan hidupnya dengan nyaman karena harus mengurusi dirimu yang sangat egois itu. Kakakmu itu cantik, banyak pria yang menyukai kakakmu. Tapi kakakmu menolak semua pria yang mengutarakan perasaannya kepadamu, hanya karena ia ingin menjagamu. Apa kau tega membiarkannya terus – terusan sendiri tanpa didampingi seorang kekasih? Kau pikir, sebagai seorang wanita, ia tidak butuh kehadiran seorang pendamping hidup? Apa kau juga tidak memikirkan bagaimana masa depan kakakmu nanti, jika ia harus terus menerus menjagamu, dan tak kunjung juga mempunyai seorang pendamping hidup? Dan yang lebih menyedihkan lagi, kau sama sekali tak pernah merasa bersalah padanya, dan terus saja bergantung kepadanya.” Ucap In Kyu.

 

“Lalu apa urusanmu? Apa kau menyukai kakakku? Hingga kau membelanya seperti itu?” Tanya Hyun Joong.

 

“Hyung Joon sangat menyukai kakakmu, tapi kakakmu selalu saja menghindar darinya, alasannya karena ia ingin menjagamu dulu, ia tidak ingin kau merasa tersisihkan jika ada seorang pria di sisinya. Sebagai seorang sahabat, tentu saja aku menginginkan Hyung Joon bahagia. Karena itu, aku mengutarakan semua ini kepadamu. Agar kau sadar, tidak terlalu menggantungkan diri pada kakakmu, dan membiarkan kakakmu memilih jalan hidupnya sendiri tanpa harus kau bebani. Kau paham itu!” ucap In Kyu.

 

“Jika kau memang benar – benar menyayangi kakakmu, biarkanlah dia bahagia. Janganlah kau membebani hidupnya terus menerus. Camkan itu baik – baik!” ucap In Kyu yang lantas pergi meninggalkan Hyun Joong dan teman – temannya.

Sementara itu ……………………

 

“Ah…… tidak – tidak, kau terlihat seperti ibu – ibu yang akan melahirkan!” ucap Hye Ra kepada Hye Joong yang sedang memilih – milih pakaian mana yang akan dipakainya untuk pergi bersama Hyung Joon.

 

“Kalau ini?” Tanya Hye Joong.

 

Hye Ra menggelengkan kepalanya.

 

“Lantas aku harus memakai yang mana? Sudah lebih dari 30 menit aku memilih baju dan semua tidak ada yang cocok di matamu. Aku juga heran kepadamu, ini kan hanya jalan – jalan biasa, tapi kenapa dalam memilih pakaian saja harus susah – susah seperti ini!” ucap Hye Joong.

 

“Kau ini! Ini bukan jalan – jalan biasa. Ini adalah kencan pertamamu dengan seorang pria. Jadi kau tampil secantik mungkin!” ucap Hye Ra.

 

“Sebenarnya ini bukan kencan pertamaku bersama seorang pria” ucap Hye Joong pelan.

 

“Apa yang kau bilang tadi?” Tanya Hye Ra yang masih belum jelas mendengar perkataan Hye Joong.

 

“Ne? Ani…. ” jawab Hye Joong.

 

Setelah lebih dari satu jam untuk berdandan, akhirnya Hye Joong siap juga untuk pergi bersama Hyung Joon.

 

Hyung Joon telah menunggu di depan rumah Hye Joong dengan mobil sedan mewah berwarna merah mengkilap yang menjadi tunggangannya.

 

Hye Joong pun segera keluar menemui Hyung Joon. Hyung Joon lantas mengajak Hye Joong pergi, sebelumnya ia tak lupa minta izin kepada orang tua Hye Joong terlebih dahulu.

 

“Hari ini kau cantik sekali” puji Hyung Joon.

 

“Kau bisa saja” ucap Hye Joong dengan malu – malu.

 

“Ini hadiah yang kupersiapkan untuk tuan putri yang cantik. Terimalah tuan putri” ucap Hyung Joon sembari membawakan Hye Joong buket bunga mawar yang lumayan besar.

 

“Terima kasih. Kau tak perlu repot – repot memberikanku bunga” ucap Hye Joong.

 

“Untuk tuan putri tercinta, tak ada yang merepotkan bagiku!” ucap Hyung Joon.

 

“Mau sampai kapan kau menyanjungku seperti itu?” ucap Hye Joong.

 

“Baiklah tuan putri, silakan masuk ke dalam mobil” ucap Hyung Joon sembari membukakan pintu mobil.

 

………………. ………. ………………..

“Hyun Joong ah, kau tidak pulang?” Tanya Young Saeng.

“Aku malas pulang” jawab Hyun Joong.

“Janganlah kau terpengaruh dengan ucapan In Kyu tadi” ucap Jung Min.

“Tinggalkan aku sendiri!” ucap Hyun Joong.

“Hyun Joong ah” ucap Kyu Jong.

“Aku bilang tinggalkan aku sendiri!” ucap Hyun Joong.

Entah mengapa hari itu pikiran Hyun Joong menjadi kacau. Ia selalu saja teringat kata – kata In Kyu. Bahwa dia adalah beban bagi Hye Joong. Bahwa suatu saat Hye Joong bisa saja mengabaikannya karena ia memiliki seorang pendamping hidup. Bagaimana jika suatu saat Hye Joong meninggalkannya? Hyun Joong menjadi takut dengan pikirannya sendiri.

 

Di sisi lain ………………….

 

Kim Hyung Joon mengajak Hye Joong ke sebuah bioskop. 

 

“Tuan Putri, kau ingin menonton apa?”

 

“Berhentilah memanggilku tuan putri” ucap Hye Joong.

 

“Baiklah kalau itu yang kau mau.” Ucap Hyung Joon.

 

“Hye Joong ah, bagaimana jika kita menonton ini?” Tanya Hyung Joon sembari menunjuk ke salah satu film drama romantis.

 

“Kelihatannya bagus.”  ucap Hye Joong.

Setelah asyik menonton film, Hyung Joon mengajak Hye Joong untuk makan malam di sebuah rumah makan berdesign klasik bercat krem yang dari luarnya saja sudah kelihatan jika restoran ini restoran mahal.

“Kenapa kau mengajakku makan malam di sini?” tanya Hye Joong.

“Apa kau tidak suka?” Hyung Joon balik tanya.

“Bukannya aku tidak suka, tapi ini pertama kalinya aku diajak makan malam di tempat yang semewah ini, jadi aku agak grogi.” ucap Hye Joong dengan polosnya.

“Tenang saja, ada aku di sini. Jadi kamu tidak perlu grogi” ucap Hyung Joon.

Ketika membuka daftar menunya, Hye Joong sudah menggeleng – gelengkan kepalanya, dikarenakan semua makanan yang disajikan di restoran ini masakan dari Eropa, selain itu harganya cukup untuk jatah uang saku Hye Joong selama 3 minggu. Hye Joong akhirnya memilih spageti lada hitam sebagai makanannya, dan orange juice sebagai minumannya.

Ternyata tak usah menunggu terlalu lama, makanan yang mereka pesan telah siap.

“Bagaimana? Kau suka makanan di sini?” tanya Hyung Joon.

“Makanan di sini enak sekali, aku suka sekali!” ucap Hye Joong yang mulutnya masih sibuk untuk mengunyah spageti.

“Hye Joong ah, apa hari kau merasa senang pergi bersamaku?” tanya Hyung Joon.

Hye Joong yang masih sibuk mengunyah, lantas cepat – cepat mengunyah makanannya, lalu minum sedikit agar tidak tersedak.

“Tentu saja aku sangat senang, kau mengajakku menonton film, dan makan malam di tempat seindah dan semewah ini” ucap Hye Joong.

“Lain kali, kau mau kan aku ajak jalan – jalan lagi?” tanya Hyung Joon.

“Sekarang  jam berapa?” ucap Hye Joong untuk mengalihkan pembicaraan.

“Oh…. Sekarang  jam 9 kurang 15 menit”. jawab Hyung Joon.

“Apa tidak sebaiknya kita pulang? Aku takut kemalaman” ucap Hye Joong.

“Baiklah jika itu maumu”. Jawab Hyung Joon.

………………. ………. ………………..

Sekitar pukul 10 malam Hye Joong telah sampai di rumah. Saat hendak masuk ke kamar, ia melihat Hyun Joong sedang melamun di kamar.

“Apa yang sedang kau lamunkan?” tanya Hye Joong.

“Noona baru saja pergi dengan Hyung  Joon?”

“Iya. Aku baru saja pergi dengan Hyung Joon, tapi kami hanya nonton film dan makan malam.”

“Noona, apa selama ini aku menjadi beban bagi noona? Apa gara – gara aku sehingga sampai sekarang noona tidak pernah berniat mencari kekasih?”

“Kau ini bicara apa? Darimana kau mendapat pikiran seperti itu? Tentu saja kau bukanlah beban bagiku. Meskipun terkadang kau agak bandel, tapi aku tidak pernah merasa kau adalah beban bagiku. Mengapa sampai sekarang aku belum punya seorang kekasih, karena memang belum ada yang membuatku tertarik. Jadi mulai sekarang hilangkanlah pikiran jelek seperti itu, sampai kau berpikir seperti itu lagi, aku akan marah padamu. Arasseo?”

“Ara. Aku hanya takut jika itu semua benar. Ngomong – ngomong, bukankah Hyung Joon itu orangnya baik, tampan, dan kaya. Kenapa noona tak suka padanya?”

“Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa, tak lebih. Lagipula tiap kali bertemu dengannya, tak ada semacam getaran dalam hatiku.”

“Apa noona pernah mengalami semacam getaran dalam hati ketika bertemu dengan seorang pria?”

Tiba – tiba saja Hye Joong teringat kejadian saat Hyun Joong memegang tangannya. Mukanya pun berubah menjadi merah.

“Jadi noona pernah mengalaminya?”

“K….kenapa kau bisa bicara seperti itu?”

“Muka noona berubah menjadi merah. Pasti noona memikirkan pria yang bisa membuat hati noona bergetar, kan?”

“Sudahlah, sebaiknya kau cepat tidur. Ini sudah malam. Aku ngantuk, aku ke kamar dulu.”

“Kenapa noona menjadi salah tingkah seperti itu?” ucap Hyun Joong pelan.

Di kamar Hye Joong……………….

 

“Omona…. apa yang sedang aku pikirkan? Andwae…. andwae, aku tidak boleh berfikiran macam – macam.” ucap Hye Joong menenangkan dirinya sendiri.

 

“Mungkin aku sangat kelelahan hari ini sehingga pikiranku kemana – mana. Ya benar… aku hanya perlu beristirahat.” gumam Hye Joong.

 

Kemudian, ponsel Hye Joong berdering. Ada sebuah pesan singkat.

 

“Hyung Joon?” ucap Hye Joong kemudian membuka pesan singkat dari Hyung Joon.

Hye Joong ah, terima kasih telah menemaniku jalan – jalan hari ini. Naega neomu neomu joahae. Selamat tidur. Semoga mimpi indah.

 

Itulah bunyi pesan dari Hyung Joon.

Setelah mengganti bajunya, Hye Joong segera tidur dengan pulasnya.

………… …………. …………..