Annyeong!

kali ini untuk pertama kalinya saya bikin FF Super Junior, yeeyy! *ngadain upacara pecah telor*

kenapa eh kenapa kok aku bikin FF ini? karena eh karena, ini FF rekues dari @trililiii untuk ultah sang suami tercintaahh. rekuesnya udah lama siihh. dan janji adalah hutang. dan pemalak hutang nya ini nakutin.
apa daya…

Tri, ini udah saya bikinin yaaa… 😀

happy enjoyin~!

______________________________________________________________________

Title       : Precious Time for Yesungie

Length  : Oneshot

Genre   : Romantic, Friendship

Cast       : Kim Hae Ra (OC), Choi Eun Kyo (OC), Kim Jong Woon (Yesung Super Junior), Leeteuk, Ryeowook, Kyuhyun (Super Junior)

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE! NO OTHER AUTHORS! PLEASE DON’T COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM AND HOTLINK!
DON’T PLAGIARIZE!

KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS HERE PLEASE!

***

You must know, how I always think about you every time. I want to meet you…

 

Super Junior’s Dorm, Aug 24th 2011, 08.00 am…

Yesung POV

Ping! Ping!

Suara penanda ada tweet masuk di iPhone-ku berdering nyaring sejak tengah malam tadi, seolah tak memberiku izin untuk istirahat barang sejenak. Setengah sadar jemariku meraba-raba setiap jengkal kasurku, mencoba menemukan ponselku yang masih terus ‘bernyanyi’. Dengan malas aku membuka setiap mention dan direct message yang masuk ke twitterku.

@shfly3424 saengil chukkaeyo oppa! Wish you all the best this year ❤ ❤

Happy birthday @shfly3424 oppa! ❤ u 😀

Ah iya, aku bertambah tua hari ini. Aku bahkan tidak menyadarinya hingga para ELF seluruh dunia menjadikan hari spesial ini menjadi trending topic worldwide.

How sweet of them… Saranghae, uri ELF…

Aku mencoba bangun dari posisi tidurku dan menggerakkan sedikit anggota badanku. Sedikit rasa nyeri karena lelah masih betah bertahan di tubuhku. Untung saja aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Keadaan dimana aku bekerja terlalu keras dan akhirnya tubuhku yang sudah seok ini yang mendapat konsekuensinya.

Tapi hari ini memang spesial untukku. Bukan, bukan karena aku berulang tahun. Iya, walau ulang tahun memang spesial, tapi menurutku, hari ini ada sesuatu yang jauh lebih spesial. Kim Hae Ra, yeoja-chingu ku yang bekerja di Indonesia akan—

…it’s fine even if my heart’s hurts. yes because i’m just in love with you~~…

Kedua sudut bibirku terangkat seketika. Nada dering khusus untuk seseorang yang juga khusus itu berdering diantara suara-suara penanda-penanda lain. Sepersekian detik kemudian, tanganku refleks sudah menggerakkan tombol virtual berwarna hijau di sana. “Yoboseyo?”

“Oppa? Kamu sudah bangun?”

“Nee.” Suara ini selalu berhasil membuncahkan rindu, walau sekian tahun kami berhubungan. Jarak dan keterbatasan ruang diantara kami menjadikanku semakin menyayangi sosok istimewa ini. Terlebih dengan pengertian berlebih tentang konsekuensi yang dijalaninya denganku. Memikirkan hal-hal yang telah dilakukan gadis di seberang telepon ini, benar-benar membuatku merasa beruntung memilikinya. Setengah merajuk aku melanjutkan, “Hae Ra-ya, bogoshippeo…”

Tawa renyah menggema kemudian, menanggapi kalimat pendek yang telah terucap dari bibirku, “Na ddo bogoshippeo-yo oppa.”

“Jagi, kamu jadi pulang kan hari ini?”

“Euhmm… oppa…” nada suara Hae Ra melemah dan terdengar ragu, seakan ada sesuatu yang berusaha dia sembunyikan. Firasatku mengatakan ini bukan hal yang baik.

“Wae?”

“Oppa, jeongmal mianhaeyo…”

“Nde?”

“Aku sepertinya tidak jadi pulang, oppa… mianhae…”

Kedua bola mataku membulat seketika. Suaraku langsung naik beberapa oktaf penuh keterkejutan. “NDE?!! Tidak jadi pulang?! Apa maksudmu?!”

Nada suara Hae Ra kini terdengar mencicit dan ketakutan karena suaraku yang mulai meninggi. “Nee, oppa… pekerjaanku masih menumpuk begitu banyak dan deadline-nya itu sore ini. Mianhaeyo, oppa…”

“Jadi pekerjaanmu lebih penting daripada aku, Kim Hae Ra?!!”

“Bbu… bukan begitu, oppa… oppa penting bagiku, tapi pekerjaanku ini tidak bisa ditinggalkan. Mengertilah, oppa…”

Emosiku kini benar-benar telah naik secepat kecepatan cahaya dan membuat suaraku semakin menggelegar hingga rasanya berhasil memecah keheningan dorm pagi itu.“ANI! AKU TIDAK MENGERTI!! KAMU TAHU KAN INI HARI APA?!”

“Eh? Hari? Hari Rabu?”kini nada suaranya terdengar bingung, masih belum menyadari arah pembicaraan yangbaru saja aku ucapkan. “Memangnya hari ini hari apa?”

Apa maksudnya bertanya balik ini hari apa?! Jangan bilang kamu tidak tahu, Kim Hae Ra! Orang-orang di seluruh dunia sedang merayakannya, dan kamu masih berani bertanya ini hari apa?! Haaiisshh!!

Aku menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan, mencoba menahan gelegak amarah yang sesungguhnya telah melewati ubun-ubunku dan siap meledak. Dengan nada yang kubuat melunak aku mencoba bertanya, “Memangnya kenapa kamu pulang hari ini?!”

“Karena aku dapat tiket murah menuju Korea hari ini. Dan bosku menerima perizinan cutiku. Tapi ternyata pekerjaanku masih menumpuk, jadi sepertinya aku akan membatalkan tiket penerbanganku.”

“YA!! Kim Hae Ra, kamu benar-benar—”Aku menghentikan kalimatku sendiri. Rasanya aku masih harus menahan amarah yang sudah sangat siap untuk meledak ini kalau aku tidak ingin ada keriput di wajahku. “Terserah kamu sajalah!”

Dengan cepat tanganku menutup sambunganku dengannya. Nafasku masih memburu karena emosi yang terus membuncah. Tanganku mengacak surai-surai rambutku yang berantakan hingga kini aku tak bisa lagi mengenali style rambutku sendiri.

Dasar Hae Ra menyebalkan!! Bagaimana mungkin kamu melupakan hari ini?! Seluruh dunia merayakannya, menjadikannya trending topic, dan mungkin saja di luar sana ada banyak ELF yang menyiapkan sejuta kado untukku, DAN OH TUHAN, KAMU LUPAAA??!!Yeoja-chingu macam apa kamu iniiii?!

“AAAAAARRRGGGHHH!!! KIM HAE RA BABOOOO!!!”

Wookie yang tinggal sekamar denganku seketika terbangun karena suaraku yang menggelegar. sambil mengusap kedua matanya yang bahkan belum terbuka dengan sempurna. “Hyung? Kamu kenapa?”

Aku beranjak dari ranjangku dan menderapkan langkahku cepat menuju pintu kamar. Rasanya moodku benar-benar rusak sekarang!

“MOLLA!!!”

***

 

Surabaya, one hour ago…

Hae Ra POV

Aku menatap tumpukan kertas yang masih bertengger manis di meja kerjaku dengan pandangan muak dan frustasi. Sudah berapa jam ini aku berhadapan dengan semua ini dan rasanya tidak selesai-selesai. Seakan mereka beranak pinak, dan tumbuh semakin banyak. Haiissh!!

Kepalaku perlahan menelungkup di meja, diantara kedua tanganku yang saling menekuk dan membentuk sebuah bantalan. Rasanya aku mengantuk, lelah, ingin tidur, dan bahkan kalau bisa aku ingin terbang ke Korea sekarang dan menemui Jong Woon oppa. Sudah berapa lama kami tidak bertemu? Dua tahun? Tiga tahun?

Dan sekarang terancam tidak bertemu lagi karena setumpuk kertas sialan ini!

HAAAIIISSSHHH!!!!!

“Hae Ra-ya?”

Aku mengangkat kepalaku dengan malas dan mengedar mencari arah suara. Pandanganku terhenti di arah pintu, ketika ada sesosok wanita yang menatapku dengan pandangan khawatir. Dia kemudian berjalan mendekati, seolah masih tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Mungkin aku dikira Sadako yang berkeliaran di gedung ini? Atau mungkin Kuntilanak, hantu yang biasa disebut teman Indonesiaku?

“Hae Ra-ya? Kenapa kamu sudah ada di kantor? Ini masih jam lima pagi.”

Seketika aku tersentak. Jam lima? Pandanganku beralih kea rah arloji di tangan kananku. Astaga! Ini benar-benar sudah jam lima! Kemudian mataku kembali menatapnya dengan lemas, “Eun Kyo… aku bukannya ‘sudah’, tapi ‘masih’. Aku belum pulang, Eun Kyo.”

Mata Eun Kyo membulat, tak percaya. “Mwoa?!”

“Kamu tidak dengar, Choi Eun Kyo? AKU BELUM PULANG! Hebat sekali kan manusia bernama Jessica Jung itu, hingga membuat yeoja cantik sepertiku mempunyai kantung mata sehitam ini, bertahan di kantor semalaman dan tidak pulang, kelaparan tanpa makanan, dengan setumpuk tugas mengerikan dengan deadline sore ini. SORE INI!! Aku bisa gila, Eun Kyo!!”

“Astaga, Hae Ra. Kamu benar-benar terlihat berantakan. Poor you, dear… mau aku buatkan sesuatu? Teh hangat mungkin?”

Aku menggeleng pelan. “Ani. Aku tidak berminat mengonsumsi apapun sekarang. Rasanya sejak tadi aku ingin memakan kertas-kertas ini hingga tak bersisa.” Sekali lagi aku membaringkan kepalaku diantara kedua tanganku yang terlipat manis di meja.

“Hae Ra-ya? Bukannya hari ini kamu ingin terbang ke Seoul?”

Seketika aku kembali terbangun dan memandang Eun Kyo panik, “Nah, itu dia! Aku harus ke Seoul dua jam lagi. Tapi melihat semua tugas ini, rasanya tidak mungkin aku bisa ikut penerbangan hari ini. Otokhee??!! Sepertinya aku harus bilang ke Jong Woon oppa kalau aku tidak jadi menemuinya hari ini, tapi dia pasti marah besar. Kami sudah tidak bertemu beberapa tahun. Apa aku tidak perlu bilang saja? Tapi itu akan membuatnya semakin marah. Huwaaa!!! Eun Kyo! Aku harus bagaimanaaa??!!!”

Eun Kyo hanya meringis, ikut bingung melihat tingkahku, “Rrr… mungkin sebaiknya kamu telepon saja, biar Yesung tidak menunggumu yang tidak jadi pulang.”

Aku menatapnya tak yakin. Rasanya terdengar menakutkan membicarakan hal ini pada Jong Woon oppa. “Begitukah?”

“Mau bagaimana lagi, Hae Ra?”

“Hhh… molla-yo.” Tanganku kemudian beranjak merogoh tas kerjaku dan mencari Blackberry ku di salah satu kantongnya. Ketika gadget itu sudah berhasil di tanganku, dengan cepat aku menekan berbagai tombol disana, menuliskan nomor telepon salah satu member Super Junior yang kusayangi itu dengan lancar.

“Yoboseyo?”

“Oppa? Kamu sudah bangun?”

“Nee.” Hening sejenak, sepertinya Jong Woon oppa ingin mengucapkan sesuatu. Aku menunggunya sambil mempersiapkan diri untuk memberitakan hal super peting yang menakutkan sedunia ini kepadanya. “Hae Ra-ya, bogoshippeo…”

Aku tertawa kecil mendengarnya. Tentu saja, perkataan itu seudah menjadi makananku sehari-hari, seperti aku juga merasakan perasaan yang sama dengannya di setiap waktu yang berlalu di tempat ini. “Na ddo bogoshippeo-yo oppa.”

“Jagi, kamu jadi pulang kan hari ini?”

DEG!

Oke, dia menanyakannya. Sekarang aku harus mengatakan apa?! Kedua bola mataku menatap Eun Kyo dengan memelas, mengharap bantuannya. Namun yang dipandang hanya melihatku balik dengan tatapan bingung. Seakan dia sendiri juga tidak mampu membantu apapun. Dan memang kenyataannya begitu. Aku menggigit bibir bawahku pelan. Tidak ada pilihan lain, aku memang harus mengatakannya. Dengan penuh keraguan, aku memanggilnya perlahan, “Euhmm… oppa…”

“Wae?”

Deretan gigiku menggigit bibir bawahku semakin keras dan terus menatap Eun Kyo panik. Rasanya jantungku berdetum semakin gila, termakan oleh kekhawatiranku sendiri. Selanjutnya, aku hanya bisa merasakan suaraku yang semakin mencicit,“Oppa, jeongmal mianhaeyo…”

“Nde?”

Debar jantung ini rasanya sekarang sudah bisa mendobrak susunan tulang rusukku saking kerasnya mereka berloncatan. Dan setiap aku menatap Eun Kyo, tatapan itu seakan menjadi tak berarti, karena dia pun tak bisa memberikan jawaban untuk kepanikanku. Tanganku akhirnya bergerak meremasnya liar, mencoba mengendalikan perasaanku sendiri. Sambil terus memandangi Eun Kyo, aku menarik nafas perlahan dan mulai berbicara, “Aku sepertinya tidak jadi pulang, oppa… mianhae…”

“NDE?!! Tidak jadi pulang?! Apa maksudmu?!” suaranya seketika meninggi, persis sesuai dengan apa yang aku perkirakan.Refleks aku menjauhkan teleponku dari cuping telingaku, tidak baik juga kalau gendang telingaku pecah karena suaranya.

Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan keberanian yang telah terpakai, “Nee, oppa… pekerjaanku masih menumpuk begitu banyak dan deadline-nya itu sore ini. Mianhaeyo, oppa…”

 “Jadi pekerjaanmu lebih penting daripada aku, Kim Hae Ra?!!”

Hah?! Apa-apaan ini? Kenapa jadi membandingkan pekerjaanku dengan dirinya?

“Bbu… bukan begitu, oppa… oppa penting bagiku, tapi pekerjaanku ini tidak bisa ditinggalkan. Mengertilah, oppa…” nadaku sepertinya semakin memelas, bak anak jalanan di lampu merah yang meminta sekeping koin. Aku yang mulanya takut mulai kesal pada namja di seberang telepon itu. Aku kan di sini untuk bekerja, bukan bermain bersama namja lokal yang –sebenarnya- cukup lumayan untuk mengisi waktu luang. Huh!

 “ANI! AKU TIDAK MENGERTI!! KAMU TAHU KAN INI HARI APA?!”

Ya Tuhan, suaranya masih bisa tinggi lagi?! Bisa-bisa saraf pendengaranku rusak seketika jika aku terus bertahan mendengar orang ini mengomel!!Tapi sebenarnya hari ini hari apa?

“Eh? Hari? Hari Rabu?” Aku masih mencoba mencari tau tentang istimewanya hari ini di setiap lobus otak yang masih mampu aku gunakan. Namun rasanya hari ini tidak ada yang istimewa. Menyerah, akhirnya aku memutuskan untuk balik bertanya padanya dengan inosen, “Memangnya hari ini hari apa?”

Hening sejenak, hingga kemudian dia bertanya balik padaku dengan nada gusar, “Memangnya kenapa kamu pulang hari ini?!”

“Karena aku dapat tiket murah menuju Korea hari ini. Dan bosku menerima perizinan cutiku. Tapi ternyata pekerjaanku masih menumpuk, jadi sepertinya aku akan membatalkan tiket penerbanganku.”

“YA!! Kim Hae Ra, kamu benar-benar—”dia berhenti sejenak, dan melanjutkan amarahnya, “Terserah kamu sajalah!”

Cklek!

 

Aku memandangi Blackberry kesayanganku itu dengan bingung dan putus asa. Namja yang bernama Kim Jong Woon itu memutuskan sambungannya dengan kasar, meninggalkan aku yang hanya bisa tercengang dibuatnya.

Oke, aku memang salah. Aku tidak bisa pulang hari ini, tapi seharusnya dia tidak perlu semarah itu. Tapi memang wajar sih kalau dia marah. Kami kan sudah lama tidak bertemu. Tapi… tapi… harusnya kan dia tidak perlu sampai seperti itu. Haiissh!

Tapi memangnya hari ini hari apa?

“Eun Kyo…”

“Nee?”

Pandanganku beralih kembali menatapnya. Kali ini aku menuntut jawaban darinya, karena kebodohan yang menyekapku ini sepertinya telah berhasil membuat hubungan kami di ujung tanduk. “Hari ini hari apa sih?”

Dahinya berkerut bingung. “Eh? Hari Rabu?”

Aku menepuk dahiku putus asa. “Omona, kalau yang itu aku juga sudah tahu, Choi Eun Kyo! Maksudku apa ada yang istimewa dengan hari ini?”

Senyap kemudian memerangkap kami berdua, sama-sama mencari jawaban.

Tiba-tiba Eun Kyo menepukkan sepasang tangannya, seiring dengan perubahan raut wajahnya. “Astaga, Hae Ra-ya!! Ini kan hari ulang tahun Yesungie!”

“Eh? Ulang tahun?” aku seketika mengambil ponselku dan melihat kalender di antara pilihan aplikasi-aplikasinya. “Astagaaa!!! Mati aku!”

Omona! Omona! Pantas saja Jong Woon oppa semarah itu padaku. Riwayatku benar-benar tamat sekarang. SEKARANG. Jong Woon oppaaa… jangan bunuh akuu… >_<

“Kamu ini bagaimana sih?! Semua orang sudah meributkannya sejak kemarin! Apalagi namja-chingu mu itu adalah anggota Super Junior dan kamu ada di Indonesia, negara yang benar-benar terkena Halyu Wave. Dan kamu, yeoja-chingu nya, bisa-bisanya lupa?!”

Aku menggoyang-goyangkan tubuh Eun Kyo liar. Rasanya aku sudah tidak bisa berpikir jernih, atau memang otakku sudah tidak bisa dipakai lagi? Mengingat kertas-kertas di depanku ini sudah membuatku pendarahan otak. “Huwaaaa… otokhe, Eun Kyo?!! Aku ingin ke Korea sekaraaaangg!! Tapi omona, Pekerjaan ini begitu banyak!” Tanganku bergerak mengacak-acak surai-surai rambutku frustasi, “Haiiissh! Jinchaa! Aku benar-benar sudah gila…Oppaaa…”

Eun Kyo menatapku dengan pandangan penuh iba, “Ara ara! Aku akan membantumu.”

Seketika saja kedua sudut bibirku mengembang lebar, diiringi dengan rasa lega yang menyelingkupiku, “Uwaaa… gomawo, Eun Kyo!!”

***

 

“Eun Kyoooo… apa menurutmu ini akan selesai?” gumamku sambil memandang tumpukan kertas di depanku putus asa. Bahkan walau sudah dikerjakan berdua dengan Eun Kyo, rasanya kertas-kertas ini masih tidak berkurang. Aku ingin mati saja daripada hidup mengerjakan dokumen-dokumen keuangan ini.

Eh, tapi kalau aku mati, aku tidak bisa ke Korea? Tidak bisa bertemu dengan Jong Woon oppa? Tidak, tidak! Aku tidak boleh mati!

Haiiisshh!

Eun Kyo terus mengerjakan dokumen-dokumen milikku tanpa sedikit pun beralih menatapku, “Molla. Sudahlah, ayo cepat kerjakan. Aku sudah meluangkan waktu kerjaku, meninggalkan dokumen-dokumenku dan membantumu.”

Aku menghela nafas panjang, menguatkan diriku sendiri atas cobaan bernama dokumen Evaluasi Keuangan Semester Pertama dan seorang bos bernama Jessica Jung yang menyuruhku mengerjakan semua ini dalam waktu 24 jam!

Tanpa minat aku mulai menopangkan daguku diantara kedua telapak tanganku dan mulai membiarkan benakku melayang meninggalkan ruang waktu.

……

 

“Aaa… aku capek belajaaarr!!!” Aku membaringkan tubuhku di samping Jong Woon oppa yang duduk mengamati hasil mid-semesterku. “Aku tak mau belajar! Aku tak mau ujiaaan!!”

Jong Woon oppa mengamati lembaranku dan berkomentar, “Meskipun nilaimu turun, tapi nilaimu kan masih di kisaran 80, Hae Ra…”

“Tapi sebelumnya itu 90!!”

 “Walau itu 80 atau 85, itu sudah dekat—“

……

 

“Hei! Jangan melamun! Kamu mau cepat selesai atau tidak?!”

“Nee…”

***

 

Cheonan, 2nd grade of Senior High School…

Normal POV

“Aaa… aku capek belajaaarr!!!”

Hae Ra membaringkan tubuhnya di samping Jong Woon yang duduk mengamati hasil mid-semesternya. Bel sekolah telah berbunyi nyaring sejak satu jam yang lalu dan membuyarkan ribuan murid di sekolah mereka. Atap sekolah tempat mereka kini bersantai yang memang biasanya sepi, akan nampak tak ubahnya dengan pemakaman, karena jeritan murid dari bawah sudah tidak lagi terdengar. “Aku tak mau belajar! Aku tak mau ujiaaan!!”

Jong Woon mengamati lebaran hasil Hae Ra dan berkomentar, “Meskipun nilaimu turun, tapi nilaimu kan masih di kisaran 80, Hae Ra…”

“Tapi sebelumnya itu 90!!”

Mata Jong Woon beralih menatap Hae Ra dan mencoba mengungkapkan pendapat asalnya, “Walau itu 80 atau 85, itu sudah dekat dengan 90. Mungkin kamu salah mengerjakan satu-dua soal…”

Hae Ra membalas Jong Woon dengan tatapan menuntut.

Merasa gerah dengan tatapan seduktif dari yeoja-chingu nya itu, Jong Woon menambahkan, “Rrrr… mungkin…”

“Oppa, kamu ingin lanjut kuliah ke mana? Bagaimana kalau kita ke Seoul University?”

“Boleh juga. Ayo ke Seoul bersama…”

“Nee. Oppa di jurusan musik, aku di jurusan akuntansi. Huwaa… how nice will be~!

Kedua sudut bibir Jong Woon terangkat ke atas melihat tingkah Hae Ra yang tak ada bedanya dengan anak kecil. “Sudah sore, ayo pulang, Hae Ra-ya…”

“Ah, nee. Kajja, oppa…” Hae Ra segera beranjak dari tidurnya dan berdiri merapikan seragam sekolahnya yang sedikit kusut.

Masih dalam posisi duduknya sejak tadi, Jong Woon memanggil gadis itu, “Hae Ra.”

“Nee?”

Tiba-tiba tangan Jong Woon menarik lengan Hae Ra, hingga membuat gadis itu terduduk di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat dengannya. Segalanya terjadi begitu cepat. Jong Woon hanya mengikuti hatinya untuk mendekatkan wajahnya pada gadis itu. Nafas Hae Ra tercekat. Sesaat kemudian, kedua pasang bibir itu menyatu dengan lembut.

Moment of silence.

Satu kecupan ringan, tanpa pergerakan apapun. Hanya dua bibir yang bersentuhan. Namun saat itulah, seakan dunia berhenti sejenak dan memberikan mereka ruang untuk menikmati segalanya. Kecupan ringan itu, lebih dari sekedar kecupan bagi seorang Jong Woon maupun Hae Ra. Karena Jong Woon memberikan seluruh cintanya dalam sekian detik yang berlalu itu.

Ketika bibir Jong Woon telah menjauh, dia dapat melihat Hae Ra masih dalam keadaan tercengang. Lelaki itu kemudian berbisik tepat di cuping telinga Hae Ra, Saranghae. You’re my first kiss, Hae Ra. Am I too…?”

Setelahnya, lelaki itu segera berdiri dan membersihkan bagian-bagian seragamnya yang kotor oleh debu atap. Hae Ra tersadar kemudian dan menatap Jong Woon sebal, “Yaa! You’ve stolen my first kiss, oppa!”

“Jinja? Gotcha!!”

“Mwoa?! Oppa babo-yaa!”

 

Our small and stupid conversations mean more to me than you will ever know.

***

 

Cheonan, 3rd grade of Senior High School…

Hae Ra memandang jauh menuju langit yang sudah berubah menjadi hitam pekat, tak ada satupun percikan cahaya yang tersisa di setiap sudut yang tampak oleh matanya. Terlihat begitu gelap, keruh, suram. Tapi mungkin tetap kalah suramnya dengan suasana hatinya sekarang.

“Hae Ra? Kursusmu sudah selesai?”

Gadis itu mendongak, dan menemukan sosok lelaki yang dicintainya telah berdiri di hadapannya dengan manis. Senyumnya tak ayal mengembang, “Nee.”

Lelaki itu mengulurkan tangannya ke arah Hae Ra yang disusul oleh bertautnya jemari mereka. Perjalanan itu kemudian hanya diiringi kesenyapan, seakan keduanya telah masuk dalam dunianya masing-masing. Lalu lalang kendaraan yang tadinya mengisi lubang-lubang keheningan telah berlalu, dan berganti dengan suara berdesis angin perkampungan Cheonan.

tiba-tiba Hae Ra menghentikan langkahnya di depan taman bermain dekat tempat tinggal mereka, “Oppa, aku ingin naik ayunan…”

Jong Woon tersenyum tipis. Dia sangat mengenal gadis itu, pasti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Hae Ra selalu seperti itu. Menjalin hubungan dengan teman masa kecil, membuatnya mengenal gadis itu luar dalam. Tentu saja, sedikit banyak hal itu menguntungkan Jong Woon saat ini sebagai namja-chingu nya. Paling tidak, dia tidak perlu bersusah payah untuk beradaptasi dengan berbagai kebiasaan gadis itu.

Sudahlah, toh dia juga memiliki sesuatu yang ingin dia bicarakan…

Tanpa menunggu perkataan Jong Woon selanjutnya, Hae Ra langsung berlari ke dalam taman dan duduk di salah satu ayunan kayu kesayangannya. Ayunan itu sudah sangat tua, mungkin lebih tua daripada umur mereka saat itu. Kayunya sudah tidak rata, dan cat pada rantai penyangganya sudah mengelupas dan berkarat.

“Hae Ra-yaaa…” Jong Woon memanggil nama gadis itu sambil berdiri di samping ayunan kayu itu.

“Nde?”

Untuk kesekian kali, senyum indah itu mengembang dari sepasang bibir Jong Woon. Kegembiraan yang melingkupinya terasa meluap-luap, hingga Hae Ra pun bias merasakannya untuk sesaat. Kemudian dia mulai berkata, “Aku punya kabar gembira untukmu.”

Hae Ra diam, menatap Jong Woon dengan penasaran. Menunggu apa yang akan keluar dari bibir lelaki itu.

Senyum Jong Woon semakin lebar, menampakkan deretan giginya yang seputih awan. “Aku lolos audisi SM entertainment, Hae Ra! Aku lolos!!”

Sontak kedua bola mata Hae Ra membulat. Bahkan dia kini telah beranjak dari ayunannya, dan menatap Jong Woon lebih dekat untuk memastikan keseriusan lelaki itu, “Hah?! Jinja-yo?!!”

“Nee! Eomma yang mendaftarkanku diam-diam. Akhirnya aku ikut audisi, dan lolooooss! Hae Ra-ya, look at me, I’m trainee of SM entertainment now!” Tangannya membentang di depan Hae Ra seolah ingin menunjukkan bahwa dunia telah berada dalam kedua tangannya.

Tawa Hae Ra akhirnya muncul ketika melihat ekspresi kebahagiaan namja-chingunya itu. Dia tahu, Jong Woon menyimpan asa untuk menjadi penyanyi, walau lelaki itu tak mengungkapkannya ada orang tuanya. Dan kini, dia selangkah lebih dekat dengan cita-citanya. That is not about luck, but that guy has talent. “Hooaaa… chukkaee!!!”

“Nee, gomawo Hae Ra. Jadi, kita bisa sama-sama tinggal di Seoul nantinya! Kamu akan kuliah di Seoul University, dan aku akan menjadi trainee. Astaga, aku benar-benar masih tidak percaya, aku bisa terus bersamamu.”

Kontan Hae Ra terdiam seribu bahasa. Seolah patung, bahkan dia tak mengambil sedikit pun pergerakan. Sesaat kemudian, barulah gadis itu menjawab dengan lirih, “Ah… nee…”

Dahi Jong Woon mengernyit. Apa yang coba gadis itu sembunyikan? Ucapan lemah Hae Ra perlahan menguapkan semua kebahagiaannya dan merubahnya menjadi kecemasan. Entahlah, dia merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan di balik ekspresi itu.

“Hae Ra? Wae? Gwenchana? Kita… jadi terus bersama kan? Kamu… masih ingin melanjutkan ke Seoul kan?”

Hae Ra kembali duduk di atas ayunan kayu tua itu dan menatap lelaki di hadapannya dengan pandangan yang bercampur aduk. Ada kebingungan, ketakutan serta kesedihan di dalam raut wajah mungil itu. “Oppa… I just… wanna talk about this…”

“Nde? Kamu ada masalah apa?”

“Oppa… mianhae. Jeongmal mianhae…” Hae Ra terdiam sejenak, mengatur nafasnya dan menatap Jong Woon dengan matanya yang mulai memerah, “Aku tidak bisa menepati janjiku. Aku… tidak akan sekolah di Seoul, oppa…”

Kini giliran Jong Woon yang terhenyak, kaku. “Nde?! Wae?! Bukankah kita sudah—“

“Nee. Aku tahu, tapi appa-ku ingin aku ikut dengannya melanjutkan sekolah di Singapore. Aku tak punya pilihan lain. Aku harus ikut dengannya…”

Kedua tangan Jong Woon mengepal. Dia telah bermimpi akan janji itu sejak lama. Dan mimpi itu semakin membuncah ketika akhirnya dia diterima di entertainment ternama itu. Namun kini, semuanya musnah, hancur hingga serpihannya. Dan seolah semuanya terlah terhempas oleh angin musim dingin yang berhembus malam itu.

“Oppa, mianhae…”

Dia tahu, gadis itu begitu mencintai ayahnya, karena keterbatasan waktu yang dimilikinya bersama ayahnya setelah ibunya meninggal. Dia tahu, gadis itu akan melakukan apa saja untuk membahagiakan ayahnya, termasuk jika ayahnya menginginkan dia untuk tinggal di luar negeri bersamanya. Namun, sanggupkah dia…

Sanggupkah dia hidup tanpa seorang Kim Hae Ra di sampingnya?

And he knew, he didn’t have choices.

Jong Woon berjongkok, menyejajarkan dirinya di hadapan Hae Ra yang duduk di ayunan kayu berkarat itu dan menatap kedua mata berkaca-kaca gadis itu dengan penuh kelembutan. “Arasseo. Pergilah bersama appa-mu, Hae Ra-ya… He knows what the best is for you.

“Tapi oppa, bagaimana dengan… kita?”

Jong Woon balik bertanya, “Memangnya ada apa dengan kita?”

“Apa kamu akan memutuskan hubungan kita?”

Lelaki itu terenyum tipis. Senyumannya begitu sejuk untuk mengurangi kecemasan gadis itu, “Ani. Tentu saja tidak. Believe me, you always bring my heart wherever you go.

Kedua tangan Hae Ra bergerak memeluk tubuh Jong Woon. Lelaki itu begitu dewasa dibandingkan dengan dirinya. Semua ketakutannya hilang, tak bersisa. Dengan segala keyakinannya, dia dapat merasakan kesungguhan Jong Woon terhadapnya. Sama dengan kesungguhannya untuk Jong Woon. Sesungguhnya, cinta itu tak akan pernah berubah.

“Gomawo, oppa… believe me too…

 

Wherever I go, no matter how far, I believe you will always be there… in my heart.

 

***

 

SM Building, Aug 24th 2011, 08.00 pm…

Yesung POV

“SAENGIL CHUKKAE!!!!”

Suara-suara dari kerumunan orang di gedung SM itu begitu membahana menyerukan selamat untukku, membuat sebuah gema setelahnya. Kemudian Ryeowook berjalan padaku dengan satu kue tart bergambar wajah diriku dalam bentuk chibi, yang aku duga dia buat sendiri diam-diam, dan berucap, “Saengil chukkae, hyung…”

“Tiup lilinnya! Tiup! Tiup!!”

Aku tersenyum menatap mereka yang menggemuruhkan namaku untuk segera menyelesaikan segala tradisi ulang tahun itu. Rasanya aku sudah tidak muda lagi untuk merayakan hal-hal seperti ini. Tapi ya sudahlah, tidak ada salahnya untuk merayakannya. Wajahku mendekat ke arah kue dan meniupnya.

“Chukkae, Yesungie!”

Senyumku tak bisa lepas dari bibirku, terutama setelah acara kejutan kecil yang mereka berikan untukku, “Nee, jeongmal khamsahamnida…”

Aku perlahan menjauh dari kerumunan orang yang masih menikmati kue tart super besar, cocktail berisi red wine dan dessert lainnya yang tak sedikitpun menarik minatku. Lalu aku berjalan menuju salah satu sudut ruangan yang hanya berdinding kaca. Dari balik sana, aku bisa leluasa menatap pemandangan Seoul di balik kaca tersebut. Rasanya lelah memasang senyum ketika seharusnya kamu sedang tidak berminat untuk melakukannya.

Setengah jiwaku hilang. Hae Ra tidak ada di sini sekarang.

Leeteuk hyung berjalan mendekatiku sambil menengguk cocktail merahnya, “Hae Ra mana, Sungie?”

Ah, pertanyaan itu. Sungguh sebenarnya aku tak ingin menjawabnya. Tentu saja kekecewaan yang menganga menjadi penyebabnya. “Dia tidak datang, hyung. Katanya pekerjaannya tidak bisa ditinggal. Huufftt…”

“Hati-hati, hyung…”

Aku mengalihkan pandanganku. Ada Kyuhyun di belakang Leeteuk hyung, dengan PSP portable yang sudah mirip belahan jiwanya. “Wae?”

Dia mendongak ke arahku, menghentikan sejenak permainannya. Senyum liciknya tiba-tiba muncul di salah satu sudut bibirnya, dan aku sudah mulai berfirasat buruk dengan senyum itu, “Hyung yakin, dia benar-benar ada pekerjaan? Jangan-jangan… ada namja yang lebih menarik di Indonesia.”

“Apa maksudmu?!” desisku padanya. Aku menatapnya tajam, menuntut penjelasan lebih jauh.

Sebenarnya aku tahu arah pembicaraannya, tapi aku tak suka dengan kata-katanya. Selama ini aku selalu percaya pada Hae Ra, seperti halnya Hae Ra yang percaya padaku. It feels imposible for me that Hae Ra does something like that.

Melihat percik-percik peperangan dari kami berdua, Leeteuk mencoba menenangkan suasana, “Sudah sudaaahh. Kyu, kamu ini, sudah tahu hyung-mu sedang tidak enak hati, masih saja menggodanya.”

Kyu mengedikkan bahunya tak peduli, masih dengan senyum liciknya tentunya, “Aku tidak menggoda, hyung. Cuma memperingatkan saja.”

Sepertinya dia memang menabuh genderang perang denganku. Aku mendesis padanya sekali lagi dengan menekankan setiap kalimatku, “Haiiissh! Cho Kyuhyun, kamu mau pembunuhan secara halus, sedikit kasar, kasar, atau sangat kasar?”

“Kalian ini, jinja… Kyu, ambilkan aku segelas cocktail. Cocktailku sudah habis.”

Kyu akhirnya mendesah, memilih menuruti Leeteuk dan meninggalkan kami, “Hhh… nee, hyung…”

Sepeninggal maknae yang seperti setan itu, Leeteuk menepukkan tangannya di bahuku, “Sudahlah, Sungie. Kamu sepertinya lebih ingin sendiri.” Setelahnya, dia meninggalkan aku sendiri di tempat yang sama.

Hey, mungkinkah Hae Ra memang melakukannya? Mungkin saja. Banyak factor pendukung yang membuatnya melakukannya. Kami telah menjalin hubungan lebih dari delapan tahun. Dan sejak aku menjadi trainee SM, aku sudah jarang bertemu dengannya. Dan semakin jarang ketika aku akhirnya debut dengan Super Junior. Bahkan kami sudah tidak bertemu selama tiga tahun. TIGA TAHUN. Waktu yang SANGAT lama bagiku hingga aku telah terbiasa dengan perasaan tercabik karena merindukannya.

Aku masih ingat saat-saat sulit itu. Ketika aku debut tanpa Hae Ra bisa melihatnya. Ketika aku harus berbohong tentang keberadaannya di hatiku di semua reality show yang aku ikuti. Ketika Hae Ra marah besar dan menangis di seberang telepon saat mengetahui apa yang aku katakan di televisi. Ketika aku tidak bisa menemani Hae Ra di saat dia terbujur sakit, mengingat setelah dia bekerja di Indonesia, dia harus hidup sendiri. Bahkan ketika aku bisa ke Indonesia untuk pertama kalinya, aku masih tidak bisa bertemu dengannya. Alasan klasik, gadis itu masih sibuk dengan pekerjaannya, dan jadwalku yang kelewat padat tidak mengizinkanku berlama-lama di Indonesia.

Hell. Bahkan hari ini, saat aku hampir saja dapat merasakan sensasi debaran ketika melihatnya secara langsung, semesta masih tidak mengizinkanku bertemu dengannya.

Dasar Kyuhyun babo, membuatku kepikiran saja. Harusnya aku buang saja dia melalui jendela ini, lalu membakarnya hidup-hidup di tempat pembuangan sampah. Semacam ide yang bagus sepertinya. -_-“

“Menunggu seseorang?”

***

 

Normal POV

“Menunggu seseorang?”

Jong Woon menegak lemon tea-nya tanpa memandang siapa yang mengajaknya berbicara, “Eh? Aniyo…”

Sosok itu kemudian menghembuskan nafas perlahan, menunjukkan sedikit kekecewaan di dalamnya, “Begitukah? Sayang sekali ya…”

Kebingungan, Jong Woon memutuskan untuk berbalik dan melihat sosok tersebut. Matanya seketika membulat ketika kedua pasang mata mereka bertemu. Jantungnya berdetum keras dan nafasnya seketika tercekat, seakan kuota oksigen di sekitarnya telah hilang, menjadikannya hampa udara. Nyatakah sosok yang dilihatnya itu?

“Eh??”

Sosok itu melanjutkan perkataannya, “Kamu tahu? Ada seseorang yang rela mengerjakan tumpukan dokumen itu semalam suntuk, tidak pulang kantor, mendadak mengganti tiketnya dengan penerbangan sore, hanya untuk menemui seseorang yang dipanggil Yesung Super Junior hari ini.”

Tanpa sadar, bibirnya mulai mengatakan sesuatu tanpa melepaskan pandangannya dari mata hitam sosok itu, “Tapi… orang itu lupa hari ini hari apa…”

“Dia sepertinya tidak lupa dengan ulang tahun namja-chingunya sendiri. Buktinya dia mati-matian berusaha datang ke gedung ini.”

Tangan Jong Woon terangkat menyentuh pipi sosok di hadapannya penuh kelembutan, “Wae? Kenapa kamu ada di sini, Hae Ra?”

Hae Ra, sosok tersebut, tersenyum tipis, “Tentu saja untuk menemuimu. Saengil chukkaeyo, oppa…”

“Haiiissh! Uri yeoja…” Termakan oleh rasa rindu yang sudah tertahan sekian tahun, tangan Jong Woon bergerak memeluk Hae Ra dan menenggelamkannya di dadanya. Walaupun mungkin tidak sebagus Choi Siwon, tubuhnya sudah lebih dari cukup untuk melenyapkan sosok gadis itu di dalamnya. “You make me love you more more…”

It’s my speciality, rite? Mianhae oppa, aku tidak membawa apapun untukmu.”

You’re the best gift for me, Kim Hae Ra…”

 

You are the one I will keep. You are the one I will love. Yes, because I am happy enough if I could be with you…

___________________________________________________________________

.fin.

yakk, bagaimana-bagaimanaaa?

well, ini FF Super Junior pertama saya. So, jeongmal mianhaeyo kalo feelnya bener2 ga kerasa disini.
*iya, saya babo sekali membuat FF ini* hhuu…

kritik dan sarannya tolong alamatkan di komen yaa….

gomawoyoooooooooooooooooo!!!! (_ _)