Author : Bee

Main Cast : Go Miho, Eunhyuk

Support Cast : Euncha, Leeteuk, Lee Jihoon, Suju member

Rating : AAbK

Genre : Romance

1st published @ http://wp.me/p1rQNR-61

 

^^^

 

Eunhyuk kaget melihat kondisi Miho. Tubuhnya kotor, tampangnya kusut dengan beberapa lebam tampak di lengannya, dan Eunhyuk bisa mencium aroma tidak enak dari badannya. Tapi yang paling menyedihkan adalah kakinya yang seperti kaki gajah. Sandalnya seperti hendak putus akibat kakinya yang luar biasa bengkak. “Miho ssi, gwaenchanha?” tanyanya langsung meraih lengan Miho dan menuntunnya agar duduk. Dia langsung lupa pada betapa kotornya Miho.

“Dia sepertinya butuh istirahat. Anda harus segera membawanya pulang. Anda hanya harus tanda tangan di sini. Boleh saya lihat kartu identitas Anda?” tanya polisi itu.

Eunhyuk segera membuka dompetnya dan mengulurkan kartu identitasnya, kemudian menandatangani formulir yang disodorkan oleh Polisi Kim. Lalu pandangannya kembali lagi ke arah Miho. Gadis itu tampak… gembel.

“Baiklah, Lee Hyukjae, ssi. Anda bisa membawanya pulang sekarang. Terima kasih sudah mau menjemputnya,” kata Polisi Kim setelah mencatat jati diri Eunhyuk. Proses yang cepat sekali. Polisi itu juga tidak ingin menahan Miho lebih lama lagi. Biarpun cantik, gadis itu makin lama semakin terlihat seperti jamur di pojok ruangannya.

Polisi Kim menerima ucapan terima kasih Lee Hyukjae kemudian mengamati pria itu menuntun Miho keluar dari kantor polisi. Sepertinya dia pernah melihat pria itu di suatu tempat. Dimana ya? Ah, mungkin hanya perasaannya saja.

Di luar kantor polisi, Eunhyuk merapatkan hoodienya sambil tetap menuntun Miho. Begitu mereka berdua duduk aman dan nyaman di dalam mobil, dia melepaskan kacamatanya lalu berkata, “Bersiaplah, Miho ssi. Kita akan ngebut. Maaf aku tidak bisa langsung membawamu pulang. Aku ada recording malam ini.”

“Mwo?” Miho terkejut mendengar penjelasan Eunhyuk. Tapi tidak bisa berkata apa-apa lagi sebab sekarang mobil mereka sudah melaju dengan cepat. Eunhyuk menyupir gila-gilaan.

Eunhyuk tahu Miho ketakutan. Tapi tidak ada waktu lagi. Tadi dia langsung lari begitu mendengar Miho ada di kantor polisi dan terluka parah. Kebetulan saat itu Leeteuk sedang tidak bisa bicara jadi dia yang disuruh menjawab telepon. Dia hanya berpesan pada Leeteuk untuk mengcover ketiadaannya selama beberapa waktu, jadi sekarang ini dia harus cepat-cepat kembali ke studio.

Dalam setengah jam mereka sudah sampai di studio. Eunhyuk meraih sepotong jaket dari jok belakangnya kemudian mengangsurkannya pada Miho yang terlihat pias. “Maafkan aku. Aku terburu-buru. Biasanya aku tidak menyetir seperti itu. Ini, pakai ini, agar tidak ada yang mengenalimu.”

Miho menerimanya sambil gelagapan. Ada apa dengan nasibnya akhir-akhir ini? Kemarin Euncha, sekarang Eunhyuk membawanya hampir mati ketakutan karena ngebut.

Eunhyuk dengan tangkas keluar dari mobil dan menuju ke arah pintu penumpang. Begitu Miho keluar, dia segera mengunci mobilnya kemudian berjongkok di hadapan Miho. “Pakai penutup kepalanya, aku akan menggendongmu sampai ruangan kami.”

Tubuh Miho menegang. Digendong? Tidak.

“Ayolah,” Eunhyuk seperti tahu keraguan Miho. “Aku sudah telat. Kalau harus menunggumu jalan, bayaranku bisa langsung dipotong!” pintanya memaksa.

Mendengar itu, Miho menurut. Cepat-cepat dia mengalungkan tangannya ke leher Eunhyuk lalu begitu pria itu mengangkatnya, dia memasang penutup kepalanya. Eunhyuk berjalan menunduk. Hanya mengangkat mukanya ketika harus menunjukkan kartu passnya. Pria itu berjalan cepat-cepat ke arah ruang tunggu Suju. Di sana dia meninggalkan Miho dan berpesan pada gadis itu agar jangan membuka jaketnya dan usahakan untuk tidak menarik perhatian, karena kadang-kadang ada orang yang masuk seenaknya. Sebelum keluar Eunhyuk berpesan kepada Noona stylistnya untuk menemani Miho, yang dia akui sebagai sepupu jauhnya. Noona stylist itu mengangguk mengiyakan, membuat Eunhyuk tenang untuk pergi.

Begitu sampai di setting tempat rekaman dilakukan, Eunhyuk disambut dengan pelototan marah manajernya. Tapi amarah itu tampak ditahan hingga akhir acara. Sepanjang proses rekaman, Eunhyuk berusaha keras melakukan semuanya dengan benar. Dan hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Acara rekaman tidak terlalu molor sebab Eunhyuk bisa mengejar keterlambatannya dengan tidak melakukan kesalahan. Paling sekali dua, tapi di luar itu semua lancar. Melihat itu, kemarahan manajer pun agak surut.

Begitu rekaman selesai, Leeteuk, Eunhyuk, Shindong, Siwon, dan Donghae yang malam itu bekerja bersama, kembali ke ruang ganti diikuti oleh manajer mereka. Eunhyuk termasuk yang berjalan paling depan. Dia khawatir pada kondisi Miho.

Begitu membuka pintu, dia melihat Noona stylist memberinya isyarat agar jangan berisik. Matanya menangkap sosok Miho yang melingkar di sofa berlapis vinil. Mata Rubah itu terpejam, mulutnya mengerucut manis. Meski wajahnya kusut dan kotor, Eunhyuk tetap melihatnya sangat manis. Rubah itu benar-benar tampak seperti gadis kecil yang tertidur setelah lelah bermain.

Bisikan Leeteuk di sebelahnya membuat Eunhyuk kaget, “Kau yang membawanya kemari? Kau sudah gila ya?”

Belum sempat Eunhyuk menjawab, dia melihat manajer masuk dan melihat Miho. Dari mulut pria itu keluar suara “Apa yang di—mmmmpff”. Cepat-cepat Eunhyuk membekap mulut Manajer Hyung dengan tangannya.

“Ssst, jangan berisik! Nanti—“ Eunhyuk hampir mengatakan nanti Miho terbangun tapi lalu teringat Manajer Hyungnya ini tak akan peduli karena sejak tawarannya ditolak Miho, lelaki itu tampak tak suka pada Miho, jadi dia menggantinya dengan, “Nanti yang lain tahu ada wanita ini di sini. Kalau ada yang usil ngambil foto gimana?” bisiknya.

“Hyung!” terdengar suara tertahan Leeteuk memanggil manajer. Ternyata dia sudah berada di sebelah Miho. Sialan, Eunhyuk merasa kecolongan lagi.

Manajer Suju melihat Leeteuk di sana dan teringat rencananya. Memang Leeteuk belum mengatakan iya atas permintaannya membujuk Miho, tapi dari sorot matanya sekarang, sepertinya anak itu mau menuruti permintaannya. Ketegangannya mengendur dan dia menatap Eunhyuk dengan pandangan yang kira-kira artinya, “Oke, oke, aku mengerti. Lepaskan aku sekarang.

Leeteuk tidak berpikir apapun, dia tidak ingin berbuat begini, tapi daripada Hyungnya bikin ribut, dia memutuskan seolah-olah mau bersekongkol dengan manajernya itu dan fakta bahwa Miho ada di sini sekarang adalah hal yang menguntungkan bagi mereka.

Eunhyuk merasa ada yang disembunyikan antara Leeteuk dan Manajer Hyung, tapi dia tidak yakin, jadi dia hanya melepaskan Manajer Hyung tanpa bertanya. Dia kemudian menghampiri Miho dan Leeteuk lebih dekat dari yang sedang dilakukan oleh Shindong, Siwon dan Donghae. Donghae bergumam, “Dia bau!”

Begitu Eunhyuk dekat, Leeteuk langsung bertanya, “Apa yang terjadi padanya?” tanyanya sambil berbisik.

Eunhyuk menunjuk lebam di lengan Miho dan bengkak di kakinya. “Sepertinya seseorang menyerangnya. Itu dugaanku, karena aku juga belum dengar ceritanya.”

Pletak. Eunhyuk menahan umpatannya ketika merasa kepalanya dijitak seseorang. “Jadi kau yang membawanya?!” bisik Manajer Hyung memelototinya. “Kau telat karena ini?!”

Eunhyuk segera bangun, mencegah agar Manajernya tidak ngamuk-ngamuk di dekat Miho. Sambil menghindari serangan manajer, dia menggiring pria itu menjauhi Miho.

Saat itulah Miho membuka matanya. Setengah sadar wanita itu melihat wajah Leeteuk. Dahinya mengernyit, “Oppa?” tanyanya dengan suara seperti anak kecil.

Leeteuk langsung tersenyum mendengar suaranya yang lucu. “Ne,” katanya menjawab dengan lembut. Tangannya terulur membelai kepala Miho. Itu terjadi begitu saja. Leeteuk sama sekali tidak berpikir. Dia hanya ingin mengelus Miho.

Dari sisi lain, Shindong, Siwon dan Donghae menatap Leeteuk terkejut. Oppa?! Sejak kapan? Bukankah gadis jadi-jadian itu yang mengatakan dia tidak mau memanggil Oppa?

Tapi Leeteuk tidak melihat. Kini perhatiannya sudah terpusat pada Miho. “Kau terbangun?” tanyanya lembut, makin membuat ketiga dongsaengnya yang menonton adegan itu merinding.

Miho bangun dan duduk di sofa sambil mengucek-ucek matanya. Masih agak bingung dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Belum sempat dia menjawab, tiba-tiba Noona stylist yang tadi menemani Miho berkata keras, “Oppa? Aku pikir dia sepupu Eunhyuk?!” tanyanya mencium ada yang tidak beres.

Manajer menghentikan serangannya ke arah Eunhyuk, yang diserang langsung menoleh dan berseru, “Ne! Dia sepupu dari sepupu ibuku. Dia baru datang dari Mokpo dan diserang, jadi minta aku menjemputnya tadi!”

Leeteuk yang mendengar itu langsung membantu, “Ne, majyeo! Kami memang sudah kenal lama, jadi dia memanggilku Oppa. Ommona, uri Miho, sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar?!” Leeteuk langsung memeluk bahu Miho, mengabaikan bau yang menguar dari tubuh gadis itu. Eunhyuk yang melihat itu tiba-tiba saja merasa panas. Tapi dia menahan emosinya.

Untuk sesaat ruangan itu sepi, tak ada yang berbicara. Lalu akhirnya manajer memutuskan untuk ikut bersandiwara, karena dia ingat bahwa masih ada yang harus diperolehnya dari Miho, yaitu persetujuan kontrak. “O, geurae. Kau harus segera membawa Miho ssi pulang, Eunhyuk-a. Dia pasti lelah sekali. Leeteuk, kau sebaiknya membantu Eunhyuk.”

Eunhyuk ingin berkata tidak usah, karena dia bisa sendiri, tapi Leeteuk sudah menjawab, “Ne!”

Manajer menyambung lagi, “Untung pekerjaan kita sudah selesai…”

Leeteuk langsung membungkuk di depan Miho. “Ayo Miho-ya! Oppa bantu kau keluar. Kakimu pasti sakit kan? Bengkak begitu.”

Eunhyuk langsung protes, “Ani Hyung, tidak usah. Dia ini bau. Entah apa saja yang terjadi padanya tadi. Biar aku saja yang mengurusnya. Kau tak perlu repot-repot. Ayo Miho-ya, kugendong kau.”

Miho sebenarnya masih setengah tidur. Di depannya sekarang ada dua punggung. Tapi tubuhnya ingat punggung mana yang tadi membawanya, punggung yang hangat dan nyaman. Menuruti instingnya, Miho merangkul leher Eunhyuk dan segera menyesuaikan tubuhnya dengan nyaman di sana.

Eunhyuk ingin bersorak puas, tapi keberadaan orang-orang di sekelilingnya membuatnya mengurungkan niat itu. Di sebelahnya Leeteuk tersenyum, meski untuk pertama kalinya sejak dia mengenal Miho, dia merasa hatinya tidak nyaman melihat gadis itu berada dekat dengan cowok lain. “Ah, Hyung. Kalau mau membantu, bisa tolong tutupkan penutup kepalanya?” Eunhyuk meminta tolong pada Leeteuk.

Member yang lebih tua itu segera menyanggupi. Dengan perhatian dia menutupi kepala Miho sampai wajahnya tersembunyi. Melihatnya Leeteuk tersenyum. Gadis itu sudah terlelap lagi di punggung Eunhyuk. Apakah harinya berat sekali? Melihat kondisi tubuhnya, sepertinya begitu. “Ayo kutemani kalian pulang,” Leeteuk berkata pada Eunhyuk sambil meraih tas Miho yang tergeletak di sofa.

Ketiga member Suju yang lain terpana melihat hal itu. Sejak kapan Leeteuk dan Enhyuk begitu dekat dengan gadis buatan itu? Bagaimana mereka bisa bertingkah biasa dan malah sepertinya memanjakannya? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Manajer Suju hanya bisa menggerutu. Dia tidak suka situasi ini. Gadis itu pasti merencanakan sesuatu. Setelah Leeteuk, sekarang Eunhyuk juga dibuatnya terpikat? Mau dengan berapa lelaki dia membuat skandal? Jangan sampai ada ELF yang mendengar ini.

 

^^^

 

“Miho-ya,” Miho mendengar suara lembut laki-laki didepan wajahnya.

Dia membuka mata dan mendapati Eunhyuk sedang menatapnya lebar. Bagian matanya yang berwarna tampak membulat lebar. “Kau masih mengantuk?” tanya pria itu membuat perhatian Miho jadi terfokus pada bibirnya. Bibir atasnya tebal, dan bibir bawahnya memiliki sedikit belahan. Pandangan Miho kembali ke matanya. Pertanyaan pria itu tadi mendatangi konsentrasinya lagi.

Dia mengerjapkan matanya dua kali, berusaha mengumpulkan akalnya. “Tidak,” kata wanita itu sambil bangun dari posisinya yang tiduran. “Aku sudah bangun.”

Miho mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. “Dimana aku?” tanyanya kaget menyadari dia ada di ruangan yang tidak dikenalnya.

Eunhyuk sempat melihat tadi Miho memperhatikan bibirnya. Kenapa dadanya jadi berdebar ketika itu terjadi? Abaikan! Perintahnya keras pada dirinya sendiri. Dia melakukannya sambil bangun dari posisi jongkoknya, kemudian melambaikan celana pendek dan satu kausnya ke arah Miho. “Kau di kamarku. Kau terus tidur sejak dari studio tadi. Karena kami tidak tahu harus membawamu kemana, jadi kami putuskan untuk membawamu ke tempat kami.”

“Kami?” tanya Miho memandang Eunhyuk.

Yang dipandang menghela nafas kemudian berjongkok lagi di hadapan Miho. “Miho-ya, bisa aku minta tolong padamu?”

“Apa?” tanya Miho.

“Mandilah. Kau bau sekali.”

Miho menyentuhkan lengannya ke hidung. Dia memang bau sekali. Mukanya jadi merah. Dia memandang kasur yang tadi ditidurinya, astaga, jangan-jangan kasur itu jadi bau juga? Miho menunduk mencoba mencium kasur Eunhyuk. Sepertinya memang iya. “Aku akan mandi!” serunya tiba-tiba bangun.

Eunhyuk geli melihatnya. Senyumnya muncul memperlihatkan gusi di atas deretan giginya. “Pakai ini,” Eunhyuk menaruh baju yang tadi dilambai-lambaikannya ke arah Miho beserta sepotong handuk di tangan Miho. “Sekarang sudah pagi, jadi tidak ada yang berebutan kamar mandi. Kau bisa mandi dengan tenang.”

Miho jadi menyadari dimana dia berada dari kalimat yang diucapkan Eunhyuk itu. Dia sedang berada di asrama Suju. Dan dia akan mandi di kamar mandi yang selalu dipakai oleh beberapa orang cowok. Sayangnya dia tidak punya pilihan lain. Dirasakannya sekarang, dia bahkan tidak tahan dengan bau tubuhnya sendiri. “Per..permisi..” katanya terbata sambil beringsut menjauhi kasur. Berusaha agar tidak semakin dekat dengan Eunhyuk. Tidak tega membuat pria itu kebauan.

Miho berjalan mundur ke arah pintu dan menabrak Leeteuk. “Aduh!” seru pria itu melebih-lebihkan.

“Oh! Maaf, maaf Oppa. Maaf,” kata Miho panik begitu mengetahui siapa yang ditabraknya.

Leeteuk melihat handuk di tangan Miho dan langsung mengetahui niat gadis itu untuk mandi. Segera saja dia menutup hidung, “Uukh! Kau bau sekali!” katanya pura-pura sangat tidak suka.

Miho segera menjauhkan tubuhnya dari Leeteuk sambil meminta maaf, lalu ngibrit secepat yang dia bisa dengan kakinya yang bengkak demi mencari kamar mandi. Tidak lama, dia sudah berada di depan pintu kamar lagi, bertanya dengan malu, “Maaf, kamar mandinya dimana?”

Leeteuk dan Eunhyuk langsung tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Eunhyuk maju dan berkata sambil tertawa, “Ayo ikuti aku, hahahaha…” katanya.

Lima belas menit kemudian Miho sudah keluar dari kamar mandi dengan gulungan baju kotor di tangannya dan handuk tersampir di kepalanya yang basah. Dia menemukan Leeteuk dan Eunhyuk ada di depan tv. Tapi mereka tidak hanya berdua. Di sana sudah berkumpul semua member lain kecuali Shindong yang sedang siaran ShimshimTapa dan Siwon yang pulang ke rumahnya.

Melihat mereka semua, refleks Miho meletakkan gulungan baju yang dibawanya di depan dada. Dalamannya juga sangat kotor dan bau, sehingga dia memutuskan tidak akan memakainya. Di hadapan Leeteuk dan Eunhyuk dia berencana akan menutupinya dengan handuk besar milik Eunhyuk yang menjuntai dari kepalanya. Tapi dengan situasi seramai ini, tiba-tiba Miho merasa tetap akan ketahuan meski sudah berbalut handuk. Karena terkejut, Miho otomatis meletakkan tangannya menutupi dada karena malu.

Yesung melihat Miho datang dari arah kamar mandi. Dia langsung merinding. Tanpa sadar dia merapat pada Ryewook yang duduk di sebelahnya. “Hyuk! Tuh!” katanya sambil menggedikkan kepala ke arah Miho.

Eunhyuk menoleh ke arah yang ditunjukkan Yesung dan melihat Miho. Rubah itu tinggi, sehingga celananya tidak tampak kepanjangan untuk wanita itu. Tapi bahunya kecil, jadi kaus Eunhyuk tampak kebesaran, apalagi ditambah handuk besar yang mengelilingi pundaknya, dia tampak makin tenggelam dalam lapisan kain. Wajahnya terlihat segar sesudah mandi. Eunhyuk dengan sigap berdiri, “Udah selesai?”

Miho mengangguk, tapi tidak menjawab. Jujur saja dia agak ketakutan sekarang ini. Terlalu banyak laki-laki. “A, anu, apa kau punya plastik? A, a, aku membutuhkannya untuk pakaian kotorku.”

Perasaan Miho semakin tidak enak menyadari semua mata sedang memperhatikannya. Tapi dia menahan diri. Dia tidak boleh histeris di sini. Untunglah Eunhyuk segera menarik tangannya ke tempat lain yang dibatasi dinding sehingga tidak perlu melihat sekelompok besar laki-laki. Eunhyuk membawanya ke suatu pojok yang tidak Miho perhatikan dimana tepatnya, sebab dia sibuk menoleh bolak-balik mengawasi ruangan tempat anggota Suju berkumpul.

“…yang bagaimana?” terdengar suara Eunhyuk menanyakan sesuatu padanya. Miho menggedikkan kepalanya, lalu menoleh ke arah Eunhyuk yang masih sibuk mengacak-acak rak. Mata Miho mengerjap cepat dan mengambil plastik paling besar yang bisa diperolehnya. Dadanya berdegup kencang sekali.

Tidak, dia tidak boleh menyerah. Orang-orang ini tidak berbahaya. Mereka baik, mereka baik. Miho berulangkali menanamkan pemikiran itu dalam benaknya. Namun kepanikan sudah terlanjur menyerangnya. Dia hanya bisa berusaha agar kepanikannya tidak membuat orang lain menyadarinya. Berpakaian tidak lengkap dengan banyak pria seperti ini membuatnya sangat lemah dan ketakutan.

“Jo, jo, jo, jo, jogiyo, Eun, Eunh, Eunhyuk ssi, apa..apakah kau punya jaket?” Miho mulai gelagapan mengatasi serangan panik yang menyerangnya.

Eunhyuk menoleh mendengar sikap Miho yang tidak biasa. Saat dia melihat Miho, matanya terbelalak. Gadis itu pucat luar biasa. Di pelipis dan bagian atas bibirnya Eunhyuk melihat bibit keringat. Badannya bergetar. “Kau kenapa?” tanyanya panik melihat Miho seperti itu. Otomatis tangannya menyentuh Miho. Badan gadis itu dingin sekali! “Yha! Kau sakit? Kakimu? Lenganmu? Eodi appeu?!”

Miho melihat tangan Eunhyuk di pergelangan tangannya dan pandangannya mulai menggelap. Sayangnya dia masih sadar. Dia tidak pingsan. Fase itu terjadi lagi. Fase dimana dia terdiam membatu seolah ada yang membatasi jiwanya berinteraksi dengan dunia luar. Dia tak menjawab Eunhyuk, juga tak kuasa menahan tubuhnya sendiri. Dia pun merosot ke lantai dengan lunglai. Matanya terbuka nanar.

Langsung Eunhyuk menggotongnya di depan tubuh, berlari cepat kembali ke kamarnya. Member lain yang melihatnya kaget dan Leeteuk segera mengikutinya ke kamar. Ada yang tidak beres sepertinya.

“Ada apa?” tanya Leeteuk.

“Aku ga tahu!” Eunhyuk menjawab panik. Di tempat tidur, Miho membuka matanya lebar melihat ke arah langit-langit sementara tubuhnya menggigil. Eunhyuk meraih selimut dari kaki tempat tidurnya dan segera menyelimuti Miho rapat-rapat. “Miho-ya! Miho-ya!” panggilnya sambil mengguncang tubuh Miho.

Leeteuk jadi panik melihat itu. “Aku akan panggil dokter,” katanya berlari keluar kamar untuk mengambil ponselnya. Geraknya agak tersendat di pintu sebab member lain sedang berkerumun di depan pintu kamar Eunhyuk.

Eunhyuk melihat Miho seperti tidak sadar. Untuk memulihkan kesadaran Miho, dia memukul-mukul pipi wanita itu. Lama-kelamaan semakin keras. “Miho-ya, sadarlah! Kau kenapa?!”

“Dokter akan datang sebentar lagi!” Leeteuk berseru masuk kamar sambil masih menggenggam ponselnya. “Apa yang terjadi tadi?”

Eunhyuk menggeleng-geleng panik. “Aku ga tahu. Dia minta plastik, jadi aku carikan. Waktu aku lagi sibuk mencari tiba-tiba dia mulai gagap dan aneh. Terus aku liat, mukanya udah pucet banget. Badannya dingin banget. Dia ga berenti gemetaran. Kenapa ini, Hyung???!”

“Mungkin kita harus menghubungi keluarganya,” terdengar seseorang yang entah siapa berkata dari luar. Leeteuk dan Eunhyuk berpandangan. Ponselnya! Keduanya segera ingat hal itu.

Leeteuk menghambur lagi keluar untuk mencari tas Miho. Tadi dia tanpa sadar meletakkannya asal, jadi sekarang dia lupa dimana tas itu. Setelah berkeliling rumah mencari, akhirnya dia menemukan tas itu di atas tempat tidurnya sendiri. Pria paling tua di Suju itu mengubek-ubek tas Miho dan menemukan ponselnya. “Assa!” serunya.

“Aku menemukannya!” dia berseru sambil berlari kembali ke kamar Eunhyuk.

“Cepat hubungi keluarganya!” Sungmin mengingatkan. Leeteuk segera melakukannya.

Tapi ponsel itu tetap gelap. Mati. “Sial! Baterainya habis!” Mereka semua menoleh ke arah Leeteuk kecuali Eunhyuk yang berada di dalam kamar, masih berusaha menyadarkan Miho.

Para member Suju itu mengerang. “Ada yang punya ponsel model begini? Siapa tahu ada dari kita yang punya chargernya.” Leeteuk belum pupus harapan. Semua orang kemudian berebutan melihat tipe ponsel itu. Sayang sekali, ponsel itu tipe agak lama. Semua member Suju sudah beralih pada teknologi paling baru, jadi tak satupun di antara mereka yang bisa membantu.

Di kamar, Miho mengerjapkan matanya. Dia merasa perlahan-lahan bangkit dari mimpi buruknya. Sakit yang tadi dirasanya dalam benak berangsur-angsur menghilang. “..ho..” dia mendengar seseorang memanggilnya, tapi dia tidak tahu siapa itu. Dirinya masih diselimuti kabut pekat. Meski dia bisa melihat bayang-bayang, tapi alam bawah sadarnya masih menolak mundur. Kondisi Miho sekarang bagai orang yang setengah hidup. Hanya satu hal yang dapat dirasanya. Seseorang memegangi tangannya. Erat dan tidak mudah terlepas. Wajah Miho bergerak mencari sumber pegangannya. Saat menemukannya, dia hanya mampu melihat siluet, tapi tak tahu persis siapa yang ada di sana.

Di hadapan Miho, Eunhyuk menolak melepaskan tangan wanita itu. Dia terus memanggil-manggil nama Miho. Memintanya untuk bangun, berdoa agar dokter cepat datang. Sewaktu kepala Miho bergerak, harapan Eunhyuk melonjak. Tatapan gadis itu seperti mencari sesuatu. Matanya tetap tidak fokus, tapi dia seperti menemukan sesuatu. Eunhyuk berusaha melambai-lambaikan tangan mereka yang terkait di depan wajah Miho. Sepertinya Miho menyadarinya, meski Eunhyuk tidak tahu apakah gadis itu melihatnya atau tidak. Saat ini Miho seperti orang buta. Lalu Eunhyuk melihatnya. Dari sudut mata gadis itu, mengalir butiran-butiran bening. Tidak ada suara, tidak ada isakan, hanya air mata yang tak berhenti mengalir.

Hanya satu yang bisa dilakukan Eunhyuk, yaitu mengusap pergi air mata itu. Tapi sepertinya katup kelenjar air mata Miho sudah rusak karena dia terus meneteskan air matanya. Meski tubuh Miho kini sudah mulai menghangat, Eunhyuk tetap bingung. Ada apa dengan Miho? Tadi gadis ini kumal dan lusuh dan sepertinya kesakitan, tapi tampak baik-baik saja. Kenapa setelah fisiknya lebih nyaman justru Rubah ini kolaps?

Saking kalut dalam pikiran sendiri, Eunhyuk tidak menyadari bahwa dokter sudah datang. Dokter segera memeriksa Miho dan bertanya-tanya pada Eunhyuk. Cowok itu menjawab dibantu Leeteuk.

Akhirnya dokter itu menjauhi Miho dan menyuruh yang lain agar tidak mengerubunginya. Dia mengatakan akan menjelaskan situasinya di luar. Di ruang tengah dokter itu mulai mengatakan dugaannya. “Sepertinya dia belum makan sejak—dugaan saya—lebih dari 24 jam yang lalu. Saya rasa itu sebabnya tubuhnya lemah. Lalu apakah dia pernah mengalami peristiwa traumatis? Saya melihat ada yang mengganggunya secara psikologis.”

Eunhyuk menjawab, “Dia habis diserang tadi siang, Dok. Saya juga belum tahu detilnya, tapi terlihat sekali di kantor polisi tadi tubuhnya menderita beberapa lebam.”

Dokter mengangguk-angguk. “Ya, saya juga melihat bekasnya. Mungkin penyerangnya menggunakan siksaan psikologis juga. Sayangnya saat ini saya tidak berani memberi obat apapun sebab saya tidak tahu riwayat kesehatannya. Saran saya hanyalah, dampingi dia terus. Mungkin itu yang dia butuhkan. Seorang teman yang membuatnya tak merasa sendiri.” Sang dokter mengamati wajah-wajah tampan di depannya sejenak. Lalu setelah yakin tidak ada pertanyaan, dia memutuskan untuk pulang. “Kalau shocknya terus berlanjut besok pagi, sebaiknya kalian bawa dia ke rumah sakit,” katanya memberikan saran terakhir sebelum pulang.

Member Suju berterima kasih pada dokter tersebut dan beberapa mengantarkannya sampai di pintu depan, tapi yang jelas bukan Eunhyuk. Dia kembali ke kamar dan duduk di lantai sambil kembali memegangi tangan Miho. Dia menggosok-gosok tangan Miho, agar Rubah itu merasa ada orang di sampingnya.

Di luar, Leeteuk mendengar ponselnya berbunyi. Euncha. Bodohnya dia! Dia kan punya nomor Euncha! Kenapa tidak menghubunginya dari tadi?!

Begitu Leeteuk memencet tombol ‘jawab’, langsung terdengar suara Euncha, “Uri Eonnie eodieyo?!” lengkingnya.

“Di tempat kami. Kemarilah. Cepat. Aku akan menunggu di bawah. Kau tahu alamat kami?”

“Tidak.”

Leeteuk lalu memberikan alamat dorm pada Euncha sambil berpesan kalau sudah sampai, telepon lagi saja agar dia bisa menjemputnya di lantai dasar. Euncha mengatakan iya lalu langsung menutup teleponnya.

 

^^^

 

Kini Miho sudah semakin sadar. Kehangatan di tangannya terus-menerus memaksanya kembali menyongsong cahaya. Dia seperti tak punya pilihan lain selain mengikuti tarikan itu. Setelah beberapa lama akhirnya pandangannya mulai jelas. Semakin lama semakin terbangun kesadarannya. Dan di sanalah dia melihat lelaki itu. Memandanginya dengan khawatir. Bola matanya begitu polos dan jujur. Miho melihat tangan pria itu terus menggosok tangannya, jadi itukah kehangatan yang tadi menariknya? Lalu mulutnya terus menggumamkan namanya. Menyuruhnya bangun. Mau tak mau Miho tersenyum.

“Miho-ya! Kau sudah sadar?! Ada yang sakit?” Eunhyuk langsung memberondong Miho dengan pertanyaan begitu melihat senyum Miho yang terbit setitik. Tangannya merengkuh wajah Miho memberi rasa hangat yang dibutuhkan wanita itu.

Miho tersenyum makin lebar. Dia melepaskan tangan Eunhyuk dan bangun untuk duduk. Sesaat kepalanya pusing, tapi segera lenyap. Dia memegangi perutnya yang perih. “Ah,” desahnya kesakitan.

Mendengar itu Eunhyuk langsung panik. “Eodi? Eodie appeu?”

Miho tidak menjawab. Tiba-tiba terdengar suara cewek melengking dari luar kamar. “Eonnie!!!”

Euncha tampak kacau di pintu kamar Eunhyuk. Diamatinya Miho sejenak dengan tidak yakin dari pintu kamar. Lalu tergesa-gesa dia menghampiri Miho di tempat tidur, menyingkirkan Eunhyuk dengan semena-mena, kemudian menampar kedua pipi Miho keras-keras.

Eunhyuk tertegun, begitu pula Leeteuk dan Jihoon yang mematung di pintu kamar. Anehnya, Miho justru tersenyum. Dia segera merangkul Euncha yang langsung menangis begitu berada dalam pelukan Miho. “Nan gwaenchanha. Sudah baik-baik aja kok…” kata wanita itu lembut sambil membelai rambut adiknya yang berantakan.

Euncha melepaskan tangisannya untuk semua yang terjadi hari ini. Dia sengaja tidak menghubungi Miho seharian ini dan malah berusaha melupakan kakaknya itu dengan cara menyanggupi permintaan Jihoon Oppa untuk mendampingi pria itu di pesta pernikahan saudaranya di Busan. Mereka baru kembali ke Seoul lewat pukul 10 dan langsung menerima telepon panik dari orang tua Miho. Memang tadi pagi dia mematikan ponselnya dengan niat menghindari Miho, tapi lalu dia kelupaan. Di mobil kepanikannya tercium oleh Jihoon yang juga jadi teringat bahwa tadi Miho meninggalkan pesan di ponselnya. Hanya saja karena tidak sempat, dia belum mendengarkan pesan itu.

Akhirnya mereka kelimpungan mencari Miho. Apalagi ponsel Miho sama sekali tak bisa dihubungi. Butuh waktu untuk menemukan kantor polisi yang disebutkan Miho dalam pesannya pada Jihoon. Selain itu, karena petugas polisi yang mengurusi Miho sudah pulang, mereka harus menempuh cara yang berbelit-belit untuk mendapatkan alamat si penjamin. Ketika akhirnya mereka menemukan nama orang itu, Euncha langsung teringat bahwa itu nama asli Eunhyuk, bagaimanapun juga dia kan sempat menjadi ELF. Sontak gadis itu menghubungi Leeteuk, menduga bahwa Leeteuk pasti akan bersama Eunhyuk. Ternyata pria itu menjawabnya dengan nada yang tegang dan lugas, sehingga Euncha semakin yakin ada sesuatu yang salah sudah terjadi.

Begitu sampai di apartemen Suju, Leeteuk sudah menunggu mereka di lantai dasar. Di dalam elevator pria itu menceritakan sesingkat mungkin serangan shock yang dialami Miho. Mendengarnya Euncha langsung limbung, untung Jihoon dengan sigap menahannya. Kenapa Eonnienya bisa tiba-tiba begitu? Apa peristiwa itu terjadi lagi? Tidak mungkin. Menurut cerita singkat Leeteuk, Miho diserang tadi siang, jadi kemungkinannya kecil, karena di hari terang biasanya Miho jauh lebih kuat dibandingkan malam hari.

Begitu memasuki dorm Suju, Euncha langsung melihat penyebabnya. Member Suju memang tampan-tampan, tapi mereka tetap laki-laki. Pasti ada situasi khusus yang membuat Miho bukannya kesenangan melihat para idola berkumpul, tapi malah kambuh depresinya. Apa itu, bisa menunggu nanti, waktu Miho sudah bisa bercerita. Saat ini yang penting Miho sudah pulih. Bagaimana? Euncha tidak tahu. Itu tidak penting.

 

^^^

 

Beberapa saat kemudian, Miho sudah bertengger manis di punggung Jihoon. Gadis itu merangkul manja leher Profesor muda yang pernah membimbingnya dulu. Interaksi antara Miho, Euncha dan Jihoon cukup membuat para member Suju terperangah. Bersama Euncha, Miho terlihat seperti gadis kecil nakal yang suka melakukan hal-hal aneh. Euncha sendiri meskipun galak dan sangat protektif terhadap Miho, tidak berkutik di hadapan Jihoon. Sementara Jihoon bisa terlihat seperti ayah bodoh jika sudah menghadapi Miho.

Eunhyuk sebal melihat adegan itu. Lalu sebal pada dirinya yang merasa sebal. Kenapa dia harus tidak suka melihat Miho bermanja-manja pada lelaki lain? Aagh! Susah benar sih menyadarkan pikirannya agar tetap waras dan melihat jati diri Miho sebagai laki-laki? Entahlah, yang jelas tadi saat Miho kolaps, Eunhyuk tidak lagi bisa berpikir apakah makhluk itu laki-laki atau perempuan. Dia hanya tahu dia ingin di sampingnya. Melihatnya mendapatkan kesadaran kembali.

Ketika member yang lain mengantar rombongan Miho sampai ke pintu, Eunhyuk masuk kembali ke kamarnya. Matanya terpaku menatap tempat tidur yang tadi baru saja ditiduri Miho. Dengan hati gelisah tak jelas, dia mencopot sepreinya, menggulungnya, lalu bermaksud menaruhnya ke dalam keranjang pakaian kotor ketika matanya menangkap handuk yang tadi digunakan Miho. Satu penemuan merambat ke penemuan lain. Eunhyuk lalu teringat baju yang tadi menyebabkan Miho meminta plastik. Segera dia pergi mencari plastik  itu. Setelah ketemu, dia segera menggabungkan semuanya—seprei, baju, dan dan handuk—ke dalam keranjang pakaian kotor. Dia akan mencuci semua galaunya. Ini sudah cukup. Putus Eunhyuk.

 

^^^

 

“Memang kapan terakhir kali kau makan?” tanya Jihoon pada Miho yang sedang duduk di bangku belakang. Di sebelahnya, Euncha hanya duduk diam.

“Sepertinya kemarin malam. Eh, kemarin-kemarin siang ding,” Miho mencoba mengingat kapan terakhir dia makan.

Jihoon penasaran, sebab tadi Miho memaksa mencari makan. Padahal dini hari begini. Entah bagaimana mereka akhirnya bisa mendapatkan makanan. Miho tidak pilih-pilih, dia langsung melahap apapun yang disajikan dengan lahap. Jihoon lalu bertanya kenapa dia begitu bernafsu untuk makan. Ternyata anak itu memang belum makan sejak hampir dua hari yang lalu. Pantas saja tubuhnya lemas begitu dan mukanya pucat.

“Kau ini!” Jihoon memarahinya khawatir. “Sudah besar masih saja merepotkan orang. Makan itu kan kebutuhan pokok manusia, masa kau dengan mudah melupakannya?!”

Tidak ada reaksi. Jihoon heran, biasanya kan Miho paling tidak terima kalau dia marahi, kenapa sekarang diam? “Miho-ya!”

Tetap tidak ada suara. Di sebelah Jihoon Euncha menoleh ke belakang lalu mendesah, “Dia sudah tidur.”

“Mwo?” Jihoon terkejut sambil melirik kaca spion. Ternyata benar. Anak itu sudah tidur dengan kepala terantuk-antuk di kaca jendela. Jihoon berpikir, besok pagi—ah, ani, pagi ini—pasti kepala Miho akan terasa sakit.

Lelaki itu kemudian memperhatikan Euncha. Kemarin pagi gadis di sebelahnya ini tampak cantik luar biasa. Moodnya yang semula jelek perlahan berubah menjadi lebih baik ketika Jihoon terus mengajaknya berinteraksi dengan saudara dan tamu-tamu di pernikahan kakaknya. Dia bisa memahami perasaan Euncha yang sangat sakit hati karena diabaikan oleh Miho, tapi dia juga tahu bahwa mengungkit masalah itu tanpa Euncha duluan yang memulai, tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali pertengkaran, jadi yang dilakukannya tadi pagi hanyalah berusaha memperbaiki suasana hati Euncha dan membuat gadis itu melupakan sejenak kehidupan rutinnya.

Malam tadi, Euncha sudah tampak tidak karuan akibat mencari-cari Miho. Rusak sudah semua tata riasnya yang sempurna. Itu menunjukkan bahwa semarah apapun Euncha, dia tidak bisa tidak peduli pada Miho. Tapi dasar gadis cantik, dandanan jadi jelek sekalipun, tetap saja terlihat menarik. Jihoon menoleh pada Euncha, “Kau tidurlah, aku akan membangunkanmu begitu sampai di rumah,” ujar Jihoon begitu melihat lingkaran hitam samar di sekitar mata Euncha.

“Ani, aku akan menemani Oppa,” tolak gadis itu.

“Aku tidak apa-apa, kau kelihatan lelah sekali, jadi kau tidur saja.”

“Tidak. Aku tidak mengantuk. Oppa pikir aku masih bisa tidur sekarang?”

Jihoon tersenyum mendengar itu. “Baiklah… Eunchanie…”

“Ya! Yang memanggilku begitu cuman Mihonnie!”

“Lalu kenapa?” Jihoon mengangkat bahu tak peduli. “Kau ini selalu meributkan masalah panggilan.”

“Apa maksudmu?”

“Maksudku ya itu. Sudah bertahun-tahun aku menyuruhmu memanggilku Oppa saja, baru tadi kau mau menurutinya. Itu pun karena kupaksa di depan keluargaku. Lalu Eunchanie—“

“Sudah jangan banyak omong!” Euncha menukas. Gadis itu merasa pipinya memanas. “Nyetir saja yang benar!” Dia tahu apa yang hendak dibicarakan oleh Jihoon. Memang, Euncha mengakui bahwa dia ini gadis kaku. Baginya, Profesor Muda Lee Jihoon tetaplah seorang Profesor yang dia hormati dan kebetulan peduli pada Miho dan dirinya. Jadi dia selalu menolak kalau disuruh memanggil pria itu Oppa, tidak seperti Miho yang bahkan sudah memanggilnya Oppa tanpa disuruh. Memang sih, pria itu masih muda, tapi kan tetap saja dia seorang Profesor yang tugasnya memberikan bimbingan bagi mahasiswanya, bukan ber-oppa-oppa ria.

Namun kesan itu hilang pagi ini ketika dia mendampingi Jihoon di pesta pernikahan saudaranya. Euncha jadi melihat sisi lain Jihoon yang bersemangat dan hidup, ramah dan supel. Baginya sosok Jihoon tiba-tiba berubah menjadi orang yang lebih mudah baginya untuk mendekat. Entah bagaimana Euncha bisa melihat laki-laki itu sebagai Oppa sejak tadi pagi. Apakah ini karena di antara mereka sudah tidak ada lagi hubungan mahasiswa-dosen? Entahlah. Yang jelas saat ini dia bersyukur ada Jihoon di sampingnya, pikirnya sambil menyandarkan kepala di sandaran dan mengamati relief wajah Jihoon dari samping.

 

-cut-