Title : The Hater
Author : Mega a.k.a Park Ah Young
Length : One Shot
Genre : Romance
Cast : Choi Minho, Park Ah Young (OC)

Sebenernya, ff ini pernah ku post di wp pribadiku -> http://www.chymeworld.wordpress.com

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Minho’s POV

AKU BENCI KAU

Aku mengernyit saat membaca ulang surat tak bertuan itu. Ini kali pertamanya aku mendapatkan surat yang isinya sarat rasa tidak suka terhadapku. Aku mendapatkannya tadi, saat kami baru saja selesai istirahat. Kertas ini tergeletak begitu saja diatas tasku yang berada di kolong meja.

Apa mungkin bukan untukku ya? Di dalamnya pun tidak ada tulisan bahwa surat ini untukku. Yeah, sepertinya begitu. Tapi, kenapa ada diatas tasku? Ah, sudahlah mungkin hanya orang iseng saja, atau mungkin pengirimnya tidak tahu dimana tempat duduk si penerima seharusnya. Aku kembali memasukkan kertas tersebut ke dalam sakuku dan kembali memperhatikan pelajaran Kim sonsaengnim.

***

KAU PIKIR PERMAINANMU ITU BAGUS, HUH?

Eh, apa ini? Aku menarik secarik kertas dari dalam tasku. Sekarang aku baru saja sampai di rumah. Lelah sekali. Tapi, tidak apa. Toh, tim kami sudah menang dalam pertandingan tadi. Kami menang telak, dan kau tahu siapa yang menjadi bintang di pertandingan tadi? Ya, aku. Bukannya aku sombong, tapi kenyataannya memang begitu. Sebagian besar point tim kami adalah hasil lemparanku. Keren sekali, bukan?

Aku merebahkan tubuhku diatas kasur sambil membulak-balikan kertas yang sedari tadi kupegang. Kertas berwarna merah muda dengan tulisan berwarna biru. Sama dengan surat yang 2 hari lalu kuterima. Dan sepertinya isinya pun sama, sarat rasa tidak suka terhadapku. Jadi, dugaanku kemarin salah? Ternyata benar-benar ada yang membenciku. Tapi, siapa? Siapa pengirim surat ini? Memangnya apa kesalahanku sehingga dia membenciku? Setahuku aku selalu mencoba berbuat baik kepada semua orang. Apa mungkin aku mempunyai musuh? Bolehkah aku menyebutnya musuh hanya karena 2 buah surat ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus memenuhi pikiranku sampai aku terlelap tidur.

***

Esoknya aku menceritakan tentang surat itu ke Kibum. Aku dan dia bisa dibilang bersahabat. Aku mengenalnya sejak 6 tahun yang lalu. Dia teman sekelasku dan juga tetangga baruku. Kami sering bermain bersama dan saat kami lulus SMP kami bertekad masuk SMA yang sama juga. Dan bisa dilihat sekarang? Aku dan dia sekelas kembali.

“Key-ah, menurutmu bagaimana?” tanyaku setelah selesai bercerita.

“Emm.. aku juga tidak mengerti dengan masalahmu, Minho-ah. Mianhae,” ucapnya. “Ah, coba kau ingat-ingat apa selama ini ada yang selalu melihatmu dengan tatapan iri atau benci?”

Aku berpikir sejenak. Mencoba mengikuti apa yang dikatakan Key. “Sepertinya tidak ada.”

“Apa kau pernah berbuat sesuatu yang fatal?”

“Sepertinya juga tidak.”

“Bisa saja kau tidak menyadarinya?”

“Entahlah.”

“Ah, mungkin…” Tiba-tiba ucapannya terhenti. Tatapannya beralih dariku menjadi ke depan pintu kelas. Aku mengikuti arah pandangnya. Dan aku tahu apa penyebabnya.

PLETAK

“Kau sama sekali tidak membantuku, Key-ah,” ucapku sembari meninggalkannya yang sekarang masih memandangi bidadarinya. Yeah, siapa lagi kalau bukan Han Ji Yeon.

***

Aku melangkahkan kakiku menuju perpustakaan, tempat yang jarang sekali aku kunjungi. Hah, kalau saja bukan Kim Sonsaengnim yang menyuruhku, aku tidak akan mau pergi kesana, geramku dalam hati. Aku langkahkan kakiku lebar-lebar. Berharap cepat sampai ke perpustakaan, mengembalikan buku yang tadi Kim Sonsaengnim berikan, lalu kembali ke kantin. Aku lapar sekali -_-

Ceklek

Kubuka pintu perpustakaan dan bergegas mengembalikan buku yang kupegang. Tapi, langkahku terhenti saat melihat sosoknya sedang duduk di salah satu kursi yang ada di dalam perpustakaan ini. Sejurus kemudian aku mendekatinya. Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang aku lakukan. Otak dan alam bawah sadarku tidak berjalan searah.

Semakin lama jarak antara kami semakin kecil. Kini aku duduk dihadapannya. Tapi, dia tidak menyadari kehadiranku.

“Annyeong, Youngie-ah,” sapaku.

Dia sedikit tersentak. Sepertinya terkejut dengan sapaanku yang tiba-tiba. Kulihat dia menutup semua bukunya. Bukan semua, disana hanya satu buku yang ditutupinya. Aku tidak tahu itu buku apa. Lagipula untuk apa aku mempedulikannya?

“Mi..Minho-ah, annyeong.”

“Kau sedang apa?” tanyaku basa-basi.

“Emm.. aku hanya sedang bosan. Jadi, aku kemari.”

Mwo? Bosan? Tapi, kenapa dia malah kesini? Bukankah disini akan membuatnya semakin bosan? Dasar yeoja aneh. Ah, bukan bukan. Bukan aneh, tapi unik. Karena keunikannyalah aku menjadi tertarik padanya. Semua perhatianku kini tertuju padanya. Padahal dia bukan siapa-siapa. Maksudku, dia tidak secantik Ae Ryung, seterkenal Hae Ra, ataupun sepintar Ji Yeon. Tapi, entah kenapa hanya dia yang bisa membuatku sesak, sakit perut, dan lemas kaki secara bersamaan.

“Lalu, apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau tidak menyukai perpustakaan?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Huh? Ternyata kau tahu juga? Hahaha aku kesini disuruh mengembalikan buku yang Kim sonsaengnim pinjam.”

“Sudah kau kembalikan?”

“Belum. Ini,” kataku sembari menunjukkan buku yang bertuliskan ‘Fisika itu Menyenangkan’. Aishhh, ada saja orang yang berpikiran seperti itu. Dan ada pula yang menulis bukunya. Sungguh tidak ada kerjaan.

“Kalau begitu segeralah kembalikan. Lagipula aku akan kembali ke kelas. Annyeong, Minho-ah.” Dia beranjak dari duduknya. Merapikan kursinya kembali. Lalu berlari dan hilang dibalik pintu.

“Ya, tunggu aku. Kita ke kelas bersama-sama saja. Ya! Youngie-ah, ya!”

“Ssssstttt,” koor semua siswa yang ada di perpustakaan setelah mendengar teriakanku tadi.

***

“Apa mungkin pelakunya Taemin? Setahuku dia sedikit tidak suka denganmu,” ujar Key saat kami sedang berada di kantin. Setelah mengembalikan buku tadi, aku langsung pergi ke kantin. Awalnya aku mau menyusul Youngie yang tiba-tiba meninggalkanku ke kelas. Tapi, kuurungkan niat itu karena ternyata rasa laparku lebih dominan daripada keinginanku bertemu dengannya. Kan tidak lucu kalau aku menghampirinya dalam keadaan lemas karena belum makan. Aishhh, itu akan menurunkan pamorku di sekolah ini.

Aku memberhentikan kegiatan makanku. Kudorong sedikit piringku ke depan. “Benarkah?”

“Ne. Aku dengar-dengar dia menyukai Sulli, teman seangkatannya. Tapi, sayangnya Sulli malah menyukai kau. Sepertinya dia tidak suka dengan kenyataan itu. Lalu menerormu dengan surat tidak bermutu ini.” Dia mengambil dan menunjukkan surat yang kutaruh diatas meja ke hadapanku.

“Ya, Taemin kan hoobae kita. Tidak mungkin dia melakukan itu.”

“Jika sudah menyangkut tentang hati, seseorang tidak akan memandang suatu derajat.”

“Iya sih. Tapi, kenapa harus melalui surat? Tidak gantle. Surat berwarna merah muda lagi. Hahahaha.” Aku tertawa mendengar penjelasan dari Key. “Key-ah, kalau menurutku sepertinya si pengirim bukan namja,” lanjutku.

“Yeoja? Ya, mana mungkin! Yang ada yeoja-yeoja itu mengerubutimu, memujamu, bukan malah membencimu. Itu sudah menjadi rahasia umum, Minho-ah.”

“Gomawo,” kataku mendengar pujian yang baru saja dilontarkan oleh Key.

“Aishhh.”

***

Author’s POV

Langkah kakinya sangat cepat. Dia tergesa. Nyaris berlari seperti sedang dikejar oleh sesuatu. “Errr..kenapa aku bisa kesiangan sih? Padahal hari ini aku akan melancarkan rencanaku. Aishhh, pabo!” gerutunya .

Semoga belum ada siapa-siapa.

Semoga dia belum datang.

Di ujung koridor dia berbelok. Masuk ke dalam satu kelas yang diatasnya tertulis KELAS 2-1 di atas sebuah papan. “Syukurlah,” ucapnya setelah melihat keadaan kelas yang sangat sepi. Tampak kelegaan di wajahnya.

Tanpa menunggu lama, dia bergegas menghampiri salah satu meja dan menaruh sesuatu diatasnya. Menatapnya lagi, sebelum kembali keluar kearah pintu. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar langkah seseorang. “Ck.”

Dia kembali ke dalam. Mengambil lagi barang yang tadi sudah ditaruhnya. Setelah itu, menempati tempat duduknya dan menaruh tasnya di bawah kaki. Menelungkupkan kepala diatas tangannya yang sekarang berada diatas meja. Mencoba memejamkan mata dan tidak menimbulkan suara yang dapat membuat orang lain curiga. Dia berpura-pura tidur.

“Eh?” Dia mendengar suara –lebih tepatnya gumaman seseorang. “Aishhh.” Hanya kata itu yang terucap dari orang –yang entah siapa- tadi akhirnya sebelum langkah itu menjauh dari kelas. Lambat laun suara hentakan sepatu yang beradu dengan lantai menghilang dari pendengarannya. Dengan perlahan dia mengangkat kepalanya. Melemparkan pandangannya ke sekeliling kelas. Memastikan bahwa sudah tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dia.

“Hampir saja.”

Gadis itu mengembalikan barang berwarna merah muda keatas meja tadi. Berharap tidak ada siapapun yang memergokinya. Setelah dikiranya aman, dia menggendong tasnya lagi dan berjalan perlahan menuju pintu.

“Uff, pabo. Untung tidak keta…,” kata-katanya menggantung. Dia terkejut menyadari bahwa targetnya kini sedang berada dihadapannya.

***

Minho’s POV

Tidak seperti hari biasanya, hari ini aku berangkat lebih pagi ke sekolah. Karena aku harus mengantar Eomma ke rumah sakit. Ya, Eommaku bekerja disana. Biasanya Eomma pergi ke rumah sakit bersama dengan temannya yang rumahnya berada sekitar perumahan kami. Tapi sayangnya hari ini teman Eomma itu mendadak pergi. Dia ada kepentingan keluarga di luar kota. Sedangkan Appa sedang ada pekerjaan di luar negeri. Jadilah Eomma memintaku untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

“Hati-hati,” teriak Eomma saat aku mengendarai motorku keluar dari pekarangan rumah sakit. Jalanan pagi ini cukup sepi. Hanya ada beberapa mobil, motor, dan bis. Kulirik sekilas jam tangan yang melingkar di tangan kiriku, masih satu jam lagi menuju bel masuk. Malas juga kalau harus menunggu selama itu di sekolah. Aku yakin pasti hanya anak-anak yang kelewat rajin yang sekarang sudah sampai di sekolah. Dan mungkin untuk hari ini aku adalah salah satu dari mereka. Yeah, aku tidak punya tujuan lain selain ke sekolah.

5 menit kemudian aku sampai. Aku memarkirkan motorku terlebih dahulu sebelum berjalan menuju kelasku, kelas 2-1 yang tepatnya berada di ujung koridor sebelah kiri pintu masuk. Aku berjalan cukup santai. Kulihat hanya ada satu dua orang yang berlalu-lalang di koridor ini. Hah, benar dugaanku, sekolah sepi sekali jika masih pagi-_-

Aku berhenti beberapa langkah sebelum sampai ke kelasku untuk membenarkan tali sepatuku yang terlepas. Lalu berdiri dan memasang headset di telingaku. Kulangkahkan kembali kakiku sambil mendengarkan lagu yang diputar melalui mp3 yang terdapat di handphoneku. Sesekali aku ikut bernyanyi tanpa suara. Tapi, baru saja aku berjalan empat langkah, kakiku terhenti. Kulihat seseorang yang bukan penghuni kelas 2-1 keluar dari kelasku.

“Bukankah itu Sulli? Kelasnya kan ada di lantai atas. Tapi, kenapa ada di kelasku? Tidak biasanya,” gumamku. Oke, aku tahu itu karena semua kelas  1 ada di lantai dua.

Aku melanjutkan lagi langkahku yang sempat tertunda. Tadinya aku mau menyapanya, tapi tidak jadi setelah melihatnya melangkah dengan setengah berlari kearah tangga. Dan sepertinya dia juga tidak melihatku. Biarkan sajalah.

KELAS 2-1

Aku masuk ke dalam kelasku. Kulihat seseorang sedang bergumam sendiri sambil berjalan kearahku. Dia tidak menyadari kehadiranku.

“Uff, pabo. Untung tidak keta…”

“Annyeong Youngie-ah,” sapaku. Dia tersentak. Lagi-lagi dia terkejut mendengar sapaanku.

***

Ah Young’s POV

“Annyeong Youngie-ah.”

“Mi…Minho-ah, sejak kapan kau disini?” tanyaku.

“Baru saja. kau tumben sekali datang sepagi ini. Biasanya kau selalu terlambat.”

“Ah, jinjja. Hehehe…emm.. kalau begitu aku duluan ya. Mau melanjutkan tidur di perpustakaan. Annyeong, Minho-ah.” Errr, bagaimana kalau aku ketahuan? Aku merutuki diriku sendiri.

Aku melangkahkan kakiku keluar kelas. Menjauhkan diri dari Minho. Tapi saat tanganku akan menyambar kenop pintu, bahuku ditarik oleh seseorang.

“Youngie-ah…”

Mati aku! Dia pasti sudah tahu semua. Dia sudah melihat apa yang baru saja aku lakukan. Pasti mau menanyakannya. Aishhh, apa yang harus aku lakukan?

“Youngie-ah, kenapa kau menunduk seperti itu?”

“Ah, tidak..tidak apa-apa. Ada..apa memanggilku lagi?” tanyaku dengan terbata.

“Aku hanya ingin menanyakan..”

Glek. Aku menelan ludah dengan susah payah. Tuhan, bantu aku. Jangan sampai Minho menghakimiku. “Emm..apa benar yang baru saja masuk ke kelas kita itu Sulli? Ada perlu apa dia kemari?” tanyanya membuatku mendongakkan kepala dan menatapnya.

Huh? Dia memanggilku hanya untuk menanyakan ini? Jadi dia belum tahu surat itu? Lalu, Sulli? Siapa dia? Dan memangnya tadi ada orang…ah, mungkin orang yang tadi! “Aku tidak tahu. Mungkin dia datang saat aku sedang asik tidur, jadi aku tidak tahu.” Aku menjawab pertanyaannya dan segera bergegas pergi dari hadapannya. Takut-takut dia akan segera menyadari barang yang ada di atas mejanya.

***

Minho’s POV

Huh, aneh sekali yeoja itu. Ah, unik. Eh, tapi apa benar yeoja suka tidur itu masuk kategori  unik? Bukankah itu artinya dia seorang pemalas? Tapi, menurutku Youngie tidak begitu. Aishhh, apa yang aku pikirkan sih?!

Aku melangkah ke barisan kursi di bagian belakang. Lalu menaruh tasku diatas meja. Tapi, sebelum benar-benar kutaruh tasku, aku melihat secarik kertas tergeletak disana. Kertas merah muda. Kertas kebencian. Setelah dua minggu lebih aku tidak menemukannya, sekarang aku mendapatkannya lagi? Sekarang isinya apa? Apa dengan kata-kata mengejek seperti surat yang terakhir kali kuterima? Kubuka surat itu perlahan-lahan. Kulihat tinta berwarna biru tergores diatas kertas itu.

KAU JAHAT!

Ya! apa-apaan dia. Setelah dia bilang membenciku, lalu mengejekku, sekarang apa? Dia menuduhku. Menuduhku jahat. Yang benar saja. Memangnya aku sudah melakukan apa? Lagi-lagi aku hanya bisa menggeleng tidak mengerti dengan surat-surat kebencian ini.

***

KAU YANG BODOH

Ini merupakan surat keempat yang kudapat. Kali ini aku menemukannya tertempel di helmku. Masih sama, kertas merah muda, tulisan berwarna biru, dan kuyakin pengirim yang sama pula. Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Sungguh, aku tidak tahu siapa pengirimnya. Aku penasaran sekali. Dia tidak meninggalkan jejak apapun di setiap suratnya. Padahal aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya.

***

Aku baru saja keluar dari ruang ganti saat seseorang memanggilku. “Minho-ah!” Aku berbalik. Melihat siapa yang memanggilku barusan. “Minhyuk?”

“Hah, untung kau belum pulang,” ucapnya membuat keningku berkerut. “Ini..”

“Igeo mwoya?” tanyaku saat Minhyuk memberikanku sebuah buku.

“Sepertinya ini buku milik salah satu temanmu.”

“Ne?”

“Ck, pemilik buku ini adalah Park Ah Young. Aku tidak tahu dia di kelas mana, tapi aku pernah mendengarmu menyebutkan namanya dulu. Jadi kuyakin kau mengenalnya. Iya, kan?”

Oh, jadi dia meminta tolong untuk mengembalikan buku Youngie, begitu? “Lalu, kenapa buku ini ada padamu?” tanyaku lagi.

“Aku menemukannya di meja perpustakaan. Kalau begitu tolong ya, berikan ini untuknya,” ucapnya sebelum menghilang di pintu gerbang.

Aku menatap buku yang sekarang ada digenggamanku. Ini buku yang selalu dia bawa. Aku tahu karena aku selalu memperhatikannya. Bisa-bisanya dia meninggalkan bukunya disana. Bagaimana kalau hilang? Ceroboh juga ternyata.

***

Aku berdiri di depan pintu kelas. Kulihat jam tangan di tanganku. Sudah lebih dari 15 menit aku menunggu, tapi dia belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aishhh, jangan bilang dia akan datang setelah pelajaran Park sonsaengnim dimulai-_-

Aku mulai menghentak-hentakkan kakiku mengikuti alunan lagu yang menggaung melalui headsetku. Nananana… aku mencoba mengikuti lirik lagunya, mengikuti setiap melodinya.

“Minho-ah!” seseorang menepuk bahuku dengan keras. Aku terlonjak kaget. Tanpa sengaja aku juga menjatuhkan buku berjilid biru yang sedari tadi kupegang.

“Ya! bisakah kau menegurku tanpa mengagetkan seperti itu, Key-ah?!” Orang yang kumarahi hanya menatapku dengan tatapan tanpa dosa dan cengiran sok aegyonya. Aishhh, menjijikan!

“Mianhae, chingu. Ah, ini apa?” Key memungut buku yang ada di depan kakiku. “Huh? Sejak kapan kau suka menulis catatan seperti ini?……. Minho-ah, kau menggambar apa ini? Hahahahaha menggelikan!” Key membuka-buka dan membaca isi buku itu. Aku yang masih belum sadar hanya diam. Membiarkan aksinya dan juga membiarkannya tertawa melihat isi buku itu.

“Chakkanman… bukankah kertas ini mirip dengan suratmu itu? Surat kebencian itu? Dan penanya juga berwarna biru! Tulisannya mirip! Ya! Minho-ah, ini milik siapa?” aku tersadar setelah mendengar teriakan Key. Mwo?

“Benarkah?” aku yang penasaran kini menarik buku itu dan melihatnya. Iya, memang benar. Aku melihat kertas merah muda dengan tulisan berwarna biru disana. Tulisannyapun sama. Apa, Youngie…?

Kulihat halaman tengah yang ada di dalam buku itu.

Minho jelekkkk!!! >,<

Dibawah tulisan itu terdapat gambar seorang yeoja dengan tanduk di kepalanya dan mata yang berapi-api sedang menatap gerombolan yeoja yang mengelilingi seorang namja. Diatas gambar namja itu tertera namaku.

Eh? Jadi benar? Youngie adalah orang yang selama ini mengirimiku surat itu? Dan…ah! Pabo! Kenapa aku tidak menyadarinya? Saat aku bertemu dengan Youngie beberapa hari yang lalu di kelas bersamaan dengan hari dimana aku mendapatkan surat yang ketiga itu. Bukankah dia ada disana? Kenapa aku tidak mencurigainya? Dan bodohnya, kenapa aku malah mencurigai Sulli? Hanya karena saat itu juga dengan alasan yang tidak diketahui, Sulli datang ke kelasku.

Entah kenapa tiba-tiba hatiku mencelos. Sedih. Juga marah. Kesal. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku sekarang. Yang pasti aku ingin masalahku segera berakhir. Aku harus menyelesaikannya segera. Aku juga ingin tahu bagaimana perasaannya kepadaku selama ini? Apa dia sungguhan membenciku? Apa cintaku akan bertepuk sebelah tangan?

Kututup kembali buku yang belum kubaca semua itu. Lalu kumasuki kelasku yang sekarang sudah hampir penuh oleh teman sekelasku.

***

Ah Young’s POV

“Ah Young-ah!”

“Ne?”

“Kau..apa bukumu hilang? Tadi ada yang menemukannya dan menyuruhmu untuk mengambilnya di taman sekolah.”

***

Aku menuruti apa yang diberitahu oleh teman satu ekstrakulikulerku. Dia bilang bukuku sudah ditemukan oleh seseorang dan dia akan mengembalikannya di taman ini. Hah, kenapa tidak dititipkan saja tadi?

Aku sampai di taman sekolah dan aku tidak menemukan siapapun disini. Apa aku terlambat datang? Atau dia yang belum datang? Aishhh, bahkan orangnya yang mana saja aku tidak tahu. Akhirnya kuputuskan untuk menunggunya saja. Mungkin dia belum datang. Kududukkan diriku diatas kursi taman yang terdapat dibawah salah satu pohon. Kupejamkan mata. Mencoba untuk melepas lelah karena semua kegiatan sekolah akhir-akhir ini. Merasakan semilir angin yang meniupkan sebagian rambutku. Haaaa, sejuk sekali.

“Kenapa kau membenciku?” Tiba-tiba terdengar suara yang mengganggu kenyamananku. Kubuka mataku perlahan. Kutatap seseorang yang sekarang berdiri dihadapanku. Choi Minho?

“Apa maksud surat-surat ini?”

Aku memundurkan sedikit kepalaku saat dia mengulurkan tangannya untuk mempelihatkan surat-surat yang digenggamnya. Surat yang selama ini aku kirim untuknya. Dia sudah tahu?

“Jawab, Youngie-ah.” Suaranya melembut. Aku masih terdiam. Tidak percaya dengan apa yang kulihat. Secepat inikah dia mengenali surat-suratku? Darimana dia tahu?

Seperti bisa membaca pikiranku, Minho melanjutkan ucapannya kembali, “Ini. Kertas suratmu dengan kertas buku ini sama. Tulisan dan warna penanya pun sama.” Dia menunjukkan sesuatu yang kini membuatku membulatkan mata. Buku ini…

“Kenapa buku ini ada di kau?”

“Ada seseorang menitipkannya padaku. Lalu, kenapa?” dia bertanya lagi. Aishhh, apa yang harus aku perbuat? Selama aku mengiriminya surat-surat tersebut, aku tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi. “Apa benar, kau membenciku?” ucapnya lirih membuatku semakin gusar dan merasa bersalah.

“Kau membuka buku itu?”

“Aku tidak sengaja.”

“Tapi, kau sempat membacanya kan? Lalu, kenapa kau malah menanyakannya kembali?” Kulihat dia mengerutkan dahinya. Entah kenapa sekarang aku berpikiran bahwa Minho membenciku. Aku yakin pasti dia sudah membacanya, makanya dia menghampiriku dan menanyakan semuanya. Dia pasti terganggu dengan surat-surat itu. Apalagi saat tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa pengirim surat itu. Hah, aku bingung harus bagaimana. Harusnya aku malu. Diluar sana banyak gadis yang menyukai Minho, bahkan lebih baik dariku. Tapi, mereka tidak sebodohku dengan mengirimkan surat-surat jelek itu.

“Maksudmu apa? Jangan berputar-putar seperti ini.”

“Kembalikan bukuku dan lupakan mengenai surat.” Kutunjuk surat itu dengan daguku. Lalu berdiri, dan menengadahkan tanganku. Meminta bukuku yang dengan tidak sopannya telah ia baca.

“Jelaskan dulu semuanya!” dia menyembunyikan bukuku dibalik punggungnya.

“Minho-ah, aku lelah. Sudahlah, kembalikan saja bukuku.” Dia hanya diam. Dan menatapku tajam. Tidak merespon apapun terhadap perkataanku barusan. Aku yang sudah sangat kesal, mencoba untuk merebut buku itu dari tangan yang ada dibalik punggungnya.

TAP! Aku memegangi buku berjilid warna biru itu. Aku menariknya dari tangan Minho. Begitupun Minho. Dia menariknya berlawanan arah denganku. Mencoba menggagalkan rencanaku untuk merebutnya lalu meninggalkannya disini. Kami tetap seperti ini sampai akhirnya..

KREEEK

Bukuku robek. Terbagi dua. Aku melihatnya dengan mata nanar. Buku itu… buku yang selama ini menemaniku. Aku terkenal dengan kesendirianku di sekolah ini. Aku memang mempunyai teman, hanya saja aku lebih suka menyendiri. Dan selama aku sendiri, hanya buku itu yang selalu menemaniku. Tapi, sekarang apa? Buku itu sudah hancur.

“Kau?! Kenapa menanyakan hal yang sudah pasti? Kenapa kau begini? Apa kau juga tidak menyukaiku? Makanya kau melakukan ini? Kau pasti terganggu kan? Lalu, kenapa kau mengajakku bertemu disini? Harusnya kau menjauhiku!” Aku nyaris menangis. Pandanganku mulai kabur oleh air mata yang sekarang sudah menggenai mataku. “Kau merusak semuanya! Bukuku dan…” Aku tidak sanggup melanjutkan lagi kata-kataku. Kubungkukkan tubuhku. Kurapikan kembali bukuku yang telah robek. Tapi, sayangnya emosiku tidak terkontrol. Membuatku tidak konsentrasi. Bukannya merapikannya, tapi aku malah mengambilnya dengan kasar dan semakin merusaknya.

Aku sudak muak. Kuhempaskan kembali buku kesayanganku dan berlari pergi dari hadapan Minho. Sudahlah, jangan kuambil lagi. Buku itu hanya akan semakin menyakitiku.

***

Minho’s POV

Apa maksudnya? Dia menyalahkanku atas sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa. Aishhh, kenapa perempuan itu merepotkan?

Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Kujadikan tanganku sebagai bantalan untuk kepala. Youngie-ah, kau ini kenapa? Salah apa aku padamu? Kenapa kau malah marah padaku? Dan kenapa tadi kau…menangis?

Dari sepulang sekolah sampai sekarang aku masih memikirkannya. Memikirkan apa yang baru saja terjadi tadi di taman sekolah. Aku yang awalnya ingin meminta penjelasan dari Ah Young, malah membuatnya menangis. Sungguh, aku merasa sedih sekali. Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis.

Aku melirik benda yang ada di samping tubuhku. Setelah Ah Young meninggalkanku, aku mengambil kembali buku itu. Hah, apa maksudnya? Aku memang membukanya, tapi tidak semuanya kubaca. Ah, apa mungkin buku ini kunci dari semuanya?

Kutelungkupkan tubuhku dan kutaruh kepalaku diatas guling. Kubuka halaman demi halaman. Halaman pertama berisikan identitas pemiliknya –Ah Young. Lalu, selanjutnya hanya berisikan puisi-puisi yang aku sendiri kurang memahaminya. Jangan salahkan aku karena aku tidak jago dalam hal yang berbau  sastra. Kegiatanku terus berlanjut, sampai akhirnya aku sampai pada tulisan terakhir dalam buku ini. Kubaca setiap tulisannya dengan seksama.

Sepertinya aku sangat familiar dengan kata-kata ini?

 

Aku benci kau

Benci saat kau selalu ada dalam pikiranku

Seolah-olah terkunci disana dan tidak dapat keluar

Benci kau yang tersenyum kepada semua gadis

Saat kau berhasil memenangkan pertandingan

Kau pikir permainanmu itu bagus, huh?

Ah, benar permainanmu itu memang bagus

Aku saja yang tidak ingin mengakuinya

Terlalu munafik

Aku memang pecemburu

Dan bodohnya aku mencemburui kau

Kau yang bukan siapa-siapaku

Bahkan kau tidak menganggapku,

Benar kan?

Kau jahat!

Membiarkan aku terpuruk sendiri

Tersungkur ke dalam lubang yang menyesakkan ini

Aku sendiri bingung

Kenapa bisa sampai titik dimana aku menyukaimu?

Apa aku bodoh?

Bukan, kau yang bodoh

Kau tidak menyadari perasaanku

Padahal aku selalu memperhatikanmu

Sungguh miris jadi diriku

Hah, aku jadi kasihan terhadap diriku sendiri

MINHO-AH, KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU GILA

Ku harap kau berubah

Mulailah menatapku, kumohon..

 

Kuulangi lagi membacanya. Lama-kelamaan aku mulai mengerti apa yang dimaksud Ah Young tadi. Surat itu! Jadi, ini…

***

Ah Young’s POV

10 menit menuju bel masuk sekolah, tapi aku baru memasuki gerbang. Memang sudah biasa jika aku terlambat. Tapi, kali ini beda. Kalau kemarin, memang karena aku bangun kesiangan. Tapi, sekarang aku memang sengaja masuk lebih terlambat. Kau tahu kan peristiwa kemarin? Dan kau juga tahu kan aku dengannya adalah teman sekelas?

Kulangkahkan kakiku dengan gontai kearah kelas. Rasanya malas sekali. Apa akibat dari peristiwa kemarin sampai seburuk ini? Bahkan membuatku menangis semalam suntuk. Aishhh, sudahlah Park Ah Young lupakan semuanya! Buka kembali lembaran baru. Seperti halnya buku agenda baru. Lupakan semuanya, buku, surat, dan Choi Minho! Lupakan, lupakan, lupakan!!!

Aku memasuki kelas yang sekarang sudah gaduh. Kulangkahkan kakiku menuju mejaku sambil terus menatapnya. Dia sedang bercanda dengan Key. Sepertinya dia sudah melupakan yang kemarin. Aishhh, Ah Young kau juga harus sama sepertinya. Lupakan! Dan jangan pernah menatapnya lagi!

Kutarik kursiku dan mendudukinya. Kuletakkan tasku di kolong meja. Tapi, tunggu. Ada sesuatu yang mengganjal, membuat tasku tidak bisa masuk ke dalamnya. Errrr..pasti ada yang membuang sampah sembarangan di bawah mejaku. Sialan.

Kukeluarkan kembali tasku. Kuulurkan tanganku ke dalam kolong mejaku. Merogoh semua isinya. Tapi, hanya satu yang kudapat disana. Buku itu!

Aku menaruh tanganku diatas buku itu. Kupejamkan mataku. Merasakan apa yang ada didalamnya. Semua tumpahan isi hatiku. Semua perasaanku selama ini. Perasaanku padanya. Pada Choi Minho. Aku membuka mataku. Lupakan dia, Park Ah Young! geramku dalam hati.

Kupandangi lagi buku yang kini sudah berantakan dihadapanku. Apa maksudnya mengembalikan ini padaku? Kalau tidak ingin melihatnya, kenapa tidak dibuang saja?

Kubuka satu persatu. Semuanya masih sama. Semua tulisanku yang menggambarkan dirinya. Gambar-gambarku tentangnya. Puisiku untuknya. Tapi, tunggu… puisi terakhirku…

Ada yang berubah di beberapa bagian. Kubaca lagi puisi itu dengan seksama menghiraukan semua teman-temanku yang masih berisik di dalam kelas.

 

Aku benci kau

Benci saat kau selalu ada dalam pikiranku

Seolah-olah terkunci disana dan tidak dapat keluar

Karena ini kau membenciku?

Baik, kalau begitu aku juga membenci kau

Sangat!

Benci kau tersenyum kepada semua gadis

Saat kau berhasil memenangkan pertandingan

Kau pikir permainanmu itu bagus, huh?

Ah, benar permainanmu itu memang bagus

Aku saja yang tidak ingin mengakuinya

Terlalu munafik

Aku memang pecemburu

Dan bodohnya aku mencemburui kau

Kau yang bukan siapa-siapaku

Bahkan kau tidak menganggapku,

Benar kan?

Ya! Jangan mengambil kesimpulan sembarangan

Kau ini terlalu sok tahu

Kau jahat!

Membiarkan aku terpuruk sendiri

Tersungkur ke dalam lubang yang menyesakkan ini

Aku sendiri bingung

Kenapa bisa sampai titik dimana aku menyukaimu?

Apa aku bodoh?

Bukan, kau yang bodoh

Kau tidak menyadari perasaanku

Padahal aku selalu memperhatikanmu

Jinjja?

Mianhae, jeongmal mianhae

Sungguh miris jadi diriku

Hah, aku jadi kasihan terhadap diriku sendiri

MINHO-AH, KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU GILA

YOUNGIE-AH KAU JUGA SUDAH MEMBUATKU GILA!

Ku harap kau berubah

Mulailah menatapku, kumohon..

Asal kau tahu, aku selalu menatapmu

Selalu memperhatikanmu

Selalu mengkhawatirkanmu

Youngie-ah, saranghae…

 

Kubaca lagi dan lagi puisi itu. Apa maksudnya? Apa ini perbuatannya? Apa benar semua yang tertulis disini? Jadi dia tidak membenciku?

Kubalikkan tubuhku. Kucari sosoknya dikerumunan teman sekelasku. Aku ingin menanyakan ini semua kepadanya. Mencari kejelasan atas apa yang tertulis di buku ini. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas.

DEG!

Aku melihatnya. Aku melihatnya di pojokan kelas. Masih dengan Key dan beberapa teman satu tim basketnya. Dan… yang membuatku tidak tenang adalah dia juga sedang melihatku. Menatapku dari kejauhan. Lalu, dia mengalihkan pandangannya ke buku yang kupegang. Setelah itu, dia menatapku kembali sambil tersenyum.

Sedetik kemudian dia sudah berdiri diantara teman-temannya. membuat mereka sedikit terkejut dengan apa yang dilakukannya. Dan yang kemudian dia lakukan malah membuat mereka semakin terkejut, bahkan aku!

“Youngie-ah, saranghae!”

 

FIN