Title      : Memories (II) : Lost

Length  : Ficlet (Chap. II of III)

Genre   : Romantic, Sad

Cast      : Choi Eun Kyo (OC), Choi Seung Hyun (TOP Bigbang)

Other Part : [Drabble] Memories (I) : Happiness

Disclaimer :

ADIEZ-CHAN ©ALL RIGHT RESERVED
ALL PARTS OF THIS STORY IS MINE! NO OTHER AUTHORS! PLEASE DON’T STEAL, COPY AND RE-POSTING WITHOUT CONFIRM AND HOTLINK!
DON’T PLAGIARIZE!

KEEP COMMENT AND NO SILENT READERS HERE PLEASE!

***

 

The only thing certain in life is uncertainties, and my feeling for you.

“Princess…”

Gadis berambut coklat ikal sebahu itu menurunkan buku yang dibacanya dan meletakkannya di meja di hadapan mereka. Kemudian tangannya bergerak melepas kacamata minusnya, menyelipkannya di saku kanannya dengan manis dan akhirnya kedua bola matanya fokus menatap lelaki disampingnya. “Nde?”

“Tidak jadi, ah…” lelaki bertubuh jangkung itu menelan ucapan yang telah di ujung lidahnya dan kembali membuka buku yang dipegangnya.

“Aaaa…” Gadis itu seketika mengerucutkan bibirnya membentuk ekspresi kesal dan menutup buku yang baru saja terbuka di tangan lelaki itu dengan paksa. Tindakannya seakan menuntut lelaki itu untuk beradu pandang dengannya dalam tatapan yang menuntut, “Wae, Seung Hyun?”

Seung Hyun, nama lelaki itu, membentuk sebuah lengkungan tipis pada bibirnya dan berucap, “…Oppa. Panggil aku ‘oppa’, Eun Kyo, dan aku akan memberi tahumu.”

“Hhh…” gadis yang dipanggil Eun Kyo itu mendengus pelan dan membuang pandangannya ke sekeliling ruangan perpustakaan kota Seoul. Dia baru saja datang ke Seoul untuk bertemu Seung Hyun, dan dia harus menemani kekasihnya itu ke perpustakaan untuk mengerjakan skripsi yang terbengkalai selama setahun karena dia menghilang.

Sesaat kemudian tatapannya kembali mengamati Seung Hyun. Lelaki itu semakin kurus. Entahlah, apakah ini hanya perasaannya, ataukah memang begitu adanya. Sekalipun lelaki itu mungkin mencoba menutupinya dengan long coat yang dia balutkan di tubuhnya, dan syal yang menutup lehernya. Serta wajah Seunghyun yang terlihat cekung dan pucat. Gadis itu berusaha menanyakannya, namun lelaki itu hanya menjawab seadanya hingga gadis itu mencoba mempercayainya.

“Oppa…” Eun Kyo menekan setiap suku katanya dalam desisannya. “Sekarang katakan.”

Kali ini tidak hanya senyum yang terbentuk di bibirnya, melainkan sebuah seringai kemenangan. Dia mendapat apa yang diinginkannya dengan mudah. Kemudian dia menatap tepat di kedua manik mata Eun Kyo dengan pandangan yang dalam dan kelam, seolah menunjukkan keseriusan, dan menyembunyikan sesuatu di dalam hatinya, “Apa kamu mencintaiku, Princess?”

Dahi gadis itu sontak mengernyit, “Nee?”

“Aku selalu mencintaimu, Princess. Apa kamu juga mencintaiku?”

Jengah, gadis itu mengalihkan pandangannya ke sekeliling perpustakaan, “Apaan sih? Kenapa tiba-tiba bertanya hal seperti itu?”

Tangan Seung Hyun perlahan menyentuh punggung tangan Eun Kyo, satu cara halus untuk memaksa untuk kembali menatapnya. “Princess, jawab aku.”

“Choi Seung Hyun-ssi, saranghae. Je suis amourais de toi.[1]” Gadis itu mengucapkannya dengan lirih, namun ucapannya terasa menggema membentuk suara echo di telinga Seunghyun.

Satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian, dan perasaan gadis itu padanya. Harusnya Seung Hyun tak perlu meragukannya. Dia hanya perlu mengingat bagaimana gadis itu sungguh rela menunggunya yang menghilang selama setahun, ketika mungkin seharusnya banyak orang yang memperebutkan hatinya. Dia hanya perlu mengingat kontraksi jantung yang berlebihan dalam dada kiri gadis itu ketika akhirnya semesta mempertemukan mereka dalam satu pelukan hangat.

Semua orang sanggup berkata cinta, namun tak semua orang sanggup untuk menunggu cinta. Terlebih jika cinta itu sempat menghilang bagai angin yang memburai helaian rambut dan pergi. Namun gadis itu MAMPU. Tidakkah itu sudah lebih dari cukup untuk seorang pesakitan sepertinya?

Yeah. Pesakitan yang dengan bodohnya menyakiti gadis di sampingnya dengan melenyapkan eksistensinya, dan akan menyakitinya sekali lagi. Untuk saat ini saja, dia ingin mencuri waktu untuk berbahagia dan membahagiakan gadis itu. Saat ini saja.

Kali ini lelaki itu menautkan setiap jemarinya di sela-sela jemari Eun Kyo dengan perlahan dan tanpa aba-aba. Eun Kyo tersentak sejenak, namun tak menolak perlakuan tersebut. Hingga kemudian sepuluh jemari itu saling menyatu, menjalarkan sebuah kehangatan dari tangan keduanya.

“I love you, Choi Eun Kyo. And will always do…”

Semu merah langsung bersemburat cepat di kedua pipi gadis itu.

 

Hilang. Dia menghilang.

Bagaikan awan terberai di atas langit, hingga tak menyisakan sedikitpun gumpalan.

Kejadian itu adalah terakhir kalinya dia bisa menatap mata kelam Seung Hyun, merasakan kehangatan bagai listrik dari sentuhan kulit mereka, menikmati cinta tanpa kata yang selalu tersembahkan untuknya.

Terakhir kalinya.

Untuk kedua kalinya, lelaki itu menghilang bagai angin dalam hidupnya.

Untuk kedua kalinya, lelaki itu pergi tanpa meninggalkan sepucuk pesan pun untuknya.

Dan untuk kedua kalinya, gadis itu harus merasakan betapa sakitnya suatu kehilangan.

Cinta itu bagai dua sisi mata uang, bisa membangkitkan seseorang namun juga bisa menghancurkan hidup seseorang. Kali ini rasa itu bekerja untuk hal yang terakhir, kehancuran. Gadis itu hancur. Semua seakan menjadi mati rasa. Tak ada yang bisa dirasakannya kecuali rasa terhujam yang selalu menusuknya tepat di dada kiri, di setiap ruangan jantungnya. Tak ada lagi lesung yang biasa terbentuk di kedua pipinya ketika dia tersenyum, tak ada lagi pendar cahaya ketika dia melihat. Semua ragam kebahagiaan yang dikenal manusia telah punah dari hidupnya.

Tanyakan saja padanya, bagian mana yang paling menyakitkan dari suatu kehilangan. Dia akan menjawabnya dengan satu kalimat datar namun menohokmu hingga ke ulu hati. Karena kehilangan lelaki itu adalah yang paling menyakitkan. Tanpa ada kata perpisahan. Tanpa ada penjelasan. Hanya angan dan pertanyaan yang memenuhi ruang rindu.

Untuk kali ini, apa yang seharusnya dia lakukan? Ke mana dia harus mencari?

 

Kiamat baginya adalah ketika lelaki itu meninggalkannya. Dia bahkan tak sanggup membayangkannya walau hanya sekilas…

__________________________________________________________

To be continued.

Wehee… Sekali lagi saya membuat sesuatu yang nggak penting. Aseli deehh, ini geje banget.

Setelah serpihan demi serpihan terkuak dari kenangan terkuak (ceilehh) akan bagaimanakah bagian terakhir cerita ini? Seperti apa selanjutnya?🙂

Sudah penasaran?

Okee, saya tawarkan ke readers sekalian, untuk the last part, maunya drabble, ficlet, ato FF? saya akan bikinkan sesuai dengan permintaan terbanyak.
jadiii… please comment yaa…^^

Gomawoyooo… (_ _)


[1] (Perancis) Je suis amourais de toi : Aku mencintaimu. Ucapan dari wanita untuk lelaki. Ucapan lelaki untuk wanita adalah “Je t’aime”