Title : Love Story

Author : Fhaheezh (FOUR4)
Length : One shot
Genre : SongFic (Rain – Love Story), Action-Romance
Cast :
– Rain (Jung Ji Hoon)
– Ha Ji Won (Lee Yoo Kyeong)
– Lee
– Hwang Gi Tak
Disclaimer : This story based on Rain – ‘Love Story’ song. But this Fanfiction is MINE. I made it by myself.

1st published in my first fanfic blog:

http://fhaheezh-fanfiction.blogspot.com/ *

* but this account had been deactivated (privated)

 

Keramaian Seoul memang tak perlu diragukan. Meski malam telah datang, ibukota Korea Selatan itu selalu ramai oleh penduduknya. Jeong Ji-hoon, seorang pekerja bayaran pada sebuah mafia ilgeal pun turut meramaikan sesaknya kota Seoul.  Pria polos, naïf dan cerewet namun baik hati ini meluncur dari kediamannya di sebuah hotel di daerah Kwangjang-dong menuju hotel di Cheongdam-dong.

Ji-hoon merapikan pakaiannya, dasinya bergaya layaknya seorang yang kaya raya dengan tuxedo yang paling ia suka. Tak lupa kacamata hitamnya dipasangkan dan menutupi mata sipitnya.

“Argh~ …” gumamnya ketika tak sengaja ujung kacamatanya mengenai pinggir matanya. Ia pun siap bergaya layaknya model pria dengan sejuta pesona. Dengan cepat ia meluncur menuju parkiran untuk mengambil kendaraannya. Dan sebuah motor vespa menanti.

“Aissh.. siapa yang mengotori vespa ku? Berani sekali….” Ucapnya lalu memberikan sesuatu pada vespa hitamnya agar terlihat lebih berkilau. Setelah memastikan kondisi vespanya sudah lebih baik, ia pun segera meluncur menuju hotel lain di Seoul, menemui bossnya, Lee.

***

“Oh kau disini…” ucap Lee yang telah menantinya sejak tadi. “Aku dengar kau melakukan pekerjaanmu dengan baik,.. aku membutuhkan mu untuk melakukan sesuatu lagi..” lanjutnya sambil menyodorkan segepok uang jutaan won.

“Ah, kau tidak perlu begitu bos..” ucap Ji-hoon tersipu malu sambil tetap meraih amplop tebal jutaan won tersebut.

“Karyawan di sini tidak begitu ramah seperti apa yang kau pikirkan, jadi gunakan uang itu dengan baik untuk menjaga kesehatanmu” jelas Lee.

“Aih~ Aku sangat sehat, aku baik-baik saja.. aku cukup gemuk bos..”

“Oh ya, ini Manager Hwang, Hwang Ki Tak.. dia sangat baik dalam menangani berbagai masalah. Dan dia spesialis dalam menangani beberapa kasus kotor..”

“Ah, jangan khawatir.. aku sangat bersih.. ahahah..”

“Kau benar, kali ini kau harus bertanggug jawab terhadap seorang wanita untuk menjaganya..”

“Oo~ kau bilang waita? Aku sangat suka mereka, haha.. bos, sekali lagi terima kasih banyak..” ucap Ji-hoon sambil mencoba memasukan amplop tebal itu ke kantung jas-nya. “Kau sangat murah hati bos.. ini sangat tebal.. hehehe..” lanjutnya. Namun Lee hanya seditkit tersenyum sinis, merendahkan Ji-hoon yang terlalu polos.

***

Setelah menerima jutaan won dari Lee, Ji-hoon bergegas ke sebuah café untuk sekedar hang out bersama teman-temannya. Ia menghabiskan waktu bersama temannya, membicarakan berbagai hal bersama teman-temannya, mulai dari pakaian, gaya rambut, layaknya orang-orang kaya yang terus membicarakan penampilan mereka.

“wah, gaya rambut mu keren sekali hari ini..”

“ahaha, tentu!.. hey, omong-omong pakaian yang kau pakai itu gayaku, tahu!”

“apa katamu? Memang gaya pakaianku seperti ini, bagaimana keren kan? Pria memang terlihat menarik dengan tuxedo seperti ini..hahaha..aku akan menyimpan uangku, untuk membeli bebrapa tuxedo dan beberapa pakaian keren, mobil, dan aku juga ingin memiliki pacar..ahaha”

Kurang lebih seperti itulah pembicaraan mereka. Ji-hoon dan teman-temannya terus membicarakan bagaimana penampilan mereka. Ji-hoon adalah pria yang sangat unik. Ia tergila-gila akan barang-barang mewah dan selalu menyimpan uang hasil kerjanya utnuk membeli barang-barang mewah itu, namun sampai detik ini ia tak membeli satupun barang-barang bermerek untuknya. Ia terlalu takut uangnya akan habis. Namun begitu, ia tetap bergaya layaknya seorang kaya raya yang penuh harta.

Namun tak sengaja, ia melihat ke sudut lain café. Seorang wanita cantik tengah membaca sebuah buku sambil meminum cappuccino-nya perlahan dengan sedotan. Ji-hoon terus memperhatikannya. Namun tak lama kemudian, wanita itu pergi. Ia menuju kasir untuk membayar minumannya.

“astaga.. dimana dompetku? Sebentar ya…” ucap wanita itu yang mulai terlihat panik mencari dompetnya yang tidak ada.

“Aku yang akan membayarkannya,..” ucap Ji-hoon yang menyodorkan kartu debitnya. “apa kita pernah bertemu sebelumnya? Ini sangat aneh, tapi kau terlihat familiar untukku, hahaha.. dimana kita pernah bertemu ya? Aduh~ aku tidak ingat sama sekali..” ujarnya panjang lebar seolah pernah bertemu dengan wanita itu.

“Terima kasih ya..” ucapnya setelah mengambil kembali kartu debitnya. “Ayo kita keluar,..” lanjutnya dan  kemudian mengajak wanita itu keluar. Wanita itu hanya diam kebingungan dengan sikap Ji-hoon yang begitu spontan.

***

“Maaf aku telah merepotkanmu,..” ucap wanita itu.

“Ah tidak perlu sungkan, kita sesama manusia memang harus saling menolong bukan?”

“Bagaimana aku bisa membayar yang tadi?”

“Bayar? Aih~ kau tidak perlu membayar apapun padaku..”

“Tapi aku berhutang padamu..”

“Berhutang? Berhutang apa? Lupakan saja! Lupakan~…” ucap Ji-hoon berakting layaknya pria dermawan. “Ini sudah sangat malam, kau harus segera pulang bukan?” tanyanya.

“Aku bisa naik taksi..” ucap wanita itu malu-malu.

“Aih~ taksi itu terlalu berbahaya.. ayolah, jangan seperti ini.. aku akan mengantarkanmu ke rumah,.. ayo pergi bersama, bagaimana?” tanyanya sambil menunjuk pada vespa hitamnya yang setia. Wanita itu agak kaget. Ia pikir Ji-hoon akan membawa mobil mewahnya. Ia tersenyum malu, memikirkan betapa lucunya Ji-hoon.

***

Sesampainya di rumah wanita tersebut, baru saja wanita tersebut membuka pintunya, Ji-hoon pun masuk dan mengagumi betapa indahnya rumah wanita itu.

“WAH? INI RUMAHMU? WAA~ INI KEREN SEKALI!!” teriaknya kagum. “Bisa kah aku melihat-lihat rumah mu? Aku akan pulang setelah melihat-lihat rumahmu…” ucapnya. Dan tanpa menunggu jawaban si pemilik rumah, ia pun berkeliling melihat-lihat betapa indahnya rumah wanita itu.

“Astaga, rumah macam apa ini? Keren sekali,.. seperti rumah model!.. astaga-astaga, apa ini terbuat dari kayu?” tanya Ji-hoon menunjuk sebuah  benda di ruang tengah. “wah ini benar-benar dari kayu..” lanjutnya setelah mengetuk-ngetuk dan memastikan benda tersebut.

“oh astaga, sungguh,.. aku harap aku bisa tinggal di rumah mewah seperti ini..” ucapnya lagi yang terkesan memalukan. “oh astaga, televisi mu besar sekali?! Televisi ku hanya sebesar ini, kecil sekali bukan?” ucapnya lagi di depan 9 buah layar LCD TV yang di pasang sehingga membentuk layar yang begitu besar. Sementara televisi di rumah Ji-hoon tak lebih dari setengah layar 1 LCD TV.

“Oh iya, dimana kamarmu? Tanya Ji-hoon. Tanpa menunggu jawaban wanita itu, ia menjelajah sendiri menemukan kamar wanita itu. “Wooow~ kau punya banyak berbagai macam pakaian! Apa kau tinggal sendiri? Atau kau tinggal bersama keluargamu?” tanyanya. Namun wanita itu terlihat kebingungan dengan tingkah Ji-hoon yang terlihat seperti orang bodoh.

“Oh iya, boleh aku mengambil segelas air ? boleh ya?” tanyanya yang langsung bergegas ke dapur. “Aish~ sungguh mengagumkan! Bolehkah aku membukanya dan melihat-lihat?” tanyanya lagi sambil membuka sebuah lemari pendingin raksasa berukuran 3 meter. “Aduh, bagaimana cara membukanya? Hehe..” ucapnya sambil terus mencoba membuka lemari pendingin tersebut. Sementara itu si pemilik rumah hanya tersenyum kecil menahan tawanya melihat tingkah laku Ji-hoon yang begitu polos.

“Kau memiliki 2 kulkas di rumahmu? Eh.. bukan.. tapi 3 kulkas! Rumah ini benar-benar cocok untukmu.. betapa bagusnya jika kita bisa tinggal bersama, hehe..” ucapnya. Dan lagi, tiba-tiba Ji-hoon dengan cepat melangkah pada sebuah sofa besar di hadapannya. “Merek apa ini? Keren sekali! Dan sangat nyaman..” ucapnya sambil bermain-main di atas sofa tersebut, duduk, berbaring dan memastikan betapa empuknya sofa itu.

“Jangan tiduran di sana..” ucap wanita itu.

“bayar-bayar,.. ingat kau berhutang padaku..” ucapnya lalu berbalik arah, membelakangi wanita itu  sambil terus berbaring.

“Ini sebagai bayaran? Tapi ….”

“Bukankah kau bilang kau akan membayar kembali padaku? Sudahlah, tidak masalah aku hanya tidur di sini saja sudah cukup. Tidak apa jika aku hanya tidur di tempat kecil ini, anggap saja kau telah membayarku kembali.. ah~ sofa ini terlalu nyaman.. hahaha..” ujarnya tanpa henti sambil menggoyang-goyangkan bokongnya merasakan nyamannya sofa itu. “hahaha, bagaimana ini bisa begitu nyaman? Oh ya, apa kau punya celana pendek?” tanyanya dan kali ini membuat wanita itu tertawa kecil terhadap tingkah laku Ji-hoon.

***

Esok paginya, di sebuah café hotel, Ji-hoon terus memandangi secarik kertas di tangannya.

“Aku melihat kau tidur begitu nyenyak.. aku tidak ingin mengganggumu, jadi aku pergi diam-diam. Aku telah membayarkan kembali uangmu, lewat ATM-ku,.. namaku Lee Yoo-Kyeong..”

Begituah tulisan yang tertera pada secarik kertas yang di berikan wanita itu pada Ji-hoon. Ji-hoon tak berhenti tersenyum dan mencium kertas tersebut. Tak lama kemudian, datanglah orang yang Ji-hoon tunggu. Pacar dari bosnya yang harus ia jaga karena pekerjaanya kali ini sebagai bodyguard untuk kekasih sang bos.

“Selamat datang tuan..” ucap Ji-hoon memberi hormat pada atasannya. Namun betapa kagetnya ia, bahwa kekasih bosnya yang harus ia jaga adalah Lee Yoo-Kyeong, wanita yang baru ia kenal tadi malam dan juga ia sukai. Mereka pun saling bertatapan, namun Yoo-Kyeong terlebih dulu meninggalkan Ji-hoon yang terpaku shock melihat kenyataannya yang pahit.

***

Ji-hoon hanya terdiam di dalam mobil milik Yoo-Kyeong sambil terus mengendarainya, wajahnya begitu sedih dan kecewa setelah tau Yoo-Kyeong adalah kekasih bosnya. Pandangannya kosong karena terus memikirkan Yoo-Kyeong.

Setelah sampai di rumah, Yoo-Kyeong pun keluar dari mobil terlebih dahulu meninggalkan Ji-hoon yang masih tak bisa menerima kenyataan. Yoo-Kyeong hanya menyandarkan kepalanya pada pintu apartemennya. Ia pun tak kalah sedih, seolah menahan kekecewaan terhadap Lee yang belasan tahun lebih tua darinya. Lee mengatakan bahwa ia akan menikahi Yoo-Kyeong segera dan karena itulah Yoo-Kyeong datang ke hotel untuk melihat gaun pengantinnya. Yoo-Kyeong sangat sedih karena ia sama sekali tak ingin menikah dengan Lee. Ia sama sekali tak mencintai Lee. Namun apa daya, kehidupannya ada di tangan Lee. Lee-lah yang menghidupi nya selama ini. Dan tak lama kemudian, Ji-hoon pun datang.

“Apa yang kau lakukan? Buka pintunya…” ucap Ji-hoon jutek. Ia merasa kecewa karena Yoo-Kyeong tak bercerita apa-apa bahwa dirinya adalah kekasih dari bos-nya. “Cepat buka pintunyaa…” pinta Ji-hoon sedikit membentak. Yoo-Kyeong pun menekan password pintu apartemennya dan membukanya. Tapi Ji-hoon terlebih dulu masuk  dan mendorong pintu itu. Yoo-Kyeong memang telah mengizinkan Ji-hoon tinggal di rumahnya. Terlebih karena Ji-hoon memang bodyguardnya. Tapi Yoo-Kyeong tetap merahasiakan keberadaan Ji-hoon di rumahnya dari Lee.

“Ya Tuhan, bagaimana bisa kita bertemu di sana?” tanya Ji-hoon yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut berwarna pink. Ia nampak membawa beberapa stel tuxedo kesayangannya untuk di setrika. “Kau mendapatkan uang dengan mudah ya? Maksudku, segalanya sangat mudah untuk di dapatkan,..” ucapnya sambil terus melipat dan menyetrika pakaiannya. Sementar itu Yoo-Kyeong hanya diam tak mengatahkan sepatah katapun. Pikirannya hanya tertuju pada nasib nya ke depan yang akan diperisitrikan oleh Lee yang lebih pantas menjadi pamannya.

“Kau tidak tidur?” tanya Ji-hoon lagi tanpa memperhatikan Yoo-Kyeong. “Aku harus tidur nyenyak..” lanjutnya. Dan Yoo-Kyeong masih menghiraukannya. “Kita tidak perlu bertemu satu sama lain nantinya..dan tetap jaga rahasia bahwa aku tinggal di sini beberapa hari dari bos, oke?” ujarnya. Sambil tetap focus dengan pakiannya. “Jangan sentuh ini! Pakian ini sangat berharga untukku..jika kau menyentuhnya, kau harus beli yang baru.. selamat malam..” ucapnya pada Yoo-Kyeong yang kemudian Ji-hoon meninggalkannya.

***

Yoo-Kyeong semakin tak mengerti pada dirinya. Ia merasa ia mulai menyukai pria naïf dan cerewet yang tinggal di rumahnya ini. Namun, ia juga bingung karena Ji-hoon terkadang menyebalkan dan yang terpenting ia adalah anak buah dari Lee, orang yang akan menikahinya. Ia takut untuk mengatakan pada Ji-hoon bahwa ia akan menikah. Namun tiba-tiba Ji-hoon datang sambil membawa semangkuk mie rebus panas dan mengganti channel TV begitu saja padahal Yoo-Kyeong sedang menonton TV-nya.

Sudah lebih dari seminggu Ji-hoon tinggal di rumahnya. Ia ingin Ji-hoon segera keluar dari rumahnya namun ia juga tak ingin di tinggal Ji-hoon. Pribadi Ji-hoon yang polos namun naïf terkadang memang menyebalkan, namun ia tahu keberadaan Ji-hoon mulai mengisi hatinya yang telah lama kosong.

***

Di suatu malam,  Ji-hoon sedang mengantar Yoo-Kyeong ke sebuah mall. Dan  ia kembali membicarakan hal-hal yang seharusnya tak ia bicarakan.

“Mobil ini sangat bagus,.. kecepatannya luar biasa seperti akan terbang, haha..aigoo~ kenapa ada banyak tombol di sini..” ucapnya sambil mencoba menekan salah satu tombol di depannya.

“Sepertinya akan turun hujan.. “ ucap Yoo-Kyeong pelan dengan raut wajahnya yang tak begitu berselera.

“Hujan? Hujan apa yang kau bicarakan? Nampaknya kau memiliki hubungan yang sangat menguntungkan dengan bos.. wanita seperti mu memang berbeda, maksudku.. ya.. seperti bagaimana kau mendapatkan mobil ini dengan mudah, huh?”

“Apa?”

“Apa-nya yang apa? Aku sedang membicarakan dirimu,.. kita memiliki pekerjaan yang sama. Aku bekerja pada mafia illegal, dan kau menjadi teman bermain wanita-nya? Berhentilah bertingkah seperti orang bodoh..” ujarnya. “Mengapa tidak kau kenalkan aku pada wanita-wanita kaya? Aku juga ingin memiliki mobil mewah seperti ini..”

“Hey!”

“Apa? Hanya kenalkan mereka padaku, itu saja..jadi aku bisa beli mobil mewah seperti ini nantinya..beri tahu aku, apa rahasiamu?”

“Dengan apa yang aku lihat dari dirimu, aku pikir tidak akan mudah untuk mu membeli mobil seperti ini bahkan selama sisa hidupmu sekalipun..” ucap Yoo-Kyeong yang mulai kesal pada Ji-hoon yang mengatakan bahwa dirinya adalah ‘teman-bermain’ bos nya.

“hey! Apa katamu? Kau…aishh..” Ji-hoon nampak kesal lalu membanting stir mobil dan keluar. “Hey! Hey, kau pikir aku tidak bisa membeli mobil ini? Aku juga bisa beli!! Berapa harganya, huh?! Kau tahu kenapa aku tidak membeli mobil?! Karena harga bahan bakarnya terlalu mahal! Aish~ benar-benar! Kau kira kenapa aku tidak membeli mobil semacam ini? Itu karena aku lebih memilih motor! Harga bahan bakar mobil sangat mahal sekarang, kau seharusnya tabung uang mu, benarkan?!”  bentak Ji-hoon yang berteriak-teriak sambil menendang-nendang mobil Yoo-Kyeong. Dan karena semakin kesal, Yoo-Kyeong pun terpaksa keluar dari mobil dan menghadapi Ji-hoon yang terus berteriak-teriak kesetanan.

“Apa? Mengapa kau keluar dari mo…”

PRAAAAK~ sebuah tamparan keras dari Yoo-Kyeong pun mendarat tepat di pipi Ji-hoon dan menghentikan teriakan-teriakannya.

“Kau sama saja…” ucap Yoo-Kyeong kesal, dan lalu meninggalkan Ji-hoon yang masih merintih kesakitan.

Yoo-Kyeong pun berlalu begitu saja dengan mobilnya. Ji-hoon hanya bisa menyesali perbuatannya sambil terus menatap mobil Yoo-Kyeong yang semakin tak terlihat di matanya. Begitupun dengan Yoo-Kyeong yang akhirnya tak mampu menahan tangisnya. Apa yang dikatakan Ji-hoon memang benar.Ia hanya ‘teman-bermain’ Lee si Tua Bangka yang akan menjadi istrinya. Namun perasaannya begitu sakit karena kata-kata itu keluar dari seorang pria yang ia cintai.

***

Layaknya seseorang yang berwajah tebal, meskipun baru saja bercekcok hebat dengan Yoo-Kyeong, Ji-hoon tetap kembali ke apartemen Yoo-Kyeong. Ia yang tertidur akhirnya bangun karena harumnya masakan Yoo-Kyeong.

“Apa yang kau buat?” tanya Ji-hoon.

“Duduk dan makanlah..” jawab Yoo-Kyeong yang sibuk dengan peralatan dapur. Ji-hoon hanya memperhatikannya kebingungan. Tak biasanya Yoo-Kyeong masak untuk sarapan pagi.

“Apa kau menaruh racun?” tanya ji-Hoon.

“Tidak…”

“YA (hey) ! mengapa kau melakukan sesuatu tiba-tiba padahal kau belum pernah melakukannya?!” tanya Ji-hoon sedikit memebentak. Namun Yoo-Kyeong tak menghiraukannya. Dan Ji-hoon pun mengambil sendok dan mencoba mencicipinya.

“Ah~….sluurp,. ahh..” ucapnya mencicipi sup buatan Yoo-Kyeong. “Ternyata kau cukup handal, kau sangat baik dalam memasak…” ujarnya sambil terus mengisi mulutnya penuh dengan nasi. Dan tanpa disadari, Yoo-Kyeong tengah menyetrika tuxedo Ji-hoon yang telah di cuci. Ji-hoon hanya diam dan terus memandangi Yoo-Kyeong yang seolah terlihat sebagai istrinya.  Ji-hoon memang telah melatih dirinya untuk  menutup hatinya pada Yoo-Kyeong setelah tahu Yoo-Kyeong milik bos-nya. Namun ia sadar akan satu hal bahwa Yoo-Kyeong bukan wanita yang biasa.

***

Di suatu siang yang panas, Ji-hoon tengah asyik bermain bersama teman-temannya dan bersama beberapa orang wanita cantik.

“Malam ini apa yang kau lakukan?” tanya Ji-hoon sambil merangkul seorang wanita cantik dengan setelan hitam.

“Tidur di rumah..” jawab wanita itu.

“Hahaha.. kau tau apa maksudnya?” ejek Ji-hoon dengan teman-temannya dan tertawa bersama-sama. Tiba-tiba saja seseorang menarik telinga Ji-hoon dan membawanya ke sebrang jalan.

“Ah~ sakit sakit!! Aaa~ sakit sekali!” teriak Ji-hoon.

“Siapa mereka?” tanya Yoo-Kyeong, orang yang menarik telinganya.

“Wanita, sudah jelas mereka wanita!” jawab Ji-hoon sambil terus memegang telinga nya yang memerah.

“Siapa yang tidak tahu mereka wanita? Yang aku tanya mengapa kau menemani mereka?” tanya Yoo-Kyeong tegas.

“Tidak, aku hanya meminta mereka keluar setelah pulang kerja.. apa urusannya denganmu?”

“Tentu ada, kau tinggal di rumahku, jadi kau harus dengarkan aku..”

“Mengapa aku harus mengatakan padamu kalau aku ingin pergi dengan mereka, apa kau istriku? Jika kau sangat peduli terhadap seseorang, pergi dan cari orang yang ingin menikah denganmu..”

“…….. Baik, aku juga sedang memikirkan untuk menikah segera…” ucap Yoo-Kyeong kesal dan segera meningglakan Ji-hoon.

“Hey!! Hey!!! issh~” panggil Ji-hoon yang juga kesal dengan kelakuan Yoo-Kyeong “Aissh~  apa yang salah dengannya? Bilang suka tapi memukul dan menarik telinga orang, apa dia gila?” lanjutnya.

***

Seperti biasa, Ji-hoon menunggu Yoo-Kyeong yang sedang bekerja. Ia menunggu nya di depan bar sambil mencoba memantik api untuk rokoknya. Namun tiba-tiba terdengar suara botol yang pecah di dalam tempat Yoo-Kyeong berada.  Awalnya Ji-hoon menghiraukannya, namun terdengan suara botol yang pecah untuk kedua kalinya.

“Jika pelanggan memintamu melakukan sesuatu, lakukan saja!” bentak seorang pria pada Yoo-Kyeong yang sudah ketakutan. Ji-hoon pun tak bisa tinggal diam.

“Hey…” panggilnya dan kemudian menarik pakaian pria itu dan segera memberi pukulan keras di wajahnya. Namun tiba-tiba Manager Hwang Ki Tak datang mencegah Ji-hoon.  Ji-hoon pun terlihat kesal dan saling bertatap muka dengan manager Hwang.

“Minggir…” ucap Ji-hoon. Namun Manager Hwang tidak bergeming. “MINGGIR!” teriak Ji-hoon  tak bisa menahan kekesalannya. Manager Hwang pun bergeser namun melangkah pada Yoo-Kyeong dan membawanya pergi.

“Keluar..” ucap Manager Hwang sambil menarik tangan Yoo-Kyeong. Yoo-Kyeong nampak kaget karena Ji-hoon seharusnya tak melakukan hal itu. Ia tahu ia maupun Ji-hoon akan dalam bahaya jika Lee mengetahui hubungan mereka berdua.

“Hey, Hwang Ki Tak! Lepaskan tangannya…” ucap Ji-hoon

“haha.. YA!, nampaknya kau tidak mengerti posisimu ya?” tanya Manager Hwang dan tanpa basa-basi lalu meninggalkan Ji-hoon dan membawa Yoo-Kyeong pergi. Ji-hoon Nampak begitu kesal. Ia melepaskan dasi di kemejanya sambil menarik nafas panjang. Manager Hwang benar, nampaknya ia lupa akan posisinya yang di bawah Yoo-Kyeong dan manager Hwang.

***

Malam selanjutnya, seperti biasa Ji-hoon membawa Yoo-Kyeong pulang setelah bekerja di bar. Namun tanpa disadari, sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Mobil milik manager Hwang Ki Tak.

Setelah kejadian kemarin, tentunya Manager Hwang yang ‘bersih’ langsung melaporkan apa yang terjadi di bar mengenai Ji-hoon pada Lee. Lee pun memerintahkannya untuk mengawasi Ji-hoon, kemanapun ia pergi.

Sesampainya di rumah, Ji-hoon dan Yoo-kyeong pun segera menuju kamar tidur. Meski tidur di satu kasur yang sama, namun mereka tak saling berhadapan. Ji-hoon menyadari satu hal yang aneh pada Yoo-Kyeong karena akhir-akhir itu Yoo-Kyeong menjadi begitu pendiam.

Sementara itu Yoo-Kyeong memikirkan hal lain. Ia cemas, karena keberadaan Ji-hoon di rumahnya lambat laun akan diketahui. Dan hubungan mereka yang lebih dari ‘pembantu-majikan’ pun lambat laun akan diketahui. Namun ia tak ingin sejengkal pun Ji-hoon pergi meninggalkannya.

***

Malam ini,  Yoo-Kyeong akan bertemu Lee di bar tempat ia bekerja. Sambil di jaga manager Hwang yang duduk di sampingnya. Sementar itu ji-hoon yang jabatannya satu tingkat di bawah manager Hwang, hanya bisa menunggu dan memperhatikan wanita idamannya yang terdiam dengan pandangan kosong di luar bar. Tak lama kemudian, Lee pun datang. Ia Nampak memberikan isyarat pada manager Hwang. Dan manager Hwang pun segera menarik tangan Yoo-Kyeong dan membawanya ke ruangan yang telah di pesan Lee.

“Lepaskan!!” ucap Yoo-Kyeong melepaskan genggaman Manager Hwang yang begitu kuat. Managre Hwang pun melepaskannya dan mempersilahkan Yoo-Kyeong untuk berjalan sendiri di belakangnya.  Ji-hoon menatap Yoo-Kyeong penuh kecemasan. Yoo-Kyeong tak sedikit pun menatapnya, dan membuat ia khawatir pada Yoo-Kyeong.

Ji-hoon bingung harus berbuat apa. Ia kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia bisa menyelamatkan wanita yang ia cintai. Namun ia tak mampu, karena ia tahu, sedikit saja ia berulah, Yoo-Kyeong akan dalam bahaya.

***

“Kau datang juga.. aku sudah tahu apa yang terjadi padamu dan Ji-hoon.. ia tinggal di rumahmu bukan?” tanya Lee tanpa basa-basi. Yoo-Kyeong hanya terdiam dan menunduk. “JAWAB PERTANYAANKU?!” bentak Lee.

“Ya….” Jawabnya pelan.

“Kau lupa siapa dia? Kau tak ingat aku akan segera menikahimu?” tanya Lee. “Aku tidak akan memperberat masalahmu, aku tahu kau menyuakinya bukan? Aku akan memberikan mu 2 pilihan.. menikah denganku, dan Ji-hoon selamat.. atau, tetap bersama si bodoh itu dan kalian tak akan pernah ku lepaskan, khususnya Ji-hoon bodoh mu itu.. bagaimana?”

“…mm.. menikah dengamu..” ucap Yoo-Kyeong ragu-ragu.

“Pintar, kenapa kau memilihku? Bukankah kau tidak pernah sedikitpun menyukaiku? Kau mencintainya? Hahaha.. sungguh kisah cerita yang begitu pilu.. karena itu aku tidak akan pernah mengizinkanmu, bertemu dengannya lagi…” ujar Lee. ” Manager Hwang!” panggil Lee pada manager Hwang. “Berikan uang ini pada Ji-hoon dan katakan padanya, jangan pernah kembali padaku, maupun Yoo-Kyeong..” ujar Lee dan Manager Hwang pun segera melaksanakannya.

Di luar ruangan, Ji-hoon tampak cemas dan terus mondar-mandir memikirkan Yoo-Kyeong di dalam ruangan sana. Dan tiba-tiba manager Hwang pun datang dengan ampolop tebal berisi jutaan won.

“Kau telah bekerja dengan keras..” ucap Manager Hwang.

“Apa?” tanya Ji-hoon yang tak mengerti. Kemudian Manager Hwang memasukkan amplop jutaan won itu ke dalam saku jas Ji-hoon.

“Mulai hari ini dan seterusnya, kau akan mati jika muncul di depanku…” ujar Manager Hwang sambil memukul-mukul pelan pundak Ji-hoon dan kamudian meninggalkannya. Namun dengan cepat Ji-hoon menarik tangannya dan menarik kerah pakaiannya.

“Brengsek kau!!” uajr Ji-hoon yang bersiap melepaskan pukulannya.

“Kau ingin dia mati?” tanya Manager Hwang mencegah pukulan yang segera mendarat di wajahnya. Ji-hoon pun melepaskan pukulannya. Sementar itu Manager Hwang menampar halus wajahnya dan meninggalkannya. Ji-hoon tak bergeming.

“Yoo-Kyeong~ah, aku harus bagaimana…” ucapnya pelan. Ia tak tahu harus berbuat apa. Seharusnya sejak dulu ia katakan bahwa ia mencitai Yoo-Kyeong dan segera membawanya pergi. Namun semua sudah terlambat. Tak sejengkal pun Manager Hwang akan mengizinkannya bertemu Yoo-Kyeong. Ia begitu sedih dan kecewa terhadap dirinya karena tak bisa melakukan apapun untuk wanita yang ia cintai, tak bisa melindunginya dan tak bisa mengatakan perasaannya. Ia tahu, Lee akan segera merebut Yoo-Kyeong darinya, namun ia tak tahu harus berbuat apa. Ia pun memilih untuk meninggalkan hotel dan pergi ke suatu tempat menghilangkan penatnya.

***

Sesampainya Yoo-Kyeong di rumah, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia bingung. Ia terus memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya maupun Ji-hoon. Dan dengan cepat ia meraih handphonenya dan menelpon Lee.

“Aku akan terus bersama Ji-hoon, dan aku akan melindunginya sampai kapanpun! Jangan pernah sedikitpun kau sentuh kekasihku, mengerti?!” ujar Yoo-Kyeong begitu telponnya tersambungkan pada Lee. Cepat-cepat ia menutup telponnya. Ia mengambil nafas panjang, dan masih terlihat gelisah dan terusberharap, ji-hoon tidak kembali ke rumahnya. Namun beberapa jam kemudian, sekelompok pria tegap datang bersama Lee.

***

Esok paginya, sekitar pukul 9 pagi, Ji-hoon kembali ke apartemen. Begitu sulit untuknya untuk mengatakan selamat tinggal. Tapi ia harus melakukannya demi Yoo-Kyeong. Sesampainya di depan pintu apartemen, Jantungnya berpacu begitu cepat. Berulang kali ia menarik nafas dan menghembuskannya, namun ia semakin gelisah. Setelah merasa siap, ia pun membuka pintu apartemen Yoo-Kyeong. Namun anehnya pintu apartemen itu tidak terkunci dan memberikan sedikit celah pada Ji-hoon untuk melihat ke dalam.

Betapa kagetnya Ji-hoon melihat keadaan di dalam rumah. Hancur dan berantakan. Seperti baru saja di rusak orang. 9 LCD TV itu pecah, beling-beling tajam ada di mana-mana. Ia menemukan 2 lembar foto. Yaitu Yoo-Kyeong dengan kakaknya dan satu lagi foto ayah Yoo-Kyeong yang tengah berbaring di rumah sakit dengan begitu banyak selang yang terpasang. Ji-hoon benar-benar shock dan hanya satu yang dicarinya, Yoo-Kyeong.

“YOO KYEONG~A!!!” teriak Ji-hoon.

Ji-hoon menelusuri kamar Yoo-Kyeong, dan menemukannya terduduk lemas di lantai kamar mandinya. Tubuh dan rambutnya basah seperti baru saja di guyur hujan. Memang benar, malam itu sekelompok pria tegap dan Lee datang dan menhancurkan semuanya. Lee berteriak-teriak membentak Yoo-kyeong. Ia menyeretnya dan memukul Yoo-kyeong berkali-kali. Iaberusaha membawanya pergi, namun Yoo-kyeong tetap bersikeras tinggal dan membuat Lee semakin kesal.

Hati Ji-hoon begitu sakit. Tidak seharusnya ia pergi meninggalkan Yoo-Kyeong tadi malam. Ia merasa bersalah. Ia berusaha mendekat tapi hatinya terlalu sakit. Hingga ia memilih untuk duduk di balik tembok, menangisi dan menyesali pada apa yang telah terjadi.

Ji-hoon mencoba bangkit dan mengambilkan sebuah handuk kering dan menggunakannya untuk menghangatkan Yoo-Kyeong. Namun Yoo-Kyeong malah menangis. Ia menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjangnya yang basah.

“Maafkan aku Ji-hoon~a… seharusnya kau tak perlu masuk dalam permasalahan ini…” ucap Yoo-Kyeong diiringi tangisannya.

“Maaf untuk apa? Aku yang harusnya minta maaf, membiarkan dirimu terluka seperti ini.. mianhae…” ujar Ji-hoon lembut. Ia pun memeluk Yoo-Kyeong yang semakin terisak.

“Aku takut,…” ucap Yoo-Kyeong lemah.

“Ada aku di sini… jangan takut…” ucap Ji-hoon dan kemudian menggendong Yoo-Kyeong dan membawanya ke kamar.

“Berhentilah menangis, ceritakan padaku apa yang terjadi?” tanya Ji-hoon merapkan rambut Yoo-Kyeong yang mengahalangi pandanngannya.

“Lee memintaku untuk menikahinya,.. aku bingung, karena… aku mencintaimu Ji-hoon.. meski kau terkadang menyebalkan, tapi setiap aku memikirkanmu, hati ini begitu berdebar, dan setiap memikirkan dirimu yang dalam bahaya, hati ini sakit…”

“Lalu?”

“Awalnya aku mengiyakan permintaan Lee.. karena ia mengancam akan membunuhmu.. aku tidak ingin membiarkanmu terluka… namun setelah ku pikir, jika aku menikah dengannya, iapun tak akan membiarkanmu begitu saja, jadi aku membatalkannya.. lalu dia datang membawa sekelompok pria tegap, dan menghancurkan semuanya… aku benar-benar berharap kau tidak pulang tadi malam, karena ia mencarimu.. syukurlah kau tidak pulang….” Jelas Yoo-Kyeong yang begitu takutnya. Air matanya masih terus mengalir.

“Tidak,.. mereka tidak akan menangkap kita…” ujar ji-hoon. Yoo-Kyeong pun menatapnya. “Kita akan pergi..”

“Bagaimana caranya? Mereka akan terus mencari kita?”

“Kemasi barang-barangmu, dan pergilah ke bandara. Beli 2 tiket penerbangan untuk keluar negeri.. aku akan menyusulmu…”

“Tidak, kita harus pergi bersama Ji-hoon…”

“Masih ada yang harus aku selesaikan, masalah ini tidak akan selesai jika Lee tidak dihentikan. Percuma kita pergi jauh jika Lee tetap ada. Kau harus percaya padaku, aku akan melakukan apapun untukmu Yoo-Kyeong…” ucapnya. Dan Yoo-Kyeong mengangguk. Ji-hoon menatap Yoo-Kyeong penuh rasa kasih sayang dan kemudian mencium lembut bibirnya. Setelah mencium bibir Yoo-Kyeong. Ia pun segera pergi meninggalkan Yoo-Kyeong dan membereskan masalahnya. Melenyapkan orang yang telah mengusik dirinya dan Yoo-Kyeong.

Yoo-Kyeong menangis keras. Ia merasa bersalah pada Ji-hoon. Karenanya, Ji-hoon harus menjadi korban dalam permasalahannya. Ia begitu mencintai Ji-hoon dan ia benar-benar takut kehilangannya.

***

Ji-hoon segera pergi ke hotel dan menemui Lee. Ia berjalan dengan penuh emosi. Ji-hoon begitu murka dan kesal pada Lee. Ia berjalan dengan cepat dan menemukkan buah nanas. Tanpa pikir panjang ia segera mengambilnya.

BRAAAK~ pintu ruangan Lee ditendang olehnya begitu kuat hingga hancur. Dengan cepat ia meloncat ka atas meja dan menendang tubuh Lee dengan kakinya yang panjang.

“Brengsek!! Aaaaargh! Kurang ajar, berani-beraninya kau melukai Yoo-Kyeong ku! Rasakan ini keparaat! AAAAARGHH!!” bentak Ji-hoon sambil terus memukulkan buah nanas yang di pegangnya ke wajah Lee. Terus dan tak henti-hentinya ia memukulkan buah kuning berduri tajam itu hingga merobek kulit wajah Lee dan memuncratkan darah segar ke gordyn ruangan juga wajah Ji-hoon.

Lee nampak begitu tak berdaya dengan puluhan pukulan ‘nanas’ Ji-hoon yang bertubi-tubi. Setelah puas memukulnya dengan nanas. Ji-hoon menarik kerah Lee dan kembali memukulnya dengan tangannya sendiri.  Lee tak sadarkan diri. Wajahnya penuh dengan darah segar dan rusak akibar tajamnya kulit ‘nanas’ yang menghantamnya, kelopak mata dan bibirnya robek dan terlihat begitu mengerikan. Anak buahnya hanya bisa melongo melihat Ji-hoon yang dengan mudahnya merenggut nyawa bos mereka.

“Apa yang kau lihat?!” bentak Ji-hoon dan kemudian menenggak vodka yang ada di depannya dan menyiramkannya pada wajahnya yang berlumur darah segar. Ia pun segera meninggalkan ruangan dengan kemeja putihnya yang berubah merah.

Tak sampai di situ, pengawal Lee yang lainnya bersiap untuk menghabisinya. Ji-hoon nampak siap menghadapi mereka semua. Ia melepaskan dasi dan membuka kancing kemejanya dan mulai melumpuhkan mereka satu persatu.

PRAAAAANG~

Seorang anak buah Lee dilemparkan ke sebuah kaca hingga menghancurkan kaca ruangan tersebut. Pecahan kaca beterbangan dan Ji-hoon pun segera pergi meninggalkan hotel dan berlari secepat mungkin, bahkan ia nyaris tertabrak mobil namun dengan cepat ia bangkit dan berlari meninggalkan hotel menyusul Yoo-Kyeong yang menunggunya di bandara Kimpo. Seorang pengawal Lee nampak kesal dan menelpon seseorang untuk mencegah Ji-hoon.

***

Di bandara, Yoo-Kyeong telah menanti pria terkasihnya itu dengan penuh kekhawatiran. Ia tahu Lee dan kawan-kawnannya bukanlah tandingan yang mudah. Ia tahu Ji-hoon bisa saja tak selamat dan mati di tangan Lee.

Sampailah Ji-hoon di bandara dengan pakiannya yang penuh darah. Ia berlari cepat di antara pagar besi pembantas. Ia berlari dan sambil memastikan tak ada kawanan Lee yang mengikutinya di belakang. Namun tanpa ia sadari, di depan Manager Hwang menanti dengan sebuah pisau yang telah ia siapakan. Dan ketika berpapasan,..

JEPP~

“Aaaaaaa…” teriak Ji-hoon merintih. Manager Hwang terus menusukkan pisaunya semakin dalam. Dan Ji-hoon semakin merintih keras. Tak ada yang menolongnya karena suasana bandara yang begitu sepi. Puas menusukkan pisau, Manager Hwang segera pergi meninggalkan Ji-hoon yang terkapar merintih kesakitan.

Darah segarnya terus mengalir. Ia berusaha bangkit dan melangkah untuk bertemu Yoo-Kyeong sambil terus berpegangan pada pagar besi di sampingnya. Namun terlalu sakit tusukkan yang ia terima. Dan darah pun tak henti-hentinya mengalir.

Dengan sekuat tenaga Ji-hoon melangkah ke kamar mandi dan membersihkan darahnya. Sesekali ia memuntahkan darah kental dari mulutnya dan menyembur ke cermin toilet. Ia cuci wajahnya sambil terus menahan rasa sakit. Ia mencoba mengambil handphone nya dan menekan nomor Yoo-Kyeong.

“Ji-hoon~ah? Kau dimana?” tanya Yoo-Kyeong yang terdengar dari telpon.

“Yoo-kyeong.. aaargh.. “ Ji-hoon merintih kesakitan karena rasa sakitnya semakin tak tertahankan, dan ia pun jatuh. Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia mencoba bergeser ke tembok dan menyandarkan tubuhnya. Tiba-tiba saja ia kembali mengingat memorinya bersama Yoo-Kyeong. Bagaimana pertama kali ia bertemu, saat ke rumahnya, bagaimana Yoo-Kyeong tertawa. Ia menyesali bahwa ia belum bisa membahagiakan Yoo-Kyeong, melindungi Yoo-Kyeong, dan menyatakan pada Yoo-kyeong bahwa ia mencintainya. Sambil terus menahan rasa sakit, ia menitihkan air matanya. Nafasnya sudah tersengal-sengal. Ia mencoba bertahan paling tidak sampai Yoo-Kyeong datang.

***

Yoo-Kyeong kaget mendapat telpon dari Ji-hoon. Seketika saja air matanya jatuh dan merasakan firasat buruk. Yoo-Kyeong panik tak karuan. Ji-hoon menelponnya, namun hanya rintihan sakit Ji-hoon yang ia dengar. Yoo-Kyeong pun bangun dari duduknya dan mencari Ji-hoon. Ia tahu, Ji-hoon pasti sudah sampai di bandara. Yoo-Kyeong terus mencari dan mencari. Dan betapa kagetnya ia, menemukan ceceran darah yang bersimbah di antar pagar-pagar pembatas dan di lantai-lantainya. Ia mengikuti jejak darah itu. Dan akhirnya berhenti di toilet pria. Ia segera masuk dan menemukkan Ji-hoon dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.

“Ji-hoon !!!” panggil Yoo-Kyeong yang kaget melihat Ji-hoon telah bersimbah darah. Yoo-Kyeong memeluknya dan membersihkan wajah Ji-hoon dari ceceran darah dengan tangannya sendiri. Ji-hoon terus memperhatikan wanita yang dicintainya itu sambil meneteskan air mata.

“Maafkan aku…”

“Untuk apa kau minta maaf? Ayo kita ke rumah sakit…  aku tidak mau kehilangan dirimu Ji-hoon!!” rengek Yoo-Kyeong.

“Pergilah sendiri,.. aku tak akan kuat.. pergilah, sebelum Manager Hwang menangkapmu…”

“Sirheo!! (tidak mau!!) ”

“Yoo-Kyeong…”

“Kau harus bertahan,.. jangan tinggalkan aku… harusnya aku yang seperti ini, bukan kau…” ujar Yoo-Kyeong yang sudah banjir air mata. Ji-hoon terus menatap dalam Yoo-kyeong meski rasa sakitnya tak tertahankan. Dengan tangan kanannya ia terus menahan darah yang terus mengalir dari perutnya, dan dengan tangan kirinya, Ji-hoon mencoba menggenggam tangan Yoo-Kyeong.

“Kau percayakan padaku?… bahkan.. jika aku matipun,.. aku akan ada untukmu..” ujarnya sambil meletakkan genggaman tangannya ke dada Yoo-Kyeong.  “Di sini,.. aku..  akan ada di sini.. di hatimu,.. sampai kapanpun…..” ucap Ji-hoon dengan nafas-nafas terakhirnya. “Ketika matipun,.. aku akan tetap mencitaimu…” ucap Ji-hoon. Dan perlahan, ia pun memejamkan matanya untuk selama-lamanya.

“JI HOON !!!!” teriak Yoo kyeong. Ia menangis keras sambil memeluk tubuh Ji-hoon yang bersimbah darah dengan erat, seolah tak ingin kehilangan Ji-hoon. Namun apa daya, Ji-hoon telah pergi selama-lamanya dalam pelukkan Yoo-kyeong, pelukan seorang wanita yang paling ia cintai yang belum sempat ia bahagiakan dan belum sempat ia utarakan dengan tulus perasaannya. Namun meski terlambat, Ji-hoon akan tetap mencitai Yoo-kyeong selamanya, bahkan setelah ia mati sekalipun.

TAMAT