Title    : [HeeSeira Couple] Married by Accident

Author : Seichiko a.k.a Dhitia

Length : Continue

Genre  : Romance, Comedy (?), Sad

Cast     :

Kim Heechul

Kim Seira

Park Jino

Super Junior

Other Cast

Annyeong readers… author mau sedikit curhat nih. Ada yang nanya, kok HeeSeira itu pendek banget? Iya, soalnya author nggak bisa buat FF yang panjang. Terus ada lagi yang bilang, kapan HeeSeira bisa romantis? Author juga nggak bisa buat FF yang romantis. Nah, karena author penasaran, jadilah author mau buat FF yang (agak) panjang+romantis. Satu lagi, FF ini aku buat karna sedih tiap inget Teuki & Chulppa yang bentar lagi mau wamil (T__T). Yang mau kenalan sama author boleh kok @dhiniandworld *PD banget nih author #plak*. Okay, langsung aja lah author beri. Happy reading allJ

Recommed song: SHINee – Quasimodo, Super Junior – Memories

Super Junior – My Love, My Kiss, My Heart (*I love this song)

*****

“Bagaimana penampilan Donghae oppa di album terbaru Super Junior?”

Gadis bernama Kim Seira ini benar-benar cari masalah rupanya. Untuk apa ia menanyakan penampilan namja lain pada kekasihnya sendiri. Ingin sekali Heechul menelan Seira saat itu juga.

“Oppa, aku ingin tahu bagaimana penampilan Lee Donghae…” rengek Seira dengan suara kencang dan puppy eyes andalannya. Safety belt yang dikenakannya sampai tertarik karena posisi duduk Seira yang mendekat kearah Heechul.

Plak!

Satu pukulan mendarat telak dikepala Seira.

“Yaa! Kim Heechul, kepalaku bisa amnesia karena sering kau pukul! Dasar namja aneh yang menyebalkan!” Seira balas mengomel pada Heechul. Seira mulai melepas genggamannya pada jaket Heechul dan duduk menjauh.

“Kau itu yang menyebalkan! Harusnya kau bertanya bagaimana penampilanku di album terbaru, bukan penampilan Donghae.”

Seira menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. “Habis, aku itu kan seorang Fishes sejati. Aku bukan seorang Petals oppa. Lagipula…” Seira menghentikan kalimatnya.

“Mwo?” tanya Heechul galak.

Seira mengigit bibir bawahnya. “Oppa itu selalu berpenampilan aneh setiap mengeluarkan album baru. Kau mengecat rambut saat di Bonamana, lalu nanti mau berubah seperti apa lagi? Aissh jinjja, awas saja jika penampilan oppa aneh. Aku bersumpah tidak mau melihatmu lagi.”

Heechul mengerem mobilnya mendadak hingga kepala Seira terbentur kaca mobil.

“Yaa! Appo!” Seira mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut akibat perbuatan Heechul.

Heechul terdiam, berpikir tentang hal yang baru saja Seira katakan. Masalahnya adalah, penampilan Heechul nanti memang aneh. Heechul akui itu. Dan Heechul tidak berani mengatakannya pada Seira. Ia takut Seira menjalankan ancamannya.

“Oppa itu bisa menyetir atau tidak? Kalau tidak katakan saja, biar aku yang ganti menyetir!” Seira semakin memanyunkan bibirnya.

Heechul tersenyum mendengar ocehan Seira. “Memang kau bisa menyetir?”

“Tidak.”

“Kalau begitu berhenti bersikap sok dihadapanku, ara?”

“Arasseo…”

Heechul melirik Seira dengan ujung matanya. Gadis itu masih marah rupanya. wajahnya merah padam, dengan bibir yang tertutup rapat tidak mau bicara sedikitpun.

“Kau marah?” tanya Heechul lembut.

Seira membalas dengan gelengan kepala.

“Jika tidak mau berbicara, itu tandanya kau sedang marah. Sei-ya, kau marah karena kau memukul kepalamu?”

Seira menatap Heechul tajam. “Bukan hanya karena pukulan dikepala, tapi karena oppa sangat cemburu padaku.”

“Jelas saja aku cemburu. Kau itu lebih mengidolakan orang lain dibanding diriku. Apa pernah kau menanyakan seperti apa penampilanku? Atau apa saja jadwalku? Tidak pernah kan?”

Seira terdiam. Seira gadis yang dingin, itulah image Seira yang melekat didalam benak Heechul selama ini. Tapi apa Heechul tahu? Bahwa dibalik sikap Seira yang dingin, ia adalah gadis yang cukup perhatian. Seira selalu meluangkan waktu untuk menanyakan kabar Heechul meski dirinya sendiri sedang sibuk. Jika Heechul tidak memberi kabar, maka Seira akan bergabung dengan jutaan Petals lainnya dalam fan café, dan menanyakan apa saja kegiatan Heechul kepada para Stalker.

Apa yang dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan. Seira tidak pernah jujur pada Heechul, kaena Seira takut suatu saat nanti dirinya yang akan patah hati jika menaruh harapan besar pada Heechul.

“Sei-ya…” panggil Heechul, dan menyadarkan Seira dari lamunannya.

“Ne.”

“Kau tahu, aku ingin menelan makhluk bernama Choi Minho.”

“Ne???” Seira tidak mengerti dengan kalimat Heechul.

“Minho selalu menanyakan kabarmu setiap waktu. Aissh jinjja, kurangi sedikit pesonamu itu, Nona Kim Seira!”

“Choi Minho? Omo, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Oppa, bagaimana kabar Minho? Apa ia masih babo seperti waktu di Paris?”

“Kau perhatian sekali padanya. Bagusss…”

“Ayolah oppa, kau itu salah jika cemburu pada Minho. Kau tahu kan jika aku tidak suka namja yang lebih muda dariku?”

“Lalu bagaimana dengan Shim Changmin?”

“Kenapa kau mengalihkan pembicaraan pada Changmin. Jangan menambah daftar kepusinganku oppa!”

“Karena Changmin juga menanyakanmu,” balas Heechul cepat. “Lalu apa kau menyukainya? Ia itu lebih dewasa darimu bukan?”

“Dibanding Changmin, aku lebih suka pada Kyu. Suaranya itu sangaaattt bagus. Changmin kalah jika dibandingkan dengannya,” jawab Seira polos.

“Kim Seira… apa Donghae belum cukup? Sekarang kau mau menjadi sparKYU rupanya!” sindir Heechul sinis.

“Ide bagus. Sepertinya menjadi sparKYU juga menyenangkan. Donghae dan Kyu oppa memang memiliki fans paling banyak di Super Junior,” ujar Seira asal tanpa fakta yang jelas. Sesungguhnya Seira tidak tahu sama sekali siapa diantara member SuJu yang memiliki fans terbanyak.

“Kim Seira… tidak bisakah kau berhenti membuatku kesal. Aku bisa semakin tua jika berhadapan denganmu. Kau itu sangat senang membuatku cemburu rupanya…”

Oh nan, geu nuga nuga mworaedo naneun sangwan odgado

Geu nuga nuga yokhaedo nomanbarabun dago

Na dashi taeor nande do ojik noppunirago… shigani heullodo

Terlambat! Semua perkataan Heechul tidak ada yang masuk ke telinga Seira. Karena Seira sudah menyumpal telinganya rapat-rapat dan dengan kencang menyanyikan It’s You, lagu Super Junior yang paling Seira suka.

Liriknya yang dalam, dan penampilan para member yang sederhana selalu membuat Seira jatuh cinta pada MV It’s You. apalagi dulu masih ada Hangeng dan Kangin oppa yang belum ikut Wamil.

Terlebih penampilan Heechul saat itu masih muda dan belum aneh. Seira kembali menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. Andai Heechul oppa tidak pernah berubah dan selalu sama…

*****

…Super Junior’s Dorm, 11th floor…

“Hyung, tidak bisakah kau mengganti penampilanku? Jangan aneh seperti itu hyungggg,” rengek Heechul pada Manajer Hwang, manajer Super Junior yang paling senior.

“Tidak bisa, semuanya sudah kita putuskan. Bukankah kemarin kau sudah setuju?”

“Memang, tapi hari ini aku berubah pikiran. Jika penampilanku aneh, Seira tidak mau melihatku lagi.” Heechul mulai lemas dan menggigit ujung bantal yang sejak tadi ia rangkul.

Kyuhyun yang baru muncul ikut duduk disebelah Heechul. “Ckckck, terimalah nasibmu Heechulie,” ledek Kyuhyun. Tapi Kyuhyun ikut melemas di detik berikutnya. “Fiuhhh, aku juga harus mengecat rambut dan berpose sok seksi pula. Ternyata nasib kita hanya beda tipis hyung.”

“Aku suka konsep baru kita,” ujar Donghae yang sejak tadi sibuk menonton tv.

“Itu karena sejak dulu kau memang bercita-cita mengecat rambut kan. Sudahlah mengaku saja,” jawab Ryeowook ringan.

“Kenapa hanya aku yang tidak jauh berbeda? Aku juga ingin berubah. Paling tidak sebelum Wamil aku ingin memberikan penampilan terbaru,” keluh Leeteuk dari ujung ruangan. Semua member yang sedang ada di dorm menoleh, lalu membuang muka dengan kompak.

“Ah, Teuki hyung hanya akting.”

“Iya benar.”

“Kemarin saja ia bersorak senang karena penampilannya yang tidak jauh berbeda.”

“Lebih baik aku bertukar posisi dengan Leeteuk,” usul Heechul pada dirinya sendiri.

“Baiklah, aku akan mengeluarkan pose seksiku pada MV terbaru kita,” ujar Donghae sambil mengusap ujung bibirnya, seolah sedang berada didalam video.

“Dongsaeng, kelak aku akan sedikit sibuk. Jadi aku tidak bisa terlalu sering bermain denganmu…” Yesung mengusap kura-kuranya yang sudah ia anggap seperti adik.

“Wookie-ya, kenapa masakanmu sedikit asin? Kau ingin menikah ya?” tanya Shindong yang kini sedang menenggak air satu botol langsung.

“Ani, hyung. Aku tidak berani melangkahimu”

“Donghae-ya, ayo kita buat EunHae berjaya kembali… penampilan kita jauh lebih keren dibanding KyuMin,” tawar Eunhyuk pada Donghae.

“KyuMin pasti menang, kau tidak lihat jika maknae kita nanti akan berubah dewasa dan seksi. Kalian akan kalah dari kami,” balas Sungmin yang baru muncul dari kamar.

“Berisik!!!” jerit Heechul tiba-tiba. “Yaa! Tidak bisakah kalian berempati sedikit padaku?!”

Semua member kompak menggeleng.

Heechul kembali membanting tubuhnya pada sofa. Sial, tidak ada yang mau peduli pada nasib hubungannya dan Seira. Tunggu, dulu Seira pernah bilang jika ia sangat suka penampilan Heechul dalam MV It’s You. Bagaimana jika Heechul merengek pada manajer Hwang agar penampilannya berubah seperti dulu.

“Hyung, bagaimana jika aku berpenampilan aegyo seperti dalam MV It’s You? Seira bilang ia sangat suka penampilanku disitu,” Heechul masih mengeluarkan rayuan mautnya pada manajer Hwang.

“Andwae! Kau tahu kan jika Super Junior harus merubah image menjadi namja dewasa penguasa Hallyu.”

“Benar hyung, kau itu sangat tidak sadar umur. Kau itu sudah lebih dari dewasa, jadi bergayalah sesuai dengan usiamu,” jelas Ryeowook sambil memasukkan potongan popcorn kedalam mulutnya.

Heechul segera merebut popocorn yang ada di tangan Ryeowook. Dengan sekali gerakan tangan Heechul memasukkan satu genggam popcorn kedalam mulut Ryeowook, menyumpalnya rapat-rapat agar tidak mengganggu aksi tawar menawar yang sedang Heechul lakukan.

“Hyunggg, kwau swungguh twegha pwadhakuuw…” suara Ryeowook tidak terdengar jelas karena mulutnya yang masih tersumpal.

“Jika masih menganggu, aku bersumpah akan menyumpal mulutmu dengan sepatuku, ara?” desis Heechul dengan tatapan tajam.

Ryeowook menggeleng dan mengunci mulutnya rapat-rapat. “Arasseo, aku tidak akan menganggumu lagi hyung. Jinjja!”

*****

…Seira’s House, 07.00 PM…

“Hemn… masakan eomma sangat harum,” puji Seira sambil berjalan turun dari atas tangga. Sup iga, ayam pangang dan kimchi yang sedang eomma buat sangat harum dan menggugah selera.

“Kau sudah turun rupanya,” eomma menoleh sebentar, lalu melanjutkan kembali masakannya.

Seira memeluk tangan kiri eommanya dari belakang, rasanya Seira sudah lama sekali tidak memeluk eommanya seperti ini. Skripsi dan segala urusan telah merubah Seira menjadi gadis yang lebih mandiri, yang sedikit melupakan rasa manjanya pada eomma.

“Aigooo, anak ini. Eomma sedang memasak, apa kau mau eomma masak bersama iga ini? Hehehe…” eomma terkekeh pelan.

“Mana mungkin eomma tega memasak anakmu yang cantik ini,” ujar Seira narsis.

Eomma menutup masakan yang sudah matang itu, dan menjawil hidung Seira yang mancung. “Ne, putri eomma memang cantik. Jika bukan eomma yang memuji, lalu siapa lagi yang akan memujimu?”

Seira berfikir sejenak, lalu menggigit ujung bibir bawahnya. “Heechul oppa sering memujiku. Ia bilang aku itu cantik,” Seira menunduk dan besusaha menahan malu.

“Aigoo… dongsaengku yang satu ini sedang jatuh cinta rupanya…” ucap satu suara kencang yang kini berdiri di depan ruang makan.

Seira menoleh kearah sumber suara itu, dan mendapati satu sosok namja yang sangat ia ridukan. Yang sudah dua tahun ini tidak bertemu dengannya.

“KANGIN OPPA!” jerit Seira saat menyadari siapa yang baru saja menggodanya. Seira segera berlari dan merangkul tangan Kangin dengan erat.

“Yaa! Aku bisa kehabisan nafas jika kau merangkulku seperti ini,” ledek Kangin.

“Biar saja oppa kehabisan oksigen. Siapa suruh oppa jahat padaku!” Seira melepas rangkulannya dan berdiri dengan wajah angkuh miliknya.

“Memang kejahatan apa yang sudah kulakukan?”

“Oppa tidak menemuiku saat kembali dari wajib militer! Apa oppa tahu jika aku sangat merindukanmu?”

Kangin mengacak rambut Seira gemas. Sepupunya yang satu ini memang sangat manis, pantas saja Heechul jatuh cinta setengah hidup padanya. “Aigoo… Seira-ya, kau itu sudah besar tetapi masih manja seperti ini. Bagaimana bisa aku melepaskanmu pada namja lain.”

“Kangin-ah, bogoshipo…” eomma memeluk Kangin dan mengusap punggung Kangin dengan lembut. “Aigoo, uri Kangin sudah menjadi namja dewasa rupanya.”

“Ahjumma, aku juga sangat merindukanmu. Aku sangat rindu pada kimchi buatan ahjumma.”

Mata eomma membulat gemas. “Mwoya? Jadi kau hanya merindukan masakanku, nakal!” eomma menarik telinga Kangin gemas.

Seira tersenyum melihat tingkah eommanya dan Kangin. Entahlah, waktu terasa cepat sekali berlalu. Seingat Seira, baru kemarin dirinya menangis kencang saat melepas Kangin untuk wajib militer. Dan kini Kangin sudah kembali, dua tahun kemudian. Selama ini, ada banyak perubahan pada diri Seira. Semuanya… namun ada beberapa hal yang tetap sama. Bahwa sampai kapanpun, Seira akan menyayangi Kangin melebihi rasa sayangnya pada Heechul.

“Oppa, bagaimana hubunganmu dengan Narae eonnie?” tanya Seira sambil mengunyah potongan cake cokelat yang Kangin bawa.

“Sudah berakhir. Apa aku belum bercerita padamu?”

Seira yang tadinya berdiri dipinggir kolam ikan, kini ikut duduk disebelah Kangin yang menghadap kearah taman.

“Oppa jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda,” Kangin menggelengkan kepalanya. “Dua tahun yang lalu, saat aku baru masuk wajib militer.”

“Jheongmal? Aissh jinjja, kenapa Narae eonnie tidak pernah cerita padaku.”

“Itu karena Narae tidak mau membuatmu sedih.” Kangin menjawil hidung Seira gemas.

“Oppa, hubunganmu dan Narae eonnie sudah berjalan dua tahun. Apa tidak sayang melepaskannya begitu saja?” tanya Seira dengan tatapan polos.

Kangin menarik nafas jengah. “Seira-ya… kadang ada sesuatu yang harus kita lepaskan, suka atau tidak suka. Aku dan Narae berpisah karena jarak diatara kami terlalu jauh. Dua tahun memang bukan waktu yang singkat bukan?”

“Dua tahun ya…” Seira seakan teringat sesuatu. Bahwa sebentar lagi, dirinya dan Heechul oppa juga akan melewati jarak itu. Dua tahun…

“Harusnya aku cerita padamu sebelum masuk wajib militer.”

“Oppa, apa dua tahun itu terasa sangat lama? Apa jarak yang membetang sangat besar?” mata Seira menatap pohon apel yang terlihat seperti siluet.

Awalnya Kangin tidak mengerti dengan maksud kalimat Seira. Setelah dipikir ulang, Kangin baru mengerti. Sebentar lagi, Heechul itu akan mengikuti wajib militer. Pasti Seira sangat mengkhawatirkan hal itu. Kangin memang tidak terlalu tahu seberapa jauh hubungan HeeSeira, namun dari informasi yang didapat dari para member, Heechul dan Seira itu saling menyayangi. Meski terkadang lebih banyak keanehan yang mengitari hubungan mereka.

“Jangan khawatir, Heechul hyung itu tidak akan berselingkuh,” Kangin mengusap rambut Seira.

“Mwo? Aku tidak mengkhawatirkan Heechul oppa! Aku tidak peduli padanya!” Seira memalingkan wajahnya yang terasa panas.

“Apa kau tahu, disana tidak ada yeoja cantik. Disana hanya ada ahjumma tua yang sudah berumur. Aku yakin jika hyung akan tetap setia padamu.”

“Yaa! Oppa, aku sudah bilang jika aku tidak peduli pada Heechul oppa.” Seira memukul bahu Kangin dengan kencang.

“Ara, aku hanya menjelaskan bagaimana kondisi disana.”

“Kangin oppa menyebalkan!”

“Dongsaeng-ya, jangan berubah pada Heechul hyung hanya karena kalian akan berpisah.”

“Mollayo. Mungkin aku akan mencari namja yang lebih baik daripada Heechul oppa.”

“Ne?”

Seira memicingkan matanya yang bulat pada Kangin. “Ne, aku akan mencari namja yang seribu kali lebih tampan daripada Heechul oppa. Yang baik dan tidak temperamen, yang bisa bersikap romantis, yang tidak pernah memakai pakaian wanita super aneh, yang tidak mudah menangis hanya karena ditelepon oleh Sohee, yang tidak pernah memukul kepalaku, yang tidak akan meninggalkanku hanya karena bertemu dengan Yoona (baca HeeSeira Couple: Lost In Paris), yang tidak cemburu hanya karena aku mengidolakan Donghae oppa… yang pasti namja itu akan seribu, ah ani… tapi sejutaaa kali lebih baik daripada KIM HEECHUL.”

Kangin tertawa lebar mendengar perkataan Seira. Apa itu adalah kalimat orang yang tidak peduli? Lihatlah seberapa besar perhatian Seira pada Heechul.

“Seira-ya, aku menyerah. Kau menang! Aku tidak akan mengatakan jika kau peduli pada Heechul hyung lagi,” Kangin mengunci mulutnya dengan satu tangan.

Seira tersenyum senang, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu lebar milik Kangin.

Perlahan tangan Kangin mengusap rambut panjang Seira. Gadis ini sudah dewasa rupanya. Ya, waktu memang dapat merubah segala sesuatu…

“Oppa, aku tidak menyukai Kim Heechul. Tidak akan pernah suka…” ujar Seira lirih dengan mata menerawang.

“Arasseo.”

*****

…SME, 08.00 AM…

“ANDWAE!!!” jeritan Heechul memenuhi ruang ganti yang kini disulap sebagai barber shop oleh para hair stylist.

“Hyung jangan membuatku pusing!” balas Ryeowook yang posisi duduknya paling dekat dengan Heechul.

“Wookie-ya, rambutku!” Heechul memandang potongan rambut barunya yang sangat aneh.

“Iya, rambutmu memang sangat aneh hyung.” Kyuhyun mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha menilai rambut Heechul se-obyektif mungkin.

“Aissh jinjja, Seira pasti tidak mau menemuiku.”

“Kalau begitu aku saja yang menemuinya, bagaimana hyung?” tanya Siwon yang sedang menunggu cat rambutnya mengering.

“Tuan Choi Siwon, kau minta kuhajar rupanya!”

“Hyung, Seira suka atau tidak ya dengan penampilan baruku?” tanya Donghae tapa menoleh kearah Heechul. Yang sedang Donghae lakukan adalah menatap cermin sambil merapikan ujung rambutnya.

“Memang apa pedulimu?” tanya Heechul sinis.

“Seira itu kan Fishes sejati, jadi aku harus memperhatikan pendapatnya.”

“Kalau Seira tidak suka bagaimana?”

Donghae berhenti sejenak, dan menatap Heechul dengan pandangan lemas. “Hyung, jangan menkutiku seperti itu.”

“Masih banyak Fishes diluar sana yang sangat mengidolakanmu, jadi jangan terlalu mempedulikan gadis bernama Kim Seira. Arasseo?”

“Ah, kau cemburu ya hyung. Ayolah… kau tahu persis kan seperti apa batas hubunganku dengan Seira.”

“Ne, aku tahu. Tapi tetap saja, aku tidak dapat membiarkan kalian berdua saling mengidolakan seperti ini,” desis Heechul tajam.

“Hyung berlebihan!”

Heechul menatap bayangannya dicermin. Besok Super Junior akan syuting MV Mr. Simple. Dan hari ini mereka semua telah berubah menjadi image yang sudah SM siapkan untuk album terbaru mereka. Sejujurnya Heechul suka potongan rambutnya yang dibuat ikal dan belah tengah. Potongan rambut seperti ini sangat sering muncul di komik Jepang. Hanya saja, ancaman Seira selalu memenuhi otak Heechul. Membuatnya berfikir ulang jika ingin berpenampilan aneh.

*****

…Seoul University…

Seira mengunyah permen karet berkali-kali. Sudah dua bungkus ia habiskan, mulut Seira sampai perih dibuatnya. Dan sampai detik ini, dua makhluk yang ia tunggu belum juga muncul.

“Seira-ya…” sapa seorang gadis yang tidak sengaja lewat dihadapan Seira.

“Mwo? Hyorin-ah, sedang apa kau disini?” tanya Seira bingung saat mendapati sahabat sekolahnya muncul di Seoul University.

“Aku ingin bertemu dengan sepupuku. Aissh, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini.”

“Hyorin-ah, bogoshipo…” Seira merangkul tangan kanan Hyorin. Rasanya rindu, mereka sudah lama tidak bertemu.

“Aigoo, anak ini. Yaa! Kau itu sudah lulus kuliah, jadi jangan bersikap manja seperti itu.”

“Hyorin-ah, kita sudah lama tidak bermain bersama bukan? Ayo kita jalan-jalan. Karena kau sudah bekerja, jadi kau harus membelikanku ice cream. Ayolah…” tagih Seira pada Hyorin.

Seira yang tadi merasa kesal karena mengunggu Jino dan Kimmi, kini malah melupakan mereka berdua. Hyorin sahabatnya ini bekerja disebuah stasiun TV sebagai reporter, tidak banyak waktu yang bisa mereka habiskan meski untuk berjalan-jalan sebentar. Jadi Seira harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.

“Kajja…” Seira menarik tangan Hyorin dengan paksa. “Yaa! Park Hyorin, berhenti memasang wajah terpaksa seperti itu.” Seira menekuk wajahnya karena ulah Hyorin.

“Aissh jinjja, kau tidak pernah berubah Kim Seira. Selaluuu, saja memaksakan kehendakmu pada orang lain. Untung saja hari ini aku sedang libur,” keluh Hyorin.

Seira menoleh kebelakang, dan tersenyum lebar. “Hyorin-ah, jangan mengeluh seperti itu. Kelak suatu saat nanti, mungkin aku tidak akan menganggumu. Jadi nikmatilah saat-saat menyebalkan seperti ini.”

Degh! Jantung Hyorin berdetak lebih cepat. Rasanya ada sesuatu yang aneh didalam dadanya. Sesuatu yang membuatnya sedih…

Seira menghentikan langkahnya ketika mereka sampai didepan gedung SkyHigh diwilayah Gwangjin. Seira menatap gedung itu lama, sepasang mata bulatnya tidak berkedip dan itu membuat rasa penasaran pada diri Hyorin.

“Seira-ya, gwaenchana?” Hyorin menepuk bahu Seira pelan.

“Itu…”

“Mwoya?” mata Hyorin ikut menatap gedung itu lama. Dan kenangan satu tahun lalu berputar dikepalanya.

“Aku pernah bersumpah akan menggantungmu dihalaman kampus jika aku gagal bertemu Donghae oppa,” ujar Seira pelan.

Seira menoleh dan tertawa kencang, Hyorin juga ikut tertawa. Ya, Hyorin ingat kejadian itu. Hari dimana mereka berdua datang ke acara fan meeting Super Junior. Saat itu Hyorin datang terlambat. Dan dengan wajah angkuh miliknya, Seira menarik tangan Hyorin agar mereka bedua tidak terlambat. (baca: [HeeSeira Couple] Because My Boyfriend is You, Kim Heechul!)

“Waktu cepat sekali berlalu. Aku masih ingat bagaimana Heechul oppa muncul dihadapanmu dengan wajahnya yang menyeramkan. Aigoo, saat itu aku berpikir jika ia akan memukulmu.”

“Heechul oppa ya?” Seira mengangguk mendengar kalimat Hyorin. Tidak ada yang tahu kejadian apa yang menimpa Seira setelah hari itu, termasuk Hyorin. Hanya Seira, Super Junior dan Manajer Hwan yang menjadi saksi pernyataan cinta yang Heechul katakan pada Seira keesokan harinya. Sapai detik ini pun, Hyorin dan Kimmi tidak tahu tentang hubungannya dengan Heechul. Hanya Jino sahabatnya yang tahu seperti apa hubungan Seira-Heechul.

“Seira-ya, aku harap kau tidak berjodoh dengan namja yang menyeramkan seperti Heechul oppa.”

“Ne, aku juga tidak suka namja yang menyeramkan seperti Heechul oppa, tidak akan pernah suka.”

Hroyin menepuk pundak Seira, dan merangkul tubuh mungil Seira yang sudah ia anggap seperti dongsaeng. “Sudahlah, ayo kita cari ice cream.”

“Okay!” Seira membulatkan tangannya tanda setuju. Sebelum berbelok, Seira sempat melihat gedung itu lagi. Andai Seira tahu jika waktu cepat berlalu, maka ia akan menyimpan semuanya dan menikmati saat-saat dulu.

*****

…Gwangjin Park…

Sepuluh menit kemudian Seira dan Hyorin sampai di taman, dan segera membeli ice cream rasa cokelat kesukaan Seira. Seira memandang suasana sore disekitar taman. Jika datang sore hari seperti ini, pemandangannya lebih indah. Sangat berbeda dengan malam hari.

“Aku sering datang ke taman ini,” ucap Seira tiba-tiba.

“Ne, tentu saja. Kau itu masih punya banyak waktu. Tidak sepertiku yang selalu pulang malam.

“Tapi aku tidak pernah datang kesini sore hari. Ada seseorang yang selalu membuatku pergi ke taman pada malam hari.”

Mata Hyorin menatap bingung. Pasti yang Seira maksud adalah kekasihnya, dan mungkin ia adalah orang yang sibuk sehingga tidak punya banyak waktu. “Kekasihmu? Ia pasti sangat sibuk, jadi tidak bisa mengajakmu ke taman pada sore hari.”

Seira menggelengkan kepalanya. “Ani, hubunganku dengannya memang seperti itu. Aneh… dan kadang disembunyikan.”

Hyorin tahu jika Seira sedang sedih, jadi ia hanya diam dan sesekali menepuk bahu Seira.

Seira tidak pernah meminta sesuatu yang lebih dalam hubungannya dengan Heechul. Karena Seira tahu, sampai kapanpun hubungan mereka akan menjadi sebuah rahasia. Pernah terlintas diotak Seira untuk meninggalkan Heechul dan mencari namja lain yang bisa membanggakan Seira didepan umum. Namun… ketika ia mengingat satu tahun hubungannya, dan rasa suka yang mulai menghantuinya, detik itu juga Seira akan menyerah. Ia tidak bisa meninggalkan Heechul.

“Hyorin-ah, jika dalam waktu dua tahun berpisah dengan seseorang, apa kau akan melupakannya?” tanya Seira dengan wajah polos.

“Memang kekasihmu ingin pergi kemana, Nona Kim?” Hyorin balik bertanya pada Seira.

“Aku hanya bertanya.”

Hyorin menghembuskan nafasnya pelan. Sahabatnya ini memang sangat polos. Jika dimata orang lain Seira itu gadis yang angkuh dan dewasa, maka penilain itu salah besar. Seira adalah gadis yang sangat polos. Kadang Seira akan merasa kesal sendiri jika berhadapan dengan hal-hal yang rumit.

“Seira-ya, tidak semua yang dikatakan akan sama dengan kenyataan. Yang terpenting itu hati. Bisa saja kau berkata melupakan orang itu, tapi hatimu? Jika hatimu selalu mengingatnya, maka dua atau tujuh tahun tidak akan jadi masalah.”

Seira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aissh jinjja, hentikan teori babomu itu! Aku pusing mendengarnya!” Seira menjitak kepala Hyorin.

“Yaa! Berhenti menindasku Kim Seira!”

*****

…Tomorrow, 07.00 AM…

Handphone yang ada diatas meja Heechul berbunyi. Ini masih pagi, dan Heechul masih mengantuk. Jadi ia biarkan saja handphone itu terus menyanyikan lagu Memories. Setelah beberapa kali berbunyi, Heechul berniat untuk melempar benda yang sangat berisik itu. Namun detik berikutnya Heechul baru tersadar satu hal. Lagu Memories adalah nada yang ia pilih khusus untuk Seira, jadi…

My Seira, calling…

“Yobosaeyo…” jawab Heechul dengan mata yang kini terbuka lebar.

“IRONA!!!”

Heechul menjauhkan handphonenya ketika Seira berteriak kencang. Gadisnya itu pasti sangat marah.

“Mianhae, Sei-ya…”

“Yaa! Oppa babo, sudah tahu jika tidur seperti orang pingsan, jadi jangan silent handphonemu itu!”

“Tidak aku silent.”

“Kalau begitu kenapa tidak diangkat sejak tadi?!” omel Seira.

“Aku mengganti nadanya dengan lagu Memories. Jadi tidak terlalu terdengar jika ada panggilan masuk.”

“Memories? Ah, lagu baru Super Junior itu ya oppa?”

“Ne.”

“Oppa, aku ingin mendengarnya. Ayo nyanyikan lagu itu untukku,” rengekan Seira terdengar semakin kencang.

“Shireo! Aku belum gosok gigi, jadi tidak bisa bernyanyi dengan baik,” alasan Heechul terdengar sangat babo.

“Oppa babo! Kita itu tidak bertemu secara langsung, hanya lewat telepon, jadi kau tidak perlu narsis seperti itu.”

“Nona Kim, jadi kau menelepon hanya untuk mengajakku bertengkar ya?”

Seira terdiam, dan berhenti merengek. “Kalau oppa tidak mau bernyanyi ya sudah. Aku tidak akan meminta oppa untuk bernyanyi lagi. Aku tahu, suara oppa itu hanya untuk ELF dan bukan untukku.”

“Sei-ya, jangan membuatku terpojok seperti itu.”

“Aku tutup saja ya oppa teleponnya, aku tidak jadi bicara denganmu!” Seira segera mematikan teleponnya dengan kasar.

“Yaa! Kim Seira!” panggil Heechul, namun hanya dijawab oleh bunyi tuuttt yang bertanda Seira telah mematikan teleponnya.

Aneh, Heechul merasa ada yang aneh pada diri Seira. Tidak biasanya gadis itu mengganggu Heechul pagi hari. Terlebih meminta Heechul untuk menyanyikan sebuah lagu. Heechul memandang wajah Seira dalam foto, gadisnya yang paling Heechul sayangi, ah aniii… tapi yang paling Heechul cintai didunia ini.

*****

…Incheon, 06.30 PM…

Seira duduk disebuah halte yang agak usang. Hari ini Seira harus mengambil undangan wisudanya didaerah Incheon. Seira menunggu bus seorang diri. Tanpa Heechul, Jino atau Kimmi yang menemaninya.

“Sendiri…” ujar Seira. Matanya menerawang menatap jalan raya dihadapannya. Rasanya aneh, udara terasa dingin, dan Seira sangat benci suasana seperti ini.

Seira mengambil handphone, dan menekan tombol calling.

“Sei-ya…”

“Heechul oppa, kau sedang apa?” tanya Seira basa basi.

“Melihat hasil syuting kemarin. Memang kenapa? Ada masalah?” tanya Heechul lembut.

Seira menggelengkan kepalanya. “Ani, aku hanya ingin bertanya saja.”

“Jinjjayo?”

“Oppa, apa kau bisa menjemputku? Sudah satu jam aku menunggu bus dihalte Incheon. Tapi tidak juga muncul. Oppa, aku sendiri dihalte ini,” jelas Seira dengan mata berair.

“Baiklah, aku akan segera dat…” Heechul menghentikan kalimatnya. Heechul sungguh ingin berkata bahwa ia akan segera datang dan menjemput Seira. Tapi semua kalimatnya itu tertelan lagi, ketika Heechul menyadari potongan rambutnya yang sangat aneh. Seira pasti membenci Heechul yang berpenampilan aneh seperti ini.

“Oppa, kau masih hidup kan?” suara Seira memecahkan lamunan Heechul.

“Sei-ya, mianhae. Sesungguhnya aku sangat ingin menjemputmu. Tapi tugasku masih banyak. Bagaimana jika aku menyuruh Jino yang menjemputmu?” Akhirnya Heechul yang menawarkan Jino pada Seira. Pertama kalinya Heechul mengizinkan Seira bersama Jino secara terang-terangan.

“Ah, begitu ya. Kalau masalah Jino, aku bisa meneleponnya sendiri. Oppa tidak perlu khawatir, lanjutkan saja pekerjaanmu. Annyeong…”

Heechul menatap handphonenya, dan mengucapkan sesuatu yang nyaris membuat matanya perih. “Sei-ya, mianhae. Jheongmal mianhaeyo…”

Seira menutup mulutnya rapat-rapat menahan udara dingin. Sekarang bukan musim dingin, namun udara disini sangat aneh. Seira kembali menekan tombol calling.

“Yobosaeyo,” sapa satu suara diseberang.

“Jino-ya…”

“Mwo?”

“Jino-ya, bisa tidak menjemputku dihalte bus. Aku seorang diri, dan bus yang aku tunggu tidak juga muncul.”

“Jadi kau belum pulang? Aigoo, Seira-ya kau itu sudah pergi sejak tadi siang. Seharusnya kau langsung pulang setelah mendapat undangan itu,” omel Jino sebagai bentuk kekhawatirannya.

“Tadi aku harus antri dengan yang lain. Lagipula busnya belum muncul, padahal aku sudah menunggu selama satu jam.”

Jino menarik nafas lemas. Ia sangat ingin menjemput Seira, namun ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. “Seira-ya, mianhae. Tapi aku sedang ada urusan penting menyangkut pekerjaan. Bagaimana jika kau pulang naik taksi.”

“Taksi ya?” Seira terlihat malas mendengar kata taksi. Ia sangat tidak suka berada didalam satu mobil dengan ahjussi yang ia tidak kenal. Seira takut diculik.

“Waeyo? Kau takut?”

“Ne, aku takut.”

“Kalau begitu minta Heechul menjemputmu saja.”

“Tidak bisa, Heechul oppa sedang sibuk. Sebentar lagi MV Super Junior akan rilis. Aku tidak ingin menganggunya.”

Jino merasa kasihan mendengar perkataan Seira. Betapa besar pengorbanan yang Seira berikan untuk namja menyebalkan bernama Kim Heechul.

Jino mulai terlihat gusar dan berkali-kali melihat jam tangannya. Saat ini Jino sedang didaerah Busan, dan itu jelas sangat jauh dari Incheon. “Begini saja, kau naik taksi. Dan aku akan menemanimu lewat telepon. Aku berjanji tidak akan mematikannya hingga kau sampai rumah.”

“Baiklah…”

Seira mematikan handphonenya, dan beberapa detik kemudian nama Jino muncul. Seira segera mengangkat telepon sesuai dengan janjinya tadi.

“Apa busnya sudah muncul?” tanya Jino dengan nada lembut.

“Belum, dan aku sudah bosan menunggu.”

“Kalau begitu naik taksi saja. Kalau ada apa-apa kau bisa berteriak kan?”

“Fiuuhhh,” Seira menghela nafas. “Ne, aku akan pulang naik taksi.”

Seira menghentikan sebuah taksi yang melintas dihadapannya. Tidak ada yang aneh pada taksi itu. Awalnya…

“Seira-ya, memang kapan kau akan wisuda?” tanya Jino, barusaha mencari topik yang tepat. Bisa saja Jino bertanya tentang kekasihnya, namun mulut Jino tidak akan pernah rela menanyakannya.

“Bulan depan.”

“Apa kita akan wisuda bersama?”

“Molla. Kau saja tidak mau menemaniku mengambil undangan. Aku tidak ingin wisuda denganmu. Kau penghianat, Park Jino-ssi!”

“Kekeke, jangan marah lagi. Biarpun aku tidak mengantarmu, tapi aku tetap menemanimu kan? Ya, meski hanya lewat telepon. Paling tidak aku jauh lebih setia dibandingkan ahjussi itu.”

“Ne, Heechul oppa selalu sibuk. Tidak punya banyak waktu untuk menemaniku.” Ada yang mengalir hangat dipipi Seira, dan itu membuat suaranya bergetar.

Jino menyadari suara Seira yang bergetar. “Seira-ya, uljima…”

Seira mengusap ujung matanya yang terasa buram. “Jino-ya, apa lebih baik jika aku menghilang dari hidup Heechul oppa? Aku rasa dengan atau tanpa aku, hidup Heechul oppa akan baik-baik saja.”

“Jangan berkata seperti itu! Jika kau tidak ada, maka akan banyak orang yang kelihangan nafas. Kau, selalu seperti udara…” Jino menyandarkan kepalanya pada jendela, dan menatap jalan yang dipenuhi lampu berwarna-warni.

“Mungkin bagimu iya, karena kau adalah sahabatku sejak dulu. Tapi dimata Heechul oppa? Aku tidak tahu seperti apa aku dimatanya.”

“Apa dimatamu aku hanya seorang sahabat?”

“Kau…” Seira menghentikan kalimatnya ketika mendengar satu suara aneh dari arah depan.

“Hikkkk…”

Seira menatap ahjussi yang sedang menyetir dan menghentikan pembicaraannya dengan Jino. Seiar menatap tajam ahjussi yang sedang menyetir, bau alkohol menyeruak dan membuat Seira merasa mual.

“Ahjussi, apa kau mabuk?” tanya Sera sesopan mungkin.

Ahjussi itu menengok dan memperlihatkan matanya yang memerah. “Ani, aku tidak mabuk. Aku hanya, hikkkk… sedikit pusing. Nona, aku tidak mabuk. Mulutku tidak bau alkohol. Jinjja!” ahjussi itu memasang tanda peace pada tangannya, dan membuat stir terlepas hingga mobil menjadi oleng.

“Ahjussi, aku ingin turun disini saja.”

“Hikkk, aku sudah bilang jika aku tidak mabuk. Jadi diamlah dan jangan berisik nona!”

Tangan Seira bergetar. Ingin sekali Seira membuka pintu dan loncat dari mobil. Tapi ia tahu jika itu bukan pilihan yang tepat.

“Nona, mataku kenapa buram ya?” tanya ahjussi itu dengan suara nyaring.

Seira memeluk tas ranselnya dengan kencang. Seira sangat takut, ia tahu jika menghadapi orang mabuk itu sama seperti menghadapi orang gila.

“Seira-ya…” suara Jino kembali terdengar. Seira tersadar kembali mendekatkan handphonenya ke telinga.

“Ne.”

“Gwaenchana?”

Seira senang ada yang perhatian padanya. Disaat takut seperti ini, kehadiran Jino benar-benar membantu. Meskipun Seira tidak mungkin cerita tentang keadaannya saat ini. Seira takut jika Jino khawatir dan berlari dari Busan untuknya.

“Ne, nan gwaenchana.”

“Jheongmal?”

“Ne. Jino-ya, gomawoyo…”

Alis Jino terpaut. “Untuk apa?”

“Kau selalu ada disaat aku sedang kesepian. Kau memang sahabat terbaik. Gomawo, gomawo, jheongmal gomawoyo…” Seira tersenyum, dan meletakkan handphonenya kedalam tas.

“Seira-ya…” suara Jino dan terakhir tidak terdengar lagi.

Seira memandang jalan gelap dihadapannya dengan nanar, sampai suatu cahaya terang diikuti bunyi kencang terasa menghantam tubuhnya.

Seira tersenyum, entah kenapa terasa sangat tenang. Tidak ada lagi yang melintas diotak seira. Semuanya terasa sama. Cahaya menyilaukan… terang… dan setelahnya semua terlihat gelap…

*****

…Incheon, 08.20 PM…

“Untuk apa kita pergi kesini? Memangnya ada kejadian apa?” Hyorin berusaha merapatkan jaketnya. Suasana di Incheon sangat dingin, dan tiba-tiba produsernya mengatakan jika Hyorin harus pergi ke Incheon.

“Molla, kita telusuri jalannya saja,” ujar Jongwoo sang kameramen yang sedang fokus menyusuri jalanan.

Didepan jalanan sana terlihat ramai. Tangan Hyorin bergetar ketika membuka pintu mobil. Perasaan takut itu muncul lagi.

Jongwoo segera menyadarkan Hyorin, dan menarik tangan Hyorin hingga menepi. Jongwoo mendekat kearah polisi, dan mewawancarai polisi itu dengan cepat. Setelah mendapat data, Jongwoo menyuruh Hyorin untuk bersiap. Ia sudah menyalakan kamera.

Hana, dul, set…

Jongwoo mulai menghitung dan Hyorin segera membacakan berita yang tadi sudah Jongwoo tulis. Hyorin benci kondisi seperti ini, karena mereka harus menyiarkan berita ini secara LIVE. Berita tentang sebuah kecelakaan.

Pukul delapan malam tadi, terjadi kecelakaan diwilayah Incheon.

Menurut petugas, kecelakaan terjadi karena pengemudi taksi sedang dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri.

Kejadian ini memakan dua korban. Yaitu Tuan Park Soo Kim selaku pengemudi taksi, dan seorang mahasiswi dari Universitas Negeri bernama… Kim Seira.

Tepat setelah membacakan kalimat terakhir, air mata Hyorin mengalir dan diikuti teriakan keras. Jongwoo segera mematikan kameranya begitu tahu reaksi Hyorin.

“Seira-ya…” jerit Hyorin kencang. Nafasnya memburu, dan ia segera berlari menghampiri satu tubuh yang berada ditengah-tengah mobil. Hyorin berlari menyeruak sekumpulan petugas, dengan wajah pucat Hyorin ikut tertunduk didepan sosok Seira yang sudah tidak sadarkan diri.

“Seira-ya, ironaaaa…” Hyorin menepuk ppi Seira lembut, namun Seira tidak bergeming. Wajahnya pucat, dan ada luka memar disekitar pipinya.

Petugas segera memberikan oksigen pada hidung Seira, berharap bahwa Seira masih bisa diselamatkan. Dengan mata memerah Hyorin mengikuti petugas yang membawa Seira pergi.

“Nona, kau tidak boleh ikut,” tegur salah seorang petugas yang mencegah Hyorin untuk masuk kedalam ambulance.

Jongwoo yang paham langsung bicara pada petugas. “Mianhae, tapi nona ini adalah sahabatnya. Tugas wawancara kami sudah selesai. Temanku Hyorin akan mengikuti kalian sebagai keluarga dari korban tersebut, bukan sebagai wartawan.”

Dengan berat hati, petugas mengizinkan Hyorin untuk menemani Seira.

“Jongwoo-ya, gomawoyo…” kata Hyorin dengan suara parau.

“Jaga temanmu itu baik-baik, jangan tinggalkan dia.”

Hyorin mengangguk, dan pintu ambulance segera ditutup. Hyorin menatap tubuh kaku dihadapannya. Rasanya baru kemarin ia melihat sahabatnya itu tertawa lepas, seolah tidak ada beban. Dan kini, semuanya terasa berputar…

 

Hyorin-ah, bogoshipo

 

Hyorin-ah, kita sudah lama tidak bermain bersama bukan? Ayo kita jalan-jalan. Karena kau sudah bekerja, jadi kau harus membelikanku ice cream. Ayolah…

 

Hyorin-ah, jangan mengeluh seperti itu. Kelak suatu saat nanti, mungkin aku tidak akan menganggumu. Jadi nikmatilah saat-saat menyebalkan seperti ini.

 

“Seira-ya, na do… bogoshipoyo. Jadi jangan pernah meninggalkanku, jebal…” Hyorin memeluk tubuh Seira. Tubuh yang biasanya hangat, bibir yang selalu tersenyum lembut, suara yang terdengar riang, kini menghilang…