Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Lee Jihoon, Suju member

Cameo : Ji Sangryeol

Rating : AAbK

Genre : Romance

PS :  Ji Sangryeol adalah seorang aktor komedi kawakan (buat yang belum tahu). Dia sering jadi pemeran figuran di banyak drama dan film. Gw sih belum pernah liat dia jadi pemeran utama, tapi peran lainnya bertebaran dimana-mana.

1st published @  http://wp.me/p1rQNR-5W

 

^^^

 

Miho dan Euncha terdiam di dalam mobil. Sekarang ini mereka sedang melaju pulang setelah menemui Manajer Shinee. Manajer Suju tidak menghubungi Miho lagi, jadi mereka memilih langsung pulang.

Isi pembicaraan mereka dengan dengan Manajer Shinee tadi tidak jauh berbeda dengan yang mereka lakukan sebelumnya dengan Manajer Suju. Sepertinya manajemen utama memang sudah sepakat untuk mengontrak Miho. Miho mengusap keningnya memikirkan itu.

“SME terlalu ramai, Eunchanie. Terlalu menakutkan untukku,” dia memecah keheningan di dalam mobil. Biarpun Euncha tidak mengatakan apapun, Miho tahu bahwa adiknya sangat ingin tahu kenapa dia berkeras menolak tawaran sebagus itu.

Euncha yang memang tidak terlalu berkonsentrasi menyetir dari tadi berharap apa yang dipikirkannya setelah mendengar kata-kata Miho adalah salah. Gadis itu berusaha memastikan, “Apa maksud Eonnie?” tanyanya.

Lama Miho tidak menjawab, lalu yang dilakukannya adalah menatap Euncha. Yang ditatap tidak mengatakan apapun lagi, karena tahu Miho pasti akan mengatakan jawabannya. Tidak perlu dipaksa.

“Mereka memproduksi idola, Euncha.” Miho akhirnya berbicara setelah mobil mereka menempuh beberapa ratus meter.

Euncha memperhatikan rambu jalan di depannya. Dia menyalakan lampu sinyal untuk memasuki lajur kiri. Otaknya berpikir, “Jadi benar dugaanku.

Gadis itu bertanya pada Miho, “Eonnie, kau mau jadi apa?”

“Tujuanku adalah menjadi aktris.” Miho menjawab singkat sambil mengalihkan tatapannya lagi ke depan.

Sebenarnya Euncha sudah paham. Kakak sepupunya itu sangat tergila-gila pada idola, tapi tidak ingin jadi sorotan seperti para idola. Kejadian waktu itulah penyebab perubahannya. Wanita itu menyukai dunia gemerlap, tapi tidak ingin asal terjun ke sana.

Yang Euncha tidak paham adalah tujuan akhir Miho. Tidak pernah sekalipun Euncha melihat Miho fokus pada satu bidang. Dia terlihat sangat menikmati aktifitas fangirlingnya dan berusaha bersikap sebagai model uljjang seperti yang dilakukannya dulu, tapi tak pernah berusaha menunjukkan suatu potensi secara khusus.

Euncha merasa itulah sebab lain mengapa para agensi merasa ragu padanya. Mereka melihat Miho sebagai calon idola, bukan orang dengan bakat tertentu. Tentu saja sebagai idola, usianya sudah tidak pas lagi.

“Memang Eonnie bisa berakting?” Euncha melontarkan pertanyaannya. Nadanya sambil lalu, tapi hatinya sangat penasaran. Kenapa tiba-tiba berakting?

“Tentu saja bisa. Beberapa kali aku menjadi pemeran utama,” Miho menjawab serius.

Euncha menatap Miho terkejut. “Kapan?”

Miho menatap Euncha dan sebetik rasa bersalah melandanya, dia memang tidak pernah menceritakannya pada Euncha. “Sejak satu setengah tahun lalu aku sudah mulai berakting, Eunchanie…” katanya pelan.

“Mwo? Di film apa? Kenapa aku ga pernah liat Eonnie? Kenapa Eonnie ga pernah cerita?” nada bertanya Euncha mulai meninggi.

Miho sadar sekarang bahwa dia akan membuat Euncha sakit hati. Tapi mungkin memang inilah caranya dia memberi tahu Euncha. Selama ini dia selalu diragukan oleh pertimbangannya sendiri tentang bagaimana dia mesti membuat adiknya itu tahu kegiatan diam-diamnya. “Aku tidak main film. Aku bermain teater di atas panggung.”

Euncha menoleh cepat padanya.

“Aku bergabung dengan sekolah akting sekaligus teater kecil di dekat kampus kita. Nama teaternya The Soup House. Sudah lama aku menjadi pemain tetap di sana, tapi aku sedang vakum sejak kelulusan kita karena aku ingin berkembang. Aku katakan pada pemiliknya bahwa aku ingin berhenti, tapi dia menolak. Malah mengatakan bahwa dia hanya akan menganggapku vakum untuk sementara waktu.”

“Jadi,” sela Euncha cepat-cepat sebelum Miho melanjutkan bicaranya, “Onnie benar-benar bisa akting? Eonnie tidak berbohong?”

Miho merasa mulutnya kaku. Melihat reaksi Euncha, susah sekali mengatakan kenyataan. “Ya,” akhirnya dia menjawab dengan berat.

“Tunggu dulu. Sekali lagi, waktu Eonnie bilang di pesan-pesan twitter tentang itu, itu benar? Eonnie ga bohong? Eonnie mengatakan yang sebenarnya sama Leeteuk ssi?!”

Lagi-lagi Miho menjawab, “Ya.”

Dengan mendadak Euncha membanting setir ke kanan, berhenti tiba-tiba di bahu jalan. Untung saja dia tidak dimarahi pengguna jalan lain. Gadis itu keluar dari mobilnya dengan terburu-buru, menyambut langit sore yang mulai berubah warna. Meski matahari telah mulai surut, tapi udara masih panas. Panas sekali seperti perasaannya!

Dibantingnya pintu mobil kencang. Lalu dia mulai memukuli atap mobilnya dengan tangan membuat telapak tangannya memerah. Dia geram sekali pada Miho. Bagaimana mungkin kakaknya itu tidak pernah bercerita? Pada dia yang selalu mendampinginya. Pada dia yang selalu datang padanya hanya untuk menghilangkan kekhawatirannya. Pada dia yang setengah mati memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk membantu Miho meraih mimpinya. Padahal usahanya mencari agensi yang baik untuk Miho sudah mulai terfokus. Seleksinya hampir mendapatkan hasil, tapi Miho malah mengatakan bahwa dia sudah bergerak sendiri sejak satu setengah tahun yang lalu?! Satu setengah tahun?!

Euncha membuka pintu mobil kasar, “Satu setengah tahun?!” teriaknya pada Miho. Tanpa wanita itu menjawab pun dia sudah melihat jawabannya di sorot mata Miho. Dibantingnya lagi pintu mobil.

Dia mondar-mandir di sebelah mobilnya dengan kekesalan yang tak bisa terlukiskan. Terkadang kakinya menendang ban mobil, tangannya meremas rambutnya hingga acak-acakan, tapi paling sering dia memukul atap mobil dengan kepalannya.

Di dalam mobil Miho mendengarkan segala keributan itu dengan hati sedih. Dia memang bersalah pada Euncha. Selama ini adik sepupunya itu telah menjadi sahabatnya, pengawalnya, manajernya, saudaranya, penghiburnya, kadang malah bersikap seperti seorang ibu baginya, tak pernah meninggalkan sisinya, selalu membantunya, dan kini dia mengakui bahwa dia telah berjalan sendiri selama satu setengah tahun? Pasti Euncha merasa sangat ditinggalkan.

Diliriknya kaca spion, lalu keluar dari mobil. Susah payah dia berusaha berdiri. Sakit kakinya tidak ada bandingannya dengan sakit hati Euncha. Sebelum berkata, dia menggigit bibirnya, “Eunchanie, maafkan aku.”

Yang dipangil hanya menatapnya tajam tanpa mengatakan apapun. Miho menyadari bahwa adiknya itu bahkan sudah kehilangan kata-kata untuk marah. Langit sore yang berwarna jingga seakan berubah semakin merah di belakang Euncha karena dihiasi aura kemarahannya. Gadis itu terus mondar-mandir tanpa melepaskan tatapannya dari Miho. Tangannya sesekali menuding muka Miho seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi lalu diturunkan lagi dengan kesal.

Ketika akhirnya amarahnya berhasil dikendalikan, Euncha berkata, “Eonnie mengatakannya pada Leeteuk ssi tanpa berpikir. Saat kalian baru kenal. Tak cukup peduli mengatakannya padaku yang sudah menemanimu bertahun-tahun, eh?!” suaranya bergetar.

“Ani, bukan begitu—“

“Cukup! Aku mendengarnya bersama dengan mereka yang baru mengenal Eonnie tadi pagi. Joha! Sekarang aku tahu dianggap apa aku ini oleh Eonnie!”

“Euncha, aku hanya ga punya kesempatan menjelaskannya padamu…”

“Ketika Eonnie mengatakan di pesan pada Leeteuk bahwa Eonnie bisa akting! Itu satu kesempatan! Kau punya sepanjang malam untuk menjelaskannya!” seru Euncha kesal. Kemarahannya berlanjut, “Ani, bukan sepanjang malam, sepanjang tahun! Tapi aku tak pernah cukup berharga untuk kau perhitungkan sebagai orang penting dalam hidupmu, kan?! Aku cuman pengikutmu yang setia,”

Miho menggeleng-geleng keras berusaha membantah.

Tapi Euncha tidak peduli. “Mending dianggep pengikut. Mungkin kau malah cuman menganggapku sebagai supir! Atau pembantu!” itulah perasaannya.

“Bukan! Kau adikku!”

Euncha mendengus jahat. “Oh ya? Kedengarannya seperti hoax!” lalu dia segera memasuki mobil dan menutup pintunya kasar.

Miho buru-buru mengikutinya ke dalam mobil. Kakinya nyeri, tapi perasaan Euncha lebih penting. “Eunchanie, itu benar. Aku ga mau—“

“Pasang sabukmu!” seru Euncha kasar yang langsung diikuti oleh Miho. Dalam situasi biasa, Miho pasti sudah mengamuk diperlakukan begitu, tapi kali ini dia mengkhawatirkan Euncha lebih dari apapun.

Begitu sabuk Miho terpasang, Euncha mendengus marah, “Jangan bicara apapun padaku!” lalu terdengarlah bunyi ban berdecit karena tiba-tiba bergesekan dengan aspal.

Euncha menginjak gasnya langsung dalam. Tidak seperti waktu hendak berhenti tadi, kali ini tindakannya mengundang bunyi klakson dari banyak mobil yang melintas dari belakang mereka. Euncha tidak peduli. Dia tetap menyetir sambil kesetanan. Speedometernya bergetar di angka lebih dari 120km/h, padahal jalanan sedang ramai karena banyak orang sedang pulang kantor. Miho ketakutan di bangkunya. Mulutnya tak mampu mengucapkan apapun yang tadi hendak diucapkannya. Mobil itu kini meliuk-liuk di jalanan yang penuh. Miho mengakui untuk gerak refleks, Euncha memang jauh lebih unggul darinya.

Akibat tingkah Euncha, mereka sampai di rumah Miho setengah waktu dari yang biasanya diperlukan. Euncha mendiamkan Miho sampai kakaknya itu turun dari mobil lalu segera melesat pergi. Tidak terlintas sedikitpun dalam pikirannya untuk membantu Miho memasuki rumah. Kepergiannya dipandangi dengan sedih oleh Miho. Begitu mobil adiknya tak terlihat lagi, dia tertatih pelan memasuki rumah.

Di dalam rumah dia menerima begitu saja omelan ayahnya karena berita yang didapat pria itu di kantornya, serta kalimat-kalimat kekhawatiran ibunya. Pikirannya penuh dengan perasaan Euncha yang terluka.

Miho tidak sadar kapan dia memasuki kamarnya, kapan dia berganti baju dan berbaring nyalang di atas kasurnya. Dia terkejut ketika mendengar ponselnya berbunyi. “Yoboseyo,” katanya tanpa melihat pemanggilnya.

“Waah, uri Miho sudah berhasil jadi terkenal, sekarang?” terdengar suara riang di seberang telepon. Saat itulah kesadaran melandanya.

“Oppaaaaa~” serunya panik begitu mendengar suara Lee Jihoon. “Eunchanie, Eunchanie marah padaku, Oppa~” kemudian kata demi kata pun mengalir membentuk cerita dari mulut Miho.

^^^

 

Leeteuk memandangi monitor ponselnya. Di sana terpampang nomor Miho. Dia baru saja pulang, dan sekarang sedang duduk malas-malasan di sofa depan tv. Member lain sudah tidur, atau belum pulang.

Sebelumnya, Manajer Hyung baru saja pulang setelah mendampingi Suju KRY. Pria itu kemudian mengajaknya bicara serius empat mata, yang membuatnya heran, sebab biasanya kalau ada yang serius, Manajer akan menunda pembicaraan hingga besok pagi, malamnya paling hanya pemberitahuan. Tapi sepertinya ini masalah serius karena Manajer ingin bicara saat itu juga.

Setelah didengarkan, ternyata manajer memberi tahu bahwa manajemen sekarang benar-benar ingin merekrut Miho. Lee Sooman tampak benar-benar penasaran setelah tahu bujukan Manajer Suju dan Shinee sama-sama tidak mempan. Lalu pria itu meminta Leeteuk membantu. Menggunakan ‘hubungan’ yang sudah ada, mereka ingin Leeteuk ikut membujuk Miho.

Leeteuk benar-benar bingung. Di satu sisi, dia bukan orang yang ber’hubungan’ dengan Miho selama ini, tapi Eunhyuk. Di sisi lain, Manajer Hyung berulang kali mengingatkannya agar jangan sampai orang lain tahu, jadi dia tidak bisa memberi tahu Eunhyuk untuk membantunya. Dalam hati sih, Leeteuk mendukung jika Miho menjadi juniornya, tapi dengan cara ini, dia merasa kurang setuju. Apakah sekarang dia harus menghubungi Miho?

Tadi siang, Leeteuk mendengarkan penjelasan Miho dan Euncha sambil senyum-senyum. Tingkah kedua gadis itu begitu lucu karena merasa bersalah. Leeteuk menahan seluruh komentarnya hanya demi menikmati ekspresi keduanya yang sangat menarik. Dia bahkan berpura-pura memasang wajah datar untuk membuat keduanya mengira dia marah. Hampir saja dia tak mampu menahan tawanya tadi.

Akhirnya, ketika keduanya mengakhiri penjelasan mereka, Leeteuk harus menarik nafas berulang kali yang justru membuatnya makin ingin tertawa sebab kedua gadis itu mengira dia sedang mengendalikan amarahnya. Leeteuk tersenyum lagi mengingat itu.

Pada akhirnya, dia menyerah pada perasaannya. Tidak tega rasanya membiarkan kedua wajah cantik itu berlipat-lipat, jadi dia mengatakan bahwa sebenarnya tidak marah sama sekali. Malah senang karena Miho adalah wanita tulen. Jadi instingnya selama ini tidak salah.

Mereka kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Leeteuk mengakui bahwa keduanya memiliki kepribadian yang menarik. Euncha gadis polos yang tegas, sementara Miho memiliki kepribadian unik yang berlapis-lapis. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya beraurakan seorang bintang. Pembawaan dirinya, caranya menjawab pertanyaan, sikap tubuhnya, semua menunjukkan seolah dia memang terlahir untuk berada di depan kamera. Ketika keinginan Leeteuk ke toilet sudah tidak bisa ditahan lagi, pria itu meminta nomor Miho dan Euncha, dan mereka akhirnya bertukar nomor ponsel. Sebelum berpisah, Leeteuk tiba-tiba teringat sesuatu.

“Ah jam. Tetap rahasiakan identitasmu, ya Miho-ya,” ujarnya waktu itu pada Miho dengan lebih akrab.

“Kenapa?” Miho mengerutkan kening.

“Aku ingin mengerjai Eunhyuk. Dia sudah hampir membuatku terpojok tadi. Hihihiii,” dia mulai tertawa membayangkan betapa konyolnya Eunhyuk nanti. Dongsaengnya yang satu itu memang paling berbakat untuk dikerjai.

Miho dan Euncha saling berpandangan melihat tingkah aneh Leeteuk. Ternyata hobinya menjahili orang itu bukan hanya di depan kamera. Pria itu menambahkan sambil tetap tertawa, “Ah maaf, maksudku, kalau tidak ditanya, kau tidak usah menjelaskannya, Miho-ya. Kan jadinya kau tidak perlu berbohong.. Ya? Ya? Ya?” Leeteuk membujuk Miho dengan tampang manis, membuat gadis itu tak bisa berbuat apapun kecuali mengangguk. Leeteuk senang Miho menurutinya. Gadis manis.

Sekarang, di dormnya, pandangan Leeteuk kembali ke ponselnya. Haruskah dia menuruti kata Manajer Hyung? Ah, kalau hanya menelepon kan tidak masalah. Hitung-hitung perhatian pada gadis cantik, pikirnya. Ditekannya tombol dial.

 

^^^

 

Setelah bercerita dengan Lee Jihoon, Miho merasa sedikit lega. Lelaki itu menyarankannya agar menunggu hingga esok hari untuk meminta maaf. “Malam ini biarkan Euncha tenang dulu,” begitu kata profesor yang lebih seperti kakaknya itu. Dengan kalimat itu, mereka mengakhiri sambungan telepon mereka. Miho berusaha menenangkan perasaannya dengan memeluk guling. Matanya dipejamkan hanya agar lebih tenang.

Ponselnya berbunyi lagi. Jihoon Oppa lagi kah? Aish, orang satu itu memang sering lupa. Pasti dia tadi menelepon untuk mengatakan sesuatu, tapi karena Miho terlanjur curhat, dia jadi lupa. Tanpa membuka mata, Miho mengangkat teleponnya. “Ne, Oppa?”

“Wah, kau seperti sudah tahu aku akan menelepon. Jangan-jangan kau benar-benar gumiho ya?” kata suara di seberang telepon. Itu bukan suara Jihoon. Miho membuka matanya.

“Siapa nih?” tanyanya waspada mendengar nada sok akrab di telinganya.

“Ini Oppa.”

“Oppa siapa?” Miho menjauhkan ponselnya agar dapat melihat identitas peneleponnya. Omo, Leeteuk! Cepat-cepat dia meralat kata-katanya, “Oh, Leeteuk Oppa~” katanya bersamaan dengan suara Leeteuk dari seberang dengan nada memprotes,

“Ya! Masa kau langsung lupa dengan orang yang bertukar nomor telepon denganmu tadi siang?!”

Miho mengeluarkan tawa permintaan maaf sambil duduk. “Mian, Oppa. Aku pikir Jihoon Oppa. Dia barusan telepon aku, jadi aku pikir dia meneleponku lagi karena ada yang lupa dikatakannya.”

Leeteuk terdiam sejenak mendengar penjelasan Miho. Siapa Jihoon Oppa? Jangan-jangan Miho sudah punya pacar? Tapi kalaupun sudah, apa hubungannya dengan dia? Kenapa dia harus merasa kecewa? “Ah, hehe, kupikir kau sudah lupa pada suaraku,” Leeteuk menutupi kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Dia merebahkan tubuhnya tengkurap di sofa sambil bertanya, “Bagaimana kakimu, Miho-ya?”

 

^^^

 

Eunhyuk bangun dari tempat tidurnya dengan mata setengah terbuka. Kesadarannya yang hanya setengah-setengah langsung meningkat begitu terkena cahaya lampu ruang tengah yang masih menyala. Siapa yang masih bangun? Setahunya tadi kecuali Heechul dan Sungmin Hyung yang masih ada kegiatan, semuanya sudah pergi tidur. Ah, itu tidak penting. Sekarang urusan kandung kemihnya lebih mendesak. Dia kemudian berjalan terseok-seok ke arah kamar mandi.

Keluar kamar mandi, kesadarannya sudah hampir pulih sepenuhnya, maka dia pun berjalan hendak mematikan lampu karena dikiranya siapapun yang terakhir tidur tadi pasti lupa mematikan lampu. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang berbicara. Dilongokkannya kepala dan mendapati punggung Leeteuk sedang terpampang di sofa. Satu tangannya menyangga kepala sementara tangan lainnya menekuk menahan telepon di telinga. Ngapain Leeteuk Hyung telepon sambil tengkurap begitu?

Eunhyuk sudah hampir menyepak kaki Leeteuk yang terjuntai dari sofa di dekat kakinya ketika terdengar olehnya Leeteuk berkata, “Jadi Minho benar-benar merasa bersalah sudah membuatmu terluka? “

Siapa? Minho? Membuat luka siapa? Wah, gosip nih, Eunhyuk mengurungkan niatnya mengageti Leeteuk dan malah memasang sikap menguping.

“Ya, ya, Miho-ya! Kau jangan naif begitu! Emang ada jaminannya Minho tidak sengaja mendekatimu?! Waktu dia menggendongmu kemarin, aku rasa dia senyum-senyum kegirangan. Kau saja yang tidak melihatnya!”

Krek. Eunhyuk terbelah.

Satu sisi tubuhnya merinding karena Leeteuk berakrab-akrab ria dengan makhluk jadi-jadian di telepon, sementara sisi lainnya merasa marah untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan.

Tiba-tiba bayangan Miho melintas di kepalanya. Lengan gadis itu tadi siang berkilau sedikit karena keringat yang mulai timbul. Meskipun kakinya kali itu tertutup rapat oleh celana, tapi lekuk tubuhnya yang indah masih jelas terbayang dalam benak Eunhyuk. Di wajahnya, poni menutupi dahinya, sehingga perhatian Eunhyuk langsung terpusat pada bibirnya yang tampak basah. Sebagai lelaki, dia tergugah dengan semua keindahan itu. Sebagai lelaki dia nelangsa karena itu semua hanya buatan.

“Percaya saja padaku. Begini-begini Oppa lebih tua setahun darimu, jadi lebih berpengalaman. Oppa juga kan lelaki, jadi tahu apa isi pikiran lelaki lain,” terdengar suara Leeteuk lagi. Tidak merasa bahwa Eunhyuk mendengar jelas setiap katanya.

Kedua belahan Eunhyuk ambrol berkeping-keping. OPPA?! Cukup. Dia harus kembali tidur. Ini semua pasti hanya mimpi! Seandainya ini kenyataan pun, dia bertekad tidak akan menerimanya. Kenapa Leeteuk harus menjadi Oppa-nya Miho?!

Dengan tubuh segoyah cara jalannya saat keluar kamar tadi, Eunhyuk kembali memasuki kamar. Malam ini sepertinya dia akan tersiksa dalam tidur.

 

^^^

 

Keesokan paginya, Miho terbangun dengan tangan memegang ponsel. Tadi malam dia langsung terlelap begitu mengucapkan selamat malam pada Leeteuk. Dasar MC, ada saja yang dibicarakan pria itu. Dan semuanya seru, sehingga mencegah Miho mengantuk. Rasa kantuknya baru terasa begitu suara Leeteuk menghilang setelah telepon ditutup, rasa kantuk yang teramat sangat. Untuk sesaat gadis itu melupakan kemarahan Euncha, sehingga malam itu dia tertidur dengan lelap.

Pagi ini hal itu datang lagi. Kemarahan Euncha langsung memenuhi pikirannya. Dia hampir saja menekan tobol 3, speed-dial untuk Euncha, ketika diingatnya nasihat Jihoon Oppa tadi malam. Dia harus tenang dan berpikiran jernih sebelum berusaha berdamai dengan Euncha. Maka Miho pun membatalkan niatnya menelepon Euncha. Dia harus berusaha menenangkan hatinya dulu dan merangkai kata-kata yang tepat sebelum menghubungi Euncha.

Dilihatnya jam di ponselnya, sudah pukul 10. Astaga, ibunya pasti marah sekali padanya. Baru dia hendak turun dari tempat tidur, ponsel dalam genggamannya itu berbunyi. Identitas peneleponnya tertera di layar. Ji Sangryeol Sajangnim, pemilik The Soup House. Ada apa orang itu meneleponnya? “Yo—, ehm!” Miho membersihkan kerongkongannya yang terasa kering sehabis bangun tidur. “Yoboseyo,” ulangnya.

“Miho-ya! Apa kabar uri artis?!” Sangryeol Sajangnim berseru gembira mendengar suara Miho.

Senyum tipis Miho terbit. Lelaki ini selalu berisik dan menyenangkan. “Baik, Sajangnim. Bagaimana dengan anda?”

“Aku baik sekali! Kami punya lakonan baru! Kau harus bergabung! Apalagi kau sudah masuk tv sekarang! Hahahaha!” seperti biasa, lelaki itu bicara seolah-olah dikejar tanda seru.

Lagi-lagi Miho tersenyum. Kali ini dia melakukannya sambil berusaha turun dari tempat tidur. “Ahaha, Sajangnim. Anda kan tahu aku sedang—“ ucapannya terputus melihat kondisi kakinya. Bengkak sekali. Anehnya Miho sama sekali tidak merasa apa-apa. Benar-benar tanpa rasa. Dia mencoba menggerakkan kakinya, tapi tak ada rasa sama sekali. Kakinya mati rasa.

“Miho-ya?!” seru Sangryeol Sajangnim karena kata-kata Miho tiba-tiba terputus.

“—eh, eh, iya, Sajangnim. Maaf karena terputus. Ada apa?” tanyanya gugup.

“Kau ini bagaimana? Tadi kan kau yang sedang bicara. Tapi sudahlah, biar aku yang bicara dulu. Begini, kau main lagi ya? Kali ini kami sangat membutuhkan pemeran utama.” Sangryeol mengungkapkan tujuannya menelepon Miho tanpa basa-basi lagi.

Miho mengangkat wajahnya. Dia mendapat tawaran lagi. Kebetulan tabungannya sudah menipis. Tapi, Miho menggeleng, selain kakinya yang sedang sakit, dia kan sudah bertekad akan serius mencari agensi dulu. “Ah, maaf Sajangnim—“

“Aku tahu, aku tahu, kau sedang vakum,” Sangryeol memutus ucapan Miho. “Tapi lakon ini benar-benar menarik. Aku tak bisa membayangkan yang lain memerankannya. Sangat bagus!” tandasnya.

Miho menyentuh bengkaknya. Paling tidak kulitnya masih bisa merasa. “Sajangnim…” Miho menjawab enggan.

“Begini sajalah, aku berikan padamu script-nya. Kau lihat dulu, baru kau putuskan. Oke?”

Miho membiarkan desahnya terdengar jelas di telepon agar pria itu tahu dia keberatan, tapi Sangryeol malah berkata, “Oke, begitu saja! Aku kirimkan naskahnya lewat kampusmu seperti biasa ya? Ah!” Miho mendengar sesuatu ditepuk keras, “Aku lupa. Kau sudah tidak di kampus itu kan? Kau sudah lulus ya? Selamat! Selamat!”

Akhirnya Miho tertawa juga. Sajangnim benar-benar orang yang aneh. Miho rasa itulah sebabnya rumah teaternya tidak bisa berkembang pesat, padahal isinya manusia-manusia berbakat. Memikirkan nasib rumah teater itu, Miho jadi tidak tega. Bagaimanapun, di sanalah dia mendapat semua bekal yang diperlukannya. “Langsung kirimkan ke alamatku saja, Sajangnim. Ini alamatnya,” Miho lalu menyebutkan alamat rumahnya.

Sewaktu Miho hendak mengakhiri teleponnya, Sangryeol berkata lagi, “Ah, Miho-ya. Aku mengatakan ini bukan semata-mata agar kau menerima tawaranku, oke? Tapi nanti, ada temannya saudaraku yang akan datang menyaksikan. Kau tahu Sanghee, kan? Sepupuku yang penulis skenario itu. Dia mengatakan pada temannya mengenai The Soup House, dan mengundangnya datang saat lakonan ini dipentaskan, sebab dia yang menulis skenarionya.”

Miho agak bingung. Oke, jadi scriptnya ditulis oleh penulis skenario komersil, Sanghee Eonni, sepupu Sangryeol Sajangnim—Miho memang pernah berkenalan dengannya sekali, tapi lalu kenapa? Memang kenapa kalau teman Sanghee Eonnie datang melihat pementasan itu? “Lalu?” tanyanya pada Sangryeol.

“Ya, temannya Sanghee itu seorang pencari bakat. Bukan dari agensi besar, tapi kudengar artis-artisnya bisa konsisten bertahan di dunia akting, bukan artis sekali tampil. Agensinya cukup bagus. Apa ya namanya? Mar.. Marsela.. ah, bukan, Maret? Tidak mungkin, Markonah? Rasanya bukan. Mars.. ya! Mars! Eh, itu kan nama planet ya?”

Miho geli dan perutnya mulai kaku menahan tawa mendengar gejala linglung Sangryeol kumat. Pria itu masih terus berusaha mengingat, “Marsen? Maria? Marsalah? Kok kaya marsalah tak henti-henti… Mara..maraton? Mars.. AH! Aku ingat! Marcel! Marcel Entertainment! Itu namanya.”

Miho mengerutkan kening. Marcel? Kok dia tidak pernah dengar? “Artisnya siapa saja, Sajangnim?”

“Aku hanya diberi tahu, dulu Lee Beomsu berangkat dari agensi ini. Begitu namanya terkenal, dia tidak lagi memperpanjang kontraknya. Kalau yang lain, aku tidak tanya. Tidak ada waktu karena aku bicara dengan Sanghee hanya lewat telepon.”

Lee Beomsu?! Lee Beomsu yang ITU?! Wah, kalau benar begitu, Miho mau mencoba. Tapi dia tidak akan semudah itu menyerah. Dia berusaha menenangkan suaranya, “Oh, begitu. Baiklah,” ujarnya sedatar mungkin. “Aku tunggu dan lihat dulu naskahnya ya, Sajangnim.”

“O. Bagus, bagus! Aku yakin kau pasti menyukainya. Pasti! Ini bagus sekali! Kalau begitu sudah dulu ya? Aku harus mengawasi anak-anak berlatih!” Sangryeol berpamitan pada Miho.

Miho membalas dan mengucapkan salam perpisahan. Setelah poselnya mati, tawanya terlepas. Ah, dia jadi lupa pada kemarahan Euncha. Hatinya menjadi sedikit lebih ringan menyadari itu. Sebaiknya dia segera mandi dan minta ditemani ibunya pergi ke dokter. Setelah dari dokter dia akan langsung ke rumah Euncha, membujuk adik manja tersayangnya itu.

Miho keluar dari kamarnya dan mendapati rumahnya sepi. Tidak terasa ada keberadaan ibunya di rumah itu. Telinganya tidak menangkap suara gelombang tv yang biasa dinyalakan ibunya sambil membereskan rumah. “Eomma?” panggilnya agak keras. Ketika tidak ada jawaban, dia tidak terkejut, tapi penasaran kemana eommanya pergi. Pelan dituruninya tangga, lalu melongok ke setiap ruang satu per satu. Di ruang makan dia menemukan secarik kertas di atas meja.

“Eomma menemani appa ke kantor. Ada acara di sana. Mungkin pulangnya agak malam. Nasi sudah ada, kalau mau sarapan kau buat sendiri makananmu ya? Kalau kau pergi hari ini, jangan pulang malam-malam. Ingat kakimu sedang sakit. Tadi pagi Eomma melihat bengkaknya parah sekali.”

Miho mengerucutkan mulutnya. Tidak ada Eomma. Ya sudah, memangnya dia tidak bisa ke rumah sakit sendiri? Dia kan sudah besar, putus Miho sambil meletakkan kembali kertas pesan Eommanya di atas meja.

Selanjutnya, Miho tidak membuang waktu lagi. Dia mandi secepatnya dan melewatkan sarapan. Saat hendak keluar, Miho kepikiran untuk meninggalkan pesan. Tapi niat itu diurungkannya karena toh dia hanya akan pergi ke rumah sakit sebentar saja. Akhirnya dia meninggalkan rumah begitu saja.

Perjalanan menuju rumah sakit lama sekali. Naik busnya hanya sebentar, tapi untuk berjalan dari rumah ke halte bus itu yang lama sekali. Belum lagi untuk naik-turun bus. Miho jadi merasa tidak enak pada supir bus yang harus menunggunya lama-lama hanya untuk turun dari bus. Miho baru mencapai rumah sakit 2 jam kemudian, padahal biasanya dia bisa ke sana dalam waktu hanya 45 menit. Menyadari catatan waktunya, Miho meringis sambil mengelap peluh. Andai saja dia punya uang, dia akan sudah naik taksi.

Dokter mengatakan bahwa Miho terlalu memaksakan kakinya. Sejak terkilir yang pertama itu seharusnya dia benar-benar mengistirahatkan kakinya—maksud dokter itu dengan mengistirahatkan adalah tidak bergerak sama sekali—di rumah. Miho menyadari dia tidak melakukan itu. Habis bagaimana lagi? Urusannya tiba-tiba jadi banyak. Kali ini dokter memberinya obat lebih banyak dan salep yang bisa mengurangi bengkaknya. Dokter itu juga mengatakan bahwa dia berharap Miho bisa merasa sakit lagi karena itu berita yang lebih baik daripada mati rasa pada otot. Miho sudah menduganya.

Miho keluar dari rumah sakit sambil bertekad untuk segera pulang dan istirahat di rumah. Tapi nanti, setelah makan. Ini sudah lewat waktu makan siang, dan sejak semalam dia tidak makan apapun, jadi tidak heran kalau perutnya lapar sekali. Gadis itu kemudian mengarahkan kakinya ke pertokoan di dekat rumah sakit. Harapannya dia akan bisa menemukan warung makan yang cukup murah untuk mengisi perutnya.

Saat sedang berjalan tertatih-tatih, seseorang menyenggolnya hingga dia tersungkur jatuh ke trotoar. Hati Miho langsung panas, tapi akalnya masih lebih memegang kontrol jadi dia berusaha bangkit sambil menunggu orang yang menabraknya meminta maaf karena Miho bisa melihat kaki orang itu masih ada di hadapannya.

Bukannya permintaan maaf yang didapatnya, malah dia tersungkur lagi karena seseorang mendorongnya dari belakang. Sesaat keterkejutan melandanya, tapi kemudian kemarahan menguasainya semakin cepat. Miho berusaha bangkit lagi. Baru setengah dia berdiri, dia didorong lagi, untung kali ini tidak sampai jatuh karena dia sempat berpegangan pada dinding toko di sebelahnya. Menyadari bahwa pendorongnya melakukan itu dengan sengaja, Miho berteriak kesal, “YHA!”

Lalu matanya tertumbuk pada seorang gadis remaja bertampang preman. Gadis itu bergaya selengekan dan tak peduli meskipun orang-orang mulai memperhatikan mereka. Lalu Miho melihat penyerangnya yang lain. Ada dua orang gadis lagi di sana, dan semuanya masih SMA. Apa yang dilakukan anak SMA jam segini di pertokoan? Bukannya mereka masih harus sekolah ya? Pikir Miho dengan geram.

“Oh-ho! Berani juga dia ternyata!” seru salah seorang yang Miho pikir bertindak sebagai pemimpin dari dua orang yang lain.

Mereka mengamati Miho dengan ganas. Melihat gelagat mereka, Miho berfirasat bahwa ketiganya sengaja mencari masalah dengannya. Dasar preman kecil. Mereka pikir dia akan takut? Begini-begini juga dulu dia sempat menjadi penguasa Dongdaemun. Meskipun ini bukan Dongdaemun, tapi mereka ini tetap saja anak kecil yang sok hebat. “Minggir kalian,” Miho berkata datar. Mukanya tampak bosan.

Seseorang mendesis memperingatkan. Cewek yang sedari tadi mondar-mandir mengawasinya berkata, “Jadi ini cewek sok imut yang menampar Minmin…”

Minmin? Siapa Minmin? Miho tidak kenal seorang pun bernama Minmin.

Plak, cewek tadi menampar pipinya pelan. “Siapa kau, berani menampar uri Minmin, hah?!”

“IIish,” Miho mendesis kesal. Secara otomatis tangannya menampar balik cewek tadi. Tidak sekeras yang diinginkannya sih, tapi cukuplah untuk membuat cewek itu menahan malu. “Jaga bicaramu, anak kecil! Sopanlah sama org yang lebih tua!” katanya dengan nada tak kalah sok berkuasa.

“YHA!” kedua pengikut cewek tadi meneriakinya. Tidak terima pemimpinnya dipermalukan.  Cewek pemimpin tadi memberi isyarat pada pengikutnya. Tiba-tiba saja salah seorang di antara mereka sudah menjambak rambut Miho, sementara yang lain memelintir tangannya. Bersama keduanya menarik Miho memasuki suatu celah di antara dua bangunan. Celah sempit yang kotor dan suram. Tempat yang sangat Miho benci karena mengundang ketakutannya.

“Ya! Ya! Apa yang kalian lakukan?!” teriaknya berusaha berontak. Usahanya tidak membuahkan hasil sebab selain mereka mengunci kepala dan tangannya, kakinya juga tak mau diajak bekerja sama. Miho merasakan bahwa sekarang betisnya ikut kebas.

Di dalam celah yang biasa orang disebut gang itu, kedua gadis yang mencengkeramnya melempar tubuhnya dengan kasar ke lantai. Lalu cewek yang tadi menamparnya muncul entah dari mana dengan tong sampah cukup besar di tangannya. Tanpa basa-basi cewek itu menuangkan apapun yang ada di dalam tong sampah itu ke tubuh Miho. Wanita itu berteriak terkejut.

Cukup sudah! Dia tidak melakukan kesalahan apapun tapi mendapat perlakuan seperti ini, di gang kotor pula! Tidak mengingat kakinya dia bangun dan langsung menyerang mereka bertiga tanpa ampun. Dalam waktu sekejap, terjadilah perkelahian yang tidak seimbang antara Miho dan ketiga gadis remaja itu. Berbekal keterampilannya saat masih remaja dulu, Miho bisa sedikit berada di atas angin melawan ketiganya yang mulai tampak kepayahan. Kemarahan sepertinya jadi motivasi kuat untuk bisa menang dalam kondisi terpuruk.

Sebentar saja, keributan mereka telah mengundang perhatian banyak orang. Di antara mereka rupanya ada yang memanggil polisi karena kemudian terdengar suara peluit ditiup keras tepat saat Miho akan menonjok muka si cewek tengil pemimpin dua cewek lainnya.

Si polisi bertindak cepat dan tegas melerai mereka lalu menggiring keempatnya ke kantor polisi terdekat.

Baru di kantor polisi Miho tahu kenapa dia diserang. Sungguh menyedihkan, ternyata mereka bertiga itu Flames, alias fansnya Minho. Mengetahui hal itu Miho merasa jengkel sekaligus tak berdaya.

“Makanya, kenapa kalian menyerangnya?!” tanya polisi yang menginterogasi mereka kepada cewek-cewek yang menyerang Miho.

Mereka memasang tampang kesal karena kalah sambil berseru pada polisi itu, “Kan tadi kami sudah bilang! Karena dia menampar Minho!”

Polisi itu mengerjapkan matanya. Ketiga cewek ini sudah beberapa kali masuk ke kantor polisi ini karena berbuat onar. Bahkan saat mereka menghubungi sekolahnya, tak ada yang mau menjamin ketiganya untuk dibebaskan. Mereka terlalu banyak bikin onar. Jadi, kalau sekarang dilaporkan ketiganya menyerang seorang pejalan kaki, dia sudah tidak heran lagi. “Lalu Minho itu… nuguya?” tanya pak polisi dengan sengaja memasang tampang menyebalkan.

Salah satu di antara ketiganya mendesis marah, “Bapak ini ga pernah nonton tv ya?! Dia itu sering banget ada di tv! Anggotanya Shinee, Pak… Shinee!”

Tentu saja pak polisi itu tahu Shinee. Hanya saja dia tidak memperhatikan gosip terbarunya. Memang ada anggotanya yang ditampar cewek ya? Pak polisi itu melirik cewek yang diserang ketiga remaja tadi. Wah, cantik juga. Sayang badannya dekil dan kotor. Mana mungkin orang biasa seperti cewek ini bisa mendekati Minho yang anggota Shinee. “Eiish, kalian jangan bikin gosip. Ngapain dia nampar Minho?” tanyanya.

Ketiga cewek tadi langsung ribut. “Kami tidak bohong, memang dia yang nampar Minho! Alasannya Bapak tanya sendiri aja padanya. Kami juga ga tahu!”

“Kalian ini jangan ribut!” polisi itu menggebrak meja membuat ketiganya langsung terdiam. Miho menguap. “Agashi!” polisi itu kini mengarahkan perhatian padanya. “Anda sedang berada di kantor polisi! Sopan sedikit!” rupanya dia tidak senang melihat Miho menguap.

“Jogiyo, Gyeongchalnim! Saya ini korban, jadi anda tidak perlu marah-marah pada saya.” Miho berujar bosan.

Polisi itu hampir saja mendengus kalau ketiga cewek pembuat onar itu tidak lantas membuat protes penuh keributan. “Bohong! Kami yang dipukulinya! Lihat, Pak! Kami luka-luka begini! Ini parah!” protes mereka berusaha memfitnah Miho.

Untuk memukul pasti ada alasan, kecuali seseorang itu psikopat. Jadi, polisi itu berpaling pada Miho, bertanya dengan lebih sopan, “Anda mengenal mereka, Agashi?”

“Tidak,” Miho menjawab tegas.

“Lalu kenapa anda memukul mereka?”

“Untuk membela diri. Mereka menyerang saya duluan.”

Pak polisi itu berpaling pada ketiganya. “Benar begitu?” tanya Pak Polisi pada cewek-cewek berandal itu.

Mereka masih berusaha menghindar, “Kami hanya memberinya teguran karena sudah menyakiti Minho.”

Polisi itu mengusap wajahnya tidak sabar. Ada apa sih dengan remaja sekarang? Kalau tidak suka langsung memukul. Terlepas dari cantik tidaknya si korban, polisi itu sudah seringkali mengurusi kasus yang melibatkan kekerasan perilaku ketiga remaja di depannya ini, jadi dia sudah bisa membayangkan ‘teguran’ macam apa yang dilakukan ketiganya pada si korban. Kalaupun sekarang mereka benar-benar tidak terima, lalu kenapa? Memangnya Minho mengenal mereka? Memangnya kalau mereka menyakiti gadis ini Minho si bintang itu akan memperhatikan mereka?

Brak! Dia memukul meja. “Memangnya kalian siapa? Polisi khusus Minho?! Polisi saja tidak boleh menghukum orang sembarangan, kalian tahu?! Itu urusan pengadilan! Lalu kalian apa? Pengadilan? Sekolah saja tidak becus, bagaimana kalian bisa membedakan mana yang adil mana yang tidak?! Kalian tidak akan kubiarkan pulang. Malam ini kalian bertiga menginap di sel!”

Mereka bertiga memprotes. Berteriak-teriak mengatakan bahwa ini tidak adil. Mereka hanya ingin memberi pelajaran pada orang yang sudah memukul Minho mereka, kenapa malah dihukum? Seharusnya wanita itu yang dihukum, teriak mereka. Karena ribut, pak polisi menyuruh bawahannya untuk menyeret ketiganya pergi dari situ, lalu mengalihkan perhatiannya pada Miho.

“Jadi, Go.. Go Miho ssi?” tanyanya sambil mengerutkan kening. Nama yang aneh.

“Ne,” jawab Miho singkat.

“Alamat?”

Miho menyebutkan alamatnya.

“Umur?”

“27.”

Pak Polisi terkejut. Miho sudah biasa melihatnya, jadi dia berkata enteng, “Anda ingin melihat kartu identitas saya?”

Polisi itu menggeleng buru-buru untuk menghilangkan lamunannya, lalu melanjutkan, “Ah, Ne. Bisa anda mengatakan apa yang terjadi?” tanyanya sambil mengambil kartu identitas yang diulurkan Miho.

“Saya sedang berjalan, tiba-tiba mereka menyerang saya, menyeret saya ke gang, menuangkan isi tong sampah ke tubuh saya, dan meneruskan menyerang saya lagi.” Miho mengatakannya dengan lugas.

Jadi itu kenapa tubuhnya dekil sekali, pikir polisi itu. “Apa yang anda lakukan di daerah situ?”

“Mencari makan siang,” jawab Miho.

Pak polisi mendesis kecil, “Tapi bukankah itu sudah lewat waktu makan siang?”

“Ya, karena sebelumnya saya harus ke rumah sakit dulu. Kaki saya sedang terluka.”

Pak polisi bangkit dari duduknya berusaha melihat kaki Miho yang terluka. Dia cukup terkejut bahwa lukanya berupa bengkak yang cukup besar. Dia memandang wajah Miho dengan waspada. Sepertinya cewek ini bukan cewek biasa. Bahkan dengan kaki seperti itu, dia bisa mengalahkan ketiga setan kecil itu. “Anda hebat sekali.”

“Hah?” Miho bingung. Apa maksud polisi itu?

“Ah, tidak,” Pak Polisi menyadari dia keceplosan. “Baiklah, laporannya sudah saya tulis. Tapi karena anda juga melakukan pemukulan, saya tidak bisa membiarkan anda pergi begitu saja. Harus ada orang yang menjamin anda sebelum pergi. Anda bisa menelepon siapa saja untuk menjadi penjamin anda.”

Miho terkejut mendengar itu. Apa dia akan tertahan di sini sampai malam? Ayah-ibunya kan sedang tidak ada di rumah. Euncha? Tidak, tidak, dia tidak mau Euncha merasa bahwa dia meneleponnya hanya karena butuh bantuan. Siapa? “Jogiyo, Gyeongchalnim. Anu, orang tua saya tidak ada di rumah, dan saya tidak punya teman yang dekat, jadi saya tidak tahu harus menelepon siapa.” Miho mencoba menjelaskan sejujur mungkin.

Sebenarnya Pak Polisi iba melihat wajah Miho yang memelas. Tapi hal itu sudah menjadi peraturan, jadi dia menahan rasa kasihannya. “Memang anda tidak punya saudara?”

“Dia juga sedang sibuk. Ini masih jam kantor jadi saya tidak bisa menghubunginya,” Miho memberikan alasan.

“Ya sudah,” polisi itu akhirnya mengalah. “Anda duduk saja di sini sambil menunggu siapapun bisa menjemput anda. Kalau mau anda bisa menunggu di sudut sana,” katanya sambil menunjukkan sudut dengan kursi yang tampak lebih nyaman untuk diduduki.

Miho mengangguk lalu bangkit menuju sudut tersebut.

Satu jam kemudian, Miho teringat seseorang. Bodohnya dia dari tadi tidak teringat padanya. Dia membuka contact listnya mencari nama Lee Jihoon. Dengan penuh harap dia menanti pria itu mengangkat telepon. Tapi sampai lama penantiannya tak kunjung berbuah. Dia mencoba lagi, tanggapannya masih sama. Memang dimana sih pria itu? Pada panggilan ketiga, Miho memutuskan meninggalkan pesan, mengatakan keberadaannya, dan meminta Jihoon membalas teleponnya lalu menjemputnya.

Dengan putus asa Miho kembali terpekur menunggu telepon dari Jihoon. Yang tak pernah datang sampai akhirnya dia terkejut karena lengannya diguncang seseorang. Rupanya dia tertidur.

“Agashi, minum ini dulu,” Pak Polisi yang tadi menginterogasinya sedang mengulurkan segelas kopi panas yang mengepul-ngepul di depan wajahnya.

“Benar-benar tidak ada orang ya?” tanyanya kasihan melihat Miho. Dari tadi dia bolak-balik memperhatikan gadis itu dan makin lama dia makin merasa kasihan. Bahkan ketiga gadis berandal yang tadi ditahannya punya seseorang untuk ditelepon dan membantu mengeluarkan mereka dari masalah.

Miho tersenyum samar. “Ne, kamsahamnida,” sambungnya sambil mengangguk menerima gelas kopi. Dia lalu teringat sesuatu dan melihat jam tangannya. Sudah jam 7 malam. Dia berkata, “Ah, mungkin sekarang orang tua saya sudah pulang, biar saya coba telepon ke rumah,” katanya meraih ponselnya. Memang ayah dan ibunya tipe yang tidak suka ponsel, jadi mereka tidak punya ponsel.

Miho menunggu sampai berlumut, tapi telepon rumahnya tidak juga diangkat-angkat. Orang tuanya belum pulang juga. Dia kemudian melontarkan tatapan menyesal pada polisi baik hati di sebelahnya. Polisi itu hanya membalas dengan senyuman maklum. Akhirnya Miho memutuskan untuk lagi-lagi menunggu. Kedua manusia itu akhirnya hanya duduk meminum kopi mereka, sibuk dengan pikirannya masing-masing sehingga tak satupun yang berbicara.

Mendadak telepon Miho berdering. Dia kaget, begitu pula dengan pak polisi. Miho melihat siapa yang meneleponnya, lalu mengerang dalam hati. Leeteuk. Miho sedang tidak ingin bicara dengan Leeteuk saat ini, jadi dipencetnya saja tombol reject.

Polisi tadi terkejut. “Kenapa ditolak? Penagih hutang?” tanyanya menduga.

Miho tersenyum keki. Sial. Masa dia dikira dikejar-kejar penagih hutang, sih? “Bukan. Itu hanya teman saya.”

“Sudah telepon saja, minta dia menjemput anda,” Pak Polisi berkata. Dia kasihan melihat Miho yang terduduk di pojokan dengan baju bau. Pasti badannya sudah gatal-gatal dari tadi. Sebenarnya asal penjaminnya itu siapa saja yang mengenal Miho, itu tidak masalah.

“Ah, tidak usah. Dia sangat sibuk, saya tidak ingin mengganggunya. Biar saya menunggu orang tua saya saja,” tolak Miho.

Rasa kebapakan pak polisi itu muncul. Bagaimana kalau anaknya yang terlunta-lunta sendirian di kantor polisi seperti ini? Pasti dia akan sangat khawatir. Maka dengan rasa seenaknya a la bapak-bapak, Pak Polisi itu mengambil ponsel Miho yang tergeletak di meja dan segera memencet opsi callback.

Miho terkejut sekali. Tangannya refleks terulur hendak mengambil ponselnya, tapi bapak itu keburu berkata, “Yoboseyo!” Sial, sudah diangkat.

“Yoboseyo?” terdengar suara ragu-ragu orang di seberang sana.

“Jogiyo, anda temannya Go Miho ssi?” tanya Pak Polisi itu gamblang.

“Ne…” yang menerima telepon menjawab setengah yakin. Heran kenapa dari nomor Miho terdengar suara laki-laki.

“Begini, saat ini Go Miho ssi sedang berada di kantor polisi. Dia tidak bisa pulang sampai ada yang menjemputnya. Dia sudah berada di sini dari tadi siang.”

“Eh?” terdengar suara terkejut di seberang telepon.

“Jadi bisakah anda menjemputnya sekarang? Oh iya, kakinya sedang teluka parah sekali.”

“Mworaguyo?”

“Baiklah,” Pak Polisi itu menyebutkan alamat kantor polisinya, “Jadi datang secepatnya ya? Terima kasih.” Klik. Langsung diputusnya sambungan tanpa menunggu jawaban lagi. Dengan puas dia nyengir ke arah Miho, “Nah, gampang kan? Kau itu terlalu tidak enakan. Wajar kan kalau teman membantu temannya yang sedang kesulitan, apalagi terluka seperti kondisimu saat ini,” ujarnya mulai sok akrab.

Miho memandangi polisi itu dengan kesal. Bukannya membantu, tindakannya itu malah merepotkan. Dalam benaknya sudah terbayang kesibukan Leeteuk. Pria itu tidak mungkin menjemputnya, kalau ketahuan fans bisa gawat. Nanti malam pasti Leeteuk akan telepon meminta maaf basa-basi dan malah sibuk bertanya-tanya kenapa dia bisa ada di kantor polisi. Tentu saja menjelaskan masalah seperti ini bagi Miho sangat merepotkan. Tapi polisi itu tidak menyadarinya. Dia malah berkata bahwa dia akan kembali melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan Miho yang gondok sendirian.

Setengah jam kemudian, datang seseorang memasuki kantor polisi dengan gugup. Orang itu tidak memperhatikan Miho yang duduk di pojokan. Dengan kepala tertutup hoodie, mata berlapis kacamata, orang itu berusaha mencari sosok Miho di antara kepala-kepala yang nampak di atas meja. Miho sendiri sedang sibuk memperhatikan ponselnya. Sedari tadi dia terus menunggu Leeteuk meneleponnya lagi untuk mengatakan agar pria itu tak usah menganggap telepon yang sebelumnya. Miho sudah mencoba menelepon dari tadi, tapi tak diangkat, dan malah masuk ke mailbox berulang kali. Akhirnya dia terpaksa meninggalkan pesan dengan waswas.

Pria yang baru datang itu dihampiri seorang polisi dan segera berkata, “Go Miho. Saya penjaminnya,” katanya.

Polisi yang ditanyai langsung berteriak, “Kim Gyeongchal!”

Yang dipanggil mengangkat kepalanya dari berkas yang sedang ditelitinya, lalu polisi yang tadi berteriak menunjuk Polisi Kim yang ternyata adalah polisi yang mengurusi Miho dari tadi. “Go Miho!” teriaknya lagi.

Mendengar namanya disebut-sebut, Miho mengangkat kepalanya dan kaget melihat seorang pria dengan pakaian tertutup tergopoh-gopoh mendekati meja Polisi Kim.

“Saya teman Go Miho,” kata pria itu begitu sampai di hadapan Polisi Kim.

Polisi Kim tersenyum, “Oh, Ne.” Lalu dia melihat Miho sedang bergerak menghampiri mejanya. Begitu sampai, Polisi Kim berkata, “Lihat, dia datang kan? Kau punya teman yang baik, Agashi. Duduklah, kita urus dokumen penjaminanmu.”

Miho tidak memperhatikan kata-kata Polisi Kim. Dia masih tidak percaya Leeteuk benar-benar datang. “Op—“ kata-katanya terputus begitu pria itu menoleh dan menatapnya.

“Eunhyuk ssi…?” gumamnya pelan dan terkejut.

 

 

-cut-