Author : Claudhia Safira (Park Hye Joong)

Title : Strawberry Lovellipop
Length : Continue
Genre : Romance

Cast :

* Casts :
– Kim Hyun Joong  (SS501) as Kim Hyun Joong
– Park Hye Joong as Park Hye Joong
– Kim Hyung Joon (SS501) as Kim Hyung Joon
– Song Hye Ra as Song Hye Ra
– Heo Young Saeng (SS501) as Heo Young Saeng
– Kim Hyun Ra as Kim Hyun Ra
– Kim Kyu Jong (SS501) as Kim Kyu Jong
– Song Hyu Rin as Song Hyu Rin
– Park Jung Min (SS501)  as Park Jung Min
– Han Sang Mi as Han Sang Mi
Extended Casts :
– Kim Min Joo as Hyun Joong’s mother
– Park Min Ho as Hye Joong’s father
– Byun Jang Moon (A’st1)  as Jang Moon
– Sung In Kyu as (A’st1) In Kyu
– Kang Hye Neul as Hye Neul
– Park Jung Jin (A’st1)  as Jung Jin

 

6.

IS IT LOVE?

 

“Mwo? Hyung Joon mengajakmu pergi ke taman hiburan?” ucap Hye Ra penuh semangat.

“Kau ini! Janganlah histeris seperti itu!”

“Lantas apa jawabanmu? Kau menerima ajakan Hyung Joon, kan?”

“Aku belum menjawabnya”

“Kenapa?”

“Aku bingung harus menjawab apa.”

“Kenapa kau mesti bingung? Kau hanya tinggal menjawab “ya”, apa susahnya?”

“Sudahlah, kita bicarakan hal ini lain kali saja. Ayo, kita kelas”

………………. ………. ………………..

 

Di sisi lain, Hyung Joon sedang duduk – duduk bersama teman – temannya.

“Kau mengajak Hye Joong pergi ke taman hiburan?”ucap Jang Moon yang seakan tak percaya.

Hyung Joon hanya menganggukkan kepalanya.

“Bukankah dari dulu kau tidak suka pergi ke taman hiburan?” tanya Jang Moon lagi.

“Hei….. Jang Moon …………. apa kau tidak pernah jatuh cinta sebelumnya? Jika orang sudah jatuh cinta, apapun rela dilakukan demi orang yang ia sayangi” ucap In Kyu.

“Kau ini bisa saja” ucap Hyung Joon.

“Tapi benar, kan ucapanku tadi. Meskipun dari dulu kau tidak suka pergi ke Taman Hiburan, tapi demi Hye Joong kau rela melakukannya. Seharusnya Hye Joong tersentuh dengan perbuatanmu ini”

“Lantas, apakah Hye Joong menerima ajakanmu?” tanya Jang Moon.

“Dia belum menjawab”

“Kenapa?”

“Mungkin dia masih mempertimbangkannya”

“Aku salut sekali denganmu. Kau gigih mengejar gadis pujaanmu. Kau bahkan tak putus asa meskipun kau pernah ditolak olehnya.”

“Itulah lelaki sejati”

 

Saat Hyung Joon hendak memasuki kelasnya, ia melihat Hye Joong berjalan bersama Hye Ra. Ia pun lantas menghampiri Hye Joong.

“Hye Joong, maafkan aku atas kejadian semalam. Apa kau sudah menemukan jawabannya?”

“Maaf Hyung Joon, sepertinya aku…………” belum sempat melanjutkan ucapannya, tiba – tiba saja Hyun Joong datang dan langsung menyerobot.

“Mau menerima ajakanmu.” ucap Hyun Joong pada Hyung Joon.

“Hyun Joong!” Hye Joong menatap mata Hyun Joong mengisyaratkan ia tak setuju dengan apa yang dikatakan Hyun Joong.

“Noona, itu kan yang mau kau katakan pada Hyung Joon.”

“Jadi kau mau menerima ajakanku?” tanya Hyung Joon memastikan.

“Tentu saja. Noona pasti akan senang pergi bersamamu. Bukan begitu, noona?”

“Benar apa yang dikatakan Hyun Joong. Kau pasti akan sangat senang pergi bersama Hyung Joon. Sekarang, sebaiknya kau ngobrol – ngobrol dulu dengan Hyung Joon, biar kalian tambah dekat.” ucap Hye Ra.

“Hyung Joon, aku titipkan sahabatku kepadamu. Jaga dia baik – baik.”

“Aku akan menjaga Hye Joong dengan baik.”

“Hye Joong, untuk apa kau masih berdiri di sini? Pergilah bersama Hyung Joon.”

Hye Joong sebenarnya tak mau. Tapi karena terus dipaksa, ia akhirnya menuruti. Hye Joong lantas pergi bersama Hyung Joon.

“Apa ada yang salah denganmu hari ini?” tanya Hye Ra.

“Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Setahuku, kau tidak suka jika Hye Joong dekat dengan pria lain. Tapi kenapa sekarang kau membantu Hyung Joon untuk mendekati Hye Joong?”

“Aku ingin menebus kesalahanku pada noona. Selama ini, ia selalu saja memperhatikan aku, sampai ia tak memperhatikan dirinya sendiri. Betapa egoisnya aku jika aku terus saja membiarkan hal ini terjadi. Aku juga ingin melihat noona bahagia bersama pria lain.”

“Baguslah jika akhirnya kau sadar. Aku seratus persen mendukungmu jika kau ingin mendekatkan Hye Joong dengan Hyung Joon.”

………………. ………. ………………..

 

Akhir – akhir ini Hyung Joon menjadi lebih intensif dalam mendekati Hye Joong. Dan sepertinya usaha Hyung Joon membuahkan hasil. Perlahan Hye Joong mulai melunak. Ia menjadi lebih “welcome” pada Hyung Joon. Hyun Joong yang mengetahui noonanya kian dekat dengan Hyung Joon, menjadi senang, tapi di sisi lain ia juga sedih. Ia senang karena usahanya membantu Hyung Joon mendapatkan Hye Joong sedikit demi sedikit mulai berhasil. Di sisi lain, ia juga merasa sedih. Karena seakan noonanya mulai menjauh darinya. Ia sempat berpikir, apa usahanya membantu Hyung Joon mendapatkan Hye Joong adalah sebuah kesalahan?

“Hyun Joong!”

“Mworago?”

“Kau melamun? Dari tadi aku memanggilmu, tapi kau tak merespon”

“Maafkan aku, aku hanya memikirkan sesuatu.”

“Maafnya lain kali saja, sekarang bantulah aku membawa barang-barang ini.”

“Kenapa kau membeli barang yang banyak sekali?”

“Kau sudah lupa? Semua yang aku beli ini untuk tugas akhir semester kita.”

“Kim Hyun Ra, ingatanmu benar – benar tajam.”

Mereka lantas membayar barang belanjaan mereka, kemudian meninggalkan toko itu.

“Kita naik bus saja.” ucap Hyun Ra.

“Apa kau serius?”

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau pikir aku tak sanggup naik bus?”

“Aku hanya tidak menyangka. Gadis kaya sepertimu mau naik bus umum. Tapi, bagaimana dengan supirmu? Bukankah kau tadi diantar supirmu?”

“Aku menyuruhnya istirahat di rumah. Sudahlah, jangan memikirkan hal itu”

Hyun Joong dan Hyun Ra segera naik bus. Bagi Hyun Ra, ini adalah pertama kalinya ia naik bus umum. Dari dulu, ia tak suka naik bus, tapi karena Hyun Joong, ia rela melakukannya.

Hyun Ra nampaknya benar – benar menyukai Hyun Joong. Ia rela melakukan apapun demi terus berada di dekat Hyun Joong. Usaha yang dilakukannya untuk mendekati Hyun Joong nampaknya juga tak sia – sia. Baru beberapa bulan mereka kenal, tapi mereka sudah bisa sedekat ini. Hyun Ra rela setiap hari pulang jalan kaki, membawakan bekal makan siang untuk Hyun Joong, memberi Hyun Joong hadiah, bahkan seminggu sekali ia pasti pergi ke rumah Hyun Joong. Entah itu untuk menemui Hyun Joong, ataupun bertemu dengan Hye Joong untuk meminta nasehat agar ia berhasil mendekati Hyun Joong.

Apa yang dilakukan Hyun Ra ini sebenarnya sama sekali tidak disetujui Hyu Rin.

“Hyun Ra, kau ini putri seorang pengusaha kaya. Tak seharusnya kau bertingkah seperti ini. Di mana harga dirimu? Tak baik bagi seorang gadis terlalu agresif mendekati seorang pria” itulah yang dikatakan Hyu Rin berkali – kali.

Tapi apa daya, Hyun Ra yang sudah dibutakan oleh cinta, sama sekali tak mengindahkan perkataan Hyu Rin.

Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Hyun Joong lantas mengajak Hyun Ra masuk ke rumahnya.

“Bersantailah sejenak. Aku mau ke kamar sebentar.” ucap Hyun Joong.

“Baiklah” ucap Hyun Ra.

Karena bingung apa yang harus dilakukannya, Hyun Ra pun lantas melihat – lihat rumah Hyun Joong. Pandangannya tertuju kea rah sekumpulan foto yang terletak tak jauh dari ruang tamu. Hyun Ra melihat berbagai macam foto yang tertata indah di pigura. Ada foto Hyun Joong bersama Hye Joong dan kedua orang tuanya, dan yang paling membuatnya tertarik adalah foto Hyun Joong semasa kecil.

“Kau sedang apa?” tanya Hyun Joong tiba – tiba sehingga mengagetkan Hyun Ra.

“Kau ini mengagetkanku saja. Aku sedang melihat foto – foto ini. Ternyata semasa kecil kau lucu juga.”

“Kau menyindirku?”

“Dirimu itu sensitif sekali rupanya.”

“Ayo kita mengerjakannya”

“Mengerjakan apa?”

“Sekarang giliran kau yang lupa. Tentu saja mengerjakan tugas akhir semester kita!”

Tugas akhir semester yang dimaksud Hyun Joong adalah tugas membuat suatu benda dari berbagai macam kertas (origami). Mereka harus mengerjakannya sebaik mungkin agar mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena selain nilai akademis, nilai non akademis juga menentukan peringkat mereka. Tugas ini harus dikerjakan secara berkelompok, satu kelompok terdiri atas 2 orang, anggota kelompok ditentukan oleh guru mereka.

“Apa kau punya ide mau buat apa?” tanya Hyun Ra.

“Belum tahu”

“Lantas, apa yang akan kita buat dengan kertas  kertas ini?”

“Aku sendiri juga bingung.”

 

Di sisi lain, Kyu Jong juga sedang mengerjakan tugas akhir semesternya bersama Hyu Rin. Awalnya baik Hyu Rin maupun Kyu Jong merasa sangat tak nyaman satu sama lain, terutama Hyu Rin yang nampaknya agak tidak suka dengan Hyun Joong, dan berimbas ke teman – teman Hyun Joong, termasuk Kyu Jong.

“Apa kau tidak bisa cepat sedikit?” ucap Hyu Rin sedikit emosi.

“Maafkan aku, aku akan lebih cepat melakukannya.”

Entah sudah berapa ratus kali Hyu Rin complaint akan hasil kerja Kyu Jong. Untung Kyu Jong termasuk orang yang sabar, jadi ia tak terpancing emosinya.

“Hei……. bukan begitu cara memotongnya, kau payah sekali!”

Emosi Kyu Jong tampaknya mulai tersulut. Ia membanting gunting yang ia bawa. Hyu Rin terkejut karenanya.

“Apa masih ada yang ingin kau katakan lagi? Selama ini aku berusaha sabar menghadapi tingkah lakumu itu, tapi aku juga manusia yang memiliki batas kesabaran. Apa kau tidak punya hati? Apa kau tak bisa menjaga mulutmu? Aku kasihan sekali kepadamu, memiliki wajah cantik tapi tak diimbangi dengan hati yang cantik pula. Dari ucapanmu saja sudah menggambarkan kau wanita yang seperti apa” ucap Kyu Jong.

Hyu Rin terdiam sejenak.

“Kau mau ke mana?” tanya Hyu Rin

“Pulang”

“Lantas bagaimana dengan tugas kita?”

“Kau kerjakan sendiri. Karena kalau aku yang membuatnya hasilnya pasti tak akan memuaskan bagimu, benar kan?”

Hyu Rin hanya terdiam melihat Kyu Jong pergi meninggalkan rumahnya. Ia tertegun sesaat. Perkataan Kyu Jong tadi benar – benar mengena di hati Hyu Rin. Selama ini dia memang bersikap kurang menyenangkan terhadap Kyu Jong, apalagi saat keduanya ditunjuk oleh guru untuk membuat tugas akhir sekolah bersama. Apapun yang dilakukan Kyu Jong, pasti salah di mata Hyu Rin. Hyu Rin berpikir kembali. Sebenarnya apa yang membuatnya membenci Kyu Jong? Selama ini Kyu Jong tak pernah mengganggunya, ia selalu bersikap baik terhadap Hyu Rin, dan meskipun Hyu Rin bersikap kurang menyenangkan, Kyu Jong tak pernah sekalipun membalas.

“Kali ini dia benar – benar marah kepadaku.” ucap Hyu Rin penuh rasa sesal.

………………. ………. ………………..

Sementara Hyun Joong dkk sedang disibukkan dengan tugas akhir sekolah, siswa – siswi kelas 3 harus memusatkan konsentrasi mereka untuk ujian akhir sekolah dan ujian masuk perguruan tinggi yang tinggal menghitung hari.

Tak mau nilainya jatuh, Hye Joong belajar dengan giat. Setiap pulang sekolah, ia langsung makan siang, belajar, tidur siang, mandi, belajar lagi, makan malam, belajar lagi, kemudian tidur malam. Bahkan terkadang ketika sarapan, Hye Joong masih menyempatkan untuk belajar.

“Noona, jangan terlalu diforsir waktumu untuk belajar. Otakmu juga butuh penyegaran. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu, jangan sampai kondisimu menurun.” ucap Hyun Joong di sela – sela sarapan.

“Kau cerewet sekali, persis nenek – nenek tua.”

“Noona, aku serius.”

“Benar apa yang dikatakan Hyun Joong, kau jangan terlalu memforsir waktumu untuk belajar. Sesekali kau juga butuh hiburan, kan?” ucap Ayah.

“Aku mengerti ayah. Tapi ujian tinggal 2 hari lagi, tentu aku harus mempersiapkannya secara matang, agar nilaiku bagus, dan bisa membanggakan ayah dan ibu.”

“Apa kau sudah memutuskan mau kuliah di universitas mana?”

“Sebenarnya aku ingin kuliah di Australia, ayah.”

“Kau sudah mendaftar?”

“Belum. Aku masih belum yakin dengan pilihanku.”

“Kalau ayah terserah padamu saja, asalkan baik untukmu, ayah akan selalu mendukungmu. Jika kau serius ingin kuliah di Australia, ayah akan mengusahakannya.”

“Benarkah Ayah?”

Ayah mengangguk. Raut muka Hye Joong menjadi cerah.

“Kenapa noona harus kuliah di luar negeri? Universitas di Korea juga tak kalah bagusnya dengan di Australia.” ucap Hyun Joong agak protes.

“Apa kau tidak suka Hye Joong kuliah di luar negeri?” tanya Ibu.

Hyun Joong hanya diam, lantas melanjutkan sarapannya.

 

Pagi itu Hye Joong dan Hyun Joong berangkat sekolah bersama.

“Bagaimana tugas akhir sekolahmu, sudah selesai?” tanya Hye Joong.

“Hampir selesai. Hasil akhirnya aku serahkan kepada Hyun Ra.”

“Aku lihat belakangan ini kau intens sekali dengan Hyun Ra. Kalian berdua cepat akrab. Padahal kau itu susah sekali untuk dekat dengan seorang gadis.”

“Mungkin itu hanya perasaan noona saja.”

………………. ………. ………………..