Absolute Music and Art –Inst. 7

 

Hwang Dain story….

 

“sunbaenim…. Sebenarnya adakah yang ingin kau katakan padaku?” tanyaku ragu-ragu. Sungguh, hari ini sangat membingungkan. Namja yang kemarin malam terlihat sangat membenciku karena aku telah memanggil nama aslinya, kini malah mengantarku pulang dengan motornya. Aku jadi merasa sedikit canggung padanya.

“Jangan terlalu memikirkan apa yang hari ini kulakukan dan kukatakan padamu,” jawabnya dengan wajah yang terlihat gembira. Ia memamerkan gigi kelincinya yang hampir saja membuatku tertawa, “Aku hanya ingin kita saling mengenal. Itu saja kok,”

Aku menggaruk kepalaku bingung, orang ini bahasanya tidak dapat kumengerti, dan sikapnya selalu beruba-ubah dari hari ke hari. Mengerikan~

“Baiklah…. Aku masuk duluan ya, gamshabnida sudah mengantarkanku,” jawabku canggung dan segera meninggalkannya yang masih tersenyum seperti kelinci di depan rumahku.

“Dain-sshi…. apa yang terjadi padamu sampai-sampai wajahmu agak pucat begitu?” sapa umma yang juga mengejutkanku.

“Oh, umma-nim…. Baru saja aku diantar oleh seseorang…… yang agak…… ya begitulah,” jawabku bingung, aku tidak bisa bilang kalau yang mengantarku adalah Joon sunbae yang aneh itu karena umma pasti tidak mengenalnya.

“Oh….. si rambut pirang itu? Tadi umma melihatnya kok dari jendela ruang makan. Nuguseo? Niga namja chingu ka?” tanya umma yang membuatku sedikit terkejut, aku menggeleng geleng dengan panik dan ketakutan.

“Anii umma-nim…. Orang itu aneh, kemarin saja ia baru bertengkar denganku, tapi hari ini… tiba-tiba ia berbuat baik dan bahkan mengantarku pulang kerumah. Dia adalah sunbaenimku umma, tapi di jurusan musik seperti Cheondung dan Mir oppa.”

Umma mengangguk angguk mengerti, “Tapi tidak apa-apa kan kalau kau dekat dengannya? Toh dia baik dan tidak berniat untuk melakukan sesuatu padamu kan?”

“Mwo? Apakah ia terlihat baik, umma?? Dari warna rambutnya yang kuning burgundy itu saja menunjukkan kalau dia apneun namja~!!” jawabku panic, takut-takut kalau ummaku salah sangka, “Apakah ia tetap terlihat baik, kalau umma tahu ia sudah banyak menolak yeoja-yeoja di kampus?”

“Ada apa sih ribut-ribut di hari Minggu seperti ini?” tanya appa yang tiba-tiba sudah ada di belakang kami secara misterius (?) “Siapa yang apneun namja dan rambutnya kuning burgundy?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan canggung lagi, “Ah… lama-lama bisa gila aku kalau membicarakan namja itu lagi, sudah ya appa dan umma-nim. Aku mau istirahat.”

Saat masuk ke dalam kamar, tanpa sengaja aku bertatapan dengan Seungho oppa…. Tepatnya lukisan Seungho oppa yang kugambar beberapa hari yang lalu. Ahhhhh sangat menyakitkan hati melihatnya~~

“Ya Tuhan…… ottokke? Kenapa aku harus mengingat ingat wajahnya lagi? Apa aku harus membuang sketsa besar itu untuk melupakannya? Siapa Shin Hyoni itu, kenapa ia memanggil yeoja itu orang kepercayaannya?” air mataku mengambang lagi, “Astaga… minggu ini aku sangat bimbang. Apa aku tidak usah masuk kuliah saja ya?”

Aku mengambil wajah si Seungho oppa dan membalikkan wajahnya dengan tegas kea rah lantai kamar, “Mianhanda kanvasku yang cantik, aku tidak bisa melihat wajahnya untuk kali ini, secara tidak sengaja… ia telah menyakiti perasaanku.”

Perasaan ini….. kenapa terasa sangat sedih dan menyakitkan? Bukannya aku hanya mengagumi Seungho oppa saja? Kenapa aku harus menangis seperti ini?

 

~~~~~

 

Park Nana story…

 

“Oppa…. Kenapa ya Dain-sshi? kok dia sampa menangis begitu karena Seungho sunbae?” tanyaku bingung, “Aku tidak yakin masalah Hyoni itu… aku kenal dia dan yang aku tahu, ia menyukai Byunghee sunbae. Bukannya Seungho sunbae.”

“Tapi mereka berdua memang dikabarkan cukup dekat sih,” jawab Cheolyong oppa, “Mereka sudah bersahabat sejak lama, yah….. seperti Dain dan Byunghee hyung. Mereka bertetangga.”

“Jinjjaeyo?” tanyaku cukup terkejut dengan pernyataan si oppa. “Ternyata oppa cukup tahu tentang semua berita di kalangan mahasiswa jurusan music ya? dasar anak gaul.”

Cheolyong oppa tertawa sambil mengelus rambutku, “Tidak kok, hanya saja aku tahu.”

Aku termenung beberapa saat karena obrolan kami terhenti. Yah, memang selalu seperti ini.. padahal kami sudah hampir 1 tahun berpacaran dan masih saja canggung seperti ini. Bahkan kami belum ppopo maupun kissu~~ semua itu karena kami berdua masih malu dan belum berani melakukannya.

“Em… Nana-sshi, tidak terasa ya sudah hampir satu tahun kita bersama. Apa kau menyadarinya?” tiba-tiba Cheolyong oppa berkata seperti itu, sangat mengejutkan. Mengingat baru saja aku memikirkan hal itu barusan.

Aku mengangguk malu mendengar ia berbicara seperti itu, “Nee.. waeyo oppa?”

“Sebenarnya sejak dulu aku ingin menanyakan hal ini padamu, berhubung ini adalah waktu yang tepat.. jadi aku akan menanyakannya.” Jawabnya kalem, “Sebenarnya… apa sih yang membuatmu menerima pernyataan cintaku dulu?”

Aku mengamati sekitar kamarku yang sepi dan dingin, kami ada di balkon menatapi gelapnya malam yang dipenuhi dengan taburan bintang. Orangtua, unnie, oppa, dan dongsaengku pun ada dirumah. Semoga saja mereka tidak keberatan kalau kami berdua ada di balkon kamarku.

“Em…. Yah, aku memang sudah lama menyukaimu oppa. Jauh sebelum kau mendirikan band kampus,” jawabku malu-malu, “memang sih waktu penerimaan mahasiswa baru, kamu tidak membimbingku karena kita berbeda jurusan. Tapi…. Entah kenapa, aku langsung menyukaimu saat pertama kali melihatmu membimbing anak-anak jurusan musik. Kalau oppa?”

Wajah Cheolyong oppa yang tertegun dengan jawabanku, langsung mengendur kembali dan dengan cengirannya yang khas, ia mulai bercerita. “ah… aku… merasa sangat terpesona saat melihatmu menari di festival kampus, aku belum pernah melihat rambut yeoja sepanjang itu. Dan…. Aku tidak menyangka kalau si penari itu terus memperhatikanku, hehehehehe.”

Aku menundukkan wajahku karena maluuuu sekali, yah memang sih waktu itu aku tak berhenti menatapinya. Karena aku tidak percaya ia mati-matian menonton penampilanku, padahal ia harus check sound karena setelah oenampilanku, band nya lah yang harus tampil.

“Em…. Kita, kok bisa ya bertemu dan seperti sekarang ini? Padahal kita berbeda jurusan…. Berbeda angkatan…. Bahkan aku tidak punya chingu di jurusan music instrument.” Ujarku sambil mengingat ingat.

“Bukannya Hyori jurusan music? Dia pandai bermain gitar, bahkan kami hendak merekrutnya sebagai anggota band menggantikan member yang keluar,” jawab oppa tak percaya.

“Anii~!! Dia di jurusan seni membuat tembikar~ kamu lupa ya oppa?” jawabku bingung. Namun kali ini ia tidak mengangguk, hanya menatapiku dengan wajahnyayang jenaka.

“Nee…. Aku lupa karena dia bukan yeoja chinguku.” Jawab Cheolyong oppa yang nada suaranya melembut, “Kalau tentang Nana sih…. Aku tidak akan pernah lupa.”

Aku terdiam saat Cheolyong oppa mendekatkan dahinya ke dahiku, dan…… kurasakan bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut dan pelan.

Astaga… kissu pertama kami setelah setahun lamanya…. Benar-benar tak kusangka.

 

~~~~~

 

Jung Byunghee story…

 

“Oke Hyoni-sshi… gamsahabnida sudah menemaniku hari ini, semoga kamu segera hafal cord nya.” Jawabku sambil melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 8 malam, “Aku harus segera pulang karena seseorang sedang menungguku.”

Hyoni mengangguk sambil membereskan beberapa kertas yang bertebaran di meja dan membungkus gitar yang sepertinya sangat disayanginya itu, “Kureyo… nugu? Siapa yang menunggumu sunbaenim?”

“Oh yang menungguku? Dongsaengku,” jawabku singkat. “Ah… maksudku tetangga yang sudah kuanggap dongsaengku, waeyo?”

Kali ini Hyoni menjawab dengan gelengan kepala terlebih dahulu, “Aniiyo… kukira siapa. Bolehkah aku berkenalan dengannya?”

“Kenapa tidak? Dia seangkatan denganmu kok, jadi tidak usah ragu.” Jawabku dibalas dengan wajahnya yang antusias dan matanya yang berbinar binar, “Dari tadi ia mungkin menungguku di taman kampus musik dengan wajah cemberut. Maklum, tadi aku janji akan mengiriminya pesan kalau aku sudah selesai. Tapi… baru sekarang kita selesai, hahaha.”

Hyoni mengangguk angguk dengan wajah yang seakan akan mengatakan ‘Oh jinjjaeyo?’ tanpa suara lagi. Sungguh canggung sekali saat kami berlatih tadi, tapi semoga saja kami segera terbiasa hanya berdua seperti tadi.

“Dain-sshi…. Dain-sshi~!!” aku memanggil dongsaeng pelukisku itu dengan suara yang amat keras, “Aish kemana si yeoja babo itu?”

“Em…. Mungkin saja ia sudah pulang,” jawab Hyoni dengan suara yang agak grogi, “Mungkinkah? Kan ini sudah hampir jam 8 malam.”

“Benar juga ya? baiklah… nanti aku telepon saja kalau sudah sampai rumah,” aku mengiyakan pendapat Hyoni, “Emmmmm kau pulang lewat mana? Mari kuantar saja, tidak baik seorang yeoja pulang sendirian pada jam seperti ini.”

 

…..

 

“Kaja… angkat teleponnya,” ucapku geram. Kemana bocah ajaib itu? Kenapa ia tidak mengangkat teleponku dari tadi. Membuatku pusing saja~

“Oh yeoboseo… omoni, Dain sudah pulang kan?” tanyaku memastikan, “Apa terjadi sesuatu? Soalnya ia tidak mengangkat teleponku dari tadi.”

Omoni mengatakan bahwa Dain sudah pulang, namun ia tidak keluar kamar sejak tadi. Bahkan ia tidak ikut makan malam.

“Oh jinjjaeyo?” tanyaku agak sedikit khawatir, “Tidak apa-apa kah kalau aku berkunjung sebentar omoni? Nee…. Gamsahabnida sudah mau menungguku, nee…”

Aku menutup telepon dan segera mengendarai mobilku menuju rumah Dain, ah tidak…. Tepatnya kerumahku, memarkir mobil, dan baru kerumah Dain.

“Byunghee-ya… kamu mau kemana lagi?” tanya noona ku yang sedang menyuapi kedua anak kembarnya yang sepertinya sedang tidak nafsu makan,

“Ke rumah Hwang Dain sebentar. Tadi aku meninggalkannya berlatih sampai jam segini dan membiarkannya pulang sendiri. Aku takut ada sesuatu yang membahayakannya.”

Aku segera keluar menutup gerbang pagar dan berjalan cepat menuju rumah Dain. Entah kenapa aku memiliki sebuah intuisi yang tidak baik terhadapnya. Ahhhhh rasanya aku salah telah membiarkan ia pulang sendirian, mianhae Dain-sshi…

 

~~~~~

 

Hwang Dain story….

 

“Ya~~ ya~~ ya~~!! Kenapa tidur dengan posisi tengkurap seperti itu? Yak ironaseo, irona~~!”

Aku terbangun mendengar suara berisik yang mengganggu tidurku… ah. Apa aku tertidur? Padahal tadi rasanya aku hanya.. sedikit sedih dan…

“Yak yak yak….. kenapa wajahmu? Kenapa matamu? Eh yak~!! Ironaaaaaa~~!!” aku menyipitkan mata dan melihat Byunghee oppa di depan wajahku dengan suara yang keras dan ludah yang bermuncratan di sekitar wajahku.

“Apa itu sengaja hem?” jawabku sambil mengucek mata, “Membangunkanku dengan ludah dan teriakan seperti itu? Oppa pikir ini sudah pagi hah?”

“Ah mianhae… tapi kenapa matamu bengkak seperti itu dan…. Kenapa suaramu galak sekali? Kau mabuk ya? yak yak~!! Babo-ya~?!” Byunghhe oppa tiba-tiba menepuk nepuk pipiku dengan keras, “Apa yang kau pikirkan heh, sampai kau mabuk seperti ini?!”

“Eish apa-apaan sih?! Mabuk apanyaa?!” aku menepis tangan Byunghee oppa yang lama kelamaan seperti menamparku, “Apa oppa mencium bau alcohol di mulutku? Tidak kan?! Lalu kenapa oppa kemari?! Ini kan sudah malam~~”

Byunghee oppa terdiam sebentar dan duduk disebelahku yang rubuh karena masih sangat mengantuk, “Aku khawatir karena kau pulang sendirian. Jadi aku kesini untuk memastikan kau baik-baik saja.”

“Oppa tuh yang babo, malam-malam begini malah memikirkan orang lain bukannya diri sendi… ri,” jawabku dengan suara yang agak gemetar, “Pulanglah oppa, nae gwenchana..”

“Kojima, apanya yang baik-baik saja kalau suaramu gemetaran sambil menahan tangis seperti itu?” tanya oppa dengan nada yang agak khawatir, “Sebenarnya ada apa sih?”
“Tanya saja pada kanvas yang tengkurap di pinggiran kamar itu. Tanya padanya, kenapa ia mematahkan hatiku seperti ini? Kenapa ia membuatku terjatuh tanpa ia sadari?” jawabku sambil menunjuk kanvas bergambarkan wajah Seungho oppa. Ahhh…. Lagi lagi aku dilanda rasa kalut yang luar biasa, apa aku harus melepaskannya sedikit dengan minum soju satu sloki?

“Mwo, Seungho-sshi? joahamnika?” tanya Byunghee oppa tak percaya, “Aish, ternyata kau menyukainya ya? Hyoni-sshi itu seperti kamu untukku; tetangga sekaligus sahabat baik Seungho-sshi.”

Hatiku yang tadi terasa sangat sesak, perlahan menghilang dan menjadi ringan, “Eh, kenapa oppa bisa tahu apa maksudku sebenarnya? Bahkan aku belom mengucapkan nama yeoja itu, Hyoni-sshi.”

“Hahahaha kau ini dongsaengku, Dain-sshi… semua tentangmu sudah lama kuketahui,” jawab Byunghee oppa dengan bangga, “Hyoni-sshi menggantikan Seungho-sshi mendampingiku di ujian praktik minggu depan, karena Seungho berhalangan.”

Aku terdiam dan merasa sangat bodoh sekali, ige mwoya? Kenapa aku cemburu dengan hal yang belum pasti seperti yang tadi? Benar-benar memalukan.

“Babo-ya… kenapa tidak bilang dari tadi padaku? Aku kan bisa cepat pulang dan mendengarkan semua keluh kesahmu,” ungkap Byunghee oppa sambil menepuk nepuk kepalaku, “Tapi…. Tidak kusangka kau ternyata menyukai Seungho-sshi… tapi, waeyo?”

“Oppa tahu kan kalau aku menyukai namja yang bisa bermain piano?” jawabku malu-malu. “Yah…. Itu sebabnya aku menyukai namja itu. Waktu itu aku tak sengaja memergokinya sedang bermain piano dengan kerennya, aku jadi terpesona.”

Ah…. Sudah lama aku tak bicara masalah hati dan perasaan dengan Byunghee oppa, kami berdua semakin besar dan semakin sibuk menjalani hidup masing-masing. Tidak heran kalau sekarang aku jadi enggan bercerita masalah seperti ini ke Byunghee oppa..

Aku merasa bisa menyelesaikan masalah itu sendiri karena aku merasa sudah dewasa, tapi pada kenyataannya…. Aku masih butuh Byunghee oppa disisiku.