Cast :

  1. 1.       Dewa-dewi

Galatea Cora : Shin Mirrelle – Max/Orkus : Shim Changmin – Andrew Kynee : Choi Siwon

Alena Minos : Lee Hyunmi – Shawn Sword : Jung Ji Yoon – Thanatos/Marcus : Cho Kyuhyun

  1. 2.       Werewolf

Eyl Vance : Goo Sa Rang – Chloe Vance : Kim Hana – Vincent Vance : Lee Sungmin

Nathan Vance : Kim Ryeowook – Lauren Vance : Kwon Jang Mi

  1. 3.       Vampire

Aiden Flynn : Lee Dong Hae – Casey Flynn : Kim Heechul – Spencer Flynn : Lee Hyuk Jae

Setting : Europe – London – Latona Village

A.N > Ada baiknya baca cast nya satu persatu biar gak bikin bingung. Ada perubahan sudut pandang yang aku pake di sini. Cora isn’t me. She is original character from me.

Ketika cinta membutuhkan perjuangan….

Kesakitan muncul dengan segenap dendam….

Menahan, membelenggu hati yang damai….

Hingga suatu nanti, hasrat untuk kematian perlahan menghilang….

Chapter IV #Thanatos – Marcus#

Thanatos muncul di belakang Max dengan senyuman khas yang di milikinya. Thanatos bukan dewa, bukan keturunan dari dua belas dewa Olympus layaknya Hades dan Persefone. Thanatos murni pencabut nyawa, dan dia adalah salah satu klan yang sangat di takuti di dunia bawah maupun di dunia atas. Thanatos terhebat pada masa ini adalah Marcus. Pencabut nyawa terbaik yang di miliki oleh Hades dan bekerja di bawah kehendak Max.

Marcus tak memiliki Cumae. Satu-satunya klan yang tak memiliki kebaikan dalam dirinya dan tidak ada satupun yang bisa mengalahkan Marcus. Kecuali kehendak Max agar Marcus menghabisi dirinya sendiri. Namun mengingat Max sangat membutuhkan Marcus, dia tak mungkin menyuruh laki-laki tampan itu memusnahkan dirinya. Marcus mempunyai wewenang untuk menyakiti raga yang akan di cabut Cumaenya. Dia berhak mencabik, menguliti bahkan melakukan hal-hal yang kejam pada korbannya.

Marcus menguasai semua sihir yang ada di dunia. Memiliki tombak panjang yang bisa berubah ukuran kapan pun dia mau. Tombak itulah yang ia pakai untuk mengambil Cumae seseorang. Menariknya dan langsung mengirimkannya ke padang Ashpodel. Namun satu lagi kelemahan Marcus, sekalipun dia tidak memiliki Cumae, sekalipun dia tak memiliki kebaikan dalam dirinya – Marcus dapat mencintai.

“Kau ingin aku membunuhnya sekarang?” Tanya Marcus pada Max. Dia melangkah maju, jubahnya yang panjang tersampir ke tanah, seolah menghapus semua kebaikan yang berhembus di bumi.

“Bukan membunuhnya Thanatos, mengembalikannya ke dunia bawah.” Ralat Max dan Marcus terkekeh pelan. Memperlihatkan senyum iblisnya yang sangat di takuti sekaligus di kagumi oleh Klan Minos – gadis-gadis yang mempunyai garis keturunan dewa kematian.

“Ah, bagaimana jika kita bermain dulu dengan sang pengkhianat?” Marcus menoleh kea rah Kynee yang tampak tak berdaya. Darah mengalir dari sudut bibir Kynee, memar serta luka-luka kecil menghiasi tubuh Kynee yang terasa remuk sampai ke sumsum tulangnya.

“Hai, Kynee.” Sapa Marcus yang tiba di depan Kynee dengan kecepatan yang luar biasa. Matanya memandang rendah Kynee dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Dia tersenyum sinis dan tertawa ketika mendengar pikiran dari Kynee.

“Jangan menyakiti Cora heh?” ledek Marcus, lalu dengan sebuah mantra tombak miliknya keluar dan menghunus pundak kiri Kynee.

“Argh!!!” Kynee mengerang kesakitan. Dengan cepat darah mengalir dari pundak kirinya. Dia hanya mampu menahan, bahkan untuk sekedar mengelak serangan tiba-tiba Marcus pun ia tak sanggup. Marcus terlalu kuat bagi Kynee.

“Cih… hh,hh.. begini sa..jakah kekuatanmu?” Kynee bergumam, mengangkat kepalanya dan memandang Marcus yang menjulang tinggi di hadapannya.

Marcus menatap tajam Kynee. Tak ada sorot takut di sana melainkan sorot mata menantang yang di tunjukkan Kynee untuk dirinya. Sekali lagi tombak Marcus menghunus tangan milik Kynee dan pria tampan itu menjerit keras – menggema di seluruh penjuru hutan di tepi sungai.

“Hentikan THANATOS!!!!!” Cora berteriak. Tangisnya terdengar pilu saat Lisium miliknya terluka seperti itu. Rasanya ada perasaan yang mengelegak ketika melihat aliran darah yang keluar dari tubuh Kynee.

Marcus tak mempedulikan teriakan Cora. Ia terus saja menghunuskan tombak miliknya ke tubuh Kynee tanpa henti – kecuali jantung milik Kynee. Karena sebagai dewa kematian Marcus tahu bahwa Kynee hanya akan bisa mati jika ia merobek atau menghancurkan jantung milik Kynee.

“Memilih menjadi Lisium dan meninggalkan Erebas he?” Tanya Marcus – kali ini tombaknya bersarang indah di kaki kanan milik Kynee.

“Kumohon hentikan Thanatos….” Lirih Cora sekali lagi. Ia menatap Max dengan pandangan memohon. Seolah meminta sesuatu yang amat di inginkan olehnya selain Cumae.

“Cora tidak mencintai pria ini, Max. kau tenang saja.” Marcus mencibir, menertawai pikiran Max yang kalut dengan kenyataan bahwa Cora mencintai Kynee dengan sepenuh hatinya.

“Berhenti membaca pikiranku.” Desis Max tajam, masih memandang Cora dengan pandangan yang sulit di artikan. Dia menilik mata Cora, mencari-cari sesuatu tentang kebenaran – seolah ingin mengetahui sejauh mana gadis takdirnya itu akan memohon.

“Cih, berhenti bahwa dirimu masih kuat ANDREW KYNEE!!!” seru Marcus lalu dengan kasar menghunuskan tombaknya tepat di perut Kynee. Marcus tertawa senang saat aliran darah dari tubuh Kynee kian banyak. Kynee bermandikan darah sekarang. Tak ada satupun bagian tubuhnya yang luput dari terjangan Marcus.

“Dan sekarang…. Akan ku hancurkan jantungmu.” Marcus mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. Mengambil ancang-ancang untuk mewujudkan impiannya sejak seratus tahun yang lalu. Membunuh pengkhianat atau bahkan membunuh teman dekatnya sendiri.

Namun niat Marcus tak tersampaikan ketika seekor serigala berbulu kecoklatan menerjang dirinya dan menjatuhkan tombak miliknya ke atas tanah. Max, Cora dan Kynee tersentak. Terlalu terkejut dengan kemunculan binatang buas yang ukurannya terlalu besar untuk serigala biasa. Serigala tersebut menggeram, memunculkan taringnya yang sangat panjang. Cora mengernyit heran ketika ia menyadari bahwa serigala tersebut berdiri melindungi Kynee, seolah Kynee adalah teman sejenisnya.

Marcus – yang terjerambab bangkit berdiri dan mendengus kesal ketika menyadari jubah kebanggaannya kotor dan bernodakan lumpur tanah. Ia menatap serigala itu dengan kesal, bersiap-siap untuk bertarung. Mengambil tombaknya kembali dan berusaha untuk menghunuskannya kea rah serigala tersebut. Sang serigala terus mengelak, menggeram dan mencoba untuk menerkam sisi tubuh Marcus namun selalu gagal.  Marcus terlalu cepat dan sialnya serigala tersebut mampu menyaingi kecepatan Marcus.

Marcus terus mencoba dan mendapat keberuntungan ketika menyadari bahwa tombaknya melukai sisi belakang serigala coklat tersebut. Darah segar mengalir, dan serigala itu menjauhkan diri. Ia melolong – menandakan ia memanggil kawanannya. Seolah meminta bantuan bahwa dirinya semakin terdesak.

Max memandang Ceberus yang sepertinya tidak sabar untuk ikut dalam pertempuran. Ia memantrai Ceberus dengan rantai tak terlihat. Dan tersenyum sinis ketika melihat Marcus bergulat dengan serigala tersebut—lagi. Bahkan—dewa kematian itu pun lupa akan tugas awalnya.

“Frnntelci.” Tangan Max terjulur, mengarah ke  arah keduanya. Mereka terpental berlawanan arah, menabrak batang pohon pinus besar dan langsung roboh hanya dengan sekali hantaman.

“Kenapa kau melakukan kutukan padaku?!!!” Marcus berteriak marah. Darah mengalir dari pelipisnya. Mungkin dia tak bisa terluka oleh siapapun kecuali kutukan yang di luncurkan oleh Max.

Max tidak menjawab. Dia malah berbalik menatap Cora, menjulurkan jari-jarinya ke leher gadis cantik itu yang masih tak percaya bahwa ada serigala yang berbaik hati menolong Kynee. Max mencekik Cora, mengangkat tubuh Cora hanya dengan sebelah tangannya. Cora tak bergeming. Dia – sekalipun tak bernafas masih merasakan sakit karena cengkraman Max yang terlalu kuat.

“Kau bersekutu dengan werewolf?” desis Max. Matanya menatap Cora tajam – terkesan mengintimidasi.

Cora tak menjawab, tak berani berkata tentang apa yang ia ketahui. Ia sendiri juga tak mengerti mengapa ada serigala yang menolong Kynee dan rasanya terlalu mustahil jika ada serigala dengan ukuran sebesar itu.

“Cih, Kynee adalah werewolf Max!” seru Marcus tak sabar. Dia baru saja membaca pikiran Kynee yang sempat terlintas di otaknya.

Max tertawa pelan, seolah menertawai dirinya sendiri yang tidak tahu menahu dengan perubahan yang terjadi pada Kynee. Dia menyadari kesalahan dengan mencabut mantra Kynee dan merubahnya seperti manusia biasa. Sialnya, Max tak berpikir bahwa Kynee akan berubah menjadi werewolf sekarang.

“Kau, sengaja mengikat Kynee karna kau tahu dia werewolf?” Tanya Max lagi pada Cora. Kini Cora tak hanya diam tapi dia berusaha untuk tertawa, seolah mengejek Max yang merasa takut pada kenyataan.

“Hhh.. kau takut pada werewolf bukan? Haha, dewa kematian tidak berkutik karena kekuatan werewolf, Orkus bodoh.”

Max mempererat cengkeraman tangannya di leher Cora, merasa terhina dengan perkataan gadis tersebut. Cora benar, satu-satunya hal yang di takutinya di dunia ini hanyalah sekawanan Werewolf. Mungkin jika hanya satu atau dua, ia mampu menggunakan sihirnya untuk menghancurkan mereka. Namun werewolf tidak pernah bertarung sendirian, mereka selalu bersama dan menolong satu sama lain. Salah satu spesies di bumi yang memiliki tingkat solidaritas yang tinggi.

Max melepas cengkeramannya dengan cepat, membuat tubuh Cora jatuh ke tanah dengan keras. Gadis itu meringis, memegang lehernya dan merasakan nyeri yang luar biasa.

“Kau selamat kali ini.” Max bergumam, dia memutuskan untuk melepas Cora karena menyadari kawanan Werewolf itu semakin dekat. Max melirik Kynee dan serigala itu yang terbaring lemah di akar pohon. Dia tahu, bahwa memaksakan diri untuk membawa Cora ke dunia bawah sama saja mengajak bertempur kawanan werewolf tersebut. Karena pada nyatanya Kynee adalah bagian dari mereka dan dia ada untuk melindungi Cora – perjanjian stix juga terikat pada satu klan yang sama.

“Kau melepasnya?” Marcus berteriak kesal. Ia bangkit berdiri dan dengan sihirnya ia mengambil tombaknya kembali.

“Werewolf tidak mudah untuk di kalahkan sekalipun dengan sihir Thanatos.” Max berbalik, membelakangi Cora dan berjalan ke arah Kharon. Menyerahkan beberapa keping Obolos pada makhluk kerdil tersebut. “Jangan berkata apapun pada kawanan werewolf, atau kau akan mati detik itu juga.” Ancam Max pada Kharon. Ia mengedikkan bahunya pada Ceberus seolah menyuruh anjing berkepala tiga itu untuk mengikutinya.

“Kembali ke dunia bawah, Thanatos. Kita harus menyembuhkan Alena sebelum ia benar-benar mati karena pengaruh sihir Scntivy.” Max memberitahu dan dengan berat hati Marcus berjalan secepat kilat ke arahnya.

Air sungai kembali berpusar, putaran itu kian lama kian membesar. Membentuk corong hitam gelap yang kosong dan menakutkan. Max,Marcus serta Ceberus melangkah ke arah pusaran tersebut. Sejenak, Max menatap tubuh Cora yang masih tersungkur di atas tanah sebelum dirinya benar-benar pergi. Dia mencintai gadis itu namun di sisi lain dia juga membenci kenyataan tersebut. Karena pada nyatanya – Cora gadis yang di cintainya sama sekali tak pernah tertarik pada dirinya. Sedikitpun tidak pernah.

***

Chapter V #Vance# [Cora POV]

Apakah dia masih hidup? Ah, maksudku apakah dia akan sadar?

Dia cantik sekali…

Seperti dewi Aphrodite….

Aku mendengar suara-suara bising tersebut di telingaku. Aku merasa tubuhku kaku seperti balok es yang tidak kunjung mencair. Ku rasakan jari jemariku sedikit kebas sekalipun aku merasa ada sebuah kehangatan yang menjulur di seluruh tubuhku. Aroma kayu ek dan bunga mawar begitu menyengat, sekalipun aku tak bernafas namun aku masih mampu mencium aroma-aroma tersebut dengan baik. Tapi tunggu, aku mendengar deru nafasku sendiri, mendengar sebuah detak jantung yang begitu dekat. Aku berusaha menggerakkan jari-jariku dengan sedikit terpaksa. Merasakan sebuah sensasi menggelitik ketika ada suara pekikan saat aku melakukan hal tersebut. Di mana aku sekarang? Di purikah?

Aku mengerjapkan mataku secara perlahan dan menutup kembali ketika begitu banyak cahaya yang masuk ke dalam mataku. Aku membiasakan diri dan sekali lagi berusaha untuk membuka mataku. Berhasil. Namun aku tersentak ketika menyadari bahwa – hem, seorang gadis paruh baya berdiri menatapku sambil tersenyum lembut. Aku berusaha untuk bangkit dan sebuah tangan membantuku untuk menyangga tubuhku yang sangat lemah.

Ada empat orang yang tengah menatapku dengan pandangan yang sama sekali tidak bisa ku artikan dengan jelas. Dua orang perempuan dan dua orang laki-laki. Mereka seperti manusia biasa. Kulit mereka tidak bersinar dan juga tidak terlihat pucat. Mereka bernafas, karena aku melihat dada mereka naik-turun menandakan ada sesuatu yang masuk – udara pada tubuh mereka. Aku mengalihkan pandanganku sekali lagi ke arah gadis yang pertama kali ku lihat. Ia masih tersenyum dan dengan bodohnya aku malah menatapnya dengan tatapan bingung.

“Kau sudah sadar?” dia melontarkan pertanyaan bodoh. Tentu saja sudah, jika belum aku tidak mungkin bisa menatapnya seperti ini. Namun aku hanya menganggukkan kepalaku – memberi jawaban yang seharusnya tidak perlu ku jawab.

“Aku Chloe. Chloe Vance.” Katanya memperkenalkan diri. Dia mengulurkan tangannya ke arahku, dengan ragu ku sambut tangannya dan merasakan hawa panas menjalar. Inikah rasanya tangan manusia?

“Dia Vincent, Nathan dan Lauren.” Katanya lagi sambil menunjuk tiga manusia itu satu persatu. “Mereka adik-adikku.” Jelasnya dan lagi-lagi aku mengangguk.

Aku meraba keningku dan mendapati sebuah kain tertempel di pelipisku. Ku tekan sedikit dan rasa nyeri langsung terasa di sana. Aku terluka.

“Aku sudah menjahit lukamu dan ku pastikan dua hari ke depan akan sembuh total.” Kata Chloe seolah menjawab pertanyaanku. Ku amati gadis tersebut. Cantik dan terkesan bijaksana. Warna matanya coklat terang dan memancarkan sebuah kehangatan. Dia mengenakan sebuah gaun selutut berwarna merah muda dan agak sedikit kontras dengan kulitnya yang putih namun tidak pucat. Rambutnya lurus dan hitam, tergerai dan itu membuatnya terlihat semakin dewasa.

Ku alihkan pandanganku ke arah pria yang bernama Vincent. Ia tersenyum ke arahku dan kesan yang ku tangkap dia itu pria yang hem – sedikit imut. Garis-garis wajahnya tegas dan tubuhnya juga sedikit kekar. Rambutnya berwarna hitam sama seperti Chloe, dan ku akui gesturenya membuatku sedikit agak bingung – mengingat penampilannya sangat kontras dengan wajahnya.

“Siapa namamu?” aku menoleh ke arah pria satunya. Tubuhnya kecil dan ku rasa tingginya hanya berbeda beberapa senti dari pria bernama Vincent itu. Rambutnya kecoklatan dan dia tak kalah imutnya dengan Vincent. Rahangnya lancip, membentuk sudut yang indah ketika di pandang. Sekalipun tubuhnya tidak kekar namun seperti ada kekuatan tersembunyi di sorot matanya.

“Cora. Galatea Cora.” Jawabku.

“Jika kau bingung, kau berada di rumah keluarga Vance sekarang.” Gadis bernama Lauren mengatakan itu tiba-tiba. Membuatku sedikit bingung karena aku sama sekali tidak mengenal keluarga Vance. Apakah mereka penyihir? Ataukah mereka hanya manusia biasa yang menemukan diriku dan …. Ah, Kynee!

“Di mana Kynee?!” tanyaku kasar, hendak bangun untuk berdiri namun Chloe mencegahnya.

“Dia baik-baik saja. Err – setidaknya dia masih bernafas.” Jawab Lauren kaku. Aku mendelik ke arahnya, berusaha agar dia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Jelaskan padaku.” Tuntutku dengan nada perintah.

“Kau dan Kynee kami temukan di pinggir sungai Akheron. Eyl terluka dan untungnya dia memanggil kami sebelum dia tak sadarkan diri. Dan sekarang Kynee sedang beristirahat dan menjalani pengobatan untuk menyembuhkan lukanya yang sangat parah.” Jelas Chloe dengan tenang namun tidak denganku.

“Seberapa parah dirinya?” tanyaku lagi-lagi menuntut.

“Delapan puluh persen tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan dia tidak akan sadarkan diri.”

Aku merasakan ada sesuatu yang menyakitkan ketika Chloe mengatakan hal tersebut. Seperti ada luka yang tercabik-cabik di sekujur tubuhku. Kynee terluka, Lisium milikku terluka hanya karena menolong diriku. Aku mengerti itu tugasnya, aku mengerti dengan benar ia terikat perjanjian denganku. Tapi, membuatnya seperti ini bukanlah bagian dari rencana bodohku.

“Urusanmu dengan Cumae milikmu membuatnya hampir mati.” Desis sebuah suara. Aku mendongak. Seorang gadis cantik berdiri di ambang pintu. Rambutnya agak berantakan dan sebuah perban putih melekat di bagian pinggangnya. Menandakan dia terluka pada bagian tersebut.

“Siapa kau?”

“Cih, siapa kau?” dia mengulang pertanyaanku. Menatapku dengan sinis lewat bola matanya yang berwarna hijau keperakan. Dia cantik, sangat. Bahkan saat menunjukkan tatapan sinisnya, dia masih terlihat sangat mengagumkan.

“Eyl Vance.” Tambahnya pendek dan kemudian aku tersadar. Dia – gadis itu yang telah mengubah Kynee menjadi werewolf.

“Kau!” dengan rasa sakit yang tertahan aku bangkit berdiri. Mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku dan berjalan  menghampirinya. Ada rasa marah yang menggelegak saat mengetahui gadis ini yang mengubah Kynee. Tanganku terjulur ingin memantrainya dengan kutukanku namun Chloe menghadang. Dia berdiri di antara kami, memberi batas dan dengan tegas menatapku.

“Jangan melakukan sihir di wilayah ini atau kau akan mati.” Kata Chloe tenang. Tidak ada nada mengancam, namun  lebih memperingatkan diriku.

“Ck, seharunya kita tidak usah membawa gadis tidak tahu diri ini, Chloe. Dia memuakkan.” Aku menggeram mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir gadis tersebut.

“Berhenti membuat masalah Eyl. Dia tamu kita.” Lauren berusaha menenangkan. Gadis bermata hijau perak itu melangkah menjauhiku, mendekatkan dirinya di sebelah Vincent dan masih menatapku dengan sinis.

“Aku ingin melihat Kynee.” Kataku, mengalihkan keadaan tegang ini. Aku sendiri tidak cukup kuat untuk melancarkan satu kutukan sebenarnya. Terlalu lemah jika menggunakan sihir milikku.

“Istirahatlah dulu, itu lebih baik untuk keadaanmu nona.” Saran Nathan padaku. Entah dorongan darimana, tubuhku kembali jatuh terduduk di atas kasur yang aku tiduri tadi. Rasanya tubuhku melemas mengingat kejadian yang baru saja aku alami. Rasa sakit dari luka yang aku alami mungkin tidak ada apa-apanya dengan luka yang di derita oleh Kynee. Aku – dengan jelas melihat semua hal yang di lakukan oleh Thanatos tadi. Dia menusuk, merobek dan mempermainkan tubuh Kynee seperti daging busuk yang tidak berguna.

“Dia akan baik-baik saja. Setidaknya dia berusaha bertahan hidup untuk dirimu.” Eyl berkata pelan, memandang langit-langit rumah ini yang berwarna putih pudar. Tidak menatapku.

“Menangislah jika itu membuatmu sedikit lebih tenang.” Chloe berkata bijak. Berlutut di hadapanku dan memandang wajahku yang benar-benar pucat. Tangannya yang hangat menyentuh daguku, mengangkatnya dan memaksaku untuk menatap kedua matanya.

“Kau manusia, sama seperti kami. Dan menangis adalah hal manusiawi yang paling mudah untuk di lakukan meski kau tak memiliki nyawa sekalipun.” Tambahnya dan detik itu juga cairan sebening krystal mengalir lembut dari pelupuk mataku. Aku – Galatea Cora, menangis.

***

Aku memandang mereka semua dengan sedikit takjub. Di rumah ini terdapat lima orang ah atau lebih tepatnya lima werewolf. Chloe memberitahuku tentang identitas mereka. Mereka Klan yang tinggal layaknya seperti manusia biasa. Mereka makan, minum bahkan mereka belajar. Mereka mengatakan bahwa mereka kuliah di salah satu universitas yang terletak tidak jauh dari desa Verga. Sebuah kota kecil bernama Latona di sebelah utara London.

“Berapa lama kau terjebak?” Tanya Lauren sambil menyuapkan sesendok makanan – yang berwana coklat ke mulutnya. Aku dan dia sedang duduk di sebuah balkon yang menghadap ke arah danau. Sejuk dan tenang.

“Seribu tahun mungkin. Aku sendiri tidak tahu dengan pasti.” Jawabku. Aku selama ini terjebak dalam kehidupan lamaku. Aku tak pernah berpikir bahwa zaman akan berubah. Karena pada nyatanya selama pelarian ini aku dan Kynee hanya berusaha untuk pergi ke dunia bawah dan kembali ke dunia atas. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa manusia dan penyihir serta klan seperti kami hidup bersama dengan damai.

“Jadi kau tidak mengerti apa yang di namakan ‘belajar’?” Tanya Lauren lagi. Kali ini ia menghabiskan makanan cair itu dengan menyeruput ujung mangkuknya.

“Tidak. Dan aku tidak peduli hal itu.”

Lauren menjentikkan jarinya dan menoleh ke arahku dengan cepat. “Kau tahu bagaimana kami dan para predator manusia itu – vampire bisa hidup di bumi dengan tenang?” tanyanya dan aku menggeleng. Di luar kepentinganku untuk mendapatkan Cumae aku tidak tertarik dengan apapun.

“Ah, pantas saja.” Katanya dengan nada putus asa. “Kami mempertahankan klan kami karena kami bertindak serta berkelakuan seperti manusia biasa. Mencoba untuk berbaur dengan mereka dan itulah satu-satunya cara agar kami tidak di curigai.” Terangnya dan aku mengernyit bingung.

“Tapi aku dewi dan aku tidak butuh hal itu. Kedudukanku tak sama dengan manusia seperti kalian.” Kataku dingin. Menyombongkan diri dan berusaha menyatakan bahwa aku ini suci dan tidak sama seperti dirinya.

“Ck, arrogant sekali.” Desis sebuah suara. Eyl melintas di hadapan kami dan melemparkan senyuman sinis ke arahku. Dia masih saja bertindak seenaknya padaku meskipun aku berterima kasih karena dia menyelamatkan Kynee saat itu. Aku sudah menengok keadaan Kynee beberapa jam setelah aku sadarkan diri dari pingsanku. Aku tak sanggup melihat keadaannya. Tubuhnya terlihat tidak berdaya. Dia yang biasanya selalu terlihat kuat dan melindungiku kini terbaring lemah. Sekujur tubuhnya di penuhi luka dan perban putih melilit sebagian tubuhnya. Aku sudah berusaha untuk menyembuhkan lukanya dengan sihir penyembuhku namun tetap tidak bisa. Sihirku tidak cukup kuat untuk menghilangkan racun yang melekat pada tubuhnya. Tombak Thanatos – memiliki racun mematikan. Aku bersyukur pada kenyataan bahwa Kynee hanya bisa mati jika jantung yang ia miliki hancur oleh tombak Thanatos.

“Jangan pikirkan perkataan Eyl.” Perkataan Lauren membuatku tersadar kembali. Ku usap sudut mataku yang hampir meneteskan air mata. Jujur saja setelah perkataan Chloe waktu itu membuatku lebih mudah untuk meneteskan air mata dan rasanya menyenangkan. Seperti sebongkah batu besar yang sukses di keluarkan dari tenggorokkanku. Menyakitkan namun setelah itu menenangkan.

“Sejak kapan kau kehilangan eh apa itu Cumae ya?” Tanya Lauren penasaran. Dia menatapku dengan pandangan berbinar-binar. Seolah aku ini pendongeng terkenal yang siap menceritakan hal-hal aneh pada anak-anak.

“Seribu tahun, seperti yang ku katakan tadi.”

“Boleh ku tahu Cumae itu apa?”

Aku menghela nafas. Cumae itu apa? Hah. Ini gila.

“Cumae itu nyawa yang aku miliki. Maksudku, sebagian nyawa. Aku manusia pada intinya namun aku keturunan dari dewa-dewi Olympus. Awalnya aku hidup tanpa mengetahui apapun sebelum usiaku menginjak dua puluh tahun. Saat itu sebuah gelang perak mengikatku dan memberiku memori dari dewi yang kuwarisi sihir dan darahnya.” Terangku dan entah mengapa rasanya menyenangkan berbagi cerita seperti ini. Aku, merindukan hal-hal yang ku rasakan sebelum aku menjadi klan Galatea.

“Memangnya kau keturunan dewi apa?”

“Persefone.” Jawabku pendek. Pikiranku kembali menerawang. Dewi Persefone, dewi dunia bawah dan istri dari Hades. Dewi kesuburan dan keindahan. Sekalipun ia tinggal di dunia bawah namun tak membuatnya menjadi jahat. Tak membuatnya kekal di sana. Ia akan kembali ke dunia atas setiap tahunnya, menemui Demeter sang ibu yang selalu merindukan anaknya. Membuat musim di dunia terus berganti dengan kesedihan. Hal itulah yang membuatku membenci Hades atau Max keturunannya. Aku tak ingin ia membawaku kembali, menculikku dan mengekangku di dunia bawah. Namun sekarang ini semua hal itu terasa terbalik. Shawn – keturunan dari Demeter malah terikat oleh Alena sang keturunan Minos sejati. Membuatnya kekal di dunia bawah dan aku sendiri malah bersikeras untuk tetap berada di dunia atas. Dan karena itu semua selama seribu tahun musim terus berganti. Aku sendiri lebih suka jika dunia tetap mempunyai satu musim. Setidaknya dari empat musim itu aku akan memilih musim semi – indah dan menenangkan.

Kebencian ku pada Max bukan hanya itu saja. Aku memang baru satu kali bertemu dengannya. Sekalipun ia memiliki pesona yang luar biasa, ia juga kuat dan tamak. Posisinya di dunia bawah di ragukan hanya karena dia tak memiliki pendamping dari keturunan Persefone. Dan untuk itulah ia mengejarku, memaksa Thanatos untuk mengambil Cumae milikku. Agar aku pergi ke padang Asphodel yang berada di dunia bawah. Namun aku tak sebodoh itu, aku tak ingin kisah Persefone terulang lagi padaku. Aku ingin hidup bebas, ingin mati karena hal yang sewajarnya. Bukan karena diriku yang di paksa tinggal bersama dewa kematian terkutuk itu.

Aku tidak yakin dia mencintaiku. Tidak yakin dirinya benar-benar memiliki perasaan padaku. Bisa saja dia hanya ingin agar kekuasaanya terjamin dan semua keturunan dewa mengakui hal tersebut. Saat pertempuran dengan keturunan Titan aku sama sekali tidak sadar jika Thanatos sedang mengincarku. Dia selalu berada di sisiku, mengamatiku yang saat itu tengah berperang dengan berbagai kutukan sihir yang di layangkan para Titan kepadaku. Sarah Singleton – Titan terkuat yang pernah ku temui saat itu berhasil melancarkan serangannya ke tubuhku. Aku terkena kutukan Ovios – kutukan yang membuat tubuhku seketika itu juga melemas. Kutukan sederhana namun mampu membuatku lengah untuk menghindar dari Thanatos. Saat itulah Marcus menghunuskan tombaknya tepat di jantungku. Ia tak merobeknya, namun mengambil Cumae milikku dan membuat keadaanku seperti sekarang ini. Mempunyai raga namun tak memiliki jiwa. Menjijikkan.

“Astaga. Kedengarannya benar-benar mustahil. Ku pikir hanya ada werewolf dan vampire di dunia ini. Ternyata masih ada klan Galatea. Hidup namun tak memiliki jiwa.” Lauren merutuk kecil dan aku tersenyum mendengar pernyataannya. Dia benar – banyak hal yang begitu tersembunyi di seluruh bumi ini termasuk kaumku.

“Apakah kau pernah bertemu dengan Galatea lainnya?” tanyanya antusias. Aku berpikir sejenak. Merangkap memoriku satu persatu. Seribu tahun waktu yang cukup lama untuk mengingat semua hal itu.

“Ku rasa… pernah.” Jawabku, mengernyitkan kening dan memutar kembali kenangan itu. “Galatea Arela. Dia keturunan dewi Hera namun tak memiliki sihir. Dia hidup seperti gadis biasa namun keturunan Zeus – Claudius tidak mencintainya. Padahal mereka adalah pasangan abadi.”

“Lalu di mana gadis itu sekarang?”

“Avernus. Tempat pengasingan. Arela membunuh dirinya sendiri karena keputus asaan. Awalnya dia meminta Thanatos untuk mencabut Cumaenya dan setelah menjadi Galatea dia malah tidak tahan. Sedikit aneh memang mengingat itu hanya karena cintanya pada Claudius tak terbalas.” Jelasku sambil bergidik jijik. Aku merasa gadis bernama Arela tersebut tak pantas mewarisi darah dari dewi Hera. Dewi dari segala dewa.

Really? Geez! Lalu bagaimana dengan Claudius itu? Bukankah dia juga butuh pendamping untuk mempertahankan kekuasaannya?” aku menarik nafas – terlihat seperti itu. Ku rasa Lauren benar-benar tertarik dengan ceritaku.

“Selalu ada dua keturunan dewa-dewi Yunani di dunia ini. Claudius lebih memilih Mercy – keturunan kedua untuk menjadi pendampingnya. Mereka tinggal di Italia sekarang. Hebatnya lagi Mercy adalah Vampire.” Jawabku dan mata Lauren membulat. Sekilas aku menangkap raut wajah jijik darinya.

“Dan jika dugaanku tidak meleset, Eyl juga keturunan dari Aphrodite. Sama seperti Alena dari klan Minos.” Tambahku lagi dan seketika itu juga Lauren langsung terduduk tegak.

“Da..dari..mana kau tahu?” tanyanya gugup.

“Eyl terlalu cantik untuk ukuran manusia biasa. Dan… aku bisa membaca pikirannya. Hal yang paling menakjubkan jika kami merupakan keturunan para dewi. Hanya di antara keturunan dewi.  Seperti ada benang merah yang menghubungi kami satu sama lain.” Kataku. “Tapi, bisakah kau memberitahuku mengapa dia bisa menjadi werewolf?” tanyaku, terkesan memaksa karena sejujurnya aku tidak suka jika ada keturunan dewi yang di ubah menjadi binatang buas.

“Chloe menyelamatkanku dari Kharon.” Aku menoleh dan Eyl bersender di pintu kayu tak jauh dari tempat kami duduk. Dia tersenyum kecut ke arahku. Sekilas dia mirip dengan Alena dan kecantikan mengikat abadi pada mereka.

“Dari?” tanyaku dan ku lirik Lauren  yang seakan heran dan tercetak jelas di wajahnya ‘kau bilang kau bisa membaca pikirannya’.

“Dia memblokir pikirannya.” Kataku cepat sebelum pertanyaan itu keluar dari mulut Lauren.

“Ck, hanya karena Kharon ingin memangsaku. Makhluk kerdil itu sudah hampir mencabik tubuhku jika saja Chloe tidak segera datang. Dia menyelamatkanku yang tengah sekarat dan memutuskan untuk menjadikanku seperti dirinya.” Jawab Eyl dan dia meringis kecil. Aku bisa merasakan dia sedang mengulang kembali kejadian itu dalam otaknya.

“Lalu apa alasanmu mengubah Kynee menjadi seperti kalian?” tanyaku tajam. Sekalipun dia keturunan dewi aku masih tidak terima dia menjadikan Kynee werewolf.

“Apa Lisiummu itu tak pernah menceritakan alasannya?” Eyl balik bertanya dan aku menggeleng. Eyl menghembuskan nafasnya berat. “Dia terjatuh dari puncak gunung, saat itu aku sedang berburu rusa. Aku menemukannya hampir di mangsa oleh seorang vampire dari Viking. Dan dengan sangat terpaksa aku menularkan virus werewolf pada tubuhnya agar racun vampire tersebut bisa di netralisir. Pilihan yang tepat bukan?”

Aku menelan ludahku dengan pelan. Dia benar, sekalipun berubah menjadi makhluk lain adalah hal yang paling menjijikkan namun menjadi vampire adalah hal yang tak termaafkan untuk seseorang yang memiliki keturunan dewa.

“Ck, menghabiskan waktu membicarakan hal ini. Ada hal lain yang harus ku kerjakan.” Tukas Eyl cepat dan melambaikan tangannya, menghilang di balik pintu usang itu.

“Ah ya!” Kepala Eyl menyembul dari balik pintu membuatku sedikit kaget. “Chloe keturunan dari Demeter, pemblokir pikiran paling hebat yang pernah ku temui.” Tambahnya dan sedetik kemudian aku menyadari mengapa aku sangat patuh terhadap Chloe. Dia – sama seperti Shawn. Keturunan langsung dari ibuku.

***

Chapter VI #Shawn Sword#

[Alena POV]

Wanita di bawah es. Hantu atau apapun itu yang biasa di sebut dengan roh. Aku bisa melihat hantu, gema orang-orang mati. Para arwah pergi ke dunia lain, mungkin ke surga ataupun ke Avernus untuk di asingkan. Terkadang mereka meninggalkan jejak memanjang, seperti kain tercabik dari gaun, atau helaian rambut terkait kuku. Tapi tentu saja roh-roh itu tak berjasad, dan robekan robekan itu tempat yang di pertahankan manusia, di mana sesuatu yang penting telah terjadi.

Aku baru saja sadar dari kutukan Scntivy. Kutukan sederhana namun mematikan. Max yang menyadarkanku dan kini aku merindukan Shawn – pedangku sekaligus Lisiumku. Aku dan Shawn terikat perjanjian Stix. Entah mengapa dirinya sendiri yang menawarkan perjanjian itu pada diriku. Aku memang pernah menolongnya ketika ia bertempur dengan para Titan. Ia keturunan langsung dari Demeter – dewi kesuburan dan keindahan. Saat itu keadaannya benar-benar terdesak dan Thanatos hendak mencabut nyawanya. Tapi dengan sihir occlumentku aku berhasil memasuki pikiran Shawn dan membuatnya bangkit untuk melawan Titan yang sedang di hadapinya.

Shawn menyadari hal itu, dia menghampiriku setelah perang usai dan menawarkan diri untuk menjadi Lisiumku. Aku tak mampu menolak, sosoknya yang kharismatik dan kekuatannya yang begitu kuat membuatku tergoda untuk menjadikannya sebagai Lisiumku. Aku membawanya ke sungai Stix. Tempat di mana para dewa dan dewi melakukan perjanjian yang akan berlaku sepanjang kehidupan mereka. Shawn tidak meminta banyak, dia hanya ingin agar dirinya menjadi pedang milikku dan akan menampakkan wujudnya pada makhluk lain jika aku menginginkannya. Dia – sekalipun tau aku sedang berusaha menyakiti keturunan Persefone tetap teguh untuk menjadi Lisiumku.

Aku menghela nafas panjang. Aku sedang berada di padang Asphodel sekarang. Merenung sendiri dan sesekali melihat ke arah Veela-veela cantik yang tengah sibuk bergurau. Jangan kau pikir dunia bawah adalah dunia yang menyeramkan. Tidak. Sama sekali tidak. Kami memiliki sumber cahaya dan hanya beberapa tempat yang gelap dan kosong. Selebihnya keadaan di sini tak jauh berbeda dari keadaan di dunia atas. Kami memiliki padang rumput luas serta sungai-sungai yang mengalir indah di sepanjang Erebas. Yang membuat perbedaan di sini hanyalah musim yang ada. Hanya ada musim dingin di sini, setidaknya begitulah yang kau sebut jika menurut manusia dunia atas.

Aku duduk di pinggir sungai Stix dan memandang pantulan diriku lewat air sungai yang mengalir dengan tenang. Ku ketukkan kakiku ke permukaan es yang menempel keras di dinding karang sungai Stix. Es itu terasa tebal. Terasa menyengat ketika tumitmu bertemu dengan deretan es-es tersebut.

“Thanatos dan Shawn dalam perjalanan ke sini.” Aku mendongak, Max berdiri di sebelahku dengan ketampanannya yang luar biasa. Mungkin hanya Marcus dan Kynee yang mampu menyaingi kesempurnaannya.

“Kau sudah mengatakannya sejam yang lalu. Yeah, jika di sini waktu berputar.” Kataku mencibir. “Kenapa kau tak mencari keturunan Persefone yang lain? Mungkin saja, dia tak sesulit Cora.” Tambahku lagi, mengirimkan sugestiku pada Max dan ku rasa gagal karena dia tertawa meledek.

“Sejauh ini hanya Cora yang mampu menarik perhatianku. Kekerasan hatinya membuktikan bahwa dia gadis yang tidak bisa di remehkan.”

“Ck, kau terlalu ambisius Max.” kataku. “Kenapa tidak kau serahkan saja tahtamu pada keturunan Hades yang lain. Kau bisa mencarinya hanya dalam waktu sebentar. Lalu kau bisa ke dunia atas dan mengambil hati gadis pujaanmu itu.”

“Jangan mencampuri masalah percintaanku. Kau, lebih baik membenahi hatimu yang hancur selama ratusan tahun itu.” Kata Max dan menunjuk kearahku.

Aku mendengus kesal. Dia benar, aku hancur. Lebih tepatnya kecewa. Aku, Marcus dan Kynee adalah teman baik. Kami bertiga keturunan tiga dewa kematian yang bekerja di bawah Hades. Masing-masing dari kami memiliki tugas yang berbeda. Marcus mencabut nyawa, aku mengantarkan roh jahat dan Kynee mengantarkan roh baik. Mungkin hal itulah yang menyebabkan Kynee menjadi dewa kematian yang berbeda, dia memiliki sisi bak malaikat dan itu tak terbantahkan.

Namun aku mencintai dirinya yang seperti itu. Mencintai dia yang ku pikir tidak akan pernah ku rasakan sepanjang keberadaanku. Wajahnya yang tampan dan gesture tubuhnya yang menarik membuatku seakan lupa apa statusku. Aku memang memiliki garis keturunan Aphrodite. Tapi aku keturunan kedua dan aku bersyukur bahwa aku di anugerahi kecantikan yang luar biasa. Sayangnya, aku tak sedikitpun mewaris sifat bijaksana dari dewi Aphrodite.

Aku marah saat Kynee menceritakan dirinya bertemu dengan gadis cantik yang tak lain adalah Cora. Sejak itu ia sering kali pergi ke dunia atas hanya untuk melihat Cora, mengamati gadis itu diam-diam dan akan merasa tersakiti jika gadis itu menderita. Terlebih lagi ketika Max tahu bahwa Cora adalah keturunan Persefone, membuat Kynee bingung karena tidak setuju jika gadis sebaik Cora di bawa ke dunia bawah. Sejak itu, Kynee memberontak. Dia memilih hidup di dunia atas dan menjadi Lisium dari gadis brengsek itu. Aku, sama sekali tidak terima.

“Kau menakutkan jika menyangkut Cora.” Desis sebuah suara dan aku mengenal baik suara itu. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Marcus berdiri sambil mengenggam pedangku. Aku mengangkat kakiku dari air dan dengan kecepatan yang luar biasa meraih pedang itu dari tangan Marcus.

Containte.” Gumamku pelan sambil menatap pedang milikku. Sebuah cahaya perak berpendar dari sisi depan pedang, dan sedetik kemudian seorang gadis cantik muncul dan tersenyum hangat ke arahku.

“Shawn!” seruku dan memeluknya dengan erat. Tak ku hiraukan dengusan sebal dari Max dan Marcus saat melihat kelakuanku.

“Merindukanku hem?” tanyanya dan aku mengangguk semangat. Entah mengapa aku senang berada didekat Shawn. Seperti seseorang yang jauh lebih dewasa dari diriku sendiri dan aku mengaguminya.

“Dia hampir seperti mayat hidup ketika kehilangan dirimu.” Tukas Max asal dan Shawn terkekeh. Max menghormati Shawn sebagai keturunan Demeter. Dia menghargai pengorbanan Demeter di masa lalu dan aku merasa ada sesuatu yang mencekam ketika mereka saling menatap. Kebencian yang amat sangat dan itu tak bisa di sembunyikan dengan baik.

***

[Shawn POV]

Aku meringis kecil ketika Alena memelukku. Sebenarnya bukan ini yang aku rindukan. Bukan Alena yang ku inginkan untuk memelukku. Aku ingin bertemu dengan Cora. Aku merindukannya karena memori masa lalu yang terekam jelas di otakku. Keadaan kami benar-benar terbalik sekarang. Dia berada di dunia atas melarikan diri dari pengejaran Max dan aku di dunia bawah malah membantu Alena untuk menangkap dirinya.

Aku mengerti dan paham dengan jelas bahwa Cora membenciku. Dia tak tahan dengan sihir yang melekat pada kami berdua. Ketika kami berada dalam satu lingkup yang dekat, ada hasrat untuk bertemu dan saling mengikatkan diri satu sama lain. Namun hal berbeda akan terjadi jika salah satu dari kami menolak sihir tersebut. Akan ada rasa panas yang mencekik serta tusukan yang bertubi-tubi di sekujur tubuh.

Cora merasakan sakit yang seharusnya tidak ia rasakan. Aku tak berpikir jauh saat menawarkan diri menjadi Lisium Alena. Saat itu yang ada di benakku hanya perasaan balas budi ketika Alena menolongku.

“Shawn, are you okay?” aku tergelak dan menoleh ke arah Alena yang mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.

“Fine, Alena. Don’t worry about me.” Tukasku cepat dan tak ingin ia membaca pikiranku. Aku mati-matian belajar untuk memblokir pikiranku sendiri.

“Aku berpikir keras beberapa hari ini.” Katanya dan aku berdehem. “Aku ingin kau menjadi wujud manusiamu. Ku rasa tidak etis membiarkanmu menjadi pedang selama beratus-ratus tahun.” Tambahnya dan aku tersentak kaget. Bukan aku tak ingin menjadi wujud manusia, namun aku tak ingin ia membaca pikiranku yang terus-terusan mengingat Cora.

“Tak perlu. Aku cukup senang menjadi sumber kekuatanmu.” Kataku berusaha terdengar normal.

“Tapi aku….”

“Sudahlah. Aku mengerti kau menganggapku sebagai temanku. Namun kau harus tetap membedakan diriku. Aku ini Lisium mu dan seharusnya aku menjadi musuhmu jika kita tidak terikat perjanjian Stix.” Kataku mengingatkan dan pada akhirnya dia mengangguk. Aku berjalan menghampiri sebuah pohon besar yang terletak tepat di tengah padang Asphodel. Veela- Veela cantik itu memberiku hormat dan membuka sedikit jalan agar aku bisa melangkah lebih dekat. Ada kolam berbentuk persegi yang mengelilingi pohon tersebut.

Aku memandang sebuah Cumae yang amat sangat ku kenali. Jika kau penasaran bagaimana bentuk Cumae kau bisa membayangkan sebuah otak transparan menjijikkan yang mengambang di kolam ini. Tak berguna sekilas namun berfungsi penting untuk seorang keturunan dewi. Aku menarik nafas panjang, ingin rasanya aku mengeluarkan setetes air mata dari mataku. Namun aku tak bisa. Aku tak mampu menangis dan menunjukkan perasaanku dengan baik. Menyimpannya rapat-rapat agar tak ada satupun orang yang mengetahui isi hatiku.

Kau tahu bahwa Cora akan menjadi murid di kehidupan manusia biasa?

Benarkah? Ah, ku rasa dia berhasil mengelabui Tuan Max.

Aku menginginkan Cora hancur dan memilih Veela di antara kita.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku perlahan. Aku menoleh ke arah Veela-veela itu dan tak ada sedikitpun dari mereka yang berbicara. Namun aku yakin sekali mendengar suara-suara kecil seperti cicitan dan itu sangat mengganggu sekali. Aku menatap Veela itu lagi dan memandang mata mereka dalam. Mereka cantik, namun menyeramkan. Banyak sisi jahat dari diri mereka.

“Cora menjadi murid?” tanyaku perlahan. Veela itu mendongak.

Dia bisa mendengar apa yang kita bicarakan.

Aku mundur selangkah. Menutup mulutku sendiri karena menahan kaget. Aku, mampu mendengar suara Veela?

***

Chapter VII #Vampires# [Cora POV]

Hari ketujuh aku berada di rumah keluarga Vance. Mereka tak memiliki hubungan darah sebenarnya. Hanya saja mereka bertemu di suatu kesempatan yang membuat mereka menyatakan diri sebagai sebuah keluarga.  Chloe adalah yang tertua, umurnya hampir sama dengan Vincent di wujud manusianya. Sejauh ini aku tidak mengetahui bagaimana dan kenapa Vincent serta Nathan berubah menjadi werewolf. Tidak ada yang mau menjelaskan dan aku sendiri tidak ingin bertanya sekalipun hal itu menggelitik pikiranku.

Lauren berubah menjadi werewolf karena sudah takdirnya. Pada usianya yang ke tujuh belas ia mendapatkan virus tersebut berkembang cepat di dalam tubuhnya. Dia keluarga Vance yang asli – setidaknya begitu. Ayah Lauren merupakan tetua dari para werewolf dan sekarang hidup di pedalaman Afrika untuk memimpin sebuah suku besar yang ada disana. Ibu Lauren adalah manusia biasa dan mati bunuh diri saat mengetahui bahwa suaminya merupakan werewolf. Menyedihkan? Yah memang. Tapi kurasa Lauren sudah tidak memikirkan wanita bodoh itu yang membuang hidupnya hanya karena sesuatu yang mengejutkan.

Kynee sudah sadar. Namun kondisinya masih buruk. Ia tidak mampu bergerak dan aku harus menahan tangisku ketika berada di dekatnya. Jujur, aku tidak mengerti apa yang ku rasakan sekarang ini. Aku merasa ingin selalu di samping Kynee dan merawatnya. Tapi Chloe menyarankan agar aku melakukan kegiatan lain. Sesuatu yang membuatku lebih terlihat manusiawi dan tidak seperti mayat hidup. Memandangi wajah Kynee tanpa henti.

“Ku rasa kau lebih baik kuliah bersama Lauren dan yang lain. Aku juga mengambil kuliah di tempat yang sama hanya saja berbeda tingkat.” Saran Chloe saat aku tengah termenung menatap danau Burke yang terbentang indah di belakang rumah keluarga Vance.

“Aku tidak memiliki fungsi otak Chloe. Rasanya terlalu sulit jika aku harus mengikuti hal yang kalian sebut dengan ‘kuliah’ itu.” Sahutku tanpa menoleh. Masih memandang pemandangan yang di suguhkan.

“Kau yakin kau tak memiliki otak dan organ tubuhmu yang lain?” Tanya Chloe dan aku mengernyit bingung. Aku membalikkan tubuhku dan dia sudah berdiri tepat di hadapanku.

“Tidakkah kau menyadari perubahanmu Cora?” tanyanya lagi. Tangannya menggenggam tanganku dan menaruh telapak tanganku di dadanya. Ada yang berdetak di sana. Berirama dan mengalun lembut. Suatu hal yang paling ku rindukan didunia ini.

“Kau memilikinya.” Chloe memindahkan tanganku ke dadaku sekarang. Awalnya aku tak merasakan apa-apa namun sedetik kemudian aku merasakan sesuatu yang berdetak disana. Tidak terlalu terasa namun aku bisa merasakannya dengan baik. Irama yang teratur dan…

“Aku bernafas?” tanyaku sangsi. Ku dekatkan tanganku yang bebas ke arah indra penciumanku. Ada hembusan hangat di sana, menderu dan teratur.

Aku merasakan lutut kakiku melemas dan Chloe menopang tubuhku yang hampir jatuh. Tubuhku agak limbung dan terlalu kaget ketika menyadari hal yang baru saja ku ketahui.

“Beberapa organmu kembali Cora dan itu karena pertemuanmu dengan Max.” kata Chloe lagi. Aku tak mengerti dan menganggap perkataan Chloe aneh.

“Baiklah, maksudku kau mendapatkan sedikit kehidupanmu karena pertemuan pasangan abadi. Kau pasti tahu dengan isitilah Crumicle. Sebuah peristiwa keajaiban ketika kau bertemu dengan pasangan abadimu. Dan kurasa itulah keajaiban yang kau dapatkan!” jelasnya tak sabar. Memperlihatkan sorot matanya yang berbinar-binar.

Aku meletakkan kembali telapak tanganku dan merasakan detak teratur itu lagi. Aku tersenyum, bahkan aku menangis. Crumicle he? Keajaiban yang menyakitkan sekaligus menyenangkan untukku.

***

“Ini buku, dan ini pulpen. Serta benda ini kau sebut dengan tas. Kau pasti tahu itu.” Jelas Lauren semangat. Aku tersenyum kecil saat ia sibuk mengurus segala hal tentang persiapanku masuk ke universitas tempat mereka berkuliah. Seminggu ini ku pelajari segala hal tentang manusia. Seribu tahun waktu yang cukup lama untukku melupakan bagaimana hidup seperti manusia normal.

Aku belajar dengan cepat dan bersyukur bahwa aku memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menghapal. Dan lebih yang membuatku senang dengan keadaan Kynee yang kian lama kian membaik. Dia masih tidak bisa berjalan namun dia sudah banyak berbicara dan mampu duduk di atas benda yang di sebut dengan kursi roda.

“Apakah nanti Kynee juga akan kuliah?” tanyaku kaku saat mengucapkan kata terakhir.

“Tentu saja! Dan ku yakin dia akan menjadi pemuda paling tampan di Celestine – nama kampus kita.” Jelasnya semakin semangat dan aku juga ikut tersenyum.

“Aku ingin menemui Kynee.” Kataku dan Lauren mengangguk. Aku beranjak keluar kamar dan menuju kamar Kynee beristirahat. Ku ketuk pintu kayu kamarnya dan membukanya perlahan. Menimbulkan suara derak yang sedikit menganggu.

“Hai.” Sapaku kaku. Ku langkahkan kakiku dan duduk di kursi yang berada di samping  tempat tidur Kynee. Dia sendiri sedang bersandar sambil membaca sebuah buku karangan manusia. Bahasa Latin kurasa menilik dari cover depannya.

“Cora?” tanyanya bingung saat melihatku. Aku tersenyum simpul ketika ia memandangku dari ujung kepala sampai ujung kakiku. Seolah menilai sejauh mana perubahan diriku.

“Lauren mengatakan ini kaus dan ini jeans serta flatshoes.” Kataku menunjuk satu persatu benda yang melekat pada tubuhku. Aku sendiri merasa agak canggung memakai ini semua. Aku terbiasa menggunakan gaun sutra selutut tanpa alas kaki.

“Cantik.” Gumamnya dan aku merasa ada hangat yang menjalar di tubuhku.

“Aku akan berangkat sebentar lagi. Dan kau tahu, aku sedikit gugup.” Kataku bercerita dan menggoyang-goyangkan kakiku perlahan.

“Bolehkan aku bertanya, tapi kau jangan tersinggung.” Pintanya dan aku jelas saja mengangguk.

“Apa kau baik-baik saja? Maksudku kau banyak berubah setelah kejadian itu.” Katanya lagi dan kini aku tertawa. Suatu hal yang jarang sekali aku tunjukkan di depan Kynee.

“Hanya di depanmu. Aku masih bersikap dingin ke orang lain Kynee.” Jawabku.

“Kenapa? Jika karena aku terluka parah, ku rasa itu sudah tugasku sebagai Lisiummu.” Aku mendesah pelan dan menatap matanya yang indah. Aku baru menyadari betapa memikatnya seorang Andrew Kynee.

“Bukan karna itu. Aku… hanya ingin lebih menghargaimu sebagai temanku.” Jawabku jujur dan kini ia yang tertawa pelan.

“Kau pernah mengatakan tidak akan pernah jatuh cinta pada Lisium mu sendiri Cora. Dan kau tahu, teman adalah langkah awal cinta itu masuk ke duniamu.” Katanya mengejek dan aku terkekeh. Memang benar, tapi aku yakin sekali dengan perasaanku bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta pada Kynee.

“Andai saja kau manusia, pipimu pasti sudah semerah tomat sekarang.” Ejeknya lagi dan secara reflex aku memukul punggung tangannya pelan. Hal-hal kecil yang sudah lama ku lupakan sebagai manusia.

***

Aku memandang keluar jendela mobil yang sedang ku naiki. Oke, mungkin ini terdengar agak kuno mengingat aku sama sekali tidak tahu hal-hal apa yang terjadi di dunia masa ini. Rasanya aku baru saja menembus mesin waktu dan terdampar di sebuah planet yang sangat asing bagiku. Benda ini – yang mereka sebut sebagai mobil terlihar sangat cantik. Bergerak cepat dan dengan nyamannya kau bisa pergi kemanapun kau suka.

“Chloe memilihkanmu jurusan apa?” Tanya Nathan yang duduk di sampingku. Sedangkan Eyl mengemudikan mobil dan disampingnya Lauren duduk dengan manis.

“Physics.” Jawabku pendek dan kening Nathan mengernyit.

“Apa itu tidak terlalu sulit untukmu?”

“Chloe bilang aku akan mahir di jurusan itu. Aku sendiri tidak terlalu mengerti.” Kataku lagi dan Nathan masih sedikit bingung.

“Ah, ya. Apa aku boleh bertanya?” tanyaku.

“Werewolf bisa berubah wujud kapan saja menjadi serigala.” Potong Eyl cepat dan aku merutuk pelan ketika ku sadari aku lupa memblokir pikiranku sendiri.

“Begitu juga dengan Kynee?” tanyaku lagi dan kali ini ku pastikan Eyl tak mampu membaca pikiranku. Aku harus terbiasa mengontrol diri ketika berada di dekatnya.

“Tentu saja. Hanya saja, ku kira dia tak ingin menampakkan wujud binatangnya di hadapanmu. Takut Kau jijik mungkin.” Sahutnya mencibir. Aku tak meladeninya dan merasa malas harus beradu mulut di hari pertama aku kuliah. Yah, rasanya menyenangkan ketika tahu aku akan hidup seperti manusia normal. Terkadang aku bersyukur bertemu dengan keluarga Vance.

“Ah, Cora!” Nathan berseru tiba-tiba sambil menepuk pundakku. Aku berjengit dan Lauren juga menoleh ke belakang menatap Nathan dengan heran.

“Whats wrong?”

“Vampires.” Kata Nathan lalu melanjutkan. “Darah Galatea merupakan santapan utama mereka. Bukankah begitu?” tanyanya dan detik itu juga Eyl mengerem mendadak. Membuat kami semua membentur benda yang berada di hadapan kami. Lauren pun sampai harus terantuk dashboard di depannya.

“Yak! Eyl, kau sudah gila!” seru Lauren kesal namun Eyl tak menanggapinya.

“Aku hampir saja melupakan pesan dari Chloe.”

“Pardon me?”

“Bersikaplah seperti kau kawanan dari mereka.” Kata Eyl dan aku hendak memprotes namun ia memotongnya. “Kulitmu sama seperti mereka dan detak jantungmu juga tidak terlalu terdengar. Kau mampu memblokir pikiranmu dan kau pasti mengerti bagaimana mereka bersikap. Ku dengar kau juga pernah di curigai Vampire oleh penduduk Viking.”

“Jadi maksudmu, aku masuk ke dalam pemangsaku sendiri? Bagaimana mungkin kalian menyuruhku masuk ke wilayah sekumpulan predator menjijikkan itu!” teriakku protes. Tidak menyangka bahwa Chloe akan menyeretku ke dalam keadaan seperti ini.

“Lagipula kenapa ada vampire di Celes – ah apapun itu!”

“Seharusnya Chloe yang menjelaskan padamu secara langsung.” Desah Eyl kesal dan aku tak peduli. “Mereka sama seperti kami. Menjaga eksistensi – itu yang mereka katakan. Kau hanya perlu berpura-pura dan jika mereka menyakitimu kau tinggal menggunakan sihirmu Cora. Kau harus mendapatkan dukungan banyak dari berbagai Klan. Setidaknya, jika kau berhasil dekat dengan mereka, kau bisa menemui Mercy dan mendapat dukungan dari keturunan Zeus.”

“Darimana kau tahu? Zeus, Mercy…” aku bergumam tak percaya kemudian menyadarinya lagi. “Ah, shit! Kau atau Chloe pasti membaca pikiranku!”

“Lebih tepatnya Chloe. Aku masih memiliki banyak hal lain yang lebih penting dari sekedar membaca pikiranmu.” Desis Eyl tajam merasa tidak terima.

“Aku masih tidak mengerti  dengan semua ini. Menyuruhku mempelajari kehidupan manusia dan sekarang berurusan dengan predator menjijikkan itu.”

“Hhh.. merepotkan. Aku sudah bilang ini tidak akan berhasil!” seru Eyl frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

“Tenang Eyl.” Lauren menepuk pundak Eyl dan matanya beralih menatapku. “Dengar, Cora. Sejak kami tahu Kynee adalah werewolf dan terikat perjanjian denganmu kami sebagai klan yang sama memiliki tugas yang sama pula dengan Kynee. Kami, werewolf secara tidak langsung menjadi Lisiummu. Chloe, sudah mengatur ini semua dengan baik. Kau harus percaya padanya. Dan kau hanya perlu bersikap seperti biasanya, setidaknya kau pasti mengerti dengan benar kehidupanmu sebagai Galatea. Vampire dan klan mu memiliki sedikit perbedaan.”

Aku memutar bola mataku lelah. Ku lirik Nathan yang tersenyum ke arahku memberi dukungan. Baiklah, ini jauh lebih mudah seharusnya di bandingkan berlari menjauhi kejaran Thanatos.

“Oke, aku akan berusaha.” Kataku pelan dan Eyl menghela nafas lalu melanjutkan menyetir dengan kecepatan luar biasa.

Vampire heh? Menjijikkan.

***

“Bersikaplah tenang Cora dan ingat nama keluargamu adalah Soarez. Cora Soarez. Jangan sampai kau kelepasan dengan mengatakan Galatea atau kau akan mati saat itu juga.” Eyl memperingatkanku sekali lagi ketika kami turun dari mobil. Celestine cukup besar dan arsitekturnya sangat menarik. Pilar-pilar besar menjulang tinggi di bagian depan gedung. Membuatnya terlihat seperti kastil kerajaan yang sering ku tempati. Mengagumkan.

“Ada berapa vampire di sini? Beritahu aku setidaknya.” Kataku menuntut sambil berjalan dengan pelan di samping Eyl dan Lauren serta Nathan berjalan di belakang kami.

“Cukup banyak. Tapi kau hanya perlu mendekati satu keluarga Vampire yang sangat berpengaruh di sini.” Jawab Lauren setengah berbisik. Ia menguasai dirinya dengan baik begitu juga dengan Nathan. Mereka berbicara denganku seolah-olah aku tak terlihat.

“Lalu dengan keluarga werewolf?”

“Hanya ada dua keluarga. Vance – kami dan klan Alvarez. Untuk satu itu menjauh lah dari mereka. Mereka selalu mencari keributan dengan keluarga Vampire.” Kini Nathan yang menjawab dan aku mengangguk-angguk seperti orang bodoh.

“Itu mereka. Vampire dari keluarga Flynn. Vampire vegetarian dan berteman dekat dengan kami. Kau lihat pria yang melambai ke arah kami?” Tanya Eyl sambil menatap mereka dan melambaikan tangannya, aku mengangguk. Sedetik kemudian Eyl membuka pikirannya untukku.

Dia Spencer Flynn. Tampan, menarik dan memukau. Kehebatannya adalah kelincahan dan kecepatan. Umurnya 378 tahun, masih cukup muda untuk ukuran vampire. Di sebelahnya, pria yang sedang mendengarkan music itu Aiden Flynn. Dia tak kalah memukau, pandai segala hal dan berbakat di bidang romance. Satu-satunya vampire yang membuat gadis-gadis meleleh hanya karena tatapannya. Usianya jauh lebih tua dari Spencer, 540 tahun. Dan… satu lagi itu Casey Flynn. Dia vampire tertua sekaligus vampire pria tercantik di keluarga Flynn. Dia dan Chloe memiliki hubungan, yah… lebih dari sekedar teman. Masih ada dua lagi dari keluarga Flynn. Dua-duanya gadis dan lebih baik jangan menemui mereka sekarang. Mereka menyebalkan.

Aku mencerna pikiran yang di lontarkan Eyle dengan cepat dan dia sendiri sudah memblok kembali pikirannya ketika kami sudah menghampiri mereka.

“Hai Casey.” Sapa Nathan. Ketiga vampire tersebut pun menyadari kehadiranku dan dengan tatapan tajam menatapku aneh.

“Bau cemara.” Desis Spencer pelan dan menghembuskan nafas di depanku. Ia memejamkan matanya, menikmati sensasi yang sedang ia rasakan.

“Ah, dia teman baruku Spencer.” Eyl mendorong tubuh Spencer menjauhiku. Aku mendesah lega dan focus untuk memblok pikiranku.

“Aku Cora, Cora Soarez.” Kataku memberanikan diri mengenalkan diriku.

“Kau, vampire?” Tanya pria bernama Aiden itu dan menyentuh ujung rambutku dengan lembut dan mengarahkan indra penciumannya di sana. Aku hanya bisa mengangguk kaku.

“Wangimu manis. Cemara, he? Seperti Klan Galatea.” Ucapnya pelan namun sukses membuat perasaanku kalut menjadi satu. Semoga kali ini keberuntungan berpihak padaku.