Citrus Tea…
Author: Thirteencatyas
Main cast:
– CNU (Shinwoo) of B1A4
– You as Jeon Haneul
Other cast:
– Jung Jinyoung and Gong Chansik of B1A4
Length: Oneshoot
Genre: Friendship, Love
Rate: SU

5 tahun yang lalu….

“Huhuhuhuhuhuhuhuhuhu……. Yaong-ah~ kenapa kamu harus ninggalin aku?? Huhuhuhuhu~~” aku tak bisa berhenti menangis saat mengubur kucing kesayanganku yang mati beku karena ditabrak oleh mobil tak bertanggung jawab di tengah hujan ini, aku tak peduli appa umma meneriakiku dari dalam rumah karena aku hujan-hujanan. Yang penting aku bersamanya di saat saat terakhir.
“Yak anak kecil…… kamu ngapain disitu gali-gali tanah?” tanya seseorang berpipi gembul memakai kacamata yang bentuknya agak mirip dengan borgol, dan….. yang jelas dia adalah namja. “Nanti kamu sakit loh hujan-hujanan seperti itu.”
Aku merasa terganggu sekali dengan kehadiran namja gembul itu, “Bukan urusanmu~!! Terus kamu sendiri ngapain disini? Mau ikutan gali tanah juga?”
“A…… anii.” Jawab namja yang tadi memanggilku anak kecil tadi, padahal dia hanya terlihat lebih tua 2 tahun dariku. “Habis kamu sendiri, jadi kupikir kamu mau bunuh diri. Aku mau menghentikanmu karena hidupmu kan masih panjang.”
Aku tak menghiraukannya dan terus menggali tanah, lalu memasukkan kucingku yang mati dan menguburnya, “Kau lihat kan? Ini kucingku, aku sangat menyayanginya dan tiba-tiba dia mati karena seseorang menabraknya dengan mobil. Mereka meninggalkannya di tengah jalan, kedinginan dan membeku. Uhuhhuhuhuhu~~~” curhatku. Belum selesai aku mengubur, tiba-tiba ada sesuatu menaungi kepalaku. Saat kulihat keatas….. ternyata ia memayungiku.
“Yasudah, sembari kamu mengubur… payung ini untukmu saja supaya kamu tidak sakit nanti.” Jawab namja itu, “Oh iya, ini ada segelas teh hangat untukmu. Kamu pasti akan menyukainya, coba saja.”
Ia menaruh payung itu di pundakku, dan menaruh gelasnya di sampingku. Aku benar benar tak memperhatikannya sampai selesai mengubur, dan ketika aku hendak mengembalikan payungnya…. Dia sudah tak ada disini.
“Yaaaaak, anak gembul~~ kau dimana?? Ini payungmu~ aku sudah selesai pakai!!” teriakku dalam hujan, tapi tak ada satupun yang datang mendekatiku. Tak ada satupun anak kecil yang berpipi tembem mendekatiku….
Aku masuk ke dalam rumah dan mengeringkan tubuhku. Setelah selesai mandi, aku membuka gelas yang katanya berisi teh itu dan………. Kurasakan asam manis saat mencicipi teh itu untuk pertama kalinya
Di depan gelasnya terdapat sebuah tulisan…

This life was like this tea, there’s a bittersweet on it. So cheer up and keep spirit ^^

Sejak hari itulah….. aku mencari namja yang kujuluki dengan “Citrus nam” itu…..

“Aigo Haneul-ah…….. kenapa tas dan benda benda di sekitarmu warnanya oranye semua?” tanya Gongchan, teman sekelasku. “Kamu suka warna oranye ya?”
Aku mengangguk dengan penuh antusias, “Nee… aku juga suka dengan warna kuning. Warna mereka sama dengan warna lemon dan jeruk yang terkadang asam terkadang manis, kamu tahu? Lemon enak sekali loh kalau dibuat bersama teh.”
“Nee nee…… arrayo. Soalnya kamu kan selalu bawa lemon tea kemana-mana, kadang-kadang citrus tea.” Jawab Gongchan dengan wajah lucunya, “Kamu mendapat inspirasi untuk buka toko yang jualan teh ya?”
Bukan seperti itu Gongchanie…… batinku, sebenarnya….. aku menyukai teh citrus karena si….. “Yah kamu boleh saja beranggapan begitu, nanti kalau aku jadi buka toko…. Kamu sering sering mampir ya bareng oppa-oppa yang tinggal di kost-kostan mu itu~”
“Ih kamu centil deh Haneul-ah…….. bilang aja kamu naksir sama Jinyoung hyung yang anak kuliahan itu, aku nggak salah kan?” goda Gongchan sambil mengedipkan matanya, “Tenang saja, aku pasti akan mengenalkanmu padanya. Aku kan dekat sama beliau~”
Wajahku memerah mendengar godaan Gongchan, “Apaan sih kamu? Aku kan cuma kagum, bukannya naksir~~ lagipula dia kan tampan, mana mungkin dia bisa suka sama aku. Dia terlalu ramah, pasti banyak yeoja kampus yang menyukainya.”
“Kenapa kamu negative thinking begitu? Kalau dekat sama dia juga tidak apa-apa kan? Jinyoung hyung itu selalu ramah kok sama siapa saja, sama orang tak dikenal juga bisa ramah.” Jelas Gongchan menggebu gebu, “Yasudah nanti kamu ke rumah aku saja ya? ada penghuni baru loh, orangnya tinggi dan senyumnya lucu~ kamu pasti akan langsung menyukainya.”
“Eh…. ke…. Kenapa aku tiba-tiba harus ke rumahmu? Ini kan masih hari sekolah, mana mungkin umma dan appa mengijinkanku keluar?” jawabku sambil termanyun manyun, “Lagipula….. aku tidak lihat si namja baru itu juga tidak apa-apa kok~ nanti aku dibilang yeoja centil lagi.”
Gongchan menggeleng dengan muka yang lucu, dan lagi-lagi ia menunjukkan aegyo nya. “Jebal Haneul-ah~~ mau yayaya??? Aku bosan nih dirumah, tidak ada yang menemaniku karena keluargaku sedang keluar kota. Gwenchana oke??”
“Uuuuuuh yaudah deh, nanti ya sehabis pelajaran olahraga.” Jawabku pasrah, “Tapi aku tidak bisa lama-lama, aku akan pulang jam 7 malam. Jangan memaksaku untuk tinggal lebih lama ya?”
Gongchan mengangguk angguk gembira dan berkata, “Call~~ yagsoke?”
“Neee yagsoke…” jawabku sambil mengaitkan jari kelingkingku ke jarinya. Sebenarnya aku malas kerumahnya karena ada Jinyoung oppa yang selalu membuatku salah tingkah dengan senyum dan suaranya, tapi berhubung rumah Gongchan agak jauh dari tempat kost-kostan itu… aku temani saja deh.

“Selamat datang Chansik-ah…. Eo? Siapa yeoja ini?”
OMG, aku benar-benar mati sekarang, aku tak menyangka Jinyoung oppa berada di rumah Gongchan bersama dengan oppa-oppa lain. Sial, baru datang saja sudah dibuat salah tingkah ><
“Ah… ini temanku Jeon Haneul, hyung ingat kan? Yang suka bikin teh itu loh~” jawab Gongchan, “Tapi kalau mau kenalan lagi juga nggak apa-apa hehehehe~”
Andawaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaae~!!!! Gong Chansik, dia mempermainkan aku ya?!?!?!?!
“Annyeonghaseo~” jawab Jinyoung oppa sambil menunjukkan eye smile nya, “Sepertinya kamu sudah berteman baik dengan Chansik ya? kalian baru satu tahun berteman kan?”
Oh, dia tidak minta jabat tangan? Fiuuuuuh syukurlah~ “Nee oppa, tapi ia begitu senang mengajakku kerumah. Maaf kalau mengganggu kenyamananmu.”
“Aniiya… jangan bilang seperti itu.” Kata Jinyoung oppa yang begitu ramah, “Ini kan rumahnya Chansik, jadi tamunya dia adalah tamu kami juga.”
Aku tertegun sembari menelan ludah, hemh sepertinya aku kehabisan kata-kata~
“Hyung datang kesini sendirian?” tanya Gongchan setelah ia selesai mengganti bajunya, “Biasanya bersama Baro dan Sandeul hyung kan?”
“Aku tadi bawa penghuni baru kita, oh itu dia…” Jinyoung mengarahkan dagunya ke seseorang yang baru keluar dari kamar mandi. Dan…… sekejap namja itu membuatku termagu. Kacamata lebar, mata sipit……. Kenapa rasanya aku familiar dengan wajah ini?
“Ah hyung, ternyata kamu datang~ Haneul-ah….. ini penghuni kost-kostan baruku. Namanya Shin Dongwoo hyung.” Ujar Gongchan mengenalkanku dengan namja berambut seleher ini.
“Eo…. Annyeonghaseo….. Shinwoo ibnida. Aku penghuni baru disini.” Sapanya dengan ramah, “Kamu…. Pacarnya Gongchan ya?”
Aku menggeleng geleng sambil tertawa, “Biarpun kami lahir dengan jarak berbeda satu hari, tapi aku tidak tertarik dengan anak ini. Habis dia manja sih hehehehe~”
“Haneul-ah~~~~ kenapa kamu bilang aku manja?? Aku kan namja, tidak mungkin manja dooooong~” jawab Gongchan dengan suara lucunya, menyebabkan kedua oppa itu tertawa. “Ah, Haneul kan sukanya sama namja yang seperti Jin……”
“Mworagoooooooooooooooooooooooooooooo?? Aku tak bisa mendengarmu Gong Chansik~~” aku segera menutup mulutnya sembari menggelitiki badannya yang kurus. “Ah Choisonghabnida, Gongchan suka jahil sih sama aku. Jadi aku tidak tahan untuk menggelitikinya.”
Mereka berdua hanya tersenyum, tapi…. Senyuman Shinwoo oppa sepertinya terlihat familiar bagiku, “Kalian baru berteman selama setahun ya? tapi kalian sudah akrab sekali ya?”
Aku termagu mendengar suara namja ini, apa aku benar-benar pernah bertemu dengannya? “Em…. Choisonghabnida, tapi…… apa kita pernah bertemu sebelumnya oppa?”
“Em…. Pernah bertemukah? Sepertinya belum pernah…” jawab Shinwoo oppa dengan wajah yang kebingungan, “Mungkin kamu salah orang~ aku ini pindahan dari desa, Haneul-ah. Jadi mana mungkin kamu bertemu denganku sebelumnya?”
Tapi….. kenapa suara dan wajahnya seperti, namja yang kucari-cari selama ini? Kenapa ia mirip dengan “Citrus nam”?
“Emmmm gwenchana?” tanya Shinwoo oppa, “Mungkin kita bisa saling mengenal satu sama lain nanti~ kamu juga bisa menunjukkan Seoul padaku karena aku kurang hapal jalan-jalan disini. Bagaimana?”
Aku masih termagu melihat Shinwoo oppa. Orang ini, memang terasa begitu dekat di dalam hatiku, tapi…. Juga terasa jauh karena ia tidak merasa mengenalku sebelumnya.
“Eh….. kamu kok ninggalin Jinyoung hyung sendirian sih?” tanya Gongchan iseng, “Sudah kuduga, kamu pasti suka sama Shinwoo hyung, aku tak salah kan? Aku akan menjodohkan kalian suatu saat nanti hehehehe~~”
Karena agak bosan mendengar Gongchan yang selalu meledekku, akhirnya aku mengalihkan pembicaraan, “Eh Gongchanie… bukannya kita ada PR ya? bagaimana kalau kita kerjakan?”
“Oh kamu benar juga, yasudah ayo kita…….” Gongchan berbicara panjang lebar, tapi aku tak bisa mendengarnya karena…. Pandanganku tak bisa lepas dari Shinwoo oppa. Dia terlihat manis dengan kacamata lebar dan gigi kelincinya, ia terlihat lucu kalau sedang mengobrol dengan Jinyoung oppa.
Tiba-tiba tanganku ditarik oleh Gongchan, “Eh, yak yak~!! Kita mau kemana, kok tiba-tiba narik tanganku sih?”
“Katanya kita mau mengerjakan PR, kamu sendiri yang mengajak. Kok malah tanya balik?” tanya Gongchan dengan ekspresi bingung, “Kamu ini kenapa sih Haneul-ah….. memperhatikan Shinwoo hyung terus sih~”

Dear Juicy….

Citrus nam……. Sebenarnya kamu dimana sih? Payung dan gelas milikmu sudah kujaga selama 5 tahun, aku selalu membuat lemon tea dengan gelas ini demi mengingatmu yang dulu menolongku dengan memo itu. Kamu yang membuatku bangkit dari kesedihan, karena hidup memang penuh dengan asam manis…. Seperti teh citrus yang kau berikan padaku….

Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Citrus nam. Tapi namja itu tidak terlalu chubby dan ia pendiam, biarpun begitu… dia ramah sekali. Dia mengalihkan perhatianku dari Jinyoung oppa heheheh ^^ suaranya terdengar familiar, tapi ia bilang ia belum pernah bertemu denganku sebelumnya

Ya Tuhan…. Tolong beri aku petunjuk apakah dia adalah Citrus nam yang selama ini kucari-cari?

Aku menulisi diaryku sampai tiba-tiba umma masuk ke kamarku, “Haneul-sshi…. ada seseorang yang ingin bertemu denganmu tuh, penampilannya sangat unik. Dia siapamu?”
Huh, nugu? “Aku tidak tahu, orangnya pendek atau tinggi? Kalau pendek pasti itu Gongchan.” Jawabku sambil menutup buku diary dan menyimpannya.
“Kalau Gongchan umma pasti tahu, aku kan kenal dengannya.” Jawab umma sambil melambai-lambai ke arahku, “Sudahlah… temui saja dulu, aku yakin kau pasti kenal dia.”
Aku keluar dari kamar dan melihat….. Shinwoo oppa yang duduk manis di ruang tamu, “Eo, oppa? Kok bisa tahu rumahku disini?”
“Ah annyeonghaseo Haneul-ah.” Sapa oppa sambil tersenyum, “Aku tidak mengganggumu kan? Aku tadi sedang jalan-jalan dan aku ingat kalau waktu itu Gongchan bilang ini adalah rumahmu. Hari ini aku berniat mengajakmu jalan-jalan, bolehkah?”
Lagi-lagi aku termagu…. Diam diam begitu, sekali bicara Shinwoo oppa bisa memborong kata ya? “Emmmm aku tidak ada acara kok hari ini, boleh-boleh saja. oh iya aku bikinkan teh dulu ya, oppa pasti capek.”
Aku kabur sebentar ke dapur dan segera kembali untuk menyajikan teh buatanku, “Kalau masalah teh disini aku jagonya oppa, silahkan dicoba.”
Ia mengangguk dan mulai menyeruput teh yang aku sajikan, “Mmmmmmmm ada rasa asam manisnya, bukan teh biasa ya?”
“Nee, ini namanya lemon tea. Enak tidak?” ujarku menjelaskan, “Biasa para tamu yang datang kesini selalu aku sajikan lemon tea dingin maupun hangat. Aku senang sekali membuat teh yang berbau citrus.”
Shinwoo oppa mengerjapkan matanya berkali-kali, “geuraeyo? Rasanya enak ya~ sama seperti buatan ummaku. Aku suka sekali lemon tea buatan beliau.”
Aku termagu mendengar perkataannya, jangan jangan dia-lah Citrus nam? “Oppa….. apa kamu tidak ingat? Bukankah…… kamu yang memberikanku gelas dan payung ini?” aku segera bergegas mengambil dan menunjukkannya pada beliau, “Ini milikmu kan? Kamu anak laki-laki yang menemaniku menggali kuburan kucingku yang mati di hari hujan kan?”
Shinwoo oppa terlihat bingung dengan penyataanku yang bertubi-tubi, “Choisonghabnida… tapi aku benar-benar tidak ingat. Lagipula aku tidak pernah ke Seoul waktu aku masih kecil, sumpah aku tak berbohong.”
“Tapi….. coba lah menulis sesuatu di kertas ini.” Aku menyodorkan kertas ke hadapannya dan menunggu dengan cemas. Aku harap Shinwoo oppa-lah Citrus nam, karena intuisiku terhadapnya sangat kuat.
Setelah ia selesai menulis, aku langsung membandingkannya. “Oppa….. tulisanmu sama dengan tulisan ini. Jinjjaeyo~~~ apa kamu benar-benar tidak ingat?” aku bertanya lagi dengan jantung yang berdebar debar. Jebal, semoga Shinwoo oppa mengingatnya~~~
Dan lagi-lagi…. Ia menggeleng, “Mian, aku tak bisa mengingatnya. Kepalaku jadi sakit~”
“Ah gwenchana oppa. Jangan dipaksakan.” Ujarku dengan mata yang berkaca-kaca, padahal sedikit lagi aku hampir menggapai bayangan sang Citrus nam…. Tapi ternyata orang yang kuduga itu bukanlah orang yang kutunggu dan kuharapkan selama ini. “Jadi… kita jalan-jalan kemana hari ini?”

Sepanjang perjalanan, aku termagu terus-terusan. Bagaimana bisa aku lupa dengan kacamata uniknya yang seperti borgol itu? Tapi kenapa ia bisa lupa, ah… mengecewakan.
“Ha… Haneul-ah… gwenchanasimika?” tanya Shinwoo oppa, “Mianhae kalau aku mengecewakanmu. Apa yang terjadi antara anak laki-laki yang memberikanmu teh itu?”
Aku menggigit jariku berusaha melupakan kejadian di rumah tadi, “Nee…..5 tahun yang lalu, aku sedang bersedih sambil mengubur kucing kesayanganku yang tertabrak mobil saat hujan sedang deras-derasnya. Tiba-tiba ia muncul dan menggangguku dengan pertanyaan anehnya, aku tak menjawabnya karena aku sedang sibuk mengubur. Namun tiba-tiba ia memberikanku segelas teh dengan memo ini bersama dengan sebuah payung.”
“This life was like this tea, there’s a bittersweet on it. So cheer up and keep spirit.” Shinwoo oppa membaca memo yang tadi kubandingkan dengan tulisannya tadi, “Oh iya, kamu sudah tanya ke siapa saja?”
“Aku tanya beberapa tetangga, dan mereka bilang anak itu pindah. Aku dapat alamatnya, tapi aku belum pernah kesana karena tidak ada yang menemani.” Jelasku gamang, “Aku….. aku menyukai namja itu oppa, aku ingin bertemu dengannya dan berterima kasih karena dia telah membangkitkan semangat hidupku setelah kucingku mati.”
Oppa mengambil alamatnya dan………… ia tertegun setelah itu. “Sepertinya aku tahu alamat ini. Bagaimana kalau kita kesana bersama? Aku akan menemanimu sampai pulang ok?”
Aku mengangguk tanpa suara, aku benar-benar kehilangan semangat sekarang. Sampai tiba-tiba Shinwoo oppa mengaitkan lengannya di pundakku, “Cheer up Haneul-ah… kita sudah selangkah lagi menuju namja yang kau sukai itu~”
Tuh kan…. Perasaan dekat ini datang lagi, apa ada yang salah dengan intuisi yang selalu benar ini?

“Umma…. Aku pulang.” Ucap Shinwoo oppa yang membuatku agak terkejut. Jadi, ini adalah rumahnya? Lalu… kenapa ia tidak ingat sama sekali?
“Dongwoo-ya~ kenapa tiba-tiba pulang, apa kamu tidak betah di Seoul? Oh siapa yeoja ini?” tanya ummanya oppa. Aku segera memperkenalkan diriku dengan sopan dan kami dipersilahkan masuk ke rumah. Aku kemudian menceritakan kegundahan hatiku kepada omonim dan…… wajah omonim berubah setelah melihat memo yang kutunjukkan padanya.
“Haneul-sshi…… ini adalah slogan untuk toko teh ku yang sudah bangkrut di Seoul.” Jawab omoni, “Kami pernah tinggal di Seoul, aku dan Dongwoo. Tapi sejak toko kami bangkrut, kami pindah. Dan ketika dalam perjalanan menuju kesini….. bus nya mengalami kecelakaan dan Dongwoo mengalami hilang ingatan.”
Tak ada yang bisa kulakukan selain menutup mulutku dengan pandangan yang kosong dan pikiran yang termagu, pantas saja Shinwoo oppa tidak ingat. Dia hilang ingatan dan semua kenangan masa lalunya hilang begitu saja.
“Kenapa umma tidak bilang padaku sebelumnya?” ucap Shinwoo oppa dengan bingung sekaligus kesal, “Tidak ada yang disembunyikan dariku kan?”
Omoni menggeleng, “Eobsseoyo nak, buat apa apa umma mu ini menyembunyikan sesuatu dari anaknya? Kupikir….. tidak ada yang terjadi dengan kenangan masa kecilmu. Jadi aku tidak membawamu ke dokter untuk mengajakmu terapi dan memulihkan ingatanmu. Jeongmal mianhaeyo Dongwoo-ya.”
“Gwenchana omoni. Jadi, ternyata memang benar-benar kamu ya……. tapi karena semuanya hilang, jadi…. Kamu tidak ingat apa-apa.” Jawabku sambil tersenyum perih, ingin sekali aku menangis… tapi aku tak sanggup karena melihat wajah Shinwoo oppa yang begitu kebingungan.

“Apa aku yang waktu itu bertemu denganmu….. mempunyai sikap yang penuh rasa ingin tahu?” tanya Shinwoo oppa setelah kami pulang dari rumahnya dan duduk duduk sebentar di dekat sungai Han yang sudah mulai ramai karena menjelang senja. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Tapi oppa aneh, masak karena aku menggali kuburan saja dibilang mau bunuh diri. Waktu itu oppa begitu gembul dan sipit seperti boboho~” jelasku sambil tertawa kecil, lalu mendesah berusaha melepaskan kegundahan hatiku yang selama ini kupendam tanpa ada yang tahu.
“Kamu….. suka warna oranye dan kuning karena…. Teh citrus itukah?” tanya Shinwoo oppa lagi, ya tuhan sepertinya dia penasaran sekali. Padahal aku sudah tak ingin mengingatnya lagi, malah aku ingin membuang kenangan itu.
Aku mengangguk, “Bahkan aku menamaimu Citrus nam. Citrus namja maksudnya,” jelasku. “Habisnya itu satu-satunya cara untuk selalu mengingat kebaikanmu….. waktu itu.”
“Kamu suka sekali ya sama citrus nam itu?” tanya oppa lagi. Air mataku mengambang, bisakah ia menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku sensitive ini? Toh aku tak yakin ia bisa mengingatnya lagi. Dan lagi-lagi aku mengangguk sambil menghapus air mata di balik rambutku yang terurai ke depan, ah… betapa cengengnya aku.
Tiba-tiba Shinwoo oppa mengalungkan lengannya lagi di leherku, “Apa kamu masih menyukai citrus nam….. meskipun ia sudah berubah menjadi sosok lain yang tak pernah mengingatmu?”
“Eo? Wae geurae~~” jawabku sambil memencet mencet hidung yang mampet karena menahan air mata, “Tentu saja, 5 tahun itu bukan waktu yang cepat untukku. Kenangan itu terlalu manis sekaligus pahit tau? Seperti Citrus tea…..”
Dalam sekejap, Shinwoo oppa memeluk pundakku dari belakang dan berkata, “Mulai sekarang kamu tidak boleh naksir sama Jinyoung lagi ya? kalau Gongchan menjodohkanmu lagi dengan Jinyoung, aku akan menggelitikinya sampai dia mengompol~”
Wajahku merona mendapat perlakuan seperti itu darinya, “Yagsoke? Kalau oppa membuatku menangis atau sedih lagi….. aku akan mendekati Jinyoung oppa apapun caranya, adil kan?”
Ia memperlihatkan senyumnya sembari mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku, lalu menepuk nepuk kepalaku sembari masih memeluk dari belakang,
“OK Girl, Yagsoke~”