THIRTY DAYS FOREVER

Author : Eghy Geumjandi

Genre : Melancholy

Rate : General

Length : Continue

CAST :

  1. 1.      Aerish (silakan pikirkan tokoh perempuan yang menurut kamu menarik dan cocok di cerita ini.)
  2. 2.      Kim Kibum
  3. 3.      Lee Donghae

Namaku Aerish 17 tahun. Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak ku bernama Lee Donghae. Pendiam, bisa dibilang sedikit naif dan cuek, tapi aku tahu bahwa dibalik sifat diam dan tak acuhnya itu sebenarnya dia sangat menyayangi aku. Dia menjadi pendiam seperti ini semenjak kedua orang tua kami meninggal di dalam sebuah kecelakaan bis sekitar 4 tahun yang lalu. Aku bukannya tidak merasa sedih karena kedua orang tua kami sudah tiada. Hanya saja aku tidak mau berlarut – larut dalam kesedihan ini, selain itu aku juga yakin kalau kedua orang tua kami di atas sana sangat ingin melihat kami berdua bahagia.

Selain kakak yang pendiam, aku juga mempunyai pacar. Namanya Kibum. Bisa dibilang aku beruntung mendapatkan pacar seperti dia. Baik hati, pintar, dan juga sangat menyayangiku. Kami berbeda 3 tahun.

Kehidupan yang aku jalani ini sungguh menyenangkan. Walaupun aku sering merasa kesepian karena aku selalu ditinggalkan kakak aku bekerja. Tapi setidaknya kehadiran Kibum di sisi aku bisa menjauhkan aku dari rasa sepi. Sampai pada suatu saat…..

“Kak ayo makan…Bukannya kakak tadi bilang lapar yah?” tanya Aerish.

“Oh iya…” jawab Donghae. Lalu Donghae memperhatikan wajah Aerish yang pucat.

“Rish kamu kenapa? Wajah kamu pucat…Kamu sakit?” tanya Donghae.

“Ah hanya sedikit pusing saja…” jawab Aerish. Lalu..

“Aduh mimisan lagi!” Aerish menutupi hidungnya agar darahnya tidak menetes kemana – mana. Tiba – tiba…

Bruk…. Aerish pingsan.

“Aerish…Aerish…Bangun….!” Donghae panik. Aerish segera dibawa ke rumah sakit.

Di ruang dokter…

“Adik perempuan anda terkena kangker darah, dan sekarang sudah mencapai stadium akhir. Kenapa anda tidak memeriksakan ini dari dulu?” tanya dokter.

“Apa? Saya tidak tahu sama sekali Dok..Adik saya tidak pernah memberitahukannya..” timpal Donghae.

“Ya saya harap anda banyak berdoa saja semoga Tuhan berkehendak lain..” kata dokter.

“Memangnya tidak ada harapan lain Dok untuk adik saya?” tanya Donghae.

“Harapan selalu ada…cobalah kemoterapi..setidaknya anda berusaha untuk adik anda…” ujar dokter.

“Baiklah Dok, lakukan apa saja asalkan adik saya bisa sembuh….” pinta Donghae.

Aku terbangun. Dokter menoleh ke arahku. Aku sudah bisa merasakan firasat buruk ini. Aku melihat kakak ku mengusap matanya, pertanda bahwa dia sudah menangis.

“Aerish kamu sudah baikan sekarang?” tanya Donghae.

“Iya kak aku udah gak pusing lagi…” jawab Aerish.

“Ya sudah ayo keluar sebentar! Kakak mau bicara sama dokter…” kata Donghae sambil membawa Aerish keluar ruangan. Lalu….

“Bagaimana Dok?” tanya Donghae.

“Lakukan secepatnya…semoga ia bisa bertahan lebih dari perkiraan saya. Tuhan berperan penuh dalam hal ini.” Saran Dokter.

“Berapa lama Dok?”

“Tiga puluh hari…Keajaiban jika dia bisa bertahan lebih dari itu…Ingatlah Tuhan Maha bijaksana…” kata Dokter.

Dari luar aku mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter. Sungguh suatu pukulan telak di dadaku. Aku merasa sesak. Duniaku gelap. Entah ini harus aku anggap sebagai cobaan ataukah suatu kutukan yang diberikan oleh Tuhan kepadaku. Tetapi aku hanya bisa pasrah menerima. Karena aku selalu teringat pesan terakhir mamaku sebelum kecelakaan itu terjadi…

“ingatlah anakku bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita sudah diatur oleh Tuhan. Janganlah kamu anggap bahwa hal buruk yang menimpa hidup kita adalah suatu kutukan! Sebenarnya itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan terhadap kita…Mama dan Papa sayang kamu….”

Air mataku menetes setiap aku mengingat pesan terakhir dari mamaku. Tiap hari aku merindukan sosok yang telah menghadirkan aku ke dunia ini. Dalam doaku aku selalu berharap bahwa aku ingin dipersatukan kembali dengan orang tuaku. Setelah aku mengetahui bahwa hidupku tidak lama lagi, aku merasa bahwa jalan aku untuk bertemu dengan kedua orang tuaku akan segera tercapai.

Lalu….Pintu ruang dokter terbuka.

“Rish ayo pulang!” ajak Donghae.

“Ah iya kak!” timpal Aerish.

Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah. Kibum sudah menunggu di depan.

“Ah kamu lagi rupanya! Sudah malam sebaiknya kamu pulang saja…” kata Donghae kepada Kibum.

“Aku ingin memberikan sesuatu buat Aerish…” jawab Kibum.

“Selamat 200 hari hubungan kita…!” lanjut Kibum seraya menghampiri Aerish yang terlihat sedang melamun.

“Rish apa kamu tidak senang dengan kejutan ini?” tanya Kibum.

“Oh iya aku..aku senang kok…makasih ya! Sebaiknya kita di dalam saja. Udara malam gak bagus buat kesehatan.” Kata Aerish sambil menggandeng tangan Kibum.

Di dalam rumah…

“Kamu pucat sekali Rish…Kamu gak apa – apa kan?” tanya Kibum.

“Gak apa – apa kok..! hanya saja sedikit pusing.” Jawab Aerish. “Aku ke kamar sebentar yah..” Aerish berlalu menuju kamar.

Di dalam kamar Aerish berganti pakaian dan menyisir rambutnya. Di jari – jari sisirnya rambutnya tertinggal dan Aerish menyadari bahwa rambutnya mulai rontok. Dia pun memotong rambutnya sedikit lebih pendek. Setelah selesai ia pun keluar kamar.

“Wah Rish kamu potong rambut sendiri?” tanya Kibum.

“Iya aku sudah bosan dengan rambut panjangku…” jawab Aerish.

“Kak bisa tinggalkan aku sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Kibum berdua…” pinta Aerish.

“Baiklah…” jawab Donghae sambil berlalu.

“Ada apa Rish?” tanya Kibum. Aerish menghela nafas yang cukup panjang.

“Aku ingin kita putus saja….” ujar Aerish.

“Apa? Kamu jangan bercanda Rish!! Kita gak pernah ada masalah apa pun sebelumnya…” balas Kibum.

“Aku tidak bercanda dan aku ingin putus…Maafkan aku! Tapi ini sudah jadi keputusanku…aku ingin kita gak perlu ketemu lagi…” lanjut Aerish sambil menunduk menangis.

“Apa alasan kamu mengatakan ini?” tanya Kibum.

“Aku…aku….Aku hanya gak mau kamu menyesal akhirnya…”

“Menyesal karena apa?” Kibum memotong perkataan Aerish.

Aerish terdiam….

“Ayo katakan Aerish…!!” Kibum mengguncangkan tubuh Aerish tanda memaksa.

“Aku…aku…aku sakit…aku gak mau kamu menyesal karena aku sakit…” kata Aerish. Hal ini sontak membuat Donghae kaget. Ia tidak menyangka bahwa Aerish mengetahui pembicaraannya dengan dokter tadi siang. Kibum memeluk Aerish…

“Kamu jangan pernah berpikir seperti itu Rish! Aku gak akan pernah menyesali apa pun dari kamu. Karena kamu sudah menjadi pilihan aku…Dalam senang, dalam sakit aku selalu bersama kamu…Mana mau aku meninggalkan kamu??” kata Kibum. Aerish tetap menangis.

“Sudahlah sayang, ingatlah kamu tidak sendiri…Ada aku, ada kakak kamu yang selalu hadir…kamu bisa bertahan dari semua ini….” bujuk Kibum.

Aerish tidak bisa berkata apa pun. Ia hanya menunduk.

“Apa perlu aku menginap di sini malam ini?” tanya Kibum.

“Pulang saja…Besok juga masih bisa ketemu!” Donghae langsung menjawab dari arah belakang.

“Ah baiklah padahal aku masih ingin di sini…selamat malam Aerish,, Ingatlah di manapun kamu berada, aku tetap berada bersamamu…” Kibum terpaksa pulang sambil pamitan. Aerish hanya membalasnya dengan senyuman.

“Sudah malam Aerish! Sebaiknya kamu istirahat saja, besok jangan pergi bekerja dulu kamu masih sakit, aku khawatir terjadi apa – apa nantinya..” kata Donghae.

“Ah kakak ini berlebihan…aku gak apa – apa kok! Aku sehat…iya kan Kak? Doktor bilang aku sehat kan?” kata Aerish seolah – olah ia tidak tapi matanya berkaca – kaca. Donghae terdiam dan memandang Aerish…

“Iya Aerish…Dokter bilang kamu sehat! Tapi untuk sekarang kamu lebih baik istirahat saja…” kata Donghae.

“Baiklah Kak…Aku sayang kakak…” Aerish memeluk Donghae.

“Aku juga…” balas Donghae. Donghae pun mengantarkan Aerish menuju kamarnya untuk tidur.

“Selamat malam kak…” kata Aerish.

“Malam…” jawab Donghae.

Malam ini aku berusaha memejamkan mata. Tapi di dalam pikiranku tetap berdengung perkataan dokter tadi siang. Aku memikirkan sampai kapan tubuhku ini bisa bertahan. Dari sinilah aku tahu bahwa kehidupan ini bagaikan lilin yang menyala yang suatu saat akan redup dan mati. Begitu pula dengan keadaan aku yang sekarang ini, ibaratkan cahaya lilin, aku sudah mulai meredup. Tinggal menunggu waktu untuk mati. Mama….aku rindu mama….

TO BE CONTINUED