Author : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Title : Strawberry Lovellipop

Length : Continue

Genre : Romance

Cast :

* Casts :
– Kim Hyun Joong  (SS501) as Kim Hyun Joong
– Park Hye Joong as Park Hye Joong
– Kim Hyung Joon (SS501) as Kim Hyung Joon
– Song Hye Ra as Song Hye Ra
– Heo Young Saeng (SS501) as Heo Young Saeng
– Kim Hyun Ra as Kim Hyun Ra
– Kim Kyu Jong (SS501) as Kim Kyu Jong
– Song Hyu Rin as Song Hyu Rin
– Park Jung Min (SS501)  as Park Jung Min
– Han Sang Mi as Han Sang Mi
Extended Casts :
– Kim Min Joo as Hyun Joong’s mother
– Park Min Ho as Hye Joong’s father
– Byun Jang Moon (A’st1)  as Jang Moon
– Sung In Kyu as (A’st1) In Kyu
– Kang Hye Neul as Hye Neul
– Park Jung Jin (A’st1)  as Jung Jin

***

CHAPTER 5

HER  NAME  IS  KIM  HYUN  RA

 

“Bagaimana kencanmu tadi malam?” tanya Hye Ra saat melihat Hye Joong sedang berjalan menuju kelas.

“Kau ini mengagetkanku saja. Kencan apa? Kami hanya jalan – jalan saja.”

“Itu sama saja kau berkencan dengan Hyung Joon. Semalam kalian pergi ke mana saja?”

“Kami hanya nonton film,  setelah itu makan malam.”

“Apa dia mengutarakan perasaannya padamu?”

“Bicaramu sungguh ngelantur. Kau pikir, setelah dulu aku pernah menolaknya, apa dia masih berniat untuk melakukannya lagi?”

“Hyung Joon itu pria yang tak mengenal putus asa. Dulu waktu kelas 1 mungkin kau menolaknya, tapi aku yakin, kali ini ketika dia mengutarakan perasaannya padamu lagi,  pasti kau akan menerimanya, benar kan?”

“Jika hal itu sampai terjadi, aku tak akan menerimanya.”

“Waeyo??”

“Kenapa jadi kau yang heboh sendiri? Selama ini aku menganggapnya hanya sebagai teman biasa.”

“Hye Joong ah sebenarnya pria seperti apa yang kau inginkan? Pria sekeren Hyung Joon kau tolak. Apa kau masih terbayang dengan pria dalam angan – anganmu itu, seorang pria tinggi, memakai blazer hitam panjang, berkacamata, berambut coklat, yang memainkan harmonika untukmu hingga kau menangis di pinggir sebuah danau.”

“Kenapa kau bisa tahu?”

“Kau menulisnya di bukumu. Tentu saja aku bisa tahu.”

“Lupakan saja masalah itu. Itu hanya impianku ketika kecil.”

 

………………. ………. ………………..

 

“Kenapa wajahmu sumringah sekali hari ini? Terakhir kali aku melihatmu, wajahmu kelihatan muram.” Ucap Kyu Jong.

“Kemarin aku menceritakan apa yang In Kyu katakan padaku kepada noona. Ternyata apa yang In Kyu katakan itu tidak semuanya benar. Noona tidak menganggapku sebagai beban, dan dia tak memikirkan kekasih karena memang dia belum menemukan pria yang cocok.”

“Kau senang karena kau tidak menjadi beban bagi kakakmu atau karena kakakmu belum menemukan pria yang cocok sehingga kau ada kesempatan untuk…………….” Ucap Jung Min.

“Kesempatan untuk apa? Sudahlah kita main basket lagi”

Mereka berempat lantas melanjutkan bermain basket. Saat Hyun Joong hendak melemparkan bola ke ring, ternyata bolanya melenceng jauh ke luar lapangan dan mengenai seorang siswi. Saking kerasnya bola yang dilemparkan Hyun Joong, sampai – sampai siswi tersebut jatuh pingsan. Siswi yang pingsan itu lantas segera ditolong oleh temannya. Karena merasa ia yang salah, Hyun Joong lantas menggendong siswi tersebut ke UKS.

“Hyun Ra sshi, sadarlah….” ucap siswi tersebut ketika sampai di UKS.

“Maafkan aku, karena aku, temanku jadi pingsan.” Ucap Hyun Joong dengan penuh penyesalan.

“Lain kali berhati – hatilah jika bermain basket. Kau juga harus perhatikan sekelilingmu!” ucap gadis itu.

“Hyun Ra sshi, kau sudah sadar?”

“Hyu Rin sshi, aku tak apa – apa”

“Jadi namamu Hyun Ra? Maafkan aku, aku yang telah menyebabkan kau pingsan.”

“Gwaenchanayo. Aku saja yang kurang berhati – hati saat berjalan.”

“Hyun Ra sshi, dia itu salah. Kenapa kau memaafkannya begitu saja?”

“Tak ada kesalahan yang tak termaafkan. Lagipula ini hanyalah insiden kecil, jadi tak perlu dibesar – besarkan.”

“Apa kau murid baru di sini? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.” tanya Young Saeng.

“Geurae, aku baru pindah ke Korea beberapa hari, ini adalah hari pertamaku di sekolah ini.”

“Lantas selama ini kau tinggal di mana memangnya?” tanya Kyu Jong.

“Aku lahir di Los Angeles, sejak kecil aku tinggal di sana. Tapi kedua orang tuaku adalah orang Korea.”

“Karena kita sudah dipertemukan secara tidak sengaja, jadi lebih baik jika kita berkenalan. Namaku Park Jung Min, kau bisa memanggilku Jung Min. Dan ini adalah Young Saeng, Kyu Jong, dan yang paling ujung namanya Hyun Joong.”

“Namaku Kim Hyun Ra, kalian bisa memanggilku Hyun Ra. Sedangkan ini adalah Song Hyu Rin, temanku.”

“Senang rasanya bisa mengenalmu.” ucap Jung Min.

“Kami juga senang mengenal kalian.”

“Kenapa kau mengatakan “kami”? Kau pikir aku senang bertemu mereka?” ucap Hyu Rin sedikit protes.

“Hyu Rin sshi, kau tidak boleh begitu.”

“Tak apalah. Aku memaklumi jika dia masih jengkel denganku. Sekali lagi, maafkan kesalahanku.”

 

………………. ………. ………………..

 

“Hyun Ra sshi, semenjak dari UKS, aku perhatikan wajahmu sumringah sekali? Sebenarnya ada apa?” tanya Hyu Rin saat mereka pulang sekolah bersama.

“Apa aku kelihatan sedang bahagia? Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”

“Jangan bilang jika kau senang karena kau bertemu dengan pria tadi, yang namanya……………….”

“Hyun Joong?”

“Ah iya, Hyun Joong. Apa kau senang karena kau bertemu dengan Hyun Joong?”

“Sepertinya begitu.”

“Dasar kau ini!”

Sementara itu ketika hendak pulang, tiba – tiba saja Hyung Joon menemui Hyun Joong.

“Hyun Joong ah, apa hari ini kau ada waktu?”

“Aniyo…. waeyo?”

“Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu.”

Kemudian Hyung Joon mengajak Hyun Joong pergi ke suatu tempat.

“Ada hal penting apa hingga kau mengajakku ke sini?”

“Apa kau tidak bisa sopan sedikit padaku? Aku lebih tua satu tahun darimu, kenapa kau tidak memanggilku “Hyung”? Tapi itu bukan masalah, yang jadi masalahnya adalah aku membutuhkan bantuanmu.”

“Bantuan?”

“Aku ingin kau membantuku untuk mendapatkan hati Hye Joong.”

“Kau meminta bantuanku? Kau kan bisa saja mendapatkannya tanpa bantuan dariku.”

“Masalahnya, selama ini Hye Joong tidak pernah menyukaiku. Sudah satu tahun lebih aku berusaha mendekatinya, tapi hingga sekarang ia belum menunjukkan respons yang positif. Untuk itu, aku minta bantuanmu. Kau adalah orang terdekat Hye Joong, pasti Hye Joong mau mendengarkan semua perkataanmu.”

“Jadi kau memanfaatkanku?”

“Bukannya aku memanfaatkanmu, aku hanya meminta bantuanmu.”

“Aku tidak mendapatkan imbalan?”

“Tentu saja. Apa saja yang kau mau akan aku turuti.”

“Tidak… tidak… aku hanya bercanda. Kau benar – benar mencintai noona? Karena aku melihat selama ini kau gigih dalam mendapatkan hati noona, maka aku memutuskan untuk membantumu. Tapi aku tidak bisa berjanji kau bisa mendapatkan hati noona, yang jelas aku akan mengusahakannya.”

“Benarkah Hyun Joong? Terima kasih banyak karena kau mau membantuku.”

Sesampainya di rumah, Hyun Joong lantas meletakkan tasnya dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Kemudian ia mengambil ponsel di sakunya dan menekan beberapa nomor yang menghubungkannya ke seseorang.

“Young Saeng, aku ingin menceritakan sesuatu padamu.”

“Kau ingin menceritakan apa? Malhaebwa.”

Hyun Joong lantas menceritakan tentang Hyung Joon yang meminta bantuannya untuk mendekatkan kakaknya dengan Hyung Joon.

“Apa menurutmu yang aku lakukan ini benar?”

“Tentu saja apa yang kau lakukan ini benar. Kau melakukan ini karena kau ingin membahagiakan kakakmu. Kau ingin kakakmu memiliki seorang pendamping. Lantas apa yang kau resahkan?”

“Bagaimana jika nanti noona tidak suka aku membantu Hyung Joon?”

“Kau tinggal minta maaf saja padanya. Kakakmu adalah orang yang mudah memaafkan orang lain. Lagipula, aku yakin kakakmu tak akan marah jika kau ingin mendekatkannya dengan Hyung Joon. Sudahlah Hyun Joong, kau jangan terlalu risau. Aku akan mendukungmu.”

“Terima kasih Young Saeng atas saranmu. Kau memang benar – benar sahabatku.”

Hyun Joong lantas menutup ponselnya.

Bagaimana jika aku berhasil menyatukan noona dengan Hyung Joon? Bagaimana jika nanti noona benar – benar mencintai Hyung Joon?

Tiba – tiba pikiran itu berkecamuk di kepala Hyung Joon. Ia sebenarnya bimbang memutuskan akan membantu Hyung Joon atau tidak. Di satu sisi ia tak ingin terus – terusan melihat kakaknya sendiri tanpa kekasih di sampingnya. Dan Hyun Joong merasa bahwa hanya Hyung Joon lah yang pantas bersama noonanya. Tapi di sisi lain, hatinya seakan menolak jika ada pria lain yang ingin mendekati Hye Joong. Entah mengapa hal ini bisa terjadi.

 

………………. ………. ………………..

 

Di saat malam menjelang, Hye Joong tampak sedang duduk di meja belajarnya. Ia terlihat sedang menggambar sesuatu. Saking seriusnya menggambar, sampai – sampai ia tak sadar jika Hyun Joong memasuki kamarnya.

“Noona sedang menggambar apa?”

“Menggambar pangeran impianku.” ucap Hye Joong tanpa melihat Hyun Joong.

“Boleh aku melihatnya?”

“B…bo….l….” belum sempat meneruskan kata – katanya, Hye Joong kaget duluan karena Hyun Joong telah ada di sampingnya.

“Hyun Joong, kapan kau masuk?” ucap Hye Joong sambil merapikan kertas – kertasnya.

“Sudah sekitar 2 menit aku di sini. Boleh aku melihat gambar hasil karya noona? Kenapa noona tidak bilang padaku jika noona pandai menggambar?”

“T…tidak…. kau tidak boleh melihatnya. Ini bukanlah gambar yang bagus, jadi sebaiknya kau jangan melihatnya. Ngomong – ngomong, untuk apa kau ke kamarku?”

“Memangnya siapa sebenarnya pangeran impian noona?”

“Jika maksudmu yang tadi aku gambar, kau salah. Itu bukan pangeran impianku. Tadi hanya gambar biasa.”

“Noona tidak sedang berbohong padaku kan?”

“Tentu saja tidak. Sudahlah jangan bahas masalah itu lagi.”

“Noona, ada hal yang ingin aku tanyakan pada noona. Sebenarnya lelaki seperti apa yang noona dambakan menjadi pendamping noona?”

“Kenapa tiba – tiba kau tanya seperti itu? Aku ingin mempunyai pendamping seorang pria yang bertanggung jawab, dewasa, bisa melindungiku, membuatku selalu tersenyum, dan membuat hatiku tenang saat ada di sisinya.”

“Apa aku orangnya?”

“Apa? Kenapa kau percaya diri sekali?”

“Aku pria yang bertanggung jawab, dewasa, bisa melindungi noona, membuat noona selalu tersenyum, dan membuat noona tenang. Benar, kan?”

“Kau jangan ke Ge-eR an dulu. Apa kau tak merasa jika dirimu ini kadang masih kekanak – kanakan?”

“Sayang sekali bukan aku orangnya. Padahal jika aku pria yang noona maksud, maka aku………………”

“Maka, apa yang akan kau lakukan.”

“Aku akan segera menikahi noona.” ucap Hyun Joong sambil mencium pipi Hye Joong dan lari ke luar kamar.

“Hyun Joong……………………..!!” ucap Hye Joong dengan pipi yang memerah.

Hye Joong lantas membuka buku yang berisi gambar – gambar hasil karyanya. Sembari tersenyum sendiri mengingat sesuatu.

 

………………. ………. ………………..

 

Hari ini Hyun Ra memutuskan untuk berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Ia beralasan, sesekali ia ingin merasakan bagaimana rasanya berjalan kaki, seperti yang teman – temannya lakukan.

“Hyun Ra sshi!” ucap seseorang dari arah belakang.

Hyun Ra lantas menoleh.

“Hyun Joong sshi!”

“Bagaimana kondisimu? Sudah baikan?”

“Iya, kondisiku sudah tak apa – apa. Kau ke sekolah berjalan kaki?”

“Kadang – kadang sih. Biasanya aku naik sepeda bersama noonaku. Oh ya, kenalkan, ini Hye Joong, kakakku.”

“Salam kenal. Aku Hye Joong, kakaknya Hyun Joong.”

“Salam kenal juga. Aku Hyun Ra. Senang berkenalan dengan eonni.”

“Hyun Joong, apa yang kau ceritakan padaku kemarin, adalah gadis ini?”

Hyun Joong mengangguk.

Mereka bertiga kemudian berjalan bersama. Hye Joong menceritakan banyak hal tentang Hyun Joong yang membuat Hyun Ra tertawa.

“Noona, sudahlah. Jangan lagi menceritakan hal itu. Aku malu jika harus mengingatnya.”

 

………………. ………. ………………..

 

Saat istirahat tiba, Hyun Joong berniat untuk menemui Hyung Joon.

“Hyung Joon ah, aku perlu bicara sebentar denganmu.”

“Dalam rangka apa sampai kau perlu bicara dengan Hyung Joon?” tanya Jang Moon.

“Ini urusan antara aku dan Hyun Joong. Jadi kau tak usah ikut campur. Baiklah kita jangan bicara di sini.”

Hyun Joong dan Hyung Joon lantas pergi ke lapangan basket sekolah.

“Hyung Joon ah, aku hanya ingin memberi informasi padamu. Noona menyukai pria yang bertanggung jawab, bisa melindungi dia, membuat dia tertawa, dan membuat hatinya tenang jika ia bersama pria tersebut. Jadi aku sarankan padamu, kau harus bisa membuatnya merasa senang.”

“Apa yang membuatnya merasa senang?”

“Noona senang jika ia diajak pergi ke taman hiburan. Akhir pekan ini, cobalah untuk mengajaknya ke taman hiburan.”

“Bagaimana jika ia menolak?”

“Kau ini belum mencoba sudah pesimis duluan”

“Baiklah Hyun Joong, aku akan mencobanya. Terima kasih atas bantuanmu.”

Di saat yang sama, Hye Joong sedang berada di halaman sekolah. Ia tampak asyik menggambar sesuatu di bukunya.

“Hye Joong eonni! Sedang apa di sini?”

“Hyun Ra sshi! Aku hanya menikmati pemandangan di sekitar sekolah.”

“Hyun Ra sshi, kau kenal orang ini?” tanya Hyu Rin.

“Dia namanya Hye Joong, kakak kelas kita yang juga adalah kakak tirinya Hyun Joong.”

“Hyun Joong yang membuatmu pingsan itu?”

“Hyu Rin, tidak seharusnya kau bicara begitu di depan kakaknya.”

“Tidak apa – apa. Jadi kau temannya Hyun Ra. Perkenalkan, namaku Hye Joong. Sekali lagi tolong maafkan tingkah adikku.”

“Eonni, nampaknya kakak akrab sekali dengan Hyun Joong. Tapi apa benar kalian berdua saudara kandung? Karena aku lihat muka kalian tidak mirip.”

“Kau benar. Kami memang bukan saudara kandung. Ayahku menikah dengan ibunya Hyun Joong. Sejak kecil kami tumbuh bersama, itu yang menyebabkan kita sangat akur, bahkan kita tak seperti saudara tiri.”

“Aku iri sekali dengan kakak, karena Hyun Joong begitu dekat dan menyayangi kakak.”

“Apa kau menyukai Hyun Joong?”

“Kenapa eonni tiba – tiba  bicara seperti itu?”

“Kau begitu tertarik jika membicarakan Hyun Joong. Selain itu matamu mengisyaratkan hal yang serupa.”

“Aku hanya simpati pada Hyun Joong. Selama ini belum pernah aku menemui pria seperti Hyun Joong. Meskipun aku baru mengenalnya, tapi aku sudah simpati terhadapnya. Kakak, apa Hyun Joong sudah punya pacar?”

“Dari dulu Hyun Joong tidak pernah punya pacar. Dan sepertinya dia belum pernah naksir gadis.”

“Kenapa begitu?”

“Mollayo. Mungkin karena dia terlalu sibuk mengurusi dirinya sendiri. Kau ingin menjadi pacarnya?”

“Eonni, kau bercanda? Aku baru saja mengenal Hyun Joong, jadi mana mungkin aku ingin menjadi pacarnya. Setidaknya aku harus mengenalnya lebih dalam. Dan belum tentu juga Hyun Joong menyukaiku.”

“Kapan – kapan, datanglah ke rumahku. Aku akan menceritakan semua hal tentang Hyun Joong kepadamu.”

“Benarkah?”

Hye Joong menganggukkan kepalanya.

“Aku ke kelas dulu.” ucap Hye Joong.

“Hyun Ra, Hyun Ra. Kenapa kau bisa menyukai pria seperti itu? Kau baru saja mengenalnya. Kau ini aneh.” ucap Hyu Rin.

 

Di kelas ………………………..

 

“Jadi Hyun Ra menyukai adikmu?” ucap Hye Ra kaget saat Hye Joong menceritakan yang terjadi.

“Kenapa kau kaget seperti itu?”

“Aku hanya tidak menyangka adikmu  bisa disukai gadis juga.”

“Ya! Hye Ra sshi, apa adikku sejelek itu sampai tidak ada gadis yang suka padanya?” ucap Hye Joong tak terima.

“Aniyo, bukan begitu maksudku. Cuma kau tahu sendiri kan, di kalangan gadis – gadis adikmu memang kurang begitu populer.”

 

………………. ………. ………………..

 

Saat bel pulang sekolah berbunyi, seluruh siswa Hanyang Industrial High School berhamburan keluar sekolah.

“Hye Joong ah….. tunggu!” ucap Hyung Joon.

“Mworago?” tanya Hye Joong.

“Kau mau pulang bersamaku?”

“Maaf, tapi aku sudah ada janji dengan Hye Ra untuk pulang bersama.”

“Hye Joong ah, tiba – tiba saja aku ada acara. Sebaiknya kau pulang saja dengan Hyung Joon. Aku pergi duluan!”

“Song Hye Ra, kau pasti sengaja melakukannya.” ucap Hye Joong dalam hati.

“Jadi, sudah tidak ada alasan kan kau menolak ajakanku?”

Mau tak mau Hye Joong menerima ajakan Hyung Joon.

 

Di dalam perjalanan, keduanya hanya diam.

“Benar juga kata Hyun Joong. Untuk mendapatkan Hye Joong, dibutuhkan kesabaran dan keuletan. Aku tak mau ditolak untuk yang kedua kalinya. Kali ini, aku akan mendapatkanmu Hye Joong!” ucap Hyung Joon dalam hati.

Karena dirasa tidak enak terus saja berdiam diri, maka Hyung Joon memberanikan diri untuk membuka percakapan.

“Kenapa kau jarang membalas SMS dariku, ataupun mengangkat telepon dariku?”

“Maafkan aku, tapi aku sedang sibuk. Jadi aku tidak sempat membalas SMS darimu ataupun menerima teleponmu.”

“Memangnya kau sibuk apa?”

“Tugas sekolah banyak sekali. Dan sebentar lagi ujian kelulusan setelah itu ujian masuk perguruan tinggi. Jadi banyak hal yang harus dipikirkan.”

“Kau ingin kuliah di mana?”

“Sebenarnya aku ingin sekali kuliah di Australia.”

“Kenapa harus di Australia?”

“Entah mengapa aku ingin sekali pergi ke sana. Tapi sejak dulu cita – citaku adalah pergi ke Australia. Rasanya senang sekali jika berada di sana.”

 

Sementara itu …………………..

 

Ketika sedang pulang, Hyun Ra yang belum terbiasa berjalan kaki, kakinya terpelosok ke selokan karena ia kurang hati – hati. Akibatnya, kakinya terkilir dan susah untuk berjalan. Untung ada Hyun Joong yang melihatnya dan segera menolongnya.

“Kau kenapa?”

“Kakiku terkilir.”

“Apa kau bisa berjalan?”

Hyun Ra menggelengkan kepala.

“Apa rumahmu jauh dari sini?”

“Sebenarnya tidak terlalu jauh.”

“Badanmu tidak berat kan, naiklah ke punggungku.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kau tidak bisa berjalan karena kakimu terkilir. Kau pikir apa aku tega membiarkanmu tetap tergeletak di jalan sedangkan keluargamu pasti sudah menginginkan kau cepat pulang. Maka cepatlah naik ke punggungku.”

“Kau akan menggendongku?”

“Tentu saja. Cepatlah naik dan jadilah penunjuk arah yang baik”

“Terima kasih kau telah membantuku.”

Hari itu perasaan Hyun Ra sangat berbunga – bunga. Ia seakan melayang di udara. Karena untuk pertama kalinya ia pulang sekolah digendong seorang pria.  Sesampainya di rumah Hyun Ra, pembantu di rumah Hyun Ra menyarankan agar Hyun Joong membawa Hyun Ra ke dalam kamar. Hyun Joong pun menuruti.

“Aku pulang dulu, jaga dirimu baik – baik.” ucap Hyun Joong.

“Di luar sedang mendung, pasti sebentar lagi hujan. Lebih baik kau jangan pulang dulu, daripada kau kehujanan.”

Benar apa kata Hyun Ra. Tak lama kemudian, hujan pun mengguyur kota Seoul dengan derasnya.

“Betul kan kataku. Jika tadi kau pulang, pasti kau akan kehujanan.”

“Hyun Ra sshi, apa kau tinggal sendiri di rumah yang sebesar ini?”

“Aniyo. Aku tinggal bersama kedua orang tuaku.”

“Lantas mengapa daritadi aku tak melihat mereka? Apa kau juga tak punya saudara kandung?”

“Ayah dan ibuku sibuk dengan bisnisnya. Mereka sering pergi ke luar negeri dan pulang sebulan sekali. Aku anak tunggal di sini, jadi setiap hari aku selalu merasa kesepian.”

“Kau tahu, dulu aku juga anak tunggal. Sebelum akhirnya ibuku menikah lagi, aku jadi mempunyai seorang kakak.”

“Kau dan Hye Joong eonni adalah saudara tiri. Tapi kalian akrab sekali, seakrab hubungan kakak beradik kandung.”

“Itulah hebatnya kami. Dari dulu aku sangat dekat dengan noona. Setiap kejadian yang aku alami selalu aku ceritakan pada noona, begitu juga sebaliknya. Untung saja ibu menikah lagi, kalau tidak, mungkin aku akan kesepian sama sepertimu.”

“Nampaknya kau benar – benar menyayangi kakakmu.”

Sore itu, Hyun Joong asyik mengobrol dengan Hyun Ra, menceritakan segalanya yang bisa diceritakan. Sembari menanti hujannya reda.

 

………………. ………. ………………..

 

Hye Joong sedang asyik menulis di kamarnya. Barusan Hyun Joong mengabarinya jika ia masih di rumah Hyun Ra dan baru akan pulang jika hujan sudah reda. Hye Joong lantas menulis sesuatu di bukunya.

 

Tuhan, kenapa tiba – tiba perasaan ini muncul lagi? Tolong Tuhan, jangan lagi kau munculkan perasaan ini. Aku sudah berusaha untuk menekan perasaan ini dan melupakan semuanya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk memendam  perasaan ini hingga tak ada sisa lagi. Jadi tolong Tuhan, bantulah aku untuk memendam perasaan ini. Jangan lagi kau munculkan perasaan semacam ini lagi. Batinku sudah cukup tersiksa.

 

Itulah yang ditulis Hye Joong.

“Hye Joong ah, ini bukan pertama kalinya bagimu mengalami hal ini. Jadi percayalah kau bisa mengatasinya!” Hye Joong menyemangati dirinya.

Tiba – tiba saja Hye Joong menjadi mengantuk. Ia pun memutuskan untuk tidur sore.

Tak lama berselang, Hyun Joong pulang. Saat memasuki kamar Hye Joong. Hyun Joong melihat Hye Joong tertidur di ranjangnya dengan buku – buku yang berserakan di sekitar tempat tidurnya.

“Kau tak pernah berubah noona. Selalu saja menaruh buku – bukumu di ranjang.”

Hyun Joong lantas merapikan buku – buku yang berserakan dan menyelimuti Hye Joong. Saat merapikan buku, tanpa sengaja Hyun Joong menemukan sebuah buku yang membuatnya penasaran. Buku catatan itu bersampul kuning bertuliskan, “All About Me”. Saat membuka – buka isinya, ternyata ada banyak gambar buah karya Hye Joong. Tapi anehnya, semua gambarnya adalah gambar seorang pria dan kadang bersama seorang gadis.

“Apa ini pangeran impiannya noona?”

Kemudian, disatu halaman, Hyun Joong membaca sesuatu. Lantas dia menutup kembali buku catatan itu dan segera kembali ke kamarnya.

Di dalam kamarnya, selepas mengganti bajunya, Hyun Joong duduk di sudut kamarnya sambil melihat ke langit.

“Kenapa sekarang perasaanku menjadi campur aduk seperti ini? Aigoo, Hyun Joong ah, tak usah kau pikirkan lagi masalah ini.” ucap Hyun Joong.

Ia lalu mengambil harmonika yang ia letakkan di dalam laci meja belajarnya.

Dengan merdunya, ia memainkan harmonika itu.

 

………………. ………. ………………..

 

Malam harinya Hye Joong terbangun karena mendengar ponselnya berdering. Saat ia melihat layar hape, ternyata Hyung Joon yang meneleponnya.

“Hye Joong ah! Yobosseyo! Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Hyung Joon ah, untuk apa kau meneleponku di tengah malam seperti ini?” tanya Hye Joong sambil melihat jam di kamarnya yang menunjukkan pukul 11 malam.

“Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu.”

“Apa yang ingin kau tanyakan? Apa kau tidak bisa menanyakannya di sekolah saja?” ucap Hye Joong yang terkesan tak senang Hyun Joong meneleponnya di malam buta seperti ini.

“Apa kau merasa terganggu aku meneleponmu di tengah malam seperti ini? Maafkan aku. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu hal padamu. Apa kau mau pergi bersamaku ke Taman Hiburan akhir pekan ini?”

“Kita bicarakan ini lain kali saja. Jujur saja, saat ini aku sangat mengantuk.”

Tanpa basa – basi Hye Joong lantas menutup teleponnya lalu meneruskan tidurnya.

“Hye Joong ah, ternyata sungguh sulit menaklukan hatimu. Harus dengan cara apa aku membuatmu luluh kepadaku?” ucap Hyung Joon.

 

………………. ………. ………………..