Title                : Lovely step sister PART I

Author             : AnDee

Length                        : continue

Genre              : Romance

Main Cast       :

  1. Lee Donghae
  2. Park Hanna
  3. Cho Kyuhyun

 

Anyeong readers, Andee imnidaa. Ini first FF yg dipublish disini. Saran dan kritik ditunggu yaa. Gomawo and enjoy^^

 

Park Hanna pov

Oke, im home. Aku menaruh tas koper dan satu tas lain di ruang tamu begitu saja sementara tak lama kemudian pelayan rumah ini datang, membereskan barang-barangku dan membawanya masuk ke dalam kamar. Secara keseluruhan sama sekali tidak ada yang berubah dari rumah yang aku tinggalkan setidaknya selama 4 tahun untuk kuliah di Inggris. Hampir tidak ada yang berubah, semua detail di rumah ini. Kecuali satu, penghuni rumah ini. Ya, sepeninggalan eomma lima tahun lalu appa menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Appa menikah empat tahun lalu aku langsung berangkat ke Inggris. Aku memang tidak berminat melihat ‘penghuni baru’ rumahku ini karena bagiku aku hanya punya satu ibu, eommaku yang sudah meninggal lima tahun lalu. Selama empat tahun aku hanya pulang sekali, waktu libur semester dua tahun lalu dan tidak lama hanya seminggu. Aku malas berada di rumah ini, tidak ada yang membuatku betah. Apalagi appa yang sepertinya asik dengan ‘keluarga barunya’. Ya keluarga barunya, bukan keluarga baru kami. Aku tau dari dulu appa menginginkan anak laki-laki, dan dia mendapatkan itu dari istri barunya. Nama anak laki-laki itu, seingatku kalau dia belum merubah namanya karena dia adalah seorang artis adalah Lee Donghae. Aku tidak begitu mengenalnya dan tidak ingin lebih jauh mengenalnya.

Aku kemudian naik ke atas menuju kamarku, dan berpapasan di tangga dengan Donghae. Aku hanya meliriknya dan tidak berminat menyapanya.

“Selamat datang di rumah.” Ujarnya, terdengar ramah.

Aku tidak menjawab, kemudian meneruskan langkahku. Tidak ada niatan berbasa-basi dengannya.

“Kau tidak berubah.” Ujarnya lagi, membuat langkahku terhenti.

Aku tersenyum sinis, “untuk apa aku berubah?”

“Jadi kau tetap tidak bisa menerima aku dan ibuku bahkan setelah empat tahun berlalu?” dia bertanya lagi.

Kami berbicara saling membelakangi. “Kau tau jawabannya.”

Aku kemudian berlalu pergi menuju kamarku.

 

Donghae pov

Akhirnya dia pulang juga setelah dua tahun berlalu. Atau empat tahun? Karena dua tahun lalu dia hanya pulang satu minggu kemudian pergi lagi ke Inggris padahal liburannya masih tersisa sebulan lagi. Setidak nyaman itukah dia di rumahnya sendiri? Baiklah, aku tau alasannya, itu pasti karena aku dan ibuku. Dia tidak bisa menerima ibuku sebagai eommanya yang baru dan aku sebagai kakaknya. Terakhir bertemu dengannya dua tahun lalu kami bertengkar hebat karena dia terus menyudutkan aku dan ibuku. Aku bisa terima kalau dia menghinaku, tapi tidak dengan ibuku!

Aku tau hubungannya dengan appa pun tidak baik, buktinya dia wisuda tanpa memberitahu appanya sendiri, dan itu membuat appa marah besar beberapa minggu lalu. Aku mungkin bisa menebak kenapa dia melakukan itu, dia mungkin tidak ingin aku dan eomma hadir diwisudanya, baiklah membayangkan kemungkinan itu saja aku sudah sakit hati sendiri. Aku bukan malaikat yang punya kesabaran banyak, aku juga bisa meledak.

“Donghae-ah, waeyo? Kau kelihatan banyak pikiran?” tanya Leeteuk hyung yang duduk di sebelahku.

Ah, leaderku ini pintar sekali membaca ekspresi. Tapi memang aku menceritakan semuanya pada dia, terlebih soal Hanna. Dan dia biasanya memberi saran yang tokcer untukku. “Gwenchana, hanyaa sajaa….” aku menggantungkan kalimatku.

“Wae?” tanyanya lagi.

Aku menghembuskan nafas, “Park Hanna-ssi, dia sudah pulang ke rumah tadi.”

Dia malah tersenyum, “berita bagus bukan? Dengan begitu kau bisa memperbaiki hubunganmu dengannya?”

“Mwo? Memperbaiki hubunganku dengannya? Tadi saja aku menyapanya dia dingin sekali denganku.” Jawabku pesimis.

Leeteuk hyung memukul lenganku, “yaa, batu saja bisa retak karena air. Diakan hanya manusia, lebih lembut dari batu.”

Aku mendesis, justru aku lebih yakin kalau Hanna lebih keras daripada batu.

**

 

 

 

-author pov-

Lee donghae sampai di rumah dan mendengar suara ribut-ribut dari ruang kerjanya appanya. Suara Hanna, saudari tirinya dan appa tirinya tengah berdebat. Sepertinya masalah wisudanya, makanya terjadi perdebatan cukup seru itu.

“Aku sudah lulus, appa sudah tau itu!” jawab Hanna dengan nada tinggi.

“Tapi aku ayahmu dan berhak tau! Kau ini benar-benar anak kurang ajar.” Jawab appa dingin.

Hanna mendengus, “aku tidak mau appa mengajak mereka.” Dia mendesis

“Park Hanna!!” Putus appa.

Hanna memandang appanya dengan tatapan sinis.

Kalimat Hanna membuat Donghae memejamkan matanya, dugaannya benar. Hatinya terasa sakit sekarang.

Hanna kemudian menekan handle pintu dengan kasar dan menutupnya dengan kasar pula. Di luar dia saling berpandangan dengan Donghae. Gadis itu memandang Donghae dengan tatapan sinis kemudian berlalu pergi menuju mobilnya. Dengan suara rem berdecit, dia pergi entah kemana. Sementara Donghae tersenyum masam,

Bagaimana aku memperbaiki hubunganku dengannya? Memandangku saja dia seperti memandang pencuri gumam donghae dalam hati.

**

“Hanna-ah!”

Aku mendongakkan kepalaku. Kyuhyun itu. kenapa dia selalu menemukan aku dimanapun.

Dia itu teman masa kecilku, usianya lebih tua beberapa bulan dariku. Kami sudah bersahabat sejak lama. Ketika aku di Inggris juga masih sering berhubungan lewat sms, telfon atau dunia maya.

Dia kemudian duduk di depanku, “kau pulang ke korea tidak memberi kabar kepadaku.”

Aku hanya tersenyum saja, suasana hatiku masih tidak enak paska bertengkar dengan appa.

“Gwenchana? Biar aku tebak, kau pasti habis bertengkar dengan appamu?”

Ah, dia ini kenapa selalu bisa membaca ekspresiku? Sejak kapan dia jadi peramal? Aku hanya membuang muka dan memandang keadaan kota Seoul malam ini.

“Yaa, kau baru pulang kenapa langsung bertengkar?”

“Dia yang memancing emosiku.”

Kyu menghela nafas, “kau ini.. sudahlah kita tidak usah membahas itu. bagaimana acara wisudamu kemarin?”

“Biasa saja. Harusnya sekarang aku yang tanya, kapan kau wisuda?” aku mulai menggodanya. Dia paling sebal kalau aku bertanya soal itu.

“Yaa! Kenapa kau jadi bertanya soal itu padaku?”

Aku tersenyum, “Kyuhyun-ah, jangan pekerjaan saja yang kau urusi. Kuliahmu juga.”

“Ah ne, kenapa mendadak kau jadi cerewet seperti ini. Kau sudah makan?”

Aku menggeleng.

Dia kemudian memanggil pelayan dan memesan banyak makanan.

“Banyak sekali kau memesan makanan? Apa kita akan berpesta disini?” tanyaku kaget.

“Kau kelihatan kurus sekali. Lagipula aku lapar sekali. Kau yang bayar ya, anggap saja syukuran wisudamu.” Jelasnya sambil tersenyum.

“Mwo? Kau artis mana bisa menyuruh aku membayar. Kau kan yang banyak uang.”

Dia hanya tertawa saja.

Lama-lama aku ikut tertawa juga. Dia selalu begini, membuatku aku bisa melupakan apa saja masalahku.