Title                       : A late confession

Author                  : Nurani adi / @abcdedot

Main cast             : Lee taemin (SHINee) , Shin Taerin (imaginary cast)

Length                  : oneshot (3083 words)

Genre                   : romance, friendship

Rating                   : PG-13

 

Lee taemin belongs to his own, but this story belongs to me “happy reading..:)”

 

Taerin pov

 

Hari ini hari terakhirku di seoul, ya hari ini aku dan seluruh keluargaku akan pergi meninggalkan korea selatan dan pindah ke negeri sakura jepang. Appaku yang seorang staf kedutaan besar korea di alih tugaskan ke jepang, jadi dengan sangat terpaksa aku dan eommaku harus ikut pindah. Tadinya aku ingin tetap tinggal disini dan menyelesaikan senior high school ku yang tinggal beberapa bulan lagi, tapi kedua orang tuaku – terutama eomma – menentang keras keinginan ku itu, dia bilang terlalu bahaya untuk tinggal sendirian di korea. Ya tentu saja aku mengerti dengan alasan eommaku, hanya saja rasanya terlalu berat untuk meninggalkan korea.

Aku menatap dua kardus kecil dihadapanku dengan putus asa, aku akan tetap pindah ke jepang sekeras apapun keinginan ku untuk tetap tinggal. “HHHHH” aku menghembuskan napasku dengan malas dan tiba-tiba tergerak untuk kembali membuka kardus-kardus itu, memastikan tak ada satupun barang favoritku yang tertinggal. Kardus pertama berisikan buku-buku bacaanku, dimulai dari novel, komik, dan buku-buku tentang photografi  yang kukumpulkan dengan susah payah, lucu rasanya mengingat bagaimana aku berjuang mendapatkan uang hanya untuk buku-buku ini. Tanganku secara otomatis mengambil salah satu buku, ah ini bukan buku tapi album. Aku membuka lembar demi lembar, menatap miris tiap baris foto, yang keseluruhannya adalah foto seorang namja, namja yang ku sukai sejak pertama kali aku bertemu dengannya, yang membuatku tersenyum hanya dengan menatap fotonya, yang hanya dengan mendengar namanya saja membuat jantungku berdebar, yang – kurasa – sampai kapanpun takkan pernah bisa kumiliki.

………

………

“namanya taemin” bisik ji hyun – sahabat terdekatku – setelah mengikuti pandanganku yang tertuju pada seorang namja. Aku mengalihkan pandanganku dengan cepat ke arah ji hyun dan memberinya tatapan aku-tak-ingin-tahu.

“tsk, dari tadi kau menatapnya tae tae” ucap ji hyun kini lebih keras sambil menjitak kepalaku. Aku tidak menanggapi ucapannya yang kulakukan hanyalah menundukkan kepalaku dan kemudian mengulum sebuah senyuman di bibirku, oh jadi namanya taemin.

……..

Taemin. Aku menyukainya diam-diam selama dua tahun ini, Bukannya aku tidak mau mengutarakan perasaanku, bukannya aku takut di tolak olehnya (karena dia sudah pasti menolakku), hanya saja, aku merasa tak punya cukup keberanian, dia popular dikalangan para yeoja karena ketampanannya, dikalangan guru karena kenakalannya juga di kalangan namja karena hobi ributnya, sedangkan aku? Aku hanya yeoja biasa yang gemar memotret, yaa hasil potretanku memang cukup bagus dan diakui di beberapa lomba, hanya saja aku masih merasa tidak cukup pantas untuk seorang taemin!

Aku tak tahu kenapa aku bisa menyukai namja ini, entah karena wajahnya yang tampan atau karena sifatnya yang dingin, aku tak tahu, aku hanya tahu bahwa aku menyukainya, sejak pertama kali kami bertemu dan dia tersenyum untukku.

………

………

Bukk

Aku menabrak sesuatu, ah aku rasa bukan sesuatu, tapi seseorang, karena aku mendengar suara mengaduh pelan yang bersamaan dengan suaraku. Aku rasa panggilan appa tentang aku si miss clumsy kini terbukti sudah, bagaimana tidak, tadi tiba-tiba saja aku kehilangan kesetimbangan dan terjatuh menabrak seseorang, duh.

Kaki ku ngilu karena tadi mendarat sempurna di lantai yang kasar ini, dan ketika aku mulai mengumpulkan kekuatan untuk berdiri dan meminta maaf pada orang yang kutabrak, tiba-tiba saja..

“gwenchanaeo?” ucap seseorang – yang kurasa namja dari suara bassnya – lembut.

“ah ye” aku bertumpu dengan tangan kananku dan kemudian berdiri walau kakiku masih terasa nyut-nyutan.

“lain kali kau harus lebih hati-hati” ucapnya lagi ditambah sebuah senyuman, senyum paling manis yang pernah kutemui.

………

Aku masih ingat dengan sangat jelas kejadian itu, dan senyum itu…. sedetikpun aku tak bisa melupakannya. Taemin, saranghae.. jeongmal saranghae.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan menepuk-nepuk pipiku agar aku tersadar dari lamunan-lamunan ku akan taemin.

DREEEET

pintu kamarku terbuka, dan tampak olehku eomma berdiri disana. Buru-buru aku memasukan semua buku yang tadi ku keluarkan.

“kita akan terbang jam 5 sore, kalau kau ingin berjalan-jalan atau sekedar menemui temanmu, pergilah” eomma berbicara tanpa memerhatikan kesibukanku memasukan buku lalu melengos keluar, masih banyak yang harus dia urus tampaknya. Tunggu… tadi eomma bilang apa? Jam 5? Aku melirik jam tanganku, hm masih jam 1, tapi kemana aku harus pergi? Menemui ji hyun? Ah anni, ji hyun pasti sedang sibuk, kemarin dia bilang hari ini dia ada pekerjaan. Aku menutup mataku dan mulai memikirkan kemana aku akan pergi – lagipula dirumah terus menerus membuatku sedih – .

Tringgg .. tiba-tiba saja aku mendapat ide, dengan berbekal tas selempang dan kamera kesayanganku aku melangkahkan kakiku menuju………….sekolah.

***

Aku menatap bangunan semi-modern di hadapanku ini dengan takjub sekaligus sedih, takjub karena selama dua tahun lebih ini aku menghabiskan hampir setengah hariku disini, dan sedih karena mulai besok dan seterusnya aku takkan lagi menginjakkan kakiku disini. Aku mengarahkan kameraku dan mulai memotret beberapa view bangunan sekolahku. Aku terus berjalan menyusuri koridor dan melewati beberapa ruangan kelas, beberapa kali langkahku terhenti untuk memotret. Rasanya sangat berbeda berjalan-jalan saat sekolah sepi seperti ini. aku memasuki ruangan klub fotografi ku yang tentu saja kosong dan mengedarkan pandangan di ruangan berukuran 7×7 ini, ada banyak foto dan juga banyak kenangan. Aku menghela napasku, berat.

Aku kembali berjalan dan kemudian berhenti tepat di depan ruangan klub art, aku melongokan kepalaku dan melihat ada beberapa siswa disana, aku menajamkan penglihatanku berharap taemin ada didalam sana, tapi tentu saja dia tidak ada, mana mungkin seorang taemin datang kesekolah hanya untuk kegiatan-kegiatan klubnya, sangat tidak mungkin! Aku menjitak kepalaku sendiri dan bergumam pelan “bangun taerin, dia tak mungkin ada disini!!”

Aku melangkahkan kaki menuju ruangan kelasku, samar-samar aku mendengar suara dentingan piano, semakin aku mendekat suaranya semakin terdengar jelas, tiba-tiba bulu romaku berdiri, aku memang pernah mendengar cerita tentang hantu piano yang ada dikelasku, hanya saja aku tak percaya kalau saat ini aku akan mengalaminya sendiri. Aku berbalik dan mengedarkan pandanganku.

“benar-benar sepi” desisku pelan saat melihat tak ada siapapun dibelakangku.

Aku menguatkan hatiku dan terus berjalan mendekati kelasku, suara pianonya terdengar sangat mulus di telingaku dan tiba-tiba saja aku merasa familiar dengan lagu ini.

“ya! Bukankah ini lagu one – shine?!” aku berteriak dalam hati, tidak salah lagi, ini lagu kesukaanku, baiklah, aku akan melihat hantu itu dan kurasa akan berterimakasih padanya telah memainkan lagu kesukaanku.

**

Kini aku berdiri tepat di bingkai pintu kelasku dan terkejut bukan main saat melihat pemandangan di hadapanku, aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengarahkan kameraku, taemin……

Taemin pov

Entah apa yang akan kulakukan tapi disini lah aku sekarang, berdiri tepat di depan pintu ruangan kelasku. Sekolah sangat sepi di hari minggu, tadi saja aku hanya melihat beberapa pasang siswa yang berkeliaran, itupun karena mereka punya kepentingan dengan klub mereka. Lalu untuk apa aku kemari? Aku juga tidak tahu. Aku mengedarkan pandangan dan kemudian pandanganku berhenti di satu kursi, mulai besok kursi itu akan kosong atau mungkin di tempati orang lain, “hh” aku menghembuskan nafasku pelan dan melangkahkan kakiku menuju kursi tadi.

Aku tahu Shin Taerin – sipemilik kursi ini – akan pindah ke jepang hari ini, aku juga tahu itu Artinya aku takkan bisa lagi melihatnya.

Ah ya, taerin adalah yeoja yang kusuka, aku menghabiskan hampir dua tahun setengahku untuk menjadi pengagum rahasianya, ingin sekali aku mengungkapkan perasaanku padanya, aku bahkan punya buku yang isinya hanya lukisan wajahnya yang tadinya akan kuberikan kalau “menembak” dia, hanya saja aku terlalu takut akan penolakan, aku murid dengan catatan hitam paling banyak di sekolah ini, aku tahu guru-guru membenciku dan sangat ingin mengeluarkanku dari sekolah ini kalau bukan karena ayahku yang donatur terbesar, sedangkan taerin? Dia yeoja yang cukup berprestasi, selain itu sifat kami berbeda sangat jauh. Iya aku tahu aku pengecut, tapi sekarang itu sudah tidak berguna lagi, toh mulai besok dia takkan lagi di korea.

Aku mengalihkan pandanganku ke sudut ruangan, mendapati sebuah piano dan kemudian tergerak untuk memainkannya. Aku menutup mataku beberapa detik dan mulai menyentuh not-not disana, memainkan intro sebuah lagu, lagu kesukaan taerin.

CKREK

Aku refleks menghentikan permainan pianoku dan menggerakan mataku menuju asal suara. Napasku tercekat, aku rasa aku sedang berhalusinasi, ini sungguh tidak mungkin, dia yang berdiri disana tak mungkin Taerin.

“annyeong” ucapnya kaku sambil melambaikan Sebelah tanggannya dan sebelahnya lagi masih memegang kamera. Aku menyipitkan mataku untuk meyakinkan kalau dia bukanlah halusinasiku.

“ah mm bolehkah aku masuk?” ucapnya lagi seakan menyadarkan ku, ini nyata.

“ah geurae” aku bangkit dengan gerakan agak kikuk dan lagi suaraku terdengar dingin. Aish..

Tunggu.. apa yang dia lakukan disini? Bukankah hari ini dia pindah? Pertanyaan-pertanyaan ini terus menerus bergelayutan dipikiran ku, Sementara mataku masih menatapnya berjalan dan mendekatiku.

Taerin pov

Aku melangkahkan kakiku yang entah kenapa jadi terasa lebih berat mendekati taemin yang berdiri tidak jauh dihadapanku, aku berusaha tidak terlihat gugup walau kenyataannya aku benar-benar gugup, aku bahkan bisa merasakan tetesan keringat di dahiku. Tinggal beberapa langkah menuju taemin, tiba tiba saja kaki kiriku menghalangi kaki kananku sendiri dan akhirnya…….

BRUUKK

Aku.jatuh.

Hhhhhhhhhhhhhhhh aku yakin saat ini taemin pasti sudah ilfil padaku, arhggggg aku benar-benar bodoh! Kenapa harus jatuh, kenapaaaaaaa?! Aku merutuki diriku sendiri dan melupakan kedutan hebat di lututku.

“gwencahana?” suara taemin terasa begitu dekat, aku mendongak menyisihkan sedikit rasa Maluku dan mendapati taemin disampingku dengan wajah cemas.

“ah….ye” ucapku pelan kemudian dia membantuku bangun

“yaa lulutmu berdarah” ucapnya sambil menunjuk lututku, aku mengikuti pandangannya dan benar saja, lututku sudah berubah warna jadi merah saat ini. Aku meringis pelan, mulai merasakan ngilu yang tadi sempat ditahan.

“chakkaman” taemin berlari kecil ke belakang dan kemudian kembali dengan dua buah botol, kapas  dan perban di tangannya, kelas kami memang selalu menyediakan obat-obat p3k seperti itu.

“duduklah” dia mendekatkan sebuah kursi padaku dan membiarkanku duduk Sementara dia berlutut tepat di depanku. Aku menghempaskan tubuhku dengan kikuk, beberapa kali menggigit bibir bawahku untuk mengurangi rasa gugup.

“aku akan membersihkan lukamu” taemin membuka salah satu botol dan menuangkan beberapa tetes cairan di kapas.

“ssh” aku meringis pelan saat kapas basah itu menempel di lukaku, rasanya sangat perih.

“aigoo tadi pasti sangat sakit, mianhe mianhe” ucap taemin sambil meniup-niup lukaku, demi apapun aku ingin waktu berhenti saat ini, taemin berlutut dihadapanku dan dia meniup lututku, apalagi yang lebih menyenangkan dari ini?? Mau tidak mau aku tersenyum tapi untung taemin tidak melihatnya, dia masih sibuk dengan kegiatan membersihkan – dan meniup – lukaku.

“selesai” ucap taemin, aku mengalihkan pandanganku padanya dan ternyata dia juga sedang menatapku dengan senyuman manis di bibirnya. Mukaku memanas, belum pernah aku melihat taemin sedekat ini ditambah dengan senyuman langkanya itu.

“ah eh …… gomawo taemin-ah” ucapku terbata-bata sambil melempar pandangan ke lututku yang kini di balut perban.

“cheonman” ujar taemin yang kemudian bangkit dan berjalan menuju piano.

“taemin-ah” dia menghentikkan langkahnya dan berbalik.

“ne?” taemin menatapku tanpa ekspresi.

“kau…apa yang kau lakukan disini?” suaraku terdengar ragu, aku menundukkan kepala dan memainkan ujung bajuku, mengusir perasaan gugup yang makin menjadi-jadi.

“emmm entahlah, bermain mungkin” ucapnya santai kemudian melanjutkan langkahnya, dia kini duduk di depan piano.

“kau?” dia bertanya tanpa mengalihkan perhatian dari piano dihadapannya.

“memotret” balasku singkat.

***

Entah berapa lama aku duduk disini dan mendengar tiap nada yang dimainkan taemin, dia benar-benar pianist yang handal pikirku. Dan selama waktu itu, Sedikitpun aku tak mengalihkan pandanganku darinya, orang yang biasanya hanya kulihat lewat lensa kamera sekarang duduk tidak jauh dariku dan bermain piano! tidakkah ini sangat romantis?

“Drtt”

Tiba-tiba hp-ku bergetar, aku melirik taemin yang masih focus dengan piano ( btw aku baru tahu dia bisa bermain piano ) dan kemudian menatap layar hp-ku. pesan dari eomma :

-Kau dimana? cepat pulang- eomma

Aku menghela napas, melirik jam tanganku dan kaget bukan main melihat angka 03.15 PM disana. Omona aku menghabiskan 2jam disini???? Hanya mendengar permainan piano taemin??! Kenapa waktu terasa begitu cepat? Aku bahkan belum mengobrol dengannya.

“t..te..taemin” ucapku terbata-bata  menghentikkan permainannya

“ne?” dia melemparkan pandangannya padaku. Aku menelan ludah, menundukkan kepalalu, tidak berani menatapnya.

“ aku harus….” Aku berhenti sebentar, dia terlihat menunggu lanjutan pernyataanku

“pulang” tambahku.

Taemin pov

“t..te..taemin” taerin mengagetkanku, dia memanggil namaku dengan suara gugup yang berhasil memudarkan konsentrasiku.

“ne?” balasku sambil menatapnya dalam.

“aku harus…..” dia menghentikkan ucapannya, membuatku penasaran saja! Gerutuku dalam hati

“pulang” lanjutnya.

“ah, geurae, aku pasti membuatmu bosan, mianhe” ucapku dengan nada bersalah, bersalah pada diriku sendiri sebenarnya, karena malah menghabiskan waktu dengan permainan piano bodoh dan melewatkan kesempatan untuk mengobrol yang – setidaknya – bisa membuatku lebih dekat dengannya . aku menarik napas pelan dan melihatnya masih mematung dihadapanku. Aku rasa aku harus mengantarkannya pulang, ini kesempatan langka bukan? Ditambah dia akan segera pindah. Ah pindah, memikirkannya saja membuat dadaku terasa berat.

“emmm.. aku rasa aku juga akan pulang sekarang” ucapku sambil menenteng tas yang kubawa dan berjalan keluar ruangan tanpa melempar pandangan padanya, aku bisa mendengar suara hentakan sepatu taerin, dia mengikutiku, baguslah.

Kami berpisah di lapangan, aku berbelok menuju tempat parkir sedangkan dia berjalan lurus menuju gerbang. Aku berbalik dan melihat dia berjalan hampir membelakangiku.

“Taerin-ah” panggilku, setelah aku menghela napas sangat panjang dan meyakinkan suaraku akan terdengar tidak gugup.

“ah ye?” dia berbalik dan memberiku tatapan penuh tanda Tanya.

“tunggu disana, aku akan mengantarmu pulang” akhirnya aku mengatakan ini. Untung dia berdiri agak jauh dariku jadi dia tak bisa melihat perubahan ekspresi di wajahku.

“ah.. jinjja?” kenapa dia terdengar tidak yakin?

“ne” ucapku sambil mengangguk dan melempar sebuah senyuman. Aku berjalan setengah berlari menuju parkiran, dan bibirku sedari tadi tak berhenti mengulum senyum, aku rasa aku mulai gila.

“naiklah” ucapku tepat saat motorku berhenti di depan taerin. Dia terlihat ragu, tapi akhirnya menaikkan tubuhnya menduduki motorku.

“pegangan” ucapku lagi, aku tak bisa menahan senyum saat mengatakan ini. Aku memang tidak melihat wajahnya, tapi dari gerakan tangannya yang malu-malu menyentuh ujung jaketku aku bisa merasakan kalau dia ragu. Aku menggas motorku dengan keras membuat dia melonjak kebelakang dan hampir terjungkal kalau saja tidak langsung memelukku, kkkk.

“ya!” dia membentakku dengan napas tersengal, aku tahu dia takut barusan.

“hahaha mianhe, aku sudah memintamu untuk pegangankan?”

“aw” aku berteriak pelan, dia mencubit perutku, dan sekarang aku bisa mendengarnya tertawa renyah.

“rasakan” umpatnya di tengah tawa – yang kubilang – renyah tadi.

***

“berhenti disini” titah taerin tepat didepan rumahnya, padahal tanpa di suruhpun aku tahu harus berhenti disini.

“gomawo” dia membungkukkan badannya dan memberiku sebuah senyuman, ‘aku yang harusnya berterimakasih padamu taerin’

Aku menghidupkan kembali mesin motorku tanpa mengalihkan pandanganku padanya yang juga memandangku, dadaku berdebar dan telapak tanganku mulai berkeringat, omo kenapa aku segugup ini?!

“taerin-ah” sapaku sebelum dia mengalihkan pandangannya. Baiklah aku rasa ini saatnya. Aku mengeluarkan buku hitam yang hampir mengusam dari dalam tasku.

“untukmu” ucapku sambil menyodorkan buku itu ke arahnya.

“untuk…ku?” dia menunjuk hidungnya sendiri. Yang dibalas anggukan pelan dariku.

“apa ini?” dia memandangku dengan ekspresi heran. Aku menelan ludah, mengusir perasaan gugup yang mulai menjalari bagian mulutku.

“buka saja nanti” balasku pelan sambil melajukan motorku, aku masih bisa melihatnya di balik kaca spionku, ‘hh taerin….’

Taerin pov

Aku mematung menatap buku di tanganku, setelah semua hal – yang membuatku terus menerus menahan jantungku yang hampir keluar –  yang dilakukannya hari ini, taemin memberiku buku ini dan meninggalkan ku tanpa memberitahu apa isinya.

“buka saja nanti” itu ucapan terakhirnya sebelum dia melajukan motornya dan meninggalkanku.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat menuju kamarku, mengabaikan perintah eomma untuk segera beres-beres dan mandi, aku benar-benar penasaran.

Debaran jantungku makin tak karuan saat ini, tanganku gemetar saat mulai membuka lembar pertama buku yang diberikan taemin.

“omo” aku menutup mulut dengan kedua tanganku, napasku tercekat saat melihat gambar di Halaman pertama adalah lukisan wajahku sendiri. Begitupun di Halaman-halaman selanjutnya, aku masih tidak mengerti maksudnya, ah ya aku tahu aku memang agak bodoh. Inikah yang taemin lakukan selama ini? Menggambarku? Entah kenapa tapi hatiku benar-benar senang saat memikirkan ini. Aku sampai di Halaman terakhir, aku tidak menemukan gambar apapun, tapi sebuah tulisan, kalimat yang hampir membuatku tak bisa bernapas sekaligus melambungkan anganku sangat jauh.

-saranghae shin taerin-

Saranghae? Saranghae? Aku mengulang-ngulang kata ini, dan tiba-tiba saja air mataku jatuh, aku menangis tapi juga tersenyum, jadi selama ini…….. ya tuhan taemin..

Aku mengaduk-aduk isi tasku, mencari ponselku, tanganku masih bergetar tapi tetap menekan tombol-tombol disana, aku mengerang pelan, menyadari kalau aku tak punya Nomor ponsel taemin, orang macam apa aku ini!

Aku kembali mengutak-atik ponselku dengan gusar, dan menekan tombol hijau saat menemukan Nomor jihyun, dia pasti tahu Nomor taemin.

“ne taerin-ah?” aku mendengar suara jihyun dibalik ponselku.

“ji.ji..jihyun-a, kau..kau” suaraku bergetar

“ya! Berbicaralah dengan jelas”

“kau.. punya Nomor taemin?” ucapku pada akhirnya

“memangnya kenapa?”

“aku membutuhkannya” balasku

“aku punya, aku akan mengirimkannya padamu”

Tut

Terdengar dia memutuskan sambungan, aku menggerak-gerakkan kakiku tak sabar menunggu sms jihyun.

“Drtt”

Aku membuka ponselku

From : han jihyun

‘taemin : 014-225-031-xxx’

Bingo.. akhirnya aku mendapatkan Nomor taemin, aku menekan tombol hijau dengan tidak sabar dan mendekatkan ponsel ke telingaku.

Tut..

Tut..

Taemin, kenapa tidak kau angkaaaaaat?!

“yeobseoyeo?” akhirnya..

“k..k..taemin, kau dimana?” tanyaku to the point, aku benar-benar tak bisa mengendalikan emosiku sekarang.

“aku? Di…. Jalan, kenapa?”

“berhenti sekarang!” aku bisa mendengar deru motor disana.

“taerin?” dia mengenali suaraku? Perasaan gugup kembali menyergapku.

“dijalan dimana? Tunggu aku disana” ucapku tanpa spasi.

Tut

Aku memutuskan pembicaraan, sedetik kemudian menyesal karena taemin bahkan belum mengatakan dimana tepatnya dia sekarang, bagaimana mungkin aku bisa menyusul. Baboyaaaa>.<

“drrrt”

Aku melirik ponselku, terkejut melihat Nomor taemin disana, perlahan aku menekan tombol “read” dan kemudian senyumku mengembang, membaca tiap baris kata yang taemin tulis, hanya sebuah nama tempat memang, tapi aku benar-benar merasa senang. Aku masih punya sekitar satu jam untuk berangkat ke jepang, tanpa babibu, aku berlari keluar rumah dan sayup-sayup aku mendengar suara eomma yang berteriak memanggil namaku.

“maaf eomma, tapi aku benar-benar harus pergi sekarang” ucapku tepat setelah masuk kedalam taxi dan meminta si supir membawaku ke tempat yang di sebutkan taemin.

***

Dan disanalah dia sekarang, berdiri setengah duduk dia atas motornya, setelah aku membayar taksiku, aku berlari ke arahnya, aku tahu dia agak terkejut dengan kedatanganku.

“aku tak tahu kau benar-benar akan datang” ucapnya.

“ah eh aku.. aku perlu mengatakan sesuatu sebelum aku pergi” balasku. Dia menatapku dengan tatapan sendu, benar-benar membuatku tak rela untuk pergi dan lagi ditambah sekarang aku tahu perasaannya padaku. Argggh

“taemin”

“taerin” aku terbelalak tak percaya, kami barusaja memanggil nama kami dengan bersamaan

“kau saja dulu” katanya

Aku berdehem untuk mengusir kegugupanku.

“eh….. taemin……. Yang kau tulis dibuku itu…… apakah……….. benar?” kata-kataku benar-benar rancu, aku berharap dia mengerti maksudku.

Dia mengagguk pelan.

“maaf, mungkin aku telat mengatakan itu padamu, tapi..”

“tapi aku akan tetap pergi” aku memotong ucapan taemin, mataku mulai berkaca-kaca saat ini.

“ara” balasnya singkat

“ah ya, kau belum mengatakannya” ucapnya lagi

“mengatakan apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti

“ah…anni, aku rasa itu tak pent……” taemin belum menyelesaikan kalimatnya saat aku berhambur memeluknya, aku tahu lanjutannya jadi kau tak perlu lagi berbicara lee taemin.

“nado taemin… nado saranghae dan itu penting” ucapku di tengah-tengah pelukannya.