Tittle : Eternal Love / Eternal Fans

Author : karenagatha

Rating : T (Teen)

Genre : Love/Friends, Sadness

Main Cast : Kang Min Kyung (Davichi), Lee Hae Ri (Davichi), SHINee

Support Cast / Other Cast : Ryeowook (Super Junior) as Dr. Ryeowook

Soundtrack : Davichi – From Me To You (http://www.youtube.com/watch?v=Y7qoZhHRtc4)

Disclaimer : I don’t own Korean Artist, they belong to their artist management. Everything that happens in this story is just fanfiction. If there is equality of names and events, is just a coincidence. (Aku tidak memiliki Artis Korea, mereka milik manajemen artis mereka. Segala sesuatu yang terjadi dalam cerita ini hanya Fanfiction. Jika ada kesamaan nama dan peristiwa, hanyalah kebetulan.)

Author’s Note : Akhirnya selesai juga cerita nya, sudah ku bikin selama berbulan-bulan akhirnya selesai juga. Haha.. Mohon maaf ya, kalau ada perkataan yang salah atau kurang berkenan bagi para pembaca, tapi saya sudah memberikan yang sebisa saya lakukan. Saya cukup mengatakan Happy Reading, ya.. oh ya, jangan lupa membaca cerita nya sambil mendengarkan lagu soundtrack “Davichi – From Me To You” yang sudah kuberikan di atas. Gamsahamnida..😀 *bow* Ngomong-ngomong, FF ini memiliki dua poster lho, hehe..😀 *sekadar info* Juga ini pernah dipublish di FFIndo ( http://ffindo.wordpress.com ), Karen’s Notes ( http://karenotes.wordpress.com ) (blogku), EnchantingFanfiction ( http://enchantingfanfiction.wordpress.com )..🙂

Eternal Love

Kini ia telah beristirahat dengan tenang di sana, setelah mengalami masa yang terkadang kelam dan bahagia. Ia telah meninggalkan semua kenangan termasuk ketika bersama sahabatnya yaitu, aku. Aku tak habis berpikir bahwa secepat ini ia telah tiada. Padahal aku masih merasa baru kemarin bertemu dengannya. Aku benar-benar kagum padanya, dia memang wanita yang tak lemah, tak takut apa yang namanya resiko. Jujur saja, kuakui aku tak bisa menandingi dia, meskipun dia menderita seperti itu.

Sebenarnya dia sejak lahir tidak buta, tetapi karena kejadian yang pahit itu (kecelakaan), dia menjadi seperti ini. Tetapi dia terus tetap bersemangat untuk hidup dan menjalankan sebuah impiannya yaitu, bertemu dengan SHINee. Ya, dia fans berat SHINee, begitu juga denganku. Kami selalu membicarakan tentang SHINee lewat chatting, sampai-sampai biaya listrik di rumahku hampir mahal banget dari biasanya.

— Flash Back —

Namanya Kang Min Kyung, sahabatku sedari kecil, kedua orang tuanya adalah relawan dan duta UNESCO, kedua orangtuanya sibuk sekali dan sering berada di Afrika Selatan. Karena merasa Min Kyung hanya sendirian di Seoul, maka orang tuanya membawanya ke Johannesburg, Afrika Selatan. Karena hal ini, Min Kyung sering bolak balik Seoul-Johannesburg, sehingga membuat nilainya menurun dari sebelumnya. Akan tetapi, orang tuanya malah berpikir bahwa Min Kyung keseringan ngobrol denganku, jadi membuat nilainya menurun. Akhirnya tak ada kabar tentang dirinya sejak itu.

Satu tahun telah berlalu, tak tahu apa yang terjadi, Min Kyung kembali ke Seoul dan menginap di rumahku, kebetulan waktu itu orang tuaku sedang pergi ke luar negeri, jadi tak tahu bahwa Min Kyung ada disini. Kami di sini hidup mandiri dalam segala hal, tapi mandiri ini bukan mandi sendiri lho. So, It’s okay bagiku. Lalu Min Kyung mulai bekerja sambilan di suatu restoran Jepang sebagai waiter.

Suatu hari, di malam yang dingin yang sudah mulai menusuk kulit, Min Kyung berjalan tertatih-tatih karena kelelahan sehabis kerja, matanya yang sudah mulai setengah ngantuk ini tak sengaja berada di tengah jalan. Untung saja jalanannya sepi, kalau tidak Min Kyung tak selamat. Tetapi takdir menghendaki lain. Di jalanan yang sepi ini, kesempatan bagi para pembalap liar untuk lomba ngebut-ngebutan. Dan Min Kyung yang matanya setengah ngantuk tak melihat mobil-mobil di depannya, sehingga ia terserempet mobil. Dan lebih parahnya lagi, mobil yang menabraknya itu memakai NOS, sehingga meskipun keserempet saja sudah mengenaskan sekali.

Min Kyung terpelanting ke aspal dan wajahnya terbentur aspal. Setelah insiden itu, Min Kyung segera dibawa ke rumah sakit, dan kata dokter kondisinya kritis. Hal ini membuatku ketakutan kehilangan sahabat terbaikku. Dari semua informasi detail ini, aku diberitahukan dari tetangga dan saksi mata atas insiden itu.

Beberapa jam telah berlalu, setelah keluar dari ruang ICU, dokter mengatakan sesuatu yang menyedihkan, “Temanmu yang bernama Kang Min Kyung, menderita kebutaan dan gangguan pendengaran, sehingga dia agak tuli. Dan untuk bagian badannya.. bagaimana kalau kamu masuk ke dalam ruang kerja saya?” Syok, itulah reaksi dariku begitu mendengar perkataan dari dokter bernama Ryeowook itu sambil manggut-manggut padanya.

Sesampai di ruang kerja yang penuh sekali dengan berkas arsip kesehatan, aku pun bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi, dok?” tanyaku penuh kecurigaan. “Begini, saya memerika sekujur tubuhnya melalui rontgen. Ini hasil X-Rey nya,” sambil memberikan X-Rey padaku. “Lihatlah pada bagian dada, terdapat ada tiga tulang yang patah, dan itu adalah tulang rusuk bagian kiri,” jelasnya. “Apa?! Jadi..” belum kelar berkata, tiba-tiba dokter itu menyela, “Hmm, temanmu menderita Hemopneumothorax, dalam istilah kedokteran menggambarkan kombinasi dari dua kondisi yaitu, pneumothroax (udara dalam rongga dada) dan hemothorax (darah dalam rongga dada). Untuk informasi yang lebih jelas, temanmu harus dirawat di rumah sakit ini.”

“Tapi, dok. Sepertinya takkan lama teman saya dapat dirawat disini. Masalahnya, saya tak dapat mencukupi biaya perawatannya. Apakah boleh jika teman saya istirahat di rumah saya, setiap hari melakukan pengobatan di rumah sakit ini, jadi bolak-balik. Bolehkah?”

“Ini hal serius lho, nak. Dia mesti dirawat di rumah sakit. Karena dia menderita Hemopneumothorax (ada darah dan udara dalam rongga dada) akibat patahan tulang rusuk tersebut. Dan kami wajib melakukan pemasangan selang padanya untuk menyelamatkan nyawa temanmu. Jadi, saya sarankan sebaiknya..” belum selesai berbicara, aku sudah menyelanya, “Tidak, dok! percayalah pada saya. Saya berjanji akan menolong dia, tetapi saya sedang tak memiliki cukup uang dan tak ingin merepotkan rumah sakit ini. Saya janji, saya akan merawat dia dengan sepenuhnya, jadi tolonglah.”

“Merepotkan rumah sakit ini? Tentu saja tidak! Kami disini melayani dan membantu para pasien yang kesakitan. Jadi jangan bilang, merepotkan rumah sakit ini. Baiklah, saya sarankan, sebaiknya untuk sementara temanmu di rawat di dalam ruang ICU karena harus dipantau dalam monitor dengan benar. Nanti setelah beberapa hari kemudian, kondisi pernafasannya dan perdarahannya sudah tidak berproduksi banyak, maka akan di bawa ke ruangan biasa. Untuk masalah biaya, kamu membayarnya setelah temanmu sudah diperbolehkan pulang. Bagaimana?”

Beberapa saat kemudian akhirnya mau tak mau aku harus menerima keputusan dokter untuk menyelamatkan nyawa temanku. Aku pun bertanya apakah aku boleh menjenguk Min Kyung. Dan beliau menjawabnya, “Boleh, namun.. menjenguknya dari jendela ruang ICU, jika masuk ke dalam itu tak boleh.” Aku pun membungkukkan punggungku sambil mengucapkan kata terima kasih.

Aku memandang Min Kyung yang terbaring lemah dari jendela ruang ICU. Kutahan air mataku yang akan turun, akan tetapi tak bisa. Air mataku mulai menderas, aku tak dapat menahannya. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Mengapa bisa dia begitu tak beruntung? Apa mungkin ini takdir Tuhan? Entahlah.. Tapi aku akan terus mendoakannya agar cepat sembuh dan tersenyum kembali. Aku tahu pasti karena hal ini dia akan susah tersenyum. Hari terus berjalan, aku terus menjenguknya dan menanyakan kabar Min Kyung. Kata dokter, dia sudah agak membaik. Aku terus berdoa pada Tuhan memohon pada-Nya untuk melindungi Min Kyung.

Suatu hari, seperti  biasa aku mendatangi rumah sakit. Aku dikabarkan bahwa, kondisi pernafasan dan perdarahannya sudah tidak berproduksi banyak, jadi Min Kyung dibawa ke ruangan biasa. Mendengar kabar itu, aku langsung bahagia. Bahagia ini berbeda dengan bahagia lain, aku bahagia karena Min Kyung tak berada di ruang ICU. Aku segera mendatangi ruangan biasa dimana Min Kyung ada.

Min Kyung masih belum bangun. Aku menunggunya hingga tertidur. Waktu terus berjalan, hingga tak berasa malam telah tiba. Aku terbangun, dan tanpa sengaja melihat Min Kyung bergerak.

“Hae Ri, mengapa gelap sekali? Aku tak melihat kau. Kau ada dimana?” ujar Min Kyung dengan suara kecil sambil meraba-raba. Melihat itu aku langsung terkejut dan menyentuh tangannya. “Aku disini, nae chingu (temanku),” balasku dengan mendekat ke telinga Min Kyung.

Dia memegang telapak tanganku dengan erat sambil ketakutan – dia tampak seperti kucing yang berada di tengah hujan, “Hae Ri, apa sebenarnya yang terjadi pada diriku? Tolong katakan, aku takut sekali! Sakit sekali dadaku, wajahku..,” serunya dengan cemas. Kuusap kepalanya dengan lembut, sambil menahan tetesan air mataku, aku tak ingin ia tahu bahwa aku sedang menangis. “Mianhae (maafkan aku), kau.. kau, menderita kebutaan dan agak tuli setelah mengalami kecelakaan,” kataku dengan terbata-bata.

“Hah..? A..aduh.. sakit sekali dadaku, juga agak sulit nafas..,” keluhnya sambil merintih kesakitan. “Apa..? Aku.. buta dan agak tuli?” lanjutnya dengan kejut.

Kulihat wajahnya terkejut meskipun ia buta, tetapi aku dapat melihat ekspresinya. “Lalu.. bagaimana cara aku dapat melihat SHINee?” tanyanya yang agak tak nyambung, dan membuatku kecewa. “Jangan pedulikan masalah itu, Min Kyung! SHINee itu bullshit, mereka takkan mau menemui yang cacat ini! Jadi tolong sadarlah!” bentakku dengan emosi.

Ia merasa kecewa, “Mengapa aku bisa begini?! Aku tak ingin buta! Aku tak ingin tuli! Tuhan! Aku hanya ingin menemui SHINee, itu saja!”

Aku hanya terdiam saja sambil merasa iba. “Mianhada (Maaf).. kau bisa menemui SHINee, kalau kau sudah membaik. Jadi, tolong mengerti kondisi tubuhmu,” saranku. Lalu dia mengucurkan air mata, dan mencoba memukul dada nya sendiri. Melihat itu aku langsung menghentikannya, karena jika ia melakukan itu terus-terusan itu akan melukai dirinya sendiri.

“Hentikan! Kau tak boleh sakiti dirimu.. Tenang saja, kau pasti akan menemui SHINee,” yakinku padanya. “Baiklah, aku akan sembuh. Setelah sembuh, aku akan menemui SHINee. Kalau begitu, aku istirahat dahulu,” ucap terakhirnya lalu tidur. Aku tersenyum sebentar dengan pipi yang terbasah oleh air mata.

Keesokan pagi harinya, aku terbangun di kasur Min Kyung. Ku melihat jam tanganku menunjukkan pukul jam tujuh pagi. Dan melihat kalender yang tergantung di dinding kamar Min Kyung. Sudah sepuluh hari, Min Kyung berada di rumah sakit. Dan sudah sepuluh hari juga, aku mengambil cuti kerja. Aku pun memutuskan untuk bekerja besok, gunanya tentu untuk membiayai administrasi rumah sakit ini.

Aku langsung pergi meninggalkan Min Kyung yang masih terlelap tidur, untuk sarapan di kantin rumah sakit. Selama sarapan, aku terus memikirkan masalah Min Kyung. Bagaimana cara aku dapat mempertemukan Min Kyung dengan SHINee? Aku tahu, pasti SHINee sangatlah sibuk. Sehabis makan, aku kembali ke rumah untuk membawa laptopku beserta charge-nya.

Setelah membawa barang itu, aku pergi ke rumah sakit. Setibaku di rumah sakit, langsung menuju ke kamar Min Kyung. Begitu kubuka pintu, aku melihat Min Kyung telah  bangun. “Selamat pagi, Min Kyung-ah. Tidurmu nyenyak?” sapaku dengan senyum. “Akan nyenyak apabila alat-alat ini dilepas,” jelasnya.

Tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat suster menghampiri kami. Seperti biasanya, ia memeriksa keadaan pasien. “Wah, pasien Min Kyung sudah siuman. Sungguh mukjizat. Baiklah, kalau begitu saya akan memeriksa kondisi fisikmu sekarang,” kata suster sambil memeriksa kondisi Min Kyung. “Kondisimu mulai membaik, sudah tidak berproduksi banyak, dan udara yang masuk berkurang. Oh ya, saya sarankan, jangan menarik nafas terlalu dalam, nanti akan semakin nyeri di dada.  Juga jangan terlalu banyak bergerak dan berbicara. Kalau begitu, permisi dahulu,” jelas sang suster hendak meninggalkan ruangan. “Gamsahamnida, ganhosa (Terima kasih,suster),” ucap terima kasih dariku sambil membungkukkan badanku.

Sepergiannya suster itu, aku menyalakan laptopku dan mulai mencari cara untuk membawa SHINee kepada Min Kyung. Pada awalnya sih, aku merasa itu takkan mungkin. Namun kuingat kalimat yang pernah dikatakan oleh Min Kyung sebelum ia mengalami insiden ini. “Sesuatu yang tak mungkin terjadi itu takkan terjadi, namun apabila kita terus berusaha keras, pasti itu dapat terjadi.

Setelah mencari-cari berbagai situs mengenai informasi kontak manajemen SHINee, akhirnya kutemukan nomor teleponnya. Sesegera mungkin kukabarkan berita ini pada Min Kyung. Meski wajahnya terlihat pucat dan susah tersenyum, tapi aku bisa melihatnya bahagia. Aku langsung menelepon manajemen SHINee.

Mereka menanggapiku, tetapi mereka tak mengizinkan kami untuk bertemu SHINee, disebabkan jadwal SHINee saat ini sedang padat jadi tidak boleh diganggu. “Tetapi, apakah boleh kami mengetahui alamat base camp SHINee?” tanyaku dengan ragu.

“Mianhaeyo (maafkan saya), ada keperluan apa Anda mesti bertemu dengan SHINee? Juga, kami tak bisa memberitahukan alamat base camp SHINee dikarenakan ini privasi. Kami takut nanti akan terganggu para anggota SHINee. Jadi, sekali lagi miahaeyo (maafkan saya),” jawab dari manajemen SHINee.

Sesaat itu aku sungguh merasa bersalah terhadap Min Kyung, maka aku langsung berterima kasih pada SM Town karena sudah mau menanggapi dan menutup telepon. Min Kyun langsung menanyakan apa yang terjadi.

“Bagaimana, Hae Ri? Apakah aku, gadis buta dan sedikit tuli ini, boleh bertemu dengan SHINee?” tanyanya sedikit bingung. “Hmm, begini.. tadi dari manajemen SHINee mengatakan bahwa, kamu tak bisa bertemu dengannya, disebabkan jadwal SHINee sedang padat. Jadi, bagaimana?” desahku.

“Omo! Pokoknya bagaimanapun aku harus tetap bertemu dengan SHINee sampai aku tidur di tanah! Arraseo?!” bantahnya dengan kecewa. “Tapi, mereka tak meng…” belum menyelesaikan kata-kataku, Min Kyung sudah menyela, “Biarlah! Pokoknya aku mesti bertemu dengan SHINee!” sedikit kesal. “Aigo, sakit sekali..,” lanjutnya sambil memegang dadanya.

Melihat itu aku menjadi merasa prihatin dan khawatir. Aku takut, dia terus-terusan merintih kesakitan, memaksa untuk mengucap keras dan kabur dari rumah sakit. Aku langsung mengiyakan saja. Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. “Min Kyung, bolehkah orang tuamu mengetahui kondisimu sekarang ini?” tanyaku ragu. “Anio! Pokoknya tidak boleh!” jawabnya kencang yang tetap memegang dadanya dengan merintih. “Sebenarnya, ada apa antara kamu dengan keluargamu?” tanyaku lagi.

“Itu bukan urusanmu..,” jawabnya yang mulai memelankan suaranya. “Bisakah kau berhenti membuatku kesal? Semakin kau buatku kesal, semakin keadaanku parah. Arraseo (Mengerti)?”

Aku mengangguk dan fokus pada laptop. Aku menemukan alamatnya, kemudian segera kucatat. Sesudah itu, aku berpamit pada Min Kyung untuk pergi ke alamat manajemen SHINee.

***

Sesampai di luar kantor manajemen SHINee, aku melihat keadaan sekitar. Banyak sekali mobil-mobil yang terparkir. Akhirnya aku memarkirkan mobilku dekat daerah itu. Beberapa saat kemudian, aku telah menginjak di bangunan 4 lantai itu. Aku telah berada di ruang  resepsionis, segera kudekati meja resepsionis.

“Annyeong Haseyo (Halo), ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis itu dengan sopan.

“Hmm, kalau boleh tanya,  apakah saya dapat bertemu dengan manajer SHINee?” jawabku dengan pertanyaan.

“Mianhae (Maafkan saya), apakah Anda memiliki sebuah janji dengan manajer SHINee? Juga, kalau saya boleh tahu, nama Anda siapa, ya?”

“Hmm, anio (tidak). Hajiman (Tapi), ada yang ingin saya bicarakan dengannya dan ini sangatlah penting. Oh ya, nama saya, Hae Ri.”

“Sekali lagi, Mianhamnida (Maafkan saya), saya tak dapat mempertemukan Anda dengan manajer SHINee kecuali Anda ada janji dengan manajer SHINee.”

“Tapi, tolong, bu. Saya sangat membutuhkan dia. Oh ya, kalau boleh saya tahu, dia sekarang berada dimana?” tanyaku dengan terburu-buru.

“Masalah dia berada dimana, itu adalah privasi, Hae Ri agasshi (nona Hae Ri). Saya tak bisa memberitahukan Anda, apabila Anda tak memiliki alasan khusus untuk bertemu dengannya. Mianhae (Maafkan saya).”

“Hmm, kalau begitu bisakah Anda berikan nomor teleponnya pada saya? Agar saya bisa menghubunginya dan berbicara dengan jelas padanya, jebal (kumohon)!” desakku sambil menundukkan kepalaku.

Hening seketika, orang-orang disekitarku memandang ke arahku. Aku merasa sedikit risih dengan pandangan mereka. Resepsionis itu mendesah, “Jahda.. (Baiklah), hajiman (tapi), saya akan mengontaknya, tunggu sebentar ya, agasshi (nona),” sambil menelepon manajer SHINee. Ku terus menunggu dengan berharap bisa mempertemukan Min Kyung dengan SHINee. Beberapa saat resepsionis itu mengatakan bahwa aku boleh bertemu dengan SHINee akan tetapi kira-kira seminggu yang akan datang disebabkan karena SHINee sedang dalam jadwal tur mereka. “Jinjja (benarkah)?!” sungguh terkejut diriku begitu mendengar perkataannya. “Jadi aku harus menunggu selama seminggu?”

“Belum tentu, bisa juga lebih,” jelas resepsionis.

Apa kata Min Kyung nanti kalau aku memberitahukan ini padanya? Aku harus bagaimana? Aku telah janji pada Min Kyung untuk mempertemukan Min Kyung dengan SHINee secepat mungkin. Belum tentu setelah kutunggu selama seminggu, SHINee masih ada kesibukan lainnya. Kubertanya kepada resepsionis kemana sekarang mereka berada. “SHINee termasuk manajer nya kini sedang berada di Los Angeles,” jawab resepsionis.  Aku pun pamit dengan lesu, sepertinya aku tak bisa membawa Min Kyung bertemu dengan SHINee.

***

“Apa? Mereka sedang berada di Los Angeles?” Min Kyung terkejut begitu mendengar penjelasanku. “Iya, jika kamu ingin bertemu dengan SHINee, harus menunggu selama seminggu.”

Seketika dia mengucurkan air matanya dan terus berharap dapat bertemu dengan SHINee. Aku duduk terpaku di sebelah Min Kyung sambil pasrah. Untuk menenangkan hatiku dan Min Kyung, aku menyalakan televisi berharap ada suatu hiburan untuk kami. Kebetulan siaran yang diputar adalah acara talkshow SHINee. Jadi hati kami sedikit tenang. “Seandainya, ku dapat melihat mereka dengan jelas, mungkin ku bertambah bahagia,” ujar mendadak dari Min Kyung. “Sabarlah, nanti kamu dapat bertemu dengan mereka. Tenang saja,” ajakku pada Min Kyung untuk bersabar. “Hmm.. mendengar suara mereka terlihat mereka sedang bahagia, itu sudah membuatku ikut bahagia,” komentar Min Kyung tersenyum. Baru kali ini Min Kyung tersenyum sejak insiden itu terjadi.

Pada malam harinya, Min Kyung tertidur. Aku masih belum tidur disebabkan karena aku sedang memikirkan sebuah rencana untuk Min Kyung. Lalu aku pergi ke ruang dokter. “Dok, tolong bantu aku untuk menjaga temanku. Aku akan pergi ke luar negeri, kabarkan aku kalau ada masalah pada temanku,” jelasku pada dokter. Dokter kaget mendengar penjelasan dariku, “Kamu akan pergi ke mana? Baiklah kami akan menjaga temanmu.”

Keesokan pagi harinya yang cerah, aku pergi ke kantor dan menemui atasanku. “Kamu sudah cuti selama sepuluh hari, Hae Ri! Kamu ingin menambahkan cuti mu lagi? Apa kamu sudah tak mau bekerja lagi di sini?!” renta atasanku. “Mianhamnida, boseu (bos). Jeongmal mianhae (sungguh minta maaf). Jebal, berikan saya cuti selama tiga hari lagi. Saya benar-benar membutuhkan itu. Saya akan pergi ke luar negeri untuk membantu teman saya mengejar impiannya,” bujukku sambil membungkuk badan.

“Kamu pikir ini rumahmu?! Seenaknya saja keluar masuk di kantor ini. Saya sudah memberikanmu cuti selama sepuluh hari, apa itu masih belum cukup?!” kesal atasanku sambil memukul meja. “Jeongmal mianhamnida, boseu (bos). Saya.. saya hanya ingin..,” belum selesai ucapanku sudah disela oleh bosku, “Kamu lebih mementingkan temanmu itu dibandingkan pekerjaanmu?! Kantor ini memiliki tata tertib!”

Kuterus memohon pada bosku sambil membungkukkan badan sampai-sampai ku berlutut padanya. Pada akhirnya ia mengibaiku, “Baiklah, saya akan memberimu cuti sekali lagi selama tiga hari.”

“Gamsahamnida (Terima kasih), boseu. Saya janji, setelah masalah ini selesai, saya tak akan sering melakukan cuti. Jeongmal gamsahamnida,” sahutku dengan wajah seperti semringah, karena merasa bos sangat adil berkali-kali ku mengucap terima kasih sambil bungkuk badan.

***

Untung saja aku sudah memiliki paspor, awalnya paspor ini kugunakan untuk bertemu dengan orangtuaku yang sekarang berada di luar negeri, akan tetapi akhirnya kugunakan untuk impian temanku. Baru sampai di dalam pesawat, masih berada di Seoul, aku tiba-tiba ditelepon oleh sang dokter. “Yeoboseyo (Halo)? Hae Ri, temanmu ingin bicara padamu,” sapa sang dokter seraya memberikan teleponnya pada Min Kyung. “Yeoboseyo, Hae Ri-ah! Mengapa kamu tak bilang padaku kalau kamu pergi keluar negeri?” tanya Min Kyung dengan nafas terengah-engah. “Min Kyung-ah? Mengapa nafasmu seperti itu? Apa yang terjadi?” jawabku yang tak menjawab pertanyaannya. “Aku.. berusaha mencarimu tadi dengan memanggilmu dengan kencang.. dokter langsung datang, dan menjelaskan semuanya,” jawab Min Kyung yang masih setengah nafas terengah-engah dengan pelan. “Mengapa kamu tak bilang padaku?” lanjutnya.

“Mianhae, aku ingin kamu bahagia, Min Kyung,” ucapku dengan senyum, baru ingin kubicara, tiba-tiba terdengar suara, “Penerbangan Seoul-Los Angeles akan segera berangkat. Dimohon para penumpang segera bersiap-siap dan mematikan telepon genggam. Terima kasih.” Seorang pramugari menghampiriku dan berkata dengan ramah, “Nona, karena penerbangan akan segera berangkat, tolong mematikan telepon genggam Anda.”

“Sudah dahulu ya, Min Kyung. Sebentar lagi pesawat akan berangkat. Annyeong hi-gyeseyo (Selamat tinggal),” kata terakhirku sebelum mematikan telepon genggam. Pramugari itu tersenyum dan meminta untuk mengenakan sabuk pengaman hingga pesawat berhenti dan mengencangkan sabuk pengaman. Pramugari itu langsung pergi menghampiri penumpang lainnya.

Pesawat pun lepas landas, karena ku merasa mengantuk sebab semalam kurang tidur karena memikirkan rencana, aku tertidur di pesawat. Selang waktu terus berjalan hingga tak terasa aku telah menginjak di kota Los Angeles. Seorang pramugari membangunkanku dan menyatakan bahwa telah sampai. Setelah dibangunkan, aku segera menuju ke bandara di Los Angeles untuk pengecekan paspor dan pengecekan barang bawaan. Selain itu aku juga menuju tempat penukaran uang yang disediakan di bandara ini. Sesudah melakukan tiga hal itu, aku bergegas keluar dari bandara dan menaiki taksi yang sudah berada di luar bandara, kemudian menuju ke hotel yang sudah kucari lewat internet yakni, hotel yang digunakan SHINee.

Di luar hotel, aku melihat sekitar sepuluh orang sedang duduk sambil bercakap-cakap. Setibaku di hotel, aku segera menghampiri resepsionis, menanyakan apakah ada kamar kosong atau tidak. Seusai memesan kamar hotel, aku segera menuju kamar hotelku. Kasur di kamar hotel ini sungguh empuk, juga fasilitasnya bagus, pantas saja SHINee menginap di hotel berbintang ini. Kendati aku tak memesan kamar VIP agar dapat bisa melihat SHINee dengan dekat, tapi aku dapat melihatnya dari jauh.

Aku memiliki feeling bahwa SHINee pasti masih berada di hotel, disebabkan karena melihat orang-orang di luar hotel membawa spanduk SHINee. Untung tak memboroskan sisa waktuku, aku berniat untuk mencari SHINee di kamar VIP. Ketika berada di lantai khusus VIP, tak sengaja ku melihat seorang pria yang menurutku berusia sekitar 30 tahun ke atas keluar dari kamar VIP, terlihat dari wajahnya bahwa pria itu adalah orang Korea dengan badan besar dan tegap. Sepertinya kupernah melihat pria itu, dia manajer SHINee, Gyeong Shik! Pasti SHINee berada di kamar itu. Aku punya sebuah rencana untuk masuk ke kamar itu, tanpa diusir oleh satpam.

Aku kembali ke kamarku dan memesan makanan. Pesananku akhirnya tiba, begitu pelayan itu pergi sudah jauh dari posisiku, aku langsung pergi menuju ruang ganti pelayan wanita, dimana disana terdapat seragam pelayan yang tergantung di tembok. Secepat mungkin ku memakai seragam itu. Sesudah memakai seragam pelayan, secara diam-diam aku membawa meja dorong yang berjaga di ruang bagian khusus pelayan ini. Kubawa meja dorong itu ke kamarku untuk mengambil makanan. Lalu pergi menuju kamar SHINee. Terlihat dua bodyguard sedang berjaga di depan pintu kamar SHINee. Aku berjalan pelan, tiba-tiba dihadang dua bodyguard itu dan meminta kartu ID. Aku menunjukkan kartu ID yang kebetulan kartu ini tercantum dalam baju dan tak ada foto. Selain itu ia juga memeriksa isi meja dorong dan diriku, apakah ada barang bahaya atau tidak. Akhirnya aku lulus dari pemeriksaan bodyguard.

Kuketuk pintu dengan pelan seraya mengatakan, “Pelayanan hotel.” Pintu pun terbuka, dan terlihat wajah Minho bingung. “Maaf, ada apa ya?” tanyanya. “Hmm, ini pesanan makanannya,” jawabku menunjukkan meja dorong yang berisi makanan. Minho menghadap ke belakang sebentar untuk bertanya pada anggota SHINee lainnya, apakah mereka pesan atau tidak. Jawaban mereka semua tidak. “Maaf, kami tidak memesan makanan. Mungkin Anda salah kamar,” ujar Minho. “Tunggu sebentar, benar ini kamar hotel nomor 354?” tanyaku berpura-pura membaca kertas kecil. “Iya betul,” jawab singkat dari Minho.

“Saya mendapat perintah bahwa kamar hotel nomor 354 memesan makanan ini. Atas nama Gyeong Shik,” jelasku.

“Dia? Wah, baik sekali dia, kebetulan aku sedang lapar. Baiklah silakan masuk,” pinta Minho membuka pintu lebar. Aku segera masuk sambil mendorong meja dorong yang berisi makanan. Kemudian menaruh makanan di meja. Sesudah itu mendorong meja dorong keluar dari kamar mereka, “Selamat menikmati.”

Baru sampai di luar pintu kamar hotel, tiba-tiba aku dihentikan oleh Taemin. “Hmm, nona pelayan, maaf, apa maksudnya ini?” sambil menunjukkan kertas kecil yang bertuliskan, “I really need help” itu. “Ini kertas darimu, nona pelayan?”

Aku langsung bersalah tingkah sedikit, “Ah.. maaf, permisi..,” ucapku gerogi. “Tunggu, nona pelayan, kau butuh bantuan apa?” tanya Taemin. “Hmm.. sebenarnya tak enak ku meminta bantuan dari tuan. Tapi aku harus mengatakannya.. Karena ini masalah yang sangat penting,” jawabku dengan jelas. Dan pada akhirnya ku dipersilahkan masuk kembali. Sebelumnya, aku sengaja memasukkan kertas kecil itu di bawah piring. Sesuai dengan dugaanku.

“Apa yang terjadi, nona pelayan?” tanya Taemin.

“Hmm, aku memiliki seorang teman.. dia sangat ingin bertemu dengan kalian, SHINee.. Akan tetapi, sebuah insiden menerpanya, hingga ia tak dapat melihat, sedikit tuli, sehingga tak dapat bertemu dengan kalian dalam keadaannya seperti ini. Jebal.. Aku datang dari Seoul hanya demi impian temanku ini,” jawabku sedikit ragu. “Selain ia tak dapat melihat dan sedikit tuli, ia juga tak dapat bergerak. Disebabkan karena ia menderita hemopneumothorax yang menyebabkannya terus-terusan berada di kamar rumah sakit. Seharian ia terus berharap dapat bertemu dengan kalian.. Jebal.. berikanlah aku waktu.”

Semua anggota SHINee terkejut mendengar penjelasan dariku. “Jinja?!” ucap mereka bersama. Aku mengangguk, dan teringat pada Min Kyung membuatku sedih. “Ah, mianhamnida.. aku jadi curhat seperti ini. Tak seharusnya ku curhat ini, tapi.. aku ingin kalian bertemu dengannya, ini impian terakhirnya..”

Ketika ku sedang berbicara, kalimatku masih belum lengkap, tiba-tiba ringtone telepon genggam ku berdering. Aku segera mengangkat telepon panggilan dari dokter Ryeowook, “Yeoboseyo, Hae Ri.. Kabar gawat dan sungguh mengejutkan.. Kau harus kembali ke Seoul..,” dengan suara yang terputus-putus. Mendengar perkataannya aku terkejut dan bertanya dengan kencang dan cepat, “Apa yang terjadi di sana?!”

Di waktu yang sama, tiba-tiba terdengar suara pertanyaan dari arah pintu kamar SHINee. Orang itu adalah manajernya SHINee, Gyeong Shik! Tanpa kusadari, aku tak sengaja menekan tombol “End Call”. Gyeong Shik kebingungan dan bertanya, “Siapa kamu?”

“Hyeung (kakak laki-laki yang dipanggil oleh adik laki-laki), ini semua kamu kah yang memesannya? Jeongmal gamsahamnida, hyeung!” seru Onew tersenyum girang.

“Memesannya? Ada apa? Saya tak memesan makanan,” sahut Gyeong Shik yang membuat seluruh anggota SHINee yang tersenyum girang berubah kaget. “Jinja?” tanya Taemin dengan wajah kaget. Gyeong Shik mengangguk. Berakhirlah sudah riwayatku.

Seluruh anggota SHINee termasuk Gyeong Shik langsung mengarah padaku dengan tatapan bingung, “Sebenarnya siapa Anda ini?” Perasaanku mulai merasa gelisah, keringat mulai mengucur di kulitku, suhu tubuhku mulai berubah dingin karena gerogi. “Hmm.. mianhamnida karena saya telah berbohong soal pesanan makanan itu. Akan tetapi, saya sangat jujur sekali soal teman saya!” jelasku membungkukkan badan. “Soal temanmu apa?” bingung Gyeong Shik sang manajer SHINee. “Saya telah menjelaskan ini semua pada Onew, Jonghyun, Minho, Key, dan Taemin. Saya memiliki seorang teman yang penggemar berat SHINee, sehingga ia ingin sekali bertemu dengan SHINee. Akan tetapi dalam kondisinya seperti ini, ia tak mungkin dapat bertemu dengan SHINee,” jelasku yang belum selesai berbicara, “Maaf, saya tak dapat mengizinkanmu bertemu dengan SHINee. Silakan keluar atau saya panggil satpam! Jangan terlalu banyak berbohong!” renta Gyeong Shik dibantu bodyguard nya menarikku keluar dari kamar tidur SHINee.

Aku terkejut seketika. Sampai-sampai ku tak bisa mengucapkan sepatah kata. Tiba-tiba aku mendapatkan panggilan telepon dari dokter Ryeowook kembali membuatku tersadar. “Ah, mianhamnida! Aku tak sengaja menekan tombol “End Call”.. Apa yang terjadi disana, dok?”

“Begini.. Min Kyung mengalami kritis kembali.. Kamu harus segera kembali ke Seoul secepatnya..,” jawab dokter Ryeowook dengan suara terputus-putus. Mataku terpelalak mendengar jawaban dokter Ryeowook, seakan-akan tak percaya dengan jawabannya. “Benarkah, dok? Ah.. pasti dokter mengada-ada kan?”

“Tidak, Hae Ri.. saya tak mengada-ada..,” kata dokter Ryeowook yang masih terputus-putus. Seketika ku terjatuh terpuruk sambil meneteskan air mata, aku benar-benar tak ingin membuat Min Kyung sedih karena dia tak dapat bertemu dengan SHINee. “Yeoboseyo? Hae Ri? Kamu masih disana?” tanya dokter Ryeowook bingung yang tak membuatku tersadar. Aku mendesah memendam perasaan sedih ini berusaha kuat, “Baiklah.. saya akan pergi ke sana, tunggulah beberapa hari lagi, saya pasti akan berhasil!”

***

“Hari Sabtu ini pukul enam sore diadakan konferensi pers,” ujarku sambil membaca berita mengenai acara tur SHINee Los Angeles di internet. Berarti besok adalah pengadaan konferensi pers SHINee. Sebelumnya aku telah membeli tiket konser SHINee di Los Angeles sewaktu tiba. Untung saja tiket waktu itu masih banyak, sekarang telah habis banyak.

Keesokan sore harinya, aku tengah bersiap-siap untuk pergi ke konferensi pers. Begitu berjalan menuju ruang konferensi pers, sudah terlihat banyak sekali para penggemar SHINee sedang menunggu dan mengantri dengan tertib. Padahal ini baru pukul lima sore!

Aku pun diperiksa oleh satpam dan lolos dari pemeriksaannya, sehingga dapat masuk ke dalam ruang konferensi pers. Kududuk di kursi yang lumayan dekat dengan panggung, tapi bukan tempat duduk bagian pertama. Beberapa bodyguard telah dikerahkan untuk berjaga. Keamanan disana sangatlah ketat.

Suara mulai heboh, begitu SHINee memasuki lorong. Pada akhirnya konferensi pers pun dimulai, diawali dengan pidato dari seorang pria berbahasa Korea dibantu oleh pria di sebelahnya yang menjadi penerjemah. Sesudah itu, pidato sang ketua, Onew, dan anggota SHINee lainnya satu per satu. Juga terjadi tanya-jawab antar SHINee dengan penggemarnya. Kemudian sesi foto pun dimulai. Begitu acara konferensi pers ini akan segera berakhir, aku langsung berteriak untuk menghentikan semua, “Kumohon! Beri saya sedikit waktu! Saya ingin mengungkapkan sepatah kata saja!!” yang tentu membuat seluruh isi ruang terkejut dan terdiam bingung. Beberapa bodyguard sudah mau menghampiriku untuk mencegah terjadinya kacau, dengan kilat aku mengatakan, “Saya tidak akan membuat semua kacau! Tenang saja! Saya hanya ingin mengungkapkan beberapa kata saja!”

“Bagaimana rasanya, jika temanmu buta, agak tuli, dan tak bisa bergerak karena hemopneumothorax terus bersedih hingga menjelang kematiannya tiba?! Tentu kau merasa iba, dan akan membuatnya bahagia, bukan?! Temanku mempunyai sebuah impian, bertemu SHINee secara langsung. Namun impiannya itu mustahil karena suatu kecelakaan yang menimpanya! Aku datang kemari untuk membantunya!!” teriakku.

Aku menghampiri ke depan panggung sambil bersujud, “Jebal..!! Temanku sungguh ingin bertemu dengan kalian! Berilah aku waktu!! Besok adalah hari terakhirku berada di Los Angeles, kumohon seusai konser ikutlah bersamaku pergi ke Korea untuk bertemu dengan temanku!!” sambungku sambil berteriak terisak-isak. SHINee terpaku sambil membawa ekspresi setengah kaget, yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Beberapa bodyguard langsung menghampiriku dan membawaku keluar dari ruang konferensi pers secara paksa.

Biarlah aku mempermalukan diriku sendiri, asalkan aku dapat membahagiakan seseorang, itu sudah cukup membuatku bahagia.

***

Keesokan hari pun telah tiba. Hari ini adalah hari terakhirku berada di Los Angeles, dan hari kesempatan untuk mempertemukan Min Kyung dengan SHINee. Aku terus menerus mencoba membuat SHINee bertemu dengan Min Kyung, alhasilnya aku nyaris saja dikeluarkan dari hotel. Tapi kendati seperti itu, aku tetap bersikukuh untuk mempertemukan mereka. Sampai-sampai aku hampir tak sarapan, disebabkan karena aku terlalu bersikeras. Aku sungguh tak ingin menyia-nyiakan waktu yang telah ada. Biar bagaimana pun caranya, aku harus membuat Min Kyung bahagia dengan tenang.

Konser untuk SHINee dimulai pada jam tujuh malam waktu PDT (Los Angeles). Dengan sebisa mungkin, aku merubah penampilanku dengan memakai kacamata hitam, serta syal pink, dari penampilanku sebelumnya. Gunanya agar aku bisa lolos dari pemeriksaan ini. Dan benar saja dugaanku, aku lolos dari pemeriksaan satpam.

Sebelum konser dimulai, aku melangkahkan kaki menuju ke backstage. Di backstage, terdapat beberapa bodyguard mencegatku, sehingga aku tak dapat bertemu dengan SHINee, dan aku memutuskan untuk berteriak sambil memohon untuk mengais perhatian mereka. “Jebal!! Tolonglah diriku dan temanku ini!! Temanku sekarang sedang sekarat!! Apa kalian tega melihat penggemar kalian sengsara seperti ini?! Berilah aku waktu!! Aku tak ingin mempersulitnya dengan membuat ia datang mencari kalian dalam keadaannya seperti ini. Aku hanya ingin dia tenang!! Dia selalu memanggil nama SHINee, selalu bermimpi bertemu dengan SHINee dan berbicara langsung dengan kalian!! Kalian masih memiliki keprimanusiaan bukan?!”

Tiba-tiba Minho keluar dari ruang backstage nya dan mendekatiku, “Mianhamnida.. kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami memang ingin sekali bertemu dengan temanmu itu. Akan tetapi, jadwal lah yang mengatur kami. Sekali lagi mianhamnida,” kata Minho dengan tenang seraya membungkukkan badannya dan melangkah masuk kembali ke ruang backstage. “Tunggu!! Semudah itukah kamu berkata? Kamu tak bisa memikirkan perasaan aku dan temanku?” ujarku yang membuat langkahan kakinya berhenti. “Bagaimana rasanya jika kamu seandainya menjadi   temanku? Aku memahami kesibukan kalian, tapi tolong pahami juga keadaan kami. Apa kumesti menunggu kalian berlama-lamanya hingga mendapatkan waktu luang? Ini antara hidup dan mati! Kumohon, berikanlah aku kesempatan hanya sekali saja. Sesudah pertemuan selesai, aku janji takkan menganggu kalian terus-menerus lagi,” ungkapku dengan sekencang-kencangnya.

Belum lama itu juga, seorang manajer SHINee selain Gyeong Shik juga ada Choi Jin yang baru datang menghampiri kami. Dengan tatapan penuh heran, ia bertanya padaku, “Apa yang terjadi, agasshi (nona)? Mengapa kamu teriak seperti itu? Apa kamu tidak pernah diajarkan sopan santun?!”

Mendengar pertanyaannya membuatku seketika terjatuh terpuruk sambil mengucurkan air mata, “Aku hanya menginginkan kalian mewujudkan impian terakhir dari temanku.  Aku hanya ingin membantunya. Apa itu salah?” Sekitar terdiam terpaku sambil memandang diriku. Terlihat manajer Choi Jin menghela nafasnya, “Memang itu tidak salah. Tapi kamu sudah keterlaluan, agasshi. Kamu telah menganggu kami, juga mengacau acara kami. Katamu, kamu memahami kami. Tapi sebenarnya kamu tidak memahami kami!”

“Lalu aku harus berbuat apa? Bisakah kamu memberitahuku?”

Choi Jin diam seketika, terlihat dirinya sedang berpikir sesuatu. Kurasa ia terjebak dalam pertanyaanku ini. Taemin menghampiriku dan menyuruh bodyguard berhenti mencegatku. “Noona (kakak perempuan panggilan dari adik laki-laki), kamu memang wanita hebat, kamu wanita kuat! Kamu  memang benar-benar teman sejati, malah bisa dikatakan teman abadi,” komentar Taemin yang kedua matanya berlinang air mata. “Ne (iya)! Kamu memang gadis yang baik,” ucap mendadak dari Gyeong Shik tersenyum.

“Jadi..?”

“Mengapa mengatakan jadi? Saya akan mengizinkannya. Saya yang akan bertanggung jawab!” seru Gyeong Shik tersenyum membuat Choi Jin terkejut, “Ige mwoya (Apa ini)? Mengapa kamu..,” belum selesai bicara, tiba-tiba teleponnya berbunyi. Choi Jin segera mengangkat dan tampak sedang berbicara dengan suara kecil. Akhirnya telepon pun selesai, Choi Jin menyatakan, “Chukhaeyo (Selamat), agasshi. Kamu lagi beruntung,” mendengar itu aku langsung loncat kegirangan. “Apa yang terjadi?” tanya Gyeong Shik. “Manajamen kita mengumumkan bahwa di negara kita setelah Los Angeles yang akan dikunjungi, sedang mengalami badai. Jadi, manajemen menolak dan tentu saja dengan itu memberikan kita sedikit ya setidaknya waktu luas yang lumayan,” jawab Choi Jin, yang membuat SHINee juga turut loncat kegirangan.

Tak beberapa lama kemudian, jam tujuh akan segera tiba, SHINee diminta untuk bersiap-siap melakukan sebuah penampilan di panggung. Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, SHINee menyanyikan lagu “Hello” dengan senyuman yang menawan, menurutku senyuman karena semangatnya!

Sesaat kemudian, tak terasa konser nya telah selesai. Aku menghampiri kembali pada SHINee dan manajer-manajernya yang kini berada di ruang backstage. “Annyeong haseyo (Halo), maukah kalian kuajak ke Korea Selatan? Sudah tak ada waktu lagi,” sapa ku hangat. “Oh, annyeong haseyo. Ya, kami semua akan kembali ke Korea Selatan. Ayo.”

***

“Dimana kamar temanmu?” tanya Choi Jin begitu kami semua sampai di rumah sakit, Seoul, Korea Selatan.

“Di sebelah sana!” unjuk tanganku seraya melangkah dengan cepat. Setelah sampai di depan pintu, kubukakan pintu secara pelan. Terlihat dokter Ryeowook tengah sibuk memeriksa keadaan Min Kyung. Aku sangat terkejut melihat keadaannya, alat penyelamat hidupnya kian bertambah banyak. “ Hae Ri? Wah, ternyata kamu telah sampai, mengapa tak kabarkan saya?” sapa dari dokter Ryeowook dengan hangat. Akan tetapi aku tak memedulikan perkataan itu, aku sedang mengalami syok saat itu hingga tak membuatku sadar aku telah duduk di lantai.

“Huh?! Ternyata..,” ungkap Jonghyun terkejut seraya menutup mulutnya dengan tangan. Mereka semua terkejut dan berjalan pelan menghampiri ranjang Min Kyung. “Banyak sekali orangnya, apa yang terjadi, Hae Ri?” tanya dokter Ryeowook bingung melihat orang-orang ikut pergi bersamaku. Aku tersadar, “Mereka adalah impiannya Min Kyung,” sambil menunjuk anggota SHINee satu per satu. Min Kyung masih tidur terpaku dengan wajah pucat di rancangnya dan dikelilingi oleh alat-alat penyelamat hidupnya. Min Kyung masih koma. Ia belum sadar, bahwa impiannya ternyata berada didekatnya. Perasaan sedih, khawatir, gelisah masih melikat dalam diriku. Kami semua terus menanti dirinya siuman. Secercah harapan mulai menggores kulitku, bahkan menggores kulit kami semua. Kami terus berharap ia akan terbangun, tersenyum, melihat kami semua telah hadir bersamanya. Impiannya kini telah terwujud, namun kesadarannya belum terbangun.

Hingga tak terasa malam telah tiba, SHINee masih setia menunggu Min Kyung siuman, kendati mata mereka telah berubah menjadi lebih kecil dari sebelumnya, kira-kira 1 mm. Karena sudah malam, para manajer SHINee meminta SHINee untuk pulang, karena parak manajer SHINee takut akan keadaan SHINee. Akhirnya SHINee mengiyakan. Namun begitu hendak melangkahkan kaki keluar pintu kamar, Min Kyung langsung terbangun dari koma nya. Air matanya mulai turun. Tangannya mulai gerak perlahan. Mulut nya mulai memberi ‘isyarat’ senyuman meski terlihat kaku.

Akhirnya anggota SHINee tak jadi pergi dan kembali masuk. Terlihat bibir Min Kyung bergerak, dan terdengar suara kecil dari Min Kyung, karena Min Kyung yang memakai alat bantu pernapasan pada mulutnya.

“Bo..leh..kah.. a..ku.. me..nyen..tuh.. ta..ngan.. SHINee..?” bantuku memperjelas ucapannya. Satu per satu anggota SHINee memberikan tangannya untuk disentuh oleh Min Kyung. Seusai Min Kyung sentuh tangannya satu per satu, ia berkata dan aku kembali membantu memperjelas ucapannya. “Ta..ngan.. ka..li..an.. sung..guh.. ha..ngat.., se..la..ma..nya.. a..ku.. tak..kan.. me..lu..pa..kan.. i..tu..”

“Sa..rang..ha..e..yo.. (Aku cinta kamu), SHINee..,” bantuku kembali memperjelas ucapannya. Mendengar perkataan itu, anggota SHINee terlihat matanya berlinang air mata. “Kami juga.. tenang saja, kamu pasti akan baik-baik saja,” sahut anggota SHINee bersama.

“Dan.. jeong..mal.. gam..sa..ham..ni..da.. (Terima kasih banyak), Hae.. Ri.., ka..mu.. me..mang.. te..man.. ter..ba..ik..ku.., jeong..mal.. mi..an..ham..ni..da.. (aku sangat minta maaf), ka..re..na.. a..ku.., ka..mu.. ja..di.. re..pot.. se..per..ti.. i..ni..”

Aku  terus mencoba tersenyum meski air mataku ini sudah menetes-netes karena tak kuat, “Gwenchanayo (Tidak apa-apa), Min Kyung. Kamu bahagia, aku juga bahagia.” Untuk pertama kalinya sejak insiden itu, ia tersenyum bahagia, terlihat dari raut wajahnya. Dan itu merupakan senyuman terakhirnya. Beberapa detik kemudian, gambar denyut pada layar terlihat lurus. Ia meninggal dalam keadaan tenang.

–Flash Back End –

Menurut kalian pasti dia bodoh, mengapa ia begitu sangat cinta pada SHINee. Tapi itulah namanya cinta abadi, sebuah cinta yang tak tahu kenapa dan mengapa, sebuah cinta murni dan sejati yang sebenarnya telah terpendam dalam lubuk hati seseorang.

Karena dia, aku bisa hidup seperti ini. Hidupku sekarang penuh berarti, setiap hari kujalani dengan waktu yang takkan kulewati. Dahulu aku sama sekali tak mengerti apa itu impian, bahkan ku tak memiliki sebuah impian. Karena dia, aku menjadi mengerti apa itu impian sebenarnya, karena dia aku memiliki sebuah impian. Dan impian itu telah terwujud, impianku adalah membantu teman atau sahabatku mengejar impian.

The End