This Mascot Loves You…

Author: Thirteencatyas

Main cast:

– Lee Sungyeol INFINITE

– You as Han Dain

Cameo: INFINITE Member

Genre: romantic, a bit sad

Rate: SU

Length: Oneshoot

 

Hidup itu….. susah dibayangkan dengan kata-kata, apalagi jika kamu hidup sendirian di Seoul tanpa orangtuamu dan harus membiayai hidupmu sendiri….. kamu tidak akan bisa menebak apa yang akan terjadi, termasuk perasaanmu sendiri…

Aku adalah seorang yeoja yang bekerja sebagai mascot sebuah restoran. Tidak ada yang mengenal wajahku kecuali para karyawan dan tentu saja atasanku….

Tapi, suatu hari….. aku menemukan namja yang membuat hatiku tak tenang.

 

 

 

“Annyeonghaseo, silahkan mampir ke restoran kami~ disana menyajikan banyak…..” selalu saja kalimat ini keluar dan orang-orang akan meninggalkanku sebelum kalimat ini selesai. Yah, aku harus terbiasa. Inilah derita seorang promotor dengan kostum sapi yang konyol, berjalan mondar mandir untuk mempromosikan restoran tempatku bekerja. Tapi lebih baik begini daripada aku menganggur dan menyusahkan orangtuaku di luar sana.

“Yak sapi~ kau promosi apa?” tiba-tiba seseorang mencolek colek pundakku, wajahnya terlihat berseri-seri seperti anak SD. Kelihatannya ia terlihat lebih tua dariku, “Boleh minta flyer nya nggak?”

Aku segera memberikan flyer promosi restoran dan ia berteriak kepada teman-teman di belakangnya, “Yak, disini ada restoran baru yang enak loh~~!! Murah lagi, kaja kaja…. Baegopa~~~”

Beberapa namja datang mendekatinya dan melihat flyer restoranku? “Daging sapi semua ya? wah kupikir semua daging ada, kan aku mau makan samgyupsal.” Keluh temannya yang berbibir tebal.

“Aku juga~ aku mau makan pig feet,” seru temannya yang memakai baju tanpa lengan, memperlihatkan bahwa ia punya otot-otot yang bisa dibanggakan, “kaja kaja… kita pergi ke tempat lain saja~”

Tapi namja dengan senyum anak SD itu merengek, “Aaaaaaaaah kalian kan sudah sering makan hal-hal itu, aku mau daging sapi. Pokoknya daging sapi~ terserah kalian mau ke restoran mana, yang jelas dimana-mana sudah penuh, aku mau disini saja.”

“Yak Seungyeollie…… restoran ini sepi,” ujar temannya yang punya suara serak serak basah, “Pasti makanannya tidak enak, sudah yuk kita pergi saja dari sini.”

Tapi namja yang seperti anak SD itu mengelak lagi, “Kamu nggak liat apa ini di flyer nya? Ini baru buka restorannya, lagipula…. Kalau liat badut sapi ini, bisa aku prediksi daging sapinya bakalan enak. Ayolah ayo~~”

Mereka masuk dengan suara yang ribut dan ramai. Tapi……. Namja yang seperti anak SD tadi, kenapa bisa bilang seperti itu? Aigoooooo kenapa tiba-tiba kostum ini panas sekali?

 

 

 

“Namja yang datang bertujuh waktu itu….. apa kamu punya namanya?” tanyaku pada temanku yang berjaga di meja kasir. “Mereka membayar dengan kartu kredit kan?”

Temanku mengangguk angguk, “Nee…. Tapi yang bayar itu yang pakai baju tanpa lengan, namanya…. Hoya. Kau kenal dia?”

“A… aniiyo, aku tidak kenal.” Jawabku murung, aku menaruh dagu di kepala badut sapiku, “Haduh, siapa ya nama namja yang seperti anak SD itu? Aku benar-benar lupa, tapi aku ingin segera tahu~”

Sepertinya teman kasirku mulai tertarik dengan perkataanku, “Namja yang seperti anak SD? Kudengar sih mereka memanggilnya Sungyeol Sungyeol begitu, memangnya kenapa? Apa dia menjahilimu saat kau promosi di depan sana?”

“Bukan kok…. Malah, dia membuatku senang.” Jawabku sambil tersenyum malu, “Awalnya mereka bertujuh tidak mau makan disini karena ada dua dari mereka yang mau makan samgyupsal dan chokbal. Tapi anak itu merengek dan akhirnya mereka makan disini. Dan…. Dia mengucapkan hal lucu.”

“Oh, jinjjaeyo?” tanya temanku itu, “Memangnya dia bilang apa saat meyakinkan teman-temannya?”

Saat aku hendak memberitahu temanku itu, tiba-tiba kulihat wajahnya di depan pintu restoran. Aigoooooo dia kesini lagi?!

“Nanti aku beritahu oke?” ucapku sambil berbisik sambil mengarahkan jempolku kea rah pintu depan, “Berikan aku sesuatu… sesuatu~~”

Beberapa saat kemudian, “Wah benar-benar sepi~ aku bisa memesan dengan waktu yang cepat dong ya?” ujar namja berkelakuan SD yang katanya bernama Sungyeol, “Wah, sapi ini ada disini~~~ annyeong sapi~ kenapa kamu tidak di depan??”

Aku tidak menjawab dan tetap menghadap kea rah temanku sambil memberikan sinyal untuk mengatakan sesuatu pada anak itu, “Ah… temanku ini kelelahan tuan, jadi ia beristirahat disini sekaligus membantuku kalau ada keperluan. Ngomong ngomong…. Mau pesan meja untuk berapa orang? Karyawan yang disana akan membantu anda, silahkan~”

Tiba-tiba anak itu bilang, “Kalau sapi ini yang bantu aku boleh nggak? Habisnya dia lucu hahaha.”

“Nee?? Choisonghabnida, temanku sedang istirahat. Maaf ya, silahkan minta bantuan ke pelayan yang di sebelah sana. Nanti mereka akan mencatatkan pesanan anda.”

Di dalam kostum, aku banjir keringat karena mendengar permintaan anak itu tadi. Wajahku panas luar biasa, “Yak, anak itu sudah pergi belum? Aku rasa aku harus angkat kaki dari sini sebelum bertemu dengannya lagi.”

Kulihat dari lubang mata kostum sapiku, ia mengangguk tipis. “Kamu kenapa sih? Dia kan hanya tamu, bukan kriminal, orang mesum atau penguntit. Kenapa kamu terlihat takut padanya?”

“Em… aniiya, aku tidak takut kok sama dia. Hanya saja ada alasan tertentu, nanti aku ceritakan deh kalau kita sudah selesai kerja.” Jawabku sambil mengambil beberapa lembar flyer, “Dia tadi ke lantai atas ya?”

“Iya, yasudah sana kembali ke depan. Tidak apa-apa kan kalau kamu ketemu dia kalau dia sudah selesai makan?” tanya temanku lagi, “Jangan kelihatan grogi loh ya, itu akan membuat pelanggan lain curiga.”

Aku mengangguk pelan, fiuuuuuuuh kenapa dia kemari lagi ya? mana sendirian pula. Tidak mungkin kan ia langsung jatuh cinta pada restoran ini hanya dalam satu kali kunjungan? Ah paling nanti dia bosan sendiri, lalu pergi ke restoran lain. Jangan bilang dia kemari karena restoran lain penuh?

“Aigoo aku ini kenapa malah bicara sendiri?” ucapku sambil memukul kepala sapiku, lalu kembali promosi dan membagikan flyer untuk orang orang yang lewat.

“Annyeonghaseo, silahkan mampir ke restoran kami…..”

“Annyeonghaseo, silahkan mampir ~~~”

“Annyeonghaseo, jangan sungkan untuk mencicipi makan di restoran ini…”

“Oh good evening, please have a visit.” Aku membagikan flyer ke turis asing dengan bahasa inggris yang pas-pasan.

 

 

 

Sungyeol….. sungyeol….. sungyeol……

Kenapa aku teringat terus dengan namja itu ya? wajahnya saat tertawa, wajahnya saat merengek, dan wajahnya saat berusaha menjahili “sapi sang promotor restoran.”

 

“Oh….. sepertinya kamu menyukainya ya?” ucap temanku beberapa hari yang lalu saat kami pulang kerja dan akhirnya aku menceritakan semuanya, “Tapi mungkin dia hanya lapar dan restoran lain penuh, makanya dia bilang begitu. Jangan terlalu percaya dengan ucapan namja lah.”

“Jinjjaeyo?” tanyaku ragu, “Aku tidak tahu apa yang membuatku yakin dengan perkataannya. Wajahnya terlihat meyakinkan.”

Temanku itu hanya merangkul pundakku dan berkata, “Dia hanya tamu di restoran kita, Han Dain. Mustahil untuk mendekatinya, apalagi berkenalan dengannya. Nyaris tak mungkin, lagipula kau lihat kan dia? Hanya menganggapmu sapi yang lucu~ bahkan ia tak tahu kau itu namja atau yeoja.”

 

 

“Yak sapi, kamu ini betina ya?” tiba-tiba nostalgiaku pecah mendengar suara itu. Dia lagi, dia datang lagi ke restoran ini? Oke, kali ini bersama siapa?

Kulihat tak ada siapapun di sekitarnya, aku….. hanya menatapinya dengan bisu lewat celah topeng sapiku. Entah kenapa aku merasa malu kalau nanti ia tahu wujudku yang sebenarnya.

“Eh….. kok diajak bicara malah diam sih?” tanyanya tidak senang, “Kamu ini betina atau jantan? Apa kamu bisu? Haruskah aku bawakan buku sketsa untuk menulis?”

Aku membuat lingkaran sebagai symbol anting di telinga topengku pertanda bahwa aku yeoja, dan sepertinya ia mengerti dengan apa yang kuungkapkan, “Oh…. Kamu betina ya? kok kamu kuat sih pakai kostum sebesar ini? Apa kamu tidak kepanasan?”

Dengan gugup, aku menggeleng supaya dia mengerti. Entah kenapa suaraku tidak bisa keluar kalau berada di depannya, lalu aku melambai lambaikan flyer agar ia mengerti kalau aku harus promosi lagi.

“Oh, kau mau membagikan flyer lagi? Apa kau tidak lelah?” jawabnya sambil tiba-tiba merebut semua flyer dari tanganku, “Sini, biar aku saja yang bagikan. Kamu pasti lelah kan sampai sampai kau tidak bisa bicara padaku?”

Aduh, apa sih mau anak ini? Kenapa dia menyusahkanku saja sih~~~~~ aku mengejarnya dan berusaha meraih flyer itu sekuat tenaga, tapi ia terlalu tinggi sehingga aku tak bisa meraih tangan panjangnya dan ia terus tertawa karena usahaku terus terusan gagal.

“YAK, APA YANG KAU LAKUKAN DISANA HAN DAIN? APA KAU DIBAYAR UNTUK MAIN KEJAR-KEJARAN?!” tiba-tiba kudengar suara atasanku berteriak dari pintu depan, gerakan ku berhenti seketika karena mendengar suara baritone itu. Aku segera menghadapnya dan membungkuk berkali kali.

“Choisonghabnida…. Choisonghabnida wongjangnim~ ucapku pelan, “Namja itu merebut flyer ku dan meledekku terus-terusan, ia tidak mau mengembalikan flyernya padaku~”

Atasanku berjalan mendekatinya dan berkata, “Jeolgiyo….. bisakah kamu tidak mengganggu karyawanku? Dia sedang bekerja sekarang, aku tahu kamu sering makan disini. Tapi tolong jangan ganggu mascot ini arrajie?”

“Choisonghabnida wongjangnim kalau saya mengganggu karyawan anda.” Ia membungkuk hormat, “Tapi aku punya permintaan. Bisakah karyawan anda yang satu itu bicara dengan nada keras sekali saya? Kalau ia bisa, saya akan mengembalikannya.”

Mworago?? Aaaaaaaa what the hell with this choding namja?? Damn it, dia membuatku malu di depan atasanku!!!!!

 

 

 

Setelah kejadian itu, si namja yang bertingkah seperti anak SD itu mulai jarang datang. Ia datang kalau hari libur atau di pertengahan minggu saja, mungkin keuangannya menipis atau….. ia takut dengan atasanku? Hahahaha makanya jadi namja jangan aneh-aneh dong *biarpun aneh tapi tetep aja disukain LOL*

“Selamat datang~” seru temanku karena restoran hari ini begitu ramai, “Silahkan ke sebelah sana, keryawan kami akan membantu anda.”

Aku melirik dari ruang karyawan, ah…… ada kumpulan namja yang waktu itu datang bersama namja SD itu. Tapi….. dia tak ada di dalam kumpulan itu.

Ah kenapa aku malah memikirkan dia? Namja itu kan hanya datang untuk mengganggu dan menjahiliku, seharusnya aku senang kan dia tidak datang?

 

Jangan terlalu percaya dengan ucapan namja….

Dia hanya tamu di restoran kita, Han Dain. Mustahil untuk mendekatinya, apalagi berkenalan dengannya……

 

Iya, aku tahu kok. Bahkan aku tidak boleh memikirkannya seperti ini, dia hanya namja yang sambil lalu di dalam kehidupanku kan?

“Ah…. Kenapa… aku menangis begini?” aku mengusap mataku yang basah dan menunduk di topeng sapiku, “Mungkin aku kelelahan sampai-sampai emosional begini. Memang sudah waktunya aku pulang sih.”

“Eo, Dain-sshi..” sapa teman ku yang kebetulan juga sudah selesai bertugas, “Kamu sudah mau pulang ya, buang sampah dulu bisa? Soalnya aku mau mandi dulu, nggak apa-apa kan?”

Aku mengangguk dan segera keluar sambil memakai topeng sapiku dan pergi untuk membuang sampah. Saat aku hendak berbalik, tiba-tiba seseorang mengagetkanku sehingga aku menjerit keras sekali.

“Hahahahahahah ternyata sapi betina ini penakut ya? hihihihi~~” ah… lagi-lagi namja kekanakkan ini, “Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar? Aku tidak bisa masuk ke dalam, karena uang bulananku habis. Kalau masuk kesana kan harus memesan sesuatu~”

Aku mengangguk angguk, “Nee aelgeseo. Hanya saja aku….. aku masih gemetaran nih karena kau mengagetkanku tadi, jinjja…” ujarku sambil memegangi kedua lenganku, “Jantungku lemah, jadi….. kalau habis dikagetkan susah sembuhnya, jadi terbayang bayang.”

“Yak….. kamu bisa nggak sih bicaranya lebih keras? suaramu terpendam oleh kostum ini tau,” dia menepuk nepuk topeng sapiku berkali-kali sehingga membuatku agak pusing, “Eh….. namamu Han Dain ya? waktu itu atasanmu memanggilmu begitu kan? Kenalan dong, namaku Lee Sungyeol.”

Wah, akhirnya aku ingat juga. Namanya ternyata Lee Sungyeol, aku membungkuk sedikit ke arahnya, “Se…. senang berkenalan denganmu….. aku harus memanggilmu apa ya?”

“Aku lahir tahun 91. Berhubung name tagmu menunjukkan kalau kamu lahir 93, jadi kau panggil aku oppa saja bagaimana?” tanyanya tidak masuk akal.

“M… mworago? Kenapa aku harus…. Memanggilmu oppa….” Padahal kau bukan siapa-siapaku? Tanyaku tanpa melanjutkannya, hanya bisa kulantunkan di dalam hati. “Aku… akan memanggilmu Yeol-ah saja, sudah ya aku harus pulang.”

“Eh waeyo? Kita kan baru mengobrol sebentar.” Rengek Yeol lagi, “Tidak bisakah pulangnya lebih larut? Nanti aku antar pulang deh~”

Aku menggeleng kuat-kuat, “Mianhae… temanku sudah menunggu, eh? yak ngapain kamu nahan tanganku? Kajima~~~ aku sudah ditunggu temanku nih.”

“Aniya aniya aniya~!!!!” serunya merengek sehingga kami akhirnya tarik-tarikan tangan sampai malam -_-

 

 

 

Sejak saat itu kami jadi dekat satu sama lain, kami sering mengobrol di belakang restoran dan terkadang Yeol membantuku membagikan brosur jika ia sedang berkunjung. Beberapa karyawan jadi mengenal dia, begitu juga para atasanku karena Yeol suka tertangkap basah menjahiliku atau membuatku marah sehingga mereka membelaku. Hahahaha~~

Tapi sampai saat ini pun, Yeol belum tahu bagaimana wajah asliku karena aku selalu pakai kostum sapi setiap bertemu dengannya. Aku tidak pernah memikirkan apa yang harus kulakukan kalau ia memintaku membuka topeng sapi ini suatu saat nanti….

Hingga suatu hari, Yeol akhirnya memintanya….

 

 

 

“Dain-ah….. rasanya kok aku belum pernah lihat wajahmu ya?” tanya Yeol suatu hari, “Aku selalu melihat wajah sapi yang besar ini, membosankan.”

“Aigo…. Gomanhae Yeol-ah, kau membuatku pusing.” Keluhku saat ia menepuk nepuk topeng sapiku berkali kali sehingga membuat kepalaku berputar, “Wajah sapi ini lebih bagus daripada wajah asliku, jadi lebih baik kau terus menatapku dengan wajah sapi yang kyeopta ini,”

“Tapi aku bosan,” jawab Yeol yang menyandarkan bahunya di topengku, astaga berat sekaliiiiiiii~ “Jebal Dain-ah…. Aku boleh kan lihat wajah aslimu?”

Aku menelan ludah, hawa tubuhku jadi panas lagi…. Jantungku berdebar kencang. “Haruskah? Aku belum mandi sehabis bekerja, nanti kau malah kebauan.”

“Mwoya?? Sudah sih buka saja, lagipula memangnya kamu tidak kepanasan apa pakai kostum itu terus setiap hari? Apa baju itu tidak jadi apek karena keringatmu?” lagi-lagi Yeol merengek. Aduh! Ottokhaeyo? Aku takut dia ilfil kalau melihat wajahku ><

“Jadi…… haruskah aku membukanya?” tanyaku ragu-ragu sambil melepas kedua kaos tangan dan menggigit jariku lepas mulut topeng. Namun tiba-tiba Yeol menggenggam dua sisi topengku dengan geram.

“Eisssssssh maksudmu apa sih begitu begitu?! Kau mau membuatku penasaran eo?? Percayalah bahwa kau tidak akan bisa………………”

Topengnya jatuh menggelinding di sebelahku, terekspos-lah sudah wajah jelek dengan rambut pendek penuh keringat yang bau beserta bau kostum sapi yang sudah bau sampah. Wajahku memerah karena baru pertama kali melihat Yeol secara utuh.

“Em…. Annyeonghaseo Yeol-ah.” Sapaku malu-malu, “Well, kamu sudah liat wajahku yang……………..”

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA DAIN-AH PAYAH, PAYAAAAAAAAAAAAAAAAAH~!!!!!!” Tiba-tiba Yeol berlari meninggalkanku seperti melihat hantu dan berteriak teriak bagaikan orang gila. Ia terus berkata ‘Dain-ah payah, dain-ah payah’ dan seterusnya, sampai sosoknya tidak terlihat lagi.

Perasaanku begitu bingung sekaligus sedih, “Arrayo, aku yakin ia tak mungkin menyukaiku. Seharusnya aku tak perlu membuka topeng itu, kalau akhirnya seperti ini.”

Perasaanku begitu sedih melihat Yeol pergi setelah ia tahu wajah asliku. Seharusnya aku tidak perlu mempercayai kata-katanya, seharusnya aku tak perlu berteman dengannya, seharusnya…… aku tak perlu menyukainya dan mengharapkannya datang setiap hari untukku,

“Maskot sapi ini mencintaimu,….. tapi mungkin kamu tidak menyukai yeoja yang ada di dalam kostum ini.” Ucapku dengan hati yang benar-benar hampa.

 

 

 

 

Setelah kejadian tersebut, Yeol tidak pernah datang ke restoran lagi. Memang sih sekarang restoran tempatku magang sudah terkenal dan ramai pengunjung, tapi………….. tanpa Yeol, semuanya terasa kosong. Teman-temannya juga terkadang kemari, ada Hoya, Woohyun, Sungjong dan lain lain. Mereka selalu bilang Yeol tidak mau kesini lagi karena sudah bosan daging sapi, tapi aku tahu alasan yang ia pendam sebenarnya…. Karena ia tak ingin melihatku lagi.

“Wae geurae?” tanya bossku sembari aku menyerahkan surat permohonan izin untuk keluar dari restoran tersebut beberapa minggu yang lalu, aku tak bisa menahan nostalgia antara aku dan Yeol yang dulu selalu bertengkar di depan restoran dan bahkan mengobrol di dekat tong sampah restoran. Tapi…. Aku mengatakannya dengan alasan lain,

“Aku ingin melanjutkan perkuliahanku terlebih dahulu, karena kupikir uang hasil kerja kerasku selama ini sudah  cukup untuk membayarnya. Choisonghabnida, aku hanya butuh beberapa bulan istirahat saja dari pekerjaanku.” Ujarku dengan berat hati, “Ini… adalah surat pernyataan istirahat ku.”

Kini aku duduk menatap TV di kontrakanku dengan mata yang kosong, tas-tas sudah kupersiapkan untuk segera pergi dari sini. Aku tidak punya uang lagi untuk membayar ruangan ini, mau tidak mau aku harus meninggalkan semua kenanganku disini.

“Mianhae…… aku ingin segera melupakan tentang ‘seorang mascot restoran yang mencintai kostumernya’ karena itu tidak akan terjadi, bahkan….. namja itu malah meninggalkanku.” Ucapku sambil mematikan TV dan segera memakai sepatuku untuk segera bergegas.

Namun tiba-tiba kudengar seseorang berteriak padaku, suara yang sangat aku kenal, “Yak!! Eodiga?!”

“Ye….. yeol-ah?”aku tertegun dengan mata yang berkaca-kaca, “Ke………… kenapa kamu tahu kalau rumahku ada disini?”

“Kenapa kamu malah menanyakan hal seperti itu sih? Kau mau pergi kemana?? Kenapa kau tidak pakai kostummu dan segera berpromosi di tengah jalan?” tanya Yeol bertubi tubi, “Kenapa kau bawa tas-tas ini?”

Aku menghela nafas dalam dalam untuk menghilangkan kesedihanku, “Aku….. tidak punya uang untuk membayar ruangan ini dan……….. aku tidak ingin lagi mengingat kebodohan seorang mascot restoran yang….. sangat menyukai kostumer restorannya sejak pertama kali melihat namja itu.”

Tiba-tiba ia memukul dahinya sendiri sambil mendongakkan wajahnya ke udara, “Well…… apapun alasanmu kamu nggak boleh pergi dari sini, aku akan melakukan apapun supaya kamu terus tinggal disini.”

“Lalu…………. Kenapa tiba-tiba kau meninggalkanku waktu itu?” jantungku berdebar keras saat menanyakannya, “Kenapa kau tidak pernah kembali? Kenapa kau menghilang? Kenapa kau membuat hatiku sakit? Wae, wae waeyoo??”

“Ah…. Kau benar-benar mau tahu meskipun kenyataannya pahit?” jawab Yeol dengan wajah serius, “Tapi kau janji ya jangan menangis atau berkaca-kaca seperti itu lagi, kau bukan Han Dain yang kukenal kalau kau melakukan hal itu.”

Aku mengangguk dan menggembungkan pipiku dengan tekad, semoga hatiku akan baik-baik saja setelah mendengar jawabannya, “Nee junbisimita.”

“Kamu…… kamu bertanya kenapa waktu itu aku meninggalkanmu kan?” Yeol bertanya kembali, “Benar kan?”

Aku menutup kedua mataku sembari mengusap sisa sisa air mataku, “Nee…. Karena kau membuatku….”

“Ba…… bagaimana ak….. aku bisa….. bisa diam ss….. saja~~ setelah……. Melihat waj…… wajah or….. orang yang…. Yang….. yang….. kusukai berwarna kemerahan?!?!” jawabnya terbata bata.

Aku….. termagu mendengar itu, dan seperti biasa…. Lagi-lagi Yeol berlari kencang menjauh dariku, “Yaaaaaaaaaaak chinguduuuuuuel~~ ottokhaeyooooo? aku sudah mengatakannyaaaaaa~~!!!!”

Dari kejauhan, terlihat 6 temannya yang menertawai dia habis-habisan. Membuat pipiku merona sekaligus meyakinkan aku…… bahwa hubungan kami akan menjadi lebih dari sekedar teman nantinya.