Author: Lee Hyungseo
Title: If I was A Demon…
Length: Chapter 4 of 7
Genre: Action, Angst, Drama, Romance
Summary: Satu lagi nyawa tak bersalah yang menjadi korban. Nyawa Lee Youngna.
Author’s Notes: Fic ini udah pernah di-publish di Fanfiction.net dan Facebook. (http://www.fanfiction.net/u/2862160/Lee_Hyungseo)

MALAM itu cuaca terasa begitu dingin. Youngna sampai harus mengenakan beberapa lapis pakaian untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin yang terasa begitu menusuk. Disisinya, Hyungseo masih tertidur dengan lelap. Untungnya, semua luka-luka Hyungseo tidak separah kelihatannya. Lagipula, Youngna yakin sepupunya itu memang tahan banting. Luka-luka seperti itu tidak akan menjadikannya rapuh.
“Youngna-sshi?”
Youngna menoleh. Dari balik pintu muncul seorang perawat berwajah ramah yang baru dikenalnya sore tadi.
“Ah, Minri-sshi! Aku mencarimu tadi.”
“Eh? Maaf, maaf, aku tadi sedang menjawab telepon.”
“Pacarmu?”
Minri tertawa. “Ahahahaha… itu…”
“Ayolah… mengaku saja,” goda Youngna.
“Baik, baik, aku ketahuan.” Minri tersenyum. Seperti biasa, jemari rampingnya nampak begitu cekatan merapikan selimut di setiap tempat tidur pasien.
“Jadi, siapa namanya?”
Minri berhenti sebentar. “Lee Donghae.”
“Nama yang bagus. Dia bekerja?”
“Yah… begitulah. Hanya saja aku tidak begitu tahu tentang pekerjaannya,” jawab Minri seadanya. “Kau sendiri?”
“Ah, dia seorang agen kepolisian. Namanya Choi Siwon.”
“Siwon-ah? Aku kenal dia!”
“Benarkah?” tanya Youngna heran.
Minri mengangguk. “Waktu itu ada salah satu rekannya yang kena tembak, dan dia dirawat disini.”
“Hmm… Oppa memang punya banyak kenalan. Ngomong-ngomong, bukannya shift kerjamu sudah habis, Minri-sshi?”
“Aku sedang beres-beres. Lagipula tadi Donghae-oppa bilang kalau ia sedang dalam perjalanan menuju kesini.”
Entah kenapa, tiba-tiba Youngna teringat akan Siwon. Pemuda itu… sejak ia bergabung dengan kepolisian, Siwon jadi tidak bisa sering-sering menghabiskan waktunya bersama Youngna. Walaupun Youngna memakluminya, namun terkadang ia bisa merasa kesepian juga. Dan kalau Youngna sedang merasa kesepian, biasanya hanya Hyungseo yang menghiburnya.
“Pasti Donghae-sshi itu baik sekali, ya? Siwon-oppa saja jarang bisa menjemputku.”
“Jangan begitu, Youngna-sshi. Donghae-oppa kadang bisa sangat aneh.”
“Aneh?” Youngna mempertegas pernyataan Minri barusan. “Maksudmu?”
Minri mengambil sebuah kursi lipat dari sudut ruangan. Diletakannya kursi itu disebelah tempat Youngna duduk. “Bagaimana, ya? Terkadang Oppa bisa sangat ramah, dan terkadang ia bisa menjadi sangat dingin.”
“Seperti… kecenderungan kepribadian ganda?”
Minri mengangguk. “Tapi untungnya, Donghae-oppa tidak pernah berbuat yang aneh-aneh padaku.”
“Itu bagus,” kata Youngna meyakinkan.
“Walaupun begitu, sebenarnya ia pernah bercita-cita menjadi seorang dokter. Hanya saja…”
“Hanya saja?”
“Begitulah, tidak sedikit orang yang memandang negatif keluarga Donghae-oppa yang kaya raya itu,” jelas Minri dengan suara lirih. “Padahal Oppa sangat baik.”
“Ah, aku jadi penasaran. Kenalkan dia padaku,” pinta Youngna. “Nanti akan kukenalkan pada Siwon-oppa, jadi kapan-kapan kita bisa double-date!”
“Aku yakin mereka bisa menjadi teman akrab.” Minri tersenyum. Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah seseorang menuju kamar pasien tempat Youngna dan Minri berada. Wajah Minri berubah cerah begitu ia yakin yang datang adalah Donghae. Dan benar saja, begitu pintu kamar pasien itu terbuka, nampak oleh Youngna dan Minri seorang pemuda dengan wajah teduh yang familiar. Minri langsung menghambur menuju pria itu begitu ia masuk. Pria itu tersenyum dan mengatakan beberapa hal pada Minri yang tak bisa Youngna dengar. Tentu tak bisa, karena Youngna merasa benar-benar tercekat ketika menyadari siapa sosok pria yang sedang dilihatnya. Itu lelaki yang sama yang dilihatnya siang tadi di markas utama. Lelaki yang memakai pakaian hitam dan menggenggam senapan. Lelaki yang meledakkan gedung markas utama hingga melukai Hyungseo. Lelaki itu…
Lee Donghae.

YOUNGNA merasa seperti sedang dihujami ribuan paku ketika pemuda bernama Donghae itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Tangannya dingin, sedingin wajahnya ketika Youngna melihatnya untuk pertama kalinya. Youngna masih tak percaya bahwa ia sedang berjabat tangan dengan musuh terbesar Siwon.
Sementara itu, Donghae pun tak kalah terkejutnya ketika mengetahui siapa sebenarnya perempuan yang sedang berjabat tangan dengannya itu. Lee Youngna, gumamnya dalam hati. Inikah Lee Youngna? Orang yang kucari untuk bisa menghabisi Choi Siwon? Kalau begitu Dewi Fortuna pasti sedang berpihak kepadaku, gumamnya lagi.
“Youngna-sshi, senang berkenalan denganmu,” kata Donghae mencairkan suasana. Ia melepas jabatan tangannya sembari melempar senyum tipis pada Youngna.
“A-aku juga…”
“Itukah sepupumu?” Donghae melihat Hyungseo yang terbaring di kasur pasien. Gadis itu nampak tertidur lelap.
“Ah… ya. Dia menderita luka bakar ringan.”
“Aku turut menyesal. Kuharap kelompok teroris itu segera tertangkap.”
Youngna tersentak. “Teroris? Bagaimana kau tahu itu hasil perbuatan teroris?”
Donghae terdiam sejenak. “Berita di televisi.”
Selama sepersekian detik Youngna merasa benar-benar yakin kalau Donghae tengah menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Wajah hangatnya berubah menjadi wajah dingin yang dilihat Youngna saat ia ada di gedung markas utama.
“Ah… k-kurasa aku harus pulang sekarang,” kata Youngna tiba-tiba. Perkataannya lantas membuat Minri bingung.
“Kau tidak menginap, Youngna-sshi?”
Minri menggeleng. “Nanti biar Siwon-oppa yang gantian berjaga.”
Siwon, nama itu terngiang begitu saja di telinga Donghae. Ia bisa merasakan atmosfer disekitar Youngna berubah. Gadis itu panik, dan itu membuat Donghae curiga kalau sebenarnya Youngna sudah mengetahui siapa Lee Donghae itu.
“Nah, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok.” Youngna mengambil tasnya, lalu secepat itu ia berlalu. Beberapa saat setelah Youngna keluar, Minri dapat mendengar gadis itu berbicara dengan Siwon di telepon. Suara Youngna bergetar. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
“Dia aneh, ya?” ucap Donghae tiba-tiba.
“Eh? Mungkin dia hanya sedang terburu-buru.”
Donghae mengangkat bahunya. “Ngomong-ngomong, aku mau keluar sebentar. Kau langsung tunggu di mobil saja.”
“Oppa mau kemana?”
“Menelepon teman.”

DI dalam ruangan Kim Minhyun yang hampir tak memiliki tanda-tanda kehidupan, terdengar dering telepon yang pelan. Minhyun mengangkat telepon itu, masih sembari mengutak-atik beberapa file di komputernya.
“Halo,” ucapnya singkat.
“Minhyun, ini aku.”
Minhyun mengenali suara itu. “Donghae-sshi, ada apa?”
“Aku menemukan Lee Youngna.”
“Secepat itu?”
Donghae terdiam selama beberapa saat. “Persiapkan sniper-mu. Setelah ini akan kukirim data jalan yang akan dia lalui.”
“Kau ingin aku yang membunuhnya?”
“Kau akan membantuku bersih dari tuduhan, Minhyun.”
Minhyun terdiam. Akhirnya pandangannya terlepas dari layar komputer. “Dimengerti.”

SEPULUH menit setelah Siwon menerima telepon dari Youngna, lelaki itu langsung melesat menuju Rumah Sakit Internasional Busan University. Perkataan Youngna di telepon masih terngiang dalam pikirannya.
Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu, Oppa. Sesuatu yang tidak bisa kukatakan disini,” kata Youngna beberapa menit lalu. Suara gadis itu bergetar, sangat terlihat kalau ia ketakutan. Dan entah kenapa, Siwon merasa kalau serangan kelompok teroris siang tadi belum berakhir. Tentu saja, jika mereka menemukan Youngna, maka nyawa gadis itu benar-benar dalam bahaya.
Siwon akhirnya sampai di tempat ia dan Youngna berjanji akan bertemu. Tempat itu hanyalah sebuah air mancur di tengah-tengah sebuah taman kota yang tidak begitu jauh dari sekolah taman kanak-kanak tempat Youngna mengajar. Air mancur berukuran sedang itu beriak, mengalahkan suara deru mobil-mobil yang berlalu di hadapan Siwon. Suara riak itu terdengar ramai dan terkadang berubah bising. Bahkan sampai udara menjadi semakin dingin pun, Youngna belum datang juga.
Beberapa menit berlalu, Siwon akhirnya melihat sesosok perempuan berambut sebahu berjalan kearahnya. Tidak, Youngna lebih terlihat seperti sedang berlari kecil. Wajahnya nampak gusar, membuat Siwon makin kuatir.
Oppa!” jerit gadis itu. Hanya beberapa meter lagi dari Siwon, tiba-tiba tubuh Youngna ambruk. Siwon yakin ia baru saja mendengar suara letusan senjata api dari jarak jauh. Dengan panik, Siwon menghampiri tubuh Youngna yang tergeletak di jalan. Gadis itu tak bergerak. Punggungnya dipenuhi darah yang mengalir perlahan.
“YOUNGNA!”
Siwon akhirnya meraih tubuh lemah kekasihnya. Mulutnya bergerak, nampak akan mengatakan sesuatu.
O-oppa…”
“Jangan bicara! Akan kupanggil bantuan!”
“Tidak…” kata Youngna dengan sisa nafasnya. “Pimpinan… teroris itu… uhk!”
“Apa… apa maksudmu? Apa yang ingin kaukatakan?”
“Lee Donghae… dia orang yang kaucari selama ini…”
“Tidak, Youngna! Jangan bicara lagi!”
Oppa…” panggil Youngna untuk terakhir kalinya. “Temukan… Minri…”
Sunyi. Hanya terdengar raung sirine ambulans yang datang meramaikan malam itu. Setelah itu, Siwon tak bisa mengingat apa-apa lagi selain suara parau beberapa orang yang memintanya untuk tenang. Ia berusaha, tapi tak bisa. Ia tak bisa lagi merasakan nafas Youngna. Ia tak bisa lagi mendeteksi denyut nadinya, ia bahkan tak bisa lagi berharap Youngna akan selamat.
Sementara itu, jauh diatas sebuah flat, Kim Minhyun menatap lurus kearah orang-orang yang panik dibawahnya. Entah sejak kapan, hatinya tergetar ketika ia dengan yakin memastikan bahwa Choi Siwon dibawahnya tengah meneteskan air mata.

KEESOKAN harinya di rumah duka, puluhan orang berdatangan menyampaikan rasa belasungkawa mereka atas kepergian Lee Youngna. Choi Siwon, Kang Minhyuk, dan Lee Hyungseo duduk di barisan kursi paling depan supaya mereka bisa melihat dengan jelas sebuah foto besar yang terpampang didepan ruangan itu. Foto itu memampangkan wajah Youngna yang tersenyum bahagia, nampak tanpa beban. Namun semua itu menjadi memilukan ketika tatapan mereka teralihkan kearah tumpukan lili putih yang digunakan untuk menghormati yang telah pergi.
Siwon akhirnya berdiri, lalu berjalan menuju altar. Diambilnya setangkai bunga lili putih dari atas meja, lalu ia letakkan kembali bunga itu dihadapan foto Youngna. Begitu ia selesai memberi penghormatan terakhir, Siwon berbalik untuk kembali ke tempat duduknya. Namun ia justru melihat Heo Minri berdiri di sudut ruangan. Ia bersama seorang pria, dan pria itu adalah orang yang ditemui Siwon kemarin di rumah sakit.
“Lee Donghae.”
Siwon teringat akan sebuah nama yang diucapkan Youngna tadi malam.
Lee Donghae? Benarkah ia adalah pimpinan kelompok teroris itu?
Perlahan tapi pasti, Siwon berjalan mendekati Minri dan Donghae. Namun kerumunan yang padat membuat Siwon kesulitan menemukan mereka. Kedua orang itu pun berjalan makin jauh dan makin menghilang dari pandangannya.
“Siwon-ah!”
Siwon sempat berbalik, tetapi ia tak memedulikan panggilan Hyungseo. Siwon kembali mengikuti Donghae dan Minri. Semakin dekat, sampai akhirnya Siwon merasakan seseorang menarik lengannya.
Hyung, tunggu!”
Siwon menoleh. “Ryeowook?” Siwon melihat sekeliling, dan ternyata bukan hanya Ryeowook, tetapi seluruh timnya ada disana.
“Apa yang kaulakukan?” tanya Yesung, setengah berbisik.
“Aku hanya sedang—”
“Kau harus mendengar ini,” potong Hangeng. “Ini laporan terbaru seputar kelompok teroris itu.”
“Aku tidak punya waktu untuk itu!” Siwon kembali memperhatikan Donghae dan Minri yang mulai menghilang dari kejauhan. Terlihat jelas Donghae mulai memasuki mobilnya.
“Penyerangan kemarin,” kata Leeteuk. “Sekarang kami tahu siapa pemimpin kelompok teroris itu.”
Siwon terkejut. “Siapa? Siapa orang itu?”
Leeteuk menjawab dengan yakin. “Lee Donghae.”
“Lee Donghae?”
“Kalau saja kita bisa menemukannya—”
“Kita sudah menemukannya! Dia disana!” Siwon menunjuk sebuah BMW hitam yang mulai melesat menjauhi tempat itu. Dengan segera, Siwon berlari menuju garasi. Tanpa berpikir dua kali, ia membuka kunci pintu mobilnya, lalu segera masuk dan melesat ke jalan. Dari kaca spion, Siwon dapat melihat rombongan mobil polisi dan mobil milik Hyungseo mengikutinya.

SAMAR, namun Heo Minri dapat mendengar suara sirine mobil polisi tepat dibelakangnya. Saat ia melihat ke kaca spion, ada sekitar tiga sampai enam mobil yang mengejarnya. Minri dapat melihat wajah panik oppa-nya ketika melihat mobil-mobil polisi itu. Melihat Donghae mendadak berubah sikap, Minri mengatakan pada hatinya bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Oppa, mobil-mobil polisi itu mengejar kita,” kata Minri pelan. Ia tidak ingin tambah mengacaukan suasana hati Donghae.
“Aku tahu!” Donghae membanting stir ke kanan. Namun, baru beberapa puluh meter ia melaju, sebuah barikade polisi menghadangnya. “Sial!” umpatnya. Donghae akhirnya memutar balik, namun dibelakangnya, sekumpulan mobil polisi ternyata telah lebih dulu mengepung BMW yang Donghae kendarai. Beberapa orang agen kepolisian keluar dari mobil mereka dengan membawa senjata api, termasuk Choi Siwon yang berada di paling depan, memimpin yang lain.
“Lee Donghae! Keluar dari mobil secara perlahan!” perintah Siwon dari pengeras suara.
Oppa, ada apa ini sebenarnya?”
Donghae mengerutkan keningnya. Selama beberapa saat ia nampak tengah berpikir keras.
Oppa! Kenapa kau diam saja?”
“Diam, Minri!”
Minri tersentak. Belum pernah Donghae membentaknya seperti itu.
“Lee Donghae! Keluar sekarang juga!”
Donghae mulai panik. Ia tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Pada akhirnya, hal terakhir yang dapat Donghae lakukan adalah mengambil sebuah pistol dari dalam dasbor. Begitu melihat pistol itu, kepanikan Minri berubah menjadi sebuah ketakutan.
“A-apa yang akan kaulakukan dengan pistol itu?”

– To Be Continued…